Even If I Die, I Can’t Let You Go [PG15/Part 4 of 4/FLUFF]

Title: Even If I Die, I Can’t Let You Go
Rating/Genre : PG15 / Fluff
Cast : Choi Kyungmin, Im Seulong, Shin Sungyoung, Shim Changmin

inspired by 2AM single: “Even if i die, i can’t let you go

Photobucket

PART [1], [2], [3]
==============================

Ini adalah kisahku dengan laki-laki yang mungkin akan selalu kucintai hingga akhir hayat nanti.

Sorry…but I can’t let you go….again….

“Kau benar-benar kyungmin, kan?” tanyanya lagi.
Akupun mengangguk.

”Apa kabarmu? Sudah lama sekali kita tidak bertemu, sejak…” ia tidak melanjutkan kata-katanya lagi. Mungkin ia tau kalau ia melanjutkan perkataannya itu hanya akan membuatku kembali terluka.

”Baik.” jawabku singkat.

Aku tahu hal itu sudah berlalu lama sekali, dan aku harus belajar bersikap biasa saja dengannya. Tapi tetap saja, setelah kejadian hari itu, baru kali ini kami bertemu kembali. Jadi, aku masih belum bisa menyesuaikan sikapku padanya.

”Bagaimana denganmu, op..eh…seulong-sshi?” hampir saja aku kembali memanggilnya oppa.

”Baik…kau bisa lihat sendiri kan keadaanku.” ujarnya sambil tersenyum.

Senyum itu, sudah berapa lama aku tidak pernah melihat senyumnya. Senyum yang hanya bisa terngiang di kepalaku, bersamaan dengan rasa sakit yang ku alami.

Tapi aku baru tersadar, apa yang dilakukan seulong di rumah sungyoung? Apakah sekarang mereka bersama?Aku sama sekali tidak tahu berita tentang sungyoung sejak kepergianku saat itu. Aku mencoba mengubur kenangan masa lalu yang pahit dengan tidak berhubungan lagi dengan orang-orang yang terlibat di masa laluku, termasuk dengan sahabatku sendiri, sungyoung.

”Hyung, aku sudah siap, kita ke rumah sakit sekarang, kajja.” ujar seseorang dari dalam rumah.

”Apa kau mau ikut kami, kyungmin?” tanya seulong kemudian. ”Kau kemari pasti ingin bertemu dengan sungyoung kan?” lanjutnya.

”Nde, apa dia sedang sakit sekarang?” tanyaku heran

”Kau akan tahu nanti.” jawab seulong singkat.

”Hyung, siapa dia?” tanya laki-laki yang baru saja keluar dari rumah dengan membawa dua buah tas besar di masing-masing tangannya.

”Nanti kuceritakan di mobil.” lanjut seulong.

Kami bertiga langsung berjalan menuju mobil yang terparkir tidak jauh dari rumah itu. Laki-laki yang ternyata bernama ki kwang itu yang menyetir mobil, seulong duduk di kursi depan dan aku di kursi belakang.
“Jadi, siapa dia hyung?” tanya ki kwang mengawali pembicaraan di antara kami.

“Namanya kyungmin, sahabat sungyoung yang baru saja pulang dari luar negeri untuk bersekolah.” Jelas seulong.

“Kyungmin? tanya ki kwang. “Sepertinya aku pernah mendengar nama itu, tapi di mana yah? Aku tidak ingat.” Lanjutnya.

Dia terdiam sejenak, kemudian memandang wajahku dari kaca tengah mobil.

“Pantas saja aku merasa pernah melihatnya. Dia gadis di foto yang ada di kamarmu itu kan?” tanya ki kwang pada seulong yang berada di sampingnya.

”Pabo ya…” seulong langsung memukul kepala laki-laki yang bernama ki kwang itu cukup keras.

”Aduh, sakit hyung.” ucap ki kwang sambil mengelus-ngelus kepalanya dengan sebelah tangannya yang bebas. ”Kenapa kau memukulku?” lanjutnya.

Aku masih memperhatikan mereka yang masih bertengkar kecil dan memandang sekilas ke arah seulong. Apa benar yang ki kwang katakan tadi, bahwa seulong masih menyimpan fotoku di kamarnya? Entah kenapa hatiku senang saat tahu akan hal itu.

Sesampainya di rumah sakit, aku sangat terkejut karena kami bukan pergi ke rumah sakit umum, tapi ke rumah sakit bersalin. Dan ternyata, apa yang ku pikirkan tadi benar, Sungyoung baru saja melahirkan anaknya.

Seulong sengaja menahanku untuk tidak masuk ke kamar itu, katanya biar menjadi kejutan untuk sungyoung nanti.

”Jagi, kau kedatangan tamu lho.” ujar ki kwang yang telah lebih dulu berada di kamar itu.

”Siapa oppa?” tanya sungyoung dengan suara yang agak lemah.

”Aku.” jawab seulong kemudian.
”Ah…hampir setiap hari aku melihatmu. Aku tidak akan ….kaget…..KYUNGMIN?”
Tidak lama setelah seulong masuk, akhirnya aku mengikutinya masuk. Dan sungyoung sangat kaget melihat ku telah berada di kamar itu sekarang.

”Annyeong, sungyoung.” ujarku yang langsung menghampiri sungyoung yang masih terbaring lemah di tempat tidurnya.
”Kapan kau kembali?” tanyanya.
”Tadi malam. Dan karena sudah sangat merindukanmu, aku langsung pergi untuk menemui, tapi ternyata aku mendapat kejutan. Aku sudah punya keponakan sekarang.” kataku sambil tersenyum ke arahnya.

”Aku juga merindukanmu, kyungmin. Dan sepertinya bukan hanya aku yang rindu padamu.” katanya sambil memandang ke arah seulong.

”Hyung, temani aku melihat bayiku, yuk!” ajak ki kwang.
”Ye” jawab seulong lemas.

Sepertinya ki kwang tau suasana akan menjadi aneh jika mereka masih berada di tempat itu. Dan dengan cepat ia mengajak seulong pergi ke suatu tempat. Dia sepertinya laki-laki yang baik.

”Kyungmin-ah, kau jahat. Kenapa selama 4 tahun kau tidak pernah menghubungiku lagi?” memang benar, sejak kami lulus sekolah dan aku meneruskan sekolahku, kami tidak pernah berhubungan lagi.

”Mianhae. Tapi sekarang aku sudah kembali kan?” ujarku santai.

”Kau sudah menjadi dewasa sekarang. Kau tidak seperti kyungmin yang dulu. Yang selalu lari ke rumahku untuk menceritakan semua masalahmu padaku sambil menangis. Sekarang kau sudah bisa menata hidupmu sendiri.”

”Apa maksudmu?” tanyaku heran
”Buktinya kau bisa bersikap biasa saja di hadapannya.”

”Aku sudah melupakan kejadian itu. Aku tidak mau terus menerus larut dalam masa lalu yang hanya akan membuatku terluka.”
”Ah..kyungminku sekarang sudah besar.” kata sungyoung yang kini mengulurkan tangannya, menyuruhku agar memeluknya.

”Aku tidak menyangka, playgirl sepertimu akhirnya menikah lebih dulu dari aku. Padahal dulu kau berkata tidak akan menikah sebelum aku punya anak.” kataku sambil tertawa.

Mendengar perkataanku, sungyoungpun ikut tertawa.

”Memang benar, tapi gara-gara kalian berdualah aku berubah. Dan saat itu aku bertemu dengan ki kwang, sunbae ku di kampus sekaligus hoobae seulong di klub pecinta alamnya.

Benar, sebelum jadian denganku dulu, ia pernah bilang kalau dia ikut klub pecinta alam dan sering memanjat tebing dan melakukan hal-hal ekstrem. Tapi, karena aku tidak suka dan takut terjadi sesuatu padanya, aku melarangnya untuk ikut pendakian dan memanjat tebing lagi.

”Apa maksudmu belajar dari kami berdua?”
”Gara-gara masalah kalian, aku menjadi lebih menghargai cinta. Kau tau, sejak dulu aku hanya menganggap cinta adalah permainan. Tapi saat melihat kalian berdua terluka, aku menjadi sangat bersalah telah menyianyiakan cinta yang sering ku dapat.”

Sungyoung juga semakin dewasa sekarang. Benar, kami semua sudah berubah, bukanlah pribadi 5 tahun yang lalu.

”Dulu, aku memang terluka, tapi sekarang, aku sudah tidak mau memikirkan masalah itu lagi.”
”Apa kau masih mencintainya, kyungmin?”

Pertanyaan sungyoung menyadarkanku pada perasaan yang telah kukubur sejak lama.

”Tentu saja tidak.” aku berbohong. ”Mana mungkin aku masih mencintai orang yang telah menyakitiku?” elakku.

”Dari dulu, kau tidak pandai berbohong, kyungmin. Airmatamu sekarang adalah bukti bahwa kau masih mencintainya. Apa kau masih mau menerimanya? Hingga saat ini, dia masih menunggumu. Aku tahu karena selama ini aku selalu bersamanya.” ujar sungyoung meyakinkanku.

”Menungguku?”
”Benar, sejak kau pergi, ia tidak pernah berhubungan dengan gadis manapun. Ia sempat melakukan pendekatan dengan beberapa orang gadis yang menyukainya, tapi katanya, mereka tidak bisa membuatnya nyaman, seperti saat bersamamu.”

Hal itu juga terjadi padaku. Aku sempat berhubungan dengan beberapa laki-laki. Tapi tidak ada satupun dari mereka yang membuatku nyaman dan tenang, seperti saat seulong bersamaku, pikirku dalam hati.

”Tapi semuanya sudah terlambat. Aku tidak bisa menerimanya kembali sekarang.”
”Kenapa?”
”Mian, aku tidak bisa menjawabnya.”

Tepat setelah itu, seulong dan ki kwang datang dengan seorang bayi mungil dibuaiannya.

”Si tampan sudah datang, katanya ingin bertemu ibu dan juga tantenya.” ujar ki kwang yang langsung menidurkan bayi mungil itu di samping sungyoung.

”Dia tampan sekali.” ujarku sambil membelai lembut pipi bayi yang masih merah itu.

***

~ Dua Hari Kemudian ~

Hari ini, sungyoung sudah bisa pulang ke rumah. Aku berniat ikut menjemputnya di rumah sakit siang ini. Tetapi aku teringat sesuatu sebelum berangkat. Ada tempat yang ingin ku datangi sekarang.

Taman.

Tempat yang penuh kenanganku bersama dengan seulong. Taman itu tidak banyak berubah, hanya terjadi pemugaran di beberapa bagian saja. Dan selebihnya masih tetap sama. Kursi taman yang sering kami tempati juga masih tetap berada di tempatnya.

Karena ingin merasakan kembali suasana saat itu, akupun duduk di kursi itu. Sambil memejamkan mata, aku menyentuh pegangan kursi taman itu, kemudian mulai menghirup segarnya udara di taman itu.

Dan tidak sengaja, kenangan beberapa tahun lalu teringat kembali. Taman ini adalah saksi dari ciuman pertamaku. Dan juga banyak kejadian lain saat aku bersama seulong.

”Kyungmin? Sedang apa kau di sini?” suara seseorang yang sudah sangat ku kenal menyadarkanku dari lamunan.

Akupun membuka mataku dan memandang pada seseorang yang berada di hadapanku. Dia adalah seulong, laki-laki yang berada dalam lamunanku itu.

”Seulong-sshi, kau sendiri? Sedang apa?” tanya ku tak kalah heran.

”Aku sengaja mencarimu. Saat aku ke rumahmu, ahjumma bialng kau sudah pergi dari tadi, dan saat aku telepon ki kwang, kau juga tidak ada di tempat sungyoung, jadi aku berpikir kau mungkin ada di sini.” jelasnya.

Mengapa dia bisa tahu kalau aku akan datang ke taman ini? Sikapnya yang misterius masih saja sama.

”Mengapa kau berpikir aku pasti di sini?”
”Karena aku tahu sifatmu. Dan aku juga tahu kalau ternyata kau masih mencintaiku. Mian, tidak sengaja aku mendengar pembicaraanmu dengan sungyoung saat itu. Dan aku sangat senang sekali mendengarnya. Apa benar yang kalian bicarakan waktu itu?”

even as a day passes, i can’t forget you
even if a month passes, i can’t let you go
do you know my heart that still wants you? oh no~

i get tired and go crazy as i wait for you
every single day, each day feels like a year
oh i. i i i~ as i wait, as i wait for you yeah~

it feels like you’ll come back any second
it feels like i’ll see you again when i turn around
oh i. i i i~ i’m getting tired and going crazy yeah~

but still i endure in case you come back yeah yeah~
i’m still waiting for you. oh yeah~

even if a month passes, i can’t forget you
even if a year passes, i can’t let you go
do you know my heart that still wants you? oh no~

”Sepertinya kau salah dengar, seulong-sshi.” kataku sambil menjauh darinya yang kini sudah duduk di sampingku.

”Kau tidak bisa berbohong, kyungmin. Aku tahu kau masih memikirkanku, buktinya kau mau datang ke tempat ini. Tempat di mana kita sering menghabiskan waktu bersama dulu.”

Gawat, dia tahu semuanya. Kadang, aku sangat benci dengan diriku yang tidak bisa berbohong ini.

Dia kini sudah berlutut di hadapanku. Dan mengeluarkan sebuah kotak kecil.

”Maaf aku telah menyakitimu, tapi sejak kau meninggalkanku saat itu, aku tahu bahwa hatiku hanya bisa memikirkan dirimu. Cintaku hanya bisa tulus padamu. Dan aku janji tidak akan pernah menyakiti hatimu lagi, tidak akan pernah.” ucapnya serius sambil membuka kotak yang ternyata berisi sebuah cincin bertahtakan sebuah intan yang sangat cantik.

”Aku mencintaimu, kyungmin. Aku berjanji akan selalu berada di sisimu, selamanya. Maukah kau menerima cincin ini dan menikah denganku?” tanyanya.

Dia melamarku? Apa aku tidak salah? Di tempat ini? Jika memandang wajahnya yang memelas seperti itu, aku kembali teringat dengan wajahnya saat pertama kali menyatakan suka padaku. Hampir saja aku meraih cincin yang berada di tangannya itu, tapi tiba-tiba, aku kembali teringat dengan kejadian di kamarnya waktu itu. Kejadian di mana hatiku menjadi sangat membencinya, membenci laki-laki yang sangat kucintai, bahkan hingga saat ini.

Triing…..Suara telepon menolongku untuk lepas dari suasana saat ini.

”Yoboseo”
”…”
”Ne, oppa. Aku akan segera menjemputmu. Tapi tolong antarkan aku ke rumah sakit.”
”…”
”Aniya, bukan aku, tapi sahabatku.”
”…”
”Sampai jumpa, oppa”

Seulong memandang serius ke arahku sekarang. ”Oppa? Siapa dia?” tanyanya.

”Mian, seulong-sshi. Seperti perkataanku pada sungyoung saat itu, semua sudah terlambat. Cinta kita sudah berakhir, karena aku sudah bertunangan sekarang. Kita berdua punya hidup masing-masing sekarang. Jadi, kau harus melupakan semuanya.”

”Kau bohong, kyungmin?” tanyanya tak percaya.
”Aku akan menjemputnya sekarang. Dan setelah itu aku akan memperkenalkan kalian padanya. Aku datang ke sini adalah untuk meninggalkan semua kenanganku di sini, selamanya. Selamat tinggal, seulong-sshi.”

Akupun meninggalkan seulong yang masih berlutut di depan kursi taman, dengan sebuah cincin yang tergeletak di sampingnya. Aku harus mengakhirinya sekarang, aku tidak mau terus menerus tenggelam dalam masa laluku. Aku harus maju.

***

”Oppa…tolong aku kali ini saja, yah. Katanya kau menyayangiku.” pintaku pada kakak angkatku, choi seung hyun.
”Kenapa kau berbohong seperti itu? Bukankah kau masih mencintai laki-laki itu?” tanyanya

”Tapi ini terlalu cepat, aku masih harus memastikan perasaanku padanya. Ayolah oppa…”
”Terlalu cepat? Waktu lima tahun itu terlalu cepat buatmu?” katanya lagi.

”Kalau kali ini kau membantuku, aku akan memberikan topi dan kacamata yang kemarin kita lihat di mall. Bagaimana?” bujukku.

”Jongmal?”
”Ne, aku janji.”
”Arasso, kali ini aku akan berpura-pura menjadi tunanganmu.” jawabnya kemudian.

Yah, perkataanku pada seulong adalah kebohongan. Saat itu, yang menghubungiku adalah seung hyun oppa, kaka angkatku yang baru saja kembali dari luar negeri. Dia adalah anak dari teman appa, dan kebetulan kami satu kampus, jadi hubungan kami sudah cukup dekat.

Akhirnya sambil berpura-pura, kami berdua menuju rumah sakit untuk ikut menjemput sungyoung dan bayinya. Aku sengaja melakukan hal ini untuk melihat reaksi seulong yang dari dulu selalu cemburu melihat aku bersama dengan laki-laki lain. Mungkin aku bisa mempertimbangkan kembali perasaanku padanya.

Karena sungyoung yang tidak pernah berbohong padaku bilang bahwa seulong sekarang sudah sangat menyesal dan ingin kembali padaku. Dan hal itu sedikit terbukti dengan lamarannya tadi. Tapi sekarang masih terlalu cepat, aku tidak bisa begitu saja menerimanya. Sakit hatiku padanya masih membekas cukup dalam.

”Sungyoung, kenalkan. Dia seunghyun oppa, tunanganku.” kataku pada sungyoung dan ki kwang saat kami baru datang ke rumah sakit.

Sungyoung langsung menghampiriku dan berbisik.” kau serius sudah bertunangan?”
Akupun mengangguk.

”Bagaimana dengan seulong? Bukankah kau masih mencintainya?”
”Mungkin benar, tapi aku tidak bisa terus memikirkan masa laluku. Dia laki-laki yang baik, bahkan lebih baik dari seulong.” kataku, berbohong.

”Siapa kau?” tanya seulong yang baru saja masuk ke kamar rawat sungyoung pada seunghyun oppa.

”Dia tunanganku, namanya seunghyun. Oppa, kenalkan dia seulong, temanku”
”Teman?” tanya seulong menegaskan kata-katanya.

”Benar, bukankah kita berteman?” tanyaku pada seulong, dan dengan sengaja aku mendekati seunghyun oppa dan menggandeng tangannya tepat di hadapan seulong. Dan sepertinya seunghyun oppa tau isyarat dariku, ia langsung merangkulkan tangannya di pundakku. Saat ini kami terlihat sangat mesra sekali.

”Sepertinya aku memang sudah terlambat.” kata seulong yang langsung pergi dari tempat itu.

Ki kwang yang merasa tidak enak, langsung mengejar seulong. Dan saat mereka telah pergi, aku langsung menangis di tempat itu.

”Mengapa kau membohongi perasaanmu sendiri, kyungmin?” tanya seunghyun oppa padaku.
” Melihat wajahnya yang tersiksa seperti itu, aku sedih, tapi aku harus melakukannya oppa.” jawabku pelan.

Kemudian seunghyun oppa merangkulku lebih erat. Setelah seunghyun oppa menjelaskan padanya, ungyoung yang kebingungan akhirnya mengerti dengan semua permainan yang kami lakukan tadi.

”Kau bodoh, kyungmin.” kali ini sungyoung yang memelukku sambil memukul kepalaku.

***

~ beberapa hari kemudian ~

”Kyungmin, cepat ikut aku.” saat aku baru saja sampai di rumah sungyoung untuk melihat keadaan dia dan bayinya, ki kwang, langsung menarik tanganku dan membawaku ke suatu tempat.

”Kau mau membawaku kemana?” tanyaku heran.
Tapi selama perjalanan, ki kwang tetap diam, tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Akhirnya ki kwang menghentikan mobilnya di halaman sebuah universitas. Sepertinya itu adalah universitas tempat dia, seulong dan juga sungyoung kuliah. Seketika itu juga, ia mengajakku ke arah belakang kampus tersebut. Tepat di hadapanku, terdapat sebuah wall climbing yang lumayan tinggi.

”Tolong kau suruh dia turun.” ujar ki kwang yang langsung menunjuk ke arah puncak wall climbing itu.

Aku sedikit menyeringitkan mataku untuk melihat dengan jelas siapa yang berada di atas sana. Dan ternyata itu adalah seulong.

”Dia nekat naik tanpa pengaman. Memang dia adalah pendaki hebat, tapi tetap saja itu bahaya, apalagi ini adalah pengalamannya yang pertama sejak 6 tahun yang lalu berhenti dari dunia wall climbing” lanjut ki kwang.

6 tahun yang lalu? Apa itu saat aku mulai berpacaran dengannya? Karena aku pernah melarangnya untuk melakukan hal-hal berbahaya seperti ini. Apa ia kembali melakukan hal ini karena penolakan dariku?

”Mianhaeyo, ki kwang-sshi. Aku tidak punya hak apapun padanya sekarang. Dan aku juga tidak perduli apa yang akan dia lakukan mulai saat ini. Kau sendiri tahu kalau aku sudah bertunangan.” jawabku santai sambil berjalan meninggalkan tempat itu.

”Aku sudah tahu semuanya, kyungmin. Kau masih mencintainya. Dan dia juga selalu mencintaimu. Baik dulu maupun sekarang. Semoga kau tidak akan pernah menyesal dengan keputusanmu ini.”

Ki kwang masih saja meneriakan sesuatu padaku, tapi aku masih saja berjalan tanpa menoleh ke belakang.

Tapi tiba-tiba, banyak sekali orang yang mulai berlarian ke arah yang berlawanan dariku. Karena penasaran akhirnya aku bertanya pada seseorang yang berada cukup dekat denganku.

”Mianhaeyo, kenapa mereka semua berlarian seperti itu?” tanyaku.
”Seseorang baru saja terjatuh dari wall climbing.” jawab seorang pemuda yang kutemui.

Seseorang terjatuh? Mungkinkah?

Akhirnya aku memutuskan kembali ke tempat itu, perasaanku menjadi tidak menentu sekarang. Bagaimana kalau yang sedang kupikirkan itu adalah….seulong?

Dan ternyata…..aku benar. Tubuhnya kini sudah dikerumuni banyak sekali mahasiswa yang ingin melihat kejadian itu, termasuk ki kwang.

Tanpa memikirkan apapun lagi. Aku langsung menghampiri tubuh seulong yang masih terbaring di sana.

”Oppa….oppa….Kumohon, jangan tinggalkan aku seperti ini. Oppa…tolong buka matamu….Oppa….” berkali-kali aku memanggil namanya dan juga mengoyang-goyangkan tubuhnya, namun tubuhnya tetap diam tak bergerak.

Ki kwang dan juga mahasiswa lain yang berada di situ hanya memandangi kami dalam diam.

Tak henti-hentinya airmataku turun, menyesali kesalahan dan juga kebohongan yang pernah kubuat selama ini. Hingga menyebabkan seulong berbuat nekat seperti ini.

***

~ Setengah Tahun Kemudian (saat ini) ~

Tidak terasa sudah setengah tahun berlalu sejak kejadian itu, dan hingga saat ini, seulong masih saja terbaring di ruang ICU rumah sakit dalam keadaan koma. Belum ada tanda-tanda bahwa ia akan membuka matanya kembali. Kata dokter, semuanya tergantung pada semangat untuk hidup yang ada pada seulong. Karena beruntung, saat terjatuh cedera yang di deritanya cukup ringan, walau kepalanya sempat membentur dinding, saat ia mencoba untuk bertahan pada pegangan terdekatnya. Saat itu, ia sudah berada cukup dekat dengan permukaan, tapi entah kenapa ia terjatuh.

Sejak saat itu, aku memutuskan untuk selalu berada di sampingnya. Karena aku ingin langsung meminta maaf padanya karena kebodohan dan juga keegoisanku padanya.

”Oppa, hari ini aku datang lagi. Cepatlah buka matamu. Bukankah kau bilang akan selalu berada di sisiku selamanya? Jangan bilang kau sudah lupa dengan janjimu padaku.”

Seperti biasa, aku hanya berbicara sendiri. Dan sebisa mungkin aku menahan tangisku saat berada di dekatnya. Aku tidak ingin dia mendengar diriku menangis lagi.

”Oppa, aku pergi dulu yah. Saat pekerjaanku sudah selesai, aku akan kembali ke sini.” dengan lembut ku cium kedua pipinya dan juga keningnya. Aku masih bisa merasakan kehangatan dari tubuhnya. Ini adalah bukti kalau dia masih berjuang untuk hidupnya.

Saat ini aku telah bekerja di perusahan milik orang tua seung hyun oppa, yang kebetulan adalah kawan baik appa-ku. Sebelum pergi ke kantor, setiap pagi aku mampir ke rumah sakit tempat seulong di rawat dan mengganti bunga yang ada di sana. Dan juga untuk memberikan ciuman khusus untuknya. Dan saat aku pulang kerja, tidak lupa aku mengunjunginya hingga jam besuk berakhir.

Tapi hari ini tidak seperti biasanya, suster yang sudah mengenalku menghubungi dan menyuruhku untuk segera datang ke rumah sakit.

Saat menghubungiku, ia tidak bicara apapun. Karenanya aku langsung berpikir kalau terjadi sesuatu pada seulong. Dan saat sampai di rumah sakit, karena panik, aku langsung masuk ke kamar perawatan seulong dengan tergesa-gesa, tapi aku tidak bisa menemukan siapapun di sana. Seulong sudah tidak ada. Apakah benar-beanr telah terjadi sesuatu padanya???

”Suster, di mana pasien yang tadi di rawat di sini?”
”Oh, seulong-sshi maksudmu?”
”Ne, seulong. Kemana kalian membawanya?” tanyaku panik.
”Dia sudah pergi.” jawabnya santai.
”Apa maksudmu?”

”Dia sudah dipindahkan” jawab seseorang yang tak lain adalah Im ahjumma, umma-nya seulong.
”Maksud, ahjumma apa?” tanyaku sedikit heran.

”Dia sudah sadar, dan sekarang sudah dipindahkan ke kamar perawatan biasa. Kajja.” ajaknya sambil menarik tanganku.

Dia sudah sadar? Benarkah? Aku tidak bermimpikan? Setelah setengah tahun, akhirnya dia tersadar. Tapi mendadak, aku menghentikan langkahku.

Im ahjumma yang heran menegurku, ” waeyo?”
”Aku tidak akan menemuinya. Karena aku, dia menjadi seperti ini.” jawabku
”Tapi, dia ingin sekali bertemu denganmu.” jawabnya. ”Apa kau masih belum memaafkan kesalahannya?” lanjut im ahjumma.

”Apa kau tahu alasan kami berpisah, ahjumma.” tanyaku

”Nde, dia langsung menceritakan semuanya padaku setelah kau meninggalkan rumah saat itu. Pada awalnya aku sangat marah sekali, tapi ia terus menerus minta maaf padaku, dan karena aku ibunya, aku mengerti perasaannya, jadi, aku tidak mau menambah bebannya, karena penyesalannya padamu. Akhirnya aku memafkannya.” jelas Im ahjumma.

Dia kini memelukku, dan menyuruhku masuk ke dalam ruang perawatan yang sudah ada di hadapanku.

”Masuklah, kalian harus bisa memaafkan diri masing-masing sebelum memaafkan satu sama lain. Jika kalian bersikeras, malah akan menyakiti kalian berdua. Mulailah hubungan kalian dari awal. Kalian memiliki mata yang sama. Mata yang tidak bisa lepas memandang satu sama lain, karena kalian berdua sama-sama saling mencintai.”

Mendengar perkataan Im ahjumma, akhirnya kuberanikan diriku untuk masuk ke kamar itu. Kejadian hari ini hampir mirip dengan kejadian saat itu. Karena takut, akan melihat kembali kejadian yang sama, saat masuk, aku langsung memejamkan mataku.

”Kyungmin, kau boleh membuka matamu.” suara itu terdengar sangat lemah. ”Saat ini kita hanya berdua. Tidak ada siapapun selain kita.” lanjutnya.

Akupun mulai membuka mataku, dan kulihat tubuhnya masih terbaring lemah dengan selang infus terpasang padanya.

”Oppa…” aku kembali memanggilnya seperti dulu.
”Kau sudah memanggilku oppa? Apakah kau sudah memaafkanku sekarang?” tanyanya, masih dengan suaranya yang terdengar lirih.

Aku semakin mendekatinya, dengan airmata yang masih saja mengalir di pipiku. Saat benar-benar berada di dekatnya, aku langsung menggenggam tangannya yang tergeletak lemah di samping tubuhnya.

”Mianhae oppa. Kalau saja saat itu aku tidak berbohong, kau tidak akan seperti ini.”
”Kau berbohong? Apa maksudmu?”

”Aku dan seunghyun oppa tidak bertunangan, dia hanya kakak angkatku. Aku melakukan semua itu hanya ingin melihat reaksimu padaku. Apakah kau benar-benar masih mencintaiku dan menginginkan kita bersama kembali. Aku pikir, kau akan terus berusaha seperti dulu, tapi ternyata kau langsung menyerah dan malah melakukan perbuatan bodoh seperti memanjat dinding itu.” kataku sambil tetap menangis dan kini mulai menciumi tangannya yang berada dalam genggamanku.

”Sebenarnya saat itu, aku sadar kalau aku melakukan kesalahan. Setelah aku berpikir cukup lama di puncak teratas, aku berencana akan kembali mengejarmu dan berusaha mendapatkan simpati dan cintamu lagi, tapi entah kenapa aku kehilangan keseimbanganku saat turun dari dinding itu. Mianhae, kyungmin, telah membuatmu menderita seperti ini.” katanya sambil membelai lembut rambutku dengan sebelah tangannya yang lain.

Dia melepaskan genggaman tanganku,dan muali mengusap airmata yang masih berada di sudut mata dan pipiku.

Sepertinya dia sadar kalau aku kembali memakai kalung dan lionting yang pernah diberikannya padaku, karena saat ini dia tersenyum saat menyentuhnya terpasang di leherku.

”Apa kau mau memaafkanku, kyungmin?” tanyanya.
”Nde, aku sudah memaafkanmu, oppa.” jawabku.

”Apa kali ini kau masih menolakku?” katanya sambil memberikan kotak berisi cincin yang pernah ia perlihatkan saat melamarku di taman waktu itu.

”Cincin itu?”

”Choi kyungmin, apakah kau mau menikah denganku? Menghabiskan seluruh hidupmu denganku. Dan selalu mencintaiku, seperti aku yang selalu mencintaimu?” tanyanya sambil memegang cincin tiu di tangannya, menungguku mengulurkan jari untuk menerimanya.

”Maaf, aku tidak bisa berlutut dan bergaya dengan lebih layak. Karena saat ini tubuhku masih dipenuhi dengan infus.” katanya lagi sambil tersenyum.

”Nde, aku akan selalu mencintaimu, oppa.” jawabku sambil mengulurkan tangan kiriku padanya. Dan dengan perlahan ia memasangkan cincin itu di jari manisku, dan kemudian menciumnya.

”Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi sekarang, walaupun aku mati sekalipun.” katanya.

How will I live without you?
That’s why I
Can’t let you go, even if I die
How am I supposes to let you go?
Whether you go or leave, fix my heart
If you can’t fix it so that I won’t be in pain
So that I can at least live
I wouldn’t be able to live anyway
I can’t let you go, even if I die

No matter how much you push me away
I’ll hold onto you until the end
So that you won’t be able to go anywhere

Dan inilah akhir kisahku dengan laki-laki yang kucintai. Sebuah cinta yang harus diuji dengan sebuah pengkhianatan. Sebuah cinta yang tidak akan hilang walaupun telah terpisah dalam ruang dan waktu.

Advertisements

7 responses to “Even If I Die, I Can’t Let You Go [PG15/Part 4 of 4/FLUFF]

  1. HUWAHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH !!!
    aku nangis darah !!!!!!!!

    UNNIEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE TANGGUNG JAWAB….
    HUWEHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH..
    AKU NANGIS GAK BRENTI BRENTI NI UNNN !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

    • Makasih udah baca… Kadang di dunia nyata hal2 yg ky gni susah bgt terjadi… Tapi namanya jg cerita… Kekeke…

  2. huhuhuhuks , sory aku gabisa ngasi saran, kritik, ato pujian . karna aku ikut hanyut dalam crita, sampe ikutan nangis mulai chapter 3 .
    T,T

    aku suka kata2 “cinta yg harus diuji dengan sebuah penghianatan”
    😦

    #jadimakincintasamabangseulong

    • @chique: wah makasih udah mau mampir yah say… menurut yang udah penah baca, 2 part terakhir ff ini emang bikin maknyuss gimana gitu… aku juga bisa bilang ini ff kebanggaan aku… waduh suka juga ama seulong? aye mah udah cinta mati mungkin… #lebay kamu sering mampir ke sjff gag? ada yang bilang ada cerita yang hampir mirip 2 part akhir ff ini, judulnya pun sama, tapi pake bahasa inggris n beda cast. Aku sih blm sempet mampir… jadi gag tau bener apa gagnya. kalo emang bener2 mirip sih gpp, takutnya authornya nyomot ide ff ini… kamu mau bantuin gag? *jadi curcol*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s