Men in White – Part 1

Tittle : Men in White

Author : Lee Chira & Dyu

Genre : Friendship, Romance

Cast :

SHINee – Lee Taemin

Dyu

OCs

Disclaimer : I don’t own the casts, they belong to themselves. But I do own the plot based on my imagination along my friend.

***

PS :

ff ini dr sy bareng tmn sy si dyu. ide2x dr dy – soalx dy yg minta- trus aq krj dgn bbrp tmbhn d sna-sni..

niatx sih 1shot, tp pas ngetik, eh kepanjangn jdx yah aq g bs nentuin apkh 2shots or lbh.. soalx bljr penglmn dlu2, aq slalu out of target. ke wgm yg niatx cm 3-4 chapt, eh skrg dah ad 8. 2x lipat mlh! lon ending lg!
mian, ff ini kekx geje. soalx sy tdk mahir bkin ff kek gni. bhsax cmpur aduk.
maklumlah pngalmn pertama bkin ff yg pke bhasa sehari2 kental.. biasax kn aq kaku, hhehe.. oia, n d sni settingx INA y. jd mav klo aneh bcx cz setting n plot yg aneh n b’cmpr..

and, aq mohon D ON’T BE SILENT READER PLEASE!!

kalian hrs tau bahwa komen reader sekalian sangat berarti bgi author. kritik pedas jg gpp.. i just wanna share mine..
***

Gelap. Semua gelap. Tak ada penerangan di sini. Di mana aku? Aku mengedarkan pandangan, tapi nihil. Hanya warna hitam yang kudapatkan. Perlahan, kulangkahkan kakiku. Berpijak di atas dataran dingin, membawa diriku ke suatu tempat yang entah ke mana, mencari jalan keluar dari kegelapan.…..

Aku terus melangkah. Kali ini aku menyusuri lorong kecil yang berair, membuat kaki telanjangku basah dan kedinginan. Sudah ada sedikit cahaya sekarang. Aku menumpuhkan tanganku ke dinding licin seraya terus melangkah. Pelan tapi pasti.

Entah sudah berapa lama aku melangkah. Tapi tidak, aku tak boleh menyerah. Aku harus keluar dari kegelapan ini. Sudah ada cahaya kecil. Kuyakinkan diriku bahwa di ujung lorong ini, ada sebuah jalan keluar.

….

Tetesan air menyentuh rambut dan kulitku. Dingin. Tapi kucoba untuk mengacuhkannya.

Semakin jauh aku melangkah, semakin besar cahaya yang ada. Kupercepat langkahku. Dan mataku dapat menangkap sesuatu – entah apa itu – berada di.. ujung lorong?! Aku terdiam. Sesuatu itu memancarkan cahaya.. dan juga menderingkan sesuatu. Aku menarik nafas sebelum melangkah. Baiklah, apapun itu, itulah tujuanku.

Tinggal beberapa meter. Suara apa itu? Sebuah alunan musik yang indah. Dan aku semakin dekat. Semakin dekat, alunannya terdengar semakin jelas.

Sekarang aku sudah berada setengah meter dari sesuatu itu. Ternyata sebuah pintu yang sedikit terbuka. Aku mendekati pintu itu dan mendorongnya pelan. Silau cahaya menyilaukan pandanganku. Refleks aku mengangkat tangan, berusaha menghalangi kesilauan itu.

Alunan terdengar dengan sangat jelas di telingaku. Setelah cukup beradaptasi dengan keadaan sekitar, aku meneliti tempat itu. Sebuah ruangan yang semua sisinya berwarna putih bersih. Ada sebuah grand piano di sana dengan seseorang yang duduk di depannya. Alunan music yang sangat indah. Kutaksir bahwa orang itulah yang memainkannya.

Alunan itu menarikku mendekat. Aku sudah berada di samping grand piano putih itu. Seseorang yang memainkan piano itu menunduk, menatap jajaran tuts. Aku meletakkan tanganku di atas badan piano, bertopang dagu di sana seraya memerhatikan pandangan di hadapanku. Aku tak bisa melihat wajahnya.

Kemudian dentingan piano berhenti secara tiba-tiba. Aku langsung berdiri kaku di tempat. Orang itu mengangkat kepalanya lalu tersenyum manis. Cantik, itu yang langsung kupikirkan. Meskipun aku perempuan, aku mengakuinya. Ia bahkan lebih cantik dariku. Aku malu.

Senyumannya tak hilang, terus terkembang di bibir merahnya. Aku tak tahan melihat senyumnya. Sejak aku memasuki ruangan ini, kehangatan menghinggapi diriku. Kutundukkan kepalaku, menatap jari-jariku yang mengusutkan pakaianku dan kaki telanjangku. Dan saat itu pula aku menyadari sesuatu. Perempuan cantik ini mengenakan sebuah tuxedo putih. Heh? Tuxedo? Aku menelitinya lagi, memastikan bahwa aku tak salah liat. Ia memang mengenakan tuxedo putih, berpakaian layaknya seorang laki-laki dan bukan gaun panjang.

Ia seorang pria.

***

(Dyu POV)

“Kenapa, Yu?”

Aku menoleh. Chira yang duduk di sebelahku sekarang sedang menatapku bingung. Aku mendesah pelan sebelum menjawab, “Mimpi itu lagi, Chi.”

Dalam hitungan sepersekian detik, Chira yang sedari tadi berkutat dengan komiknya langsung berdiri dan menggeser posisi siswa yang duduk di depanku dengan garang.

“Lalu, kali ini apa yang terjadi?” ia menatapku penasaran. Aku hanya mengedikkan bahu, ia menunjukkan kekecewaan.

“Masih itu-itu saja. Tak ada perubahan,” aku menghempaskan diri di sandaran kursi. “Aku benar-benar berharap bisa menemukannya,” doaku.

Tak lama kemudian, bel tanda masuk berdering. Chira sudah kembali ke tempatnya dan aku memfokuskan diri pada pelajaran yang akan segera dimulai.

….

Perkenalkan, namaku Dyu. Aku adalah seorang gadis 17 tahun yang saat ini sedang duduk di kelas 3

SMA. Aku adalah gadis keturunan Indonesia asli. Aku sangat suka dengan pelajaran biologi dan semua pelajaran hafalan. Juga sangat membenci semua eksakta. Oleh karena itu, masuk di kelas IPA membuatku seperti hampir menjemput ajalku. Tapi aku berusaha tetap bertahan, dan di sinilah aku sekarang. Masih hidup dan sekarang sedang berada di tengah-tengah pelajaran kimia. Aku beruntung si malaikat pencabut nyawa belum mendatangiku, meski aku yakin ia sebenarnya juga bosan mendengar doaku agar aku segera lenyap dari dunia ini tiap kali akan berhadapan dengan ulangan fisika apalagi matematika.

Tapi di balik semua ketidaksukaanku terhadap eksakta, entah mengapa teman-teman sekelasku malah memilihku sebagai ketua kelas. Mereka tahu dengan jelas aku benci eksakta, mungkin mereka ingin mengerjaiku. Pernah sekali aku terpaksa disuruh menjawab soal lingkaran yang sama sekali tak kuketahui hanya karena aku adalah seorang ketua kelas yang kata guruku sudah sepatutnya menjadi teladan bagi yang lain. Meskipun aku sudah memberi tatapan membunuh pada teman sekelasku, tetapi mereka tetap saja terkekeh melihatku membatu di depan kelas dan alhasil aku mendapat hujan gerimis dari sang guru yang mengomeliku dari jarak kurang dari satu meter. Ikkhs!! Selesai pelajaran matematika itu, aku langsung kabur ke toilet untuk mencuci wajahku.

Aku melirik Chira yang sedang sibuk menyalin catatan di papan tulis. Mengingat pertemananku dengan dia, menjadi suatu alasan mengapa aku menjadi ketua kelas. Ia dingin, diktator, kejam, dan sadis. Ia bahkan dijuluki ‘ice princess’ oleh teman-temanku. Meskipun ia sedingin es – hanya bagi orang yang tak akrab dengannya, sifatnya berubah menjadi kejam saat bertemu dengan orang yang akrab dengannya kecuali saya – tetapi ia menjadi incaran orang-orang terutama cewek-cewek yang berniat mendekati kakaknya yang adalah idola sekolah.

Lanjut cerita tentangku. Aku berbeda seratus delapan puluh derajat dengan Chira. Ia realistik dan dingin. Sedangkan aku? Hobi menulis diari dan berkhayal. Sedikit melankolis memang sampai-sampai terbawa mimpi. Ah, aku jadi mengingat mimpi itu. Kapan ya aku bisa menemukan’nya’?

Masih setengah sadar – dari dunia nyata dengan dunia pribadiku – aku menangkap sang guru sedang menghapus tulisan di bagian kiri papan. Aku membacanya sekilas, tunggu, aku memeriksa catatatnku dan.. arrgh, aku belum sempat mencatatnya. Dengan kecepatan tingkat tinggi kucoba untuk menyalinnya, tapi apa daya. Sudah terhapus dan tulisanku bahkan tak bisa kubaca. Aish, aku berusaha mengembalikan konsentrasiku pada pelajaran.

Beberapa belas menit kemudian, wakil kepala sekolah masuk ke dalam kelasku lalu berbicara sebentar dengan guru kimiaku. Kemudian pak wakasek mengumumkan adanya murid pindahan yang baru dari luar negeri. What? Setelah itu pak wakasek memanggil seseorang yang sudah berdiri menunggu di luar.

Seseorang masuk dengan langkah pelan namun pasti. Ia tinggi kurus, berambut coklat, dan kulitnya putih. Ia mengenakan seragam yang sama dengan murid sekolahku. Poni panjangnya sedikit menutupi matanya. Aku tak bisa melihat dengan jelas wajahnya. Kemudian ia memperkenalkan dirinya.

“Selamat pagi, saya Lee Taemin. Saya adalah murid pindahan dari Selandia Baru, tapi saya keturunan Korea. Di Selandia saya belajar Bahasa Indonesia, karena itu adalah salah satu mata pelajaran wajib di sana. Mohon bantuannya!”

Ia membungkuk sedikit lalu mengibaskan poninya dan tersenyum kecil.

Hah! Itu.. itu.. dia kan yang di mimpiku? Oh thanks God! Aku sudah menemukannya..

Kemudian ia duduk di bangku baris kedua, tidak tepat di depanku tetapi aku berada di barat dayanya. Aku terus memerhatikannya yang mulai mengeluarkan buku-bukunya. Dari tempat dudukku sekarang, aku bebas memandanginya dari belakang dan samping.

Mungkin karena merasa kuperhatikan, ia menoleh ke arahku. Air mukanya datar. Refleks aku pun memalingkan muka dan kembali berkonsentrasi pada pelajaranku.

***

Aku melarikan diri untuk sementara waktu ke toilet. Konsentrasiku pada pelajaran rusak karena dua hal. Pertama, karena di jam terakhir ini adalah pelajaran matematika. Pak Andi, guru matematika yang killer itu, sepertinya sedang berusaha mencari mangsa. Dan sebelum aku meemui ajalku, lebih baik aku melarikan diri.

Kedua, Taemin. Mereka adalah orang sama, mungkin. Fisik mereka, tak ada yang berbeda. Hanya saja, aura mereka berbeda. Orang yang kutemui di mimpiku itu penuh kehangatan, sedangkan Taemin..? Ekspresinya datar, seperti tanpa emosi. Bahkan saat perkenalan saja ia hanya tersenyum kecil, sangat kecil, hingga menurutku sedikit dipaksakan. Selama istirahat saja, ia menolak ajakan semua orang yang mengajaknya ke kantin.

Apa yang harus kulakukan..? Sekarang aku sudah menemukannya. Lalu, apa yang akan kulakukan? Aish, kenapa aku tak pernah memikirkannya…

….

Entah kesialan apa yang mendatangiku. Saat kembali dari toilet, aku mendapati suasana kelasku yang rebut. Oke, sebenarnya tak seribut yang kalian pikirkan, hanya saja untuk ukuran kelas yang biasanya saat jam pelajaran guru-guru killer yang hening bak kuburan, hal itu terasa rebut.

Ternyata ada pembagian kelompok. Tumben? Setelah aku bertanya untuk kelompok apa, jawabannya adalah bahwa Pak Andi memberikan tugas presentasi secara berkelompok. Tiap kelompok terdiri dari tiga orang. Aku menghampiri Chira, ia mengangguk.

“Mana bahannya?”

“Nah itu dia tugasnya. Cari bahannya, trus nanti dipresentasikan di depan kelas,” jawab Chira enteng.

“Aduh, ngapain coba mesti pake acara ada tugas ini segala. Udah dari sananya matematika mematikan, ditambah tugas kayak ini. Huuf, bikin orang susah saja!” sungutku.

“Ya sudahlah, kamu marah-marah kayak gitu juga tidak akan langsung selesai nih tugas. Kecuali ada jin atau malaikat yang bantu,” Chira melirikku sambil mengacungkan tangannya. Eh, ngapain dia? “Mending sekarang kamu angkat tangan. Pak Andi nanya siapa yang belum lengkap kelompoknya.”

Aku menurutinya. Kelas tak seribut tadi saat Pak Andi mulai berbicara lagi. “Baiklah, kalian bertiga satu kelompok! Keterangan pembagian standar kompetensinya ada di sekretaris kelas. Selamat siang!” Pak Andi berjalan keluar dari kelas bersamaan dengan bunyi bel. Aku harus mencari orang yang bisa membantu kami berhubung di antara kami berdua tak ada yang jago dalam matematika. Aku memandang sekeliling. Kemudian kekecewaan melandaku. Mana ada yang mau sekelompok dengan aku yang jelas-jelas terbelakang dalam hal matematika dan manusia sadis di sampingku ini?

Aku merasakan Chira yang menyikutku. Ia menunjuk ke suatu arah, aku mengikuti arah yang ditunjuknya. Seseorang mengacungkan tangannya di udara seperti yang kulakukan. Ow..ow.. Ternyata aku dan Chira sekelompok dengan Taemin.

***

Aku selesai menulis semua yang terjadi padaku hari ini di diariku. Kuceritakan mulai dari mimpi-mimpiku, aku bertemu Taemin, sampai pada kenyataan bahwa kami sekelompok. Aku menutup diariku dan meregangkan otot-ototku.

“Ahh, lelahnya!” kataku lalu mematikan lampu, bersiap untuk tidur.

***

Beberapa hari kemudian..

“DYU..!!! Bangun! Kamu mau telat ke sekolah??”

Erggh.. Aku menggeliat. Aku masih ngantuk.

Tok tok tok. Pintu kamarku diketuk, tapi kuhiraukan. Tidur lima lagi, nggak papa kan?

Tok tok tok tok. Errgh. “Dyu. Bangun. Sudah setengah tujuh, kamu nggak mau ke sekolah?”

Mau kok, Bu, jawabku dalam hati. Tapi tidur tiga menit lagi, ya. Aku bersiap kembali tidur sebelum benar-benar mencerna kata-kata Ibuku barusan. Tunggu, apa?? SETENGAH TUJUH??

Aku langsung bangkit dan berlari membuka pintu kamarku. Raut kaget Ibuku terpampang di depan pintu karena aku tiba-tiba membuka pintu. Aku langsung kembali ke kamar, menyambar handuk yang kugantung di depan pintu kamar mandi dan masuk ke kamar mandi. Sepuluh menit kemudian aku sudah berada di depan cermin, lengkap dengan seragam sekolahku. Aku menyambar tas sekolah yang sudah kupersiapkan tadi malam di kursi belajarku dan turun ke bawah.

“Aku berangkat!” seruku seraya melewati ruang makan di mana keluargaku berkumpul.

“Eh, tidak sarapan dulu?” Tanya Ibu.

“Aku sudah terlambat, Bu!”

Buru-buru aku memakai sepatu dan berlari menuju halte bis.

Aku ketinggalan bus. Dan sesampainya di sekolah, benar dugaanku. Pintu gerbang sudah di tutup, aku terlambat. Mataku menangkap pintu samping sedang terbuka. Serasa kejatuhan uang milyaran, aku masuk lewat pintu samping itu sambil mengendap-endap.

“Hei, kamu!”

Sontak aku menoleh. O-oh.. Bu Guru BK yang masih perawan di umur yang hampir mencapai kepala empat tetapi terkenal sangar, berdiri lima meter dariku. Aku tertangkap basah. Ia memanggilku, aku mendatanginya.

“Lari keliling lapangan sekarang juga!” perintahnya.

Aku langsung melaksanakan perintahnya. Selesai satu putaran, aku bersiap untuk menuju kelasku saat kudengar ia berteriak memanggilku. Aku menghampirinya.

“Ada apa lagi, Bu?”

“Siapa suruh kamu berhenti?”

“Lha, kan tadi Ibu bilang lari keliling lapangan. Saya kan sudah melakukannya, Bu.”

“Anak bodoh. Bukan hanya satu kali!”

“Terus berapa kali dong, Bu?”

Beliau terlihat berpikir sebentar. “Hm,, berapa kali ya? Tanggal berapa sekarang?” Ia menatapku.

“Tanggal 27 Agustus, Bu!” jawabku langsung dan dengan polosnya.

“Baiklah, kalau begitu 27 ditambah 8. Kamu lari keliling lapangan basket 29 kali!”

WHAT..??

“Ayo cepat!”

Aku meletakkan tasku dan mulai berlari keliling lapangan basket. Aish, kenapa aku harus jujur? Harusnya tadi aku jawab saja tanggal 1 Januari. Dasar Dyu pabo! Tapi untung yang suruh hanya lapangan basket, coba kalau digabung dengan lapangan futsal yang ada di samping lapangan basket ini. Matilah aku! Oh ya, apa tadi aku mengatakan diriku Dyu pabo? Aduh, pabo kan bahasa Korea. Kenapa jadi begini?

Aku memukul-mukul kepalaku sendiri seraya memperlambat kecepatan lariku.

“Cepar larinya! Jangan malas! Atau kamu mau hukumanmu ditambah, hah?” teriak sang Guru BK dari kejauhan. Gila, jarak lebih dari dua puluh meter begini suaranya masih bergema. Dashyat nih guru! Karena tak mau melakukan kesalahan bodoh lagi, akhirnya aku mempercepat kecepatan lariku.

(PS : buat dyu, klo bingung sm nih part, byngin aj tuh guru berdiri di pintu gerbangx spensix dkt pos smpng perpus n km ad d pojok lapangan basket t4 dmn org2 telat/langgr p’aturn d strap klo pas upacara, hhehe)

Hosh hosh hosh.. Tok tok tok..

Belum juga aku member salam, tau-tau sang guru yang sedang mengajar malah langsung mengomeliku dengan segala ceramahnya yang kalau dibuatkan naskahnya, akan menjadi lima kali lebih panjang dari naskah pidato kepresidenan.

Kulirik temanku yang asyik memerhatikan dan menertawakan diriku yang pagi ini menjadi bulan-bulanan. Aku mengeluh dalam hati, kapan ceramah ini akan berakhir? Mana kakiku sudah pegal-pegal semua lagi! Aduh,Pak, tahukah dirimu bahwa diriku sedang sekarat sekarang karena hukuman tadi dan durasi ceramahmu yang kepanjangan dari durasi film Harry Potter and The Deathly Hallows?

Aku butuh untuk segera duduk..

….

Aku sudah bersiap untuk ngacir ke kantin untuk mengisi perut saat Rey, teman sekelasku, memanggil dan menghampiriku. Karena melihat gelagatku yang setengah hati berhenti di tengah jalan saat ia menghampiriku, ia merasa tidak enak.

“Ya? Ada apa?”

“Eh, itu. Kau dipanggil guru BK.”

“HAH? Aku ada masalah apa?” Aduh ya Tuhan, salah apakah hamba-Mu ini sampai-sampai harus berurusan dengan Guru BK (lagi) ?

“Oke, makasih!” kataku seraya berjalan menuju ruang BK.

Kriuuk..kriuuk..

Aduh aku lapar, tadi pagi tidak sempat sarapan.

Ternyata aku dipanggil untuk mengambil absensi kelas yang baru. Heh? Tumben. Cepat amat? Biasanya juga nanti tanggal 30 atau 31 baru boleh mengambil absensi kelas. Apalagi seingatku masih ada beberapa lembar absensi yang kosong.

Lagi-lagi aku mendapat ceramah, tapi untung saja ceramahnya masih bisa dimaklumi. Meskipun aku masih menggerutu dalam hati, tapi mau apa lagi? Sudah tugasku sebagai ketua kelas. Ah, betapa merepotkannya menjadi seorang ketua kelas.

Keluar dari ruang BK, aku berjalan menuju kantin. Semoga saja masih ada waktu. Aku butuh asupan makanan sekarang. Apapun itu asalkan setidaknya bisa mengganjal perutku ini. Iseng-iseng, kubolak-balik absensi kelasku yang baru. Mataku terhenti di jajaran nama murid bersamaan dengan langkahku yang terhenti. Lee Taemin. Oh, jadi ini alasannya. Karena ada murid baru di kelasku. Tapi kenapa baru sekarang namanya masuk? Bukankah ia masuk sudah sejak beberapa hari yang lalu? Dan kenapa juga harus hari ini? Kenapa tidak digenapkan saja saat awal bulan?

Kriiing..

Aku menggelengkan kepalaku. Hobi berkhayalku membuat pikiran selalu saja berkembang jauh.

Dan makanan itu semakin jauh dariku saat bel tanda masuk berdering.

Sial, sial, sial!

Itulah yang menggambarkan hidupku hari ini. Sudah telat bangun, tidak sarapan, dihukum, diceramahi, tidak makan siang. Hidupku benar-benar sial hari ini. Dan sekarang, aku harus pulang telat karena ternyata hari ini aku kebagian piket. Aku berjalan dengan langkah lunglai menuju halte bus dekat sekolah. Perutku sama sekali belum diisi dan aku lelah. Bayang-bayang ayam panggang beserta makanan lainnya yang kuidamkan sekarang juga tempat tidurku berkelabat hebat di otakku. Aku memegang perutku yang sedari sudah konser menyanyikan lagu-lagu rock dan contemporary ber-beat tinggi. Sudah berapa lagu ya..? Kurasa durasinya sudah melebihi total durasi SMTown Dream Concert 2010. Eh, kok Korea lagi? Aish. Tidak benar ini. Aku bukanlah seorang netizen atau pun kpop lover.

Aku terduduk lemas di trotoar jalan. Rasa-rasanya aku sudah tak sanggup lagi untuk sekadar berjalan, padahal halte tinggal beberapa belas meter lagi. Aku menunduk, aku lapar.. letih, lesu, lemah, lunglai.. eh? Kenapa jadi 5L begini? Apaan sih aku ini?

Bruum..brumm..

Terdengar suara motor yang mendekat dan berhenti di depanku. Perlahan, aku mengangkat kepala. Sebuah motor sport hitan dengan highlight silver, sepatu basket yang ukurannya bisa muat untuk tiga kakiku, dan seorang pengemudi yang memakai celana panjang dan jaket kulit berwarna merah darah, helm besar dan sarung tangan hitam yang menarik rem tangan. Siapa dia? Aku memerhatikan celananya, seperti celana seragam sekolahku. Kemudian si pengemudi membuka kaca helmnya dan menatapku.

“Sepertinya kau butuh tumpangan,”

Aku mendongak untuk melihat siapa orang dibalik helm besar itu. Ia membuka helm besarnya, lalu mengibaskan rambutnya yang menutupi wajahnya. Omo, Taemin? Si cowok cantik itu? Berpakaian se-gentle ini? Aku mengerjap-ngerjapkan mata tak percaya. Harus kuakui, ia tampak cool dengan tampilan saat ini.

“Hei, Dyu. Namamu Dyu kan?” Ia melambai-lambaikan tangannya di depanku. Aku mengangguk. Namaku memang Dyu kan? “Ayo, naik!” Aku menatapnya tak percaya. Ia memang tak tersenyum, tapi ia mengajakku berbicara kan? Sekali lagi ia mengajakku naik ke boncengannya dengan isyarat kepalanya. Aku menurutinya. Daripada aku membunuh diriku sendiri yang sudah tak berdaya ini?

Dan motor pun melaju di tengah jalan raya.

“Tunggu sebentar, aku mau membeli sesuatu,” kata Taemin saat kami berhenti di depan sebuah tempat variasi otomotif. Untuk apa dia kemari?

Kriiuk..kriuuk..

Aku meremas perutku yang sudah tak bisa diajak kompromi. Sabarlah, sebentar lagi. Aku menggigit bibirku menahan lapar yang menghantui.

Kriiuk..kriukk..

“Kau lapar ya?”

Aku berbalik. Taemin sudah berdiri di belakangku. Kemudian ia berjalan kea rah motornya, berbalik menghadapku dan duduk di atas jok motornya.

“Aku punya tempat makan yang enak.”

Aku menatapnya bingung. Hei, yang tinggal selama bertahun-tahun di sini kan saya? Kenapa jadi dia yang serasa sudah tinggal dan hapal semua tata letak negara ini? Tapi akhirnya aku menyetujuinya. Ia membuka bagasi motornya.

“Apa itu?”

Ia menoleh seraya mengangkat bungkusan yang sedari tadi dipegangnya. “Ini?” Aku mengangguk. “Bukan apa-apa. Hanya sebuah stiker untuk body motorku saja.” Aku meneliti motornya. Ada beberapa tempelan stiker di sana yang tertata agak berantakan tetapi terlihat keren, dan masih menyisakan beberapa tempat kosong.

Taemin memasukkan bungkusan itu ke dalam bagasi motornya.

“Ayo!”

“Kau mau pesan apa?” tanyanya saat kami sudah duduk di salah satu meja di sebuah tempat makan. Aku memerhatikan menu yang ada di daftar.

“Kau sendiri?”

“Pangsit dua porsi, the botol satu,” kata Taemin kepada pelayan.

Eh? Aku baru tahu kalau orang Korea juga minumnya the botol tiiit. Emang ya, apapun makanannya, minumnya tiit..

“Dyu, pesananmu..?” ujar Taemin.

Tunggu, tadi dia bilang dua porsi pangsit kan? Artinya dia sudah memesankanku juga dong? “Sudah kan tadi kau pesan dua porsi?”

Taemin terkekeh. Baru kali ini aku melihatnya terkekeh. “Itu masih pesananku!”

“Hah? Kau makan dua porsi?” tanyaku shok.

Ia mengangguk santai. Hey, sebenarnya yang kelaparan setengah hidup itu aku atau Taemin sih? Kenapa malah dia yang pesan dua porsi?

“Porsi makan laki-laki dan perempuan itu berbeda!” tukasnya menjawab keherananku.

Aku hanya ber-oh-oh-ria. “Baiklah, katamu pangsit di sini enak kan? Kalau begitu aku juga pesan dua porsi, tapi minumnya air mineral botol saja,” kataku pada pelayan.

“Dingin atau panas?” Tanya sang pelayan.

“Yang dingin. Indonesia negara yang panas. Ya kan?” jawabku seraya melirik Taemin. Taemin hanya mengangguk setuju.

Sang pelayan membacakan ulang pesanan kami lalu pergi. Suasana hening menghinggapi kami, sampai kemudian aku membuka percakapan.

“Kenapa kau pindah?”

Ia berpikir sejenak, memperbaiki posisi duduknya. Oh ya, sekarang kami duduk berhadapan. “Ayahku dipindah tugaskan. Jadi aku, ibuku, dan kakakku semuanya ikut.”

Aku ingin bertanya hal lain padanya tetapi pelayan yang dating membawakan pesanan kami membuatku mengurungkan niatku. Kami kemudian makan dalam diam, saling berkonsentrasi pada makanan masing-masing.

“Kau ini perempuan atau apa sih? Porsi makanmu banyak sekali,” komentarnya saat kami sudah menghabiskan pesanan masing-masing.

“Kenapa memangnya kalau makanku banyak? Ada larangan perempuan dilarang makan banyak? Ada undang-undangnya ya?”

“Tidak ada sih.”

Diam lagi. Kemudian aku melihat ada iklan es krim. Ah, aku mau es krim itu!

“Jangan bilang kalau kau masih mau makan es krim itu..?” aku melirik Taemin yang mengikuti tatapanku. Oh, apa aku memandang es krim itu segitunya sampai ileran dan Taemin menyadarinya ya? Aku mengangguk malu.

“Dasar perut gentong!” katanya lalu berdiri.

“Eh kamu mau ke mana?”

Tapi Taemin tak memedulikan pertanyaanku.

“Terima kasih banyak, ya!” aku membungkuk sedikit pada Taemin saat kami sudah berada di depan rumahku.

Ia mengangguk tetapi tak memandangku. Ia malah memandang kea rah rumahku, meneliti sekilas, lalu pandangannya kembali padaku.

“Jadi ini rumahmu?” tanyanya.

Aku mengangguk. “Ada yang aneh dengan rumahku?”

Ia menggeleng. “Aku hanya berusaha mengingat. Siapa tahu suatu saat nanti aku mendapatimu dalam keadaan pingsan di jalanan dan harus mengantarkanmu pulang ke rumahmu,” tukasnya. Aku memelototinya. “Seperti tadi. Kalau saja aku tak memberimu tumpangan, kurasa belum juga sampai halte bus kau akan pingsan. Mengingat bagaimana kau terduduk di jalanan layaknya seseorang yang sudah hampir mati dan…” Ia menggantungkan kata-katanya, menyeringai padaku sebelum melanjutkan, “.. seperti tidak makan selama setahun.”

Otomatis, aku menjitak kepalanya. Meski untuk melakukannya aku harus berjinjit karena ia lebih tinggi dariku. Ia merintih kesakitan. Biar saja. Dasar orang ini. Menolong orang tapi diingat-ingat terus. Sebenarnya niat bantu tidak sih? Mana ternyata ia cerewet pula! Dengar kan? Dari tadi ia hanya berkomentar panjang – lebar tentang kesengsaraanku. Sepertinya ia senang sekali melihat orang menderita. Huh, saingan dia dengan Chira.

Ia pamit pulang, tapi sebelum pergi ia menaikkan kaca helmnya dan menyelutuk. “Semoga besok pagi kau tidak terlambat. Kecuali kalau kau benar-benar niat untuk menghibur kami dengan tontonan lawakan seperti tadi pagi. Haha!” Aku membuka sepatuku dan bersiap untuk melemparkan sepatu itu padanya. Tapi ia sudah melajukan motornya, pergi dari hadapanku.


(hhehe, nih piku maksa. kostumx bgs tp syg mimik n muka g m’dkung.

jdx bkn sangar n cool, mlh imut)
……………………………………………..

-tbc-

jlek y? mav y.. bwt dyu..hehe, mian chingudeul..

aq jg numpang nyempil..

peace

Advertisements

13 responses to “Men in White – Part 1

  1. wawaw akhirnya si dyu ketemu sama cowok di mimpinya itu..
    jadi jadi itu taemin??
    yah yah kalo udah jodoh emang nggak kemana..
    /PLAK *ditabok chira gara2 sotoy*
    wiiiww… kayaknya pertemanan antara dyu sama taemin udah mulai nih..
    jadi kapan bakal lanjut ke jenjang berikutnya??
    /PLETAK *chira: kejauhan ceritanya =______=*
    lolo taemin anak selandia baru tapi suka makan pangsit =______=
    hhe.. ayo lanjutt…. =)

  2. ohhhh jadi cowok dalam mimpi dyu tu,
    taem bukanx kembaranx/reader sotoy
    tapi setelah (beratus2 tahun/lama amat) beberapa jam mimpi taem eh malah jadi nyata
    emng g ada ada angin g ada hujan,
    yg namax cinta mati pasti g akn kemana2 #abaikan
    kasian sekali tu nasib (?) dyu
    kykx kisah persahabatan 2 orng itu eh salah 3 orang ya *mian chira tadi lupa*baru dimulai,
    ditunggu lanjutanx

    • apa..? km mlupakan saya, gra??
      *timpuk anggra*
      hhehe, gpp kok. emg aq cm nyempil dkit, mkx g aq tls d castx. OCs doang..
      mksh y dah mo bc n komen..
      ^_^

  3. Waaa.. mian onnie.. aku telat baca!!!
    soalnya aku liat ada part.2nya, lgsung deh baca dulu part.1nya..
    ehehe.. baca ini aku jadi senyam-senyum sendiri.. *lha?*
    soalnya kebiasaannya Dyu dicerita ini sama dgn aku, tp dia baru sekali terlambat yah? klo aku sih setiap hari pasti terlambat, dari SMP sampe sekarang malahan. aku baru datang jam 8 lewat 15 menit.. hahaha
    hasilnya setiap hari diceramahin di ruang BK plus jadi the most exist student versi guru BK.. hahahaha
    malah klo ceramah sampe jam ke 3 lagi.. trus udh diceramahin pasti disuruh angkat batu+ cabut rumput *kayak kuli bangunan aja* XD
    klo udah masuk kelas pasti diteriakin teman2 satu kelas.. trus ada temenku yg bilang “itu rara cowo apa cewe sih? kok gaya tidurnya kayak cowo!lama bgt durasi tidurnya!” hahahaha!!
    apalagi guru.. pasti dimarahin dulu.. mungkin lebih sial aku kali yah dibanding dyu onnie itu..soalnya setiap pagi pasti aku selalu ga sarapan (karena telat bangun) + ngos2ngosan pas masuk kelas krn disuruh angkat batu n diceramahin dulu sama genk BK + pulang lebih ngos2an krn ga sarapan sebelumnya.. hhh
    jadilah saya dapet gelar dari teman2 yaitu ‘cewe pemalas’.. kkk~ iya sih emang!
    eh, onnie anak SMP 6 yah? klo aku SMP 12.. *gananyatuh*
    eh, kok jadi curhat gini!
    ffnya keren bgt onn.. jadi ngerasa keak baca cerpen2 majalah remaja itu lho.. soalnya pake ‘aku-kamu’.. hahhaha
    ya sutralah, krn komenku panjang banget(lebih panjang daripada ffnya), komentar yg lain disusul di part.2 aja!
    soalnya aku mo baca yg selanjutnya.. wassalam *terbang ke part.2*

    • sbnrx it lbh mrip aq lho..
      dyu mah sjak masuk OSIS dah g pnh tlat lg..
      klo aq..? tiada hr tanpa tlat..
      psti slalu jd planggar osis..
      tp gpplah skrg, kn dah kls 3, hhoho..
      *mang np klo kls 3..?

      aq jg tukang tidur kok, bgun jam 6.40..mandix sejam..
      mna aq lelet bgt *kt tmn2, tp mnrtq g kok*
      trus sklh mulai jam 7.. hhoho..untung p’jlnan dr dorm k sklh bs dlm 1 mnt..hhehe..*manfaat sklh asrm..

      ia, spensix. o, dubels y..? kls brp d sna..? soalx tmn kmr aq dr sno jg.. nmx jeanne vibertyn.. knl g..?
      org yg pling ska tlat n bkin malu2in..

      wkt d spensix sih, jgn blg..
      kls 1 n 2, hobix tlat. trus, kls 3, aq jrang tlat, soalx d antar ama ortu, dksh bts, 6.35 mobil jln..
      drpd tlat n hrs naik pete2??

      skrg aj aq dblgin miss lelet + tukang tdr..
      *jd curhat jg

      gomawo y dah mampir..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s