Sick Enough To Die [SONGFIC/1S/PG15]

Title : Sick Enough To Die (Inspired by same mv and lyric song)
Genre/Rating : Fluff-Angst?/ PG 15

OST :
~ MC Mong ft. Mellow – Sick Enough To Die,
~ 8Eight – Farewell is Coming,
~ 8Eight – Without a Heart

Disclamer: I don’t own any character of this fanfiction. They belongs to God and themselves. I don’t make money from this fanfiction, I made this just for fun, please don’t sue me. You can copy my fanfiction in anysites but please, give me full credit and not claim this as yours. Enjoy.

~Girl PoV~

I found the way to let you leave
I never really had it coming
I can’t believe the sight of you
I want you to stay away from my heart

Dreett… Dreett… Dreett…

Entah sudah berapa kali ponsel yang kuset dalam modus diam itu bergetar. Dan selalu saja menampilkan panggilan dari satu nomor yang sama. Nomor dari seseorang yang sedang kuhindari selama beberapa hari ini.

Aku tahu ini terlalu kejam untuknya. Tapi ini benar-benar keputusan yang paling baik untuk kami berdua. Hubungan ini sejak awal tidak boleh terjadi. Tapi entah kenapa aku terus mempertahankan hubungan tak berstatus kami hingga kini. Dan sekaranglah saat yang paling tepat untuk mengakhiri semuanya. Semoga ia bisa mengerti dan menerima semua kenyataan ini.

***

~Boy PoV~

Pick up my phone, hurry up
I’m dying because of the pain, you know
If I can’t see you, I feel like I could die

Please pick up the phone, Only for a minute
Try to listen to my words, just a while

Tuutt… Tuutt… Tuutt…

Aku terus meredial nomor ponselnya, namun hanya satu nada yang selalu kudengar sejak tadi. Entah sudah berapa kali kucoba menghubunginya, dan tak pernah sekalipun ia mengangkat panggilan dariku.

Apa benar semuanya harus berakhir seperti ini? Atau ini hanya salah satu dari sekian banyak lelucon seperti yang biasa ia buat untukku? Tidak ada satupun jawaban dari pertanyaanku bisa dijawab sebelum aku bertemu dengannya.

Aku lemah? Mungkin.
Aku bodoh? Entahlah.

Hanya satu yang pasti, rasa cintaku yang teramat besar padanya. Karena ia gadis pertama yang menyadari kehadiranku di tengah keramaian. Satu-satunya gadis yang bisa mengalihkan perhatianku, mengisi setiap lamunan kosongku. Dan entah sejak kapan ia menjadi cahaya dan arah hidupku.

FLASHBACK START

“Annyeong… Choi Kyungmin imnida.”

Itulah saat pertama aku mengenalnya. Suaranya yang cukup keras terdengar menggema di seluruh kelas siang itu. Dia adalah seorang murid baru di kelas kami. Aku dengar, ia sedikit terlambat masuk karena ayahnya masih ada kontrak dengan suatu agensi dan tidak bisa segera pergi dari Beijing. Yah, sebelum ia pindah ke Korea, ia sudah tinggal lama di Beijing bersama ayah dan juga kakak laki-lakinya.

“Hey big boy, tolong bantu aku.”

Aku ingat sekali saat pertama kali ia menyapaku.

“Hey, tolong bantu aku mengangkat tripod ini ke studio.” Pintanya.
“Kau bicara padaku?” tanyaku polos sambil menunjuk ke arah diriku sendiri.

Seraya mengembangkan senyumnya, ia pun mengangguk. “Tentu saja kau, memang ada orang lain di sini selain kita berdua?”

Akupun akhirnya tersadar bahwa di kelas ini, memang hanya ada aku dan dia. Saat itu aku sedang asyik memainkan kamera baruku hingga tidak sadar kalau kelas yang semula ramai telah sepi dan hanya menyisakan kami berdua. Aku yang tidak punya pilihan akhirnya menuruti permintaannya, membantunya mengangkat tripod sedangkan ia membawa sebuah tas besar pada sebelah tangannya.

“Sepertinya kita belum berkenalan.” Tegurnya di tengah perjalanan kami.
“Benarkah?”
“Kau terlalu asyik dengan kamera barumu. Hingga tak memperhatikan murid baru seperti aku.”
“Masa?”

Dia lantas mengangguk dan disusul sebuah senyuman manis tersungging dari sudut bibirnya.

“Aku kyungmin. Choi Kyungmin.” Ujarnya seraya mengulurkan tangan kanannya di hadapanku yang masih membawa tripod dengan kedua tanganku.

“Aku tahu siapa namamu. Tadi kau memperkenalkan diri cukup keras hingga suaramu terdengar di seluruh penjuru kelas.”

“Benarkah?” dia terlihat tersipu mendengar perkataanku. “Itu sudah sifatku sih. Jadi agak susah untuk dihilangkan.” Jawabnya sambil tersenyum kembali dan menarik tangannya karena aku tak menyambut uluran tangannya.

“Kau juga suka sekali tersenyum. Apa tulang rahangmu sangat elastis hingga mudah sekali tersenyum seperti itu?” tanyaku asal.
Diapun tertawa kecil. “Kata appa dan oppaku, sudah sejak kecil aku suka tersenyum. Bahkan saat baru lahir, seorang bayi biasanya langsung menangis, tapi aku malah tersenyum dan tertawa.” Jawabnya ringan dan sepertinya bangga sambil tersenyum, lagi.

Tidak berapa lama kamipun sampai di studio dan meletakkan barang bawaan kimi di tempatnya. Karena merasa urusanku telah selesai, akupun mulai beranjak dan berusaha meninggalkan ruangan itu. Namun langkahku terhenti saat tangannya menahan pundakku.

“Chakkaman…”
“Mwo?”
“Kau belum mengatakan siapa namamu.” Ujarnya polos, sambil tetap membiarkan senyuman menghiasi wajahnya.
“Im Seulong.” Jawabku singkat.

Senyuman di wajahnya kini semakin terlihat lebih lebar dari sebelumnya. “Terima kasih sudah membantuku.” Tukasnya seraya menjabat paksa tanganku yang sedari tadi berada di samping tubuhku. “Sampai jumpa lagi, ongie-ah.”

Diapun berlalu dari hadapanku dengan langkah ringan sambil sesekali menengok ke belakang dan mengumbar senyumnya lagi.

Dasar gadis aneh. Apa haknya memanggilku seperti itu? Ongie? Bahkan ornag terdekatku saja tidak pernah berani memanggilku seperti itu.

FLASHBACK END

***

~Kyungmin’s PoV~

Ini saatnya. Lebih baik aku pergi sekarang. “Selamat tinggal ongie.”

Aku tahu dia laki-laki yang baik. Namun ia terlalu baik untuk aku yang seperti ini. Ini bukan salahnya. Karena ia hanya berada di saat yang tidak tepat kala itu. Dan aku, dengan sengaja telah membuat perpisahan ini seakan-akan adalah kesalahannya.

Semuanya murni kesalahanku. Karena aku telah membiarkan semuanya terjadi begitu saja di antara kami. Membiarkan dia perlahan-lahan mencintaiku, walau pada akhirnya aku tahu, kalau aku tetap akan mencari berbagai jenis alasan untuk melakukan hal seperti ini padanya.

I hope you can meet a better woman, And forget about terrible me

Aku tak kuasa menahan airmataku saat menyentuh foto dirinya yang terpajang cukup besar di ruang tengahku. Sebaiknya aku meninggalkan sesuatu agar ia menyerah mengejarku.

“Selamat tinggal ongie. Lupakan aku dan lanjutkan hidupmu seperti dulu.”
Kyungmin

Kutorehkan kata-kata itu dengan spidol besar tepat di atas satu-satunya fotoku di rumah ini. Kubiarkan tulisan itu sengaja menutupi wajahku. Karena aku tak mau ia terus memandanginya saat tiba di sini nanti.

***

~Seulong’s PoV~

I’m on my way to the front of your house
Pick up my phone, hurry up
I’m dying because of the pain, you know
If I can’t see you, I feel like I could die

Aku tidak tahu seberapa jauh aku telah berlari sejak tadi. Akupun tak tahu sudah berapa lama aku terus berlari. Yang aku pikirkan sejak tadi adalah secepatnya tiba di rumahnya dan menahannya pergi. Aku harus menjelaskan semua kesalahpahaman ini. Karena aku tak tahu apa yang akan terjadi kalau ia benar-benar pergi dari hidupku.

FLASHBACK START

“Berhenti memotretku, kyungmin-ah.”
“Apa kau tak tahu, kalau wajahmu itu sangat photogenik? Sayang sekali kalau tidak diabadikan.”
“Apa bagusnya laki-laki berkacamata seperti ku?”
“Kau tidak tahu filosofi laki-laki berkacamata sih.”
“Memang kau tau apa tentang hal itu?”
“Menurut survey, 7 dari 10 gadis remaja, lebih suka laki-laki yang berkacamata lho. Dan aku termasuk dari 7 orang gadis itu.” Jawabnya ringan tetap dengan senyum andalannya.

Entah sejak kapan kami mulai dekat. Akupun tak pernah keberatan jika ia mulai mendekatiku. Padahal biasanya, aku termasuk orang yang sulit berkomunikasi dengan orang lain. Tapi dengannya, aku bisa dengan santai menjadi diriku sendiri, tanpa harus memaksakan diri untuk beradaptasi dengan lawan bicaraku.

Hingga tanpa kusadari mulai tumbuh perasaan nyaman yang tidak bisa kuungkapkan dengan kata-kata. Yah, aku mulai kehilangan dirinya saat ia tidak hadir di kelas. Atau berusaha menghubunginya saat aku tiba-tiba memikirkannya. Dia satu-satunya makhluk hidup yang hadir dalam setiap mimpi dan lamunanku selain kamera dan gadget lain yang selalu kuinginkan.

Aku jatuh cinta padanya. Entah sejak kapan. Pada gadis yang selalu tersenyum lembut pada siapapun. Dan aku merasa, ia lebih sering tersenyum saat bersamaku. Aku yakin kalau ia juga memiliki perasaan yang sama denganku.

FLASH BACK END

Terlambat. Aku telah kalah oleh waktu. Saat aku tiba di tempatnya, ia telah pergi. Dan hanya meninggalkan kata-kata yang tidak ingin kupercayai.

Bagaimana aku bisa kembali seperti dulu, kalau selama ini, dia telah mengubah cara hidupku secara tidak langsung. Aku bukan laki-laki yang sama dengan laki-laki yang membantunya membawa tripod ke studio. Aku yang sekarang terbentuk dari semua momen yang kami lewati bersama.

You’re breaking breaking my heart, but you don’t know
Are you laughing? Are you happy?
All the memories and let me

Aku harus mencarinya di manapun ia berada. Mungkin ia belum terlalu jauh dari tempat ini. Dan mungkin, saat kami bertemu nanti, Ia mengubah pikirannya dan memutuskan untuk bersamaku. Benar, aku harus mencarinya.

The silence that made me hurt and choke
Suddenly, the rain who took my tears away

Akupun berlari semampuku. Berusaha menyusuri setiap lorong di sekitar rumahnya. Berharap keajaiban datang dan mempertemukan kami lagi.

Just like a poison – all day long, suffering, but she’s gone.

Dia telah pergi. Kali ini, benar-benar pergi dari hidupku. Tidak ada lagi gadis manis yang selalu tersenyum lemut ke arahku. Tak ada lagi, gadis bersuara lantang yang selalu membangunkanku yang terkadang tidur di kelas. Gadis itu telah pergi. Gadis pertama yang kucintai itu telah menghilang dari hidupku. Lenyap karena kesalahan yang kuperbuat padanya.

Please help me to get out of this hellish place
If this is a dream, hurry, wake me up
Please say that everything were a lie
Please say it, say it to me, so that I could live

Kalau saja hal itu tidak pernah terjadi, ia pasti masih ada di sampingku saat ini. Kami pasti masih tetap bersama, saling bersenda gurau dan bercanda bersama.

FLASHBACK START

Sejak hari itu, hari di mana kami memulai proyek tugas kelompok kami berdua, kamipun semakin dekat. Tugas memotret yang seharusnya diisi dengan momen-momen tak terduga yang ada di alam ini, diisi dengan momen-momen saat kami bersama. Selama berhari-hari, kami terus mengerjakan tugas itu dengan penuh kesenangan, hingga tanpa kami sadari, kami terlalu larut dalam kesenangan itu dan tidak memikirkan dampak akan perbuatan yang telah kami lakukan selanjutnya.

Aku ingat tadi malam kami mampir ke sebuah pub bersama beberapa teman kami di kampus. Namun, aku tidak bisa mengingat kejadian yang terjadi selanjutnya, karena saat sadar keesokan harinya, aku sudah terbangun di suatu kamar asing dengan kyungmin yang masih terlelap di dalam pelukanku.

“Apa kami melakukannya?” tanyaku dalam hati.
Aku tak berani bergerak sedikitpun. Karena aku tidak mau membangunkan gadis yang sedang berada di dalam pelukanku ini. Aku berharap kejadian ini nyata, dan bukan salah satu dari sekian banyak mimpiku bersamanya.

Aku benar-benar tidak bisa mengingat apapun semalam. Tapi aku yakin kami telah melakukan hal itu, karena saat ini, kami hanya tertutup sebuah selimut dan semua pakaian yang kami kenakan semalam telah berserakan di lantai.

“Saranghae.”

Akhirnya kuberanikan diriku untuk mengecup perlahan puncak kepalanya. Dan tidak berapa lama kemudian, ia bereaksi akan tindakanku tadi. Diapun membuka matanya.

“Kepalaku pusing…. Di mana aku?” tanyanya perlahan.

Sepertinya ia belum sadar kalau aku sedang bersamanya, karena saat terbangun, ia hanya memegangi kepalanya sambil tertunduk. Hingga beberapa menit kemudian, ia sadar kalau ia tidak sendiri di kamar ini.

“Ongie? Kau? Apa yang terjadi?”
Aku tidak bisa menjawab pertanyaan yang diajukannya, karena aku sendiripun tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi semalam.

“Kenapa aku bisa tidur bersamamu? Dan kemana pakaian kita? Jangan bilang kalau kita….” Ia tidak melanjutkan pertanyaan yang terakhir saat melihat sekeliling kamar yang penuh dengan pakaian kami berdua.

“Mianhae…” suaraku terdengar kelu dan lemah. “Aku juga tak tahu apa yang terjadi semalam, tapi dengan melihat keadaan kita saat ini, kita berdua pasti tahu apa yang telah terjadi.” Lanjutku.

“Ini salah. Kita tidak boleh melakukan hal seperti ini. Kita berdua hanya berteman, jadi tidak mungkin ada hubungan yang seperti ini di antara kita. Kau jahat, ongie.”

“Mianhae, kyungmin-ah. Kau berhak marah padaku. Tapi aku tidak menyesal melakukan semua ini, karena aku mencintaimu.” Aku mencoba memeluk tubuhnya yang mulai bergetar menahan tangisnya.

“Tapi aku tidak, ongie. Aku hanya menganggapmu sebagai sahabatku, tidak lebih. Dan hubungan seperti ini antar sahabat, sudah terlalu jauh.”

“Perhatianmu sudah terlalu lebih dari sekedar sahabat, kyungmin-ah. Kau sebenarnya juga menyukaiku, hanya kau belum menyadarinya saja. Karena aku bisa merasakan perasaanmu selama beberapa bulan ini padaku.

Ia mulai beranjak dari tempat tidur dan mulai memunguti pakaiannya yang berantakan di lantai dengan tetap memutupi tubuhnya dengan selimut cadangan yang ada di atas kepala kami. Aku sendiri masih tertutup selimut utama, dan hanya terdiam sambil memandanginya melakukan semuanya.

Ia lalu beranjak menuju kamar mandi tanpa mengucapkan sepatah katapun padaku. Sedangkan aku, sambil menunggunya keluar, aku berinisiatif memakai kembali pakaianku.

“Hubungan kita berakhir saat ini juga ongie. Apapun itu. Hubungan yang bahkan kita sendiri tidak bisa mengelompokkannya. Hubungan ini sudah sangat jauh dari kata pertemanan ataupun persahatan, dan kalau dilanjutkan hanya akan membuat kita terluka. Lebih baik kita akhiri. Jangan pernah menemui atau menghubungiku lagi. Kita jalani hidup kita tanpa campur tangan masing-masing.” Jelasnya saat keluar dari kamar mandi.

Aku menghampiri dirinya yang sedang berusaha mengenakan sepatunya. “Kumohon, kyungmin. Pikirkan lagi keputusanmu. Selami perasaanmu, dan kau pasti akan temukan aku di dasar hatimu.” Kali ini aku mulai menggenggam paksa kedua tangannya yang sedang sibuk mengaitkan pengait di sepatunya.

Don’t say to me that this is the end
Even if it’s only a day, I can’t live without you

“Lepaskan aku, ongie.” Ujarnya sambil berusaha melepaskan tanganku.

“Katakan kalau kau sedang bercanda denganku, kyungmin? Katakan kalau saat ini, kau hanya sedang menguji perasaanku dan mencoba membuatku menyadari dan mengatakan perasaanku padamu.”

“Kau salah. Hubungan di antara kita berakhir sejak kau menyentuhku semalam. Dan aku serius saat mengatakan hubungan apapun yang ada di antara kita, kini sudah menghilang.”

Akupun memberanikan diriku untuk kembali merengkuh tubuhnya ke dalam pelukanku. “Aku mencintaimu, kyungmin. Tolong jangan lakukan ini padaku.”


Love is going, my love is leaving.
My one and only love. She has thrown me away.
No matter how much I shed tears, I keep doing it
Without realizing how embarrassing it is.

“Lepaskan aku, seulong-sshi.” Bentaknya cukup keras. Dan ini kali pertama ia memanggilku dengan panggilan hormat seperti itu. Tidak ada lagi senyuman di wajahnya kini. Aku hanya bisa melihat kekesalan dan matanya yang memerah karena terus menahan tangisnya sejak tadi.

FLASHBACK END

***

~ Beberapa tahun kemudian ~

Everyday and night I’m drunk
There;s no peace in my heart, even for a while
If time is a drug, why it’s not going away?

Ini sudah tahun ketiga semenjak kepergiannya, namun bayang-bayangnya tidak pernah hilang dalam pikiranku. Aku masih terus mencintai gadis yang pergi meninggalkanku karena kebodohan yang kuperbuat.

Yah, aku ingat semua yang terjadi malam itu. Rasa sakit akibat cakaran di punggungku adalah saksi perbuatan memalukanku pada satu-satunya gadis yang pernah kucintai seumur hidupku. Malam itu, kami sama-sama mabuk dan terpaksa menginap di hotel di dekat pub, karena tidak mungkin kami mengendarai mobil dalam keadaan seperti itu.

Dan kejadian itu terjadi begitu saja. Tidak tahu siapa yang memulai, kami berduapun larut dalam perbuatan yang seharusnya dilakukan atas dasar cinta itu. Dan kami, dengan mudahnya mengotorinya dengan alkohol dan nafsu sesaat.

If I force my self to love someone else, Will I live again?
I don’t want to you to leave, don’t leave me
I want you to back, want you back into my live
I’m going to wait for you until i die
Whatever you say to me, I’ll still wait for you

Aku benar-benar menyesal akan perbuatanku saat itu. Aku terus berusaha mencarinya, namun ia tidak pernah kutemukan. Tapi aku tak pernah berhenti mencarinya, dan salah satu cara ku untuk tetap aktif mencarinya adalah dengan mengadakan pameran foto di seluruh negeri. Aku sanagt berharap bisa menemukannya di salah satu tempat itu. Untuk menutupi jati diriku, aku selalu menggunakan nama samaran di setiap pameran yang kuadakan.

Mulai hari ini, pameran foto perdanaku di beberapa kota di luar negeri dimulai. Kota pertama yang kudatangi adalah Beijing. Kota yang pernah menjadi kampung halaman gadis yang kucintai itu. Siapa tahu ia telah pindah ke tempat ini, hingga aku tak bisa menemukannya di manapun di Korea.

Sudah hampir seminggu aku mengadakan pameran di kota ini, namun aku tidak juga menemukan sosoknya di antara para pengunjung. Hingga keesokan harinya, tepat pada hari kedelapan atau hari terakhir pameran, ada seseorang yang terdiam cukup lama memandangi master piece pada pameran ini tanpa beranjak sedikitpun.

“Kau menyukainya tuan?” sapaku pada laki-laki yang sedari tadi memandangi photo tersebut. Photo seorang gadis yang selalu ada di hatiku hingga saat ini. Sahabatku, cinta tak sampaiku, Choi Kyungmin.

Photo-photo ini kuambil saat kami mengerjakan proyek tugas bersama dulu. Pada awalnya, aku hanya menjadikannya sebagai koleksi pribadi karena aku mengambilnya diam-diam. Namun, editorku bilang kalau photo-photo itu karya yang cukup bagus. Akhirnya akupun menyetujui photo-photo itu menjadi master piece dalam tiap pameran photoku.

“Gadis di photo ini mirip sekali dengan seseorang yang ku kenal.” Ujar laki-laki itu.
“Kau yakin, tuan?” tanyaku penasaran.
Laki-laki itu pun mengangguk.”Sebentar, aku bisa menunjukkannya padamu.” Dia terlihat merogoh kantong celananya dan mengeluarkan dompet milkinya, lantas menunjukkan photo yang terdapat di sana padaku.

Di dalam photo itu, terlihat laki-laki tersebut sedang bergandengan tangan dengan seorang perempuan yang sangat mirip dengan kyungmin. Mereka terlihat sangat mesra dan penuh cinta.

Apa benar itu kyungmin? Aku tak berani menyimpulkan semuanya sebelum menanyakan kebenarannya pada laki-laki yang masih berada di hadapanku ini.

“Siapa gadis yang bersamamu ini, tuan?”
“Adikku.”
“Boleh aku bertemu dengannya?”
“Kebetulan dia juga akan datang ke pameran ini. Kami berjanji bertemu di tempat ini.”
“Baiklah, aku akan menemanimu menunggunya.”

Ini kesempatanku. Kalau benar adiknya adalah kyungmin, aku bisa menjelaskan semuanya dan memintanya kembali ke dalam hidupku. Walau dicap sebagai laki-laki bodoh yang suka mengemis cinta, aku tak perduli. Asal gadis yang kucintai itu bisa kembali dan mengakui perasaannya padaku, lalu membalas perasaan cintaku selama ini.

“Kau sudah lama menungguku, gege?”

Aku kenal suara ini. Suara yang tidak pernah kudengar langsung selama tiga tahun ini, namun selalu terdengar di setiap mimpi dan lamunanku.

Suara gadis yang kucintai.

Tapi sepertinya aku keliru. Gadis itu kini sedang asyik berciuman dengan laki-laki yang sejak tadi bersamaku. Aku tidak bisa melihat jelas wajahnya karena ia sedang membelakangiku.

“Aku rindu padamu.” Ujar laki-laki itu menyudahi ciumannya.
“Aku juga, gege.” Gadis itupun berbalik dan ikut menghadap ke arahku.

If I say that I’m in pain, I’m scared that I’ll really be in pain
If I say that I’m sad, I’m scared that I will shed my tears
Why don’t I just laugh, just laugh, just laugh…
But people ask me why I’m crying…

“Ongie…” hanya kata itu yang bisa kudengar dari gadis yang berada di hadapanku kini. Gadis yang sedang dirangkul dengan mesra oleh laki-laki yang tadi mengaku sebagai kakaknya.

“Kau kenal dengannya, kyungmin?” tanya laki-laki yang tampak heran itu.

***

~Kyungmin’s PoV~

Aku tak pernah menyangka akan bertemu dengannya lagi. Terlebih dalam keadaan seperti ini. Tapi inilah kenyataan yang sebenarnya. Aku tak pernah bisa mencintainya karena telah ada seseorang yang kucintai melebihi perasaan anehku padanya. Kakak tiriku. Han Geng.

“Bukankah kau bilang dia adikmu? Tapi kenapa kalian…” tanyanya heran.
“Dia memang adikku, adik tiri lebih tepatnya. Dan dia juga kekasihku.” Jelas gege padanya. Lalu mencium kilat pipiku.

Ia terlihat shock mendengar penjelasan dan melihat perbuatan gege barusan.

“Mianhae, ongie-ah.” Ujarku lirih.

***

~ Seulong’s PoV ~

Jadi ini alasan ia pergi dariku? Karena ia tidak pernah benar-benar mencintai seperti aku mencintainya. Dan selama ini aku yang telah salah mengartikan perhatiannya padaku. Aku yang terlalu percaya diri menganggap kalau dia juga mencintaiku. Dan pantas saja ia begitu marah karena perbuatanku padanya malam itu, karena ia merasa telah mengkhianati kekasihnya dengan melakukan perbuatan denganku. Ini alasan utama ia pergi tanpa sepatah katapun padaku. Karena ia mencintai orang lain, dan itu kakak nya sendiri.

Aku benar-benar laki-laki terbodoh yang pernah ada di dunia ini. Untuk apa aku menunggu jika akhirnya seperti ini? Untuk apa aku terus memikirkan perempuan yang bahkan tak pernah sedikitpun memikirkan diriku. Dan untuk apa pameran photo yang kuadakan untuknya ini? Semuanya sia-sia. Semuanya tak berguna.

Kisahku kandas sebelum bisa dimulai. Kebahagiaan yang kuimpikan bersamanya lenyap seketika. Penantianku selama ini hanyalah sebuah penantian kosong. Bagai bermimpi mendekati matahari, namun sebelum sampai ke dalam orbitnya, aku telah terlebih dahulu terbakar oleh panasnya.

Im Seulong Pabo.

THE END

***

Cast: Im Seulong as himself, Hangeng as himself, eghachan (author) as kyungmin

FF ini pernah dipublish di FB saya….
Jangan lupa komen kalo dah baca yah…. kalo suka juga boleh di like…
Kamsahamnida….

Advertisements

13 responses to “Sick Enough To Die [SONGFIC/1S/PG15]

    • makasih yah udah baca….
      coba sambil dengerin lagunya juga… pasti dapet banget feel-nya….

  1. wih.. horror…
    ternyata seulong udah sampe melakukan itu ya sama kyungmin… O.o
    kasian juga sih seulong…
    cinta tak sampai..
    sedih rasanya… T.T
    ff yg menyentuh banget onni…. =)

    • hohoho… iya karena mabuk… T_T
      sengaja dibikin agak menderita di sini dia….
      di ff-ku yang lain selalu jadi pahlawan mulu…

      btw, thx udah mau baca….

    • makasih udah baca…..
      Tapi ini bukan prolog lho… udah ceritanya….
      mungkin maksud kamu gaya penceritaannya….

  2. Uah akhr.y onni ngepublish ff lg..dlw aku ska bgt loh bca ff onn,tp wkt i2 msih jdi silent reader jdi ga prnh komen,tp skrg udh tobat dunk pzti.y..hehehe

    kcian bgt seulong,pdahal udh buang wkt bwat mnemukn kyungmin,tp eh gliran dah ktemu trnyta kyungmin dah punya pcar..
    pzti skit bgt tuh rasa.y…ckckck

    hiks..hiks..jdi sdih bca ni songfic..

    nice songfic,onnie..d tnggu krya2 laen.y..^^

    • aigoo… ternyata ada yang kangenin…
      *terharu* — *lemparin key*

      hohoho… baguslah kalau udah tobat…
      ff ini emang agak sedih, karena lagunya emang sedih….
      udah baca yang evein if blm???
      ini mau dipost lanjutannya…. dah lama banget kaga update…
      kekekeke….

  3. uhhhhh…
    tercabik cabik hatiku klo jadi seulong mah…
    sakitttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttt…

    tapi salah dia juga lah..
    nepsong gitu….
    wkkekekkekek
    yg ini g nyata kan unn??

    • tapi kan masalahnya bukan dari kejadian itu…
      si kyungmin-nya aja yang udah punya cowo duluan, makanya ongie ditinggalin….

  4. Kasian Seulong.. Udah nyariin selama 3 tahun.. Ternyata Kyungmin udah ada cowok lain ya..
    Bagus banget FFnya, onni. Terharu bacanya.. =’)
    Paling suka terakhirnya deh: Bagai bermimpi mendekati matahari, namun sebelum sampai ke dalam orbitnya, aku telah terlebih dahulu terbakar oleh panasnya. Wuo, kena banget artinya. Keren banget, onni =D

    • @heegi: makasih yah udah baca….
      kata2 terakhirnya itu gag atau dapet wangsit darimana… tapi kan bener banget gitu perasaannya seulong…

  5. bagusssssssss….
    tapi gimana y??
    q gak suka cinta tak sampai, agagaggaga
    pa lagi sick enough to die to keliatanya pasangan yg saling menyukai satu sama lain, hehehhe
    tp bagus kok, ^o^v

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s