Love and Hate *Chap 7*

<

*EunSub Pov*

“Kyaaaaaaa..!!! DongHae oppa..!!! Jessica Unni…!!!!”
Mwo….!!!!!!!!!??????? DongHae?? Jessica?? Apa yang mereka lakukan disini?? Bukankah harusnya mereka ada jadwal?? Ternyata Donghae benar-benar menepati perkataannya.

Aku melihat ke sekelilingku. Aku melihat DongHae yang sedang berjalan bergandengan tangan dengan Jessica. Mereka berjalan ke arah meja di depanku. Ketika mereka melewati mejaku. DongHae sama sekali tidak melihat kearahku. Jessica duduk membelakangiku. Aku sempat bertemu mata dengan DongHae. Tapi dia langsung membuang muka.

Hatiku kembali terasa nyeri. Seperti tertusuk oleh ribuan jarum. Aku tidak sanggup melihat pemandangan ini. Tapi aku harus kuat. Aku tidak ingin dipandang lemah. Aku kembali melanjutkan sarapanku. Aku memakan sarapanku dengan sangat lambat.

Ketika kulihat ke arah meja DongHae dan Jessica. Jessica juga sedang melihat kearahku. Dia tersenyum, aku balas tersenyum. Aku berdiri seraya menghampiri meja mereka.
“Annyong haseyo.”
“Oh,, annyong haseyo.” DongHae sepertinya terkejut dengan kedatanganku. Ia jadi sedikit canggung.
“Annyong. Kamu yang kemarin datang bersama Changmin oppa kan??” Jessica menjawab. Sepertinya dia menyadari kalau aku kemarin datang bersama Changmin.
“Ne.DongHae ssi, Jessica ssi. Maaf, kemarin aku langsung pulang tanpa memberikan selamat. Aku ada keperluan, makanya aku langsung pergi.”
“O…tidak apa-apa. Yang penting kamu sudah mau datang. EunSub ssi.”Kata Jessica sambil tersenyum.
“Ne.Tidak apa-apa EunSub ssi.” Kali ini DongHae yang menjawab. Di mukanya terpasang seulas senyum tipis. Aku senang melihat senyumnya. Tapi hatiku sakit ketika aku harus menerima kenyataan bahwa ia sudah bukan milikku. Senyum kekanakannya juga sudah bukan milikku.
“Kalau begitu saya permisi dulu.” Kataku sambil tersenyum dan berlalu pergi. Aku kembali kemejaku. Aku langsung memanggil waiter dan membayar makananku.

Ketika aku sampai di kamar. Tangisku kembali pecah. Airmataku terus menetes seperti tidak ada habisnya.
Sepertinya aku tertidur ketika habis menangis. Sekarang sepertinya sudah sore. Kulirik jam, sudah jam lima sore. Masih ada waktu satu jam. Aku memutuskan untuk pergi melihat matahari terbenam. Kebetulan hotel tempatku menginap berada di tepi pantai.

Ketika aku selesai mandi aku mematut diriku di depan kaca. Mataku sangat bengkak. Mungkin karena aku menangis terlalu lama. Aku memutuskan untuk keluar memakai kacamata.

Aku menggunakan hotpans hitam dan sebuah tanktop biru laut dan jaket berwarna putih. Aku lupa membawa sandal jepit. Terpaksa aku harus memakai sepatu kets. Rambutku kubiarkan tergerai. Tidak lupa ku bawa dompet, HP, mp3 dan SunGlasses ku. Aku langsung turun dan pergi ke pantai. Pantai sore ini sangat ramai. Aku langsung memakai sunglassesku. Aku memilih untuk duduk di sebuah kedai kecil yang terletak di pinggir pantai. Aku memilih tempat duduk yang berada paling dekat dengan pantai. Aku duduk sambil sesekali memperhatikan orang-orang yang lalu lalang. Ketika sudah hampir waktunya matahari terbenam aku memutuskan untuk berjalan di pinggir pantai. Aku memasang headphoneku.

Aku berhenti dan melihat matahari terbenam.
Ketika aku sedang melihat matahari terbenam. Kurasakan ada seseorang yang memelukku dari belakang.
Aku langsung meronta. Tapi pelukan orang ini lebih kuat. Akhirnya kubiarkan dia memelukku. Ketika matahari sudah terbenam, orang-orang mulai pergi meninggalkan pantai. Tapi tidak dengan diriku. Aku tidak bisa pergi. Orang ini terus memelukku. Aku mematikan mp3ku.
“Apa yang kau inginkan??” Aku memutuskan untuk bertanya.
“Aku hanya ingin memelukmu. Apa tidak boleh?”
“Kau tidak berhak memelukku. Aku juga tidak berhak menerima pelukan darimu.”
“Kenapa??”
“Kau bukan milikku. Aku juga bukan milikmu.”
“Mianhae. Mianhae. Jeongmal Mianhae.”
Aku tidak menjawab. Aku tidak ingin menjawab. Aku tetap diam.Dia juga tetap diam sambil memelukku.
Tiba-tiba terdengar suara teriakan seseorang yang kukenal. Aku tahu jika dia tidak melepaskan pelukannya maka hal ini akan terjadi. Aku langsung melepaskan pelukannya secara paksa. Setelah kulepaskan pelukannya dia terkejut. Aku mengarahkan daguku kearah seseorang yang sedang menangis.
“DongHae oppa..!!” Jessica berteriak sambil menangis.
DongHae terlihat terkejut dan salah tingkah. Jessica mendatangi kami. Ia berjalan kearahku.

Plaaakk.

Ia menamparku. Sunglasses yang kupakai hampir terlepas.
“Kau..!!! Yeoja genit. Kau apakan DongHae oppa??” Ia meneriakiku sambil menangis.
DongHae hanya terdiam, mungkin ia masih shock dengan kedatangan Jessica yang tiba-tiba.
“Molla. Dia sendiri yang tiba-tiba mendatangiku.”
“Kau..!!! Aku tidak percaya. DongHae oppa bukan orang seperti itu. Ingat..! Donghae oppa itu namjachinguku. Kau bukan siapa-siapanya.”
“Ya, yang kau katakan memang benar. Aku memang bukan siapa-siapanya. Aku bukan saudara bahkan yeojachingunya.”
“Kau sudah menyadari hal itu mengapa kau masih tetap mengambil kesempatan??? Apa kau sudah tidak punya harga diri??”
Plaaakk
Kali ini aku yang menamparnya. Kesabaranku sudah habis.
“Kau..!!” Dia kembali mengangkat tangannya. Sepertinya dia akan menamparku. Aku memejamkan mata. Tapi tidak ada sesuatu yang mengenai pipiku. Kulihat DongHae menahan tangannya.
“Oppa..!! Lepaskan..!!”
DongHae melepaskan tangannya.
“Kau,yeoja tidak tahu diri.” Ia kembali meneriakiku.
“Terserah kau ingin berkata apa. Tapi jika kau tidak tahu apa-apa jangan berbicara sembarangan.” Kesabaranku sudah benar-benar mencapai batasnya.
“EunSub, sudah.” DongHae akhirnya angkat bicara.
“Baiklah, tapi peringatkan tunanganmu ini. Jika dia tidak mengetahui apapun jangan sembarangan berbicara.” Kelihatannya DongHae mengerti. Jessica terlihat sangat kebingungan dan emosi. Dia langsung pergi meninggalkan kami.DongHae tidak menyusulnya.
“EunSub a. Aku in…”
“Sudahlah, aku sudah tahu bahwa kau memang tidak pernah mencintaiku. Pergilah, pergilah ke Jessica jika itu dapat membuatmu bahagia. Aku tidak akan melarangmu.” Aku tidak akan melarangmu bukan karena aku tidak mau, tapi aku tidak bisa. Aku tidak ingin melihat orang yang aku cintai menderita karena tidak bisa bersama dengan orang yang dicintainya.

DongHae langsung memelukku. Aku tidak bisa membalas pelukannya. Tapi aku ingin memeluknya. Untuk yang terakhir kalinya.
“Tolong peluk aku. Aku ingin memelukmu untuk yang terakhir kalinya.” DongHae sepertinya menyadari bahwa ini memang adalah kesempatan kami yang terakhir.

Akupun membalas pelukannya. Airmataku kembali mengalir tanpa bisa kubendung. Kurasakan bahuku sedikit basah. Sepertinya Donghae juga menangis. Aku tidak tahu apa artinya ini. Apakah ia memang mencintaiku? Tapi mengapa ia meninggalkanku?

DongHae memelukku sangat erat. Seakan tidak ingin melepaskanku.
“EunSub a.” Donghae berbisik ditelingaku. “Mianhae. Bukannya aku tidak mencintaimu. Aku bertunangan dengan Jessica karena terpaksa. Mungkin nanti kau akan mengetahui keadaannya. Tapi sekarang belum saatnya. Aku bersyukur masih dapat melihatmu di saat-saat terakhir.”
DongHae melepaskan pelukannya dan mencium keningku sekilas.
“Annyong. Pergilah cari laki-laki lain yang lebih baik dariku. Aku tidak pantas untukmu.” Ia kembali memelukku sebentar dan berlalu pergi meninggalkanku. Kulihat matanya merah. Ternyata benar ia menangis.
Mulutku seakan terkunci rapat. Aku tidak dapat mengeluarkan sepatah katapun. Kakiku seakan terpaku di tempat. Aku terus memperhatikan punggung Donghae menghilang dari kejauhan. Airmataku terus mengalir. Aku terduduk di tepi pantai sambil terus menangis. Sekarang aku membutuhkan tempat untuk bersandar. Tapi aku tidak memiliki siapapun untuk menjadi penopangku. Aku hanya sendiri. Aku terus menangis hingga kurasakan angin malam menerpa kulitku. Kulirik jam tanganku. Sudah jam delapan malam. Aku menangis cukup lama. Tapi airmataku seakan tidak bisa habis, ia terus saja mengalir tanpa bisa kuhentikan. Pantai ini menjadi saksi bisu pertemuan terakhirku dengan DongHae. Aku tidak mengerti arti perkataan DongHae.
“Aku bersyukur masih dapat melihatmu di saat-saat terakhir” Apa maksud perkataannya. Aku tidak mengerti.
Tapi mungkin ini memang pertemuan terakhir kami. Karena aku tidak memiliki alasan apapun untuk bertemu dengannya.
Aku kembali ke hotel dengan keadaan lunglai. Ketika aku sudah masuk kedalam kamar aku langsung duduk di sofa tanpa melakukan apapun. Hanya duduk sambil berdiam diri. Tanpa kusadari airmataku kembali mengalir. Aku hanya membiarkannya mengalir. Aku tidak ingin menghentikannya. Mungkin hal ini dapat membuat bebanku sedikit berkurang.

Aku lupa kalau aku belum makan sama sekali. Aku memesan makanan dan memakannya di dalam kamar. Sambil menonton TV. Aku membuka sebuah saluran TV Jepang. Aku menonton acara itu, ternyata yang menjadi bintang tamu acara itu adalah DBSK. Mereka terlihat lain sekali. Kemarin ketika kami sedang latihan mereka terlihat sangat santai. Tapi ketika mereka menghadiri sebuah acara aura mereka terasa lain. Mereka memiliki karisma yang kuat. Aku hanya menatap layar dengan tatapan kosong. Aku tidak bisa memfokuskan pikiranku. Pikiranku masih kacau. Aku memutuskan untuk tidur.

*End Pov*

3 responses to “Love and Hate *Chap 7*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s