[twoshot] Destiny to Kill


Genre: Action, Thriller, Romance, Friendship

Rating: G, PG+13

Length: two shoot

Author: Rimahyunki

Main Cast:

  • Kim Jonghyun
  • Choi Minho
  • Ahn Richan
  • Lee Minyoung

Other Cast:

  • Lee Jinki
  • Kim kibum (Key)
  • Yesung
  • Ryeowook
  • Kim Heechul
  • Lee Taemin
  • Leeteuk
  • Geulrin
  • Heerin
  • Minhyo, And Others.



Darah segar mengalir dari kepala seorang pria bertubuh besar yang kini tergeletak di lantai sudah tak menunjukkan detak jantungnya lagi.


Minyoung menatap tejam ke arahnya seraya mengernyitkan wajahnya.

“Dimana chip itu berada?” tanya Minyoung kepada rekan kerja sekaligus sahabat baiknya, Richan.

“Di perut pria botak itu!” tunjuk Richan pada seorang laki-laki botak yang juga tergeletak bersimbah darah membuat karpet putih di sebuah kamar hotel itu menjadi berwarna merah.

“Apa kita harus membedah perutnya?”

“Sebaiknya kau coba saja mengeluarkannya dengan kekuatanmu”

“baiklah, aku akan berkonsentrasi”

Minyoung mulai mendekat ke arah tubuh pria botak tadi, lalu memejamkan kedua matanya sembari menunjukkan jari telunjuknya ke perut pria tadi.

Ia berkonsentrasi penuh untuk menerawang ke dalam organ tubuh pria tadi, mencari keberadaan sebuah benda kecil yang konon telah dimasukkan atau lebih tepatnya disembunyikan di dalam lambung pria botak itu.

Perlahan tapi pasti chip itu berjalan melalui usus dan kerongkongan untuk kemudian keluar melalui mulutnya.

“Finish!” Minyoung bersorak senang lalu mengambil sebuah benda kecil yang tak lebih besar dari sebuah memory handphone microSD dari mulut pria itu.

“Aish~!” Minyoung kembali mengernyit jijik mendapati chip itu berlumuran darah dan lendir. Sedetik kemudian ia mengedipkan matanya membuat darah dan lendir tadi seketika jatuh ke lantai membuat benda kecil itu bersih kembali.

Richan tersenyum puas melihat kerja Minyoung. Sekali lagi, misi mereka tak pernah gagal.

“Gwenchana-yo? lihatlah pundakmu berdarah” Richan mendekat dan menunjuk pundak temannya yang robek dan mengeluarkan banyak darah.

“Ne, sakit sekali rasanya. Saat pria sialan ini akan kuhabisi, dia sempat menggores pundakku dengan pisau lipat miliknya”

Richan mengangguk mengerti. Dengan segera ia menyentuh luka Minyoung yang membuat baju bagian belakangnya robek.

Telapak tangan kanannya menyentuh lembut luka tersebut, satu usapan dari tangan Richan dan saat itu juga luka di pundak Minyoung hilang tak berbekas.

“Gomawo”

“Ini rekor tercepat, biasanya dalam misi pembunuhan kita butuh waktu 5 menit, dan sekarang kita hanya menghabiskan 3 menit untuk dua orang.”

Richan dan Minyoung terkekeh mengetahui rekor waktu yang berhasil mereka pecahkan.

Tanpa banyak bicara, mereka berdua membereskan semua barang bukti yang bisa menunjukkan identitas pembunuh kedua pria tadi.

“Saatnya kita kembali”

“Tunggu dulu?” Richan menghentikan langkahnya dan berjalan mendekat ke arah pria bertubuh besar tadi. Ia menutup paksa mulut yang dipenuhi darah segar dan kedua mata pria tadi yang membelalak lebar dengan kedua tangannya.

“Nah begini lebih baik” Ia tersenyum kemudian mengikuti langkah Minyoung ke jendela hotel.

Mereka berdua keluar dari jendela hotel berlantai 20 itu, dengan tangkas Richan dan Minyoung melompat ke jendela lain yang berjarak beberapa meter sembari memegang tembok dan pagar setiap kamar sebagai pijakan.

“Aish”

“Ada apa Richan.a~?”

“Aku tidak sengaja melihat adegan NC”

“Hahaha” mereka berdua terkekeh dan kembali melompat melewati setiap jendela.

Setelah cukup aman untuk turun, mereka berdua melompat dari lantai 10 kemudian berlari menembus jalanan kota Seoul di malam hari.

-Minyoung poV-

Our destiny are to kill. Takdir kami adalah untuk membunuh.

Aku dan Richan adalah sahabat sejak kecil.

Dulu kehidupan kami sama seperti seorang anak pada umumnya. Bermain, tidur, makan, bercanda, sekolah, dan berkumpul bersama orang tua kami.

Tapi semua berubah semenjak orang tua kami meninggal.

Kelompok penjahat yang merupakan musuh besar dari FBI mengetahui jika aku dan Richan memiliki ‘bakat khusus’ yang merupakan hasil keturunan dari kakek buyut kami berdua yang juga tergabung dalam FBI.

Sebenarnya mereka berniat membunuh kami, tapi appa dan eomma melindungi kami dengan segenap tenaga, hingga harus mengorbankan nyawa mereka sendiri.

Sebulan setelah kejadian yang memilukan itu, kami masih terus dikejar oleh komplotan penjahat yang menginginkan kematian kami, walaupun selama itu juga Yesung ahjjusi yang merupakan paman dari Richan berhasil menyembunyikan kami berdua. Hingga akhirnya kami berdua dipertemukan dengan ketua FBI, Lee Jinki. Saat itu juga dia merekrut kami berdua untuk bergabung di dalam organisasi yang mengatas namakan keamanan dunia itu.

Aku masih ingat betul jika saat bergabung, kami masih berumur 7 tahun.

Selama belasan tahun, kami berdua menjadi partner yang hebat dalam menjalankan setiap misi. Jinki Leader selalu mempercayakan setiap misi padaku dan Richan, karena selain Jonghyun dan Minho oppa yang merupakan Jenderal terbaik FBI, kami berdua juga merupakan anak kesayangan sang leader.

Selama bergabung disini, aku berpendapat jika membunuh adalah tugas yang paling menyenangkan diantara semua tugas yang diberikan kepada kami. Yah~ aku bisa merasakan sebuah kepuasan tersendiri melihat penjahat berlumuran darah dan memohon ampun pada kami agar tidak dibunuh. Haha! Itu permintaan yang sangat bodoh!

Ah iya~ soal kekuatan itu! Setiap anggota FBI memiliki kemampuan yang berbeda, contohnya aku dapat memindahkan segala benda dan elemen apapun kemana saja aku mau dengan hanya menunjukkan jariku atau sekedar mengerlingkan mataku. Sedangkan Richan memiliki kemampuan untuk menyembuhkan atau lebih tepatnya menghilangkan semua luka hingga normal kembali. Bahkan ia bisa menghidupkan lagi orang mati, tapi hal itu membahayakan untuknya, terakhir kali ia melakukannya, Richan tak sadarkan diri selama dua tahun.

Selain bakat khusus itu, kami berdua juga dibekali kemampuan bela diri, pertahanan diri, merayap, melompat, memanjat, berenang dan menyelam. Ah satu lagi~ kami juga dibekali kemampuan membunuh!

Setelah beberapa menit berlari, langkah kami terhenti oleh segerombolan orang berpakaian hitam.

Aku menoleh ke arah Richan dan tersenyum padanya. Kami sudah tau jika mereka adalah  anak buah dari mafia yang ingin merebut chip rahasia yang ada di tanganku sekarang.

Mereka berduapuluh tertawa saat mengepung kami yang hanya berdua.

“Lebih baik kalian menyerah saja” salah satu dari mereka maju dan menyerukan kata-kata yang membuatku tertawa.

“Seharusnya kami yang bilang begitu” Richan terkekeh, saat itu juga kelompok mereka terbagi menjadi dua. Sepuluh untukku dan sepuluh untuk Richan.

Aku memulai permainan dengan 3 orang di depanku yang mengacungkan pistolnya ke arahku.

Mereka menembakkan peluru yang berkecepatan 100km/menit itu.

Dengan konsentrasi penuh peluru tadi kukembalikan ke arah mereka bertiga dan BOMM!

Darah segar terciprat dari kepala ketiga orang itu . Ah~ membuat bajuku kotor dengan darah mereka!

“Ah mianhae, aku sedang tidak ingin berlama-lama jadi langsung saja ya?” seruku kepada 7 orang yang mengepungku dengan senjata mereka.

Satu kedipan dan semua senjata terjatuh ke tanah!

Aku melihat sebuah truk besar di pinggir jalan. Kuacungkan jari telunjukku membuat truk semen tadi terbang. Kusapukan telunjukku ke arah mereka semua membuat ketujuh orang tadi terbentur ke tembok dan tertindih truk besar tadi.

Darah berceceran di depanku, tapi sekali lagi aku puas melihatnya.

Badan mereka penyok bahkan sebagian hancur tertindih truk tadi.

“Ups Surry”

Kali ini pandanganku mengarah ke Richan yang baru saja menyelesaikan permainannya dengan pisau lipat kesayangannya, membuat semua tubuh kesepuluh orang sisanya terpotong-potong tak karuan. Yah~ dia memang sangat suka bermain dengan pisau! Sayang sekali aku tak melihatnya tadi!

Aku mendekatinya dan mengajaknya pergi dari sini. Kulihat masih ada sisa darah dan daging di pisaunya. Hmm kadang ia memang terlalu sadis dalam bermain!

Aku dan Richan kembali melanjutkan perjalanan kami kembali ke markas yang sempat terganggu oleh tikus-tikus tengik.

01.00 a.m KST

Kami telah tiba di Wookie Bakery. Dari namanya tentu saja ini adalah toko roti.

Kami masuk ke dalam toko yang sudah tutup itu dan pergi menuju dapur.

Wangi tepung dan roti tercium jelas di hidungku, tidak lama kemudian aku dan Richan pergi menuju lift yang berada di balik lemari penyimpanan kue.

Sebenarnya ini bukan sepenuhnya sebuah toko kue.

Setelah turun ke ruang bawah tanah kami berjalan di lorong yang berwarna perak ini. Tentu saja, karena semua tembok dilapisi tembaga, perak, aluminium, dan besi.

Setelah tiba didepan sebuah pintu yang terlihat seperti pintu lift, aku membisikkan kata sandi di depan layar monitor kecil.

Sebuah sinar laser menyinari tubuh kami berdua dari atas sampai bawah.

Sistem keamanan membuat tidak sembarangan orang dapat masuk kemari.

Pintu pertama membuka kesamping setelah terbuka aku meletakkan ibu jariku di sebuah tempat kecil untuk memastikan sidik jari itu memang sidik jari anggota FBI.

Pintu berlapis baja terbuka ke atas. Kulangkahkan kaki memasuki sebuah tempat luas yang memiliki banyak ruangan di setiap sudutnya.

Richan poV-

“Annyeonghaseo”  sapaku seraya membungkukkan badan ke arah Yesung ahjjusi yang sedang duduk sambil membaca koran. Seperti biasa, ia membiarkan koran itu melayang dan membuka halamannya sendiri sementara kedua tangannya mengelus kura-kura kesayangannya.

“Richan.ah~ Minyoung.ah~ bagaimana tugas kalian?”

“Misi kita tidak pernah gagal ahjjusi” balas Minyoung sambil tersenyum.

“bagus bagus. Cepatlah ke ruang pengawasan, Jinki leader telah menunggu kalian”

“Ne” kami berdua menunduk hormat sambil berlalu menuju ruang pengawasan.

Saat kami akan berjalan masuk dalam ruangan, dua orang yang tak lain adalah Jonghyun.ssi dan Minho.ssi keluar dari ruangan.

Spontan aku dan Minyoung membungkuk tanda hormat pada jenderal kami.

Jonghyun dan Minho.ssi tersenyum pada kami lalu berjalan melewati kami.

Seketika itu juga aku merasakan seluruh kekuatan yang kumiliki hilang. Jinki leader pernah mengatakan padaku dan Minyoung jika kekuatan khusus yang kami miliki akan hilang jika bertemu dengan ‘cinta sejati’ kami atau sedang berada satu ruangan dengannya, dan saat itu juga kami akan menjadi manusia biasa.

Aku sering merasakannya saat bertemu atau sedang berada satu ruangan dengan Minho.ssi . Apakah dia…?

Ah aku tidak mau terlalu peduli dengan hal yang tidak penting itu!

Bagiku, kehidupan hanya menjalankan semua tugas dan misi yang diberikan.

Kami berdua berjalan masuk ke dalam ruangan yang dipenuhi oleh tekhnologi tinggi abad -21 yang memungkinkan kami melakukan berbagai penyelidikan di seluruh dunia.

Semua staff masih sibuk dengan komputer masing-masing (tolong jangan dibayangkan seperti komputer di rumah kalian) mengontrol semua kegiatan anggota lain yang sedang menjalankan misinya atau juga sedang mengawasi gerak-gerik setiap mafia dan penjahat lainnya.

Kulihat seorang pria sedang duduk menunggu kedatangan kami berdua. Pria berbaju hitam dan bermodel rambut belah tengah, yah Jinki leader.

“Bagaimana tugas kalian?”

“Kami tidak pernah gagal dalam menjalankan misi”

“Ah tentu saja! Kalian memang anak kesayanganku” Ia tersenyum pada kami, sebenarnya umurnya tidak lebih tua dari Yesung ahjjusi, tapi karena sebuah pengabdian, ia harus menjadi seorang pemimpin di organisasi sebesar ini walaupun umurnya masih 22 tahun.

“Sebaiknya kalian ganti baju dan makan dulu. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan”

Author poV-

Minyoung dan Richan mengangguk lalu berpamitan untuk pergi ke kamar mereka.

Seseorang sudah menyambut mereka di depan pintu kamar.

“Wookie oppa!” Minyoung dan Richan berseru senang ketika mengetahui oppa kesayangan mereka menyambut kedatangan mereka berdua.

“Kau tidak mau menyiapkan makanan untuk kami oppa?” tanya Minyoung memelas.

Mereka berdua memang sangat akrab dengan Ryeowook atau yang sering dipanggil Wookie. Selain perbedaan umur yang hanya dua tahun, Wookie adalah sesosok oppa yang begitu perhatian dengan dongsaengnya.

CLINGG

Dengan satu kedipan saja,  dua mangkuk ramen telah tersedia di meja. Minyoung dan Richan segera menyantapnya dengan lahap.

“Kalian harus banyak makan ya” Ryeowook tersenyum pada dua dongsaengnya itu dan kembali menghidangkan puding dan jus dengan hanya satu kedipan.

Ryeowook juga termasuk dalam anggota FBI, perannya cukup penting disana. Ia menyediakan tempat rahasia yang sebenarnya adalah markas besar FBI. Selain itu, ia adalah koki disana.

“Kamsahamnida oppa~” Richan dan Minyoung berpamitan lalu bergegas ke ruang pengawasan setelah mengganti baju mereka yang tadi berlumuran darah.

“Duduklah” Onew mempersilahkan Richan dan Minyoung duduk setelah masuk ke ruang pribadinya.

“Ada apa leader?” tanya Richan setibanya mereka di ruangan yang temboknya berlapis baja dan alumunium, sebuah ruangan bernuansa modern abad ke-22 dengan semua fasilitas canggih.

Sedetik kemudian, Jinki mengeluarkan laptop dari telapak tangan kanannya dan menaruhnya di meja, lalu menunjukkan sesuatu pada Richan dan Minyoung.

“Ada misi baru untuk kalian berdua”

“Ada sebuah pembunuhan berantai di sekolah xxxx sudah 3 murid tewas dalam jangka waktu 6 hari. Polisi dan pihak sekolah sulit mengungkap pelaku pembunuhan, karena sama sekali tidak ada bukti di Tempat Kejadian. Aku tahu sebenarnya ini bukan tugas kalian berdua untuk menjadi detektif. Tetapi teman baikku, Key, yang merupakan kepala sekolah disana memintaku mengerahkan tim terbaik yang dimiliki FBI. Apalagi penjahat itu pernah meneror Key, jika setelah pembunuhan berantainya selesai, ia akan segera menghancurkan sekolah yang berisi 3000 siswa itu.

Itu sama saja dengan kejahatan Genosida! Aku rasa penjahat ini tidak main-main.”

“Jadi apa yang bisa kami lakukan? Tugas seperti ini bukan keahlian kami ,leader”

“Tentu saja tidak, justru aku menugaskan kalian karena aku yakin kalian bisa melakukannya”

Minyoung dan Richan saling berpandangan lalu mengangguk.

“Baiklah leader kami tidak bisa menolak semua tugas yang diberikan”

“Ne, untuk mempermudah tugas ini, kalian akan menyamar sebagai murid baru disana”

“Mwo?~ menjadi murid SMA? Tapi kami tak tau cara dan perilaku seorang anak SMA”

Jinki menatap bingung ke arah Minyoung dan Richan. Mereka berumur 17 tahun, layaknya umur seorang remaja sekolah pada umumnya.

“Ah benar~ bagaimana kalian tau, setiap hari kalian memang hanya berurusan dengan penjahat. Tapi tenanglah, Key pasti membantu kalian berdua.”

“Baik, kami mengerti”

“Ini adalah data-data tentang korban pembunuhan itu, 3 orang siswa di sekolah itu, Hankyung, Eunhyuk dan Elli yang tewas di tempat berbeda dan cara yang berbeda juga”

Jinki menunjukkan data dan identitas tiga korban pembunuhan yang semuanya adalah laki-laki.

Richan dan Minyoung memperhatikan beberapa saat untuk kemudian memindahkan semua data-data dan informasi tadi ke sebuah memory kecil yang tersimpan di balik gagang kacamata yang mereka pakai.

“Ya sudah, kalian berdua beristirahatlah dulu. Mulai besok kalian akan masuk sekolah” Jinki menyuruh dua bawahannya yang sudah ia anggap sebagai dongsaengnya untuk tidur. Ia tak mau jika ada anggota yang jatuh sakit karena kelelahan.

Sekolah xxxx, 11 Agustus 2010

08.00 KST

Richan poV-

Kami berdua memasuki ruangan kepala sekolah

bersama Jinki Leader dan Yesung ahjjusi yang kini memakai kemeja beserta blazer hitam.

Biasanya aku melihat mereka memakai pakaian resmi FBI yang tebal dan ketat, tapi melihat penampilan mereka sekarang, aku mengakui jika kedua orang itu tampan juga.

Sementara itu, Minyoung yang berada di sebelahku terus mengeluh karena harus mengenakan kemeja sekolah dengan rompi kotak putih dan rok selutut yang membuatnya terlihat feminim.

“Annyeong Jinki.ah~” seorang laki-laki yang berada di ruangan kepala sekolah memberi pelukan hangat pada leader dan Yesung ahjjusi. Mendengar cerita dari Jinki leader, aku yakin pria itu adalah sahabatnya yang bernama Key.

Seorang pria tampan bertubuh tinggi dan berkacamata yang mungkin seumuran dengan Jinki leader. Ia tersenyum menyapaku dan Minyoung.

“Kalian pasti Richan dan Minyoung”

“Annyeonghaseo Key songsaenim”

Setelah Jinki leader dan Yesung ahjjusi berbicara sebentar dengan Key songsaenim. Mereka berdua meninggalkan kami bersama Key songsaenim agar dapat berbicara lebih dalam tentang tugas yang dibebankan padaku dan Minyoung.

Kurang lebih setengah jam, kami mengobrol dan mengorek informasi tentang pembunuhan berantai itu. Key songsaenim yakin jika penjahat itu adalah orang dalam mengingat beberapa fakta yang mendekati identitas sang penjahat.

Setelah selesai berbicara, ia mengantar kami berdua ke kelas masing-masing. Kelasku dan Minyoung memang sengaja dipisahkan agar kami berdua lebih leluasa mencari informasi di tempat yang berbeda.

Minyoung masuk di kelas xi-ipa2 sedangkan aku masuk dalam kelas xi-ipa4.

Key songsaenim mengantarku ke dalam kelas lalu berbicara dengan seorang guru yang sedang mengajar.

Kulihat semua pandangan menuju ke arahku dan Key songsaenim, memandang kedatanganku dengan tatapan heran dan bingung.

Aish~ bisakah mereka menatapku biasa saja? Seolah-olah aku ini pembunuh berdarah dingin saja!

Ah iya~ aku memang seorang pembunuh berdarah dingin!

Setelah Key songsaenim berbicara dengan seorang guru laki-laki tadi, ia berjalan keluar kelas dan mengantar Minyoung.

“Baiklah, aku guru Matematika di kelas ini, Sungmin songsaenim. Perkenalkanlah dirimu pada mereka”

Aku melangkah maju ke tengah kelas, “Annyeonghaseo, Richan imnida” Aku tidak mau berlama-lama memperkenalkan diriku pada mereka.

Aku berhenti bicara karena memang kurasa tidak ada lagi yang perlu ditunjukkan dariku.

“Dia pindahan dari Tokyo, saya berharap kalian membantu Richan jika kesulitan dalam beradaptasi. Richan, kau bisa duduk di belakang sana bersama Heerin” Sungmin songsaenim menunjuk ke arah sebuah bangku kosong. Langkah pertamaku terlalu cepat hingga membuat beberapa orang melihat bingung ke arahku. Babbo! Aku lupa untuk tidak menggunakan kemampuanku selama aku di sekolah! Akhirnya aku berjalan ke arah kursi tersebut dengan langkah selambat mungkin agar terlihat seperti manusia normal pada umumnya. Padahal sebenarnya aku merasa berjalan sangat lambat seperti kura-kura!

“Senang bisa mengenalmu Richan.ssi~” seorang perempuan bernama Heerin menyapaku ramah begitu aku duduk disampingnya.

Aku hanya tersenyum membalas perkataannya, kemudian mengeluarkan buku-buku dalam tasku.

Buku yang jika dengan kasat mata terlihat seperti buku tulis biasa, tapi tidak dengan menggunakan kacamata yang kupakai sekarang. Buku itu berisi susunan dan struktur bangunan sekolah beserta beberapa data tentang penjahat yang aku dan Minyoung kumpulkan.

Walaupun tugas utama kami adalah menyelesaikan masalah pembunuhan berantai ini, tugas lain masih tetap kami jalani di malam harinya.

KRINGG KRINGG

Suara bel istirahat berbunyi. Heerin mengajakku pergi ke kantin, tapi aku menolaknya karena aku benar-benar tak tertarik untuk berkumpul bersama murid-murid lainnya.

Selain itu aku masih berkutat dengan laptop di depanku, berkomunikasi dengan Jinki leader tentang langkah yang harus kami lakukan selanjutnya.

Aktivitasku terhenti ketika seseorang datang dan mengagetkanku.

“Minyoung.a~ kau sudah mendapat sebuah informasi?”

“Anhiyo, pembunuh itu benar-benar tak meninggalkan bukti sama sekali”

“Ne, dia pintar sekali”

“Bagaimana dengan kelasmu?”

“Nothing special. Kau sendiri?”

“Aku duduk dengan perempuan cerewet bernama Geulrin, lalu di depanku ada seorang pria cantik bernama Heechul. Ah iya satu lagi! Perempuan di belakangku yang tidur selama pelajaran, Minhyo”

“kelihatannya menyenangkan”

Pembicaraan kami terhenti saat tiba-tiba semua murid ramai berbondong-bondong berlari menuju lapangan. Kami berdua yang kaget pun spontan berlari ke arah lapangan sekolah.

Karena lorong dan ruangan yang telah sepi, aku dan Minyoung melompat dari jendela berlantai tiga, kemudian menerobos segerumbulan murid.

Setelah berhasil menerobos, sebuah pemandangan membuat mata kami terbelalak.

Seorang siswa tergantung di tiang bendera dengan leher yang terikat di tali bendera. Kepala dan tangan laki-laki itu mengeluarkan banyak darah yang masih terus menetes ke bawah.

Aku dan Minyoung saling berpandangan beberapa detik.

“Siapa dia?” tanya Minyoung pada seorang murid di sebelah kami.

“Namanya Cho Kyuhyun”

Author poV-

Key dan semua guru berusaha membubarkan gerombolan murid yang menyaksikan pembunuhan keempat di sekolah mereka.

Polisi dan tim medis juga telah dikerahkan untuk menyelidiki tempat kejadian perkara.

Setelah tempat kejadian disterilkan dan diberi Police line semua murid dibubarkan untuk kembali ke kelas.

Tampak sekali ketakutan dan kekhawatiran di muka semua murid. Mereka khawatir jika pembunuh itu akan menghabisi nyawa mereka seperti empat murid yang menjadi korban.

“Sial! Kita kecolongan!” Minyoung berteriak kesal sembari memukulkan tangannya ke tembok.

Minyoung dan Richan kembali ke kelas masing-masing setelah Key dan semua songsaenim akan kembali melanjutkan pelajaran.

14.00 KST

Pelajaran kembali berlangsung seperti semula. Tidak terasa waktuberjalan sudah hamper 3 jam. Meskipun rasa takut menghantui perasaan semua murid, mereka dituntut untuk kembali belajar dan melupakan kejadian tadi.

KRINGG KRINGG

Bel istirahat kedua kembali berbunyi. Richan dan Heerin masih tetap berada di kelas, hingga segerombolan anak masuk ke kelas mereka.

“Minyoung.a~ siapa mereka?” tanya Richan bingung ketika Minyoung masuk bersama dua orang perempuan dan dua orang laki-laki.

“Heenim imnida” sapa seorang pria cantik ramah.

“Taemin imnida, adik kandung Heenim”

“Minhyo imnida”

Richan menatap heran pada Minyoung yang membawa banyak teman padanya, padahal kemarin ia mengaku begitu kesal ketika harus menjadi anak SMA dan bertemu dengan remaja seumuran mereka.

“Kau jangan menatapku begitu! Dia yang memaksaku membawa mereka padamu” Minyoung menunjuk seorang perempuan chuby yang bernama Geulrin.

Acara pengakraban dan perkenalan mereka terpaksa berhenti karena seorang murid laki-laki berambut pirang bernama Leeteuk memanggil Minyoung dan Richan ke ruang kepala sekolah.

-Ruang Kepala Sekolah-

Richan&Minyoung poV-

Sekali lagi aku merasakannya. Aku merasa kekuatanku hilang sekarang, kemampuan khusus yang kumiliki lenyap! Memang ada siapa di ruang kepala sekolah?

Author poV-

Setelah mereka berdua masuk ke ruangan Key. Pandangan mereka tertuju pada dua orang laki-laki yang sedang duduk bersama Key.

Spontan mereka berdua membungkukkan badan memberi hormat kepada Jonghyun dan Minho.

“Mulai sekarang kami adalah partner kalian dalam tugas ini”

“Mwo~?”

“Ne, Jinki leader menyuruh kami bergabung dengan kalian setelah mendengar ada korban pembunuhan lagi”

“Mianhamnida, kami memang tak bisa diandalkan dalam tugas ini”

“Anhiyoo, empat lebih baik kan daripada dua?” Minho berdiri kemudian tersenyum pada mereka.

“Ah iya~ Kalian tidak boleh menggunakan bahasa formal lagi kepada mereka, karena mulai hari ini mereka teman sekelas kalian” Key yang daritadi diam mulai angkat bicara, hingga membuat Richan dan Minyoung sedikit kaget.

“Yah~ panggil saja kami Jonghyun dan Minho”

Minyoung dan Richan mengangguk pertanda mengerti. Mereka berempat pun dipersilahkan masuk ke kelas, Minho bersama Richan di xi-ipa4 ,sedangkan Jonghyun bersama Minyoung di xi-ipa2.

Minyoung poV-

Karena istirahat masih berlangsung, kami berempat bermaksud untuk menyelidiki kasus pembunuhan yang kembali terjadi sebelum seseorang memanggil kami.

“Minyoung.a~ Richan.a~ bagaimana jika kita ke kantin bersama?” suara pria membuatku menoleh ke arahnya.

Pria cantik bernama Heenim yang datang bersama Taemin, Heerin dan Minhyo.

Minho dan Jonghyun.ssi menatapku kemudian mengangguk.

“Lebih baik jika kita bergaul dengan yang lain untuk menutupi identitas kita atau bahkan mungkin menggali informasi dari mereka”

Itu yang dikatangan Jenderal Jonghyun kepadaku saat kami bertelepati.

Kami berempat pun mengangguk setuju dan mengikuti mereka menuju kantin, walaupun sebenarnya aku malas sekali.

Aku lebih senang membunuh atau bertarung dengan penjahat daripada mengobrol sesuatu yang tidak penting di kantin.

“Siapa mereka?” tanya Minhyo kepadaku menyadari jika ada dua laki-laki asing di sebelah kami.

“Minho imnida”

“Jonghyun imnida”

Jonghyun dan Minho.ssi memperkenalkan diri mereka masing-masing.

“Apa kalian punya hubungan khusus dengan Minyoung dan Richan?” seseorang berambut pendek yang bernama Heerin bertanya polos, membuatku tersendak.

“Ne Ne” balas Jonghyun semakin membuatku batuk-batuk.

“Jadi siapa namja Richan dan siapa namja Minyoung?” tambah Taemin dengan mukanya yang innocent.

“Uhuk uhuk” Richan dan Minho tersendak dan batuk bersamaan.

Jonghyun.ssi melihat ke arahku dengan muka mau-bicara-apa-lagi-kita.

“Kau Janji chagiyaa~?” Seseorang yang ternyata Geulrin datang dan bergabung bersama kami memotong pembicaraan tadi. Fiuh~ untunglah!

“Ne, aku akan menjemputmu weekend besok”  Seorang namja mengikutinya dan duduk di sebelahnya. Geulrin mengenalkannya pada kami jika namja itu bernama Donghae.

“Kau jangan cemburu lagi? Aku benar-benar tak ada hubungan apa-apa dengannya”

“Aku tidak percaya! Pokoknya kalau kau berani macam-macam kita putus, arasseo?”

“Chagiyaa kenapa kau bicara seperti itu? Kau adalah satu-satunya yeoja yang kusayangi”

Aku menatap dua anak muda di hadapanku yang menunjukkan pemandangan yang membuatku mengernyitkan wajah. Richan melihat ke arahku dan menyalakan sinyal telepati kami berdua.

“Apa yang mereka lakukan itu?”

“Molla~ mereka aneh sekali”

“Apa itu yang namanya pacaran?”

“Ne, mungkin saja! Tapi itu menjijikkan!”

“Aish~ aku setuju denganmu!”

Kami berdua menatap aneh pada pasangan yang duduk di depan kami, tingkahnya seperti anak kecil saja. Bisakah mereka melakukan sesuatu yang bermanfaat sedikit? Aish ~ aku bergidik ngeri melihat pemandangan di depanku. Seumur hidupku baru hal ini yang membuatku ngeri !

Minhyo dan Taemin memesankan makanan untuk kami semua, walaupun sebenarnya aku tak  lapar, tapi aku ak bisa menolak. Aku menatap makanan yang ada di depanku, hanya mengaduk-ngaduknya sembari memikirkan kasus yang sama sekali belum berhasil kami temukan satu petunjukpun.

Hankyung, Eunhyuk,Elli, dan barusan Cho Kyuhyun semua dibunuh di tempat yang berbeda! Kamar mandi, gudang, Kelas, dan barusan adalah lapangan sekolah. Benar-benar tak bisa dikaitkan dan dihubungkan.

Sementara yang lain melahap makanannya, aku merasakan ada seseorang yang memperhatikan kami. Aku menoleh ke belakang mencari sosoknya,seorang laki-laki berambut pirang yang duduk di bangku belakang kami sedang melihat ke arah sini. Bukankah orang itu yang memanggil kami ke ruang kepala sekolah tadi? Ah~ aku lupa namanya!

Belum sempat aku mengingat nama laki-laki itu, ia keburu berdiri dan pergi keluar dari kantin.

Aku memandang kepergiannya dengan seribu tanda Tanya. Apakah ada yang orang itu sembunyikan ?

“Aduh , susah sekali daging ini dipotong” Heerin yang sedang memakan daging steak di piringnya mengeluh karena kesulitan memotongnya, hingga membuat semua mata tertuju padanya.

“Asal kau tahu saja steak disini memang agak alot” sela Heechul tidak membantu, malah membuat Heerin menyerah dan meletakkan pisau serta garpunya.

“Sini!” Richan yang daritadi berkutat dengan makanannya menarik piring Heerin dengan bersemangat. Dengan cepat pisau sudah berada di tangan kanannya.

Satu.. Dua.. Tiga..

Ia memotong daging itu dengan kecepatannya, memotong setiap bagian dengan seksama. Caranya memotong yang tidak biasa membuat semua orang melihatnya.

Babo! Ia kelepasan menggunakan kemampuannya dengan pisau !

Ia memotong daging itu seperti saat ia melukai dan membunuh semua korbankami dengan pisau lipat kesayangannya!

“Selesai!” Ia berseru senang dan sukses membuat semua orang yang ada di meja ini melongo melihatnya.

“Babo!” Aku menginjak kakinya membuatnya bergidik kesakitan.

“Kalian jangan kaget seperti itu! Appanya dulu adalah penjual daging” Sela Minho mencoba menutupi keadaan. Mereka mengangguk pertanda mengerti. Untunglah semua orang bisa menerima pengakuan Minho.ssi.

Author poV-

“Mianhamnida, Jeongmal mianhamnida”

Richan membungkuk ke arah Minyoung, Jonghyun dan Minho atas kecerobohan menunjukkan kemampuan miliknya.

“Lain kali kau jangan ceroboh begitu!” balas Jonghyun sedikit emosi, sementara Richan menunjukkan mimik bersalah.

Gwenchana Richan.ah~ kau tidak perlu terlalu menyesal begitu” Minho berkata lembut sambil tersenyum ke arah Richan, membuat hatinya menjadi begitu tenang.

Setelah sekolah usai, Mereka berempat sedang berada di ruang perpustakaan pribadi milik Key songsaenim, masih terus mencari informasi atau petunjuk yang tak kunjung mereka dapatkan.

Saat Minyoung akan menggunakan kemampuannya untuk mengambil buku dari rak yang berada di atas, entah kenapa kekuatan itu tak muncul. Ia merasakan jika tak dapat menggunakan kemampuannya.

“Aigo~ ada apa ini?” ia  berteriak di dalam hati. Sedetik kemudian ia menoleh ke arah seorang laki-laki yang tiba-tiba berada di sebelahnya.

Ia menatap Jonghyun heran. Karena menyadari jika sedang diperhatikan, Jonghyun kemudian memandang balik ke arah Minyoung.

Mata mereka sempat bertemu untuk beberapa lama, sebelum Minho mengagetkan mereka.

“Jonghyun hyung, Minyoung kemarilah!” Sedetik kemudian sebidang tembok kosong yang telah disentuh Minho berubah menjadi sebuah layar, wajah Jinki leader berada di balik layar itu.

“Aku berharap kalian bisa menemukan bukti bukti dengan cepat. Aku khawatir pembunuhan akan segera berakhir dan mereka segera melancarkan serangan bom nya” Jinki berbicara di seberang markas FBI yang tersambung ke sekolah xxxx melalui sebuah layar besar.

“Kami mengerti Leader” jawab Jonghyun, Minho, Minyoung dan Richan bersamaan.

Mereka tau jika tak bisa berlama-lama mengungkap kasus ini, ribuan nyawa ada di tangan mereka. Tapi sesungguhnya, penjahat itu lebih cerdik dari yang mereka kira.

“Jika kalian membutuhkan bantuanku, jangan ragu untuk menghubungiku” Key yang masuk tiba-tiba mengagetkan mereka.

“Ne songsaenim” jawab Richan dan Mimyoung bersamaan. Mereka dapat melihat jelas kekhawatiran dari muka Key. Tentu saja ia mengkhawatirkan sekolahnya dan ribuan muridnya. Empat murid yang terbunuh cukup membuatnya begitu merasa bersalah.

Jonghyun, Minho, Richan dan Minyoung berjanji pada diri mereka sendiri untuk mengabdikan diri agar  kasus ini terungkap atau setidaknya otak di balik semua ini segera mati.

Mereka berempat keluar dari perpustakaan dan bermaksud mencari bukti di sekitar tempat kejadian.

Hari masih menunjukkan pukul 17.00 KST, masih ada beberapa anak yang berkeliaran di sekolah karena hukuman ataupun pelajaran tambahan.

“Sebaiknya kita membagi dua kelompok agar lebih cepat, aku akan bersama Minyoung dan kau dengan Richan. Arasseo?” Jonghyun yang bertugas sebagai pimpinan dari mereka mulai berkomando.

“Dan sebaiknya, kita tidak menunjukkan hal yang mencurigakan, karena masih ada beberapa murid disini”

Minho, Minyoung dan Richan mengangguk pertanda mengerti.

Tanpa banyak bicara mereka langsung bergerak dengan partner masing-masing.

Jonghyun dan Minyoung akan pergi ke belakang sekolah, sementara Minho dan Richan menuju kamar mandi dan gudang.

-Halaman sekolah-

Minyoung memperhatikan semua sudut lapangan dengan kacamata khusus yang ia pakai. Kacamata yang dapat memberitahunya segala aktivitas dan informasi yang berada di tempat ia berdiri.

Bayangan flashback orang-orang yang lewat dan beraktivitas disini dapat terekam dengan baik. Ia melihat kehadiran Cho Kyuhyun yang berjalan ke arah lapangan beberapa menit sebelum ia terbunuh. Tapi rekaman kejadian bagaimana ia terbunuh tak bisa terbaca di kacamata miliknya!

Sementara Jonghyun masih berputar di arah tempat kejadian, menembus police line dan mencari-cari barang yang bisa dijadikan petunjuk.

“Minyoung.ah~ cepat kemari !” teriak Jonghyun tiba-tiba. Tidak butuh waktu lebih dari tiga detik, Minyoung telah berada di sampingnya.

“Ne?”

“Kau lihat ini? Sebuah goresan pisau”

Jonghyun menunjukkan sebuah goresan membentuk huruf H di tiang tepat di tempat Cho Kyuhyun digantung.

“Goresan ini baru, aku dapat mencium bau pisau dan darahnya” Jonghyun kembali mempertegas kata-katanya.

Minyoung mengangguk mengerti.

“Tapi ini tidak dapat dijadikan sebagai bukti”

“Keurae! Kita harus lebih bekerja keras!” Jonghyun menatap Minyoung yang berada tepat di sebelahnya. Lagi-lagi mata mereka bertemu beberapa lama, membuat sesuatu bergejolak dalam diri Minyoung.

Gudang Sekolah-

Seperti halnya Minyoung dan Jonghyun, Richan dan Minho juga sedang berusaha mencari sesuatu yang bisa memberi titik terang.

Karena hari sudah mulai larut dan merasa jika tak ada lagi murid yang berada disana. Minho dan Richan mulai membiarkan diri mereka menjadi anggota FBI dengan segala ketangkasan yang ia miliki.

Mereka memutuskan untuk berpencar, karena akan lebih mudah menggunakan kemampuan masing-masing.

“Kau harus hati-hati Richan.a~” Minho mengelus kepala Richan, membuatnya sedikit terguncang dengan belaian tangan namja itu.

Sesaat kemudian Minho dan Richan berada di tempat yang berbeda.

Richan poV-

Aku berlari menusuri lorong sekolah dengan langkah kaki yang sebenarnya tidak pas menginjak lantai.

Sekolah menjadi gelap sekarang, karena semua lampu memang dimatikan. Kami berempat yang meminta hal ini pada Key songsaenim. Kami tak mau jika penjaga sekolah ataupun orang lain menangkap keberadaan kami yang sedang membunuh ataupun melakukan hal aneh lain.

Sesuatu yang terus menjadi prinsip dalam diriku adalah membunuh atau terbunuh. Jadi, jika suatu saat dia datang kepada kami, aku sudah harus bersiap membunuhnya.

Yah~ aku memang pembunuh berdarah dingin. Tapi penjahat ini benar-benar membuatku muak! Aku ingin segera mencincangnya!

Melihat dari semua teror pada Key songsaenim dan pembunuhan berantai ini, aku sangat yakin jika orang itu benar-benar pintar!

Aku masih berjalan perlahan di koridor sekolah, sekarang aku berada di depan sebuah kelas. Kalau tidak salah kelas ini adalah tempat dimana  Elli dibunuh.

Aku membuka perlahan pintu kelas itu. Sudah kuduka jika bangku tempat Elli mati masih di kelilingi oleh police line.

Aku berjalan mendekat kesana dengan hanya membutuhkan beberapa detik, ruangan yang gelap dan sunyi.

Bahkan aku bisa mendengar suara nafasku dengan jelas. Aku memandang bangku itu dan mencoba mencari sesuatu disana. Aku berjongkok dan memasuki garis polisi. Hanya ada bercak-bercak darah dan goresan pisau di meja ini.

Kuambil beberapa sisa darah yang mengering dan menciumnya.

“Darahnya memang mengering, tapi ke”

Tatapanku terhenti ketika aku melihat sebuah goresan di meja itu, goresan yang membentuk huruf ‘C’

Jujur saja aku tak mengerti arti goresan ini. Ah~ aku hampir lupa tadi Minyoung memberikan pesan padaku jika ia dan Jonghyun juga menemukan goresan huruf H .

Aku berpikir keras, namun tanda tanya besar selalu berputar di benakku.

Kuputuskan untuk berdiri dan mencari sesuatu di tempat lain. Tepat disaat aku berjalan mendekati jendela, aku melihat sebuah bayangan. Aku segera bersembunyi di sebelah jendela seraya berusaha melihat kemana arahnya pergi.

Disaat sudah merasa aman, aku membuka pintu dan keluar. Sial! Aku kehilangan jejaknya!

Aku tidak dapat melihat begitu jelas wajah ataupun rambutnya karena sekolah yang memang begitu gelap. Tidak ada cahaya sedikitpun yang dapat memantulkan bayangan wajahnya.

Tidak lama aku berpikir untuk pergi ke arah ruangan saat ia tadi keluar.

‘Laboraturium Biologi’

Kubuka pintunya perlahan, memastikan tidak ada seorangpun disana.

Aku melihat sesuatu yang tergeletak di sebuah meja.

Tak salah lagi itu manusia!

Aku berjalan mendekatinya, mataku membelalak ketika melihat apa yang ada di depanku adalah ‘mayat’

Mayat seorang murid laki-laki yang masih mengenakan seragam.

Mulutnya mengeluarkan busa, sedangkan kaki dan tangannya terikat seutas tali.

HENRY” sebuah nama dada tertulis di seragamnya.

Tidak lama setelah itu, aku melihat kembali sebuah bayangan seseorang. Kali ini aku bergegas mengikutinya.

Aku benar-benar tak bisa melihatnya! Aku berjalan sepelan mungkin agar ia tak menyadari keberadaanku.

Baru saja aku mengedipkan mataku, tapi sosoknya menghilang tiba-tiba.

Saat aku berusaha mencarinya, tak sengaja sebuah pot tanaman terjatuh terkena tanganku.

Seketika itu juga aku merasakan seseorang datang dan mendekat kepadaku. Ia menindih tubuhku ke tembok dan membengkap mulutku….

To Be Continue>>>>



Bagaimana Menurut Readers?

Jelek ya critanya? Atau Geje?

Gomawo udah baca dan mampir^^

Tunggu next chapter ya!

Jangan lupa comment 😀

42 responses to “[twoshot] Destiny to Kill

  1. keren !
    aku udah lama ga baca FF action , aku jadi deg-deg-an sendiri bacanya (maksud loh ?)
    huweee share lagi ..
    aku mau baca part 2 nya , tak sabar pengen tau kelanjutannya .
    oh ya aku stuju sama pendapat avysikeroro , ‘H’ nya tuh Henry ya si tunanganku *ditimpuk massa* trs ‘C’ tuh Kyuhyun kan abangku *dimutilasi massa* ?
    hehe buruan ya part 2 nya dishare 😀

  2. motih pembunuhnya itu kyknya selalu ngasi inisial nama korban selanjutnya de *sotoy mode on*

    pas di meja eli, richan nemu huruf ‘C’. kan marganya kyuhun cho, jadi korban berikutnya setelah eli itukyuhun. setelah ngebunuh kyuhun, dia ninggalin huruf ‘H’& korban berikutnya henry..

    tapi kayaknya aku tau de siapa penjahatnya *sotoy mode on* ^^

  3. Rimaaa~~ lanjutinnn……..
    jgn lama2 lanjutannyaa, cuz suka lupa ama ceritanya … hihi

    oiya, leh minta nope hp mu tak ???

    ato gakfollow twit q yeaaa @RyeoTha *promosi* …. mention jja, nti di folback …

    • sayangnya skul lg banyak tugas chingu >.<
      tp moga aja bisa cpet kelar..

      Ya nanti aku follow skalian knalan n share nope ya ^^

      • okok … tp kalo habis follow jgn lupa mention .. cuz twitter ku error, jd kalo ada org yg foll gak tau saya …

  4. @tachann clue nya deh chingu? ;D aku authornya lho gak bakal tak rajam kok, plg dicincang wkwk bcanda..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s