Just One Day with You (Twoshoot-end)

Author : inwonderplace
Cast       : Lee Taemin, Lee Haena (author), Kang Ji Young
Genre   : Romance
Length  : Twoshot (end)
Rating   : PG-13
Disclaim : Taemin isn’t mine, but Haena and this fanfic is mine.
Recommend song : DaVichi – A sad Love song
DaVichi – The Bad Me who is Hurt
DaVichi – Is Love That Foolish

-Previous Part-

Annyeong Yeorobun~~!!

Author kacau balik lagi dgn membawa lanjutan ff kacau’a yg baru aja beres dari proses pengadukan (?) hohohohoho d(^o^)b
this is the last part!!
Yeah!! Author bahagia bisa ngeberesin ni ff… *reader: kaga peduli….*
d part yg ini semua perasaan Haena-Taemin-Jiyoung akan terjawab…..

Karna reader udah pda penasaran, *Author terlalu PeDe*
langsung ja deh…..

Cekidot!!

-.-.-.-.-

“Haena, “ panggilnya saat kami sudah berada di dalam bianglala.

“hmm.”

“Apa kau ingat, saat aku menyatakan cintaku padamu waktu itu?”

“Tentu saja aku ingat, aku takkan mungkin melupakan saat-saat itu..“

“Hmmm, bukankah kau dulu terpaksa ya menerimaku. Jika saja saat itu kita tau apa yang akan terjadi saat ini, mungkin memang lebih baik jika kita tak bersama sejak dulu…” ujar Taemin yang telah berhasil menohok hatiku. Apa sebegitu cepatnya kah ia melupakanku dan semua kenangan indah kita bersama.

Apa ia sudah melupakan segala perhatianku selama ini, apa ia dengan mudah membuangku begitu saja. Ini semua tidak adil, jika sebelumnya kuthau akan begini adanya, aku menyesal telah mencintainya selama ini.

“ya, kau memang benar. Dulu aku pernah merasa menyesal menerimamu, tapi kau itu terlalu baik padaku. Padahal aku pernah berpikir untuk memutuskanmu, tapi karena kau terlalu baikaku jadi tak tega memutuskanmu…”

“Haena…”

“Ya,”

“Terima kasih untuk semuanya, karena selama ini kau telah menerimaku.” Ujar Taemin menyesal.

“hmm, apakah expresi seseorang yang berterima kasih itu seperti itu ya? Berterima kasih koq dengan tampang menyesal…” ujarku menantang. Sebenarnya hanya untuk menutupi rasa sedih dan sakitku.

“Aish! Ternyata kau memang tak berubah…” ujarnya kemudian mengacak rambutku.

“Ya! Hentikan, kau tahu kan kalau aku tak suka ada orang yang meyentuh rambutku…”

“yayaya, aku minta maaf…” ia berhenti mengacak rambutku dan beralih membelai rambutku yang membuatku kini tertegun.

“Kau, benar-benar berubah…” ujarku pelan.

“Ne?”

“Kau berubah,”

“Maskudmu?”

“Kau tak seperti Taemin yang dulu, Taemin yang childish sudah tak ada. Sekarang kau berubah..”

Sebelum Taemin sempat menjawab pernyataanku, bianglala yang kami naiki kini telah sampai di bawah. Setelah keluar dari bianglala, tak ada satupun diantara kami berdua angkat bicara.

“Sekarang sudah gelap bagaimana kalau kita pulang saja,” pintaku pada Taemin.

“Hmm, baiklah kalau begitu. Tapi bagaimana kalau kita jalan-jalan dulu kudengar sedang ada pasar malam di dekat sungai han. Bagaimana kalau kita ke situ dulu…”

Pasar malam? Ya, itulah tempat yang disukai Taemin. Ia akan selalu bersemangt bila mendengar ada pasar malam.

“Pasar malam? Kau masih suka ya?”

“Tentu saja, disana ramai. Banyak penjual dan banyak mainan…” ujar Taemin bahagia.

Jika bicara tentang pasar malam Taemin kembli lagi seperti Taemin yang childish yang kukenal dulu.

-.-.-.-.-

Akhirnya kami benar-benar pergi ke pasar malam itu dan memang di sini banyak pedagang. Taemin benar-benar terlihat semangat datang ke tempat ini. Selama berada di pasar malam ini, Taemin tak henti-hentinya mengajakku berkeliling, sejujurnya aku sebenarnya sudah lelah berjalan-jalan seharian ini. Tapi, jika mengingat apa yang terjadi dengan hubungan kami sekarang, au tak ingin hari berakhir. Aku tak mau Taemin meninggalkanku, aku tak mau kehilangannya.

“Haena, ayo lihat kesini.” Ajak Taemin memasuki stan penjual aksesoris. “aku ingin membelikan sesuatu untuk Ji Young, kau bisa membantuku memilihkannya kan…”

Aksesoris? Ji Young? Di depanku?
Taemin, apa memang begitu mudahnyakah aku terlupakan olehmu, kau sama sekali tak menghiraukab perasaanku. Neo?! Ireon Saramieonni? Neo Wae Ireoke Motdwaenni?

Kau? apa kau memang orang yang seperti itu? Kenapa kau begitu tak punya hati?
Apa kau tak memikirkan perasaanku saat ini. Andai saja, kau bisa tahu. Hatiku sangat sakit saat ini, dan semua itu karenamu, karena dirimu LEE TAEMIN!!!

“Haena, lihatlah! Apa bando ini cocok untuk Ji Young,” ujar Taemin  sambil menunjukanku sebuah bando kuning dengan hiasan pita yang berwarna kuning juga. Dan aku rasa bando itu sangat cantik bila dipakai oleh yeoja yang feminine, yang tak seperti diriku. Dan akupun merasa jika JiYoung memakainya akan terlihat sangat cantik.

“Hmm, neomu yeppeoda. Pasti cocok sekali jika Ji Young yang memakainya.” Ujarku sambil tersenyum.

“Jeongmalyo? Kalau begitu, baiklah akan kubelikan ini untuk Ji Young. Oh ya Haena, jika kau mau beli, pilih saja nanti biar kubelikan.”

“Anni, tak usah. Aku tak mau apa-apa koq,”

“Baiklah, kalau begitu. Aku mau bayar ini dulu,” ujar Taemin kemudian pergi membayar bando tersebut.

Akupun beranjak ke luar stan itu, tapi langkahku terhenti saat pandanganku tertarik oleh sebuah benda kesuakaanku, ‘kotak musik’.  Aku meraih kotak music itu dan membukannya. Terdengar alunan sebuah lagu yang benar-benar menyindir perasaanku saat ini. Lagu ‘A sad love song’ yang dibawakan DaVichi ini benar-benar mewakili perasaanku yang saat ini hancur karena Taemin. Oh Tuhan, kenapa kau masukan lagu ini dalam kotak music ini(?).

Mendengar alunan lagu itu semakin membuatku merasa sakit dan sedih, ingin rasanya air mataku keluar lagi. Kukembalikan benda itu ke tempatnya semula dan berlari keluar stan menahan tangis yang sudah ada di pelupuk mata. Aku benar-benar tak kuasa lagi menahan smua perasaan ini.

“Haena,” panggil Taemin. Dengan segera aku menghapus air mataku, aku tak ingin  ia melihatku menangis.

“Kau sudah selesai?” tanyaku.

“Kau kenapa Haena? Kau habis menangis ya?” Tanya Taemin yang sepertinya  menyadari mataku sedikit sembab.

“Anni, aku tak menangis koq, tadi mataku kemasukan debu, jadinya berair seperti ini,” jawabku berbohong.

“Ya sudah, bagaimana kalo sekarang kita membeli es krim, ku dengar di sini ada stan penjual es krim yang enak lho!” ajak Taemin semangat, akupun hanya bisa mengikuti keinginannya itu.

-.-.-.-.-

“Ahjumma, aku pesan 2 eskrim rasa coklat ya,” pinta Taemin pada ahjumma penjual es krim itu.

“Ya, tunggu sebentar,” jawab ahjumma itu.

“Taemin-ah, kenapa kau tak bertanya dulu padaku, aku mau rasa apa.” Ujarku.

“untuk apa aku bertanya, bukankah setiap kita membeli es krim, kau suka rasa coklat,”

“Hmm, ne,” jawabku. Ternyata Taemin masih mengingat semua yang kusuka. Aku senang ia masih mengingatnya, tapi kenapa ia harus meninggalkanku sih.

“Ini, dua eskrim coklat,” ujar ahjumma penjual es krim itu sambil menyodorkan dua eskrim yang dipesan Taemin.

“Ah, gamsahamnida,” jawab Taemin sambil mengambil kedua eskrim itu. “Ini,” ia memberikan salah satu eskrim itu padaku. “mmm, bagaimana kalau kita duduk dulu di pinggir sungai han, kudengar katanya akan ada kembang api, aku ingin melihatnya,”

“yayaya, baiklah” ujarku pasrah.

-.-.-.-.-

Taemin POV

“mmm, sepinya disini,” ujar Haena sambil memakan eskrimnya.

Aku memang sengaja membawamu kesini, karena aku ingin berdua denganmu dan membicarakan semuanya. Maaf Haena, aku tahu kau pasti merasa sakit dengan semua keputusanku ini, tapi aku harus melakukannya.

“Haena,” panggilku pelan.

“Ya,” jawabnya sambil melirik ke arahku, kulihat mulutnya belepotan oleh eskrim.

“Aish, kau ini memang tak pernah berubah ya, selalu saja belepotan. Kau ini yeoja, jika kau selalu seperti ini, namja mana yang mau melirikmu,” ujarku sambil membersihkan eskrim yang belepotan di mulutnya itu.

“Taemin?” ujarnya parau. Entah apa yang kupikirkan saat ini, aku langsung memeluknya. Memeluk sosok yeoja yng amat dengan sangat kusayangi dan kucintai.

“Taemin lepaskan,” ujarnya lagi mencoba melepaskan pelukanku.

“Haena, mianahae. Jeongmal mianhaeyo…..”

“Taemin, kumohon~~ lepaskan aku~~” pinta Haena lagi sambil tetap mencoba melepaskan pelukanku.

“Tidak, aku takkan melepaskanmu.” Ujarku. Selama beberapa saat aku terus memeluk Haena. Jujur, sebenarnya aku juga merindukannya, karena Haena-lah satu-satunya yeoja yang amat kucintai dan kusayangi. Tapi, Jiyoung, sekarang dia membutuhkanku, aku juga menyayangi Jiyoung seperti aku menyayangi Haena.

“Haena, mianhae, jeongmal mianhaeyo. Saranghaeyo Haena,” ujaku dengan pelan.

Kurasakan tubuh Haena membeku setelah mendengar pernyataanku barusan. Aku tahu Haena pasti shock mendengar ucapanku itu, tapi memang itulah perasaanku yang sebenarnya. Aku tahu Haena pasti merasa dipermainkan. Tapi apa dayaku, aku kini benar-benar terjebak diantara dua yeoja yang kusayangi. Aku tak bisa memilih satu diantara mereka. Aku terlalu menyayangi mereka berdua.

Kini bisa kudengar isakan tangis dari yeoja yang kupeluk ini. Perlahan aku melepaskan pelukanku dan menatap Haena, aigoo~ ia benar-benar menangis. Apa yang harus kuperbuat, baru sekali ini Haena menangis di hadapanku.

“Haena, gwaenchanayo?” tanyaku padanya, tapi ia tak menjawabku dan masih saja menangis. “Haena?” tanyaku sekali lagi.

PLAAKKK!!

Sebuah tamparan sukses mendarat di pipiku. Bisa kurasakan betapa panas dan sakitnya pipiku akibat tamparan yang diberikan Haena, tapi kutahu bahwa rasa sakit Haena lebih dari ini.

“Haena, mianhae,” ucapku.

“KAU!!” teriaknya emosi. “kenapa kau berbuat seperti ini padaku? Apa cinta ini hanya sebuah lelucon bagimu? Kau dengan mudahnya memutuskanku tadi, dan sekarang dengan mudahnya pula kau katakan cinta padaku. Kau pikir aku adalah boneka yang bisa dengan sesuka hatimu kau permainkan begitu saja. Kenapa kau tak memikirkan perasaanku Taemin? Kenapa? Kenapa kau seperti ini?!” ujarnya penuh emosi dan tetap berlinang airmata.

-.-.-.-.-

“Haena, maafkan aku. Aku tak bermaksud seperti itu padamu.” Ujar Taemin si namja yang brengsek.

Aku kini benar-benar sakit karenanya. Akupun berlari menjauh darinya, aku kini sudah tak peduli padanya. Aku tak peduli dengan panggilannya. Aku benar-benar sudah muak padanya. Namja yang selama ini kucintai, kusayangi dan kunantikan selama setahun ini, telah mempermainkan perasaanku dan membuat hatiku hancur.

Aku terus berlari, tapi langkahku terhenti karena ada seseorang yang memelukku dari belakang yang membuat laiku terhenti.

“Haen, maafkan aku.” Pinta namja yang memelukku yang kukenal Taemin.

“Taemin, lepaskan aku!” teriakku.

“Haena! Maafkan aku!” teriaknya “Aku tak bermaksud mempermainkanmu. Aku tahu aku memang namja yang bodoh dan jahat yang berani menyakiti yeoja sepertimu. Tapi kumohon  dengarkanlah penjelasanku.”

“Aku tak mau mendengar penjelasan apapun darimu! Lepaskan aku Taemin!!”

“Aku memang putus denganmu karena Jiyoung! Tapi kulakukan itu demi Jiyoung!”

“Untuk Jiyoung??! Jika hanya untuknya aku tak mau mendengar perkataanmu lagi!”

“Jiyoung itu sakit! Umurnya takkan bertahan lama lagi!” teriak Taemin yang berhasil membuatku diam.

Jiyoung? Sakit? Takkan lama lagi? Apa maksudnya ini? Apakah ini hanyalah akal-akalan Taemin agar aku memaafkannya. Tapi aku tahu Taemin takkan pernah berbuat seperti itu. kini pelukan Taemin perlahan terlepas. Sepertinya kini dia ambruk dan terduduk di tanah. Tapi kenapa au mendengar suara isakan tangis, apa Taemin menangis? Akupun berbalik dan melihat Taemin terduduk di tanah sambil berlinang air mata *yaahhhh taeminnie cengeng……*.

“Haena, mianhae….” Ucapnya parau.

“Taemin….” Bisikku pelan. Akupun berjongkok di hadapan Taemin. “Apa benar yang kau katakan?”

“Haena maafkan aku,” ucapnya lagi masih berlinang air mata.

“Sudahlah, kumaafkan dirimu,” ujarku sambil menyeka air matanya, aku benar-benar tak tega melihatnya menangis. ”sudahlah Taemin, janganlah menangis seperti itu. kau itu namja, tak sepatutnya kau menangis dihadapna seorang yeoja. Lebih baik kau jelaskan semuanya padaku sekarang,” pintaku.

Selama beberapa saat Taemin dan aku terdiam. Ia tak memulai penjelasannya. Hingga akhirnya ia bersuara.

“Haena, maafkan aku,” ujarnya.

“Sudahlah, jangan meminta maaf  lagi, sekarang jelaskan semuanya padaku,”

“Hmm, baiklah,” Taemin menarik nafas dalam-dalam. “Sebenarnya Jiyoung, ia sedang mengidap penyakit pneumonia, dan dokter bilang ia takkan bertahan lama. Untuk itu, aku ingin berada di sampingnya di saat-saat terkahirnya. Aku ingin membuatnya bahagia. Aku sangat menyayangi Jiyoung, seperti aku menyayangimu. Tapi aku juga masih mencintaimu, aku tak bisa melupakanmu begitu saja. Aku tahu kau pasti akan terluka, tapi aku benar-benar ingin membahagiakan Jiyoung. Ini semua kulakukan untuk kalian berdua.”

“Taemin,” gumamku. Kulihat Taemin benar-benar bingung dengan semua keadaan ini. Airmatanya masih saja mengalir. Tanpa sadar akupun memeluk Taemin.

“haena mianhaeyo,” gumamnya sambil membalas pelukanku.

“Gwaenchana Taemin-ah,” jawabku.

“mianhae, aku sudah terlalu menyakitimu,”

“Sudahlah Taemin, sekarang lebih baik kita pulang, aku yakin saat ini kita sama-sama lelah. aku tak ingin hubungan kita berakhir dengan sebuah kebencian.”

-.-.-.-.-

Taemin POV

Selama perjalanan menuju rumah Haena, tanganku terus saja mengegenggam tangang Haena. Sejujurnya dengan berat hati aku memutuskannya, tapi apa dayaku, Ji young jauh kebih membutuhkanku saat ini. Aku ingin membahagiakan Ji Young di sisa-sisa hidupnya. Aku harap Haena bisa mengerti ngposisiku saat ini.

Aku memang menyayangi Ji Young, tapi hatiku seluruhnya hanya milik Haena. Pantaskah aku disebut namja yang tak punya pendirian?  Mungkin memang begitukah diriku. Aku tak bisa memilih salah satu diantara mereka. Mereka adalah pilihan yang sulit, dua orang yeoja yang amat kusayangi.

“Taemin-ah, terima kasih sudah mengantarku pulang,” ujar Haena saat kami sampai di depan rumahnya.

“Kau usah berterimakasih seperti itu. Bukankah memang sudah seharusnya seorang namja mengantar yeoja-nya pulang. Dan bukankah sejak dulu aku selalu mengantarmu pulang.”

“Akh ne,ne, ne, arasseo. Kalau begitu sebaiknya kau pulang ini sudah malam. Kau harus istirahat.”ujarnya.

“Hmm, baiklah. Aku akan pulang saat ku yakin kau telah masuk ke dalam rumahmu.”

“Baiklah aku akan masuk. Sampai jumpa,” ujar Haena kemudian melenggang memasuki rumahnya dan tak lupa melambaikan tangannya padaku.

Aku hanya bisa membalas lambaian tangan itu, mungkin lambaian tanganku yang terakhir untuknya. ‘Haena semoga kau akan mengingatku selamanya dalam hatimu,’ batinku.

-.-.-.-.-

Haena POV

Kumasuki kamarku dan menguncinya dari dalam. Kurebahkan tubuhku di atas tempat tidurku, ingin kuhilangkan semua perasaan penatku seharian ini. Taemin? Apa aku akan benar-benar kehilanganmu untuk selamanya. Saat ini aku belum mampu melepasmu, apalagi saat kutahu kau masih mencintai dan menyayangiku. Apa aku harus merelakanmu untuk Ji Young? Ji Young mungkin memang lebih membutuhkan Taemin disbanding aku, tapi tetap saja aku tak bisa merelakan orang yang kusayangi pergi meninggalkanku. Aku sudah terlanjur mencintai Taemin.

-.-.-.-.-

Tok tok tok

“Haena, bangun! Sudah siang!” teriak eomma sambil mengetuk pintu yang membuatku terbangun dari tidurku.

“aku masih ngantuk eomma,” sahutku.

“Tapi ini ada bingkisan untukmu,”

“Taruh saja di depan pintu,” sahutku lagi lalu melanjutkan tidurku. Tapi karena terlanjur terbangun karena teriakkan eomma, aku tak bisa tidur dengan nyenyak lagi sekarang. Lagipula siapa sih yang memberiku bingkisan, memangnya ada orang yang mau mengirimiku bingkisan?

Hmmm, karena penasaran akupun bangkit dari tidurku dan berjalan ke arah pintu. Saat kubuka pintu terdapat sebuah bingkisan di depannya, pasti ini yang di taruh eomma tadi. Tapi sepertinya aku mengenal bungkus dari bingkisan itu, itu seperti……… bungkusan yang semalam dibawa Taemin!!

Akupun bergegas mengambil bingkisan itu dan melihat isinya. Di dalamnya terdapat sebuah kotak music yang semalam kulihat di stan aksesoris yang kudatangi semalam bersama Taemin. Dan ada sepucuk surat terselip di kotak music tersebut. Akupun membaca surat itu…

Dear Haena

Maaf, aku telah menyakitimu dengan perasaanku
yang tak punya pendirian yang tetap,
Aku tak bermaksud untuk menyakitimu atau siapapun
Aku hanyalah seseorang yang sedang terjebak diantara
dua hati yang tak bisa kupilih salah satunya.
Aku hanya ingin kau tahu, bahwa sesungguhnya
aku mencintaimu dan kau takkan mungkin terlupakan
olehku.
Kuharap kau juga begitu padaku
aku selalu berharap kau akan mencintaiku
dan mengingatku selamanya.
Besok pagi aku akan kembali ke Jepang untuk menetap
di sana dan aku takkan kembali lagi ke
korea. Aku akan berangkat pukul 10 pagi
Kuharap kau bisa mengantarkan kepergianku.
Gomawo untuk jalan-jalannya hari ini
Mungkin itu akan menjadi kenangan terakhirku bersamamu
Selamat tinggal Haena,
Semoga kau masih mau menungguku
Agar aku bisa kembali padamu suatu hari nanti

Lee Taemin

“Taemin…” gumamku saat selesai membaca surat itu dan tanpa kusadari airmataku sudah menetes. Akupun segera berlari ke arah dapur mengahmpiri sosok eomma.

“Eomma!” seruku.

“Ada apa Haena? Kenapa kau teriak-teriak seperti itu?”

“eomma, siapa yang mengirim bingkisan ini?”

“Eomma tidak tahu, bingkisan itu sepertinya sudah ada sejak tadi malam di depan pintu rumah kita. Memangnya ada apa? Dan kenapa kau menangis?” jawab eomma disertai beberapa pertanyaan.

“sekarang jam berapa?” tanyaku panic.

“sekarang jam 9 pagi. Memangnya ada apa?” Tanya eomma bingung.

“Sudahlah aku harus pergi sekarang!” seruku masih terisak lalu bergegas menuju kamarku.

Kini aku bergegas untuk bersiap-siap untuk pergi ke bandara. Aku tak mau Taemin meninggalkanku tanpa ucapan perpisahan yang jelas. Aku ingin ia mengatakan ucapa perpisahan secara langsung bukan melalui surat.

Selama perjalan menuju bandara aku terus saja merasa tegang dan terus terisak aku tak mau kehilangan Taemin begitu saja. Kehilangn Taemin seperti ini, sama saja dengan kehilangan separuh hidupku. Aku sangat mencintaimu Lee Taemin. Sesampainya di bandara aku langsung mencari Taemin, aku harap ia belum berangkat.

Cukup lama aku mencari hingga akhirnyaaku bisa menemukan sosok Taemin yang sedang berjalan menuju pesawatnya.

“Taemin!!” teriakku. Ia berbalik dan mencari suaraku yang memanggilnya, tapi sepertinya ia tak melihatku.

“Taemin!! Jangan pergi dulu!” teriakku sekali lagi dan kini ia melihatku.

“Haena?” serunya.

Aku berlari menghampirinya yang berdiri mematung menatapku sambil masih terisak.

“Taemin,” ujarku reflek memeluknya. “Jangan pergi,”

“Haena?” gumamnya.

“Taemin, kumohon tetaplah berada di sini. Aku tak mampu kehilangan dirimu, aku ingin kau tetap berada di sampingku. Kumohon jangan pergi. Aku mencintaimu.”

“Haena,” gumamnya pelan. “Mianhae, ku tak bisa berada di sini lagi, aku harus segera pergi. Terima kasih sudah mencintaiku selama ini, tapi aku harus tetap pergi. Jeongmal Mianhaeyo…” ujarnya kemudian melepaskan pelukanku. “Aku harap suatu hari nanti kita akan kembali bersama lagi, selamat tinggal Haena,” tambahnya lagi kemudian meninggalkanku yang tetap terisak untuk selamanya.

“Taemin!” panggilku dan ia pun berbalik.

“Kuharap kau mau menungguku!” jawabnya.

“Aku, aku akan menunggumu kembali padaku! Jadi berjanjilah untuk kembali demi aku!”teriakku.

Ia hanya tersenyum pahit dan kembai berjalan menuju pesawatnya yang akan segera berangkat.

-.-.-.-.-

Kini aku sudah kembali mengunci diriu di dalam kamarku. Menginga kembali semua kenangan manis yang terukir di hatiku bersama Taemin. Kenangan manis yang tak mungkin dengan mudahnya kulupakan begitu saja. Inikah akhir dari kisahku dengan Taemin? Berakhir seperti inikah hubungan yang telah kita rajut selama 3 tahun. Kenapa kau begitu mudahnya pergi meninggalkanku. Apa benar kau akan kembali padaku nanti?

Kuraih kotak music pemberian dan membukanya terdengar alunan lagu A sad Love Song yang dibawakan oleh DaVichi yang mengakhiri semua hubunganku dengan Taemin. Tapi hanya ada satu hal yang saat ini kuingin aku hanya berharap bahwa Taemin benar-benar akan kembali padaku.

“…Mianhae Mianhae Na Geureonjul Moreugo
Maeumi Tteonangeol Nae-ga Sireojingeol
Jeongmal Moreugo Jinaeseo
Eotteokhae-do Mwolhae-do Maeumi Tteonaseu-myeon
Yeope Iseo-do Sarangi Anijana
Gyeochi Iseul Jagyeok-do Eomneun Na Jana…”
DaVichi – A Sad Love Song

-The End-

Yeaaahhhhh!!!
akhir’a ni ff selesai juga!! Author bahagia~~ *reader: kaga peduli! Bodo amat!*
Gimana menurut kalian, pasti ni ff kacau banget kan?
Maklum otak author’a d bagi 2 sama rumus fisika jadi sedikit kacau.
Tapi author ngerasa ni ff sedikit melenceng deh~~

Udah akh jgn kebanyakan ngoceh,
Buat para reader-ku don’t lupa leave comment and tag like yapzzz!!

Advertisements

20 responses to “Just One Day with You (Twoshoot-end)

  1. ya , chingu ini ff mu bkin aku banjir aer mata , gila aku baca malem’ gni sambil nangis’ mn lagi pilek , huaaaaa , taemin babo !! jd emosi sendiri *gigit key*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s