MYSTERY 5 (Ending)


Rating : G

Genre: Mistery

Main cast (pairing cast):

Yesung- Heerin

Donghae- Geulrin

Siwon- Minyoung

Kibum-Richan

Kyuhyun-Minhyo

SUPER JUNIOR


Annyeonghaseo ^^

Ini adalah Preview chapt —> chapt.1 chapt.2 chapt.3 chapt.4

Banyak banget imajinasi yang berkembang dan perubahan sewaktu menggarap ni ending, jadi mohon dimaklumi jika agak gaje? Hehe

Gak usah berlama-lama lagi deh.

Selamat membaca~

preview story#

Author poV-

Minyoung dan Richan masih berlari mengejar sebuah bayangan tepat di depan mereka. Walaupun akar-akar pohon dan bebatuan dalam hutan sedikit menghalangi laju mereka, apalagi cahaya lampu center yang semakin lemah membuat jalan yang mereka lalui tak begitu terlihat. Namun mereka berdua tak menyerah untuk menerobos masuk ke dalam hutan.

“Kemana perginya?” tanya Minyoung pada Richan karena tiba-tiba saja bayangan itu hilang diantara pohon-pohon yang menjulang tinggi.

Padahal baru saja mereka akan menemukannya, Ia berada tepat di hadapan mereka berdua. Namun, tiba-tiba saja sosoknya hilang tanpa jejak.

Tanpa mereka sadari, ada langkah kaki orang yang mendekati mereka, lalu menyorotkan seberkas cahaya ke arah Minyoung dan Richan.

“Apa yang kalian lakukan disini?” tanya dua orang yang ternyata adalah Siwon dan Kibum secara bersamaan. *dari kemarin samaan muluk? Ckck*

“Chagiyaa~ Apa yang kalian lakukan disini?” Sontak Minyoung dan Richan pun kaget dan balik bertanya sebab kedatangan suami mereka secara tiba-tiba.

“Kami berdua menyadari jika kalian tidak ada di sebelah kami. Jadi aku dan Kibum pergi bersama kalian” Siwon menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya.

“Kalian belum menjawab pertanyaan kami. Kalian berdua sedang apa disini?” kali ini giliran Kibum yang bertanya pada Minyoung dan Richan.

“Aduh! Mau alasan apa kita?” Minyoung berbisik pada Richan.

“Menghirup udara segar?” usul Richan.

“Babbo! Itu alasan yang tidak masuk akal, tau!” Minyoung menyikut lengan Richan, hingga membuatnya mengernyit kesakitan.

“Hmm.. Sebenarnya tadi kami sedang memberi makan ikan-ikanku dan Yesung oppa, lalu karena mendengar suara aneh dari sini, Kami berdua berlari dan tersesat” Minyoung langsung menginjak kaki Richan karena mengutarakan alasan yang sedikit sulit untuk dicerna pada Siwon dan Kibum.

Tapi anehnya, Siwon dan Kibum mengangguk pertanda bisa menerima alasan itu.

*Siwon, Kibum babbo bener ya? (o.o)

Mereka berempat pun meninggalkan hutan yang cukup gelap itu. Meskipun memahami alasan Richan yang tidak masuk akal, Kibum dan Siwon tetap melarang mereka untuk berkeluyuran sendiri malam-malam.

Kepergian mereka membuat suara geraman dari seseorang yang sebenarnya tak mengharapkan kedatangan Siwon dan Kibum…

-Keesokan harinya-

“Hyung, kita pergi berburu lagi pagi ini?” Tanya Kangin begitu bersemangat pada Leeteuk.

Karena jembatan penghubung antara Gangnam dan desa lain belum selesai diperbaiki, mereka berdelapan belas terpaksa tak bisa pulang ke Seoul. Hingga, mereka sendiripun harus menikmati hidup di Gangnam selama beberapa waktu.

“Tentu saca Kang!” *maksudnya Kangin* Leeteuk tersenyum pada Kangin yang dibalas senyuman juga *KangTeuk beraksi :D*

“Tapi kau harus berjanji pada kami untuk tidak melepas setiap kelinci yang kita dapat, oke hyung?” Ujar Shindong pada Leeteuk sambil mengasah senjata yang akan mereka bertiga gunakan untuk berburu. Sebuah ketapel kuno pemberian kakek buyut Shindong.

“Ne ne ne” Leeteuk manggut-manggut mencoba menyenangkan Shindong dan Kangin.

Selama Shindong, Kangin dan Leeteuk berburu, Siwon Kibum dan Yesung pergi memancing. Sedangkan Ryeowook pergi ke pasar untuk berbelanja, kali ini ia bersama Eunhyuk dan Sungmin.

Sementara itu Heechul, Hangeng, Donghae, dan Kyuhyun diperintahkan untuk menjaga vila dan 5 yeoja yang berada disana. Seperti yang pernah kuceritakan, semenjak keadaan di vila semakin memburuk, semua yeoja dilarang pergi keluar vila.

Hari itu masih pagi, udara segar khas pedesaan masih tercium segar di Gangnam dan vila tempat mereka menginap.

Burung-burung masih senang bersiul bersahutan, matahari tersenyum ramah menyambut aktivitas penduduk yang sebagian besar bermata pencaharian dari hasil-hasil alam di Gangnam.

“Hangeng oppa harus mengajariku membuat nasi goreng china andalanmu!” Pinta Minyoung pada Hangeng sambil menarik-narik bajunya, layaknya seorang anak kecil yang meminta permen pada ibunya.

“Baik baik!” Hangeng mengangguk setuju pada Minyoung. Hangeng bersikap baik padanya, seperti ia bersikap pada Siwon.

Sementara Heechul yang daritadi mengikuti mereka berdua ke dapur, hanya bisa menahan rasa cemburu. *poor Heenim 😀 *

Entah bagaimana, waktu berjalan begitu cepat di Gangnam. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang. Keadaan vila tidak begitu ramai seperti biasa karena 9 member belum kembali. Kyuhyun yang sedang asyik dengan PSP miliknya, terpaksa harus naik turun atap vila untuk menjemur baterai PSP yang mulai habis *laskar pelangi banget*

Donghae masih berkutat dengan bantal dan guling miliknya karena masih tertidur pulas di kamarnya.

-Kolam belakang vila-

Richan poV-

Aku memberi makan ikan-ikan peliharaanku dan Yesung oppa yang mulai semakin berkurang. Seekor ikan mati hampir setiap hari. Dan hampir setiap hari pula, aku dan Yesung oppa menggali lubang untuk memberi penghormatan pada setiap ekor ikan yang mati. Mereka berhak dihormati dan disayangi juga kan? Aku tak mau semakin banyak ikan di kolam ini mati, jadi aku harus rajin memberi makan mereka.

10 menit sudah aku menebarkan bibit-bibit makanan ikan, berharap mereka akan bertambah gemuk dan bertelur banyak 😀

Siang hari di kota Gangnam, tidaklah sepanas di Seoul ataupun Jakarta.. Bahkan jika boleh aku bilang siang disini adalah sore di musim dingin.

Matahari tidak terlalu terik menerpaku, meskipun aku berada di luar ruangan.

Kadang aku lebih suka melihat ikan-ikan berenang daripada harus melakukan sebuah pekerjaan yang menyenangkan sekalipun.

Vila masih saja sepi, padahal hari semakin siang. Aku melihat jam tanganku, 12.00! Cepat sekali waktu berjalan!

Karena bingung tak tahu apa yang harus kulakukan, aku memutuskan untuk duduk di sebuah batu besar di sebelah kolam. Aku memejamkan mata dan menyendenkan punggungku pada sebuah pohon tepat di belakangku. Bisa kurasakan sinar matahari yang hangat menembus kulitku, aku memandang sekelilingku dan mencoba mengingat kejadian di masa lalu yang membuatku masih bisa merasakan sinar matahari.

Mungkin kau sudah mendengar cerita dari teman-temanku bagaimana awal pertemuan mereka dengan namjanya. Tapi berbeda denganku, aku tidak akan menceritakan awal pertemuanku dengan Kibum, karena kurasa memang tak ada yang spesial..

Hari ini tanggal 14 Agustus. Aku memiliki kenangan yang buruk tepat di tanggal ini. Aku sendiri masih bertanya-tanya bagaimana bisa aku bertahan dalam kondisi seperti itu. Kupejamkan kedua mataku dan membiarkan pikiranku terhanyut pada kejadian 6 tahun yang lalu…

@Flashback@@@@

-Richan poV-

“Kau berjanji akan kembali sebelum hari ulang tahunku?”

“Ne, aku janji chagiya~” Aku mengantarkannya pergi berkemah dan mendaki selama beberapa hari. Ia adalah seseorang yang  amat kusayangi, my first love, my first namja.

Entah kenapa aku merasa berat melepas kepergiannya untuk mengikuti kegiatan Pecinta Alam yang diadakan sekolahnya itu. Aku memiliki firasat buruk yang aku sendiripun tak tahu apa.

“Ah sudahlah! Aku tak boleh berpikir aneh-aneh! Dia pasti kembali, dia sudah berjanji” Bantahku pada diri sendiri untuk menghilangkan pikiran negatif yang muncul.

5 hari sudah ia pergi mendaki. Ia bilang kegiatan akan selesai selama empat hari. Jadi besok dia akan datang!

Ah senang sekali, aku tak sabar menantinya pulang. Menit ke menit, dari jam ke jam aku menanti hari esok. Aku akan menyambut kepulangannya dengan kue kesukaannya.

DRRT DRRT..

Handphoneku bergetar, kulihat nomer dan nama yang sudah tak asing lagi.

“Yobosseyo appa?”

“Richan.a~ besok adalah seminggu sebelum hari ulang tahunmu, benar? Appa akan pulang ke Seoul besok sore”

“Mwo? Benarkah appa? Ah gomawoyo~ aku menunggumu appa!”

“Haha, kau harus memasakkan banyak makanan untuk appamu, arasseo?

Sudah dulu ya, appa harus meeting dengan beberapa klien. Annyeong~”

“Annyeong~ jangan lupa makan siang!” Aku menutup slide handphoneku dengan begitu bersemangat. Appa dan namjaku akan pulang besok! Hmm.. Aku harus segera mempersiapkan semua makanan.

Siang ini, aku memasak banyak makanan untuk menyambut kedatangan mereka, sehingga besok aku hanya tinggal menghangatkan semua makanannya.

Setelah cukup lelah memasak dan membersihkan rumah, aku langsung tergeletak di tempat tidur. Malam ini aku pasti tidur dengan nyenyak.

13 Agustus 2003

Aku membuka mata dengan malas karena cukup kelelahan setelah membersihkan rumah kemarin. Kelopak mataku terasa begitu berat dibuka, sebelum aku memaksanya. Kuambil jam beker di meja sebelah tempat tidurku, 06.00

“Baiklah aku akan mandi dulu, lalu baru berangkat ke sekolahnya untuk menyambut kedatangannya” dengan segera, aku bangun dari tempat tidurku menuju ke kamar mandi.

To: Park Heerin

Heerin.ah kau temani aku menjemputnya ya?

DRRT.. DRRT..

Ne Richan.ah~

From: Park Heerin

Kubuka lemari, untuk melihat pakaian apa yang kiranya akan kukenakan. Mataku berhenti di sebuah syal panjang bewarna putih. Syal yang hangat pemberian darinya.

Kuikatkan syal panjang itu di leherku dan bergegas pergi ke garasi.

Aku mengendarai mobilku dengan santai menuju rumah Heerin yang tidak terlalu jauh dari rumahku.

Walaupun masih 15 tahun, aku sudah mendapatkan SIM ku sendiri. Semua berkat appa tercintaku! Sejak kecil, aku harus membiasakan hidup mandiri setelah eommaku meninggal 2 bulan setelah aku lahir. Appa lebih banyak menghabiskan waktu di China untuk urusan bisnis, jadi selama ini aku sendirian di Seoul.

Hari ini cuacanya cukup buruk, salju yang lebat sudah terlihat di pagi hari. Musim dingin tiba di Seoul. Aku merasakan udara yang semakin dingin, membuatku merapatkan sweater dan syalku.

TINN TINN

Kubunyikan klakson mobilku, setelah sampai di depan rumah Heerin. Dan seperti perjanjian kami sebelumnya, ia sedang menungguku di depan rumahnya.

Dengan segera kubuka pintu mobil, setelah melihatnya sedikit menggigil diluar.

“Musim dingin di bulan Agustus” Heerin masuk ke jok sebelah mobilku sambil merapatkan topinya.

Aku menyalakan penghangat mobil untuk membuat badan kami lebih hangat. Karena jalanan dipenuhi salju, laju mobilku lebih lambat dari sebelumnya.

15 menit berlalu, kami berdua telah sampai di sekolah namjaku. Kulihat banyak pula keluarga yang menunggu kepulangan mereka. Mungkin mereka sama tak sabarnya denganku.

Kumatikan mesin mobil dan pergi ke aula, tempat dimana semua keluarga juga menunggu kepulangan anak-anaknya.

“Aku akan membeli kopi untuk kita berdua ya?” Heerin berpamitan meninggalkanku sendirian. Aku mengangguk dan berterima kasih padanya.

Sekarang aku duduk di sebuah kursi diantara puluhan orang yang sedang menunggu juga.

Aku tersenyum membayangkan kedatangannya, ia berjanji padaku untuk memberikan sebuah oleh-oleh dari hutan. Aku hanya bisa tertawa kecil mengingat perkataannya, memang di hutan ada apanya? Jangan-jangan nanti dia akan membawakanku dedaunan!

Sudah dua jam lebih aku dan Heerin duduk menunggu. Lama sekali! Padahal rencananya, mereka akan pulang pukul 07.30, ini sudah jam 10.00 ! Apa sebenarnya yang terjadi hingga membuat mereka terlambat?

Sebenarnya aku bukan orang yang suka menunggu, tapi aku benar-benar ingin menyambut kedatangannya.

Kudengar banyak orang yang mengeluh kesal karena sudah 4 jam lebih mereka menunggu. Tetapi tidak ada juga suara bis yang kunjung datang. Pihak sekolah masih terus meminta maaf dan memohon kesabaran dari pihak keluarga.

Aku tidak bisa banyak mengeluh, karena bagiku tidak ada gunanya. Masih tetap duduk tenang di kursiku, terus melihat arah jarum jam di tanganku, memandangi orang-orang yang semakin ramai dan marah. Sementara Heerin tertidur pulas di pundakku. Aku jadi tidak enak mengajaknya, ia menjadi kelelahan sekarang.

Seperempat hari sudah kami menunggu kedatangan bis mereka, tapi tak ada tanda-tanda kedatangan mereka. Aku mencoba untuk tenang,walaupun hatiku bergejolak khawatir dan begitu cemas.

Akhirnya, bis yang kami tunggu datang. Saat itu juga, Heerin terbangun dari tidurnya.

Aku beranjak dari tempat dudukku, melihat satu persatu siswa yang turun dari bis dengan seksama. Tapi setelah orang terakhir yang turun dari bis bukanlah dia, aku langsung berlari ke arah bis dan mencarinya di dalam.

Aku berjalan masuk ke dalam bis, berkali-kali aku mencari , namun dia tak kutemukan. Aku mulai merasa cemas dan khawatir, hingga seorang guru pembina  berdiri lalu mengambil mikrofon.

Aku turun dari bis, bermaksud kembali ke aula.

“Perhatian! Sebelumnya, kami meminta maaf yang sebesar-besarnya.. Selama pendakian berlangsung, tepatnya sehari setelah kami berkemah 5 orang siswa dinyatakan hilang dari kelompok. Selama 4 hari lebih, hingga tadi pagi, tim SAR dan sekolah terus mencari mereka. Namun, hasilnya nihil. Maka dari itu, mereka resmi dinyatakan meninggal. Meskipun kami belum menemukan jenazahnya.”

Guru pembina itu membuatku kaget setengah mati. Diantara kelima nama yang ia sebutkan, sebuah nama yang tak asing di telingaku juga termasuk seorang diantara 5 orang yang dinyatakan meninggal.

Aku terpaku masih tidak percaya.

“kau sudah berjanji padaku!” Aku terus saja mengelak tak percaya. Aku tak percaya dia sudah meninggalkanku! Kucubit tanganku dengan keras, berharap jika ini adalah mimpi buruk.

Tapi ini bukan mimpi! Sama sekali bukan mimpi!

Lutut dan kakiku terkulai lemas, aku terjatuh di tempatku berdiri, pandanganku kosong. Namun aku masih bisa mendengar suara tangisan dari beberapa ajjuma yang juga tidak mempercayai berita ini. Aku memang tak  menangis, tapi ini cukup membuatku tak bisa tersenyum untuk waktu yang lama.

DRRT.. DRRT.. DRRT..

Suara handphoneku terus bergetar menandakan sebuah telepon. Dalam posisi yang masih berlutut, kuambil handphone dari kantung celanaku.

Aku tidak berkata apapun sebelum suara dari seberang telepon menyentakku.

“Apakah anda nona Ahn Richan? Putri dari tuan Han?”

“Ne, waeyo?”

“Ayah anda termasuk 5 korban meninggal dalam kecelakaan pesawat Korean airlanes karena cuaca yang buruk”

PLETAKK

Handphoneku terjatuh dan hancur. Sama seperti semua yang kurasakan sekarang…

14 Agustus 2003

Heerin poV-

Hari ini adalah hari pemakaman tuan Han, ayah dari sahabatku, Richan.

Aku berada tepat di sampingnya sekarang, menemaninya menaburkan bunga di makam ayahnya yang meninggal sehari lalu.

Tak kulihat sedikitpun, air mata Richan yang jatuh. Tapi hal itu yang kukhawatirkan, ia sama sekali tak menangis. Aku melihatnya memeluk nisan ayahnya yang dimakamkan tepat di sebelah makam ibunya. Kurasakan air mata jatuh membasahi pipiku, kesedihan yang Richan rasakan sekarang sungguh menusuk hatiku. Wajahnya yang tulus dan muram membuat hatiku semakin sakit. Ia kehilangan dua orang yang ia sayangi dalam waktu yang bersamaan. Aku sempat berpikir jika Tuhan sungguh kejam sekali padanya.

Pemakaman sudah setengah jam lalu berakhir, semua kerabat dan teman-teman juga sudah pergi meninggalkan kami. Tapi aku meminta ijin pada appa dan eommaku untuk menemaninya selama beberapa hari. Karena sekarang hanya aku yang ia miliki.

Air mataku terus mengucur melihatnya terus memeluk makam appanya. Kepalanya bersandar di batu nisan itu. Ingin sekali aku menggantikan posisinya sekarang. Berat sekali beban yang ia panggul sendirian.

Kedua mataku terus memandanginya yang tertidur di sebelah makam appanya. Kulihat kantung mata dibawah kedua matanya yang kecil, ia pasti sangat kelelahan. Aku memegangi dadaku yang sesak ketika melihat keadaannya sekarang.

Sudah beberapa jam aku membiarkannya tertidur karena tak tega membangunkannya. Hari sudah semakin larut, pemakaman juga sudah sepi.

Kuhapus air mata yang daritadi mengucur deras dari mataku dan membangunkannya bermaksud untuk mengajaknya pulang. Ia sempat menolak, sebelum aku berhasil membujuknya.

Kami berjalan menuju mobil, sudah jam 7 malam. Tak baik jika ia terlalu lama disini.

Seorang supir appaku sengaja disuruh untuk mengantar kami pulang.

Dengan segera aku dan Richan masuk ke dalam mobil.

Selama perjalanan pulang, aku terus menatapnya yang masih diam dan memandang keluar jendela.

Aku mengelus rambutnya mencoba menenangkannya, walaupun aku tahu itu tidak akan banyak berhasil. Pandangannya masih kosong, ia sama sekali tak berbicara satu katapun.

Aku memang tak bisa merasakan kehilangan yang ia rasakan sekarang. Tapi aku kehilangan senyumnya, dan wajah riangnya. Entah sampai kapan dia akan begini…

Perhatianku tiba-tiba saja terpecah saat sebuah truk dari arah berlawanan melaju kencang seakan ingin menabrak mobil kami.

Author poV-

Supir Heerin mencoba menghindari tabrakan yang terjadi dengan membanting setir ke arah kiri.

Mobil mereka memang tak jadi menabrak truk tadi. Namun karena mobil yang melaju kencang dan tiba-tiba berbalik arah membuat keseimbangan mobil tak terkendali, hingga sempat berputar untuk kemudian menabrak trotoar pinggir jalan.

DUARRR

Benturan keras antara dengan trotoar membuat mobil terjatuh ke arah kiri. Heerin, Richan dan supir itu terpental jauh dari mobil.

Heerin poV-

Aku berusaha terbangun dari tempatku sekarang. Sungguh sangat berat sekali rasanya. Kepalaku terasa sangat pusing sampai aku merasakan darah segar mengucur dari atas. Kepala dan tanganku berlumuran darah sekarang. Bahkan bisa kurasakan  tangan kiriku tidak bisa digerakkan. Aku yakin tulang tanganku patah. Tapi aku tetap berusaha untuk berdiri dan mencari Richan dengan sisa tenaga yang kupunya.

Tak jauh dari tempatku berjalan, aku melihat seseorang tergeletak berlumuran darah.

“Richan.a~ kau bisa mendengarku?” aku langsung terduduk di sampingnya memegangi tangannya. Keadaannya lebih parah dariku, darah lebih banyak mengucur dari kepalanya. Kaki dan tangannya pun patah serta robek.

“appa, eomma, chagiya aku datang menyusul kalian” kudengar kata-kata itu lirih terucap dari bibirnya.

“kau tidak boleh berkata seperti itu! Aku ada di sampingmu sekarang.. Dan aku tak akan membiarkanmu mati! Kau akan hidup!” Aku berteriak dan menangis di hadapannya sambil terus memegangi tangannya.

Ia sempat tersenyum padaku untuk kemudian menutup matanya.

Aku sendiri sudah tak kuat untuk bangun. Kurasakan badanku jatuh di sebelahnya…

1 bulan kemudian-

“Richan.ah~ kau harus bangun! Kau tega sekali membuatku terus menangis!” Aku memegangi tangannya yang masih dipenuhi dengan selang dan infus.

Sebulan setelah kecelakaan yang menimpa kami pada tanggal 14 Agustus lalu, Richan masih terus koma dan tidak sadarkan diri.

Aku melihat wajah pucatnya yang masih terus tertidur.

Selama sebulan ini aku tak pernah meninggalkannya dan terus menjaganya disaat ia bangun nanti, aku akan membuatkan kue ulang tahun untuknya.

Setiap malam aku menemaninya dan tidur di sebelahnya. Terkadang aku menyanyikan sebuah lagu untuknya. Ia pernah bilang padaku jika suaraku indah, dan ingin terus mendengarnya. Tak lupa, aku berdoa pada Tuhan agar ia segera sadar. Sudah ribuan air jatuh dari mataku…

Sebulan setelahnya, dokter memberi berita baik bahwa ia sudah sadar.

Sepulang sekolah aku langsung pergi ke rumah sakit menjenguknya dan membawakan kue yang telah kujanjikan.

Setibanya aku di kamarnya, ia sudah tak ada disana. Setelah aku bertanya pada perawat, ternyata ia sedang berada di taman belakang.

Secara perlahan aku berjalan ke arahnya. Ia sedang duduk di kursi roda sambil memegang infusnya.

Aku menghampirinya, lalu menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuknya

“Saengil chukkae Richan.a~” kubuka kue yang kubawa.

Ia melihatku sekilas dan tersenyum. Senyum yang 2 bulan lamanya hilang.

Ia terus menatap lurus ke depan, “Heerin.a~ kau mau berjanji padaku kan? Berjanjilah kau tidak akan pergi meninggalkanku, berjanjilah kau akan terus berada di sampingku!” kata-kata itu keluar dari mulut Richan yang membuatku kembali mengucurkan air mataku. “Aku berjanji Richan-ssi” kupeluk tubuhnya erat, aku merindukan saat-saat seperti ini dengannya.

Ia mengelus pundakku dan berkata “kau juga harus berjanji tidak akan menangis lagi untukku” Aku semakin memeluknya erat. Sahabatku telah kembali…

@@@@@@

Richan poV-

kejadian itu adalah hal  buruk yang tak pernah bisa kulupakan. Aku kehilangan semuanya di 14 Agustus.

Aku bangun dari tempatku duduk, berjongkok di depan kolam ikan. Kurasakan air mataku jatuh ke kolam. Pipiku basah dipenuhi air mata.

Tiba-tiba saja seseorang datang ke arahku.

“Richan.a~ sudah kuduga pasti kau akan menangis lagi. Ini sudah 6 tahun berlalu, tapi kau selalu saja menangis di 14 Agustus” Suara Heerin mengagetkanku, dengan segera aku menghapus air mata yang membasahi pipiku.

Aku berdiri dan tersenyum padanya,

jika saja ia tak ada di sampingku, mungkin aku sudah menjadi mayat hidup sekarang.

“Kau berjanji kan tidak akan meninggalkanku?” Aku kembali bertanya padanya. Pertanyaan sama yang selalu kuajukan setiap 14 Agustus.

Ia tersenyum padaku,

“walaupun 50 tahun lagi kau bertanya hal ini padaku, jawabanku tetap sama. Aku berjanji Richan.a~” Ia memelukku hangat dan kubalas pelukannya. Kurasakan bajuku basah. Ah.. Dia pasti menangis lagi !

Author poV-

Ryeowook, Eunhyuk, dan Sungmin telah kembali dari pasar.

Mereka bertigapun + Hangeng, Minyoung, dan Heechul memasak makanan di dapur untuk makan malam.

Tak terasa hari sudah sore di Gangnam. Desa sudah semakin gelap dan dingin.

Minhyo dan Geulrin sedang merapikan dan membersihkan ruang tamu bersama.

“Geulrin.a~ sebelah situ belum bersih! Cepat bersihkan lagi!” perintah Minhyo pada Geulrin. Sedangkan Geulrin hanya mengeluh dan mengomel.

“Onnie ini sama cerewetnya seperti Kyuhyun oppa” Geulrin berbisik lirih sambil terus mengelap jendela kaca yang berdebu.

“kau bilang apa tadi?”

“Gwenchana onnie”

Selama mereka terus membersihkan ruangan itu. Sesuatu sedang memperhatikan keduanya.

GLODAK GLODAK

“Suara apa itu onnie?” tanya Geulrin kaget, begitu juga Minhyo. Tapi mereka terus melanjutkan pekerjaan masing-masing. Walaupun ada sedikit perasaan takut yang mereka rasakan.

Sementara Minhyo menata ruangan yang cukup berantakan. Geulrin masih berkutat dengan jendela kaca yang cukup besar. Jendela itu langsung menembus ke arah halaman depan vila yang semakin gelap. Matahari sudah kian tenggelam bersama larutnya malam.

Saat Geulrin sedang asyik mengelap sudut-sudut jendela tiba-tiba sekelebat bayangan muncul di hadapannya.

Karena kaget ia langsung berteriak dan berlari keluar. Minhyo yang juga ikut terkejut langsung menghampiri Geulrin menuju ruang keluarga.

“Kau sudah tidak apa-apa kan? Minumlah ini dulu” Siwon memberikan segelas air putih pada Geulrin yang terlihat masih shock.

“Geulrin.a~ aku benar-benar namja yang tidak berguna” Donghae menyalahkan dirinya sendiri karena merasa tidak bisa menjaga yeoja chingunya.

“ini semua salahku yang mengajaknya membersihkan ruang tamu.” Kali ini Minhyo ikut menyalahkan dirinya. “sudahlah, ini semua bukan salah siapa-siapa.” Eunhyuk berkata bijaksana *tumben nih anak bijaksana*

“Eunhyuk.ssi benar, kita harus lebih waspada” Kibum menyetujui perkataan Eunhyuk. Semua orangpun mengangguk pertanda setuju.

Donghae dan Minhyo masih berusaha menenangkan Geulrin,

sebelum Ryeowook dan Hangeng datang membawa berbagai makanan hasil masakkan.

Seketika itu juga Geulrin langsung bersemangat kembali.

Ruangan keluarga yang berisi 18 orang itu pun kembali ramai oleh kekonyolan Shindong, Heechul, maupun Eunhyuk.

*bayangin aja meja segede apaan buat 18 orang :D*

“mmm pasti tuh hantu cowok deh! Perasaan mesti ganggu yeoja kita” ceplos Kyuhyun yang langsung dipelototin 17 orang lainnya.

“APAA??” sahut Yesung lebay se lebay-lebaynya (?)

Seketika itu juga, keadaan meja makan yang semula ramai menjadi hening dan tegang. Perkataan Kyuhyun tadi membuat semua kembali merasa panik, apalagi Geulrin, Minhyo dan Heerin.

“Babbo kau! Jaga sedikit ucapanmu!” Minhyo berusaha menginjak kaki Kyuhyun di bawah meja makan. Tapi Kyuhyun berhasil menghindar, hingga kaki Eunhyuk yang terkena injakan Minhyo.

Eunhyuk berteriak kesakitan membuat suasana meja makan kembali ramai.

Tapi setelah suara teriakan Eunhyuk, meja makan kembali hening. Semua orang menghabiskan makanan dengan tenang, tanpa suara.

“Kau akan datang sekarang?”

“tentu saja.. Kurasa ini waktu yang tepat”

Malam tiba di desa Gangnam.

Pemandangan desa yang semula cerah dan indah, berubah menjadi gelap dan mistis. Tidak ada seorang pendudukpun yang keluar dari rumah. Adat dan tata istiadat yang begitu ketat diterapkan oleh penduduk di desa itu.

Hanya suara burung hantu, beberapa kelelawar yang berterbangan dari gua, serta gerak pasif ranting dan akar-akar pohon mewarnai suasana Gangnam di malam hari.

Vila yang dihuni delapan belas orang juga ikut hening bersama malam. Semua orang terlelap tidur dalam mimpi dan kecemasan masing-masing, berharap bisa pulang kembali ke Seoul.

Gangnam, 00.00

Seperti yang telah disepakati, ia datang ke mimpi salah seorang yeoja malam itu, memberitahukan maksud dan tujuan kedatangannya dalam mimpi. Memberikan petunjuk dan perintah untuknya, apa yang harus dilakukan besok. Karena ia memiliki keyakinan, yeoja itu akan membantunya.

Jika semua rencana berjalan dengan baik, semuanya pasti terungkap dan berakhir dengan baik juga.

Tidak ada suara teriakan maupun ketakutan yang terdengar. Vila masih tenang, dan semua juga sudah terlelap dalam dunia mimpi..

Keesokan paginya-

Hari berlalu begitu cepat. Siang berganti malam, malam berganti pagi, begitu seterusnya hingga semua akan berakhir pada hari kehancuran. Waktu terus berputar setiap detiknya.

Gangnam kembali memulai paginya yang cerah.

Kali ini semua penghuni vila melakukan joging bersama minus Ryeowook yang terkena hukuman harus membersihkan mobil-mobil mereka. Ryeowook masih mencuci mobil di depan vila dengan hati gembira *bayangin aja MV No other*

sementara yang lain duduk santai setelah selesai melaksanakan jogging pagi.

“Minyoung.ssi~ aku perlu bicara denganmu” Richan berbisik pada Minyoung seraya menariknya pergi ke tempat dimana mereka berdua bisa bicara.

“Ne Richan.a~ ada apa? Kau menemukan sesuatu?” tanya Minyoung ketika mereka hanya berada berdua.

“Kita berdua harus kembali ke hutan waktu itu”

“memangnya ada apa disana?”

“nanti sore ke malam-an (magrib) dia akan menemui kita. Menjelaskan maksud dan tujuannya menampakkan diri”

“Jinjja? Tapi bagaimana kita bisa keluar? Kau tahu kan para lelaki melarang semua yeoja keluar sendirian”

“Nanti sore sampai malam ada festival  Gangnam yang diadakan setiap tahun sekali. Itu adalah kesempatan kita untuk pergi diam-diam”

“Ne ne. Aku mengerti, tapi sepertinya kita membutuhkan sedikit bantuan” Minyoung menyadari jika ada seseorang yang menguping pembicaraan mereka berdua. Dengan sigap ia berlari dan menangkap tangan seseorang yang bersiap untuk kabur.

“hehehe, aku tidak mendengar apa-apa kok onnie” Geulrin yang berada di balik pintu, sebenarnya tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka berdua.

“karena kau sudah menguping. kau, Minhyo dan Heerin harus membantu kami” Minyoung berkomando pada Geulrin menyuruhnya memanggil Minhyo dan Heerin.

~~~~

“Mwo? Kalian berdua akan pergi ke hutan?” Heerin tersentak kaget ketika diberi tahu tujuan ia yang sedang berduaan dengan Yesung tiba-tiba ditarik Geulrin ke kamar Minyoung.

Richan dan Minyoung pun mengangguk mengiyakan.

“lalu apa yang bisa kami bantu?” tanya Minhyo yang juga tadi tiba-tiba ditarik Geulrin saat sedang menjemur baterai di genteng.

Richan dan Minyoung pun menjelaskan keperluan mereka pada Heerin, Geulrin,dan Minhyo. Mereka bertiga memang tak akan ikut pergi ke hutan. Tapi bantuan mereka sangat dibutuhkan untuk membujuk member Super Junior agar mau diajak pergi ke festival tersebut.

16.00

“Ayolah chagiyaa~ oppa~ kita pergi kesana. Ya ya ya?” Geulrin mengeluarkan puppy eyes andalannya untuk membujuk Donghae dan Leeteuk. Sebagai leader, Leeteuk sangat berperan penting karena semua member pasti menuruti perintah pemimpin mereka.

“Geulrin benar! Lagipula, aku kasian pada Ryeowok oppa yang selalu memasak untuk kita. Jika pergi kesana, kita hanya tinggal membeli makanan” Heerin ikut membujuk sambil menarik-narik baju Leeteuk.

“Siwon oppa! Ayolah~ kau tahu kan, festival ini hanya sekali setahun! Sayang sekali jika kita melewatkannya” Minhyo yang merupakan dongsaeng kesayangan Siwon juga ikut membujuk mereka pergi.

“Aku setuju!”

“Aku juga!” Sungmin dan Eunhyuk menyetujui permintaan mereka.

Begitu pula Yesung dan Kibum.

Siwon dan Leeteuk saling berpandangan lalu mengangguk bersama.

“Baiklah!” Putus Siwon membuat sumringah yang lain. Mereka merasa bosan juga jika harus terus berada di vila. 17.00

Festival kebudayaan yang diadakan setahun sekali di Gangnam memang memberi daya tarik tersendiri bagi penduduk sekitar.

Berbagai parade dan pertunjukan kebudayaan, tari-tarian, musik, serta berbagai macam makanan dapat ditemui di festival ini.

Kebiasaan untuk berdiam di rumah setelah jam 7 malam, tidak berlaku pada hari ini karena festival berlangsung dari sore-malam.

Keceriaan terlihat dari wajah setiap member kecuali Richan dan Minyoung yang sedikit tegang. Semua member menumpahkan keceriaan dan kebahagiaan disini. Malam di desa Gangnam yang biasanya sepi, kini ramai dan penuh kembang api. Malam yang biasanya menakutkan dan mencekam, kini menjadi lebih ceria dan ramai.

Kedelapan belas orang tersebut menikmati festival dengan perasaan lega, karena bisa melupakan kejadian beberapa hari lalu.

Jepret sana jepret sini.. Itu yang dilakukan semua member yang memang hobi berselca-selca ria!

Disaat semua member sedang asyik menikmati jajanan dan bermain beberapa permainan, Heerin dan Minhyo berusaha mengalihkan perhatian Siwon dan Kibum yang daritadi berada di sebelah Minyoung dan Richan.

Sementara Geulrin mencoba menjauhkan jarak member lain dari mereka berdua.

Minyoung dan Richan yang merasa posisi mereka telah aman, mengacungkan jempol pada Minhyo, Heerin dan Geulrin.

“Sekarang?”

“Ne”

Di tengah-tengah keramaian penduduk desa yang sedang menikmati festival, Minyoung dan Richan berlari menembus kerumunan hingga berhasil keluar dari festival yang cukup ramai itu.

Mereka tak mau jika semua orang menyadari jika ada 2 orang yang hilang diantara 18 orang yang ikut. Dengan cepat mereka berlari menjauh dari festival. Setidaknya mereka harus berada jauh dulu agar tidak mudah di cari.

Setelah beberapa lama berlari, sebuah hutan yang cukup lebat kini sudah ada di depan mereka. Saat ini sudah cukup gelap di Gangnam, khususnya di hutan itu. Mereka memutuskan untuk berjalan secara perlahan, karena lupa tak membawa center atau penerangan apapun. Cahaya bulan malam ini tidak dapat menembus hutan yang sebagian besar dipenuhi pohon-pohon berumur ratusan tahun.

Sesekali kaki mereka tersangkut pada akar-akar pohon yang menembus keluar tanah atau kadang mereka harus rela jika kakinya bentol-bentol karena serangga.

Tidak membawa center dan keadaan hutan yang sama sekali tidak membantu membuat mereka berdua kesulitan berjalan dan melihat dalam hutan.

Kurang lebih 10 menit berjalan, mereka beristirahat sebentar di sebuah batu besar. Muncul keraguan di benak mereka, jika sesuatu yang mereka cari akan menemui Richan dan Minyoung.

Ketika kelelahan dan keputus asaan mulai menghantui mereka. Sesuatu muncul dibalik semak-semak dan mendekati mereka berdua…..

-Festival Gangnam-

Mereka benar-benar menikmati kemeriahan festival malam itu, tanpa sedikitpun menyadari jika ada yang hilang diantara mereka.

Heerin, Geulrin, dan Minhyo dapat menjalankan semua rencana dengan baik. Mereka bertiga berhasil menutupi kepergian Richan dan Minyoung selama beberapa lama.

Tapi kesenangan mereka sedikit terganggu karena Eunhyuk. Gara-gara tadi ia sok bisa bermain balap sapi, badannya kini berlumuran lumpur karena jatuh dari sapi yang ia tunggangi.

Semua orang melihat ke arahnya sambil menahan tawa.

“Ayo kita pulang saja ! Aku sudah tidak tahan dengan bau lumpur ini!” Keluh Eunhyuk sambil berusaha membersihkan bajunya yang telah ternoda.

“Sebenarnya bau kakimu lebih parah!” Heechul tertawa terbahak-bahak begitu juga yang lain.

“Baiklah, kita pulang sekarang” Siwon menyetujui.

“Hey, dimana Minyoung dan Richan?” tanya Kibum yang membuat Heerin, Minhyo dan Geulrin menjadi gugup tak tahu harus menjawab apa.

“Emm… Mungkin mereka sudah kembali”  jawab Geulrin seadanya yang dijawab anggukan Siwon.

Merekapun memutuskan untuk kembali ke vila dan meninggalkan festival yang masih ramai.

Dalam perjalanan pulang, tentu orang yang paling cemas adalah Geulrin, Minhyo dan Heerin. Mereka bertiga berharap tidak terjadi apa-apa pada Minyoung dan Richan…

-Minyoung poV-

Aku terus melihat ke arah mereka yang kini sedang berbicara. Mungkin ini memang tak bisa dicerna dengan akal sehat! Tak pernah sebelumnya aku melihatnya seperti ini. Seseorang yang biasanya terlihat aneh dan tenang, sekarang ia terlihat begitu emosional. Air mata terus jatuh dari pipinya, menunjukkan suatu kerinduan yang dalam. Apakah ia benar-benar seseorang yang berharga untuknya?

~~~~

Setibanya semua member di vila, Siwon dan Kibum langsung mencari keberadaan Minyoung dan Richan.

Sedangkan Eunhyuk langsung bergegas ke kamar mandi, semua member berkumpul di ruang tengah melihat barang-barang yang tadi mereka beli di festival.

“Minyoung dan Richan tidak ada di vila” perkataan Siwon dan Kibum membuat semua orang terkejut mendengarnya.

Secepat mungkin mereka semua membagi tugas untuk mencari Minyoung dan Richan. Sementara itu Minhyo, Heerin dan Geulrin merasa bersalah karena menyembunyikan sesuatu yang mereka ketahui.

Disaat semua masih bingung, Heerin yang tak kuat lagi menyimpan rahasia itu akhirnya memberitahu Siwon dan Kibum tentang keberadaan istri mereka.

Pengakuan Heerin tadi membuat Siwon dan Kibum marah dan sangat kecewa terhadap mereka bertiga. Sekarang semua sedang khawatir karena Minyoung dan Richan tak kunjung kembali dari hutan.

“Tidak ada gunanya kalian berdua marah seperti itu. Lebih baik kita berdoa agar mereka berdua segera kembali” usul Leeteuk mencoba menenangkan Siwon dan Kibum.

Disaat kepanikan melanda semua orang yang berada di vila, Ryeowook dan Sungmin yang tadi mencari Minyoung, Richan diluar muncul tiba-tiba membuat semuanya kaget.

“Hyung.. Hyung..” Ryeowook berusaha berbicara meskipun nafasnya masih tersengal-sengal.

“Pelan-pelan saja Wookie! Ada apa?” Yesung berusaha menenangkan dongsaeng sekaligus couplenya itu.

“Jembatan telah selesai diperbaiki!” Sungmin melanjutkan kata-kata Ryeowook yang terputus.

“Jadi kita bisa kembali sekarang?” timpal Kyuhyun bersemangat.

“Lalu bagaimana dengan Minyoung dan Richan?”

“Kita bisa sambil mencari mereka. Setidaknya kita harus keluar dari vila ini dulu” sahut Donghae yang langsung disetujui semua member.

Namun kata-kata Donghae tadi bukanlah hal baik yang ingin ‘dia’ dengar.

Tiba-tiba saja pintu depan vila tertutup dan terkunci.

“lewat belakang saja” usul Hangeng. Merekapun langsung pergi ke arah belakang. Seketika itu juga pintu belakang tertutup dan terkunci.

“Dapur!” teriak Heechul.

Tapi semua usaha mereka sia-sia, semua pintu dan jendela jalan mereka keluar tertutup dan terkunci secara tiba-tiba.

Keadaan semakin memburuk, ketika semua lampu tiba-tiba saja padam.

“Aigoo~ kita terjebak!” suara Kangin terdengar pasrah.

“Kita masih beruntung, karena kita berenam belas. Sedangkan Richan dan Minyoung?” kata-kata Siwon terputus karena ia tak mampu melanjutkannya.

Ia sangat mencemaskan keadaan istrinya, begitu juga Kibum. Sekarang mereka tak bisa melakukan apa-apa selain diam dan berdoa.

KLEKKK

Suara pintu tiba-tiba terbuka. Semua lampu yang tadinya padam kembali menyala.

Siwon dan Kibum langsung berdiri lalu memeluk istrinya yang  telah kembali.

Kekhawatiran mereka sedikit berkurang karena akhirnya Richan dan Minyoung baik-baik saja.

“Kita pulang sekarang!” ajak Kibum. Semua orangpun langsung menyetujui dan beranjak keluar, sebelum Minyoung melarang mereka.

“Waeyo?” tanya Minhyo bingung melihat kelakuan Minyoung dan Richan.

“Kita harus menolongnya” lanjut Minyoung membuat semua orang tambah bingung.

“Dan hanya semua yeoja yang bisa menolong mereka” imbuh Richan yang matanya sembab, membuat Minhyo, Heerin dan Geulrin tambah kaget.

“Semuanya, tolong ijinkan kami berlima pergi ke belakang vila. Disana kami akan menolong mereka. Mereka benar-benar membutuhkan bantuan” Lanjut Minyoung sambil membungkukkan badan.

“Tolong ijinkan kami. Kami berjanji akan pulang tanpa kekurangan suatu apapun” Richan juga ikut membungkukkan badan.

Meskipun terus memohon dan meminta semua yeobo dan namja mereka tidak menyetujuinya. Mereka takut jika terjadi sesuatu yang akan membuat mereka kehilangan istri ataupun yeoja chingunya.

“Anhiyoo~ sekali tidak tetap tidak!” Yesung, Donghae, Kibum, Kyuhyun dan Siwon bersikeras menolak permintaan mereka. Tapi Minyoung dan Richan tidak menyerah, mereka berdua berlutut di hadapan naempyon mereka.

Bahkan Richan sempat mengeluarkan air mata. Ia tak akan berdiri sampai Kibum mengijinkannya. Heerin yang melihat sahabatnya berusaha keras ikut berlutut memohon ijin. Tidak lama kemudian, Minhyo dan Geulrin juga ikut berlutut dan memohon, meskipun tak tahu apa yang akan dihadapi oleh mereka. 21.00

Yesung dan yang lain mulai merasa iba melihat semua yeoja berlutut seperti itu.

Dengan sangat terpaksa akhirnya Kibum, Siwon, Yesung, Kyuhyun, dan Donghae menyetujui permintaan mereka.

“untung saja aku belum punya cewek!” seru Eunhyuk pada Sungmin yang langsung dibalas dengan pukulan di kepala Eunhyuk.

“Itu karena tidak ada yang mau denganmu bodoh!” Seru Kangin dari belakang.

Mereka semuapun mengantar kelima yeoja tersebut ke belakang vila. Walaupun berat hati, semua namja melepas kepergian yeoja nya.

“Kau harus berjanji untuk segera kembali!” teriak Donghae, Kyuhyun, Yesung, Siwon, dan Kibum bersamaan.

Mereka berlima pun pergi masuk ke hutan yang gelap dan sedikit menyeramkan.

Semua namja menatap kepergian mereka dengan cemas.

Tiba-tiba saja mereka menghilang, bayangan mereka hilang tanpa jejak, menembus suatu ruangan lain.

Perasaan kaget muncul ketika tiba-tiba saja mereka yang semula berada di hutan kini masuk ke dalam ruangan yang sungguh asing. Ruangan yang gelap, dan tua, ruangan yang sama sekali tak pernah dilihat sebelumnya.

Bangunan kuno menghiasi ornament ruangan yangmereka masuki. Minyoung dan Richan terus menatap aneh ke sekeliling.

Ketakutan dan kekhawatiran muncul di benak Minhyo, Geulrin, danHeerin yang tak tahu apa-apa. Namun, mereka tak berani bertanya pada Minyoung dan Richan sampai mereka berdua sendiri yang menjelaskan.

Beberapa menit berjalan dan melangkah tanpa berhenti, Minhyo baru saja menyadari jika saat ia hilag beberapa hari lalu, ia tersesat dan berada di ruangan ini. Ruangan yang gelap dan tak berpintu.

Bayangan sosok yang ia temui waktu itupun, semakin membuatnya khawatir.

Richan berjalan di depan , sementara Yang lain mengikuti di belakang. Langkah mereka terhenti ketika menemui ujung ruangan yang bertembok tanpa pintu maupun jendela.

“Onnie bagaimana ini? Tak ada pintu ataupun jendela disini. Kita terjebak!” Geulrinterlihat begitu panic dan ketakutan. Diantara mereka berlima, Geulrin adalah magnae, jadi wajarsaja jika ia ketakutan dibanding yanglain. Apalagi mengingat kondisi ruanganyang begitu gelap dan pengap.

“Gwenchana Geulrin.a~” Minyoung berusaha menenangkan seraya memeluk pundak Geulrin.

“Tenanglah Minhyo.a , Heerin.ssi~” Ia kembali menenangkanmereka semua yang mulai terlihat panic.

Sementara itu, Richan yang berada di depan mereka mulaimemandangi tembok tersebut. Ia menyentuhnyaperlahan dari kiri ke kanan.

Saat itu pula, Tembok tadi berubah menjadi pintu sebuah ruangan.

Minhyo, Minyoung, Heerin, dan Geulrin menatap heran apa yang dilihatnya. Secara perlahan Richan membuka pintu ruangan itu.

“Sebuah ruangan yang kosong, tak ada satu bendapun! Apa maksudnya ini?” Geulrin sedikit kesal karena  tak menemukan apapun di ruangan itu. Begitu pula yang dilihat Minhyo dan Heerin, sebuah ruangan kosong tanpa ada satu apapun di dalamnya.

Tapi tidak dengan Minyoung dan Richan. Mereka terperangah kaget melihat ruangan itu.

Richan berdiri terpaku dan kembali mengeluarkan air matanya.

“Waeyo Richan.a~ Minyoung.a~?” Tanya Minhyo bingung melihat reaksi mereka berdua.

“Pejamkan mata kalian , lalu buka pelan-pelan! Kalian akan melihat sesuatu!” Perintah Minyoung pada yang lain. Mereka bertigapun mengikuti perintah Minyoung.

Betapa terkejutnya mereka ketika melihat ruangan yang tadinya kosong kini dipenuhi 5 buah peti dan 4 buah tabung besar, yang berdiri di samping setiap peti.

Di dalam tabung itu terdapat sebuah bayangan transparan seseorang yang mukanya tak asing lagi.  Mereka adalah orang yang selama ini menakut-nakuti mereka!

Arwah di dalam tabungitu tak bergerak,  berbeda dengan apa yang mereka lihat sebelumnya di vila.

“Jonghyu.ssi? Richan.a~ Itu Jonghyun?” Tanya Heerin kaget begitu meihat sosok bayangan yang ada di dalam suatau tabung adalah Jonghyun. Seseorang yang amat berharga bagi Richan yang dinyatakan meninggal 6 tahun lalu.

Heerin  Minhyo , dan Geulrin yangbingung pun akhirnya bertanya pada Richan dan Minyoung.

“Mereka semau terkena kutukan dari orang sakti disini yang enjadikan mereka tumbal. Saat pendakian. Seorang yang sakti itu mengutuk mereka. Jiwa dan raga mereka telah dipisahkan. Raganya dikurung dalam peti ini, sedangkan arwahnya adalah yang kalian lihat di tabung besar itu.” Terang Richan tak kuasa menahan tangis. Ia membuka peti dimana raga Jonghyun berada.

“Jadi mereka belum mati? Lalu yang kita lihat selama ini?” Tanya Geulrin masih bingung.

“Belum . Jiwa dan Raga mereka hanya terpisah. Mereka dapat muncul dan tampak pada seseorang yang terpilih untuk mengembalikan Jiwanya kembali ke raganya lagi.” Lanjut Minyoung panjanglebar.

“Jadi maksudmu? Kita dalah orang yang terpilih itu! Lalu kita dapat nelakukan apa untuk mengembalikan mereka berlima?” Minhyo kembali bertanya.

“Berdirilah di setiap laki-laki yang menampakkan diri padamu” Mereka berempat menuruti perintah Richan dan berdiri di setiap peti lalu membukanya.

“Kalian tahu cerita putri salju kan?” Tanya Richan yang dijawab anggukan oleh yang lain.

“Minyoung.a~ dia adalah sahabat Jonghyun. Namanya Choi Minho”

“Lalu Geulrin.a~ seseorang yang berada di depanmu namanya Key”

“Taemin, Lee Taemin memilihmu Minhyo.a~”

“Heerin.a~ kau sudah tahu namanya kan?”

“Ne, Lee Jinki !”

“Baiklah..  setelah kita menyentuh raganya nanti kita akan masuk ke dalam tabung ini dan Kalian harus ingat namanya masing-masing lalu mencium bibirnya sambil memanggil namanya”

“MWO~??”

_____________________The End____________________________

Akhirnya aku menyelesaikan chapter terakhir ini! Kretek kretek *suara pinggang Author bunyi*

Gomawo sudah membaca ^^

Mianhae kalo nggak jelas, kepanjangan atau jelek  L

Don’t be Silent reader!!  Just comment !

Tunggu ff ku selanjutnya,

Kamsahamnida 😀

Author: Rimahyunki

Advertisements

23 responses to “MYSTERY 5 (Ending)

  1. Kok nggantung banget sih thor? -_-
    Tanggung jawab nih bikin penasaran!
    Tapi keren kok,,
    Nice ff (y)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s