Never Regret It (Based on True Story)

Tittle : Never Regret It (Based on True Story)

Author : ninanino

Rating : AG

Lenght : Oneshoot *kayaknya*

Cast : Choi Minho as himselves and Widy as Kang Eunri

Disclaimer : I do not have the casts. They belong to theirself and God.

Aku mencintainya.

Tulus sepenuh hatiku.

Tapi ia tak pernah mencintaiku.

Bahkan ia tak pernah menatapku saat kita berbicara.

Dua tahun aku jalani ini semua dengannya.

Dan dua tahun itu pula aku menderita karenanya.

Tapi,

Apakah aku menyesal ?

Tidak.

Aku tak pernah menyesal mencintainya.

Tapi aku menyesal tak melepasnya saat ia ingin mencari kebahagiaannya sendiri.

***

“Eunri-ya, ppalii. Ini sudah hampir jam 9.00. Acaranya kan mulai jam 10.00 jagi.”

“Ne ahjumma, arraseo.” jawabku singkat. Kubenahi gaun pengantinku. Berputar-putar sebentar, seolah aku merasa ada yang kurang dibeberapa bagian. Kupandangi cermin, mematut diriku.

“Sudah. Semua sudah sempurna agasshi. Anda cantik sekali hari ini.” kata penata riasku meyakinkan. Seolah ia tahu aku sedang mengalami pre wedding syndrome.

“Gwenchana. Uri Eunri neomu yeppeo.” Taeyoen unnie berjalan mendekatiku. Menepuk bahuku pelan. Ku balas pernyataannya tadi dengan senyuman. Ia menggamit tanganku lalu meraih buket bunga di meja rias.

“Kajja.” perintahnya. Kulangkahkan kakiku perlahan. Saudara-saudaraku yang lain ikut menyusul kami, mengikuti dari belakang.

***

Minho POV

Kang Eunri. Gadis yang usianya baru beranjak 18 tahun sebentar lagi akan menjadi istriku. Namanya akan segera berganti menjadi Choi Eunri. Aish, apa yang kupikirkan. Sejak awal aku menolak perjodohan ini. Tapi sepertinya umma dan appa tak menerima keputusanku. Lebih baik kujalani dulu untuk sementara ini.

Kupatut diriku sebentar di cermin. Jas putih celana putih. Semuanya sempurna. Hanya kebahagiaanku saja yang belum sempurna. Tak lama kudengar suara derap langkah seseorang mendekatiku. Kubalikkan badanku.

“Oh kau hyung.” seruku. Entah kenapa suaraku sangat lemah saat ini.

“Minho-ya, gwenchana ?” tanya Siwon hyung. Sepertinya ia sadar ada yang tak beres dengan diriku. Kuanggukan kepalaku ringan lalu berjalan menyambutnya. Kurangkul bahunya yang tegap itu, lalu kami segera beranjak keluar kamarku.

Minho POV end.

***

Eunri POV

Deng deng deng deng… Deng deng deng deng… *author : ini ceritanya wedding march ya :D.* *reader : author gak mutu :b*

Kukembangkan senyuman terbaikku. Semua mata di gereja ini menatap kearahku. Kuremas tangan Leeteuk ahjussi cukup keras untuk menutupi kegugupanku.

“Gwenchana. Semua akan berjalan lancer. Tenanglah.” bisik ahjussi menenangkanku. Kuanggukan kepalaku lemah lalu kembali menatap lurus ke depan.

***

Di depan sana,

Ia menungguku.

Tersenyum tulus mengungkapkan kebahagiannya.

Tapi, benarkah ia bahagia ?

Mengapa aku merasa ia tidak seperti itu,

***

Setelah mengucap janji pernikahan di depan Tuhan, kini aku dan Minho oppa telah resmi menjadi suami istri. Acara berikutnya yakni sebuah resepsi pernikahan. Meskipun keluargaku dan keluarga Minho oppa bisa disebut keluarga terpandang tapi kami sengaja meminta pesta ini diadakan secara sederhana. Sebenarnya ide ini berasal dari suamiku, Minho oppa. Oh Tuhan, kini aku telah memiliki suami.

Semuanya ritual acara kini telah kami lewati. Dan malam ini akan jadi malam pertama kami. Dan selanjutnya, akan menjadi hari-hari bahagia kami.

***

“Eunri-sshi.” Kudengar ia memanggilku. Suara yang lembut itulah yang membuatku  jatuh cinta padanya. Tapi tunggu, kenapa ia masih memanggilku dengan embel-embel sshi ? Kami sekarang kan sudah suami istri yang sah.

“Oppa, kenapa kau memanggilku dengan embel-embel sshi? Kita inikan…” belum sempat rasa penasaranku terjawab, ia telah terlebih dahulu menyelanya.

“Eunri-sshi, dengarkan aku dulu berbicara. Jebal.” Raut wajahnya terlihat serius. Takut-takut kuanggukkan kepalaku. Lalu duduk di pinggir tempat tidurnya, ah maksudku tempat tidur kami. Ia menarik kursi kecil di depanku, mendudukinya dengan tenang. Kutatap matanya. Sepertinya ia memang ingin mengatakan sesuatu yang amat sangat penting. Tapi, aku tak tahu apa yang dipikirkannya. Beberapa menit kami terdiam. Kucoba membuka mulutku untuk menyadarkannya.

“Oppa…” kataku manja. Jujur saat ini aku takut membuatnya marah tapi,

“KUMOHON DIAMLAH KANG EUNRI.” Teriaknya padaku. Takut-takut kutundukkan kepalaku. Kurasakan mataku memanas. Ini pertama kalinya ia membentakku. Walaupun aku tahu selama ini ia kurang suka denganku.

“Eunri-sshi, mianhada.” katanya lirih. Air mataku kini telah tumpah, aku tak bisa lagi menahannya. Kugelengkan kepalaku lalu kupaksa diriku membuka mulut.

“Gwenchana oppa.” Suaraku terdengar parau. Oh Tuhan, aku pasti membuatnya semakin merasa bersalah. Kutegakkan lagi kepalaku, memaksa bibirku menarik senyuman sesempurna mungkin. Tapi tunggu, kenapa sedikitpun tak ada raut penyesalan di wajah Minho oppa?

“Eunri-sshi, kita menikah karna dijodohkan bukan?” Ya Tuhan, kenapa suamiku bertanya seperti itu. Tak taukah ia kalau aku mencintainya. Sangat mencintainya.

“Oppa, aku men…” Lagi-lagi ia menyela ucapanku.

“Jebal. Biarkan aku bicara dulu Eunri-sshi.” matanya sayu. Suaranya kini tak sekeras tadi. Tapi entah kenapa, aku merasa aku harus menyiapkan diriku untuk hal-hal yang tak masuk diakal. Ia terdiam, sepertinya tengah menimang sesuatu. Oppa, apa kau ingin membuatku mati penasaran saat ini. Huh.

“Eunri-sshi, aku mau menikahimu karna ayahku memaksaku. Dan aku juga tahu kau menikahimu karna wasiat dari almarhum appa dan ummamu bukan?” Dan bingo, dia mengatakan sesuatu yang selama ini kukhawatirkan. Tenang Eunri, tenang. Setidaknya ia belum mengatakan kalo ia,

“Dan kita tahu, aku tidak mencintaimu begitu pula kau tak mencintaiku. Ini semua sandiwara bukan?” Plak, emosiku memuncak. Jadi selama ini ia tak pernah mencintaiku. Ini pula alasan kenapa ia tak pernah berinisiatif menelponku terlebih dahulu. Ia tak pernah mengenalkanku pada temannya.

“Eunri-sshi, mianhe. Tapi sepertinya ini semua harus kita akhiri.” Minho oppa menekankan kata-katanya pada akhiri. Pertahananku seketika runtuh. Belum genap sehari aku menjadi istri orang yang kucintai, aku harus menerima kenyataan kalo ternyata ia sama sekali tak mencintaiku.

Ia bangkit dari kursi berjalan ke arah meja belajarnya. Tangannya menarik sesuatu, besar. Perkiraanku mungkin itu tas karna aku juga tak bisa melihatnya dengan jelas. Tunggu, tas? Apa lagi maksudnya ini?

“Eunri-sshi, mianhe. Jeongmal mianhe.” Kini ia menghilang dari hadapanku. Melompat keluar dari jendela kamarnya meninggalkan aku sendiri disini. Akupun tak tahu harus berbuat apa. Kutangisi kepergiannya meski aku tahu ia takkan kembali.

“Minho oppa, saranghae.”

***

Note :

  1. Ini kisah nyata yang terjadi di keluarga saya. Tapi, si orang yang mengalami kejadian ini hanya menceritakan ini kepada keturunan perempuan *salah satunya saya*. Kemiripan cerita ini dengan aslinya hampir 95%. Perbedaan hanya terletak di casts dan kebudayaannya. Sebenernya habis ini masih ada lanjutannya. Tapi saya rasa kurang ngenes (?).
  2. Ini FF yang saya janjikan buat Eunri. Maaf ya kalo jelek. Terus maaf, suami kamu jadi jahat disini.
  3. Segala bentuk kritik dan saran sangat dibutuhkan. Terima kasih.


Advertisements

46 responses to “Never Regret It (Based on True Story)

  1. Eh, trnyta ada y kisah nyata ky gn? Q kira cm ada d drama aja.

    Aq tw gmn rasanya cnta brtpuk sblh tgn. Menyakitkn! Sbr y 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s