It Takes Three

Author : Julia

Cast : Hangeng, Siwon (Super Junior)

Rate : T

Genre : Romance

================================================

TOK! TOK! TOK!

“Siapa yang bertamu jam segini?” pikir nyonya Kim.

Dengan langkah berat dia langkahkan kaki untuk menengok dari balik jendela.

KLEK!

“Annyeong haseyo ahjumma.” ucap seorang gadis muda dengan senyum manisnya.

“Ah! Hyegun! Ottohkae jinae?” seru nyonya Kim dengan wajah gembira.

“Hehe. Baik ahjumma.” ucap Hyegun dengan wajah berseri-seri.

“Ayo masuk-masuk. Sudah lama sekali kau tak berkunjung kemari. Kukira kau sudah lupa dengan keluarga ini.” ucap nyonya Kim panjang lebar sambil berjalan ke dalam rumah bersamaan dengan Hyegun.

“Tentu tidak ahjumma. Aku tak mungkin lupa dengan keluarga ini. Aku sudah merepotkan ahjumma selama aku kuliah.”

“Ah, kau anak yang baik ya. Bagaimana dengan pekerjaanmu?”

“Baik. Mmm, Yumin, Eunhye, dan Gyoosun pergi kemana?”

“Yumin dan Eunhye masih sekolah blm pulang. Gyoosun sedang bermain di rumah sebelah.”

“Oh, begitu. Mmm, ahjumma. Aku boleh menginap disini?” tanya Hyegun dengan wajah penuh harap.

“Tentu saja. Hyegun, kamu ini sudah ahjumma anggap seperti anak. Jadi tak perlu sungkan. Ara?”

“Ne, kamsa hamnida ahjumma.” ucap Hyegun dan langsung pergi ke kamarnya. Tempat dia dulu tinggal.

***

“Eonni!!!!” seru Eunhye dan Yumin bersamaan sepulang mereka sekolah.

“Aigoo~ suara kalian keras sekali. Eonni juga bisa mendengarnya tanpa harus kalian berteriak seperti itu.” omel Hyegun sambil mengusap kepala Gyoosun yang hanya mengikuti eonni-eonni nya.

“Eonni, bogossippoyo~.” ucap Eunhye sambil memeluk eonni nya itu.

“Hehe, ne. bogossippo.” ucap Hyegun lembut.

“Eonni kemana aja ih sombong. Ga pernah dateng ke sini lagi. Pokonya besok harus jalan-jalan! Traktiran! Yeah!” seru Yumin bersemangat.

“Mwo? Haha. Ok ok baiklah. Besok kita jalan-jalan ya.” ucap Hyegun.

Bagi Hyegun yang jauh dari orang tua nya. Keluarga Kim ini sudah seperti keluarganya sendiri. Dari kuliah Hyegun sudah tinggal bersama mereka. Dan dia sangat menyayangi keponakan nya. Yumin, Eunhye, dan Gyoosun. Bila sedang banyak pikiran, Hyegun lebih suka menginap di rumah ahjummanya daripda di apartemen nya sendiri.

“Ahjumma, aku ingin bercerita sesuatu.” ucap Hyegun saat para keponakannya sudah tidur.

“Hmm? Ada apa?” tanya nyonya Kim dengan heran. Tak biasanya keponakannya yang satu ini ingin bercerita semalam ini.

“Mmm, begini.” ucap Hyegun ragu.

“Waeyo?”

“Aku, memiliki seorang kekasih. Dia bosku di kantor.” tutur Hyegun.

“Aaa~ baguslah. Kau dengan bosmu.” ucap nyonya Kim sambil tersenyum.

“Ani, bukan itu yang ingin ku ceritakan ahjumma.”

“Lalu?”

“Bosku itu sudah punya istri.” ucap Hyegun sambil tertunduk.

“MWO?!” seru nyonya Kim.

Di sela-sela obrolan mereka, mereka tak menyadari kalau Yumin terbangun dan mendengar sayup-sayup obrolan mereka.

“Minta dia bertanggung jawab!” seru nyonya Kim.

“Aku sudah memintanya ahjumma. Dia bilang dia akan menikahiku.” ucap Hyegun dengan air mata yang sudah mengalir.

“Ah, eomma dan eonni kenapa ya? Ko berantem malem-malem gini.” batin Yumin dari dalam kamar.

“Apa kau yakin?” suara nyonya Kim sudah mulai mereda.

Yumin yang dalam keadaan setengah sadar kembali tidur dan menganggap kejadian tadi adalah mimpi.

Keesokan harinya, Yumin melihat wajah eonni kesayangannya itu lesu. Matanya terlihat sembab. Yumin yang sudah duduk di bangku SMA mencoba untuk bersikap dewasa dan bertanya kepada eonninya itu.

“Eonni, wae gurae?” ucap Yumin sambil duduk di tepi kasur dimana Hyegun masih meringkuk dengan mata sembabnya.

“Ah, Yumin. Aniyo. Ga ada apa-apa ko.” ucap Hyegun dengan senyum yang di paksakan.

“Jinjja? Jangan berbohong eonni. Mana mungkin eonni baik-baik saja bila aku melihat eonni dengan mata sembab seperti itu.” ucap Yumin.

Hyegun hanya dapat tersenyum menerima perhatian dari keponakannya yang paling besar itu. Beda usia mereka tidak begitu jauh, sehingga Hyegun cukup nyaman bila bercerita pada Yumin.

“Aniyo Yumin-ah. Kau belum cukup umur untuk mengetahui masalah-masalah eonni.” ucap Hyegun sambil tersenyum.

Nanorago~ norago~

Ponsel Hyegun berbunyi. Saat melihat layar ponsel dia membanting ponsel nya dan menangis. Yumin memungut ponsel eonni nya itu dan melihat pesan apa yang di baca oleh Hyegun. Mata nya terbelalak dan mulai membaca semua pesan yang ada di ponsel Hyegun.

“Eonni. . . jadi. . .” ucap Yumin terbata-bata sedangkan Hyegun terus menangis.

“Hyegun! Ada apa?” seru nyonya Kim melihat Hyegun menangis sedangkan Yumin hanya dapat mematung sambil memegang ponsel Hyegun.

“Eomma. . .” ucap Yumin sambil menarik ujung baju nyonya Kim.

Nyonya Kim hanya menengok dan menatap Yumin dengan pandangan bertanya ‘waeyo?’. Yumin menyodorkan ponsel Hyegun pada eommanya itu. Reaksinya tak beda jauh dengan reaksi Yumin.

“AKU MAU KETEMU BAJINGAN ITU!” seru nyonya Kim murka.

-Yumin POV-

Apa ini? Ada apa? Apa maksud dari sms ini? Eonni hamil? Bukankah dia belum menikah? Ah aku bingung. Eomma terlihat murka sekali. Eonni terus tertunduk dan menangis sambil memegang perutnya.

“Yumin, kamu keluar kamar sekarang. Ini urusan orang dewasa.” ucap eomma. Aku menuruti apa kata eomma dan mulai berjalan keluar kamar.

“Eonni, ada apa dengan Hyegun eonni?” tanya adikku yang paling kecil Gyoosun.

“Ani, Hyegun eonni ga kenapa-napa. Tapi perutnya sedikit sakit.” jawabku.

“Ah, kasian. Gyoosun mau ngusapin perut Hyegun eonni.” ucapnya.

“Ga usah. Biarin eomma obatin Hyegun eonni. Gyoosun ikut Yumin eonni aja ya beli eskrim.” ucapku. Gyoosun tersenyum kegirangan.

Aku berjalan dengan hampa keluar rumah sambil menggenggam tangan kecil adikku.

Hyegun eonni, pernah hamil dan sekarang keguguran? Pacarnya meninggalkannya?

Aish! Ternyata aku memang belum dewasa. Eonni, kenapa bisa kau sampai terjerumus hal seperti ini??

***

-Hyegun POV-

Akhir 2006

“Jagiyaaa.” panggil suara lembut itu.

“Ah, Siwon-ah.” ucapku sambil memeluknya.

“Sudah lama menunggu?” tanyanya.

“Mmm, yah lumayan. Hehe. Kau, tak apa pergi keluar rumah?” tanyaku khawatir.

“Ne, waeyo?”

“Ani, aku hanya khawatir kalau istrimu mengetahui hubungan kita.”

“Hehe, tapi aku mencintaimu Hyegun.” ucapnya.

“Aish, gombal. Haha.” ucapku sambil terkekeh kecil.

“Kau kedinginan?” tanyanya. Aku hanya mengangguk kecil. Tentu saja, menunggu di tengah taman sendirian di musim dingin seperti ini membuat tanganku membeku.

“Kemarilah.” ucapnya dan mendekapku. Aku hanya dapat tersenyum kecil.

Aku tau apa yang kulakukan ini salah. Dia sudah berkeluarga. Tapi aku mencintainya. Choi Siwon.

Selama ini hubungan kami berjalan dengan baik. Sampai suatu hari, malam itu tak bisa terelekan. Saat kami sedang berkencan hujan turun dengan lebat. Siwon yang tak bisa pulang di tengah hujan itu akhirnya menginap di apartemen ku. Dan terjadi lah hal itu. Hal yang seharusnya tidak kami lakukan.

Pertengahan 2007

“Siwon! Aku hamil!” seruku padanya saat di kantor.

“Mwo?” dia terlihat kaget. Matanya terbelalak.

“Aku hamil.” ucapku sekali lagi.

“Apa kau yakin? Kita hanya melakukannya sekali Hyegun.” ucapnya sambil mengitari pandangan ke sekitar. Mungkin dia takut karyawan lain menguping pembicaraan ini.

“Tapi aku benar-benar hamil. Aku sudah melakukan tes. Kau harus bertanggung jawab.” ucapku memelas. Tak seharusnya aku begini. Aku terlihat bagaikan wanita yang tak punya harga diri.

“Baiklah, aku akan menikahimu.” ucapnya.

“Jinjja? Ah~ saranghae Siwon-ah.” ucapku sambil memeluknya.

“Nado saranghae.” ucapnya sambil mengecup lembut keningku.

Selama sebulan aku terus berusaha meyakinkan Siwon agar mau menikahiku. Aku terlalu bersemangat mencari gaun pengantin dan segala hal untuk pernikahan kami.

“Siwon-ah.” ucapku saat istirahat kantor.

“Hmm?”

“Apa istrimu sudah tau?”

“Ani.” ucapnya sambil menggeleng kecil.

“Lalu, bagaimana dengan pernikahan kita? Aku sudah mencari gaun yang bagus loh.” ucapku bersemangat.

“Hyegun, tak usah mencari gaun mahal. Pernikahan kita ini sembunyi-sembunyi. Tak boleh ada yang tau.” ekspresi wajahnya aneh saat mengatakan ini.

“Apa kau benar-benar mencintaiku?” tanyaku ragu.

“Ya, tentu saja. Aku mencintaimu Hyegun.” ucapnya lembut sambil mengecup lembut bibirku.

Juni 2007

Aku sangat menanti pernikahan ini. Minggu depan aku akan menikah dengannya. Choi Siwon. Walaupun pernikahan kami hanya di langsungkan berdua di gereja. Karena dia tak ingin ada yang tau. Begitu pula aku yang tak ingin memberi tau orang tuaku kalau aku hamil di luar nikah.

“Hyegun, kamu baik-baik saja?” tanya temanku.

“Ah, ya aku baik-baik saja. Waeyo?” tanyaku. Aku takut kalau dia tau aku sedang hamil.

“Wajahmu terlihat pucat.” ucapnya.

“Mungkin aku terlalu lelah bekerja.” ucapku. Akhir-akhir ini aku terlalu sibuk karena bersemangat.

Sepulangnya di apartemenku, aku merasa sangat pusing. Perutku sakit sekali, seperti terpelintir. Aku baringkan tubuhku di kasur tapi perut ini tetap sakit. Saat aku mencoba berdiri dan mengambil tasku kulihat darah segar mengalir di sela-sela kakiku.

“Da… da… darah apa ini?” ucapku bergetar. Dengan cepat aku mengambil ponselku dan ku telpon Siwon.

“Siwon-ah, cepat kemari. Tolong cepat tak usah banyak tanya.” begitu ucapku. Aku takut. Apa yang terjadi padaku? Bagaimana dengan janin yang ada di perutku?

“Maaf, saya harus mengatakan ini. Ibu mengalami keguguran.” ucap dokter itu saat Siwon mengantarku ke rumah sakit.

“Apa dok? Jangan bercanda.” ucapku tak percaya. Emosiku menjadi labil. Aku menangis. Ingin aku marah. Tapi apa dayaku? Semuanya sudah terjadi.

“Hyegun, kau harus banyak berisitirahat. Makanlah.” ucap Siwon sesampainya di apartemenku.

“Aku ga mau makan.” ucapku singkat.

“Hhh, terserahlah.” ucapnya sambil menaruh piring di meja dan pergi. Aku hanya bisa menangis.

Keesokan hari nya aku memutuskan untuk pergi ke rumah ahjummaku. Dan penderitaanku makin bertambah. Siwon mengirimkan sebuah pesan untukku.

Hyegun, aku sudah memikirkan hal ini. Maafkan aku. Kita tak bisa menikah. Istriku saat ini juga sedang mengandung. Bukan maksudku untuk melakukan ini. Tapi, aku juga sudah tak memiliki tanggung jawab untuk menikahimu. Maaf, hubungan kita harus berakhir.

Langsung saja aku banting ponselku. Dan keponakanku hanya dapat terbengong melihat tingkahku. Ahjumma pun masuk kamar dan murka.

***

September 2007

3 bulan sudah berlalu sejak kejadian itu. Aku keluar dari tempatku bekerja dan pulang ke kampung halamanku. Aku membantu keluargaku mengurus sebuah toko yang cukup besar. Mereka juga tak pernah tau kalau aku pernah hamil. Disini aku merasa lebih tenang.

-Author POV-

“Ahjumma, aku datang membawa sayuran.” ucap seorang pria. Dia turun dari mobil angkutan itu dan mengangkut beberapa keranjang sayuran segar.

“Ah, simpan saja disitu.” ucap nyonya Song. Sedangkan Hyegun sibuk mendata barang-barang yang masuk.

“Ahjumma, stok barang yang kukirim minggu lalu sudah habis?” tanya pria itu.

“Ah, tunggu aku tanya dulu. Hyegun~.” seru nyonya Song memanggil anak kedua nya itu.

“Ne, eomma. Waeyo?” seru Hyegun dari dalam.

“Coba kamu cek stok beras di gudang. Tinggal berapa banyak lagi.” seru nyonya Song.

“Ne eomma, aku lihat dulu.” jawab Hyegun sambil pergi berlalu menuju gudang penyimpanan beras.

“Itu anak ahjumma?” tanya pria itu.

“Mmm? Hyegun maksudmu?” nyonya Song bertanya balik.

“Ah, namanya Hyegun ya.” gumam pria itu.

“Waeyo? Mau kukenalkan?” tanya nyonya Song sambil menyikut sedikit pria itu. Pria itu hanya terkekeh kecil.

“Boleh kalau ahjumma mengijinkan. Hehe. Aku baru melihatnya.” ucap pria itu.

“Oh ya? Padahal dia ada disini sejak 3 bulan yang lalu. Masa sih kamu baru liat?”

“Jinjja? Wah, sepertinya aku terlalu sibuk sampai tak memperhatikan anak ahjumma yang manis.” ucapnya.

“Eomma, persediaan beras tinggal beberapa karung lagi.” ucap Hyegun yang datang setelah mengecek persediaan beras.

“Begitu, baiklah. Han, mungkin aku akan minta kiriman beras minggu depan.” ucap nyonya Song.

“Ne, ahjumma.” ucap pria itu sambil membungkuk kecil.

“Oh, iya. Hyegun, kamu harus berkenalan dulu dengan pria ini.” ucap nyonya Song pada Hyegun.

“Ah, perkenalkan, naneun Song Hyegun imnida.” ucap Hyegun sambil menundukan badannya.

“Hangeng imnida.” ucap pria itu.

“Nah, Hyegun, karena kamu juga akan mengurus toko ini, kamu harus banyak berkomunikasi dengan Hangeng ya. Dia ini pria yang baik dan rajin.” ucap nyonya Song.

“Ne, eomma. Aku masuk dulu ya, mau mendata lagi.” ucap Hyegun.

-Hangeng POV-

“Jadi, namanya Hyegun ya? Kenapa aku tak pernah memperhatikan ada wanita semanis dia disini.” batinku.

“Han, jangan lupa ya minggu depan.” ucap ahjumma.

“Ne, kalau begitu. Aku permisi dulu. Annyeong.” ucapku sambil pamit.

Kukendarai mobilku menuju rumah. Sesampainya di rumah, kulihat adikku sedang asik menonton televise sedangkan eomma sedang sibuk memasak di dapur.

“Aku pulang.” seruku.

“Ah, kau sudah pulang. Kebetulan makanan sudah siap. Ayo makan, tadi pagi kau tak sempat sarapan kan?”

“Ne, eomma. Soalnya aku sibuk sekali. Banyak stok barang yang harus ku kirim.” ucapku.

“Mianhaeyo.” ucap eomma.

“Mwo? Untuk apa eomma meminta maaf?”

“Kau harus bekerja keras seperti ini sepeninggalan appamu.”

“Gwaenchana eomma. Ini memang sudah kewajibanku sebagai anak paling besar kan?”

“Tapi kau ini pintar. Tak seharusnya berada disini. di desa seperti ini. Lagipula di usiamu saat ini seharusnya kau sudah menikah.”

“Eomma~ jangan bilang seperti itu. Aku melakukan ini dengan tulus ko. Aku sayang dengan keluarga ini. Untuk masalah menikah, mungkin aku belum menemukan gadis yang cocok.”

“Kau memang anak yang berbakti. Eomma sayang padamu.”

***

-Author POV-

“Bagaimana menurutmu?” tanya nyonya Song.

“Ha? Apanya?” tanya Hyegun tak mengerti.

“Ya ampun. Itu Hangeng. Dia tampan bukan?” goda nyonya Song.

“Haha, eomma menyukainya? Eomma mau menikah lagi?” tanya Hyegun sambil tertawa.

“Hush! Ada-ada saja. Eomma sudah cinta mati sama appamu. Haha. Lagian masa eomma sudah tua gini masa masih niat mau nikah lagi.”

“Ya, siapa tau. Eomma sih keliatannya suka banget sama dia.”

“Iya eomma suka, dia anak nya ulet juga taat. Ah, eomma ingin punya menantu seperti dia.” ucap nyonya Song. Hyegun mengernyitkan dahinya mendengar ucapan eomma nya itu.

“Eomma mau jodohin Dongra sama dia?” tanya Hyegun.

“Hush! Dongra baru 15tahun. Masa eomma jodohin. Yang ada tuh harus nya kamu yang eomma jodohin. Sudah 25 tahun. Harusnya kamu sudah menikah.”

“Hhh, eomma. Aku lagi ga ingin mikirin lelaki dulu. Untuk saat ini.”

“Hah? Kamu ga suka sama sesama jenis kan?”

“Omo~ eomma~ kenapa bisa mikir kaya gitu?”

“Ya soalnya kamu ga pernah ngenalin laki-laki ke eomma. Eomma kan khawatir. Adikmu saja sudah punya pacar.”

“Ya ampun Dongra masih kecil eomma kenapa udah di ijinin pacaran?”

“Soalnya eomma gemas anak eomma yang sudah 25 tahun ini tak pernah mengenalkan lelaki pada eomma nya.”

“Bukan begitu . . .” ucapan Hyegun terputus karena seseorang datang.

“Annyeong ahjumma!” ucap pria itu dengan riang.

“Ah~ Hangeng~ panjang umur. Haha.” balas nyonya Song dengan sama riangnya.

“Aha! Pasti kalian sedang membicarakanku? Ya kan?” tanya Hangeng dengan percaya diri.

-Hyegun POV-

“Astaga, pria ini PD sekali. Ya ampun eomma terlihat seperti tante-tante yang kesenangan (=.=)” batinku.

“Hyegun, urus semua nya ya bareng Hangeng. Eomma mau ke dalam dulu ngurus sesuatu.” ucap eomma sambil berlalu.

“Aigoo~ apa-apaan eomma ini ninggalin anak nya berdua sama pria ga jelas ini.” pikirku.

“Jadi, siapakah nona manis ini?” ucap nya.

“MWO? Apa-apaan pria ini?” jeritku dalam hati. Aku tak memedulikannya. Aku terus saja berkutat dengan barang-barang yang datang.

“Hei nona manis. Dus itu berat. Biar aku saja yang membawanya.” ucap pria itu sambil merebut dus yang sedang kubawa. Aku hanya diam dan kembali mengambil dus-dus yang lain.

“Aigoo~ kamu ini manis tapi ternyata tuli ya.”

“Ya! Aku tidak tuli!” ucapku marah sambil menengokan wajah ke arahnya. Omo~ apa-apaan wajahnya sedekat ini. Aku membeku. Dia terus saja menatapku. Dan kulihat ada senyuman tersungging di wajahnya.

“Haha, ternyata kalau sedang marah kau juga manis ya.” ucapnya sambil terkekeh kecil.

“Bisakah kau tidak menggangguku?” ucapku tegas.

“Mmm, tergantung.” ucapnya dengan tatapan mencurigakan.

“Oh astaga ya Tuhan. Mengapa ada pria semenyebalkan dia di dunia ini.” umpatku dalam hati.

Tak ku gubris dia dan ku masuk ke dalam membawa satu dus stok barang.

-Hangeng POV-

“Hei, tunggu.” seruku saat melihat dia masuk ke dalam. Entah mengapa aku merasa sangat tertarik dengan dia.

“Apa lagi?” tanyanya ketus.

“Kau tak ingin ku ganggu lagi kan?” tanyaku dengan nada yang membuat dia penasaran.

“Ya, sangat ingin. Tolong jangan ganggu aku.” ucapnya dengan tegas.

“Hehe, kalau begitu kau harus mau menemaniku ke pasar malam!”

“MWO? Kau ini di kasih hati minta jantung!” ucapnya marah sambil masuk ke dalam rumah.

“Kalau kau tidak mau aku akan selalu mengganggumu!” seruku dari luar.

“Ada apa ini ribut sekali?” tanya nyonya Song yang tiba-tiba keluar dari dalam.

“Ahjumma. Barang-barang nya sudah kusimpan. Aku pergi dulu ya.” pamitku pada nyonya Song.

“Ah, iya. Gomawo Hangeng. Sering-seringlah main kemari. Jangan hanya kalau mengantar barang saja.”

“Bolehkah? Baiklah aku akan rajin datang.” ucapku semangat.

-Hyegun POV-

“Apa-apaan orang itu? Aku kemari untuk mencari ketenangan tapi malah bertemu orang seperti dia!” umpatku dalam hati.

Aku masuk ke kamarku dan merebahkan diriku di kasur. Kubuka laci meja hiasku dan kuambil selembar foto. Orang itu, ya dia telah menghancurkan hidupku. Choi Siwon. Seharusnya aku tak jatuh cinta pada orang seperti dia.

“Hyegun. Jaga toko lagi. Eomma mau pergi ke pasar sama Dongra.” seru eomma.

“Ne, eomma.” jawabku sambil beranjak dari tempat tidur. Kuletakkan kembali foto itu dia atas meja hias.

Esoknya. . .

“Annyeong aku datang lagiiii~~.” terdengar suara riang dari luar toko.

“Oh astaga kenapa pria ini selalu datang menggangguku.” lirihku.

“Hallo Hyegun.” ucapnya berdiri di depanku sambil tersenyum.

“Bisakah kau berhenti menggangguku? Sekarang aku sedang sibuk.”

“Oh, mungkin aku bisa bantu.” ucapnya. Tanpa menunggu aku berkata-kata lagi dia melayani pembeli yang datang.

“Aku bisa melakukan nya sendiri.” ucapku.

“Tapi kulihat kau kesulitan mengambil barang yang di taruh di tempat cukup tinggi.” ucapnya saat melihat aku kesulitan mengambil beberapa dus ramen yang di taruh di lemari paling atas.

Akhirnya dia yang mengambilkan dus itu.

“Gomawo.” ucapku sedikit gengsi.

“Hehe, cheonmaneyo. Tapi kau harus membayar pertolonganku hari ini.” ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya.

Tak melihat ekspresiku yang tengah terbelalak dia berlalu dan kembali melayani para pembeli.

Sesudah semuanya beres dia kembali menggangguku.

“Hei, aku minta bayaran dong.” ucapnya.

“Siapa pula yang memintamu untuk membantuku?”

“Mmm, aku.”

“Aish, kau ini menyebalkan.”

“Tapi kau menyukainya kan?” ucapnya dengan percaya diri.

Ya Tuhan, apa-apaan tingkah nya ini.

Hangeng POV-

“Aish.” kulihat dia sedikit mendengus.

“Hyegun, bagaimana dengan tawaranku mengajakmu pergi ke pasar malam?” tanyaku.

Aku sendiri tak mengerti kenapa aku sangat tertarik dengan gadis ini. Eomma, mungkin aku sudah menemukan gadis yang tepat (^_^)

“Hhh, kenapa kau selalu menggangguku? Bukankah selama ini kau selalu kemari tapi cuek saja?”

“Err, aku selalu mengatar barang sampai depan toko jadi aku tak tau ada gadis semanis dirimu di dalam.”

“Pembual. Aku tak suka pria sepertimu.”

“Tapi aku menyukaimu.” ucapku tiba-tiba. Ah sudahlah aku sudah terlanjur mengatakannya.

Kulihat dia menatapku dengan heran.

“Haha, bagaimana bisa kau mengatakan hal seperti itu? Menyukaiku? Bertemu denganku saja baru 2 hari yang lalu. Kau ini benar-benar membuatku kesal.” ucapnya.

-Author POV-

“Apakah harus lama mengenal baru bisa mengatakan kalau aku menyukaimu?” tanya Hangeng. Dia merasa sedikit senang karena Hyegun mau meresponnya untuk kali ini.

“Yah~, kau tidak mengenalku dengan baik kan. Baru juga 2 hari yang lalu kita bertemu. Orang lama yang kau kenal saja mungkin belum tentu orang baik. Apalagi aku.” ucap Hyegun panjang lebar dengan tatapan menerawang.

Hangeng hanya tersenyum.

“Tapi aku yakin kau orang yang baik.”

Hyegun hanya dapat menatap Hangeng dengan tatapan yang sangat heran.

“Darimana datang nya rasa percaya diri yang tinggi itu?” batin Hyegun.

“Hhh, baiklah jadi lusa aku akan kembali. Kita pergi ke pasar malam ok? Aku akan menjemputmu jam 5 sore.” ucap Hangeng sambil pergi.

***

“Eomma, besok aku akan pergi dengan Hangeng.” ucap Hyegun pada nyonya Song yang sedang asik menonton TV.

“Mwo? Kalian sudah berpacaran?” tanya nyonya Song yang terlihat sangat terkejut sekaligus senang.

“Aniyo~ aku hanya. Mmm, apa ya. Begitulah.” jawab Hyegun yang bukan sebuah jawaban.

“Aish, kalian berpacaranpun tak apa. Eomma sangat menyetujuinya.”

Hyegun hanya tersenyum tipis dan kembali ke kamarnya.

“Mmm, apa aku bagus berpenampilan begini ya?” gumam Hyegun sambil menatap diri nya di depan cermin.

“Aish! Kenapa aku jadi seserius ini!” gerutu Hyegun yang melihat diri nya sibuk memilih baju untuk pergi besok.

Dia terduduk di tepi kasur.

“Tapi aku menyukaimu.”

“Aku yakin kau orang baik.”

Kata-kata Hangeng terus saja berputar di pikiran Hyegun.

“Bagaimana mungkin dia bisa berkata setulus dan seyakin itu? Tatapan matanya terlihat sangat yakin. Argh!” Hyegun mulai berbicara sendiri dan terlihat aneh.

“Nah lo~~~ eonni suka sama Hangeng oppa ya!” Dongra yang sedari tadi bersembunyi di balik pintu mulai menampakkan diri nya.

“Dongra! Sejak kapan kau ada disitu?” seru Hyegun terkejut.

“Mmm, sejak eonni sibuk milih-milih baju. Aih~ akhirnya eonni mau berkencan dengan Hangeng oppa pula!” seru Dongra terlihat senang sekali.

“Hey hey! Siapa pula yang suka sama pria menyebalkan itu!” ucap Hyegun kalut.

“Matamu berkata demikian eonni. Hihi.” ucap Dongra.

“Ya! Kau masih 15 tahun! Tau apa kau?” seru Hyegun.

“Tau banyak hal. Haha. Pokonya aku yakin eonni menyukai Hangeng oppa.” ucap Dongra yakin sambil cepat-cepat pergi sebelum terkena semprot omelan eonni nya itu.

“Aish, kenapa aku harus bertemu pria yang meliki aura seperti itu?” keluh Hyegun.

Esoknya . . .

“Annyeong ahjumma~” seru seorang pria yang tak lain adalah Hangeng. Dia datang dengan pakaian santai tapi rapi sehingga membuatnya semakin tampan.

“Ah, Hangeng! Akhirnya kau datang. Apa benar kau akan berkencan dengan Hyegun?” tanya nyonya Song penuh harap.

“Emm, bagaimana ya? Tanyakan saja pada Hyegun. Hehe.” jawab Hangeng malu-malu sambil menggaruk kepala nya yang tak gatal.

Di tengah percakapan mereka, Hyegun muncul dari dalam rumah. Sesaat Hangeng merasa senang dan saat melihat penampilan Hyegun dia sedikit kecewa.

“Ok, aku sudah siap. Eomma aku pergi dulu ya.” ucap Hyegun santai.

“Astaga~ apa-apaan kau ini. Kau kan akan berkencan kenapa penampilan mu seperti ini? Ini sangat tomboy Hyegun. Ayo ganti baju mu!” perintah nyonya Song.

“Ga mau eomma, udah enak kaya gini.” rengek Hyegun. Eomma nya hanya dapat menggelengkan kepala melihat anak nya memakai t-shirt dengan kemeja, celana jeans dan sepatu kets.

“Sudahlah ahjumma. Tak apa ko. Keburu malam, lagipula Hyegun manis ko dengan penampilan seperti ini.” ucap Hangeng.

“Baiklah, hati-hati ya.” ucap nyonya Song yang akhirnya mau mengalah.

“Aku pergi dulu ya eomma.” ucap Hyegun sambil melambaikan tangan nya.

***

“Hyegun, apa kau terpaksa menemaniku kemari?” tanya Hangeng sesampai nya di pasar malam.

“Mmm, awal nya sih begitu. Tapi ternyata disini menyenangkan.” jawab Hyegun sambil tersenyum untuk pertama kali nya di hadapan Hangeng.

“Ah, kenapa tak dari dulu kau tersenyum seperti itu?” tanya Hangeng tiba-tiba.

“Mwo?”

“Ani, aku tak pernah melihatmu tersenyum. Kau lebih manis kalau tersenyum Hyegun.”

“Hehe, gomawo.” ucap Hyegun sambil meneruskan memakan es krim nya.

“Mmm, kemarilah.” ucap Hangeng saat melewati sebuah toko aksesori.

Hyegun yang sedang asik melihat-lihat permainan yang pun mengalihkan perhatian nya pada Hangeng.

“Ini, coba kau pakai.” ucap Hangeng sambil meraih tangan Hyegun dan memakaikan sebuah gelang sederhana yang cantik.

Hyegun hanya terdiam melihat gelang yang ada di pergelangan tangan nya.

“Ah, cocok! Ahjussi aku beli ini satu.” ucap Hangeng sambil mengeluarkan uang dan membayarnya.

“Mmm, oppa, ini . . .” ucap Hyegun kebingungan.

“Apa? Katakan lagi.” Hangeng terlihat kegirangan.

“He?” Hyegun makin kebingungan.

“Kau tadi memanggilku oppa.” ucap Hangeng sambil tersenyum. Hyegun hanya dapat tersipu.

“Sudahlah. Apa maksudnya ini?” tanya Hyegun mengalihkan pembicaraan.

“Ini. . . hadiah dariku.” ucap Hangeng sambil mengembangkan senyum nya.

“Ah, tapi oppa.” elak Hyegun.

“Terimalah. Gelang ini sangat cantik bila di pakai olehmu.” ucap Hangeng.

“Ne, gomawo.” ucap Hyegun malu-malu.

Entah sejak kapan, hubungan mereka mulai membaik. Sekarang mereka dapat menikmati festival dengan nyaman. Akhirnya, setelah mulai lelah bermain mereka memutuskan untuk pulang. Sayang nya di tengah perjalanan pulang, hujan mulai turun. Terpaksa mereka harus berteduh di tempat terdekat.

“Oppa, apa tak apa kita berteduh disini?” tanya Hyegun pada Hangeng saat melihat keadaan tempat mereka berteduh.

“Mmm, yah setidak nya disini kita tidak kehujanan. Lagipula, tempat ini seperti nya tak berpenghuni.” jawab Hangeng sambil melihat-lihat sekitar.

“Ah, ok.” ucap Hyegun singkat dan mulai duduk di kursi kecil yang ada di ruangan itu.

Suasana cukup sepi. Hangeng hanya berjalan-jalan mengitari tempat itu sementara Hyegun mulai menggigil karena hembusan angin yang masuk dari celah-celah tembok yang retak.

“Oppa, duduklah. Kau pasti lelah dari tadi hanya berdiri dan berjalan-jalan.” tawar Hyegun.

“Baiklah. Bolehkah aku duduk di sampingmu?” tanya Hangeng.

Hyegun hanya tersenyum kecil. Hangengpun duduk di samping Hyegun. Melihat Hyegun yang menggigil kedinginan, Hangeng spontan merangkul Hyegun. Hyegun hanya terdiam. Seperti nya dia terbawa suasana.

“Hyegun-ah.” akhirnya Hangeng mencoba untuk memecahkan Susana hening.

Hyegun hanya mendongakan kepalanya dan menatap Hangeng dengan tatapan ‘Apa?’

“Saranghae.” ucap Hangeng. Hyegun masih terdiam dan mengerutkan keningnya.

“Jeongmal saranghae.” ucap Hangeng sekali lagi. Wajah mereka cukup dekat, akhirnya dengan alami mereka berciuman. Mungkin, suasana juga yang mendukung.

Hyegun masih belum bisa mencerna apa yang terjadi. Dia terbawa suasana. Sampai sadar kalau Hangeng berusaha melakukan yang lebih dari pada berciuman.

“Oppa~” ucap Hyegun lirih sambil mendorong tubuh Hangeng. Dia teringat akan kesalahan nya di masa lalu saat bersama Siwon.

“Ah, mianhae.” ucap Hangeng saat sadar apa yang telah dia perbuat.

“Andwae, aku bukan perempuan baik-baik. aku tak pantas berada di sisi pria baik sepertimu.” ucap Hyegun. Kali ini Hangeng yang mengerutkan kening nya.

“Apa maksudmu? Apakah aku tak boleh mencintaimu?” tanya Hangeng.

“Bukan, bukan itu. Kau tak akan mau bersama seorang perempuan yang sudah pernah hamil bukan?” tanya Hyegun. Hangeng terkejut mendengar ucapan Hyegun. Dia masih belum bisa mencerna dengan sempurna apa yang di maksud Hyegun.

Hyegun hanya tersenyum simpul.

“Sayang nya, aku bukan gadis baik-baik seperti yang kau pikirkan oppa. Mianhae.” ucap Hyegun.

Hangeng masih tetap diam tak bergeming.

“Ah, hujan sudah berhenti. Ayo kita pulang oppa.” ucap Hyegun tak menghiraukan ekspresi wajah Hangeng. Kali ini hati nya terasa sangat perih. Sepertinya dia mulai menyukai Hangeng. Perasaan tulus Hangeng itu membuat hati nya luluh.

***

Sudah seminggu berlalu semenjak kejadian itu. Hyegun tak pernah melihat Hangeng datang lagi ke rumah nya. Dia rindu akan senyuman pria itu. Yang selalu datang dan mengganggunya.

“Annyeong ahjumma~” terdengar suara seorang pria yang berseru dengan riang.

Hyegun yang sedari tadi termenung di halaman belakang dengan bergegas keluar rumah untuk melihat siapa yang datang. Saat berada di ambang pintu dia melihat bahwa yang datang ternyata memang Hangeng.

“Ah, Hangeng-ssi. Kemana saja dirimu?” tanya nyonya Song.

Hyegun hanya dapat mengintip dari dalam rumah. Dia merasa enggan untuk bertemu Hangeng semenjak kejadian seminggu yang lalu.

“Haha, karena jadwal aku mengantar stok barang-barang memang baru hari ini ahjumma.” jawab Hangeng. Sekali-kali dia melirik kearah pintu dan melihat ada Hyegun disana.

“Oh iya, bagaimana hubunganmu dengan Hyegun?” tanya nyonya Song yang menyadari kalau Hangeng memperhatikan Hyegun.

“Mwo? Ah, begitulah.” jawab Hangeng.

“Haha, ayo kamu mau masuk dulu?” tanya nyonya Song seusai Hangeng mengangkut barang-barang.

“Mmm, tak perlu. Setelah ini saya masih harus mengantarkan barang ini ke tempat lain.” jawab Hangeng.

Ia pun berpamitan pada nyonya Song. Hyegun masih memperhatikan Hangeng dari balik pintu. Hangeng mengetahui kalau Hyegun memperhatikan nya. Beberapa saat sebelum masuk ke dalam mobil dia melihat ke arah pintu dan tersenyum tipis. Hyegun dapat melihat senyum itu. Hati nya tertegun.

Sementara itu Hangeng sedang sibuk dengan pemikiran nya sendiri. Dia merasa kacau. Dia sangat mencintai Hyegun dan dia yakin akan hal itu. Tapi pernyataan Hyegun membuat dia kacau.

“Eomma, aku rasa aku menemui gadis yang aku cintai.” ucap Hangeng pada eomma nya saat sedang makan malam.

“Jinjja? Ah, syukurlah. Eomma sangat senang mendengarnya.”

“Mmm, tapi eomma. Mmm, aku ingin bertanya sesuatu.” ucap Hangeng ragu-ragu.

“Apa?”

Hangeng menjadi ragu sejenak dan akhirnya dia memantapkan hati untuk mengatakannya.

“Eomma, bagaimana kalau aku menikahi seorang perempuan yang pernah hamil?” tanya Hangeng. Di memperhatikan ekspresi wajah eomma nya itu dengan baik-baik.

Dia melihat wajah eomma nya sedikit terkejut, tapi kemudian eomma nya itu tersenyum.

“Maksudmu wanita itu sudah pernah bersuami?”

Hangeng menggeleng pelan dan melihat raut wajah eomma mulai berubah.

“Jadi? Wanita itu sekarang sedang hamil dan itu karena perbuatanmu?”

“Bukan eomma. Jadi, jadi. Aku juga tak mengerti.” ucap Hangeng kebingungan.

“Han, perasaanmu hanya kau yang tau. Eomma yakin, siapapun wanita itu dia adalah wanita yang baik. Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan yang besar dalam hidup nya. Berdoalah. Tuhan pasti memberikan yang terbaik untukmu.”

“Ne, gomawo eomma. Saranghae.” ucap Hangeng sambil memeluk eomma nya itu.

Di rumah, Hyegun terus termenung. Dia melihat gelang pemberian Hangeng yang masih terpasang di pergelangan tangan nya.

“Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Sepertinya aku benar-benar jatuh cinta pada pria itu. Tapi aku sudah ternoda dan tak pantas untuk pria sebaik dia.” ucap Hyegun lirih.

Keesokan harinya . . .

“Annyeong ahjumma~” suara ceria itu kembali terdengar dari depan rumah Hyegun.

Dan lagi-lagi Hyegun hanya mengintip dari balik pintu. Dia memperhatikan gerak gerik dan senyuman Hangeng dari balik pintu. Saat itu juga Hangeng sadar kalau Hyegun sedang memperhatikan nya. Dia tersenyum.

“Hari ini stok barang udah cukup banyak. Gomawo Hangeng-ssi.” ucap nyonya Song.

Hangeng menundukan sedikit badannya dan tersenyum lalu kembali menatap Hyegun. Dengan gerakan tubuh yang samar dia membuat satu kalimat yang membuat Hyegun terpaku.

“Saranghaeyo Hyegun.”

***

“Eomma, aku sudah yakin. Aku ingin menikahi dia.” ucap Hangeng seusai makan malam.

“Nugu? Wanita yang pernah kau ceritakan kah?”

“Ne, aku benar-benar mencintai nya eomma. Aku ingin melindungi dia. Aku merasakan ada sesuatu yang berbeda saat pertama aku bertemu dengan nya.”

“Hmm, Han, sekarang kamu sudah dewasa. Kau sudah tau mana yang baik dan bukan untuk dirimu. Apapun keputusanmu eomma mendukungmu.”

Hangeng merasa sangat bahagia saat eomma nya berkata seperti itu sambil tersenyum lembut. Tanpa ragu dia memeluk eomma nya itu.

Beberapa hari kemudian . . .

“Annyeong ahjumma.” ucap Hangeng begitu sampai di rumah nyonya Song. Kali ini dia tak memakai kaos longgar yang biasa dia pakai. Tapi kali ini dia berpenampilan sangat rapi.

“Ah, Hangeng-ssi. Ada apa kemari? Stok barang nya masih banyak.” ucap nyonya Song.

Kemudian terlihat wajah wanita yang seumur dengan nyonya Song menuruni mobil dan menghampiri nyonya Song.

“Annyeong haseyo.” sapa wanita itu sambil membungkukkan sedikit badannya.

“Ah, annyeong.” balas nyonya Song. Wajahnya menyiratkan kalau dia kebingungan.

“Nyonya Song, saya eomma nya Hangeng. Kami ada perlu sesuatu dengan anda dan juga Hyegun.” ucapnya ramah.

“Hyegun? Ah, baiklah, silakan masuk.” ucap nyonya Song mempersilakan Hangeng serta eomma nya masuk.

Setelah mempersilakan Hangeng dan eomma nya masuk, nyonya Song memanggil Hyegun yang sedang berada di kamar. Merasa terkejut dengan tamu yang datang Hyegun menjadi gugup dan masuk ke ruang tamu dengan wajah tertunduk.

“Eomma, aku ingin pergi bersama Hyegun keluar sebentar. Tak apa kah bila eomma ku tinggal bersama nyonya Song sebentar?” tanya Hangeng.

“Ne, gwaenchana.” ucap wanita itu sambil tersenyum.

Dengan sedikit bahasa tubuh, Hangeng member kode pada Hyegun untuk berbincang di luar rumah.

Sesampai nya di taman dekat rumah Hyegun, Hangeng mulai membuka percakapan. Suasana nya saat ini cukup kaku bila mengingat pertemuan terakhir mereka.

“Hyegun-ssi. Aku sudah pernah mengatakan ini berkali-kali. Dan aku akan mengatakan ini terus sampai kau memberikan respon padaku.” ucap Hangeng sambil menatap dalam-dalam mata Hyegun.

“Apa maksudmu oppa?” tanya Hyegun sambil memalingkan wajahnya. Saat ini dia masih belum sanggup untuk menatap mata Hangeng secara langsung.

“Hyegun-ssi. Tatap aku. Jebal.” pinta Hangeng. Akhirnya Hyegun mau menatap Hangeng kembali.

“Hhh, Song Hyegun. Saranghaeyo. Nawa gyuhrhonhaejullae?” tanya Hangeng.

Hyegun hanya dapat membelalakkan matanya. Dia tak percaya apa yang di katakana Hangeng padanya.

“Mwo?” hanya kata itu yang dapat terlontar dari bibirnya.

“Aku tau kau mendengarnya Hyegun. Nawa gyuhrhonhaejullae?” tanya Hangeng sekali lagi.

Kali ini Hyegun benar-benar mendengar nya dengan baik. Matanya mulai memanas.

“Jangan permainkan aku oppa.” ucap Hyegun sambil menepis genggaman tangan Hangeng. Dia mencoba menahan bulir-bulir air mata yang sudah menggenang di kelopak matanya.

“Aku tak main-main Hyegun. Aku sungguh-sungguh. Aku ingin menikahimu.” ucap Hangeng meyakinkan.

“Tapi, kau tau wanita seperti apa aku ini.” ucap Hyegun memalingkan wajahnya. Kali ini, bulir air mata nya sudah tak bisa di bendung lagi.

“Ya, aku tau. Kau wanita yang baik. Apa yang terjadi padamu di masa lalu itu biarlah menjadi kesalahan di masa lalu. Tolong jawab aku. Apa kau mencintaiku?” tanya Hangeng penuh harap.

Hyegun terdiam. Air mata nya terus berjatuhan.

“Jawab aku Hyegun. Jebal.” pinta Hangeng.

“Nado saranghae oppa.” ucap Hyegun.

Seperti melepas beribu-ribu beban, Hangeng merasa sangat lega. Dia langsung memeluk Hyegun. Dan mengecup kening nya. Sementara itu Hyegun masih menangis.

“Hyegun, kali ini aku bertanya sekali lagi. Nawa gyuhrhonhaejullae?” tanya Hangeng perlahan.

“Ne oppa.” jawab Hyegun.

***

Beberapa bulan setelah itu, Hangeng dan Hyegun menikah. Walaupun Hyegun pernah melakukan kesalahan di masa lalu. Dia tak ingin melakukan kesalahan yang sama lagi untuk kedua kalinya. Dia merasa kalau Tuhan memang menakdirkan Hangeng untuk bersama nya. Begitu pula Hangeng.

It Takes Three

I can’t honestly say that I was looking for you

And I doubt that you were looking for me

But as God has planned it to happen

You and me and here we are

Two people not sure where we are going

But happy just to know that where it is

It’s God’s will and we’re going there together

I love you not as I want to

But as God wants me to

If you seek love on me alone

You will find nothing

But if you seek God’s love through me

You will find everything

Because it takes three . . .

To make a true and perfect love

God, you and me . . .

===============================================

halo halo saya kembali. haha.

ini FF inspirasi nya dr puisi It Takes Three. ada lah yg buat nya tp aku lupa nama nya siapa -.-

semoga suka ya 🙂

minta komen nya yaa~ *bow* 🙂

Advertisements

4 responses to “It Takes Three

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s