Everyone Is No. 1 – Part 2

Part 1

Di lain tempat, di sebuah rumah sederhana, seorang gadis sedang tertidur. Kamar tidurnya tidak begitu luas, cenderung sangat sederhana. Tapi, satu-satunya yang membuat kamar itu mencolok adalah kumpulan wajah Pangeran Lee Taemin yang dikumpulkan di pojok kamar. Wajah-wajah itu tidak hanya berada di atas kanvas, tapi juga pada beberapa kain—berupa sulaman—dan juga diukir di beberapa gelonggongan kayu.

Pintu kamar tersebut terbuka pelan, dan seorang wanita setengah baya masuk ke dalamnya. Sekalipun kerutan kehidupan mulai muncul di wajahnya, tetapi wanita itu tetap terlihat cantik dan bercahaya. Sebuah senyuman penuh kasih menghiasi wajahnya ketika ia duduk di pinggir tempat tidur dan menepuk pelan punggung gadis yang tertidur di atasnya. “Byul Ra,” panggilnya lembut.

Gadis yang dipanggil Byul Ra itu menggeliat pelan di tempat tidur. Matanya terbuka perlahan, dan sebuah senyuman terlukis begitu melihat wajah orang yang telah membangunkannya. “Umma, sudah pagi, ya?” ujarnya sambil mengusap matanya untuk menghilangkan kantuk.

“Matahari bahkan sudah tinggi,” jawab Umma. Nada jahil terdengar samar-samar dalam suaranya.

Mata cokelat Byul Ra yang sipit dan mengantuk melebar. Rasa kantuknya hilang sama sekali. “Pagi ini Pangeran Lee Taemin akan mengejar bulu ajaib, kan?”

Umma mengangguk. “Sudah banyak penduduk desa yang pergi ke istana.”

Byul Ra melompat dari tempat tidur, langsung sibuk sendiri, tampak mencari sesuatu. Umma yang bingung dengan sikapnya pun bertanya, “Apa yang sedang kau cari, Byul Ra?”

“Hadiah untuk Pangeran Taemin,” jawab Byul Ra, masih mencari di semua sudut kamarnya. Dia menoleh. “Hadiah itu untuk menyemangati Pangeran, Umma.”

Umma tampak ikut berpikir. “Oh,” ujarnya kemudian, mengingat sesuatu. “kanvas kecil dengan gambar Pangeran Lee Taemin?”

Byul Ra menghentikan pencariannya, langsung menatap Umma lekat-lekat. “Ne, apakah Umma tahu ada di mana?”

“Ada tulisannya, kan?” tanya Umma, memastikan, seraya bangkit. Byul Ra mengangguk cepat dan langsung mengikuti Umma yang berjalan keluar, menuju ruang makan.

Di atas meja, tampak sebuah kanvas kecil berukuran sekitar 15 × 15 sentimeter. Terdapat lukisan wajah Pangeran Lee Taemin di permukaannya, dan di bawah wajah Pangeran terdapat sebuah tulisan yang berbunyi: “Lee Taemin, The Next King”. Di ujung kanan-bawah kanvas, tampak gambar sebuah bintang dengan warna hitam.

“Ah, lukisanku!” seru Byul Ra, berlari meraih lukisannya. “yap, masih bagus!” ujarnya sambil meraba kanvas itu dengan penuh kasih. “Pangeran Taemin akan menyukainya!”

Umma menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah laku putrinya. Ia tidak habis pikir, bagaimana mungkin Byul Ra bisa begitu mengagumi Pangeran Taemin, ketika semua orang membenci sikap Pangeran Muda itu. Umma tidak bisa melupakan reaksi Byul Ra begitu mendengar pengumuman dari kerajaan tentang pemilihan raja yang baru. Saat itu, dengan penuh semangat, Byul Ra mengungkapkan dengan yakin bahwa ia akan membantu Pangeran Taemin.

Umma, aku akan ke istana sekarang!” ujar Byul Ra setelah merasa siap. Ia menggunakan pakaian bak detektif, lengkap dengan kaca pembesarnya. Byul Ra membungkus lukisannya dengan kain berwarna putih, dan mendekapnya di dada.

“Hati-hati, ya,” pesan Umma.

Byul Ra mengangguk, mencium pipi Umma sekilas, dan langsung berlari dengan riang menuju istana. Umma memandangi kepergian Byul Ra, dan dalam hatinya, ia merasa bangga pada putrinya itu.

Pangeran Taemin memperhatikan bulu ajaib yang sekarang jatuh ke tanah. Orang-orang sudah banyak yang meninggalkan istana, mengacuhkan Pangeran Taemin, dan kembali kepada pekerjaan masing-masing. Baginda Raja dan Penasihat Yunwoo hanya bisa pasrah dengan kejadian ini, sama-sama menanggung malu.

Bulu ajaib Pangeran Taemin tetap tidak bergerak. Sekarang halaman istana sudah benar-benar kosong, hanya ada beberapa pengawal dan seekor kuda yang memang sudah disiapkan untuk Pangeran Taemin. Sepertinya, kuda itu tidak akan digunakan.

Beberapa menit berlalu, tetap tidak ada yang terjadi. Pangeran Taemin hanya mematung menatap bulu ajaib yang tidak bergerak sama sekali. Akhirnya, Penasihat Yunwoo membawa Baginda Raja masuk ke istana untuk beristirahat. Tinggalah di sana Pangeran Taemin, kudanya, dan dua orang pengawal yang berdiri bagaikan patung untuk menjaga pintu istana.

Angin berdesir lembut, dan bulu itu bergerak sedikit karena angin. Tiba-tiba, terdengar kegaduhan dari arah gerbang istana.

“Biarkan aku masuk!” teriak seorang gadis.

“Kau datang terlambat! Apa maumu!?” bentak penjaga gerbang.

“Aku ingin memberikan sesuatu pada Pangeran Taemin!” jawab gadis itu.

Merasa dirinya dipanggil, Pangeran Taemin menoleh. Dilihatnya seorang gadis berpenampilan aneh dengan sebuah bungkusan dalam pelukannya. Ternyata, gadis itu menyadari perhatian Pangeran Taemin dan langsung berteriak, “Pangeran Taemin! Aku membawa sesuatu untukmu!!!”

Penjaga gerbang menutup telinganya. “Bisa kecilkan suaramu!?”

Gadis itu tersenyum licik. “Biarkan aku masuk!!!” teriaknya, lebih kencang.

Penjaga gerbang menoleh pada Pangeran Taemin, meminta izin. Tapi, tidak sesuai dugaan, Pangeran Taemin justru kembali memperhatikan bulu ajaib yang masih tergolek di tanah. Menyerah, si Penjaga Gerbang mendengus. “Masuk saja, lah!” ujarnya kesal.

Tersenyum penuh kemenangan, gadis itu segera berlari menuju Pangeran Taemin. “Pangeran,” panggilnya riang.

Pangeran Taemin menoleh. “Kau siapa?” tanya Pangeran, datar.

Gadis itu tersenyum manis. “Choi Byul Ra imnida,” jawabnya.

Pangeran Taemin ber-hmm pelan sebagai tanda menyahut, dan menoleh kembali pada bulu ajaibnya yang masih tidak bergerak. Byul Ra mencoba menangkap keadaan, dan akhirnya dia berkata. “Oh, apakah kedua pangeran yang lain sudah berangkat, Pangeran?”

Tidak ada sahutan.

“Pasti sudah,” Byul Ra menjawab pertanyaannya sendiri. Dia berjongkok, mengamati bulu ajaib yang diam itu dengan kaca pembesarnya, lantas meniup bulu itu.

Pangeran Taemin bingung memperhatikan Byul Ra, tetapi tidak berkata apa-apa. Bulu itu bergerak sedikit, dan setelah ditiup dua kali, bulu itu kembali melayang rendah. Byul Ra langsung melompat sambil tertawa bangga. “Kita berhasil, Pangeran,” ujarnya. “bulu itu bergerak! Ayo, kita cari karpet terbang ajaib itu dan Pangeran akan menjadi raja!”

“Kita?” tanya Pangeran Taemin.

Geuleomyo!” angguk Byul Ra. “aku akan membantu Pangeran!”

Pangeran Taemin menggeleng. Byul Ra menelengkan kepalanya ke kanan, bingung. “Ada yang salah, Pangeran Lee Taemin?”

“Aku tidak tertarik menjadi raja,” jawab Pangeran Taemin pelan.

Waeyo?” tanya Byul Ra.

Pangeran Taemin mendesah. “Biarkan saja Donghae-hyung atau Jinki-hyung yang menjadi raja,” kata Pangeran Taemin lagi. “aku tidak akan mendapatkan apapun, ataupun bertmmmmmmmmmmmmm.”

Byul Ra mendekatkan telinganya. Kata-kata Pangeran Taemin barusan hanya terdengar seperti gumaman tidak jelas di telinga Byul Ra, mungkin karena saking pelannya. Tapi, mencoba mengabaikan itu, Byul Ra menepuk pundak Pangeran Taemin dengan kaca pembesarnya. “Tidak boleh begitu, Pangeran,” katanya. “aku yakin Pangeran adalah orang yang paling sempurna untuk menjadi raja! Kita akan menemukannya, Pangeran, apapun yang terjadi!”

“Mungkin, di saat kita mencari, Donghae-hyung atau Jinki-hyung sudah kembali,” desah Pangeran Taemin pelan. “tidak ada harapan.”

Byul Ra terdiam menatap Pangeran Taemin di hadapannya. Ini tidak seperti Pangeran Taemin yang selalu tersenyum menatap langit…

“Bagaimana keadaan Pangeran Lee Taemin?” tanya Baginda Raja Lee Dong Sun dengan suara yang lemah dan parau.

Penasihat Yunwoo mendesah. “Pangeran Lee Taemin belum bergerak, Baginda,” jawabnya lesu. “saya juga mendapat laporan tentang seorang gadis yang berpakaian aneh, memaksa masuk untuk menemui Pangeran Taemin.”

Baginda Raja mencoba menoleh. “Siapa gadis itu?”

“Salah seorang warga desa, Baginda,” jawab Penasihat Yunwoo. “apakah saya harus meminta pengawal membawanya kemari, Baginda?”

“Tidak perlu,” jawab Baginda. “mungkin gadis itu berniat baik. Perhatikan saja gerak-geriknya, kalau ada yang mencurigakan, bawa dia ke hadapanku.”

Penasihat Yunwoo mengangguk. “Baik, Baginda.”

Segera, Penasihat Yunwoo memanggil seorang pengawal untuk mengintai gadis yang sekarang bersama dengan Pangeran Lee Taemin. “Kalau ada yang mencurigakan, bawa dia kemari!”

“Baik, Tuan,” jawab si pengawal patuh sambil mengangguk.

Penasihat Yunwoo menatap jendela kamar Baginda Raja. Matahari bersinar begitu cerah. Siapakah yang akan berhasil? Batinnya ragu.

Bulu itu terbang terus ke arah timur. Seseorang dengan kuda hitam mengikutinya. Sejenak dia menghentikan kudanya, dan ternyata, bulu ajaib itu turut berhenti. Dia turun dari kudanya, memperhatikan sekeliling. Tanpa disadarinya, dia sudah keluar dari kerajaan Vavalaine.

“Arang! Arang!” teriak seorang anak kecil, tidak jauh darinya. Dia menoleh dan melihat anak itu, yang dengan wajah senang, berlari ke arahnya. “Arang, Tuan?” tawar anak itu, menurunkan keranjang di punggungnya yang penuh dengan batu-batu hitam pekat. “ini arang berkualitas tinggi.”

“Arang?” tanyanya angkuh. “kau pikir aku sedang kedinginan atau apa? Di saat hari panas begini, kau malah menawariku arang? Apa gunanya?”

Anak kecil itu menunduk. “Mianhamnida,” ujarnya penuh sesal. “saya hanya menawarkan. Siapa tahu Anda membutuhkannya. Malam ini akan sangat dingin, Tuan.”

Dia mendengus. “Aku tidak butuh, Bocah!” hardiknya, menendang keranjang itu hingga semua arangnya tumpah ke tanah. Tanpa memikirkan perasaan penjual arang itu, dia kembali naik ke atas kudanya, lalu berjalan pelan meninggalkan si anak kecil yang menangis di jalan. Bulu ajaib yang tadinya berhenti bergerak ke timur, kini kembali melayang, terus ke arah timur. Dia mengikuti arah perginya bulu itu.

Sementara itu, si penjual arang kecil itu melirik arah kepergiannya dengan lirikan tajam. “Akan kuadukan kau pada ayahku!”

“Ah, lelah,” ujar Pangeran Jinki, langsung menghentikan kudanya. Bulu ajaib yang diikutinya ikut berhenti, hanya melayang-layang, tidak bergerak ke barat maupun jatuh ke tanah. Pangeran Jinki mengambil bekal minumannya, meminumnya sedikit, lalu turun dari kudanya, hendak beristirahat. Di saat bersamaan, bulu ajaibnya melayang rendah, lalu berhenti di tanah.

“Eh?” Pangeran Jinki memandangi bulu ajaibnya. “apa yang terjadi?”

Pangeran Jinki mengamati bulu ajaib yang tergolek di tanah. “Aduh,” keluhnya. “bagaimana aku bisa mendapatkan karpet terbang itu kalau bulu ajaib ini berhenti bergerak? Eoddeokhae?” Pangeran Jinki mondar-mandir di tempat, mencari cara. Buntu, dia merengut. “Mengapa tidak ada pengawal yang menemaniku dan memberitahuku soal ini?”

Akhirnya, dengan kesal, Sang Pangeran kembali menaiki kudanya. “Mungkin aku memang harus terus berjalan ke barat, karena sedari tadi bulu ajaib itu mengarah ke sana,” gumamnya. “sekalipun semakin ke barat, aku terus bergerak mendekati hutan.”

Ketika dia menjalankan kudanya, bulu ajaibnya melayang rendah, dan ketika ia terus bergerak ke barat, bulu ajaib itu melayang semakin tinggi, dan dengan cepat, kembali memimpin perjalanan.

“Woa, apa lagi ini?” Pangeran Jinki semakin bingung. “sekali kau jatuh ke tanah, tapi kau sekarang kembali melayang penuh semangat!”

Tiba-tiba, terdengar suara tawa terkikik dengan nada meremehkan, dari dalam kegelapan hutan.

Advertisements

17 responses to “Everyone Is No. 1 – Part 2

  1. DAEBAK…….

    lanjut unn…..

    aku suka aku suka aku suka aku suka…

    aku tahu nanti byul ra n taemin itu sama-sama pergi mencari karpet terbang kan ?

    * sok tau sok tau sok tau,masih kecil aje lu sok tau aliva *

    LANJUT KAN,KALAU TAK LANJUT,AUTHOR NA GUA NIKAHIN AMA MINHO OPPA,OR ANAK SHINEE LAEN NA,TP JANGAN KEY OPPA WKWKWKWK…

  2. waahh.. akhirnya byul ra ketemu juga ama taemin trus ngebantu taem..
    tp agak kesel juga ama taem yg kesannya pendiem bgt gtu,,, gemes aku liatnya.. *taem : hoeekk*
    donghae kasar banget ama anak kecil ya.. hahahaha
    lanjut ke part.3^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s