My SHINee-ing Love Story .1.(Jonghyun’s part)

Genre            : Romance

Rating :  G

Main cast  (pairing cast)    : Lee Jinki/Onew (sbg. Aktor) – Kim Heerin

Kim Jonghyun (sbg.Solo Singer)  – Kim Richan

Kim Kibum/Key (sbg. Desainer&stylist) – Cho Geulrin

Choi Minho(sbg. Atlet basket)  –  Lee Minyoung

Lee Taemin (sbg. Ketua klub Dancer) –  Choi Minhyo

Other cast : Yesung Super Junior, U-know Yunho

Annyeonghaseo semua ^^

Sebenarnya ini cast cewek sama kaya ff pertamaku (whocares ) cuman beda marga doang.

Onew, Jonghyun, Key, Minho, dan Taemin adalah 5 orang sahabat yang sangat dekat, dikarenakan mereka dulu adalah tetangga dekat.  Sedangkan, Heerin, richan, Geulrin, Minyoung dan Minhyo juga adalah 5 orang sahabat yang berada di sekolah yang sama. Bagaimana mereka bisa bertemu, bagaimana bisa saling suka, konflik dalam kisah mereka. Ahh~ semua akan kuceritakan disini 😀

Seperti yang telah aku tuliskan di atas, ff ini main castnya adalah SHINee! Tapi untuk part pertama, saya memosting cerita dari Jonghyun dulu hehe.

Saya sarankan anda untuk relax dan enjoy terlebih dahulu sebelum membaca, karena ceritanya lumayan panjang hehe 😀

selamat membaca~

-Minyoung poV-

Annyeong,  wah aku kebagian memperkenalkan couple Jonghyun-Richan 😀

Mereka berdua adalah pasangan kedua yang sering bertengkar selain Key dan Geulrin (=,=)

Naughty couple dan skinship holic! Kenapa? Nanti saja kalian bisa membacanya! Tapi kuakui mereka romantis sekali jika sudah baikan. Baiklah nggak usah banyak bacot lagi, langsung saja dibaca ceritanya. Annyeong~

Mubank, 31 July 2010

-Richan poV-

“Heerin.a~ kenapa aku harus ikut? Kau tau kan aku malas sekali!” Omelku pada Heerin yang kini menarikku masuk ke gedung Music Bank.

“Kau ini bagaimana? Namjamu comeback malah kau tidak datang!” Ia juga terus mengomel padaku, masih dalam posisi tetap menarik tanganku. Sedangkan Minyoung, Geulrin, dan Minhyo berada di belakang kami sambil bergeleng-geleng.

Akhirnya aku masuk ke dalam gedung yang menjadi markas musik besar di Seoul ini. Aku melihat sekeliling dengan malas, banyak sekali orang yang berlalu-lalang, masuk-keluar, kanan-kiri membuatku pusing melihatnya! Bahkan tadi kami berlima harus berdesak-desakkan dengan ratusan fans yang juga akan menyaksikan idola kesayangan mereka. Hey! Aku kan tidak akan menonton idolaku! bermimpi untuk mengidolakannya saja tidak (-,-)

Bagaimana tidak? Setiap kali aku bertemu namjaku itu, 66,6 % dia akan mengomeliku dengan apa saja yang ia mau. Aku hanya bisa diam dan pergi menjauh saat ia kumat menjadi seorang yang ‘grumpy’ (+.+) dan saat ia mulai sadar aku tidak ada di sebelahnya, ia akan berteriak dengan suara high pitchnya itu. Kau tau? Dia seorang namja yang cukup cerewet.

Tidak terasa kami berlima sudah sampai di Lobby utama tempat para artis biasa berkumpul. Aku bisa melihat Onew, Key, Minho oppa dan Taemin menghampiri keempat sahabatku. Yah tentu saja! Mereka kan namjanya, mereka juga sahabat namjaku, Kim Jonghyun.

“chagiyaa~” Sapa seseorang bertopi yang tiba-tiba keluar dari sebuah pintu. Ah.. Itu Jonghyun!

“Akhirnya kau datang juga!” sapanya senang ketika melihatku datang. Baiklah aku tidak mau bertengkar sekarang, jadi aku akan berusaha menunjukkan muka bahagiaku walau sebenarnya aku malas sekali. Lebih baik kan aku di rumah dan menyelesaikan novelku.

“hmm yah tentu” aku menjawab singkat dan berusaha tersenyum semanis mungkin.

“Hey! kenapa kau memakai high heels?” Tanyanya tiba-tiba hingga membuatku kaget, kentara sekali mukanya kesal dan tidak suka.

“Ya, terserah aku! Ini kan hadiah dari Yunho oppa, jadi aku memakainya” jawabku jujur agak sedikit kesal, sambil menunjuk sepatu high heels bewarna hitam pemberian Yunho oppa kemarin, yang membuatku terlihat sedikit lebih tinggi dari Jonghyun.

“MWO!~ Kau ini benar-benar!!” Wajahnya berubah menjadi penuh amarah, membuatku ingin pergi dari sini.

“Kau juga! Kau memamerkan abs mu kan? Lihat baju yang kau pakai! Jadi kita impas, Oke?” Balasku berusaha menunjukkan muka biasa , tanpa ekspresi. Kuakui, aku kesal sekali melihatnya berpakaian seperti itu, memamerkan bentuk lengan dan punggungnya yang indah (bayangin pake baju backless di lucifer) Itu membuatnya terlihat hot, tapi bukan itu masalahnya! Yang menganggapnya hot bukan aku saja, tapi ribuan fangirl yang menggilainya. Aissh!

Dia masih terus mengomel bla..bla..bla..

“sebenarnya aku malas sekali datang kesini, jika Heerin nggak memaksaku pasti aku gak akan dateng” kata-kata itu tiba-tiba saja keluar dari mulutku, aduh! Aku benar-benar tak sengaja, habisnya capek juga mendengarnya mengeluh dan  Memarahiku. Hingga aku yang daritadi diam, akhirnya angkat bicara. Tapi sepertinya aku salah berucap (o.o)

“Apa kau bilang? Kalau begitu pulang saja sana!” Bentaknya kasar, bukannya membuatku takut, tapi aku malah semakin sebal padanya.

“Oh begitu! Baik aku pulang sekarang!” jawabku mengeluarkan amarah yang daritadi coba kupendam. Aku diam dan sabar juga ada batasnya! Aku berjalan cepat meninggalkan mereka, walaupun sepatu ini sedikit mengganggu.

-Jonghyun poV-

Ah! Sebenarnya aku tak ingin dia pergi! Melihatnya mau datang adalah sesuatu yang membahagiakanku. Tapi ia menyebalkan sekali! Sudah dua kali ia membuatku marah, yang pertama karena high heels barunya dan kedua, Richan tidak ikhlas datang kesini. Aissh~ bisakah dia perhatian sedikit padaku? Aku akan comeback sore ini, apa salah aku meminta yeojaku menyaksikan dan mendukungku? Dia benar-benar cuek sekali!

Hey, tapi.. Apa aku terlalu kasar membentaknya dan menyuruhnya pulang. Omona~ aku jahat sekali, setidaknya aku tidak perlu membentaknya kan?

Aku harus meminta maaf padanya. Tapi belum sempat aku berbalik, “Jonghyun.ssi~ 10 menit lagi giliranmu, cepatlah bersiap!” seorang staff Mubank memanggilku dan menyuruhku bersiap di back stage.

“Ne noona” jawabku sembari mengikutinya ke belakang panggung. Aku hanya bisa berharap ia mengurungkan niatnya untuk pulang..

-Richan poV-

Aku kesal sekali padanya, beraninya ia membentakku! Aku segera berlari keluar lobby untuk pulang, sebelum seseorang menarikku,

“Richan.a~ Andwae! Kau mau pulang begitu saja?”  Minyoung menarik tanganku dan menahanku pergi. Ah iya! Aku sampai lupa, saat Jonghyun dan aku bertengkar ada 4 sahabatku dan sahabatnya.

“Kau tidak boleh pulang! Mana Richan yang selalu mengalah pada Jonghyun hyung?” Minho oppa juga menahanku pergi.

“Kami tidak akan membiarkanmu pergi!” Kali ini Minhyo dan Taemin juga mencegahku. Apa-apaan mereka ini? Mau berkomplot dengan Jonghyun? Ah tak akan bisa! Aku tetap berjalan keluar tanpa menghiraukan mereka.

“STOP disini! Kembali atau kau akan kami geret masuk?” Key oppa kali ini mengancamku dan mengeluarkan senyuman jahatnya >_<

Aku masih terdiam di tempat. Aigoo~ 8 lawan 1 ! Jelas aku kalah jika begini.

“Sepertinya kita harus menggeretnya” Geulrin berancang-ancang menarik tanganku dibantu Heerin. Percuma saja aku melawan, pasti endingnya aku kalah (**) Dengan pasrah aku mengikuti mereka masuk ke Studio tempat Jonghyun akan perform. Baiklah.. aku tadi sedikit emosi, sekarang perasaanku sudah sedikit tenang.

Dengan ragu, aku masuk studio bersama 8 orang lain dan duduk di kursi VVIP yang memang khusus dipesan untuk kami, dan sekarang aku tepat duduk di depan sebelah kanan panggung, kursi yang pasti diinginkan semua Blingers disini. Mataku masih memandang seluruh isi studio, dan aku merasa sedikit panas, karena hanya fan girl yang kulihat disini.

Ratusan orang yang datang dan 99.9 % adalah wanita. “Huh! Sabarkan hatimu Richan” aku memotivasi diriku sendiri, ah untung saja aku membawa novel bacaan yang memang wajib berada di tasku. Dengan membaca, mungkin akan mengalihkan pikiranku dari semua ini. Daripada melihat Jonghyun yang memamerkan bentuk tubuhnya dan mendengar teriakan gemuruh blingers yang bisa membuat telingaku pecah, lebih baik aku membaca dan memasang earphone! 😀

-Jonghyun poV-

Joongki sudah memanggil namaku, Saatnya aku tampil sekarang. Walaupun sedikit kecewa karena Richan tidak akan melihatku, aku tetap harus berusaha untuk tidak mengecewakan semua fansku. Seburuk apapun kondisiku, aku harus terlihat baik dan menghibur semua yang telah menantikanku. “Kim Jonghyun Hwaiting~!” Aku menyemangati diriku sendiri. Akhirnya aku kembali ke panggung juga! Aku tersenyum atau lebih tepatnya menebar senyum ke semua fans ku dengan kedipan khas milikku *bling bling*

Pertama, kusapa semua yang telah datang kesini untuk melihatku. Suara gemuruh terdengar semakin kencang ketika aku mulai bernyanyi.  Teriakan mereka membuat adrenalin ku terpacu dan memberikan semangat tersendiri untukku.Pandanganku berhenti di deretan kursi VVIP yang berada di sebelah kanan panggung, aku melihat semua sahabatku duduk dan menyemangatiku. Pandanganku berhenti ke seseorang yang duduk di sebelah Minho, orang itu adalah Richan. ah akhirnya dia mau melihatku! Pasti semua sahabatku dan sahabatnya memaksanya ikut. Gomawoyo chingu~ 😀

Hey, tapi kenapa ia tak melihatku sama sekali! Disela-sela lagu, aku mencari kesempatan untuk melihatnya.. Tapi matanya sama sekali tak melihat ke arahku, melihat panggung saja tidak! Sepertinya ia sedang asyik dengan buku dan earphone di telinganya. Aissh~ dia melakukannya lagi! Tidak memperhatikanku, cuek, dan membuatku kesal. Bisakah ia tak berbuat begitu sekali saja? Menjadi yeoja yang baik dan imut untukku? Aku rasa tidak mungkin! Daripada aku sebal melihatnya, lebih baik jika aku menyanyi dan menebarkan semua pesona yang kupunya pada semua fans. Jujur saja, memperlihatkan abs memberikan kepuasan tersendiri untukku! Hahaha.

Setelah kurang lebih semenit aku bernyanyi, tiba-tiba saja muncul ide jahat untuk mengerjai Richan. Aku turun dari panggung lalu menghampiri seorang wanita dan mencium tangannya, tampak sekali ia begitu kaget dan girang. Suara teriakan blingers semakin keras, aku tersenyum bahagia. Aku berharap jika dia melihatku.

Richan poV-

Aku makin asyik membaca novel di tanganku dengan suara oppaku yang merdu di earphone. Aku tak akan pernah bisa lepas dari buku yang sudah aku baca, baris demi baris  kubaca dengan seksama, memperhatikan setiap susunan kata dan memahami makna yang tersurat di dalamnya. Sekilas aku melihat ke arah Jonghyun yang sedang melantunkan lagu terbarunya, tentu sambil tebar pesona! Aku tidak mau ambil pusing, aku mengacuhkannya dan kembali pada bukuku, hingga akhirnya aku mendengar suara yang begitu keras dari dalam studio. Suara yang mengalahkan volume earphone paling tinggi. Yah, apa lagi kalo bukan suara teriakan blingers! Tapi kenapa begitu keras dari sebelumnya? Tatapanku terpaku pada sebuah LCD monitor besar di depan panggung. Dari sana aku dapat melihat Jonghyun sedang mencium tangan seorang fans wanitanya…

“Hmm jadi begitu?” Baiklah jika itu maumu. aku tidak akan peduli, terserah saja jika kau mau menciumnya, memeluknya, silahkan saja! Aku kembali pada novelku dan meneruskan bacaan yang tadi sempat terputus. Jika kalian bertanya apakah aku cemburu, maka jawabannya adalah “tidak juga.”

Masih dengan posisi membaca novel dan earphone yang terpasang di telingaku, ada seseorang yang datang lalu duduk di kursi sebelahku yang kosong. Sebenarnya aku tak begitu menghiraukan, tapi tidak sebelum ia mulai memegang tangan kananku yang berada di atas buku, karena kaget aku langsung menoleh ke arahnya.

“Ah.. Yunho oppa! Senang sekali kau bisa berada disini” Sapaku langsung gembira ketika tau orang yang duduk di sebelahku adalah pria berkacamata yang tampan dan berkarisma, Yunho oppa! Seorang leader dari sebuah boyband yang juga sahabat dekat oppaku, Yesung.

“Richan.a~ kau memakai hadiah pemberianku?” Ia menunjuk sepatu yang kupakai, sambil tersenyum bahagia. aku pun mengangguk ikut senang juga melihat senyum khasnya.

Kamipun melanjutkan mengobrol apa saja, sepertinya cuman Yunho oppa yang bisa mengalihkan perhatianku dari novel. Aku menaruh novel dan earphoneku ke dalam tas, kemudian melanjutkan pembicaraanku dengan Yunho oppa.

-Heerin poV-

“Aduh kalian berdua ini seperti anak kecil!” teriakku dalam hati, ketika aku melihat tingkah Richan dan Jonghyun oppa. Bagaimana tidak? Mereka mencoba untuk saling membuat cemburu. Daritadi aku melihat pandangan Jonghyun oppa yang tak bisa lepas dari Richan, sesekali ia melihat ke arah tempat duduk kami dan memperhatikan yeoja yang sekaligus adalah sahabatku. Tampak sekali rasa cemburu di matanya saat melihat Yunho oppa dan Richan mengobrol, karena tak mau kalah akhirnya ia bermesraan dengan para blingers dan memamerkan otot miliknya (+.+) Richan juga begitu! Tak mau sedikitpun menoleh ataupun memperhatikan namjanya! Kasian juga aku melihat Jonghyun oppa.. Padahal jika sedang baikan, mereka adalah pasangan paling romantis yang pernah kulihat! Tapi jika sudah begini, mereka selalu membuat kami pusing (=,=)

Aku hanya berharap tidak akan terjadi apa-apa pada mereka berdua.

-Richan poV-

Heerin yang berada dua kursi di sebelahku memukul-mukul pundakku, menyuruhku melihat Jonghyun di panggung. Aku tak mengerti maksudnya, untuk apa menyuruhku melihatnya? Lagipula aku sedang mengobrol dengan Yunho oppa.

Karena bingung, aku hanya menggeleng-gelengkan kepala kemudian melanjutkan pembicaraanku dengan Yunho oppa tanpa mempedulikannya.

Penampilan Jonghyun selama kurang lebih 4 menit berakhir. Katanya, dia hanya akan menyanyikan satu lagu saja. Pukul 18.30 tepat di Seoul, tiba-tiba Yunho oppa mengajakku keluar studio dan menarik tanganku. Setelah berpamitan sebentar pada yang lain, ia dan aku pun keluar.

“Waeyo oppa?” tanyaku padanya setibanya kami di depan pintu studio.

Namun ia tetap diam, membuatku semakin bingung. Aku berusaha  terus bertanya padanya, membangunkannya dari lamunan, tapi tetap saja ia diam. Karena tak berani banyak bertanya, aku pun ikut diam mematung bersamanya.

Beberapa menit setelah kami berdiam diri, tiba-tiba saja ia memelukku.

Aku masih tak mengerti apa maksudnya, tapi bukannya bertanya atau melepaskan diri, aku malah balik memeluk badannya yang hangat.

“Saranghaeyo” kata-kata itu terucap dari bibirnya yang membuatku terdiam, kaget dan benar-benar tak mengerti.

Ia tak meneruskan kata-katanya, masih terus memelukku, bahkan lebih erat dari sebelumnya.

“Mianhaeyo, kau pasti bingung kenapa tiba-tiba aku berkata ini padamu. Tapi sebelum aku pergi untuk beberapa lama, aku berhak kan mengungkapkan semua perasaanku pada orang yang aku cintai?” tanyanya sambil melepaskan pelukannya.

“pergi?” Aku balik bertanya pada Yunho oppa, apa maksudnya dengan pergi?

“aku akan pergi ke USA untuk beberapa lama, mungkin 5-10 tahun. Dan malam ini juga aku berangkat.” Perkataannya tadi membuatku sangat kaget, ia akan pergi jauh dan meninggalkanku selama itu? Dan.. Dan.. Dia akan berangkat malam ini juga? Hal itu begitu menusuk hatiku. Yunho sudah kuanggap seperti oppaku sendiri, temanku, sahabatku, seseorang yang sangat mengerti aku lebih dari diriku sendiri, namun ia akan pergi meninggalkanku secepat ini. Bagaimana mungkin aku akan kehilangan seseorang yang amat kusayangi?

“Kau jangan sedih begitu! Kau mau aku pergi dengan perasaan tidak tenang?” sepertinya ia bisa melihat kesedihan di mataku. Dengan kedua tangannya yang lembut, ia kembali memelukku dan mengusap-usap rambutku.

“sebenarnya aku tidak mau berpamitan denganmu, takut jika akan semakin membuatku berat meninggalkan Seoul. Aku sudah berpamitan dengan teman-temanku, tolong kau bilang pada Jonghyun juga yang lain ya? Aku pasti akan merindukanmu dan Yesung hyung disana!” Kata-katanya tadi membuatku menangis dalam pelukannya. Aku tidak mau kakak keduaku pergi dariku, tapi aku juga tidak bisa melakukan apa-apa selain mendoakannya selamat sampai disana.

“Saranghaeyo oppa~” aku membalas ungkapan cintanya padaku, karena aku memang mencintainya sebagai oppaku.

“Haha, jeongmal saranghae na dongsaeng~ seandainya kau bertemu denganku lebih dahulu daripada Jonghyun, aku pasti sekarang menjadi namjamu” candanya, walaupun tidak lucu, aku tetap tertawa untuknya. Setidaknya, ini terakhir kali aku tertawa dengannya sebelum beberapa tahun kedepan.

“Aku akan merindukanmu” Ia mengecup keningku, dan menghapus air mataku dengan jarinya yang hangat. Aku pasti akan merindukan saat-saat seperti ini.

-Jonghyun poV-

Aku mencarinya keluar studio, setelah tadi Taemin memberitahuku jika Richan tadi keluar bersama Yunho hyung sesaat setelah penampilanku selesai. Aku sampai di lobby dekat studio, aku kaget begitu menemukan Richan dan Yunho hyung berpelukan.

Hampir saja aku mendekati mereka sebelum kudengar Yunho mengucapkan kata “Saranghaeyo”. Saranghaeyo? Apa maksud semua ini?

Aku pun pergi menjauh dari mereka dan memukulkan tanganku di tembok. Jadi ini semua yang menyebabkan kalian begitu dekat? Kenapa tak bilang padaku? Aku tidak akan mencegah hubungan kalian!

Kurasakan panas merasuk ke kepalaku, semua pikiran buruk berputar di otakku. Melihat mereka berdua membuatku benar-benar marah. Aku merasa sudah dibohongi!

Sesampainya di waiting room aku langsung menghempaskan tubuhku ke sofa membuat semua orang yang ada disana kaget melihatku.

“waeyo Jonghyun.a~? Ada masalah?” tanya Onew hyung yang menyadari keberadaanku.

“Gwenchana hyung” jawabku singkat sambil memijat kepalaku yang sedikit pusing. Aku bisa merasakan jika 4 sahabatku dan yeoja mereka memperhatikanku, tapi aku benar-benar tak ingin bercerita sekarang.

19.00 KST

“Annyeonghaseo” sapa seseorang dari arah pintu, itu Richan. Akhirnya ia datang juga! Aku perlu menyelesaikannya sekarang juga.

“Ada yang ingin kubicarakan…” ucapnya yang langsung kuputus, karena kupegang tangannya, “Aku yang perlu bicara, kurasa hubungan kita hanya sampai disini.” kataku singkat, aku tak ingin berbelit-belit. Aku tak memperhatikan ekspresi dan reaksi wajahnya, karena aku langsung berjalan keluar. Aku yakin dia pasti sangat senang!

-Richan poV-

“kurasa hubungan kita hanya sampai disini” aku menatap nanar kearahnya, ia keluar begitu saja dan membanting pintu. Ia pergi membawa rasa heran dan kecewaku. Apa aku melakukan kesalahan lagi? Tanyaku tanpa ada jawaban dari pertanyaan itu. Aku masih terpaku di tempatku berdiri. Mihyo, Geulrin, Heerin, Minyoung dan keempat namja mereka ada di ruangan yang sama denganku, Mereka mendekatiku dan berusaha menenangkanku. Aku benar-benar tak mengerti apa yang sedang terjadi! Apa ini hari sialku? Apa ini mimpi? Aku kehilangan dua orang yang kucintai dalam waktu bersamaan.

“Gwencana, aku tidak apa-apa. Aku ingin menghirup udara segar” Aku berusaha terlihat tenang di hadapan mereka. Kuputuskan untuk pergi menghirup udara segar di luar. Walaupun mereka sempat melarangku, akhirnya aku bisa membujuk mereka. Kuambil jaket,syal, dan tasku lalu segera pergi keluar. Entah kemana…

Aku berjalan keluar gedung, tak tau kemana tujuanku. Malam sudah semakin gelap, udara kian bertambah dingin, kurapatkan syal dan jaketku, memasukkan kedua tanganku dalam saku jaket agar terasa lebih hangat. Aku masih terus berjalan di pinggir trotoar, menatap kosong jalan tanpa tau apa yang harus kuperbuat.

Kuputuskan mematikan handphoneku, aku tak ingin diganggu sekarang.

Sudah 15 menit lebih aku berjalan tanpa arah, tapi tetap tak bisa meredam sesuatu yang berkecamuk dalam diriku.

Memang tak ada setetes air yang jatuh dari mataku. Aku tak akan menangis, karena ada satu keyakinan bahwa aku tidak akan kehilangannya. Suatu keyakinan yang sia-sia.

“Ah capek juga, lebih baik aku duduk dulu” kutemukan sebuah bangku panjang di sebuah taman kecil yang sepi dan kuputuskan untuk duduk disana, jika tidak diusir penjaga taman mungkin aku bisa tidur disini juga haha.

Aku bingung akan melakukan apa, karena sedikit kedinginan akhirnya aku membeli sekaleng kopi di sebuah box minuman yang berada tidak jauh dari tempatku duduk. Aku memandangi kaleng kopi yang membuatku hangat, bahkan kopi sepanas ini juga bisa mendingin jika lama dibiarkan. Mungkin itu juga yang terjadi padaku, aku membiarkan diriku sendiri mendingin padanya. Aku terlewat mengacuhkannya, terlewat cuek, bahkan sekarang aku merasa hatiku juga ikut kaku bersamanya. Penyesalan selalu datang belakangan, benar? Aku baru menyadari sekarang, jika ia sangat memperhatikanku selama ini. Tapi bodohnya, aku malah menganggapnya cerewet padaku, walau memang dia sedikit cerewet. Aku tau dia menyayangiku, dulu.. Kuletakkan kaleng kopi yang semakin dingin, sekaleng kopi yang mendingin seperti hubunganku dengannya, tak akan hangat lagi seperti dulu.

“Hmm.. Aku sial sekali hari ini!” aku mengecek buku catatan kecil di tasku. Aku merasa hari ini adalah hari tersial untukku, kubuka lembar kalender ’31 JULY 2010′ tulisan itu membuatku terdiam sedikit kaget. Aku melihat jam tanganku, ah masih jam 8 malam! Kulihat sekeliling taman yang daritadi sepi. Kucari sebuah toko yang masih buka. Kuambil tas dan memasukkan buku catatanku tadi.

“setidaknya aku harus menepati janjiku!” aku berlari meninggalkan taman, sebelum kunyalakan handphoneku yang tadinya mati dan mengirim sebuah pesan.

SEND TO ALL

lalu kembali kumatikan handphoneku  yang ternyata sudah lowbatt.

-Jonghyun poV-

Aku memacu mobilku dengan kecepatan tinggi, hingga hampir menabrak beberapa pengendara lain. Daritadi aku berputar-putar entah kemana. Aku benar-benar tak bisa mengontrol emosiku. Kupandang jalanan kota yang sedikit lebih ramai dari biasanya. Mengingat kejadian tadi membuatku menginjak gas lebih kencang, sama kencangnya dengan amarahku. Karena tak berkosentrasi, aku hampir saja menabrak anak kecil yang berjalan di depan mobilku. Aku mencoba membanting setir, hingga mobilku menyerempet sebuah tiang. Omona~ apa yang terjadi padaku? Aku memutuskan untuk berhenti dan turun. Takut jika nanti aku benar-benar menabrak mati orang yang lewat di depanku. Aku keluar dari mobil dan berjalan menuju sebuah bangku panjang tak jauh dari mobilku. Ada sekaleng kopi di kursi tempatku duduk, masih sedikit hangat. Karena tak melihat siapapun disini, aku meminum sisa kopi tadi. Setidaknya, ini bisa sedikit menenangkanku.

Aku bersenden dan mendongak ke arah langit di kota Seoul, gelap ! Seperti yang kurasakan sekarang. Kupandangi taman kecil yang sepi ini, hanya ada hembusan angin dan beberapa pohon yang menemaniku.   Masih dengan posisiku yang mulai memejamkan mata, kubiarkan angin dingin menerpaku. Aku bisa merasakan udara dingin menusuk kulitku.

Saat aku membuka mata, suatu kenangan muncul begitu jelas di otakku. Taman ini mengingatkanku pada kejadian 2 tahun lalu.

@@@flashback@@@@

“Appa jahat sekali padaku! Bukannya malah mendukungku!” aku mengeluh dan terus mengomel, menendang benda yang ada di depanku. Hari sudah menunjukkan pukul 8 malam, tapi aku malas pulang ke rumah. Keinginanku untuk mengikuti trainee di sebuah managemen musik terhalang oleh appaku yang melarang keras aku mengikutinya! Padahal keinginan ini sudah ada dari dulu. Sekarang adalah kesempatanku, tapi kemauan appa lebih keras. Walaupun terus kupaksa, appa bersikeras menolak keinginanku. Ia menyuruhku untuk fokus meneruskan bisnisnya, karena aku adalah anak laki-laki satu-satunya. Padahal appa dan umma tahu sendiri jika aku sama sekali tak punya bakat dibanding noona.

Aku menatap jalan bingung kemana harus pergi. Tidak lama setelah aku berjalan, ada tanah kosong di sebelah rumah. Beruntung juga ada sebuah kursi panjang disana. Sepertinya, aku mau tidur disini malam ini.

Kuhempaskan badanku ke kursi.

“Aduh!” aku merasa kesakitan, karena terlalu keras menjatuhkan badan hingga punggungku sakit.

“sial sekali aku hari ini!” Aku masih terus mengomel kesal, hingga kudengar suara dari seseorang. Aku mencarinya ke belakang dan kesamping, tapi tidak kulihat apapun. Apa aku mendengar suara hantu?

“Aku disini! Bisakah kau tidak berisik? Kau sudah mengganggu acara membacaku tauk!” setelah kucari arah suara itu, ternyata seorang perempuan ada di atas atap a.k.a genteng rumah sebelah lahan ini.

*tingkah diatas terinspirasi dari Author yang dulu suka naik-naik genteng  xP*

“Apa yang ia lakukan disitu?” pikirku begitu heran. Dengan cepat ia loncat dari atap yang cukup tinggi itu, layaknya cat woman, ia sangat fasih dan tangkas saat menuruni atap. Tapi tidak muncul rasa kagum sedikitpun dariku, yang ada aku menganggapnya aneh dan sedikit gila. (n.n)

“apa yang kau lakukan disana?” tanyaku lalu menunjuk atap rumah itu, pada seorang perempuan yang kini sudah ada di hadapanku.

“Aku sedang membaca” jawabnya singkat kemudian duduk di sebelahku. Ini anak bener-bener langka!

Aku terus menatapnya heran. Sepertinya ia sadar jika aku sedang melihatinya.

“Apa? Kau pasti heran padaku? Aku hanya mencari ketenangan di atas sana. Rumahku terlalu berisik! Aku jadi tidak bisa berkonsentrasi. Kau juga! Berhentilah mengomel, arrasseo?” Ia menunjuk wajahku, seakan-akan aku ini anak nakal yang harus diberi hukuman.

“kau ini jangan menuduhku sembarangan! Aku sedang ada masalah, jadi wajar jika aku mengomel” balasku tak mau kalah. Sekarang ia membaca sebuah buku yang tebalnya kurang lebih 20cm.

“masalah apa?” tanyanya masih tak lepas dari bukunya. Karena ia bertanya, dengan senang hati aku menceritakan semua masalahku dari A-Z dengan penuh emosi dan ekspresi. Tapi menyebalkan sekali, ia tak sedikitpun merespon.

Bahkan melirikku saja tidak. Aissh! Apa maunya?

“kenapa kau diam saja?” tanyaku padanya, entah kenapa aku bisa menceritakan semua masalahku padanya. Padahal tahu namanya saja tidak.

“begini ya… Siapa namamu?” akhirnya ia melihat ke arahku dan menutup bukunya.

“Kim Jonghyun, panggil saja njong” jawabku sambil mengulurkan tanganku untuk berkenalan dengannya.

“berapa umurmu?” Ia kembali bertanya. Nih anak banyak tanya juga!

“18 tahun. Waeyo?”

“Gwenchana, Richan imnida 15 tahun oppa!” Masih 15 tahun? Ah benar juga, jika melihat dari wajahnya.

“begini ya oppa, kau tau batu kan? Jika batu bertemu atau bertabrakan dengan batu lain, pasti salah satu dari mereka atau bahkan dua-duanya  akan hancur dan pecah benar? Itu adalah perumpamaan masalahmu. Appamu dan oppa sendiri sama-sama berwatak keras seperti batu. Jadi, semua masalah tidak akan selesai jika oppa juga ikut bersikap keras. Berlakulah seperti air yang secara perlahan melunakkan sebuah batu, pelan-pelan saja jika bicara dengan beliau. Tetap berlaku sopan, bahkan kalau perlu tunjukkan kemampuan oppa padanya. Tapi pertama-tama jadilah air yang lembut untuk melunakkan batu itu, arasseo?” Ia berkata panjang lebar, aku tak percaya jika kata-kata itu keluar dari mulut seorang perempuan berusia 15 tahun.

Kata-katanya barusan benar juga!

“haha, kau benar sekali Richan! Kamsahamnida~” ucapku berterima kasih, sambil mengusap rambutnya. Ia tak menggubrisku, masih asyik dengan buku di tangannya. Karena penasaran, aku mendekat dan mencoba melihat bukunya, sebelum ia mendorong badanku menjauh.

“Aku ingin menjadi penulis yang hebat oppa! Maka dari itu, aku suka membaca buku” ucapnya yang langsung kujawab dengan anggukan.

“Kau pasti bisa, Richan-ssi~ Hwaiting!” aku berdiri dan mengepalkan tanganku bermaksud memberi semangat padanya.

“Kamsahamnida oppa” balasnya yang juga ikut berdiri di sebelahku. Ternyata ia tidak lebih tinggi dari pundakku.

“kau ini pendek juga ya?  Aku merasa tinggi jika berada di sebelahmu haha” ledekku, karena diantara sahabat-sahabatku aku adalah yang paling pendek, aku sedikit merasa puas melihat tinggi badannya.

“Aish oppa! Jangan menghinaku!” ia terlihat kesal, dan kemudian menjinjitkan kakinya hingga bibirnya sejajar dengan bibirku sekarang. Aku bisa melihat kedua mata beningnya dengan jelas, ia sangat lugu dan polos. Tapi aku senang sekali melihatnya.

“Sudahlah Richan.a~ kau tidak perlu tinggi! Aku lebih suka perempuan yang lebih pendek dariku” Aku menurunkan badannya menyuruhnya tidak menjinjit. Kulihat wajahnya heran dan bingung terhadap perkataanku tadi.

“yaah.. Kau tau kenapa? Karena aku akan susah menciumnya nanti” candaku padanya yang membuat pipinya merah.

“kau jangan memanggilku oppa ya? Aku berasa tua! Panggil saja Jonghyun atau Jjong” pintaku padanya, untungnya dia mengangguk mau. Entah kenapa aku tak suka jika dia memanggilku oppa. Kami sempat mengobrol beberapa lama, sebelum seseorang datang memanggilnya.

“Richan.a~ ayo pulang! Kau tadi memanjat atap tetangga lagi ya?” seorang lelaki yang mukanya tak asing bagiku memanggilnya.

“oppa.. Emm maksudku Jjong, kau harus pulang dan menemui appamu, Yesung oppa sudah menyuruhku pulang.

“Jonghyun-ssi Hwaiting!” Ia menyemangatiku dan sebelum meninggalkanku, ia sempat mencubit pipiku. Apa maksudnya? Tapi sudahlah~ kuakui aku sedikit senang. Tunggu dulu, Yesung? Seseorang yang aku idolakan, jadi dia dongsaeng Yesung Suju. Pantas saja tingkahnya aneh! Aku menatap kepergiannya. Berharap akan bertemu lagi suatu saat, jujur ia sudah menarik perhatianku sejak pertama kali melihatnya…

@@@@@@@@

“Mungkin itu hanya akan menjadi kenangan” aku tersenyum mengingat kejadian saat aku pertama kali bertemu dengannya. Taman ini sedikit mengingatkanku pada hal itu. Namun percuma saja, aku tidak akan kembali bersama dengannya.

“sendirian Jonghyun-ssi?” seseorang menyapaku ramah dari belakang.

“Ne hyung” jawabku singkat pada Yesung hyung. Baru saja aku mengingatnya, tapi ia sudah ada di hadapanku.

Ia duduk di sebelahku, tidak bisa dipungkiri, aku sangat mengaguminya sebagai sosok senior yang hebat.

“Aku sudah mendengar semuanya dari Key dan yang lain tentang masalahmu dengan adikku.” Ia memulai pembicaraan tentang hal yang sebenarnya tak ingin kuingat. Mungkin jika hyung ingin mengajakku kembali padanya. Jelas sekali jawabanku adalah tidak.

“Tenanglah, aku tidak akan memintamu kembali padanya.” balasnya seakan mengerti isi kepalaku.

“Aku hanya kasian saja padanya, hari ini ia kehilangan dua orang yang dicintainya” lanjut Yesung hyung membuatku tambah bingung dengan ucapannya.

“Ah kau mungkin tidak tahu ya, jika Yunho akan pindah ke USA untuk waktu yang lama. Ia harus menemani ibunya terapi, sekaligus melanjutkan bisnis keluarganya disana. Tadi di Mubank, ia berpamitan denganku dan Richan. Kau tau kan jika Richan menganggapnya seperti oppanya sendiri? Ia sangat sedih mendengarnya.” Jawab Yesung hyung panjang lebar, menceritakan semua yang terjadi. Aku sedikit tak percaya mendengar itu semua.

“Pergi? USA? Lalu ungkapan cinta itu?”

“sebenarnya mungkin saja, jika Yunho pergi dan menetap disana. Ah itu! Ia memang mencintai Richan. Tapi kau tau sendiri jika adikku itu hanya mencintaimu.” ucapannya tadi membuatku terpaku. Bodoh sekali aku tak memikirkan hal itu! Aku terlalu terbawa emosi, bukannya menghibur kesedihannya, aku malah makin membuatnya terpuruk. Babbo!

“Belum terlambat!” Yesung hyung tersenyum padaku. Senyumannya meyakinkanku untuk kembali padanya!

Gomawoyo hyung!

Aku berlari ke arah mobil sambil menggenggam handphoneku bermaksud meneleponnya. Tapi usahaku sia-sia, nomornya tidak aktif! Aku akan mencarinya saja.

Kupacu mobilku dengan kecepatan yang tinggi. Aku tidak sabar ingin meminta maaf padanya.

Sesampainya aku di sebuah jalan, kubuka kaca mobilku. Sebuah toko ada di hadapanku. Ah aku akan menepati janjiku! Janji yang sudah hampir kulupakan. Aku berhenti sebentar dan memarkir mobilku, kemudian turun membelikannya  sebuah kado. Aku kembali ke mobil dan meneruskan perjalananku mencarinya, sial sekali nasibku! Ketika aku akan menghubungi teman-temanku handphoneku mati karena kehabisan pulsa, maksudku baterai.

Satu jam lebih, aku berkeliling mencarinya. Mulai dari gedung Mubank tadi, hingga ke apartemen sahabatnya dan juga sahabatku. Tapi mereka semua tidak ada! Kemana perginya mereka?

23.00 KST

Sudah 2 jam aku berputar-putar di seluruh kota. Tapi tak sedikitpun aku menemukan petunjuk keberadaannya. Aigoo~ apakah terjadi sesuatu padanya? Pikiran buruk menghantuiku. Aku benar-benar takut sesuatu terjadi padanya.

Sebaiknya aku kembali ke apartemen, lalu mengecash handphoneku. Dengan begitu aku bisa menghubungi seseorang. Langit kota Seoul semakin gelap, walaupun jalanan dipenuhi lampu, tetap tak bisa menutupi larutnya malam. Aku memacu kendaraanku dengan kecepatan sedang, sambil mencoba melihat ke sisi jalan barangkali akan menemukannya. Tapi usahaku sia-sia sudah sepuluh menit lebih, namun tak kutemukan apapun. Akhirnya aku sampai di apartemenku, setelah memarkir mobilku yang sedikit lecet karena kecelakaan tadi, aku bergegas turun dan masuk lobby.

Kutekan tombol lift menuju lantai 10, tempat kamarku yang bernomor 217 berada. Aku berjalan di lorong apartemen yang sepi, seperti biasa.

Setelah tiba di depan pintu kamar, aku segera masuk dan bermaksud untuk mencash handphone milikku.
PRUTT PRUTT *anggap aja suara terompet*

Suara bermacam terompet mengagetkanku, setelah menyalakan lampu, aku terkejut ketika melihat apartemenku dipenuhi oleh balon dan berbagai hiasan pesta. Key, Taemin, Minho, Onew hyung, Geulrin, Minyoung, Minhyo dan Heerin ada disana.

Aku diam, terpaku, dan sedikit bingung hingga Taemin menghampiriku, “Ini pesta comeback mu hyung!” Jelas taemin padaku lalu memberikan topi kerucut di atas kepalaku.

Aku spechless dan tak bisa berkata apa-apa, mereka memang sahabat yang terlalu baik. Kadang aku merasa tak pantas memiliki mereka.

“Tunggu dulu, kami belum selesai! 1..2..3..” Key mengacungkan jarinya seperti memberi perintah. Seketika itu juga suara kembang api dan petasan menggelegar, aku bisa melihat jelas dari jendela apartemen.

DUARR DUARR!

Suara kembang api dan petasan saling bersahutan.

“kami tau kau sangat suka dengan kembang api” lanjut Minho membuatku semakin tidak bisa berkata apa-apa selain “kamsahamnida” Aku membungkukkan badanku ke arah mereka. Tapi sesungguhnya kedua mataku masih mencari-cari keberadaan seseorang diantara mereka. Seseorang yang kuharap juga datang dan memberi ucapan selamat padaku.

“Kau jangan berterima kasih pada kami oppa” ucap Heerin dan Geulrin yang membuatku sedikit bingung.

“ini semua karena seseorang yang telah merencanakannya” lanjut Minhyo dan Onew bersamaan.

“Dan ia juga yang memberi tahu kami” Ujar Minyoung seraya tersenyum padaku.

Seseorang yang tak asing muncul dari arah dapur dan membawa sebuah kue untukku.

“Chukkae Jonghyun-ssi~ Aku hanya ingin menepati janjiku dulu. Jika saat kau comeback dan hari itu adalah hari yang special, aku harus membuatkan pesta untukmu. 31 Juli, adalah tanggal pertemuan pertama kita. Aku tau mungkin hal itu tidak penting lagi bagimu. Namun sekali lagi aku hanya ingin menepati janjiku” Ia menunduk lalu menyerahkan kue tart yang aku tau jika kue ini adalah buatannya sendiri.

“Janjiku sudah kutepati. Sekarang aku  tidak akan mengganggumu lagi, kamsa” Ia beranjak pergi lalu mengambil tasnya di sofa. Dengan segera, aku menyerahkan kue itu pada Taemin dan menarik tangannya.

“Aku tidak mau kau pergi” Aku masih menggenggam erat tangannya, mencegahnya untuk keluar. Aku tak mau kehilangannya lagi!

Ia menunjukkan muka bingung, begitu juga teman-temanku. Dengan pelan tapi pasti aku menariknya ke dalam pelukanku.

“Mianhaeyo~ aku masih ingin kau berada di sampingku” Lanjutku membuat mimik teman-temanku berubah senang.

PLUIT PLUIT!

Suara terompet dan peluit (?) terdengar lagi. Sahabatku menatap senang mendengar perkataanku.

“Richan.a~ bisakah kita bicara berdua di balkon?” ajakku padanya. Ia hanya mengangguk setuju, kami berdua pun pergi ke balkon sebelah ruang tamu yang hanya berbataskan pintu kaca.

“Gomawoyo untuk semuanya” Aku berterima kasih padanya. Sesuatu yang belum pernah aku ucapkan selama aku bersamanya.

Ia hanya tersenyum padaku dan menatap langit sambil berpegangan di pagar balkon. Aku ikut berdiri di sebelahnya, menatap kota yang bisa kulihat dari atas sini, Seoul memang indah di malam hari.

“Kau tidak memakai high heels lagi?” tanyaku padanya, ketika menyadari jika badannya tidak lebih tinggi dari pundakku.

“Aku kan tidak mau terlihat lebih tinggi darimu. Nanti kau akan susah menciumku” Jawabnya singkat membuatku menahan tawa.

Ah sebelum aku lupa, aku harus menyerahkan sesuatu yang kubelikan untukknya.

“Ah iya, aku punya sesuatu untukmu” Ujarku sambil menyerahkan sebuah kantung plastik yang dari tadi kubawa.

“apa ini ?”

“buka saja”

Ia membukanya perlahan, mimik wajahnya berubah menjadi begitu senang ketika tau jika sesuatu di dalamnya adalah novel favoritnya.

“Aku sudah berjanji padamu, tapi baru sekarang aku bisa menepatinya.” Ia terus berterima kasih padaku.

“bukalah halaman 317” perintahku padanya. Aku menyimpan sesuatu di halaman itu.

-Richan poV-

Aku mengikuti perintahnya dan membuka perlahan halaman 317. Ada sebuah benda yang mengganjal disitu. setelah kubuka, aku melihat sebuah cincin emas putih yang bertabur permata di atasnya.

“Apa ini?”

“cincin”

“aku tau jika ini cincin, maksudku adalah untuk siapa cincin ini dan apa maksudnya kau menyuruhku melihat cincin ini?” Tanyaku polos sambil menunjukkan cincin yang indah itu.

Itu untukmu. Kau pernah bilang padaku, jika aku sudah menemukan seseorang yang tepat untuk hidupku, aku harus segera melamarnya, benar?”

“Tapi aku masih 17 tahun”

“Aku tidak ingin kehilanganmu, dengan cincin ini aku mengikatmu untuk menjadi pengantinku, arasseo? Would you marry me?” Kata-katanya membuatku terpaku tak tahu harus berkata apa. Aku senang.. Tidak! Aku sangat bahagia mendengarnya, hingga tak terasa air mata jatuh di pipiku.

“Yes, I do” Aku menghapus air mataku dan mendekap cincin itu di dadaku.

Ia menggenggam tanganku, dan mengusap pipiku.

“Bolehkah aku meminta satu hadiah padamu?” Tanyanya seraya menunduk lalu mendekatkan wajahnya ke wajahku membuat jantungku berdegup kencang dan seluruh badanku menjadi panas.

Belum sempat aku menjawab, ia semakin mendekat.

Karena badanku yang terlalu pendek, aku sedikit menjinjit untuk meraih wajahnya. Tangan kirinya memeluk pinggangku sedangkan tangan kanannya merengkuh wajahku mendekat. Ia menempelkan bibirnya ke bibirku lembut. Aku merasakan kehangatan merasuk di tubuhku saat ia mendekapku sekarang. Bukannya berhenti, ia malah semakin lama menciumku. Aku membiarkan diriku hanyut bersama pelukannya.

<PLETAK PLETAK!!

Aku mendengar suara ribut dari arah pintu balkon. Saat aku ingin melihatnya, Jonghyun mengalihkan pandanganku dan kembali menciumku. Aku pun tak tau suara apa itu.

*author: itu suara Key, Minho, Onew, Taemin dan keempat yeojanya yang memukuli jendela dengan sendok karena melihat adegan antara Jonghyun dan Richan :p*

Aku tak akan membiarkannya pergi lagi. Aku ingin dia tetap berada di sampingku. Terus menjagaku, melindungiku, dan mencintaiku.

My Shinee-ing Love…

Akhirnya selesai juga !

Pertama-tama terimakasih untuk teman saya yang juga main cast di ff ini, karena telah membantu mencari judul ^o^ (Gomawo Heerin.a~) dan yang telah member saran (Gomawo Minhyo.a~)

Mianhae kalo kepanjangan dan nggak jelas

Don’t be Silent reader!

Just comment it !

And wait for the next chapter!

Kamsahamnida ^^

By: Rimahyunki

43 responses to “My SHINee-ing Love Story .1.(Jonghyun’s part)

  1. wow! jujur gua baru pertama kali baca ini.
    tadinya mau baca yg AGM dulu cuman ada yg diprotect jd gabisa!
    parah suka banget sama sekuel sekuelnya rima
    hahahaha Yeay! apalagi Castnya SHINee members semua :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s