I Love You Behind the Break Up [Oneshot]

Title       : I Love You Behind the Break Up
Author  : inwonderplace
Cast       : Song EunYoo, Lee JinKi (Onew SHINee)
Genre   : Angst *may be…*, roman
Length  : Oneshot
Rate       : PG-15
Annyeong Yeorobun!!! Naega dashi dorawa~~

PS : *ff ini aq buat atas permintaan eonnie q *riseuna-sshi* dia ngebet banget ma Onew. Mian ya riseuna-sshi kalo ni ff tidak memuaskan hatimu jjejjjejjjejjje^^.

** author Cuma ngasih satu pesen, DON’T be a SILENT READER. Saya minta sebagai seorang author para reader sekalian meninggalkan setidaknya satu komen kalian, walaupun ni ff jelek, gaje, ga nyambung, aneh, dan tidak sesuai selera yg penting kasih saya komen. Apalagi kalo dibilang bagus *ngareepppp* wajib ngasih komen.

Okelah para reader, happy reading ya…..

-.-.-.-.-

Hari ini tepat setahum setelah perpisahan kita. Aku sudah sangat merindukanmu dan aku ingin secepatnya menemuimu. Tahukah kau? Setelah kau pergi meninggalkanku begitu saja tahun lalu, aku benar-benar tak bisa merelakanmu begitu saja. Dan sekarang aku sudah siap untuk menyambutmu kembali, dan aku juga tak lupa dengan kado ulang tahunmu. Kau kan baru saja merayakan ulang tahunmu. Aku juga akan sekalian memberikannya padamu hari ini juga.

“Eomma, dress putihku disimpan dimana?” tanyaku dari dalam kamar.

“Dress yang mana?” Tanya Eomma balik yang kini sudah berada di dalam kamarku.

“Ituloh , dress putih hadiah ulang tahunku dari Jinki tahun lalu. Aku mau menemuinya sekarang dan aku ingin dia melihatku memakai dress permberiannya itu,” ujarku.

“EunYoo-ah, apa kau yakin akan menemuinya? Eomma sedikit tak yakin, sebaiknya kau tak usah kesana. Atau mungkin lebih baik Eomma menemanimu kesana,” ujar Eomma khawatir.

“Sudahlah eomma, sekarang aku sudah tak apa-apa. Aku takkan seperti dulu lagi,” ujarku meyakinkan eomma.

“Ah geurae. Baiklah jika itu maumu, eomma percaya padamu. Oh ya dress-mu eomma simpan di lemari belakang, karena dulu eomma terlalu mengkhawatirkanmu,”

“Aku baik-baik saja eomma. Eomma tak usaha cemas lagi.” Ujarku tetap meyakinkan eomma. “Kalau  begitu aku  aku mau bersiap dulu untuk menemuinya,” kemudian aku bergegas menuju lemari yang berada di bagian belakang rumahku.

-.-.-.-.-

Kuandangi pintu yang kini ada di depanku. Pintu yang sudah cukup tua yang akan mengantarkanku ke lemari di belakang. Aku menarik nafas dalam-dalam dan membuka pintu tersebut. Kumasuki ruangan itu dan bisa kulihat lemari putih yang sudah usang masih berdiri kokoh di hadapanku. Kupandangi seluruh sudut ruangan itu, tak ada perubahan sedikitpun sejak terakhir kali aku memasukinya setahun lalu. Gudang yang masih saja tertutup debu, kulirik ke arah langit-langitnya, tali itu ternyata masih terganbtung seperti setahun yang lalu. Kualihkan kembali pandanganku ke arah lemari putih itu, menghampirinya lalu membukanya.

Aku menarik sudut bibirku hingga membentuk sebuah senyuman saat kulihat sebuah dress putih masih rapi tergantung rapi di dalam lemari tua itu. Buru-buru kuambil dress itu lalu bergegas meninggalkan gudang ini.

Kupandangi pantulan tubuhku di cermin. Aku senang akhirnya bisa memakai dress ini dan aku bisa memperlihatkannya padam. Sekali lagi kutata rapi dress putih selutut yang kupakai ini. Dress dengan model simple yang kau brikan padaku sebgai haidah ulang tahunku darimu tahun lalu. Setelah kuyakini penampilanku sudah sempurna. Segera kuraih tas tanganku dan sebuah kantung yang berisi hadiah ulang tahunmu dariku yang sebelumnnya belum sempat kuberikan.

“eomma, aku pergi dulu,” seruku kmudian bergegas pergi.

“Ne, hati-hati di jalan ya,” sahut eomma.

-.-.-.-.-

Aku berjalan di sepanjang jalan Apgujong. Aku ingin membeli sesuatu untuk menyambut pertemuan kami, mungkin aku bisa membeli cola dengan beberapa snack atau mungkin juga aku bisa membelikanmu beberapa potong ayam goreng. Ya, sebaiknya aku membelikanmu ayam goreng, ayam goreng kan makanan kesukaanmu.

Setelah selesai membeli cola, snack dan beberapa potong ayam goreng. Aku kembali berjalan di sekitar apgujong untuk mencari toko bunga. Tapi pandanganku tersita oleh sebuah benda mungil yang terpajang di salah satu etalase sebuah took pernak-pernik. Aku memperhatikan benda itu, kupikir benda itu cukup menarik dan aku bisa menambahkannya sebagai hadiah untukmu. Akhirnya kuputuskan untuk membelinya dan bertekat meberikannya padamu saat kita bertemu nanti.

Kini aku melangkah memasuki sebuah toko bunga yang sedari tadi kucari. Aku membeli sebuket bunga lili putih yang utahu sebagai bunga kesukaanmu. Aku akan membelinya untuk menyambut pertemuan kita. Aku yakin kau pasti senang dengan semua ini.

Kunaiki sebuah bis yang akan mengantarkanku padamu dengan perasaan bahagia. Sudah setahun sejak perpisahan kita, akhirnya aku bisa menemuimu lagi. Aku sungguh tak sabr ingin segera bertemu denganmu.

-.-.-.-.-

Semilir angin menyapu setiap helaian rambutku dengan lembut. Kututp mataku dan menarik nafas sedalam-dalamnya. Membiarkan aroma laut ini memasuki setiap rongga paru-paruku. Angin laut yang menerpa tubuhku mengantarkan langkahku menemuimu yang sudah lebih dulu menungguku di atas tebing.

Aku mempercepat langkahku untuk menemuimu.

“Jinki, aku datang,” seruku saat pandanganku bisa melihat jelas dimana tempatmu kini berada. Aku berlari kecil menghampirimu. Kujatuhkan semua barang bawaanku dan menghambur memelukmu.

“Jinki, aku rindu padamu. Bagaimana keadanmu? Apakah kau bahagia disana? Kapan kita bisa pergi bersama lagi?” tanyaku.beli t

Kulepaskan pelukanku, aku bisa melihat imaji yang terenyum menyambutku. Senyuman yang selalu kukurindukan selama setahun ini. Senyuman yang pernah meninggalkanku, yang kini kembali hadir di hadapanku.

“Kenapa kau tak menjawabku?” tanyaku lagi. Dan kau hanya memberikan senyumanmu mendengar semua pertanyaanku.

“Baiklah jika kau tetap tak mau jawab. Berarti kau tak marah padaku. Oh ya aku membawa sesuatu untukmu,” ujarku kemudian menunjukan satu-persatu barang yang kubawakan untukmu.

“Ini, aku membawakan cola dan snack kesukaanmu. Dan aku juga tak lupa dengan ayam gorengnya. Kau kan sangat suka dengan ayam goreng. Bahkan kau lebih menyukai ayam goreng itu disbanding aku, hehehe,” kutata semua makanan itu dihadapanmu. Kau hanya tersenyum melihatku.

“Kau hanya tersenyum saja, katakanlah sesuatu padaku.” Ujarku masih sambil menata semua makanan yang kubawa. “Jinki, apa kau tahu kalau aku sangat merindukanmu. Kau kenapa seenaknya pergi begitu saja tanpa member kabar padaku. Kau pikir aku baik-baik saja saat kau pergi. Kau itu jahat tak memebri kabar padaku. Tapi, tenang saja aku tak marah padamu, karena sekarang kita kan sudha bertemu lagi. Jadi aku takkan marah padamu, asal kau mau berjanji agar tak meninggalkanku lagi. Kau janji ya?” ucapku dan kau hanya tersenyum menanggapiku.

“Oh ya, aku belum sempat memberikanmu hadiah ulang tahun. Karena waktu itu kau keburu pergi. Jadi, mumpung sekarang kau sedang di sini, aku akan memberikannya padamu. Aku tahu ini terlambat tapi aku tetap ingin memberikannya padamu, hehehe,” kemudian aku meraih kantung yang kubawa dari rumah dan mengambil sesuatu dari dalamnya.

“Lihat ini, apa kau menyukainya?” aku menunjukan sebuah kemeja putih yang kuberikan untukmu. “aku membuatnya sendiri lho. Ini serasi dengan dress yang kupakai kan? Apa kau suka dengan kemeja ini? Kau harus memakainya ya, agar kita jadi pasangan yang serasi,” ujarku, dan kau tetap saja tersenyum.

“saengil cukha hamnida Jinki-ah,” kusodorkan kemeja itu ke hadapanmu, tapi kenapa kau tak mengambilnya, kau malah tersenyum menatapku.

Kini aku beralih meraih sebuket bunga lili putih yang kubeli tadi dan menaruhnya di sampingmu..

“Aku yakin kau pasti senang melihatku membawakan lili putih untukmu. Aku kan sangat suka bunga ini,” ujarku. “Jinki-ah, kenapa kau tak mengeluarkan sepatah katapun dari tadi? Apa kau marah karena baru sekarang aku menemuimu? Atau mungkin kau sedang sakit gigi, jadi kau tak banyak bicara dan hanya tersenyum, ayolah katakan sesuatu padaku.” Kau tetap hanya tersenyum.

Aku kembali beralih meraba sebuah kantung dan mengeluarkan sebuah koatk kardus kecil berwarna putih dan berhias pita berwarna merah. Kubuka kotakitu dan megeluarkan sebuah kotak music kecil dari dalamnya.

Kuputar knop kotak music itu untuk beberapa putaran. Terdengar alunan nada yang cukup menyayat hatiku. Kuingat semua kenangan manis kita, yang membuatku hatiku semakin tersayat. Apa kau tau betapa hancurnya aku saat kau meninggalkanku? Apa kau tau betapa tebebannya aku kehilangan dirimu?

“Jinki-ah,” panggilku. Kau hanya tersenyum. “Apa kau ingat tentang setahun yang lalu, sehari sebelum hari ulang tahunmu? Kita pergi untuk makan es krim bersama di pinggir danau. Apa kau juga ingat, saat itu aku belepotan memakan es krimku, “ ujarku sambil menyusun batu di sekelilingnya. Kotak music ituoun masih terus melantunkan alunan nada yang semakin menyayat hatiku.

“Kau bilang aku takkan mungkin mendapat namjachingu kalau aku belepotan seperti itu. Tapi dengan santainya aku menjawab kalau aku pasti akan mendapat namjachingu, karena namjachingu-ku itulah yang akan membersihkan noda eskrimnya. Namun tiba-tiba saja kau menjilat noda eskrim itu. Kau tak tahu betapa malunya kau saat itu. sedangkan kau hanya tertawa mengejekku. Kau itu menyebalkan!”

Aku mengehntikan kegiatanku menyusun batu-batu dan meraih botol cola yang ada di hadapanku. Kusiramkan cola itu diatasmu agar kau bisa merasakan kesegarannya.

“Bagaimana rasanya segar kan? Oh ya ini snacknya,” ujarku sambil menaburkan snack itu diatasmu.

“Jinki-ah ayo jawab pertanyaanku,” kau hanya tersenyum.

“Jinki-ah,” kau tetap saja tersenyum.

“Lee Jinki!” panggilku setengah berteriak.

Tapi imajimu tetap saja tersenyum  ke arahku. Kini mataku sudah tak bisa membendung airmata yang sudah sejak tadi tertahan. Aku banr-benar kehilanganmu Jinki. Kau tak tahu betpa hancurnya aku sepeninggalamu. Kenpa kau begitu cepat meninggalaknku di dun ia ini. Kau tahu, aku ini tak bisa hidup tanpamu. Kaulah udaraku, kaulah yang keubutuhkan dalam hidupku. Tanpamu, hidupku hamapa dan tanoa tujuan.

Kupandangi imajimu yang terletak diatas pusara ini. Kau masih tetap tersenyum ke arahku, senyummu itu hanya semakin membuatku merasa hancur. Aku benci padamu! Kau benci karena kau meninggalkaku di dunia fana ini!

“Aku benci kau Lee Jinki! Kau adalah mahluk yang paling menyakitkan di dunia ini! Kau meninggalkanku tanpa memberitahuku terlebih dulu! Aku benci kau! aku gila karena kau meninggalkanku! Kenapa kau tak mengajakku pergi bersamamu! Aku sudah tak tahan hidup tanpamu, hidupku hancur. Aku kehilangan seseorang yang menjadi belahan jiaku. Aku kehilangan separuh nyawaku. Apa kau pikir aku masih bisa hidup tanpa dirimu! Kau salah! Aku tak bisa hidup tanpamu!” teriakku frustasi.

Aku benar-benar depresi karena kehilanganmu. Aku ingin mati bersamamu, kau terlalu berharga bagiku aku tak bisa tanpamu.

“Aku membencimu!!”

PRAAAANGG

Aku melemparkan botol cola itu hingga hancur berkeping-keping, sehancur hidupku saat ini. Aku kini benar-benar gila, stress, frustasi, depresi. Itu semua karena kau. aku sudah tak tahan dengan hidup ini. Aku membenamkan kepalaku diantara kedua lututku, menahan semua beban hidup ini. Airmataku juga terus saja mengalir, mengalirkan sejuta kepedihan hati karena kehilanganmu.

-.-.-.-.-

“EunYoo,” panggil sebuah suar yang sepertinya amat sangat kukenal.

“EunYoo, gwaenchanayo?” kudengar kembali suar lembut seseorang yang telah lama hilang dari kehidupanku. Kurasakan sebuah tangan yang hangat menyentuh bahuku. Aku merasa seperti kembali mendapatkan kehangatan yang dulu pernah kurasakan. Perlahan kuangkat kepalaku, airmata yang sebelumnya mengalir, kini mengalir semkain deras saat kulihat kini di hadapanku ada seorang namja yang memakai pakaian serba putih yang amat sangat kurindukan.

“EunYoo,”

“Jinki-ah,” gumamku saat aku benar-benar yakin bahwa sosok namja dihadapanku ini benar-benar Jinki.

“EunYoo, apa kabar?” tanyanya dengan suara lembutnya.

“Jinki, kau kemana saja, aku sangat merindukanmu.”

“EunYoo kau kenapa? Kenapa kau menangis?” Tanya JInki sambil menghapus airmataku dengan jemarinya yang hangat.

“Aku merindukanmu Jinki, kenapa kau pergi meninggalkanku,”

“Mianhae EunYoo, tapi ini sudah jalan takdir ku,” ujar Jinki kemudian ia menarikku ke dalam pelukannya. Pelukan hangat yang selalu kurindukan.

“Aku mencintaimu Jinki, kumohon jangan pergi lagi, jangan tinggalkan aku,”

“Maaf EunYoo, jalan kita sekarang telah berbeda. Aku tak mungkin bisa bersamamu lagi.”

“Kumohon Jinki, tetaplah disini, tetaplah disampingku, aku tak ingin kehilanganmu.”

“EunYoo, aku juga mencintaimu. Tapi, tempatku sudah bukan di dunia ini lagi, aku sudah mempunyai duniaku sendiri. Dan sekarang sudah saatnya aku kembali ke duniaku lagi,” ujar Jinki kemudian ia beranjak hendak meninggalkanku lagi.

“Jinki jangan pergi,”

“Mianhae EunYoo, saranghaeyo,” ucap Jinki. Kemudian sosok itu perlahan menghilang tetrtiup hembusan angin.

“Jinki, kembalilah. Aku tak bisa hidup tanpamu,” gumamku. Kini tangisku benar-benar tak bisa terbendung, aku sudah tak bisa menahan rasa rinduku padamu.

Aku kini benar-benar frustasi, baru saja aku bisa melihatnya agi tapi kini ia sudah menghilang lagi. Hal ini semakin membuatku depresi. Aku ingin bersama Jinki.

“JINKI!!” seruku frustasi. Akhirnya pandanganku tertuju pada sesuatu, sbuah benda yang mungkin bisa mengantarkanku pada Jinki. Kuambil pecahan botol itu dengan mantap. Mungkin hanya dengan cara inilah aku bisa bersama Jinki.

Kugenggam pecahan botol itu, bisa kurasakan pecahan itu menusuk telapak tangan kananku, tapi ini belum seberapa. Aku memantapkan hatiku untuk melakukan ini, aku semakin mendekatkan pecahan itu pada lengan kiriu. Perlahan aku mulai menyayat pergelangan tangan kiriku. Aku benar-benar melakukan ini agar aku bisa bersama Jinki.

Aku tersu saja menyayat pergelangan tanganku. Bisa kulihat cairan bening berwarna merah keluar dari pergelangan tanganku. Au mengerang kesakitan, tapi aku tetap saja melanjutkan aksiku ini. Aku frustasi, kucabik pergelangan tanganku sendiri. Semakin lama tenagaku semakin melemah, aku sudah tak kuasa menyayat pergelangan tanganku. Aku merasa tubuhku semakin ringan, nafaskupun terasa berat. Pandanganku mulai mengabur hingga akhirnya aku tak bisa merasakan apapun.

-FIN-

Epilog

Hembusan angin laut membangunkanku dari tidur nyenyakku. Kubuka mataku perlahan, lautan luas terhampar dihadapanku. Aku tak tau diman aku sekarang, tapi satu yang kutahu belaian hangat seseorang telah membuatku merasakan bahagia yang tak pernah tergantikan sampai kapanpun.

“EunYoo kau sudah bangun?” Tanya Jinki yang masih membelai lembut kepalaku.

“Akh Jinki,”

“Bagaimana tidurmu?”

“Hmm cukup nyenyak. Oh ya apa sekarang kau takkan meninggalkanku lagi?”

“Tentu saja kau takkan meninggalkanmu, sekarang kita sudah ada di dunia yang sama. Kita akan hidup bahagia bersama di sini, dan aku berjanji aku takkan meninggalkanmu lagi.”

-The End-
Riseuna-sshi, mian kalo ni ff sangat tidak memuaskanmu. Maklumlah otak saya kacau balau, belom nemu PR kimia. Mian again karena permintaanmu ini lama keluarnya hohohoho^o^. diri q cuma berharap kalo dirimu menyukai ni ff gembell *bahasa baru kita^^*…..

To : Riseuna-sshi, kalo mo protes d tunggu d kelas IPS3………^^

Leave comment please~~

Advertisements

7 responses to “I Love You Behind the Break Up [Oneshot]

  1. wow.. angst^^
    kasian eunyoo nya depresi gitu gara2 jinki..
    udh menduga dari awal sih klo jinki itu sebnrnya sudah mati.. *gaadaygnanya* XD
    akhirnya eunyoo bunuh diri yah, gara2 ga kuat berpisah sama jinki.. wkwkwk..
    ya sutralah, yg penting mereka sudh bahagia di alam lain, lgsung kawin aja… mudah2n langgeng ya.. *reader ngaco* XD
    terlalu cinta emang tak baik buat kesehatan.. *lha?
    yup2.. ffnya gooodddd .. kuerreennn d^o^b

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s