Men in White – Part 2 (end)

Tittle  :  Men in White – Part 2 (End)

Author  :  Lee Chira & Dyu

Genre  :  Friendship, a bit of Romance

Rated : PG-13

Cast  :

SHINee – Lee Taemin

Dyu

OCs

Disclaimer  :  I don’t own the casts, they belong to themselves. But I do own the plot based on my imagination along my friend.

part 1

***

PS  :  1. Mian ff ini lg2 aneh, sumpah bnr2 aneh cz ini kali pertamax aq sbg author (dlm hal ini yg menulis plotx) m’buat ff b’genre sperti ini. Mana bahasnya jg b’ubah2 dan aneh. Juga tata bahasa yang mnrtq tdk bs dkategorikn ‘bgs’. Jd, mohon dmaklumi pngalmn pertama ini. *bow*

2. kalo ada yg m’bc ff ini, tolong.. DON’T BE SILENT READER, PLEASE!! Asal reader tahu bahwa komen kalian sangat b’arti buat author. Kritik dan saran sangat diharapkan.  Sepedas2x kritik kalian, akan dtrima dgn bsr hati n menjd semangat utk m’jd lbh baik lg.

3. ff we got married x tunda dulu y.. hbis ini pst aq krjkn.. hhehe. mian *bow* peace !! .  .V

– happy reading –

***

Aku berdiri di tengah ruangan serba putih itu. Aku bahkan tak bisa mengartikan bahwa ini adalah sebuah ruangan karena aku sendiri juga tak tahu di mana sudut ruangan ini. Semua berwarna putih. Dinding yang entah di mana bidang datarnya, grand piano itu, dan dia. Ia juga mengenakan pakaian serba putih. Kemeja putih, dasi putih, jas putih bahkan celana dan sepatu pantofelnya berwarna putih.

Aku menatap diriku sendiri. Keadaanku benar-benar kontras dengan keadaan ruangan ini. Aku tampak berantakan dengan long dress hitam yang basah hingga kaki bajuku meneteskan air. Dan aku bertelanjang kaki. Sangat tidak sesuai.

Kemudian sosok laki-laki itu berdiri dari posisi semulanya yang duduk di depan grand piano. Taemin. Aku berjalan mendekatinya dan berniat menepuk pundaknya pelan tetapi kuurungkan karena ia sepertinya menyadari keberadannku. Perlahan ia berbalik. Aku tak bisa melihat wajahnya karena silau sinar yang terpancar darinya.

***

(Dyu POV)

Hari minggu ini waktu istirahatku berkurang karena aku, Chira, dan Taemin menggunakannya untuk mengerjakan tugas kelompok kami di rumahku. Tugas belum juga selesai – bahkan baru ¼ jadi – tetapi Chira harus pamit karena ia ditelepon  orang tuanya karena ada urusan keluarga. Dan tinggalah aku berdua dengan Taemin di sini.

Suasana canggung menghinggapi kami. Kami berkonsentrasi pada kerjaan masing-masing. Aku menatap malas ke arah layar laptopku yang menampilkan materi integral. Aku harus menyimpulkan inti dari bahan yang ada lalu menuliskan semua rumus yang dibutuhkan. Huuuh, aku benci matematika.

“Selesai!” seru Taemin.

Aku menatapnya heran. Selesai dia bilang? Dia sudah menyelesaikan tugasnya? Secepat itu? Aku bahkan belum mengerjakan setengahnya. Membaca buku elektronik matematika saja aku malas, apalagi kalau harus menyimpulkannya. Dan dia? Selesai?

“Yang benar? Aku saja masih membaca…” sungutku.

“Tidak percaya? Lihat ini!” Ia memutar posisi laptopnya hingga menghadapku. Aku menatap layarnya penasaran. Ia memindahkan perlahan slide-slide yang sudah dibuatnya. Dan yah, benar sudah selesai. Bagaimana mungkin? Aku menatapnya tidak percaya.

“Hei, terserah kau mau percaya atau tidak, tapi aku lumayan hebat matematika!” ucapnya bangga. Selang beberapa detik kemudian ia malah memutar laptopku dan memeriksanya. Keningnya berkerut. “Heh? Belum ada?”

Aku mengangguk lemas. “Aku benci matematika,” gumamku.

“Tapi kau bisa menjawab soal fisika kemarin di papan..” Ah iya, kemarin aku menjadi mangsa lagi. Tapi untungnya aku bisa mengerjakan soal itu.

“Itu pelajaran bab depan. Aku sempat melihat soalnya di buku paket penerbit lain,” Taemin memandangku bingung. Aku melanjutkan, “Aku menghafal. Aku hafal semua soal dan pembahasannya..” Aku semakin lemas.

“WOW!”

Aku menatap Taemin yang menatapku kagum. “Hebat. Aku bisa dengan mudah menyelesaikan soal hitungan, tapi untuk hafalan? NOL besar. Bahkan untuk mengingat nama teman kelas kita saja sangat susah. Aku benar-benar payah dalam hal itu. Short time memory..”

“Maksudmu?”

“Contohnya, aku ingat namamu karena satu, kau adalah ketua kelas, dua, kau adalah orang pertama yang kulihat berantakan. Maksudku bukan apa-apa, hanya saja, ya kau tahu kan, kau sering menjadi sasaran guru-guru, telat masuk sekolah, bertingkah layaknya pengemis di jalanan, dan sebagainya.” Aku memelototinya, enak saja dia. Aduh, kenapa ingatannya tentangku yang buruk-buruk semua? Ia melanjutkan, “ Selebihnya, aku hanya mengingat nama-nama yang sering berhubungan denganku. Teman kelompokku ini, orang-orang yang duduk di dekatku, dan guru-guru. Itu pun aku masih sering menukar nama mereka. Maklumlah, nama mereka hampir mirip. Ada banyak orang bernama belakang seperti Perdana, Gunawan, Pratama, dan lain-lain di negara ini.”

“Tapi kau sampai di rumahku sekarang..”

“Aku pernah ke sini kan sebelumnya? Yah, sedikit tersesat sih tapi untungnya bisa sampai. Makanya, waktu itu aku benar-benar meneliti rumahmu dan berusaha mengingatnya.”

Oh, pantas..

Hening lagi. Kemudian giliran Taemin yang membuka pembicaraan.

“Kau belum selesai kan? Sini, biar kubantu.”

Akhirnya tugas perorangan kami selesai. Oh iya, untuk pengerjaan tugas ini kami bertiga membagi materi yang ada dan mengerjakannya sendiri-sendiri dulu. Nanti setelah semua terkumpul, barulah materi itu kami gabung menjadi materi tunggal yang akan dibuatkan soal dan dipresentasikan nanti. Tugasku selesai berkat bantuan Taemin. Bahkan ia sempat mengajariku beberapa pelajaran yang tak kumengerti. Ia lumayan kesal karena aku sangat susah menangkap materinya, tapi ia mencoba untuk sabar. Yah, menurutku Taemin adalah guru yang baik meski ucapannya ceplas-ceplos, to the point, dan pedas. Senang sekali ia menghinaku. Huh, dasar!

***

Nilai matematika-ku naik.  Fisika juga, sedikit. Aku sendiri tak menyangka. Terlalu sulit bagiku untuk percaya. Tapi ya itulah kenyataannya. Chira heran dan bertanya-tanya ada apa denganku dan.. matematika yang paling kubenci itu. Jawabannya? Karena dia, Taemin.

Sejak pertama kali kerja kelompok di rumahku, kami jadi makin akrab. Tapi tentu saja, itu hanya bila keadaan  sepi. Di kelas ia sama seperti pertama kali. Banyak diam, lebih sering menyendiri  atau kalaupun ia bergaul, itu hanya dengan beberapa orang saja. Aku tak tahu pastinya apakah ia memang kurang sosialisasi atau hanya memilih teman, tapi yang pastinya, ia selalu membantuku dalam pelajaran eksakta. Kuakui, ia bukan hanya bisa dalam matematika, tapi bisa kubilang ia sejenis ‘master of math’. Ia cepat sekali menghitung, penalarannya pun sangat kuat. Dan namanya juga jago matematika, tentu ia juga baik dalam fisika. Hanya baik, tidak bisa dibilang mahir atau pun pandai. Kenapa? Karena ia tak bisa menghafal rumus-rumus fisika yang bejibun.

Kuakui dalam matematika ia sangat mahir.

Tapi aku juga mengakui bahwa ia.. adalah orang yang paling bodoh soal hafalan di antara orang yang pernah kutemui seumur hidupku. Bayangkan, sudah berbulan-bulan ia sekolah di sini tetapi ia masih saja terbalik-balik mengenal nama dan wajah guru-guru dan teman kelasnya.

Dasar payah!

Aku bosan dengan pembahasan materi metabolism yang diajarkan. Aku sudah membacanya dua kali sebelum materi ini dijelaskan bahkan sudah menghafal 2/3 isi dari babnya. Bahkan sampai titik komanya pun aku hafal. Aneh? Ya begitulah aku. Aku cukup bangga bisa dengan mudah dan cepat menghafal sesuatu.

Aku mengalihkan pandanganku dari layar LCD yang menampilkan slide-slide tentang metabolism tubuh manusia ke segala arah. Mengedarkan pandanganku, menyapu isi kelas. Pandanganku terhenti di sosok Taemin. Posisiku benar-benar bagus untuk mengamatinya. Aku tersenyum melihat tingkahnya yang walaupun berusaha stay cool tetapi lucu di mataku. Ia terus menggaruk kepalanya yang mungkin tidak gatal dan menggerutu karena ia tak kunjung mengerti penjelasan yang diberikan. Tentu saja, aku tak yakin apakah ia bisa membedakan kepanjangan dan perbedaan dari DNA dan RNA.

Ia cantik. Ya, Taemin memang cantik. Meski ia seorang laki-laki, tetapi ia punya wajah feminim, terlepas dari kenyataan bahwa ia ternyata adalah seorang pecinta otomotif. Apa aku mulai menyukainya ya? Aku selalu memerhatikannya.

Merasa sedang kuperhatikan, Taemin menoleh dan membuka mulut membentuk ‘ada apa?’ tanpa suara. Aku langsung menggeleng, tapi ia mendesakku dengan tatapan ingin tahu dan bisikannya.

“Ada apa sih?” bisiknya.

“Kusarankan padamu untuk lihat saja ke depan sebelum…” belum selesai aku berbisik, sebuah suara memotong ucapanku.

“Ya, Taemin? Ada yang tidak kau pahami? Kenapa melihat ke belakang?” tanya sang guru biologi.

Taemin berusaha tetap tenang meski aku yakin ia panic. Ketahuan sedang tidak memerhatikan pelajaran. Taemin menatapku. Kurasakan tatapan dari sang guru.

“Dyu..?” Bagus, sekarang aku ikut-ikutan.

Aku berusaha mencari solusi. “Errr, begini, Bu. Tadi Taemin tidak mengerti kenapa warna air mani bisa berubah-ubah, jadi dia bertanya padaku. Jadi ya kujawab saja, Bu, kalau itu semua tergantung apakah air mani itu mengandung sisa-sisa protein atau tidak.”

Oh no! Perkataan bodoh. Itu kan masalah ekskresi, bukannya metabolisme!!!

Aku menggigit bibirku. Matilah aku. Satu-satunya pelajaran yang membuatku tetap bertahan di kelas IPA ini melayang sudah. Imej ku jatuh, dan aku malu memungutnya. *plak! Apaan sih?*

Seribu terima kasih pada Tuhan, setidaknya sekarang aku masih bisa menghela nafas. Sang guru menerima alasanku dan mengambil keputusan untuk tidak mempermasalahkannya.

***

“Apa kau bisa bermain alat music?” tanyaku pada Taemin suatu saat. Aku teringat lagi akan mimpiku. Saat itu Taemin sedang bermain piano.

Taemin mengangguk.

“Alat musik apa? Piano?”

“Piano?” Taemin mengangkat kepalanya kemudian menggeleng. “Bukan, aku tidak bisa bermain piano. Kalau drum sih bisa..”

*whoaaah, author mulai kacau ini..mian*

Aku langsung lemas. Taemin tidak bisa bermain piano. Ah, untuk apa juga aku ambil pusing? Kan hanya mimpi? Tapi aku..

“Aku menyukai cowok yang bermain piano di dalam mimpiku..” gumamku pelan.

“Apa? Kau bilang tadi apa?” O-ow, sepertinya Taemin mendengar gumamanku. Aku langsung menggeleng.

(End of POV)

***

(Author POV)

“Dyu, cepat!” Chira berteriak dari pintu kelas. Saat ini mereka sedang bersiap-siap untuk mengikuti pelajaran olahraga. Dan dasar memang hobi Dyu, ia masih sempat-sempatnya menulis di diarinya saat menunggu Chira berganti pakaian tadi. Bunyi peluit terdengar. Semua murid berhamburan keluar kelas menuju lapangan. Ia panik. Arrgh, Dyu menaruh asal-asalan diari-nya kemudian berlari menyusul yang lain, ia sempat melirik keadaan kelas di mana hanya tinggal lima murid yang masih berada di dalam kelas. Dua orang temannya yang sedang izin karena halangan, lalu ada Taemin yang merapikan pakaiannya, Rey yang memasukkan buku-bukunya ke dalam lacinya, dan Kyo yang mengambil bola basket dari dalam tasnya.

Buk. Tanpa sepenglihatan Dyu, diari-nya yang ditaruhnya asal-asalan ke dalam tas terjatuh dan dipungut oleh seseorang.

(End of POV)

***

(Dyu POV)

Ujian telah lewat. Hari ini, sebuah tahap telah kulewati. Dan setelah hari ini, langkah baru untuk hidup menuju tahap selanjutnya menunggu untuk kutapaki. Setelah dua tahun berjuang melawan eksakta, akhirnya aku bisa terbebas dari musuhku itu. Aku memandang seragam SMA-ku yang tergantung rapi di depan lemari. Goodbye high school, welcome university..

Aku berjalan menuju pintu ballroom Hotel Imperial Aryaduta *sori, numpang eksis nih hotel*, tempat diadakannya acara prom nite sekolahku.

PS: sy tdk th apakah d korea ada prom ato tdk, tp skli lg ini setting d INA, jd y yg t’jd semua b’dsrkn p’aturan2 d INA. Terimakasih!

Malam  ini aku mengenakan konsep putih-putih. Berharap bahwa mimpiku akan menjadi kenyataan, melihat Taemin bermain piano dan memakai setelan putih-putih, mengajakku berdansa, dan arrgh! Sudahlah. Lupakan.

Aku memasuki ballroom dengan langkah mantap. Lalu mengedarkan pandanganku, menyapu isi ballroom. Sudah cukup ramai rupanya. Aku melangkah semakin ke dalam, ke tengah-tengah ballroom dengan mataku yang masih terus bekerja mencari sosoknya. Setelah beberapa menit berusaha tanpa hasil, aku mengambil langkah menuju pinggir ruangan, berniat beristirahat dulu di sana seraya menanti dimulainya acara.

Aku menatap teman-teman angkatanku satu per satu dengan malas. Dan saat itulah aku menemukannya. Ia berdiri di dekat pintu ballroom samping, memakai setelah putih-putih, menatap keluar. Kemudian ia berjalan keluar dari ballroom, aku langsung mengikutinya.

Aku berjalan mengendap-endap di belakangnya, tapi rupanya hak gladiatorku menimbulkan bunyi saat kami sudah sampai di luar. Oke Dyu, mantapkan tekadmu. Kau sudah menemukannya dan sekarang saatnya kau mengakui perasaanmu dan keinginanmu untuk mewujudkan mimpimu menjad nyata. Aku mengangkat tangan berniat untuk menepuk badannya sebelum akhirnya ia berbalik.

OMO..!

……….

“Aku benar-benar tidak menyangka kalau ternyata kau,”

“Kenapa?”

Aku menoleh menatapnya. “Kau berubah. Maksudku, kau tak seperti biasanya.”

“Oh ya?” ia menantangku.

“Kau tampak keren malam ini. Ada apa?”

“Ini kan malam terakhir kita, ya sekadar bayangan untuk prospek ke depannya,”

“Heh?”

“Maksudku dalam hal penampilan,” ia memperjelas kata-katanya.

Sedangkan aku hanya ber-oh.

“Bagaimana menurutmu?”

Aku memerhatikannya. Kemudian manggut-manggut. “Bagus, malam ini kau tampak keren dengan pakaian putih-putih itu!”

“Benarkah? Makasih.” Jeda sebentar lalu ia bertanya padanya. “Apakah aku sudah pantas?”

Aku menoleh, bingung. Ia menunjuk-nunjuk pakaiannya. Aku mengangguk. “Sangat. Aku bahkan tak mengira kalau orang itu kau, Rey.”

“Lalu kau kira siapa? Taemin?”

Pertanyaannya langsung membuatku terdiam. Aku sendiri tak tahu jawabannya.

“Apa aku sudah pantas untuk menggantikan posisi Taemin dalam mimpimu?”

Hening. Aku tak tahu harus menjawab apa karena di dalam otakku sekarang terlintas pertanyaan : dari mana ia tahu tentang mimpiku dan Taemin?

“Kau..? Dari mana kau tahu…?” tanyaku penuh selidik, tapi ia hanya tersenyum.

(End of POV)

***

(Rey POV)

flashback-

Aku menatapnya dari belakang. Kursiku yang terletak di belakang membuatku bisa menatapnya sepuas hati, walaupun hanya tampak belakang. Tapi aku sudah merasa cukup puas sebagai secret admirer-nya.

Ya, aku menyukainya. Sejak pertama kali aku melihatnya. Dan aku semakin beruntung saat naik kelas dua aku sekelas dengannya. Aku tak pernah tahu apakah ia mengenalku atau tidak. Karena kami hampir benar-benar tak pernah mengobrol satu sama lain. Ia selalu saja bersama teman-teman dekatnya.

Aku menyukai dirinya apa adanya. Bodoh mungkin, aku menyimpan perasaanku sekian lama. Tapi aku merasa tak masalah, karena ia sendiri juga tak pernah dekat dengan murid laki-laki mana pun. Ya, dia mungkin kadang-kadang mengobrol dengan teman laki-lakinya, tapi sejauh yang kutangkap dari pembicaraan mereka (kuakui, aku menguping), mereka hanya membicarakan masalah sekolah atau hal-hal yang tak mencurigakan lainnya. Mencurigakan maksudku adalah hal-hal yang berbau menjurus ke arah pribadi atau katakanlah asmara. Dan aku benar-benar bisa tetap tersenyum sambil terus menyimpan rasa ini sendiri di dalam hatiku, memerhatikannya dari jauh. Karena aku sendiri tak memiliki nyali walau hanya untuk sekadar menyapanya.

Aku cukup bahagia sampai hari itu.

Ada murid baru. Laki-laki. Ia lebih tinggi beberapa senti dariku yang hanya memiliki tingga 170cm. Kulitnya putih, rambutnya coklat, dan entahlah awalnya aku mengabaikannya karena menurutku ia terlihat cantik meski dari caranya berpakaian dan sikapnya, ia manly. Aku tahu kalau ia pecinta otomotif, tergambar jelas dari motor sport yang dikendarainya. Tapi menurutku ia cukup pendiam. Ia tak banyak bergaul, kurasa ia menolak bersosialisasi, awalnya. Tapi lama kelamaan ia terlihat dekat dengan beberapa orang, orang yang benar-benar dekat dengannya – maksudku tempat duduknya, dekat dalam artinya bukan? Kami jarang sekali mengobrol.. dan aku juga tak berniat untuk berteman dengan laki-laki dingin sepertinya.

Beberapa lama kemudian konsentrasiku – dan seisi kelas termasuk guru biologiku – pecah karena adanya gangguan. Guruku bertanya pada Taemin dengan tatapan curiga, aku mengalihkan pandanganku pada Taemin. Berani juga ia menarik perhatian guru biologiku, mengingat sang guru amatlah killer. Dan saat aku memandang Taemin-lah, entah kenapa aku menjadi kurang suka padanya. Atau cemburu..?

Saat itu ia terlihat berbisik-bisik dengan.. Dyu? Kemudian perhatian guruku beralih pada Dyu. Gawat Dyu dalam masalah. Dan sesaat kemudian apa yang dilakukan Dyu membuatku sedikit..marah. Ia mengeluarkan statement yang membela Taemin. Bayangkan, ia membela Taemin!

Tak sampai di situ saja, setelah kejadian itu aku makin memerhatikan Dyu dan juga Taemin. Dan ternyata mereka seringkali terlibat obrolan yang ringan sebenarnya, tapi entah kenapa membuatku sedikit sakit melihat keakraban mereka berdua. Ternyata mereka luput dari perhatian orang-orang, termasuk aku. Dyu terlihat santai dan nyaman bersama Taemin. Mereka berdua saling mencela, mengatai, saling bercanda satu sama lain. Aku melihat bagaimana Dyu memukul-mukul lengan dan menjitak Taemin dan bagaimana Taemin mengacak-acak rambut Dyu. Mereka terlihat akrab dan.. serasi. Hatiku sakit mengakui kalau mereka memang cocok. Sebelum-sebelumnya aku tak pernah Dyu sebahagia ini selain bersama Taemin.

Aku sedang memasukkan buku-buku sekaligus mengawasi mereka sebelum pelajaran olahraga. Dyu keluar akhir-akhir, aku menunggunya sampai keluar. Dan ternyata Taemin juga belum keluar. Kemudian Dyu berlari tergesa-gesa keluar kelas. Tanpa ia sadari, sesuatu terjatuh. Aku yang paling terakhir keluar, entah kenapa aku tertarik pada barang itu. Aku pun memungutnya.

-end of flashback-

Inilah alasanku berpenampilan seperti ini. Aku, Rey, yang sehari-harinya berpakaian rapi, berkacamata tebal, dikenal sebagai kutu buku, merubah penampilanku karenanya. Karena perempuan yang telah menarik perhatianku sejak kali pertama bertemu dengannya. Malam ini aku meminta bantuan kakak perempuanku untuk mendandaniku, menyulapku menjadi pria paling tampan. Dan Dyu mengakuinya.

Ia memujiku, aku senang bukan main.

Tapi ternyata aku belum bisa menetap di hatinya. Aku merubah penampilanku seperti yang diinginkannya di dalam diarinya. Menjadi seorang pria berpakaian putih-putih yang jago bermain piano dan bisa memberinya kehangatan. Asal kalian tahu saja, aku mahir bermain piano lho. Tak banyak yang tahu, karena aku tak begitu mencolok di sekolah. Aku bermain piano sejak kelas empat SD.

“Apa aku sudah pantas untuk menggantikan posisi Taemin dalam mimpimu?”

Dia terdiam. Aku tahu kenapa. Karena bagaimana pun aku berusaha, aku tak bisa membuatnya nyaman layaknya Taemin lakukan.

“Kau..? Dari mana kau tahu…?”

Aku membaca diari-mu, maaf. Tapi lagi-lagi aku tak berani untuk mengatakan yang sejujurnya. Aku hanya memberikannya senyuman sebagai jawaban.

“Kami hanya bersahabat,”

Aku senang, mereka tak punya hubungan apa-apa selain sahabat. Aku masih memiliki kesempatan.  Kemudian ingatan bahwa mungkin besok, setelah ini, kami berdua tak akan bertemu lagi melintas di pikiranku. Yah, mungkin tinggal ini kesempatanku. Segenap raga, kukumpulkan nyaliku untuk melakukannya.

Aku menatapnya serius, ia balik menatapku bingung. Ayo, Rey. Katakan sekarang!

“Apa.. aku masih punya kesempatan?” tanyaku hati-hati.

Ia terdiam sejenak. Hanya dua hal yang kupikir tentangnya. Pertama, berdasarkan isi diari-nya, ia menyukai laki-laki yang berada dalam mimpinya. Kedua, melihat dari kenyataan, meskipun ia dan Taemin hanya bersahabat tetapi ia mungkin – atau juga Taemin – memendam rasa lain. Dan aku berada di antara keduanya. Maksudku, aku bisa saja kan apabila ternyata pikiran pertamaku benar?

Aku menunggu. Dan ia hanya tersenyum manis.

Kemudian orang yang paling tidak kuinginkan dating, menghampiri Dyu.

“Bisa kita bicara?” Dyu tampak bingung, meski akhirnya mengangguk dan membiarkan tangannya ditarik perlahan, menjauh dari tempatku.

(End of POV)

***

(Taemin POV)

Aissh, di mana sih dia? Aku sudah berkeliling mencarinya, tapi tak kutemukan juga. Aku sudah berputar-putar di seluruh penjuru ruangan, tapi hasilnya nihil. Aku berjalan keluar, mengedarkan pandanganku dan ya! Itu dia. Sedang bersama murid laki-laki itu, ah aku lupa namanya. Biarlah, sudah mau lulus juga. Aku langsung menghampiri mereka.

“Bisa kita bicara?”

Dyu tampak bingung, kemudian mengangguk. Tanpa basa-basi, aku langsung menarik tangannya. Aku sempat melirik laki-laki itu, dank au tahu apa yang kudapat? Ia menatap Dyu dengan tatapan yang sulit kuartikan, tapi menatapku dengan tatapan membunuh seakan-akan aku merusak semuanya. Hey, memangnya apa kulakukan? Aku hanya ingin berbicara dengan sahabatku kan? Apa urusannya dengan dia yang bahkan berbicara dengannya pun baru sekali?

Aku membawa Dyu keluar dari ballroom hotel, menyebrang jalan, dan kami sampai di pinggir pantai. Kami duduk di pembatas antara laut dengan daratan beraspal.

“Ada apa?”

Aku menoleh pada Dyu yang menatapku.

“Ada hal yang ingin kuberitahu padamu?” Ia nampak penasaran. Sebelum masuk ke inti, aku mengingat sesuatu. Aku mengeluarkan sesuatu dari balik jasku. Ku sodorkan padanya.

“Punyamu, kukembalikan.” Ia bingung, menatapku dan diari-nya bergantian. “Bukan aku, itu diberikan dari orang yang tadi bersamamu. Katanya mungkin ini milikmu, jadi ia memintaku untuk memberikannya padamu. Maaf baru mengembalikannya sekarang!”

Ia terlihat berpikir lalu ia menerima diari-nya. Kami terdiam. Tak ada yang bersuara, yang ada hanyalah suara deru ombak yang menabrak pembatas. Aku tak tahu bagaimana harus memberitahunya. Aku menoleh menatapnya. Angin laut menerbangkan rambutnya yang terurai. Ia menatap ke depan. Ia tampak manis mala mini, bukan hanya mala mini, sebenarnya ia selalu manis. Aku mendesah pelan lalu kembali menatap ke laut.

“Setelah ini mungkin kita tidak akan bertemu lagi.”

Aku tak berani menatapnya meski dapat kurasakan ia langsung menoleh padaku.

“Apa katamu?” dari suaranya ia tak percaya.

“Aku harus kembali ke Korea. Ada urusan penting di sana. Ini menyangkut masa depanku,” Akhirnya aku berani menatapnya.

“Kenapa, Taemin?” matanya mulai berkaca-kaca.

“Ada hal yang tidak bisa kuberitahukan padamu. Maaf,” aku menatapnya sendu.

Ia menggeleng. “Kau bohong kan?”

Aku langsung menggeser posisi dudukku mendekatinya, kedua tanganku menangkupkan telinganya.

“Kapan kau berangkat?”

“Besok pagi.”

“Besok? Kau jahat, Taemin! Kenapa kau tidak memberitahuku dari awal..?”

“Maaf.”

Air mata langsung turun dari matanya. Aku merengkuhnya ke dalam pelukanku. Tak kukira melihatnya menangis membuatku ikut bersedih.

Aku juga tak ingin berpisah denganmu, tapi aku harus. Aku mencoba menenangkannya, padahal aku sendiri rasanya ingin menangis. Aku membelai lembut rambutnya. Ya Tuhan, aku tak ingin ia bersedih. Aku hanya ingin melihatnya tersenyum seperti biasa. Senyuman terakhir dari sahabatku ini.

(End of POV)

***

(Dyu POV)

Taemin jahat!

Kenapa di akhir-akhir ia baru memberitahuku kalau ia akan pergi??

Arrgh, Taemin.. mati kau nanti.

Aku masih saja kesal padanya, padahal ini sudah lebih dari setahun kami berpisah. Enak saja dia! Datang dan pergi dalam kehidupanku tanpa izin. Menraktirku es krim pun tidak! Awas kau, Lee Taemin!

………

1st ending – primary..?

Soomeul gotdo chatji mot.hae naneun

Piharyeogo aesseo.bwado

Geobu.jocha hal su eopneun

Negae gad.hyeobeorin na

Sarang.eeyeot.damyeon

Jungmal sarang.haetdeon geo.ramyeon

Naegae eereo.jineun mala

Her whisper is the Lucifer

“LEE JINKI, KIM JONGHYUN, KIM KIBUM, CHOI MINHO, LEE TAEMIN..

SHINEE.. LUCIFEEEEEER”

Wow. Fansgirl ini hebat juga. Mereka bisa menemukan cela di dalam bergenre kontemporer ini untuk meneriakkan nama-nama member dengan tepat.

HAH! Aku mulai tak tahan..

Nareul mukko gadoon.damyeon sarangdo mukkin chae

Miraedo mukkin chae keojil su eopneunde

Loverhollic, Robotronic, Loverhollic, Robotronic

Geobu hal su eopneun neo.ae maryeok.eun Lucifer

“GYAAAAAA……”  Semua fans berteriak, menggila..

Penampilan selesai. Aku langsung berjalan keluar studio, dengan usaha keras tentunya. Aku paling benci harus berdesak-desakan seperti. Nafasku habis. Lebih baik aku keluar.

……

Selain benci berdesak-desakan, aku juga paling benci menunggu. Dan ini? Bukan menunggu beberapa menit. Tapi berjam-jam. Dan sekarang di sinilah aku. Mengantri!

Penasaran di mana aku berada?

Akan kuberitahu. Sekarang aku berada di tengah-tengah ribuan fansgirl yang mengantri untuk mendapatkan tanda tangan artis. Bayangkan. Aku bahkan tak pernah berpikir akan rela menghabiskan waktu dan tenagaku hanya untuk hal seperti ini!

Tapi apa mau dikata? Aku harus! Untuk mengerjai bocah tengik itu!

……..

“Di mana aku harus tanda tangan?” tanyanya saat aku menyodorkan album SHINee padanya. Ia yang terus menunduk langsung saja menanda tangani album SHINee yang kubeli.

“Siapa namamu? Atau aku harus menulis apa di sini?” tanyanya lagi dalam keadaan masih menunduk. Apa lehernya tidak sakit menunduk terus?

Aku menyodorkan diari-ku dan menjawab. “Write it down here.

“Nugu?” ia bersiap-siap menulis. Ia tampak bingung dengan diari-ku.

Just write : aku benci matematika.”

Dan sedetik kemudian ia langsung mengangkat kepalanya dan menatapku takjub.

“DYU?” serunya. “Kenapa kau bisa berada di sini?” tanyanya dalam aksen bahasa Indonesia yang masih baik. Aku hanya memberikannya senyuman lalu menjitak pelan kepalanya.

“Tulis saja cepat! Aku bukan hanya menginginkan tanda tanganmu, masih ada member lain yang ingin kumintai,” tukasku dan ia langsung melakukannya.

Aku mulai bergeser ke samping kanan, menuju eh.. siapa namanya? Aduh, aku lupa. Apa ada yang bisa memberi tahuku siapa nama lead vocal SHINee ini? Yang terlihat paling manly?

“Jonghyun..” aku menoleh. Taemin membisikiku. Sepertinya ia tahu gelagatku. “Tunggu aku!” bisiknya kemudian aku melangkah mendekati Jonghyun.

Huh, tumben aku jadi pelupa seperti ini?

………..

“Kenapa kau bisa ada di sini?”

Aku menerima es krim yang disodorkannya. “Ini buatku?”

Ia mengangguk. “Aku traktir!” Oh, akhirnya ia menraktirku es krim juga. Berapa tahun aku menunggu ia mau menraktirku es krim?

“Tumben..?” tanya penuh selidik.

“Dalam rangka penyambutanmu,” ia menjilati es krimnya sendiri. Aku hanya mengangguk-angguk. “Eh, jawab dulu pertanyaanku! Kenapa kau bisa ada di sini?”

Aku menoleh padanya yang menjilati es krimnya sambil menatapku penasaran. Aku memicingkan mataku. Ada yang aneh.

“Hey! Kenapa kau jadi berubah begini?”

“Berubah?” alisnya bertaut. “Apanya?”

“Dulu kau rada-rada dingin dan gentle. Kenapa sekarang kau jadi childish dan cantik?”

Ia mengangguk mengerti. “Oh itu. Cantik?” ia menunjuk wajahnya, aku mengangguk. “Ini karena make-up.”

“Kenapa semua artis memakai make up?”

“Tuntutan profesi.”

Aku menjilat es krimku. “Dan aegyo-mu?”

Ia langsung menyipitkan matanya. “Aegyo? Kau belajar bahasa Korea?”

Aku manggut-manggut. “Sedikit!”

“Jjinjja?”

Ah, dia langsung berbahasa Korea. Padahal tadi kami berbicara dalam bahasa Indonesia.

“Sejauh mana?”

“Aku hanya bisa sedikiiit sekali,” kataku seraya menunjukkan isyarat dengan ibu jari dan jari telunjukku.

“Seperti?”

“Aegyo, mianhae, gamsahamnida, errr..songsaenim..oppa..eonni..saranghae..”

Ia terdiam. “Mwo? Katakan sekali lagi!”

“Apa? Yang mana?”

“Yang terakhir!” Ia menyeringai licik. “Ayo, katakana sekali lagi!”

“Tidak mau!”

“Lho , kok tidak mau? Kenapa?” ia bertingkah seperti anak kecil.

Ihhh, aku gemas dibuatnya. “Kenapa tingkahmu ini?”

“Katakan dulu!”

“Jawab dulu pertanyaanku!”

“Katakan dulu!”

“Jawab dulu!”

Aku membuang muka. “Sirheo!”

Ia juga membuang muka. “Hey!”

“Apa?”

“Hey!”

Tapi aku tak berbalik. Kemudian kurasakan telingaku disentil olehnya. “Kenapa sih, Lee Taemin?”

“Akan kujawab!”

“Oke, aku mendengarkan.”

“Mungkin, ini karena perlakuan hyung-hyungku terhadapku. Karena aku yang paling muda, jadi mereka terkesan over-protektif padaku. Mereka memperlakukanku seperti anak kecil, padahal umurku hanya beberapa tahun lebih muda dari mereka. Apa kau sudah menonton MV SHINee?”

Aku menggeleng.

Ia menjitakku pelan. “Aish, anak ini. Kalau belum liat, kenapa kemari?”

Aku hanya nyengir.

“Banyak yang bilang bahwa image aku saat di MV dan show berbeda dengan aslinya. Kau tahu kenapa?” Aku menggeleng. “Karena sebenarnya itulah aku. Aku yang kau kenal dulu. Dan image baby yang kudapatkan, itu semua saat aku bersama hyung-hyungku itu!”

Aku manggut-manggut. “Oooooh. Jadi kau memiliki dua kepribadian ya?”

Ia melotot padaku.

“Oh, oke oke. Aku hanya bercanda.”

Ia tersenyum jahil. “Hey?”

“Hm?” aku menghabiskan es krimku.

“Sekarang giliranmu!”

“Giliran apa?”

“Katakan!”

Aku berpikir sejenak. Ah, itu lagi. “Tidak ah!”

“Apa? Tapi kan aku sudah menuruti perintahmu? Sekarang cepat katakan!”

Dan kami mulai bertengkar lagi. Ia tetap Taemin yang dulu rupanya. Meski keinginan untuk menjahiliku berkurang. Itu menguntungkan bukan???

Kami berdua tahu apa yang terjadi. Kujelaskan padanya apa yang terjadi padaku setelah kami berpisah dulu, begitu pun sebaliknya. Ia memiliki banyak cerita yang dibaginya. Masa-masa ia menjadi trainee hingga sekarang debut. Ia menjelaskan sedikit bahwa sebenarnya sebelum ia ke Indonesia, ia sudah menjadi trainee setelah mengikuti casting di Selandia Baru. Kemudian ia pindah ke Indonesia karena ayahnya dan setelah lulus, statusnya sebagai trainee salah satu agensi di Selandia Baru ditransfer ke Korea yang ternyata membawa keberuntungan baginya.

Dan yah, inilah dia sekarang. Lee Taemin sahabatku yang sekarang adalah seorang idola dengan perubahan pada dirinya. Tapi aku yakin, sekalipun ia benar-benar berubah menjadi laki-laki kekanakan, ia tetaplah sahabatku yang.. sedikit dingin? Entahlah. Ini baru pertemuan pertama kali dan masih butuh waktu bagiku untuk menyesuaikan diri bahwa aku adalah sahabat seorang artis.

Sahabat? Ya, sahabat. Karena aku tahu bahwa rasa kami sama, rasa persahabatan. Ia juga sempat mengatakan bahwa ia dilarang pacaran karena hal itu akan menjadi sulit.

“Tapi sebenarnya hal itu bisa saj, asalkan masing-masing ahli menutupi hal itu dari publik alias sembunyi-sembunyi. Dan  kurasa hal itu tak akan sulit, kalau kau yang menjadi pacarku!” Ia mendekatkan wajahnya ke wajahku, jarak kami hanya beberapa senti.

“He..hey, a..apa yang kau lakukan?” tanyaku kikuk.

Ia menambahkan, “Tapi sayangnya sepertinya duniaku akan hancur kalau pacarku ternyata adalah orang yang sering mempermalukan dirinya. Aku takut apabila stalker menemukan foto-foto pacarku yang terlambat dating ke sekolah atau duduk di pinggar jalan layaknya gelandangan!” Ia menyeringai.

Sialan! Aku langsung menimpuk wajahnya dengan tas tanganku. Enak saja dia!

Ingatannya benar-benar yang memalukan tentangku!

Yah, beginilah kami. Dan satu hal lagi kenapa kami tak berpacaran.

“Aku member kesempatan padanya,”

“Apa? Siapa? Laki-laki yang memberiku tatapan membunuh itu?”

Hah? Maksudnya? “Tatapan membunuh?”

Taemin mengangguk. “Ia, tatapan membunuh. Ia berikan padaku sewaktu aku menarik tanganmu di malam prom dulu.”

Hening. Tak ada suara.

“Kenapa kau memberinya kesempatan?”

“Hanya kesempatan untuk ia lebih dekat denganku, belum resmi. Semua masih bisa berubah!”

Taemin bertepuk tangan. “Bagus! Lalu, kenapa aku tidak dapat kesempatannya?”

“Kesempatan apa?”

“Dekat denganmu!”

Aku mendengus. “Ini apa namanya? Kau bahkan yang paling dekat denganku, Chira tidak masuk hitungan karena ia perempuan. Apa kau tahu, hah?”

Ia malah tersenyum puas. “Oh, memang! Kau hanya boleh dekat-dekat denganku!”

Ih…! Aku langsung menjauhkan diri darinya.

***

2nd ending – alternate ending

( utk alt ending, cerita dri ending d atas msi lanjt..ini lnjtnx..)

Aku menatap sekeliling.. masih di tempat yang sama. Hanya ada satu yang berbeda.

Pria itu memakai topeng. Melihatnya, aku reflex meraba wajahku. Dan benar, aku sama sepertinya. Memakai topeng.

Pakaiannya tetap putih-putih. Aku tetap dengan kostum serba hitamku, tapi kali ini lebih anggun.

Aku memakai dress hitam selutut, rambut hitam panjangku terurai lembut, dan kali ini aku memakai high heels dengan warna senada. Benar-benar tampak akan ke pesta.

Kemudian pria itu berjalan mendekat, tersenyum padaku saat ia sudah berada di depanku dan membungkuk sedikit seraya mengulurkan tangan kanannya padaku.

“Shall we dance, Princess?”

Aku bersemu merah mendengarnya. Aku memberikan tangan kiriku dan ia mulai menuntunku berdansa. Entah dari mana munculnya, tiba-tiba alunan music klasik mengalun mengiringi dansa kami. Sebelah tangannya melingkar di pinggangku, sebelahnya bertaut dengan tanganku. Aku menaruh tanganku yang bebas di pundaknya.

Setelah berdansa beberapa saat, kami berhenti dan ia membuka topengnya perlahan. Kuduga aku takkan melihatnya, seperti pengalaman biasanya. Tapi ternyata kali ini aku salah. Tak ada yang menghalangi dan aku bisa melihat dengan jelas wajahnya yang kokoh dengan rahangnya yang mengeras dan leher elangnya. Ia berwajah campuran Belanda – Turki. Aku tak mengenali wajahnya, tapi wajahnya familiar denganku. Siapa lagi dia?

………

Suara pilot pesawat yang memberitahukan bahwa pesawat akan transit sebentar di Singapura untuk mengisi bahan bakar (avtur) membangunkan dari tidur. Aku membuka mata perlahan, mengerjap-ngerjap sebentar sambil menyadari bahwa aku telah berpindah dari dunia mimpi kembali ke dunia nyata.

Ah…. Aku meregangkan otot-ototku, kedua tanganku bermain di udara. Huaaap. Aku masih mengantuk. Sambil menunggu pesawat mendarat, aku menutup mataku setengah dan kembali meregangkan ototku. AH….

“OUCH!!”

Heh? Suara apa itu?

Aku melirik ke sampingku dengan malas. Memandang penumpang yang duduk di sampingku setengah hati. Tapi sedetik kemudian aku langsung membelalak, mengucek-ucek mataku dan mendapatinya.

“Siapa kau?” tanyaku langsung.

Ia yang sedang memegangi pipinya yang mungkin tadi tak sengaja kutonjok, langsung menoleh ke arahku. “Excuse me, what did you say?”

Aku menatapnya tak percaya seraya memerhatikan wajahnya. Seperti campuran Belanda – Turki, leher elang, rahang yang kokoh. Di..dia.. Bukankah dia yang tadi ada di…?

AAARRRGHHHHH…………………..!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

FIN

Ending yang GJ.. kagak jelas sama sekali… sama sekali g jlas.. aneh bin ajaib.. semua itu mungkin wakilin nih FF.. benar kan GJ? Aku aja ngaku kok kalo nih FF emang GJ-x minta idup..!

Maafin author yang emang lagi gila saking stress mikirin tugas sekolah y!! oke? Oke?

*reader : g mau..!!

Oke, jadi terserah kalian menginginkan ending yang mana. Apakah ending yang pertama ataukah lanjut sampai d alt ending-nya.. sebenarnya berdasarkan pembicaraan, endingnya adalah yang pertama. (yak an dais?) Tapi kemudian saya mendapat ide tentang alt endingnya karena satu dan lain hal..  Jadi, ya kembali lagi kepada kalian. Hhehe..

Oia, kalo misalnya ada di antara kalian yang tidak puas dengan ending dan ff ini, silakan layangkan kritik dan saran. Yang jujur! Komentar dalam bentuk apapun diterima, – err, mungkin sedikit bashing asal jangan yang terlalu parah saya terima.  Dan mengenai ending yang tidak sesuai dengan persediaan (cie, bahasamu mbak!) ending yang saya berikan, kalian tentukan sendiri endingnya ya! *plak! Hhehe..

Baiklah, RCL y!

INGAT..! DON’T BE SILENT READER.. Komen..

Dan di sini saya memberikan bahan untuk kalian komentari. Selain kritik dan saran serta tanggapan kalian tentang FF ini, tolong pilih satu ending yang kalian sukai.

  1. a. 1st ending – primary
  2. b. 2nd ending – alternate ending
  3. c. 3st ending – ini adalah ending versi kalian sendiri. Kalau ada yang memilih ending bag ini, jelaskan secara singkat, padat, dan jelas plotx..

*bletak! Ditabok reader karena nyuruh-nyuruh..hhehe. piss!! =V=

Ok guys, I’m waiting for yours.. J

19 responses to “Men in White – Part 2 (end)

  1. hho..
    sdh sampai rupanya..

    asyik,,
    bs akrab sm taem..
    bs jitak taem..
    bs cubit taem..
    bs peluk taem (cari mati)..
    *all: mimpi kali yee*
    *sy: biarin.. mimpi2 gw.. bwee.. :P*

    dan pada akhrnya sy d tendang dr sini.. T___T

    • hhaha, muncul jg kmu..
      ingat na.. nd pke protes!!
      sp sruh bkin plot yg endx kek gtu..?
      bdw, smangatt u kwan lnjut d sweet escape mu..
      mqa lnjtnx.. bgs kok. pnulisnx rapi, tata bahasax bgs..
      yayaya..? oke..? lanjut na! harus! *maksa

  2. WOY ONNIE penjual koke-koke!!!
    sumpah aku suka ama ffnya… ngena bangett…
    soalnya karakternya mirip2 sm aku (?) *geer* tp bedanya aku bukan ketua kelas.. haha.. terlalu pemalas soalnya.. *ngaku*
    aku paling benci matematika dn segala tetek bengeknya itu.. fisika juga. huf.. padahal aku anak IPA.. hahaha’
    eh, sebrnya pria bertuxedo putih itu bukan taemin? melainkan rey?? hehehe
    wktu liat judulnya.. men in white.. kirain genrenya bakal action.. ahahahaha!!
    wkwkwk.. ini ff onnie yg duet ama Dyu onnie yah *sksd bgt* XD
    wah, sama.. klo bikin ff feat ama temenku pasti dia yg punya ide trus aku yg nulis plotnya.. haha.. soalnya aku paling mati kutu di ide cerita,,, kkkk~
    ffnya romantis, ga mesti ada skinship.. tp so sweetnya kerasa kok^^
    ending yg paling aku suka? ya pasti ending yg primary.. aku suka kata-katanya disitu.. “kesempatan untuk lebih dekat denganmu”.. so sweet.. *halah* XD
    yup! ffnya keren… bahasanya juga keren deh! love it ❤

  3. Wahahaha…
    Ntu spa yg mimpi? Dy?
    Again?
    Taemin d kemanain?
    Buadku?*ditimpuk*
    haaa..
    Aku g ngerti jlan critany,,
    tpi yah..nice ff lagh,,

    • yg dimimpi it org lain, jd critax ad cwok lain lg..
      bkn cm taemin, n rey, ad lg yg nongol..
      hhehe, mian y klo g ngerti..
      gomawo dah bc + komen.. 🙂

  4. wahaha,,
    aku pilih 1st ending..
    dyu sama taemin aja .. ;
    nice ff onnie…
    ceritanya kayak nyata bgt.. 😀 like it..

  5. wah… mian baru mampir… (T_T)
    ih waw author keren bisa bikin dua ending berbeda…
    sama2 kerennya…
    jadi aku pilih dua2nya.. hhe…
    soalnya yang pertama so sweet..
    trus yang kedua nggak terduga…
    hhe…
    kasih jempol sekarung + key buat chira b(^v^)d

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s