My SHINee-ing Love Story .2. (Minho’s Part)

Genre : Romance
Rating : G
Length : One shoot/ Series
Main cast (pairing cast):

  • Lee Jinki/Onew (sbg. Aktor) – Kim Heerin
  • Kim Jonghyun (sbg.Solo Singer) – Kim Richan
  • Kim Kibum/Key (sbg. Desainer&stylist) – Cho Geulrin

  • Choi Minho(sbg. Atlet basket) – Lee Minyoung
  • Lee Taemin (sbg. Ketua klub Dancer) – Choi Minhyo

Other cast :

  • Donghae Super Junior, Go Hara Kara

Annyeonghaseo^^ author kembali lagi dengan part keduanya!
Seperti yang tercetak ungu di atas, part dua adalah part Choi Minho – Lee Minyoung.
Setelah part pertama cerita dari Kim Jonghyun – Kim Richan. Bagi yang belum baca part 1 , cukup klik disini
Gomawo ^o^

Ah~ reader dimohon untuk relax ya ? karena ini cerita sedikit lebih panjang dari part sebelumnya 😀
Author berharap part dua ini lebih bagus dari part pertama.


-Heerin poV-

Perkenalkan Heerin imnida 😀 Ah saya mendapat tugas untuk memperkenalkan YoungHo couple ^^. Mereka berdua adalah salah satu pasangan favoritku. Kau tau kenapa? Mereka memiliki karakter yang jauh berbeda. Tapi dengan perbedaan itu, Mereka bisa menjaga perasaan satu sama lain. Gaya berpacaran yang tentu saja tidak membosankan karena mereka sama-sama unpredictable 😀
Ne, saya gak mau berlama-lama.. Selamat membaca~ Annyeong~

11 Januari 2009

-Minyoung poV-

“Dimana aku?” tanyaku bingung begitu aku ada di sebuah danau yang aku sendiri tak pernah datangi, tau ada danau ini aja egak!
Aku masih berusaha mencari keberadaan seseorang atau sesuatu yang bisa kutemukan disini.
Tapi sudah dari tadi aku berputar dan menyusuri danau ini, sama sekali tidak ada apa-apa disini !
Oh Tuhan~ kenapa aku bisa ada disini?
Disaat aku berhenti di sebuah batu dan duduk disana, ada seekor kodok melompat-lompat di depanku.

“Aduh apa sih ni kodok?” tanyaku heran pada kodok itu. Tapi entah setan apa yang merasukiku, tiba-tiba kedua tanganku mengangkat kodok yang bermata besar itu dan menciumnya!

BLOOMMM

Seketika itu juga, kodok hijau bermata besar, berwajah pas-pasan itu berubah menjadi seorang pria bertubuh tinggi dan bermata besar. Aku tidak dapat melihatnya jelas, tapi sepertinya dia seorang laki-laki yang tampan. Saat ia dan aku saling mendekat…

KRINGGGGG !! !
MINYOUNG BANGUN ! !
ADA SMS DARI GEULRIN !!

GUBRAKK GUBRAKK!
Kurasakan badanku terjatuh dari tempat tidur karena terkejut dengan suara ringtone handphoneku yang berada di meja kecil sebelah kasur.
“Aduh!” Aku mengeluh kesakitan karena benturan keras antara badanku dan lantai.
Baru saja dua hari aku pulang dari rumah sakit setelah operasi usus buntu, sekarang badanku berasa remuk lagi.
“Aku baru menyadari jika ternyata itu tadi hanya mimpi! Syukurlah, Aku masih waras!”
Pikirku begitu lega karena aku tidak benar-benar mencium seekor kodok.
Aku bangun dari lantai dan meraih handphone yang membuatku terbangun sekaligus terjatuh dari tempat tidurku (=,=)

From: Geulrin
07.00

Minyoung.a~ kau jadi menonton pertandingan basket sekolah kita kan?
Cepat bersiap! Setengah jam lagi kami berempat menjemputmu!

To: Geulrin
07.05

Ne, Gomawo sudah membangunkanku !

Aku menaruh handphoneku di meja tadi dan bergegas bangun lalu menuju kamar mandi.

07.30

“Yakin akan ikut menonton? Kau kan baru saja kembali dua hari dari rumah sakit!” Heerin yang kelihatannya khawatir sekali padaku bahkan sampai menanyakan hal itu 2 kali dalam 5 menit (-.-)

“Aku yakin Heerin.a~ bisakah kau berhenti bertanya hal itu padaku? Aku sudah ngerasa nggak enak karena gak ikut tim sekolah bertanding di liga basket ini. Masa’ aku juga nggak ikut mendukung?” Jawabku panjang, lebar dan tinggi padanya.

“Tapi kami tidak mau tau jika terjadi apa-apa padamu. Arasseo?” sambung Geulrin dan Minhyo bersamaan.

“Iya iya!” Jawabku dengan nada agak tinggi, karena kesal mendengar omelan mereka.

10 menit lebih mobil kami berjalan. Richan yang berada di balik kemudi, seperti biasa, tidak berkata apa-apa dan tetap serius memandang jalanan.

Setelah mobil parkir di parkiran sekolah, aku dan keempat sahabatku masuk menuju Gedung Olahraga sekolah, gedung yang memang di desain untuk pertandingan ataupun latihan.
Setelah 5 menit mencari tempat duduk yang pas, akhirnya kami mendapat tempat yang cukup strategis karena jaraknya yang tidak terlalu jauh dari lapangan, hingga akupun bisa melihat jelas ke arah lapangan. Pertandingan pertama adalah pertandingan basket tim senior laki-laki melawan sebuah sekolah yang memang sudah daridulu menjadi rival sekolahku.

“Dengar-dengar dari sekolah itu ada atlet basket baru yang masuk ya” seseorang yang duduk di belakangku berbisik-bisik keras.
Atlet? Ah! Meskipun semua atlet Korea masuk ke sekolah itu, tim basket sekolahku pasti bisa mengalahkannya! Rekor menang dua kali membuatku cukup percaya diri, walaupun sayang sekali aku tidak dapat ikut bergabung.

Suara musik pertanda pertandingan akan dimulai, satu persatu anggota tim keluar dari camp dan mulai memasuki lapangan. Pertandingan bergengsi ini harus kalian menangkan! “Hwaiting~!” Aku berdiri dan berteriak kencang ke arah teman-temanku di lapangan.

“Bisakah kau diam? Kau ini seperti Jonghyun yang banyak bicara” Richan menyuruhku diam, aku mengacuhkannya dan alhasil dia menarikku duduk (-.-)

Aku melihat dengan seksama setiap wajah pemain yang masuk. Semua wajah lama yang banyak bermain, walaupun ada beberapa wajah baru dari sekolahku dan Korean 09 SHS *author ngarang banget :p*

Pandanganku terpaku pada seseorang yang mukanya tak pernah kulihat dari sekolah itu. Laki-laki yang bertubuh tinggi dan bermata besar.

Hey! Tunggu dulu! Dia seperti laki-laki yang ada dalam mimpiku!

Belum sempat melanjutkan hipotesaku,
perutku tiba-tiba melilit sakit. Aissh! Ini pasti gara-gara aku makan saus cabe pagi tadi!
Kepalaku juga terasa semakin berat gara-gara begadang semalaman menonton bola. Efeknya sekarang, aku linglung dan..

“Minyoung.a~ Gwenchana-yo?” sayup-sayup kudengar suara Minhyo dan yang lain, tapi aku tidak sanggup membuka mata.

-Author poV-

Minyoung terjatuh pingsan setelah mukanya terlihat sangat pucat.
Geulrin dan yang lainpun membawanya ke UKS sekolah.

15 menit kemudian….

-Minyoung poV-

Kedua mataku kubuka perlahan, walaupun sedikit berat aku berhasil membukanya dan menyadari jika aku sekarang berada di UKS.
Kuperbaiki posisi ku yang semula tidur menjadi setengah duduk.
Kurasakan kepalaku masih sedikit pusing dan berat, tapi aku berusaha mengerjap-ngerjapkan mataku dan memijat kepalaku agar merasa sedikit lebih baik.
Dari arah selambu tempat tidur, aku bisa melihat jika ada seseorang yang sedang duduk.
Setelah kubuka selambu yang menutupi, aku melihat seorang laki-laki yang duduk.
Tunggu dulu! Dia kan, pemain basket yang tadi kulihat!
Ia mendongak ke arahku membuatku dapat melihat jelas wajahnya!
Aigoo~ Dia benar-benar kodok yang aku impikan!
Apa maksud dari semua ini? Mimpi itu? Kodok? Dan sekarang kodok itu berada di hadapanku?

“Apa yang kau lihat?” tanyanya ketus membuatku terbangun dari lamunanku.

“Tunggu dulu, seharusnya aku yang bertanya! untuk apa kau disini? Aku yakin kau bukan murid di sekolahku”

“memang bukan! Salah satu seniormu menjatuhkanku, hingga kaki ku terbentur tiang dan berdarah”
Aku melihat ke arah kaki kanannya. Ah~ benar juga, kulihat lututnya diperban dan masih ada sisa darah di sekitar kakinya.
Aku tak mau begitu peduli, secara tidak langsung dia kan musuhku!

Badanku masih terlalu lemas untuk berdiri, aku sendiri malas untuk bangun.
Tapi tenggorokanku terasa kering sekali. Aku haus!

“hmm.. Tuan, bisakah kau membantuku? Tolong ambilkan minum di meja sebelahmu”

“kau bisa melakukannya sendiri!” balasnya singkat lalu kembali sibuk dengan kakinya.
Aissh Menyebalkan sekali dia!

“Mereka berempat kemana lagi?” keluhku kesal karena tak menemukan siapapun selain ‘kodok’ yang terus diam itu.

*Author: para flames tolong jangan bunuh saya*

Aku seperti sedang seruangan bersama patung, dia diam saja. Jangankan mengajak ngobrol, menoleh saja tidak!

Aku mengomel sebal, mengeluarkan segala emosi karena aku sendirian. Mana handphone ku mati ! Mereka tega sekali meninggalkanku !

“Bisakah kau diam? Kau ini seperti Jonghyun hyung yang banyak bicara” Akhirnya ia berkata juga setelah daritadi diam.
“Kau bilang apa? Jonghyun? Apa maksudmu Kim Jonghyun?” tanyaku bingung ketika ia berkata persis dengan kata-kata Richan tadi.
“ya Kim Jonghyun. Kau kenal dengannya juga?”
“Aku sahabat pacarnya, Kim Richan. Kau kenal?”
“Ah Richan~ tentu saja aku kenal”

Sebenarnya kami berdua masih ingin berbicara banyak. Tapi seseorang datang dari pintu dan memanggilnya.

“Minho.a~ Gwenchana-yo? Pelatih memanggilmu” Seorang yang masuk ke UKS mengajaknya pergi.

Ah jadi dia atlet basket yang terkenal itu?
Kami belum sempat berkenalan atau bicara banyak. Namun dari temannya tadi aku tahu jika namanya adalah Minho.
Ah tadi aku juga sempat melihat nama punggungnya yang bertuliskan ‘Choi Minho’. Satu yang kutahu pasti darinya dia adalah seseorang yang pendiam, serius, dan menyebalkan!

Keesokan harinya-

Aku meletakkan tasku di bangku setelah sampai di kelas.
Sepertinya Geulrin belum datang, karena aku tak melihat tasnya di sebelahku.
07.00
“Ah tentu saja dia belum datang!” seruku dalam hati. Sekolah memang baru dimulai setengah jam lagi.
Jujur saja aku masih penasaran dengan Minho! Entah magnet apa yang membuatku tertarik dengannya. Padahal dia adalah orang yang menyebalkan.

Aku berniat untuk pergi ke kelas Heerin, Minhyo, atau Richan.
Tapi belum sampai keluar kelas, aku melihat Richan berjalan di koridor sekolah.
Akupun berlari mengejarnya.

“Richan.a~!” aku memanggilnya dengan nafas yang tersengal.
Kami berdua mengobrol sambil berjalan.

“Kau kenal dengan Minho? Choi Minho?”
“Ah Minho oppa! Tentu saja! Dia sahabat baik Jonghyun”
“oppa?”
“Ne.. Dia lebih tua 2 tahun dari kita”
“Dia menyebalkan sekali ya?”
“Ah tidak juga! Menurutku dia oppa yang paling baik!”
“Jinjja?” tanyaku bingung. Ah benar juga! Dia kan mirip sekali dengan Minho (==) jadi wajar saja jika dia menganggapnya oppa yang baik.
Hmm haruskah aku memanggilnya oppa?

“Minyoung.a~ Kau tidak mau membantuku?” ia menunjukkan setumpuk buku yang ia bawa.
“Kau bisa melakukannya sendiri! Richan.a~ Hwaiting!~” Aku meninggalkannya dan berlari menjauh.
Haha mianhae Richan! ^^v

BRUKKK
Karena tak melihat jalan, aku menabrak seseorang di depanku. Tapi untungnya aku tidak terjatuh.

“Kau lagi?” seseorang bersuara berat yang tak lain adalah Minho.
Betapa sialnya aku bertemu dengannya dalam dua hari ini.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanyaku layaknya polisi yang menginterogasi seorang tersangka.

“Aku tak ada urusan denganmu. Sudah dulu ya” Dia pergi begitu saja tanpa meminta maaf ataupun memberi salam (~.~)

“Richan.a~” aku mendengar teriakannya, dia berlari memanggil Richan.
Aku hanya menatapnya bingung.

-Richan poV-


“Richan.a~” kudengar suara memanggilku lagi, tapi kali ini bukan suara Minyoung. Akupun berhenti untuk memastikan.

“Minho oppa? Tumben sekali datang kemari. Waeyo?” tanyaku bingung karena ternyata orang yang memanggilku adalah Minho oppa.
Aish aku harus mendongak lebih tinggi untuk melihat wajahnya (*.*)

“Gwenchana. Aku hanya ingin memberikan titipan dari Jonghyun hyung” Ia menyerahkan sebuah kotak padaku.

“Hanya itu saja?”

“Anhiyoo, aku juga sedang ada urusan dengan pengurus basket disini. Hmm boleh aku bertanya?”
Kenapa baru sepagi ini tapi sudah ada dua orang yang mengajukan pertanyaan untukku? (=.=)

“Kau kenal dengan dia tidak?” tunjuknya ke seorang perempuan yang berjalan menuju kelas.

“Minyoung? Yah tentu saja aku kenal, dia sahabatku”

Kami banyak mengobrol tentangnya. Lebih tepatnya Minho oppa banyak bertanya padaku tentangnya.
Hmm.. Ada apa ini?

“Memangnya ada apa oppa?” kali ini giliranku bertanya padanya tapi tak kunjung ada jawaban darinya. Sekarang ia malah diam dan melamun.

“Kau naksir padanya ya?” seruku membuat ia terbangun dari lamunannya.

“Ah Anhi Anhi Anhi !” Dia berteriak padaku.

“Kau tidak bisa berbohong padaku oppa! Tenang saja aku akan mendukungmu!”

“Kau ini bicara apa! Ya sudah, aku pergi dulu. Annyeong~”

“Tunggu dulu oppa! Kau tidak mau membantuku membawa ini?” aku menunjukkan setumpuk buku yang daritadi berada di tanganku.

“Kau bisa melakukannya sendiri! Richan.a~ Hwaiting!~”

“………”

Gedung Olah raga
-Minyoung poV-

Sudah seminggu lebih setelah aku pulang dari rumah sakit, kuputuskan untuk ikut latihan basket kembali. Eomma sempat melarangku keras. Tapi dasar aku anak bandel, aku dapat membujuk eomma untuk mengijinkanku ikut latihan lagi (^o^)

18.00 KST

Latihan berakhir 15 menit lagi, aku terduduk di pinggir lapangan sambil menelonjorkan kakiku. Kurasakan keringat mengucur deras dari tubuhku setelah 3 jam latihan.
Aku menoleh ke arah bangku penonton dimana keempat sahabatku duduk tadi. Mereka berempat berjanji menemaniku saat aku kembali latihan. Mereka takut jika aku tiba-tiba pingsan atau sekarat.
Kadang mereka terlalu lebay! (=,=)

Karena sudah lama tidak latihan. Nafasku tersengal-sengal dan mataku sedikit berkunang-kunang sekarang. Akhirnya pelatih menyuruhku duduk untuk beristirahat di pinggir lapangan.
“AWASS!” Seseorang tiba-tiba saja berteriak membuatku kaget. Dengan segera aku mendongak, dan mendapati dua buah bola basket meluncur kencang ke arah wajahku.

Cittttt *anggap suara bola yang sedang meluncur*

Seseorang tiba-tiba saja muncul dan menangkapnya dengan sigap.
Aku mencoba berdiri dan melihat ke arahnya.

“Hey kau sengaja melempar bola ke arahnya ya!” Suara berat yang tak asing di telingaku menunjukkan nada marah ke Go Hara.

“Kau gila apa? Kalau dendam padanya bukan begini caranya!” Ia kembali berteriak membuat wajah Hara bersemu merah dan kesal.
Bukannya meminta maaf padaku, ia malah berlalu pergi bersama teman-temannya.
Dia adalah seseorang yang sangat tidak menyukaiku karena posisiku sebagai kapten tim.

“Kamsahamnida oppa” Aku menunduk seraya berterima kasih padanya setelah ia menyelamatkan wajahku dari kedua bola tadi.

“Cheonmaneyo. Sepertinya kau lelah sekali Minyoung.a~” Ia menyerahkan sebuah handuk kecil untuk menyeka keringatku. Dengan senang hati aku menerimanya.
Tunggu dulu! Darimana dia tau namaku?
Ah tentu saja dari Richan!

-Minho poV-

Setelah latihannya selesai, aku mengajaknya pergi makan ke luar. Sepertinya ia sedang lapar sekarang.

“Kenapa kau tiba-tiba ada disini?” tanyanya begitu selesai ganti baju.
Aku bingung akan menjawab apa, karena tidak mungkin jika aku menjawab kalau kedatanganku kesini untuk melihatnya.

“Aku ada janji dengan Richan dan Jonghyun hyung tadi” jawabku dengan muka datar berusaha menutupi rasa gugupku.

“Ah iya~ aku tadi datang bersama temanku tapi kenapa mereka tiba-tiba hilang?” Ia bertanya padaku yang kujawab dengan gelengan kepala karena memang aku tidak tahu.

Kami berdua keluar gedung dan berjalan mencari makan.

18.30

Aku melihat jam di tanganku. Biasanya cuaca akan tambah dingin pada malam hari.
Aku menoleh ke arahnya yang daritadi juga diam bersamaku.
Aku tidak tau harus mulai berbicara apa padanya, ah babo!
Kami berdua masih terus berjalan di pinggir trotoar, memandangi suasana malam yang semakin gelap.

“Emm Minyoung.a~”
“oppa”
Kami berdua berkata bersamaan.

“Mwoeyo?” tanyaku terlebih dahulu.

“Gwenchana”

Kami berdua kembali terdiam tanpa berbicara lagi.
Choi Minho! Babo!

Aku melihat ke arahnya yang hanya memakai sweater tipis dan celana jeans.

“Pakailah ini” aku melepas blazer hangat milikku dan menyerahkannya padanya. Setidaknya ia akan merasa lebih hangat sekarang.
Ia tersenyum ke arahku, membuat wajah tomboy nya menjadi begitu manis.

“Kamsahamnida oppa”

“Emm, bisakah kau tidak memanggilku oppa? Panggil saja Minho”

“Ne oppa , maksudku Minho”
Aku tersenyum padanya. Ia benar-benar manis sekarang, berbeda sekali dengan seseorang yang kutemui di UKS waktu itu.
Ah~ setiap orang pasti punya dua sifat yang berbeda.

Langkahku terhenti setelah aku melihat dia tidak ada di sebelahku.
Aku langsung menoleh ke belakang dan mendapatinya sedang jongkok kesakitan.
“Gwenchana-yo Minyoung.a~?” tanyaku begitu khawatir setelah melihat raut mukanya yang pucat.
“Gwenchana Minho.ssi~ sepertinya maag ku kambuh” Ia menjawab sambil memegangi perutnya.

“Apa kau membawa obat?”

“Ne, ada di tas”
Dengan sigap aku mengangkat tubuhnya bermaksud menggendongnya, tapi ia melarangku.
Akhirnya aku hanya memapahnya dan membawanya ke restoran terdekat.

“Makanlah ini dulu? Setelah itu kau minum obatmu” suruhku padanya.

Ia pun menuruti perintahku dan memakan sup ayam yang dihidangkan.
Aissh~ dia berhasil membuatku khawatir ! (>.<)

Aku menungguinya memakan supnya sampai habis dan kemudian memberikan obat padanya. Wajahnya sudah tidak pucat lagi, ia sendiri juga berkata jika perutnya tidak sakit lagi. Aku lega sekali mendengarnya!

Minyoung poV-

Minho masih terus memperhatikanku makan. Walaupun sedikit risih, tapi aku berusaha menghabiskan makanan yang ia pesan. Sesekali aku menoleh ke arahnya yang sedang melihatku begitu serius.

Ah~ dia tidak berubah! Tetap seorang yang serius!

Tapi jujur harus kuakui, aku berhutang budi padanya. Ternyata dia tidak se menyebalkan yang aku pikir. Perutku sudah kenyang sedari tadi, tapi aku tak enak jika tidak menghabiskan makanan yang telah ia pesan.

“Kau tidak makan? Ini makanlah” aku mengacungkan setusuk sate ikan yang terkenal dengan kelezatan dagingnya di Seoul.

Aduh aku babo! Kenapa aku berancang-ancang akan menyuapinya? Aissh~ bagaimana jika ia menolaknya!? Tapi diluar dugaanku, dia malah menyambar sate yang ku berikan dan memakannya dengan lahap.

“Aku mau lagi?” Ia memintanya lagi padaku.

Sungguh sesuatu yang tak kusangka, tapi dengan senang hati aku menyuapinya lagi. Sekarang ia berada tepat di depanku.

Jarak kami pun cukup dekat. Aku bisa melihat kedua mata besarnya yang indah, tidak bisa dipungkiri jika dia memang tampan sekali !

Wajahnya yang dewasa dan serius membuat hatiku tenang jika melihatnya. Sepertinya ia menyadari jika aku melihatinya, dengan cepat aku mengalihkan pandanganku darinya. Tapi kau tahu apa yang ia lakukan? Ia menarik wajahku kembali melihatnya dan kemudian mengacak-acak rambutku.

@@@@@

11 Januari 2010

Kenangan itu terus berputar di otakku, terbayang jelas tanpa aku inginkan. Semua memori pertemuanku dan Minho seakan mengiringi perjalananku menuju Bandara Incheon. Aku memandang keluar jendela taxi dan menatap pemandangan kota Seoul dengan hampa.

Setelah 10 menit lebih, aku menaiki sebuah taxi, akhirnya aku sampai di bandara itu.

Incheon Airport-

Aku turun dari taxi dan berjalan masuk menuju lobby utama. Kulihat keempat temanku dan namja mereka sudah berada disana menunggu kedatangan seseorang. Yah, menunggu kedatanganku!

Aku berjalan malas ke arah mereka. Mereka melihatku dengan tatapan yang tak ingin kulihat. Tapi aku tak menghiraukannya, karena sekarang pandanganku terhenti pada seseorang yang berdiri di sebelah sebuah koper besar bewarna hitam.

@@flashback@@@

27 Desember 2009

-Minyoung poV-

“Ada apa chagiya?” tanyaku pada Minho setelah ia membawaku ke sebuah taman dekat sekolah. Ia tak menjawab pertanyaanku. Seperti biasa, ia diam dan menatap taman dengan serius.

Aku tak mau memaksanya bicara, jadi aku mengalihkan kegiatanku dengan bermain game di handphone ku. Aku berteriak saat aku kalah bermain! Aku tidak bisa menerima kekalahan! Dengan sekuat tenaga aku mengulang permainan ini dan berusaha memenangkannya sebelum handphoneku direbut oleh Minho.

“Hey Minho.ssi~! Kembalikan handphoneku!” Aku berusaha mengambilnya dari balik punggungnya.

“Tenanglah sedikit! Aku akan mengembalikannya, tapi kau harus mendengarkanku dulu. Arasseo?” aku mengangguk menjawab pertanyaannya. Kulihat dia memasukkan handphoneku ke kantung celananya.

Sesaat kemudian ia memelukku tanpa mengucapkan apa-apa. Aku berusaha bertanya padanya, walaupun tetap tak ada jawaban keluar dari mulutnya. Kuberanikan melepaskan diri dari pelukannya dan menatap keduanya matanya dalam-dalam.

“Minyoung.a~ kau tidak boleh manja lagi selama setahun ini ! Tidak boleh cerewet dan cemburuan. Arasseo?” aku menatapnya penuh kebingungan, kucoba mencerna perkataannya tapi tetap tak bisa.

“Kau harus nurut pada eomma dan oppamu, gak boleh cemburu lagi sama Hara, gak boleh telat makan, gak boleh terlalu capek.” Ia melanjutkan kata-katanya yang semakin membuatku bingung.

“Karna selama setahun lebih, aku tidak bisa terus menjagamu. Aku diundang sebuah klub basket di USA untuk bermain disana, dan aku sudah menanda tangani kontrak dengan mereka selama setahun. 2 minggu lagi aku berangkat kesana”

“Kenapa kau tidak memberitahuku tentang hal sepenting ini?”

“Mianhae, Aku.. Aku.. tidak sempat”

“Ah tentu saja! Kau memang seorang atlet yang super sibuk. Chukkae~ atas keberhasilanmu” aku tersenyum sinis kepadanya.

Dia benar-benar kelewatan! Menyembunyikan hal ini dariku. Aku menatap tajam ke arahnya, hatiku menjadi penuh emosi. Dan saat itu juga aku meninggalkannya pergi.

@@@@@@@

Seminggu setelah dia memberitahu hal itu padaku, aku tidak mau bicara sekalipun dengannya, membalas smsnya ataupun mengangkat telpon darinya. Sepulang sekolah aku langsung mengunci diriku di kamar.

Aku benar-benar tak bisa menerima semuanya! Jujur saja aku marah dan kecewa karena sikapnya yang sepihak tanpa memberitahuku. Apalagi dia pernah berjanji untuk mengajariku agar menjadi seorang atlet basket yang hebat! Dan sekarang? Dia akan pergi begitu saja!

19.00

Aku menatapnya masih dengan pandangan kesal dan marah. Pesawatnya akan take off satu jam lagi, tapi aku masih berdiri terpaku melihatnya. Hari ini, detik ini juga, aku akan melepas kepergiannya ke USA. Pandanganku masih tak bisa lepas dari seorang pria yang telah membuatku jatuh cinta padanya.

Semua perasaan marah dan kecewa, kini terganti dengan perasaan sedih karena aku akan kehilangannya selama setahun lebih. Hubungan kamipun merenggang menjelang kepergiannya karena amarahku. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Itu impiannya, sesuatu yang sangat diinginkannya. Setuju ataupun tidak dia akan tetap pergi dari Seoul..

-Minho poV-

Setelah satu jam menunggu kedatangannya. Akhirnya ia datang juga untuk mengantarku ke bandara. Aku masih berdiri menunggunya mendekat dan memelukku. Namun ia hanya diam di tempatnya, matanya yang bening menatapku penuh kesedihan.

Aku tau ini semua salahku! Aku memang tak bisa menjadi seorang namja yang baik. Selama berpacaran denganku, ia sering mengeluh jika aku diam dan terlalu serius. Yah, kuakui dia memang seorang yeoja yang sedikit cerewet seperti Jonghyun hyung dan sedikit manja. Tapi entah kenapa, hal itu adalah hal yang kusukai darinya. Dengan sifatnya yang seperti itu, aku jadi lebih ingin melindunginya.

Namun sekarang, aku berhasil membuatnya sedih! Mianhaeyo chagiya~ Aku tak tahan jika hanya berdiam diri disini dan pergi begitu saja.

Aku berjalan mendekat ke arahnya, berharap agar ia tidak berlari. Kubuka kedua tanganku dan mendekap tubuhnya erat di dalam pelukanku. Aku merasakan jaketku yang hangat dan basah, ia menangis di pelukanku. “Jeongmal mianhaeyo chagiya” aku mengusap rambutnya lembut dan semakin mempererat pelukanku.

Kurasakan ia semakin deras menangis. Kuangkat wajahnya perlahan dan menghapus air mata yang jatuh di pipinya.

“Aku tidak akan memaafkanmu jika kau tidak cepat kembali” Dia berkata sesengukan di tengah tangisannya membuatku semakin berat meninggalkannya.

“Aku berjanji gadis manja”

Aku menariknya dalam pelukanku, tidak peduli jika seandainya semua orang disini melihat ke arah kami. Aku ingin terus memeluknya, karena selama setahun lagi aku tidak bisa merasakannya. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku memeluknya, hingga suara seorang petugas bandara memberikan informasi dari sebuah pengeras suara.

“Penumpang dari pesawat Korean Airlanes yang menuju USA diharap segera masuk ke terminal penerbangan karena 30 menit lagi pesawat akan lepas landas” Suara seorang perempuan membuatku harus melepaskan pelukanku dari Minyoung.

Aku menunduk lalu mencium keningnya beberapa lama, “Berjanjilah kau akan menungguku”

“Ne, hiks kau harus jadi hiks pemain yang hebat!” Ia memberikan semangat padaku, meskipun kedua matanya merah.

“Tentu saja!” Aku mengepalkan tangan kananku lalu berjalan perlahan menuju terminal keberangkatan setelah berpamitan dengan Onew hyung, Jonghyun hyung, Kibum, Taemin dan keempat yeoja mereka. Aku masih berjalan mundur sambil melihatnya yang masih mengusap matanya. Keempat sahabatnya menghampirinya dan memeluknya.

“Tolong jaga dia untukku!” Ucapku dalam hati sembari berjalan masuk ke dalam pesawat, melangkahkan kedua kakiku meninggalkan Seoul dan semua keluargaku…

14 Februari 2010

Sebulan lebih Minho pergi ke USA . Tentu saja kami masih sering berhubungan, aku sering sekali menelepon atau sekedar mengirim email padanya, bertanya tentang keadaannya disana. Hari ini hari kasih sayang, kami berdua memang tak pernah merayakannya selama ini. Tapi hari ini menjadi hari yang tak biasa untukku karena aku melewatkannya sendirian.

To: Chagiyaa

Chagi selamat hari kasih sayang!

Na do saranghae♥

Take care~

Karena sekarang hari Minggu dan besok adalah ujian akhir semester, aku tak bisa berlama-lama menghubunginya melalui telepon ataupun web cam. Ah~ biasanya aku akan belajar bersama dengannya menjelang ujian. Aku menutup buku geometri milikku setelah dua jam lebih aku membacanya. Kuambil handphone ku di tempat tidur untuk mengecek kotak masuk. Aissh~ apa dia terlalu sibuk, sampai tidak mau membalas smsku!! (>.<)

Jum’at, 26 Februari 2010

“Minyoung.a~ jangan melamun saja!” Heerin membuatku terbangun dari lamunan.

“Kau pasti memikirkan Minho oppa? Jangan stres begitu! Liatlah, matamu semakin besar” sambung Geulrin membuatku ingin menempeleng kepalanya, tapi tertahan karena statusnya sebagai magnae.

DRRT DRRT

From: Chagiyaa

Ah mianhae baru membalas! Saranghae chagiyaa~♥

Aku menutup flip handphone ku tanpa membalas sms darinya, karena kurasa percuma saja. Ia akan membalas sms atau emailku paling cepat 5 hari setelah aku mengirimnya.

Pesta Kelulusan, 9 Desember 2010

Aku menatap seorang perempuan bergaun putih di dalam cermin.
Hari ini aku akan menghadiri pesta kelulusan SMA dan melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi.
Tidak terasa sudah 3 tahun lebih aku menjadi seorang siswa, dan tahun depan aku akan menjadi seorang mahasiswa.

Dan tidak terasa sudah hampir setahun, Minho berada di USA.
Sebulan, dua bulan setelah kepergiannya kami masih sering saling menghubungi.
Ah anhiyoo~!
Aku yang selalu menghubunginya. Jika aku tidak mulai duluan, pasti ia tak akan menghubungiku.
Namun, kami semakin jarang berhubungan selama beberapa bulan ini. Bahkan terakhir kali aku meneleponnya adalah ketika ia memenangkan sebuah pertandingan persahabatan april lalu..

United States of America
9 Desember 2010

-Minho poV-

Hari ini aku diijinkan pelatihku untuk beristirahat setelah kemarin cidera engkelku kembali menyerangku.
9 Desember 2010! Ini tanggal ulang tahunku kan? (O.o)
Selama berada di USA, aku tak pernah bisa memikirkan sesuatu selain “Berlatih berlatih dan bertanding”
Peraturan di asrama tempatku tinggal juga sangat ketat. Aku dan pemain baru lainnya tidak diijinkan menyentuh laptop ataupun handphone selama beberapa bulan menyambut pertandingan di liga basket utama.

Bahkan aku tak bisa membalas pesan Minyoung dan sahabat-sahabatku!
Aissh~ aku benar-benar merindukan kalian!
Kalau tidak salah, hari ini pesta kelulusan Minyoung.
Aku akan meneleponnya memberikan selamat padanya sekaligus bertanya apa dia masih ingat jika hari ini adalah hari ulang tahunku.
Jujur saja hubunganku dengannya semakin renggang semenjak dia jarang menghubungiku.
Ah~ mungkin dia sedang sibuk dengan ujiannya.

Kutekan sebaris nomor yang aku sudah hafal betul. Tapi sayangnya setiap aku menghubunginya nomornya selalu sibuk.
Kuputuskan untuk mengirimkannya sebuah pesan saja, karena kebetulan laptopku sedang dikarantina.

To: Chagiyaa

chagiya~ aku rindu sekali padamu!
Kalau tidak salah kau lulus ya hari ini?
Chukkae~
kau ingat kan tanggal berapa hari ini? Aku menanti kado darimu. Saranghae♥

Aku berharap dia cepat membalas pesanku karena jarang sekali aku mendapat kesempatan bebas memegang handphoneku. Yah~ aku anak baru disini, jadi aku tidak boleh macam-macam.

Seoul, 9 Desember 2010
23.30

-Minyoung poV-

Aku melepas gaun kelulusanku dan menggantinya dengan piyama mickey mouse kesayanganku.
Hari ini aku cukup senang dan lelah!
Kunyalakan handphone yang sengaja kumatikan hingga banyak sekali Sms yang masuk.
Semuanya adalah laporan jika aku telah dihubungi sebuah nomor berkali-kali.

Itu nomor Minho, akhirnya kubuka sebuah sms darinya dan membaca semua pesannya.
Memang tanggal berapa sekarang?
9 Desember 2010

Ah mianhae chagi~ aku hampir lupa.
Karena tak mempersiapkan apa-apa, kuputuskan untuk memberikannya foto-foto kelulusanku bersama yang lain melalui MMS sebagai kado ulang tahunnya..

14 Februari 2011

Ini hari kasih sayang kedua yang aku lewati tanpa Minho.
Seharusnya dia pulang sebulan yang lalu.
Tapi entah karena alasan apa dia tidak juga kembali! Bahkan ia tidak memberiku kabar apapun!
Aku merasakan jika hubungan kami sudah semakin retak. Tapi aku tidak mau membuatnya hancur, aku tetap berusaha untuk bertahan, karena aku masih menyayangi Choi Minho!
Sekotak bekas coklat tersimpan rapi ketika aku membuka laci mejaku. Bekas coklat yang mengingatkanku pada kejadian 2 tahun lalu.

@@@Flashback@@@

Aku menatap tajam ke arah seorang perempuan genit yang menggandeng tangan seorang namja yang ku kenal, Minho.
Gadis genit itu adalah Go Hara. Dia terus menarik-narik tangannya merengek-rengek manja.

Cuih.. Jijik sekali aku melihat tingkahnya!

Ia menyerahkan sebuah kotak coklat mahal sebagai hadiah valentine, dan kau tau apa yang dia lakukan? Ia berusaha mencium Minho!

“baiklah aku terima coklatmu”
Ia menerima kotak coklat yang diberi Hara dan melepaskan tangannya.

Aku bermaksud pergi dari situasi yang membuatku ingin mual itu sebelum seseorang menarikku.

“Minyoung.a~ Selamat hari kasih sayang. Ini untukmu” Ia memberikan kotak coklat yang baru saja diberikan untuknya dari Hara.
Aku menatapnya bingung. Disisi lain aku melihat muka Hara yang memerah dan kedua matanya berkaca-kaca.
Aissh aku senang melihatnya, tapi aku kasian juga padanya.
Setelah Hara pergi, aku menyerahkan coklat itu kembali pada Minho.

“Aku tau kau hanya ingin menolaknya secara halus”

“Anhiyoo~ ini memang untukmu. Kau tau? Kau adalah perempuan pertama yang kuberi hadiah”

“Jinjja? Kau juga laki-laki pertama yang memberiku coklat”

“Kalau begitu, kau mau kan jadi yeojachingu pertamaku?”

@@@@@
Aku tersenyum mengingat semua kejadian itu.
Aku benar-benar berharap jika kotak ini bukanlah hadiah terakhir yang ia berikan untukku.

USA, 14 Februari 2011


“Tertunda lagi??” Seseorang berteriak keras.

“Jeongmal mianhae, kita terhalang perijinan dan kontrak yang sengaja mereka buat untuk mempersulit kau”

“Jadi berapa bulan lagi kita harus menunggu?”

“7-8 bulan lagi paling cepat”
~~~~~
Seoul, 9 Mei 2012


-Minyoung poV-


Sudah 2 tahun lebih dari kepergiannya, tapi ia tak kunjung kembali.
Tak ada kabar berita darinya. Aku yakin dia betah tinggal disana dengan dikelilingi ratusan fans yang menggilainya karena kudengar ia sukses memenangkan beberapa gelar bersama klub barunya.

Aku menyetir mobilku ke selatan, bermaksud menghirup udara segar karena kebetulan hari ini aku tidak ada kelas.

Aku menghentikan mobilku di sebuah danau yang sejuk, yah tentu saja! Ini masih jam 6 pagi!

Aku berjalan menusuri danau dan duduk di sebuah batu besar.

Besok adalah pesta pertunangan Richan dan Jonghyun oppa. Dan sebulan lagi mereka menikah.

Ah~ sedangkan aku?

Ia tak menepati janjinya untuk segera kembali.
Kepercayaanku padanya sudah hilang setahun lalu.
Aku juga tak menepati janjiku untuk menunggunya.
Aku sempat berpacaran dengan Siwon yang juga oppa dari Minhyo selama sebulan.
Richan menolak keras hubunganku, hingga akhirnya hubungan ini hanya berlangsung tidak lebih dari 2 bulan.

Aku menatap danau yang ada di depanku, danau yang mengingatkanku pada mimpiku beberapa tahun lalu.

Aku berdiri dari tempatku duduk dan melihat sekeliling dengan mata membelalak.

Benar-benar danau dalam mimpiku!!

NGOEK NGOEK *bayangkan suara kodok*

Seekor kodok melompat-lompat di depanku. Dengan sigap aku mengambilnya dan memperhatikannya baik-baik.
Anhiyoo! Aku tidak akan menciumnya kali ini !

“Sejak kapan kau suka kodok?” Suara berat yang lama tak kudengar mengejutkanku dari belakang.
Spontan aku membalikkan badanku dan melihat seorang pria dengan tubuh yang tinggi dan berotot sedang melihatku dengan senyuman khas seorang Minho!

-Minho poV-

“Sejak kapan kau suka kodok?” tanyaku padanya setibanya aku di sebuah danau.
Matanya menatap keberadaanku masih tak percaya.
Kepulanganku memang diluar rencana, masalah perijinan dan kontrak membuatku harus tertahan disana selama setahun.
Selama berada disana bukan berarti aku tak tau kabar tentangnya, Hyung-hyung dan dongsaengku sering menghubungiku melalui manajerku.

Ia mulai berjalan mendekatiku.
Wajahnya berubah dari heran menjadi penuh emosi.
Dia memelototiku tajam sambil menunjuk ke arah wajahku.

“Hey kalian berdua ! Jangan saling pelototan gitu! Mata kalian itu udah gede, pake melotot begitu? Horor!” suara cempreng seorang wanita yang adalah Geulrin membuat wajah kami berdua merah.
Dia memang sama-sama asal ceplos seperti Kibum!

Ah iya, aku datang tidak sendiri. Bersama keempat sahabatku dan yeoja mereka.

“Richan.a~ Jonghyun oppa~ kalian akan bertunangan besok, kenapa masih berkeliaran?” Minyoung mengalihkan pembicaraan dan berjalan ke arah mereka.

“Kami hanya ingin ikut ke festival”

“mwo?”

“Ne, Minho yang mengajak” tunjuk Heerin dan Onew bersamaan.

Kamipun masuk ke mobil masing-masing, kesempatan itu tak kusia-siakan untuk berbicara empat mata padanya.
Di mobil, aku menceritakan semua kejadian yang membuatku tertahan lama disana.
Dia juga menceritakan tentang keadaan selama aku tidak ada disini, termasuk hubungannya dengan Siwon hyung.

“Mianhae” aku memeluknya lembut. Sesuatu yang benar-benar ku rindukan.

“Aku juga minta maaf karena tak bisa setia menunggumu”

TINN TINN TINN

Suara klakson yang begitu keras membuat kami berdua kaget.

“Dilarang berpelukan dalam mobil!” Kibum tersenyum jahat sambil berlalu dari mobil kami.

Festival sirkus Seoul-

-Minyoung poV-

Hari ini hari yang membahagiakan untukku. Hari ini Minho kembali. Semua perasaan yang kukira sudah hilang, ternyata masih tersimpan dalam di hatiku.

Perjalanan pertama kami bersepuluh adalah melihat aksi-aksi pemain sirkus yang pasti membuat semua penonton mengernyitkan wajah, kecuali Minho dan Richan yang tetap memampang muka serius tentunya (=,=)

Beberapa jam kami semua menikmati segala pertunjukkan dan permainan disini, hingga memutuskan untuk berpisah dengan pasangan masing-masing.

“Ayo noona kita pergi kesana!” Taemin menarik tangan Minhyo membuat mereka berpisah dari aku dan Minho.

“Minyoung.a~ aku ingin menantangmu bermain basket! Dan kau harus mau!” tiba-tiba saja Minho mengajakku.Dia ini apa-apaan sih? Baru saja pulang langsung mengajak bertanding?
Sungguh tidak romantis!
Tapi akhirnya aku menerimanya, karena aku mau membalas kekalahanku lalu dengannya.
Satu sifat yang sama-sama kumiliki dengannya adalah tidak mau kalah.
Skor kami imbang 1-1 tapi pertandingan terakhir adalah kekalahanku (=3=)

Ia mengajakku ke sebuah gedung olahraga dekat festival ini.
Karena sudah malam, penerangan disana hanya berfokus pada lapangannya saja.

Tidak ada seorangpun disini, yah jelas saja! Siapa yang mau bertanding di malam festival? Kecuali aku dan Minho tentunya!

Perjanjiannya, kami hanya akan bertanding selama 20 menit empat kuarter.

“Sebelumnya aku minta satu hal padamu! Jika aku menang kau harus menerima semua permintaanku, arasseo?”
Aku mengangguk pertanda setuju, walaupun tidak mengerti maksudnya tapi aku jadi lebih bersemangat untuk menang!

-Author poV-

Dua kuarter pertama Minyoung unggul dengan kedudukan 20-18
Namun dua kuarter terakhir Minho akhirnya memenangkan pertandingan dengan skor 50-30.

“Sial!” Minyoung membanting bola basket itu keras ke arah lapangan. Ia tak bisa menerima kekalahan keduanya.

-Minyoung poV-

Aku bermaksud keluar dari gedung ini. Jujur saja aku tak suka jika kalah, walaupun itu namjaku sekalipun.

“Aissh kau mau kemana? Kau harus sportif!” Ia menarik tanganku menahanku pergi. Aku masih diam menatapnya sinis.
Baiklah, walaupun kalah aku harus sportif..

“Kau berjanji kan akan menerima semua permintaanku?” Ia menanyakan hal itu lagi, dan aku hanya mengangguk malas menyetujuinya.

Aku tetap diam di tempatku berdiri, beberapa menit setelah dia bertanya padaku tiba-tiba saja lampu di kursi penonton yang semula padam menyala satu persatu.

Aku kaget melihat semua lampu yang tiba-tiba menyala.
Dari arah pintu penonton Heerin, Onew oppa, Taemin, Minhyo, Key oppa, Geulrin, Jonghyun oppa dan Richan masuk mengenakan kaus putih.

Minho berlari menuju mereka dan berteriak

“Aku memang tak bisa se romantis Jonghyun hyung, sehebat Kibum, selucu Onew hyung atau seimut Taemin. Aku adalah Choi Minho yang tidak sempurna, Tapi Choi Minho ini memiliki cinta yang sempurna untuk Lee Minyoung”

Seketika itu juga mereka berdelapan berbaris berurutan menunjukkan beberapa huruf yang jika digabung menjadi sebuah kalimat
“Would you marry me?”

Tidak selesai sampai disitu, tiba-tiba saja suara musik terdengar keras tapi mengalun indah

Love oh baby my girl
Geudaen naui juhnbu nunbushige areumdawoon
Naui shinbu shini jushin suhnmul
Haengbokhangayo geudaeui ggaman nunesuh nunmuri heureujyo
Ggaman muhri pappuri dwel ddaeggajido
Naui sarang naui geudae saranghal guhseul na maengsehalgeyo

Geudaereul saranghandaneun mal pyuhngsaeng maeil haejugo shipuh
Would you marry me? Nuhl saranghago akkimyuh saragago shipuh

Geudaega jami deul ddaemada nae pare jaewuhjugo shipuh
Would you marry me? Iruhn naui maeum huhrakhaejullae?

Pyuhngsaeng gyuhte isseulge (I do) Nuhl saranghaneun guhl (I do)
Nungwa biga wado akkyuhjumyuhnsuh (I do)
Nuhreul jikyuhjulge (My love)

Hayan dressreul ibeun geudae tuxedoreul ibeun naui moseup
Balguhreumeul matchumyuh guhdneun woori juh dalnimgwa byuhre
I swear guhjitmal shiruh uishimshiruh
Saranghaneun naui gongju Stay with me

Wooriga naireul muhguhdo wooseumyuh saragago shipuh
Would you marry me? Naui modeun nareul hamgge haejullae?
Himdeulgo uhryuhwuhdo (I do) Neul naega isseulgge (I do)
Woori hamggehaneun manheun nal dongan (I do) Maeil gamsahalge (My love)

Donghae oppa yang merupakan oppa kandungku memimpin member Super Junior di depan.
Aku memeluk oppaku dengan tangis yang mengucur deras dari kedua mataku.
“Dongsaeng kecilku ini sudah dewasa sekarang. Sudah pandai memilih pasangan hidup” Ia mengusap-usap rambutku sementara alunan lagu Marry U masih mengalun lembut.

Orae juhnbutuh nuhreul wihae junbihan
Nae sone bitnaneun banjireul badajwuh
Oneulgwa gateun maeumeuro jigeumui yaksok giuhkhalge
Would you marry me?

Pyuhngsaeng gyuhte isseulge (I do) Nuhl saranghaneun guhl (I do)
Nungwa biga wado akkyuhjumyuhnsuh (I do) nuhreul jikyuhjulge (I do)

Himdeulgo uhryuhwuhdo (I do) Neul naega isseulgge (I do)
Woori hamggehaneun manheun nal dongan (I do) Maeil gamsahalge (My love)

Naega geudae ege deuril guhseun sarangbakke uhbjyo
Geujuh geuppuninguhl bojalguhtuhbjyo
Suhtulluhboigo manhi bujokhaedo naui sarang
Naui geudae jikyuhjulgeyo
Hangajiman yaksokhaejullae? Museunil issuhdo
Woori suhro saranghagiro geuppuniya
Nawa gyuhrhonhaejullae? I do

“Lee Minyoung, Would you marry me?”

Aku melepaskan pelukanku dan berteriak.
“Yes, I do! Saranghaeyo Choi Minho!”

Sebodoh apapun dia..
Seburuk apapun tingkahnya..
Dia tetaplah Minhoku,
Pangeran kodokku..
Dan akan tetap begitu..
My SHINee-ing love..


Ahh~ Akhirnya selesai juga !
Mianhae kalo kepanjangan dan nggak jelas
Don’t be Silent reader!
Just comment it !
And wait for the next chapter!
Kamsahamnida ^^

By: Rimahyunki

27 responses to “My SHINee-ing Love Story .2. (Minho’s Part)

  1. Pingback: My SHINee-ing Love Story 3.1 (Onew’s Part) « Rimahyunki's Blog·

  2. Pingback: My SHINee-ing Love Story .4. (Key’s part) « Rimahyunki's Blog·

  3. hohoho,..untung si pangeran kodoknya balik lg, langsung pake acara lamaran jg,.ekekeke to the point abis,
    lanjuuut chingu^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s