AngeviL.. 4 [end]

Author : Keychand

Cast : Kim Eun Hye, Lee Taemin

Genre : Romance, Fantasy, angst (?)

Rate : PG-15

Length : series

Backsound song : The Name I loved

angevil..12. 3

..angevil..


Kenapa dia bisa tumbang?

Kenapa dia menangis?

Kenapa dia harus berkata bahwa aku adalah miliknya, bukankah dia yang milikku?

Tapi aku tetap tak bisa memilikinya seutuhnya, memiliki dalam arti yang sesungguhnya..

Memiliki hatinya..

Kau terlalu baik taemin, kau terlalu manis padaku. Jangankan sikapmu, melihat paras wajahmu diawal saja aku sudah bisa berkata kalau kau tampan. Mata coklatmu terasa hangat dan teduh, senyumanmu selalu manis dan membuatku ingin terus melihatnya. Seluruh yang ada dalam dirimu selalu membuatku nyaman ada didekatmu. Dan ditambah sikapmu yang begitu manis dan baik padaku, sekedar abdikah itu lee taemin?!

Aku sudah menerima kehadiranmu dalam hidupku, membiarkanmu memperlakukanku bak seorang putri raja yang diliputi segala pelayanan terbaik. Aku membiarkanmu mengetahui segala rupa fikiranku dan perasaanku. Aku membiarkan kau menjadi bagian dari diriku, bahkan aku sudah membiarkan hatiku untuk menerima keberadaanmu disana. Tapi kenapa harus ada larangan itu? Kenapa kau boleh memiliki segala perasaan padaku tapi aku tidak?! Itu sama sekali tak adil, taemin. Tidak!

Kenapa aku Cuma boleh membiarkanmu berlaku manis padaku, tapi aku tidak. Bahkan membelaimu seperti ini saja rasanya membuatku merasa sakit saat tau bahwa aku tak bisa meluapkan segala perasaanku padamu. Membiarkanmu terbaring lemah dalam pangkuanku dengan luka ditanganmu dan mata yang terpejam rapat. Melihat setiap lekuk wajahmu yang selama seminggu ini selalu bersikap manis padaku, mengucapkan kata-kata manis padaku, yang selalu mengecup kening dan mataku saat aku hendak terlelap dimalam hari.

Mana mungkin aku tak menyimpan perasaan padamu, lee taemin! Tak taukah kau betapa sakitnya aku harus menahan perasaan ini sendirian! Kau bisa mengumbar padaku kalau kau sayang padaku, kau bahagia karna tau bahwa ‘tuan’ mu adalah aku. Tapi aku tak bisa seperti itu kan, lee taemin! Karna aku tak mau kehilanganmu! Tidak sama sekali!

Ini sudah malam taemin, waktu biasanya aku duduk dimeja makan menunggumu selesai masak makan malam untukku. Melihatmu sibuk mengaduk panci mencoba rasa masakanmu dengan celemek corak abstrak yang membungkus tubuhmu itu.

Tapi sekarang kita malah ada disekolah, masih mengenakan seragam dan kau masih terpejam dipangkuanku dengan luka ditanganmu. Aku harus melakukan apa, lee taemin? Ini pertama kalinya aku melihatmu pingsan dan kau menangis, apa yang harus kulakukan?! Aku Cuma bisa menangis sambil membelai wajahmu yang lemah itu. Apa taemin?! Apa yang harus kulakukan?!

“eunhye-ah..” tiba-tiba mulut taemin terbuka kecil, ia menggumamkan namaku pelan. Dengan cepat aku mengusap air mataku dan membelai wajahnya lagi.

“kau menangis, huh?” tanyanya dengan senyuman manisnya yang terlihat dipaksakan. Aku mendesah pelan mendengarnya dan bergerak merobek seragam kemeja-ku.

“kau mau apa?” tanyanya lagi,

“membalut lukamu..” jawabku datar, ia tersenyum kecil dan menggenggam tanganku yang hendak merobek kemejanya.

“kau ini bodoh atau lupa, huh?! Aku tak akan terluka meskipun sudah mengeluarkan darah..” katanya dengan senyuman manisnya. Aku menarik tanganku kembali dan mendorong tubuh taemin supaya ia bangun.

“kalau memang kau tak akan terluka, kenapa kau bisa pingsan begitu?” tanyaku kemudian, ia menatapku sesaat dan kembali menyunggingkan senyumannya.

“ini sudah malam, kau pasti belum makan..” katanya lembut, aku mendecak kecil dan memalingkan wajahku kesisi lain.

“baiklah, aku takkan berlaku seperti itu lagi..” katanya seolah mengerti maksudku. Ia ikut bersandar ditembok disampingku dan menyelonjorkan kakinya.

“mian..” aku memutar kepalaku pelan dan menatapnya bingung. Tak biasanya, taemin malah menatap lurus menembus jendela kaca yang memperlihatkan langit malam.

“maaf karna aku sudah menyusahkanmu dan membuatmu kesal..” katanya lagi lirih, aku menghela nafas panjang dan menyandarkan kepalaku ketembok.

“sudah perilakumu begitu, mau diapakan lagi..” kataku datar, kudengar ia tertawa kecil. Tiba-tiba tangan hangatnya menyentuh kepalaku dan menariknya hingga aku bersandar dipundaknya, ia kembali mengusap kepalaku lembut.

“kau belum menjawab pertanyaanku, lee taemin. Kenapa kau bisa pingsan?” kataku mengulang pertanyaan, ia menghembuskan nafas pelan.

“aku juga tidak tau, tiba-tiba saja aku kehilangan kesadaranku dan rasanya emosiku benar-benar menguasai tubuhku. Bahkan ini pertama kalinya aku menangis sampai tak sadarkan diri begitu..” jelasnya lirih, aku menatap wajah putihnya yang masih lemah itu. Ia menekuk wajahnya seolah tak ingin kulihat,

“apa mungkin karna kau?” tanyanya kemudian, aku mendongakkan wajahku sedikit, menanyakan apa maksudnya.

“yah, karna aku ini wujud dari perasaan dan fikiranmu. Mungkin ini ada kaitannya dengan perasaanmu, eun hye-ah. Apa kau sedang menyimpan sesuatu dalam hatimu, itu?” jelasnya padaku. Sekarang giliran aku yang menekuk wajahku menghindari tatapannya.

Aish! Seandainya tak ada larangan itu, dari kemarin aku sudah mengatakan segala yang tersimpan dalam hatiku ini. Tapi aku tak mau taemin pergi!

“eunhye-ah!” taemin memegang pundakku lembut, menurunkan wajahnya agar sepantar denganku. Aku memalingkan wajahku menghindari tatapannya, tapi ia terus mencoba menatapku.

“hentikan, lee taemin! Aku lelah, aku mau istirahat!” kataku menepis tangannya dari pundakku. Aku beranjak bangun tapi tiba-tiba saja kakiku rasanya sakit sekali. Aku meringis pelan dan memegangi pergelangan kaki kananku, sepertinya kakiku terkilir.

“gwenchana?” Tanya taemin padaku, aku hanya mengangguk kecil dan kembali mencoba bangun tapi tetap tak bisa, kakiku rasanya sakit sekali.

“baiklah, ayo kita pulang putri  eunhye..” ucap taemin dan tiba-tiba menggendongku. Aku sempat menjerit kaget saat ia menggendongku.

“turunkan aku, lee taemin! Apa-apaan kau ini” kataku menepuk pundaknya, ia hanya tertawa dan mulai melangkahkan kakinya meninggalkan lorong sekolah yang sepi itu.

“kau benar-benar menyebalkan, lee taemin!” cercaku pasrah, ia hanya tertawa dan terus berjalan meninggalkan sekolah.

Aku mengalungkan tanganku kelehernya, menyandarkan kepalaku didadanya, merasakan detak jantungnya yang menenangkan. Hangat tubuhnya membuatku merasa nyaman, dan tanpa sadar mataku terpejam menikmati semuanya.

“eunhye-ah..” aku membuka mataku perlahan dan menggumam kecil, kutatap wajah taemin, tapi ia tetap menatap lurus jalanan.

“kau tak takut orang lain mengiramu sedang sulap karna bisa melayang begini?”tanyanya datar, aku tertawa kecil dan menggeleng pelan.

“gwenchana, aku nyaman seperti ini..” kataku lirih, taemin menghentikan langkahnya dan menatapku sesaat. Tak lama kemudian senyumnya terukir indah diwajahnya yang tampan itu.

“kau sangat manis meskipun dengan mata terpejam..” gumamnya pelan dan kembali berjalan. Aku terus menatap wajahnya yang masih menyunggingkan senyum manisnya, menatapnya dengan perasaan sakit dan tatapan nanar.

Tanpa kusadari tiba-tiba saja air mataku meluncur dari sudut mataku dengan cepat dan sepertinya membasahi bajunya taemin karna tiba-tiba taemin menoleh padaku dengan tatapan bingung.

“eunhye-ah, gwenchana? Kenapa kau menangis?” tanyanya panik, aku malah terus menangis dan akhirnya mengeratkan dekapanku pada taemin.

Aku membenamkan wajahku dipundak taemin, membiarkan rasa sakitku ini keluar lewat air mata yang terus mengalir deras. Tubuhku bergetar cukup keras dan aku juga muli sesenggukan gara-gara terlalu banyak mengeluarkan air mata. Taemin melanjutkan langkahnya dengan lamban, seolah tak ingin mengganggu aku yang masih asik menangis.

“kalau kau terus menangis dan merasa sakit seperti ini, aku juga akan merasa sakit, eunhye-ah. Dan mungkinkah ini yang membuatku menangis hari ini? Karna hatimu yang sakit juga?” aku bisa mendengar taemin menggumam pelan, tapi tak kugubris ucapannya. Aku terus menangis dan mengeratkan dekapanku membiarkan tanganku mencengkram bahu taemin yang kekar itu.

Aku sakit taemin, aku memang sakit karnamu

Aku sakit karna tak bisa menunjukkan perasaanku padamu

Aku sakit karna aku harus menyangkal perasaan ini

Aku sakit karna aku tak bisa membalas segala perlakuan lembutmu

Aku sakit taemin!

Aku sakit karna hanya bisa memendam perasaanku padamu!

“kim eunhye, seberapa besarkah rasa sakitmu itu sampai kau mencengkramku amat keras? Kenapa aku tak bisa mengetahui rasa sakitmu? Apa yang sebenarnya terjadi padamu, huh? Jangan membuatku khawatir seperti ini, aku menyayangimu, aku tak ingin melihatmu terus menangis seperti ini..”

“ja..ngan.. bi..ca..ra, tae..min..” aku menghentikan ucapannya dengan tersedu, menarik sedikit wajahku memperlihatkan wajahku yang sudah basah dengan airmata.

“biarkan.. aku..begini.. saja..” lanjutku dan kembali menenggelamkan wajahku dibalik dadanya. Kudengar taemin menghela nafas panjang dan melanjutkan langkahnya.

Ya, biarkan aku begini saja taemin.

Menangis dalam pelukanmu, berharap rasa sakit itu segera hilang..

“kau masih ingat perkataanku kan, eunhye. Kalau kau sakit dan menyakiti dirimu sendiri, itu sama saja kau menyakitiku dan itu membuatku akan musnah..” katanya dengan datar, aku menelengkan kepalaku mengingat ucapannya itu.

“aku.. aku tidak tau taemin..” entah apa yang terjadi, tapi hanya itu yang bisa kukatakan. Bibirku terlalu kelu untuk berbicara saat ini.

“bisakah kutebak apa yang membuatmu seperti ini?” katanya lagi, aku tetap diam tak tau harus menjawab apa.

“kau.. mencintaiku? Kau mencintaiku, kim eunhye?” tebaknya ragu-ragu, air mataku kembali mengalir mendengar tebakannya yang amat tepat itu. Hatiku kembali sakit mendengar ucapannya, tebakannya yang ia ucapkan dengan datar.

“kalau kujawab ia, kau akan mati kan, taemin?!” jawabku terbata, ia kembali menghela nafas panjang dan kurasakan ia menghentikan langkahnya.

“kau tau jawabannya, eunhye-ah..” katanya lirih.

“jadi, aku harus jawab apa?” tanyaku padanya, ia menggeleng pelan dibalik kepalaku. Aku mengeratkan dekapanku dan menumpukan daguku dibahunya.

“apa.. aku harus membohongi hatiku, taemin? Apa.. itu artinya aku menyakiti diriku sendiri, huh?”

“nan mwolla..” aku tersenyum pahit mendengar jawaban taemin, air mataku kembali meluncur membasahi baju taemin. Ya, rasanya aku tengah berbicara pada anak kecil yang tak tau apa-apa.

“apa.. yang harus aku lakukan? Lee taemin..”

“aku tak tau, eunhye-ah, aku sama bingungnya sepertimu..”

“kenapa? Bukankah, kau.. angevil-ku?”

“ya, dan aku milikmu..” aku menggeleng pelan dibahunya, air mata kembali berkejaran turun dari bendungan kantung mataku.

“tidak sepenuhnya, aku tak bisa memilikimu sepenuhnya bukan, lee taemin? Aku.. tak boleh memiliki perasaanmu, kan?” suaraku menggetar, aku sama sekali tak bisa menahan linangan air mataku ini.

“kau tau jawabannya, eunhye-ah..”

“aku sakit, taemin. Aku.. sa..kit..” kataku dengan lirih dan terbata, air mataku benar-benar berhamburan keluar sekarang, aku menekuk wajahku dibahu taemin. Tangisanku semakin keras, aku kembali mencengkram bahu taemin dengan keras, aku ingin ia merasakan sakitku juga.

“biarkan aku melihat wajahmu, eunhye.” Aku menggeleng pelan dan terus menangis dengan keras, suaraku terus meraung memecah keheningan malam diantara kami.

“eunhye-ah, jebal. Biarkan aku..” gendongan taemin mulai mengendor dan menurun, terpaksa aku melepas cengkramanku dan membiarkan diriku berdiri dengan bertumpu pada kakiku sendiri.

Aku sempat goyah dan hampir terjatuh saat taemin melepaskan pegangannya dariku, aku beanr-beanr lemah dan sakit sekarang. Bahkan untuk berdiri sendiripun aku tak sanggup, aku butuh taemin yang menyanggaku.

“eunhye-ah..” taemin mengangkat daguku, membuatku menatapnya dengan mata yang sembab dan air mata yang masih mengalir.

“uljima..” ia mengusap airmataku dengan jemarinya dan tersenyum manis walau aku tau a memaksakan senyumannya.

“aku merasakan sakit yang sama denganmu..” aku kembali menggeleng dan menatapnya dengan tatapan pedih dan sakit. Air mata terus menggenang dipelupuk mataku mengantri untuk jatuh, aku sudah terlalu sakit dan lebih merasa sakit daripada taemin selama ini.

“anni, kau tak merasakan sakit yang sama denganku, taemin…” kataku lirih, aku menarik tanganku menyimpannya tepat dibagian tubuhku yang terasa amat sakit.

“disini, taemin. Rasanya sakit.. amat sakit..” aku mencengkram dadaku dengan keras, air mataku kembali mengalir membuatku memejamkan mataku dengan berat.

“sakit, taemin. Sangat sakit…” kataku lagi, lagi-lagi aku hampir tumbang kalau saja taemin tak menahan kedua bahuku sebelum aku benar-benar jatuh pingsan.

“eunhye-ah, aku mohon jangan siksa aku seperti ini..” aku menatapnya pilu. Menyiksanya? Justru ia yang menyiksaku, menyiksaku dengan peraturan bodoh itu sampai-sampai hatiku rasanya sangat sakit dan hampir hancur.

“kau akan musnah, taemin?” aku menatapnya dengan tatapan nanar dan air mata yang masih menggenang. Ia balas menatapku dalam, ia tak menjawab ucapanku tapi terus diam sambil menatapku seolah tengah membaca fikiranku.

“kau mau aku tak ada, eunhye?” tanyanya parau, kulihat matanya sekarang berkaca-kaca, rahangnya mengeras, tapi aku tak bisa melihat ukiran namanya yang seperti biasa.

“kau akan musnah?” aku balik bertanya padanya, ia mengencangkan pegangannya dilenganku, menunggu jawaban dariku.

“aku sedang menyiksamu, taemin. Apa kau akan musnah? Kau.. akan hilang?” kataku lagi, aku menatapnya dengan pandangan menantang dengan mata berair.

“ya! Aku akan musnah! Dan itu yang kau mau kan, kim euhye?!” ia berteriak tepat diwajahku, membuatku mematung untuk sesaat. Hatiku rasanya kembali sakit dan luka untuk yang kesekian kalinya.

Aku memalingkan tatapanku ketanah yang kupijak, air mataku kembali menggenang dan meluncur cepat. Nafasku berubah cepat menahan rasa sakit yang ada, emosiku mulai tak dapat kukendalikan.

“Aaaaaaaaaaaaaaa!!!” aku berteriak keras dan kencang, mengacak-acak rambutku seperti orang gila dan terus menangis. Aku terus berteriak tidak karuan dan mengguncang tubuhku, berusaha melepaskan genggaman taemin.

“hentikan, eunhye! Hentikan!” bentaknya lagi, aku menatapnya dengan mata yang masih mengeluarkan air mata. Kulemparkan tatapan kosongku padanya, melihat wajahnya yang sama-sama mengeras dan menggenang airmata.

“jangan seperti ini, eunhye..” ia menggelengkan kepalanya pelan, dan akhirnya sebulir air mata sukses meluncur melewati pipinya.

“jangan menyiksa dirimu seperti ini, jangan menyiksaku. Kau menyiksa kita berdua, eunhye. Hentikan semuanya..” air matanya kembali meluncur dengan cepat meski aku tau ia sudah berusaha menahan tangisannya.

“aku.. menyiksamu?! Apakah.. dengan mengatakan aku mencintaimu, itu juga menyiksamu, huh?” tanyaku padanya, ia memejamkan matanya dan menarikku dalam dekapannya.

Kurasakan tangannya yang kuat dan biasa menggenggam senjata itu mendekap tubuhku dengan erat, seolah takut kehilangan. Ia terus mengeratkan pelukannya dan membenamkan wajahnya dipundakku.

Tubuhnya bergetar dan kudengar sesenggukan kecil, ia menangis lagi. Aku menggerakan kedua tanganku balas mendekapnya, membiarkan tubuhku merasakan kehangatan tubuhnya. Dan lagi-lagi air mataku mengalir untuk yang kesekian kalinya.

“tak bisakah kau jujur padaku, eunhye-ah?” kudengar suara taemin yang bergetar dibalik kepalaku. Aku memejamkan mataku tak ingin menjawab pertanyaan taemin.

“eunhye-ah, untuk pertama kalinya. Jujurlah padaku, kumohon…” katanya memelas, suara tangisannya semakin terdengar.

“aku.. aku tak mau kau pergi, taemin..” jawabku tak kalah bergetar.

“aku akan menahan rasa sakit ini, asalkan kau ada disampingku taemin. Aku akan membiarkan hatiku jadi hancur terkoyak asal kau selalu ada untukku. Aku akan terus jadi pembohong selama kau akan terus tersenyum padaku. Aku rela, lee taemin…”

“jangan bodoh, kau sudah menyiksaku. Sekuat apapun kau membohongiku, aku akan tetap hilang, kim eunhye.” Aku menggeleng pelan dengan air mata yang semakin deras.

“aku takkan membiarkan kau pergi, taemin. Aku menyuruhmu untuk tetap disisiku! Karna kau milikku, begitu bukan?! Angevil?!”

“tak bisa, aku bukan milikmu sepenuhnya. Aku milikNya. Kumohon, eunhye. Katakan, katakan sekarang juga..” pintanya, aku terus menggeleng dan mengeratkan dekapanku padanya.

“tidak akan, aku takkan pernah mengatakannya.”

Biarkan aku sakit seperti ini saja, asal ada taemin.

Biarkan aku mati rasa, asal taemin bisa terus memelukku seperti ini.

“jangan bodoh, kim eunhye! Kumohon katakan, katakan kalau kau mencintaiku..” ia terus meminta padaku, dan aku terus menggeleng dalam dekapannya.

“aku mencintaimu, eunhye. Sangat mencintaimu, kumohon padamu, katakan hal yang sama padaku. Sebelum aku benar-benar hilang..” aku menggeleng semakin keras dan mendekapnya semakin erat.

“tidak, aku takkan membiarkanmu pergi, taemin. Kau milikku!” erangku dengan parau, air mata masih terus mengalir dan tangisanku masih terdengar keras.

“kau.. benar-benar bodoh, kim eunhye!” aku mendengar ucapan taemin kali ini terdengar lirih.

“ya, aku bodoh. Karna aku mencintaimu, lee taemin!” kataku lirih, aku memejamkan mataku menahan rasa sakit yang semakin membuncah. Kurasakan dekapan taemin melonggar, perlahan ia menarik tubuhnya dari dekapanku dan kurasakan wajahku disentuh oleh kedua tangannya.

Dan sesaat kemudian, bibir kami sudah menempel satu sama lain. Bercampur dengan air mata yang mengalir dari mata kami berdua. Ia menciumku dengan lembut, dan aku menerimanya.

“terimakasih, kim eunhye. Terimakasih karna sudah mencintaiku..” bisik taemin dengan lembut dan kecupannya beralih kedahi dan kedua mataku.

Aku kembali menangis mendengar perkataan taemin barusan. Air mataku mengalir secara diam-diam dari mataku dan saat kurasakan sentuhan taemin mulai menghilang aku membuka mataku perlahan dan yang kulihat hanyalah deretan pertokoan yang sudah tutup. Tak ada sosok lee taemin sama sekali disana.

“taemin, kau.. bodoh..” ucapku lirih dengan air mata yang mengalir semakin deras. Untuk yang kesekian kalinya aku menangis dengan keras hari ini, dan itu karna lee taemin. Angevil yang katanya ditakdirkan jadi milikku.

Sekarang dimana dia?! Kenapa ia tak ada disisiku?! Kenapa ia tak melindungiku lagi!!! Sudah kubilang aku tak ingin mengatakannya, lee taemin! Aku tak ingin kehilanganmu!! Aku mencintaimu lee taemin!

“aaaaaaaa!!” aku kembali berteriak keras dan saat itu juga tubuhku ambruk dijalanan dengan mata sembab dan tenggorokan yang sudah sakit karna banyak menangis. Dan itu semua karna dia, lee taemin.

***

epilog..

Aku membuka mataku, membiarkan sinar matahari menelusup masuk membuatku terbangun dipagi hari. Aku tersenyum sendiri ditempat tidurku dengan tubuh yang masih terbungkus selimut berwarna putih tulang itu.

Rasanya aku baru saja diberi kecupan selamat pagi olehnya. Kusibakkan selimutku dan melangkah mendekati pintu balkon, membukanya dan membiarkan angin pagi menerbangkan rambutku lembut dan megelus wajahku dengan manis.

Lagi-lagi aku tersenyum menikmati terpaan angin pagi dan sinar matahari yang harum dan hangat ini. Rasanya aku baru saja dibelai olehnya sama seperti setiap pagi sebelumnya. Kubiarkan mataku terpejam menikmati semuanya, menghirup sedalam-dalamnya oksigen kedalam tubuhku, membiarkan angin membelai tubuhku lembut.

“morning, princess..” bisik seseorang ditelingaku dengan lembut. Aku tertawa kecil dan membuka mataku, kuputar tubuhku dan menatapnya yang sudah berdiri tegak dibelakangku dengan senyum manisnya.

“morning, angevil..” jawabku dan mengecup pipinya kilat. Aku menarik tangannya masuk kekamar dan membawanya duduk disofa.

“kau tak bosan memanggilku angevil?” aku menggeleng cepat dan terus tersenyum padanya.

“anniya, aku tak akan pernah bosan menyebutmu dengan angevil karna kau adalah angevil yang diciptakan buatku..” jawabku manja. Ia tertawa pelan dan mengacak rambutku lembut lantas mengecup puncak kepalaku.

“tapi namaku, lee taemin. Nona manis..” ia mencubit kedua pipiku pelan dan menggoyangkannya, sama seperti dia yang dulu mencubit pipiku lembut.

“dan karna angevilku adalah lee taemin…” jawabku enteng dan melepaskan kedua tangannya.

“kau.. mau berjanji padaku?” tanyaku, ia mengerutkan keningnya bingung.

“kau takkan pernah meninggalkanku, bahkan saat aku mengatakan kalau aku mencintaimu..” kataku lagi, ia tertawa keras untuk beberapa saat.

“baik, tapi ada syaratnya..” jawabnya, “apa?”

“katakan kalau kau mencintaiku..” aku menghela nafas mendengarnya, dia juga meminta hal yang sama padaku waktu itu. Tapi dengan gaya yang berbeda.

“geurae. Saranghaeyo..” jawabku lirih,

“na do, saranghae kim eunhye..” balasnya dan menarikku dalam dekapannya.

Rasa hangat ini, kudapat dari orang yang berbeda

Rasa nyaman ini, kurasakan dari orang yang berbeda

Atau mereka orang yang sama?

Rupa mereka sama, bahkan nama mereka sama

Tapi ia bukan sosok angevil, ia manusia biasa

Inikah balasan Tuhan, atas kepergian angevil-ku itu?

Lee taemin, angevil punyaku..

..angevil..

sorry for failed ending, story, some typos, etc. hope you enjoy, don’t forget to leave comment..

thanks. 😀

Advertisements

37 responses to “AngeviL.. 4 [end]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s