Sorry I Can’t… (Special Henry’s Birthday)

Title: SORRY~ I CAN’T…

Author: KyuKirana aka Kirana

Genre: G

Length: Oneshoot


So Ra POV

Yes!!! Setelah dua tahun menunggunya akhirnya hari ini aku dapat bertemu kembali dengannya. Seseorang yang sangat berarti untukku. Seseorang yang selalu ada dikala suka maupun duka. Dan dan seseorang yang telah membuat hari-hari di masa kecilku menjadi lebih berwarna.

Sepulang sekolah dengan motor maticku, kupercepat laju motorku agar cepat aku sampai di rumah. Tak sabar aku untuk menemuinya. Setelah kusampai rumah, kuganti baju seragamku dengan pakaian semi formal.

“Yak!!! Kau mau kemana So Ra? Makan siang dulu.”

“Aku harus pergi eomma. Appa, aku pinjam kunci mobil.”

“Katakan dulu kau mau kemana?” tanya appa.

“Ke bandara appa. Aku harus menjemput seseorang.”

“Baiklah ini kunci mobilnya. Kalau sudah cepat pulang, kau juga belum makan siang.”

“Arrasso appa, kamsahamnida.” Ucapku sambil menggangguk-anggukkan kepala kemudian membungkuk.

Pukul 2 PM, setengah jam lagi pesawat yang ditumpanginya akan sampai. Kupercepat lagi laju mobilku karena bandara masih lumayan jauh dari rumahku. Meski aku baru kelas XI aku sudah memiliki SIM khusus, jadi tak perlu khawatir akan polisi yang siap menilang.

Sesampainya di bandara aku menghela napas lega. Masih ada waktu sepuluh menit lagi untuk menunggunya. Aku turun dari mobil audy milik appaku dan kuambil selembar kertas berukuran A3 bertuliskan namanya yang ada di jok belakang mobil.

Aku bergabung dengan kerumunan orang yang juga sedang menunggu kedatangan pesawat dari Canada. Rasa rindu yang mendalam semakin kurasakan. Tak sabar meski sebentar lagi aku akan melihat kembali wajahnya.

Tak lama kemudian pesawat itu pun mendarat dengan sempurna. Cepat-cepat kurentangkan kertas bertuliskan nama HENRY LAU tadi di depan dadaku. Kutoleh kanan kiri untuk mencarinya. Sosok pria berhoodie biru tua, berkacamata hitam, yang sedang menderet  koper warna biru tinta mendekatiku dan mencolekku dari samping. Aku sedikit terkejut dengan kedatangannya.

“Are you So Ra? Lee So Ra?” tanya pria itu.

“Yes, that’s my name.” kataku sedikit kaku.

“It’s me.” Pria itu melepas kacamatanya.

“Henry?” kataku sedikit berteriak. “Sorry I almost didn’t know you.” Lanjutku kemudian memeluknya.

“It’s okay. I miss you So Ra.” Ucapnya sambil mempererat pelukan.

“I miss you too Henry.”

Aku dan Henry masuk ke mobil. Dia ingin sekali menyetir namun aku larang karena ia pasti lelah karena perjalanan yang ia tempuh cukup jauh. Dia ingin sekali cepat-cepat bertemu dengan orang tuaku. Ternyata wajahnya tidak berubah. Ah tidak, aku merasa wajahnya kini semakin tampan dan dia terlihat semakin dewasa.

***

Henry Lau, begitulah namanya. Tidak ada ikatan saudara di antara kami. dia juga bukan pacar ataupun mantan pacarku. Hubungan kami hanyalah sebatas sahabat yang telah kami jalin sejak kecil, sebelas tahun lamanya.

Dia tinggal di sebelah rumahku. Itulah mengapa kami bisa saling mengenal satu sama lain. Sebenarnya Henry bukan orang Korea asli sepertiku, dia keturunan Canada dan China. Saat usiaku lima tahun, Henry dan keluarganya mulai tinggal di samping rumahku. Namun saat kami duduk di bangku SMP kelas dua, dia harus pergi ke Canada bersama orang tuanya karena ada proyek khusus yang harus dilakoni appanya Henry.

Aku dan Henry, umur kami terpaut tepat satu tahun. Ya, hari ulang tahun kami sama, 11 Oktober.  Hanya dia lebih tua dariku. Selama sebelas tahun pula kami selalu merakayan ulang tahun bersama.

***

“Henry, masihkah kau bisa berbicara dengan bahasa Korea?” tanyaku dengan Bahasa Korea.

“Haha, kamu lucu sekali So Ra. Tentu saja aku masih bisa.” Jawabnya juga dengan bahasa Korea.

“Baiklah, mari kita mengobrol dengan Bahasa Korea. Bagaimana dengan kedua orangtuamu? Mengapa mereka tidak ikut kemari?”

“Proyek appa masih belum selesai, katanya masih satu tahun lagi.”

“Oh begitu. Kabar mereka baik-baik saja kan?”

“Ne, mereka baik-baik saja.”

Aku tidak langsung pulang. Aku membantu Henry membawakan barang bawaannya dan membantu merapikan kamarnya yang dua tahun tidak ditinggalinya itu.

“So Ra, aku punya sesuatu untukmu.”

“Apa?”

“Ini.” kata Henry sembari memberikanku sebuah kotak yang lumayan besar.

“Apa ini? aku buka sekarang ya.” Henry hanya mengangguk.

Sebuah hoodie lucu berwarna magenta diberikan Henry sebagai oleh-oleh dari Canada. Dia memang tahu seleraku. Tapi tunggu, masih ada lagi. kotak kecil berwarna ungu tua terselip di dalam lempitan hoodie. Kotak musik? Ah Henry kau baik sekali. Melihat kotak musik ini aku jadi teringat kejadian sebelas tahun yang lalu.

*Flash back*

Hari ini ulang tahunku yang kelima. Seperti ulang tahunku yang sebelumnya, orangtuaku mengadakan pesta yang sederhana namun menyenangkan. Semua teman-teman TK dan tetanggaku diundang ke rumah. Bisa dibilang pestaku ini pesta kebun.

“Saengil chukae hamnida, saengil chukae ….”

Semua tamu undangan menyanyikan lagu ulang tahun untukku. Aku senang sekali. Setelah aku memohon doa meniup lilin appa dan eomma mencium kedua pipiku. Tak lupa mereka memberiku hadiah. Jika eomma memberiku sebuah gaun pesta cantik, appa justru memberiku kotak musik. Entah apa maksud appa memberiku hadiah itu.

“Terima kasih eomma, appa.”

“Sama-sama sayang.”

“Ini apa? Mengapa appa hanya memberikanku kotak?” tanyaku heran.

“Itu kotak musik So Ra. Begini cara memainkannya.”  Terang appa.

Setelah aku tahu cara memainkannya, aku menyepi. Kudengarkan alunan instrumen musik dari kotak musik itu. Indah sekali. Mungkin appa membelikanku ini sebagai penghantar tidurku. Ya, baru-baru ini mengalami insomnia meski umurku masih lima tahun. Tanpa sadar aku melamun. Tak lama kemudian teman-teman TK-ku menghampiriku dan membuyarkan lamunanku.

“So Ra, saengil chukae.” Ucap mereka kompak.

“Apa itu? Aku pinjam ya?” tanya salah satu teman perempuanku yang kemudian merebut kotak musik itu dari tanganku.

“Ah hati-hati.” Perintahku.

“Iya iya.”

“Kami pinjam dulu ya.” tanpa persetujuanku mereka membawa lari kotak musikku. Aku yang tidak mungkin melawan teman-temanku yang bergelombol itu hanya bisa pasrah. Sempat terpikir kalau mereka akan merusakkan hadiah yang bagiku terindah dari appa.

“Kenapa kau menangis?” tanya laki-laki yang seumuran denganku.

“Hadiahku diambil teman-temanku.” jawabku tanpa melihat wajah laki-laki itu.

Tidak ada balasan dari laki-laki itu. Saat kutengok ternyata laki-laki itu sudah tidak ada lagi di sampingku.

“Ini yang membuatmu menangis?” ucapnya kemudian. Kulihat apa yang ia bawa. Kotak musikku sudah ada di tangannya.

“Bagaimana bisa mendapatkannya?”

“Sudahlah itu tidak penting. Ini.” balas lelaki itu seraya mengulurkan kotak musikku.

“Gomawo.”

“Cheonmaneyo. Sepertinnya kau takut ya kotak musikmu itu rusak?”

Aku mengangguk.

“Tenang saja kotak musikmu tidak rusak kok.”

“Sebenarnya kamu siapa? Aku belum pernah melihatmu. Kamu juga bukan teman TK-ku kan?”

“Ne, kenalkan namaku Henry. Henry Lau. Aku tetangga barumu.” Lelaki itu mengulurkan tangannya.

“Aku So Ra, Lee So Ra.” Kujabat tangannya.

*Flash Back End*

“Kau suka So Ra?” tanya Henry membuyarkan lamunanku.

“Ah ne aku suka sekali.”

“Kamu kenapa? Melamun ya? Ada apa?”

“Kotak musik ini mengingatkanku saat kita pertama kali bertemu dulu.”

“Ah iya aku ingat. Kamu menangis gara-gara kotak musik dipinjam teman TK-mu dan kamu takut rusak kan? Hahaha”

Aku hanya ikut tertawa.

Oh my super girl Ni shi wo de baby girl

“Siapa So Ra?”

“Eomma barusan menelepon, aku tidak boleh pulang terlalu malam. Aku juga tidak boleh makan diluar karena eomma sudah masak enak.”

“Memang kamu tidak memberi tahu orang tuamu kalau kamu menjemputku tadi.”

Aku menggeleng.

“Kamu jadi ke rumahku kan Henry?”

“Iya. Sebentar ya aku mau mandi dulu.”

Selama Henry mandi, aku melihat sekeliling kamarnya. Tidak ada yang berubah. Dia masih seperti dulu. Idolanya pun masih juga sama. Padahal aku dan dia mudah bosan dengan apapun. Terutama soal idola.

Mataku tertuju pada album foto yang tergeletak di dekat bantalnya. Haha ternyata dia masih menyimpan foto-foto kenangan kami. Foto dari masa kanak-kanak hingga kami SMP.

Kreeekk… pintu kamar mandi terbuka. Kuletakkan kembali album foto itu ketempat semula.

Glekk! Aku menelan ludah. Tuhan ternyata sahabatku telah dewasa. Melihatnya yang telanjang dada aku hanya tertunduk malu. Aku meresa aneh melihatnya seperti itu.

“Kamu kenapa? Kok mukamu merah gitu?”

“Ah anni. Cepat ganti bajumu.” Perintahku sembari menutup mukaku dengan kedua tanganku.

“Ahaa kamu malu ya liat aku telanjang dada?” Henry semakin mendekatiku dan mencoba melepaskan tanganku dari mukaku.

“Ah kamu, cepatlah ganti bajumu! Atau kamu tidak boleh ke rumahku.”

“Mulai deh ancam-mengancamnya. Oke aku ganti baju.”

***

Akhirnya selesai juga. Henry sudah siap dengan pakaian semi formalnya. Badannya sangat harum dan ya kuakui dia terlihat tampan.

“Bagaimana, aku tampan kan?” tanyanya narsis.

“Ah biasa saja.”

“Iya iya kamu tampan, jangan manyun gitu.”

Wajahnya berubah sumringah.

“Eomma, appa…” panggilku sedikit berteriak saat sampai di rumah.

“Henry, kapan kamu pulang nak? Kok tidak mengabari dulu.” tanya eommaku terkejut.

“Yak eomma, kenapa Henry duluan yang disambut.” Protesku sambil mengerucutkan bibir.

“Tadi di jemput So Ra. Kejutan dong ahjumma.”

“Ayo masuk, makan malam sekalian.” Ujar appa mempersilahkan.

Seperti yang aku duga pasti bakalan seru makan malam kali ini. Henry seperti special guest yang datang untuk diwawancarai oleh kedua orangtuaku bagaimana kehidupannya selama di Canada.

“Jadi, kamu akan sekolah di mana besok nak?” tanya appa.

“Sepertinya saya akan mendaftar di SMA yang sama dengan So Ra, ahjussi. Berkas-berkas dan semua keperluan sekolah sudah disiapkan eomma saat di Canada. Jadi saya tinggal mendaftar saja.” Terang Henry panjang lebar.

“Oh baiklah. Kamu bisa berangkat bersama So Ra.”

Henry manggut-manggut.

***

Seperti apa yang dikatakan Henry semalam, dia akan mendaftar di SMA yang sama denganku. Ya mulai saat ini aku harus dibiasakan lagi berangkat dan pulang sekolah bersamanya seperti dulu.

Kali ini ada yang berbeda, kalau dulu kita berangkat bersama dengan sepeda masing-masing tapi sekarang Henry yang nebeng aku. Dia tidak punya sepeda motor. Memang mobil yang ada di garasi Henry tidak dipakai, namun karena Henry belum mempunyai SIM mobil kerena belum sempat membuat maka ia berangkat bersamaku. Meski menggunakan motorku, yang menyetir tetaplah Henry.

Sesampainya di sekolah, pemandangan yang tak biasa tersorot ke arahku. Ya, mungkin teman-temanku mengira kalau aku sedang berboncengan dengan pacarku. Bahkan ada yang terkagum dengan Henry. Maklum Henry tergolong seperti orang asing di sekolah.

“Aku tunggu sini ya.” kataku kepada Henry saat ia akan masuk ke ruang kepala sekolah.

Aku duduk di depan kantor kepala sekolah. Teman-teman masih memandangku aneh. Saat aku sedang menunggu Henry, sahabatku di SMA, Hyun Ni menghampiriku.

“Namja tadi siapa?” tanyanya antusias.

“Dia sahabat kecilku. Dia baru saja datang dari Canada.” Terangku santai.

Terlihat jelas Hyun Ni terkagum juga dengan Henry. Selalu begitu jika dia telah melihat cowok yang keren.

“Sudah? Bagaimana?” tanyaku saat Henry keluar dari kantor kepala sekolah.

“Aku…” Henry menggantungkan perkataannya dengan wajah yang kecewa.

“Kenapa?” tanyaku panic.

“Aku bisa satu sekolah denganmu!!!”

Saking senangnya aku memeluk Henry. Begitu pula dengan Henry, dia juga membalas pelukanku. Deheman Hyun Ni yang menyadarkan kami.

“Dia siapa So Ra?”

“Kenalkan namaku Hyun Ni sahabat Hyeon Ji sejak SMA.” Hyun Ni mengulurkan tangannya.

“Oh, aku Henry, Henry Lau.” Henry menjabat tangan Hyun Ni.

“Kau ke kelas dulu, nanti aku bersama guru ke kelasnya.”

“Oke!”

Bel tanda masuk berdentang, mata pelajaran pertama yaitu Biologi. Berarti nanti Henry akan datang bersama Sungmin songsaengnim.

Seperti saat berangkat tadi, pemandangan aneh dari siswi-siswi muncul lagi. saat perkenalan pun siswi-siswi terpesona dengan ketampanan Henry. Berbeda dengan siswa-siswa yang menganggap hal seperti itu biasa.

“Oke Henry, kamu duduk di… Nah di belakang bangku Hyun Ni dan So Ra.”

Hyaa~ kumat deh sahabatku yang satu itu, Hyun Ni. Baginya duduk di depan Henry bisa menjadi kesempatan untuk bisa mengenalnya lebih jauh. Aku hanya menggelengkan kepala dan berharap aku, Henry, dan Hyun Ni bisa menjadi sahabat.

“Hyeon Ji, aku pindah ke belakang ya.”

Apa-apaan ini, kenapa malah aku yang ditinggal. Memang bangku sebelah Henry kosong. Aish, benar-benar memanfaatkan keadaan ya si Hyun Ni.

Selama pelajaran berlangsung, aku dengar Hyun Ni selalu mengajak mengobrol Henry. Bukan hanya pada saat pelajaran biologi, hampir semua pelajaran hari ini dia sibuk mewawancarai Henry hingga beberapa kali ia ditegur dan diancam tidak boleh mengikuti pelajaran hingga akhir.

***

Sebulan sudah bagi Henry untuk beradaptasi di sekolah. Aku tahu dia sudah mulai terbiasa dengan sikap Hyun Ni yang cerewet dan selalu cari perhatiannya. Tetapi aku salut dengan Henry, dia sabar dengan kelakuan Hyun Ni dan dia juga mau mengganggap Hyun Ni sebagai sahabatnya.

Selama sebulan juga aku duduk sendirian. Hyun Ni memilih duduk sebangku dengan Henry. Awalnya aku kurang suka dengan perilaku Hyun Ni yang seenaknya meninggalkanku. Namun lama kelamaan aku mengerti dia juga ingin mengenal Henry dan ingin menjadi sahabat Henry.

“So Ra sepertinya kamu nanti pulang sendirian. Aku ada ekstra.” Ucap Henry ketika di kantin.

“Henry nanti aku lihat kamu bermain biola ya.” cetus Hyun Ni dengan suara manja yang dibuatnya.

“Oh ekstrakulikuler orchestra ya?” tanyaku pada Henry memastikan. Henry mengangguk sembari menyedot minuman di depannya.

Henry memilih ekstrakulikuler orchestra karena kelihaiannya dalam memainkan biola luar biasa. Setiap hari kamis ekstrakulikuter itu diadakan. Aku yang memilih eksrakulikuler teater memiliki waktu luang di hari kamis karena ektrakulikuler yang aku pilih diadakan di hari rabu. Kalau si Hyun Ni, sebenarnya dia juga sama dengan Henry memilih ekstrakulikuler orchestra namun dia memegang alat musik terompet. Jadi, puaslah si Hyun Ni bermanja-manja ria dengan Henry.

***

Hari ini hari jumat. Tak ada yang special seperti hari kemarin. Pulang sekolah aku menggunakan waktu senggangku untuk membaca novel. Saat aku sedang asyik membaca Hyun Ni sms.

From: Hyun Ni

So Ra, malam minggu besok km ada acara?

To: Hyun Ni

Molla. Whae?

From: Hyun Ni

Ikut aku & Henry nonton mau?

Hah nonton? Aku pikir matang-matang ajakan Hyun Ni itu. Jika aku ikut pasti mataku akan disuguhkan dengan sikap manja Hyun Ni yang lama-lama membuatku muak. Apalagi ini di luar sekolah pasti Hyun Ni akan lebih manja dan bebas memegang tangan Henry.

To: Hyun Ni

Mian, sepertinya aku tidak ikut. Aku takut nanti tiba” ada acara mendadak.

From: Hyun Ni

Oh~ Ok, gwencana yo.

Huh untung saja aku ada tadi bilang tidak tahu besok ada acara atau tidak. Kalau saja aku bilang tidak ada acara pasti Hyun Ni akan memaksaku untuk ikut dan aku juga pasti akan bingung mencari alasan.

Sebenarnya diam-diam aku mengikuti les biola. Maksudku, hanya orangtuaku yang tahu. Hyun Ni bahkan Henry tidak mengetahuinya. Sudah dua tahun aku melakoninya. Semenjak Henry meninggalkanku ke Canada aku merasa kesepian hingga akhirnya aku memutuskan untuk les biola. Dengan mendengar gesekan alunan biola aku jadi merasa Henry selalu ada di sampingku.

***

“So Ra, nanti malam kamu tidak ikut?” tanya Henry.

“Sepertinya tidak. Whae? Bukannya sudah ada Hyun Ni?”

“Tapikan kalau tidak ada kamu sepi So Ra.” sambung Hyun Ni.

“Ah kamu bisa saja.”

“Memang ada acara apa?” Henry terus mengintrogasiku.

“Eng, aku harus menemani eomma ke rumah ahjumma. Anaknya sakit.” Jawabku asal dan pastinya bohong.

“Ohh.” Henry menanggapi tanpa ada rasa curiga sedikitpun.

Sepulang sekolah aku les biola dengan diantar appaku karena tempat lesku cukup jauh dan entah kenapa aku malas sekali hari ini mengendarai motor matic-ku.

“Permainanmu semakin bagus So Ra.” puji guru lesku, Hangeng songsaengnim.

“Ah iyakah?” aku kegirangan.

“Ne, berlatihlah terus So Ra kamu punya potensi.”

“Arra.”

“Latihan kali ini cukup. Kamu boleh pulang.”

Malam harinya kududuk di balkon kamarku. Kuputuskan untuk berlatih lagi bermain biola. Aku semakin bersemangat.

Lelah bermain, aku teringat kedua sahabatku. Pikiranku selalu negative jika sudah ingat mereka. Apalagi Hyun Ni, aku rasa dia semakin hari semakin menyebalkan. Aku seperti sudah bukan sahabatnya lagi semenjak ada Henry. Bagitu pula dengan Henry, kurasa dia juga semakin jauh dari ku semenjak mengenal Hyu Ni. Ah, kalian benar-benar menyebalkan.

***

Senin pagi, seperti biasa aku dan Henry berangkat ke sekolah bersama. Jika ditanya kenapa tidak bersama Hyun Ni? Jawabnya ya karena rumah Hyun Ni lumayan jauh dari sekolah dan tidak mungkinlah Hyun Ni menghampiri ke rumah Henry.

Saat jam istrirahat seperti biasanya pula aku, Henry, dan Hyun Ni bercengkrama di kantin. Kali ini mereka menceritakan pengalamannya malam minggu kemarin.

“So Ra, kemarin malam minggu seru banget loh, sayang kamu tidak ikut.” Henry  membuka pembicaraan.

“Iya, kami nonton film horror.” sambung Hyun Ni.

Deg, film horror? Aku tidak salah dengar kan? Hyun Ni memang sepertiku penakut tetapi suka film horror. Pasti Hyun Ni…

“Hyun Ni tuh yang ngusulin. Waktu setannya keluar, dia malah teriak-teriak. Kepalanya aja sampai ngumpet di atas pahaku. Padahal aku kira dia ngusulin film horror karena dia pemberani. Taunya malah penakut gitu.” terang Henry sembari menatap Hyun Ni yang sedang manyun.

Henry? Barusan kamu ngomong apa? Berarti kepalanya Hyun Ni bersandar di pahamu? Aku merasa hatiku seperti teriris.

“Haha, terus kalian kemana lagi?” kucoba menanggapi.

“Makan malam.” jawab Henry.

“Oh ya, kemarin pelayannya bilang gini ‘mau pesan apa? Wah kalian pasangan serasi ya’ hahaha aku dan Henry tertawa lepas. Sejak kapan coba kami pacaran? Tapi So Ra memang benar ya, kita serasi?”

Ces~ hatiku semakin sakit. Perih seperti teriris. Tuhan, ada apa denganku? Apa aku cemburu pada kedua sahabatku ini? Apa aku mulai menaruh perasaan terhadap Henry? Jangan sampai Tuhan. Aku ingin persahabatan yang abadi.

“Eng, iya.” Jawabku ragu.

Kutahan sebisa mungkin agar air di pelupuk mata ini tidak mengalir. Aku tidak ingin membuat mereka curiga.

“Aku ke toilet dulu ya.” pamitku dan langsung berlari ke arah ke toilet.

Di toilet tanpa bisa kubendung lagi, air mataku jatuh membasahi kedua pipiku. Aku tak tahan lagi dengan tingkah mereka. Ya kuakui aku cemburu. Henry aku menyukaimu. Aku ingin dekat denganmu seperti dulu lagi. Tidak ada Hyun Ni yang menghalangi kita.

Setelah puas menangis aku putuskan untuk membolos. Tak peduli nanti Henry pulang naik apa. Untuk apa aku mengikuti pelajaran jika gurunya absen lebih-lebih melihat kedekatan Hyun Ni dan Henry yang semakin hari semakin memuakkan bagiku.

***

Sesampainya di rumah aku sedikit lega. Eomma dan appa belum pulang dari kantor. Aku manaiki anak tangga dan menuju ke kamar. Aku mengunci diri di kamar. Aku menangis lagi. Aku merasa Henry benar-benar hilang dan bukan sahabatku lagi.

“AKU RINDU HENRY YANG DULU” teriakku.

Kuraih biolaku dan kumainkan hingga membuatku tenang. Bisa dibilang biola sahabatku selain Henry dan Hyun Ni.

Henry POV

Aku melihat ke seluruh penjuru kelas. Tidak kutemukan So Ra. Terahir melihatnya di kantin. Lalu setelah itu dia ke toilet. Apa dia masih di toilet? Tapi, kenapa tasnya tidak ada? Apa jangan-jangan dia membolos?

Setelah bel pulang berdentang, aku segera menelepon So Ra. Selalu tidak di angkat? Kemana dia? Di tempat parkir pun aku tidak menemukannya. Motornya juga sudah tidak ada. Berarti benar, dia tadi membolos. Kenapa dia? Tidak biasanya dia membolos?

Aku semakin khawatir. Kuputuskan untuk mampir ke rumahnya. Sepi. Ya rumahnya sepi sekali. Pintunya juga tertutup rapat. Untung saja aku tahu di mana di letakkan kunci cadangan khusus untukku. Orangtua So Ra memberi kepercayaan penuh kepadaku.

Tanpa pikir panjang kuambil kunci itu dan langsung aku menuju kamar So Ra. Kutemukan So Ra sudah tergeletak di lantai. Sebenarnya dia kenapa?

Badannya panas sekali. Kuangkat dan kupindahkan So Ra ke ranjang tempat tidurnya. Kuambil langkah seribu untuk pergi ke dapur dan mengambil es batu.

“So Ra, kamu kenapa?” tanyaku seraya mengompres kening So Ra.

Lima menit kemudian So Ra belum juga sadar. Tiba-tiba mataku tertuju pada biola yang juga tergeletak di lantai.

“Biola? Milik siapa? So Ra? Apa dia bisa memainkannya?

Tangan So Ra sudah mulai bergerak. “So Ra apa kamu bisa memainkan biola?” “Ne.” jawabnya dengan keadaan setengah sadar.

Panasnya belum terun juga. Bahkan semakin panas. Tanpa pikir panjang aku langsung pulang dan mengambil mobilku untuk membawa So Ra ke rumah sakit.

So Ra POV

“Di mana aku?” gumamku sembari melihat ke sekeliling ruangan.

“So Ra, kamu sudah sadar nak?”

“Ne, di mana aku eomma?”

“Kamu di rumah sakit. Kamu demam nak.” Sambung appa.

“Hai So Ra…”

Hah sepertinya aku kenal dengan suara itu. Kutolehkan wajahku kea rah suara itu. HENRY??!!! Entahlah mungkin sekarang aku sedikit canggung dengannya entah dia menyadarinya atau tidak.

Eomma bercerita Henry yang telah membawaku kemari. Omona~ berarti kemarin aku digendong sama Henry. >,<

“Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu les biola, huh? tanya Henry.

“Kamu tahu dari siapa?”

“Appa-mu.”

“Aish appa, ember deh.” hardikku.

“Kalau aku tahu kamu bisa main biola pastikan kita bisa main bareng.” sambung Henry.

“Ne, kapan-kapan deh.”

***

Seminggu kemudian aku sudah sehat seperti sedia kala. Hari ini aku merasa ada sesuatu yang mengganjal. Ya aku seperti dikuntit oleh seseorang saat aku berjalan di lorong kelas.

Aku pulang sendirian karena memang beberapa hari ini aku sudah, ya bisa dibilang sudah tidak berkomunikasi lagi dengan Henry. Lebih tepatnya dia menjauhiku.

“Siapa ya?”

Tak seorangpun menjawab.

Kupercepat langkah kakiku namun tiba-tiba seseorang mencekamku dari belakang.

“Aaaa.”

BYUUURRRRR~

“Saengil chukae hamnida, saengil chukae hamnida, sangil chukae,

Hah ternyata teman-teman sekelasku termasuk Hyun Ni dan Henry menguyurku dan menyanyikan lagu ulang tahun. Memang sekarang tanggal 11 oktober ya?

“Apa-apaan ini? memang sekarang tanggal 11 oktober ya?”

“Haha kau ini babo sekali So Ra. Ya iyalah sekarang tanggal 11 oktober, kalau bukan ngapain juga kita guyur sama nyanyiin lagu ulang tahun buat kamu.”

“Tapi kan sekarang Henry juga ulang tahun, kenapa yang diguyur Cuma aku?” protesku.

BYUUURRRRR~

“Udah tuh.” Kata Hyun Ni.

“Hyaa~ kena juga deh.” hardik Henry.

“Henry cepatlah.” Perintah salah satu teman kelas.

Aku bingung dengan apa yang dimaksud ‘cepatlah’. Lebih-lebih setelah salah satu teman itu menyuruh Henry, muka Henry bersemu merah. Hanya satu kata dalam batinku ‘ANEH’. ==”

“Buruan…” kali ini Hyun Ni yang menyuruh.

“Saranghae So Ra, maukah kamu menjadi yeojachingu-ku?” ungkap Henry kemudian dan mengeluarkan bunga dari belakang punggungnya.

Kali ini giliran pipiku yang berwarna merah seperti mawar yang diberikan Henry.

“Ihiiiirrrr~” kompak teman-teman sekelas menyoraki kami. Untung saja ini sudah jam pulang sekolah jadi sekolah sudah sepi hanya kelas XI 1 yang masih singgah.

“Jawab So Ra. Jawab!!!” perintah salah satu teman sekelasku.

“Kamu tidak salah kan Henry?”

“Tidak.” balas Henry malu-malu tapi mau.

“Tapi bukankah sebenarnya Hyun Ni juga menyukaimu?”

“Haha kamu salah So Ra. Sebenarnya aku dan Henry itu saudara. Sewaktu awal bertemu dulu kitakan mengobrol banyak dan saat pulang ekstra Henry mampir ke rumahku dan ketemu sama eommaku. Dan kata eomma appa-nya Henry itu adik dari appa-ku. Tidak mungkilah kita pacaran. Dan aku tahu kamu jelous kan aku dekat-dekat dengan Henry? Memang kita sengaja. Henry menyuruhku agar membuatmu cemburu. Dengan membuatmu cemburu Henry juga bisa tahu cintanya bakal ditolak atau tidak. dan kamu tau tidak? Kami tidak jadi pergi malam minggu waktu itu karena kamu tidak ikut jadi cerita kemarin cuma karangan dan bagian dari misi kita hehe. Selama seminggu ini maaf ya aku dan Henry menjauhimu karena kami ingin tahu respond dari kamu. Jeongmal mianhae So Ra. Nah sekarang jawablah So Ra. Kamu mau menjadi yeojachingu-nya tidak?” terang Hyun Ni panjang lebar.

“Iya jawab So Ra…” seru teman-teman sekelas.

“Mian Henry, jeongmal mianhae. Aku tidak bisa.”

Semua teman-teman sekelas terkejut.

“So Ra…” Henry menunduk lesu.

“I CAN’T REFUSE YOU TO BE MY BOYFRIEND. NADO SARANGHAE HENRY.” Teriakku tiba-tiba kemudian memeluknya dan wajah Henry berubah menjadi sumringah. Teman-teman pun menyoraki kami.

“Kau ini jahil sekali.” Kata Henry seraya membelai rambutku dan mencium kepalaku.

“Hyaa~ kau ini mentang-mentang sudah menjadi namjachingu-ku berani ya mencium kepalaku. Tidak boleh.” Protesku melepas pelukannya.

“Belum puas pelukannya.” rengek Henry.

“Sini, haha. Chagi kau tahu ini hadiah terindah yang pernah kudapat darimu.” Bisikku seraya memeluknya erat.

“Naddo. Kau juga hadiah terindah untukku So Ra di umur ke 16.”

~ THE END ~

DON’T BE SILENT READERS, PLEASE!

Note:

Sebelumnya SAENGIL CHUKAE MY BEST VIOLIST MASTER EVER, HENRY OPPA ^^ *ribet bahasanya gtw grammar ancur pa kagak*

Pokoknya HAPPY MOCHI DAY 🙂

Haha FF ini hanya karangan fiktif belaka jika ada kesamaan nama memang disengaja 😀

Mian yak kalo bahasanya amburadul, FF kilat sih #whocares

Yang udah baca WAJIB hukumnya ninggalin jejak [komentar] karena buat author itu sangat penting. Yang suka tinggal di klik jempol aja *ngarep* 😀

Oya vote authornya di most loveable author of the month dong haha *banyakpermintaan

Yang mau tahu tentang authornya lebih lanjut bisa follow di twitter.

OKE gtu ajah. gomawo ~~ ^^

Advertisements

12 responses to “Sorry I Can’t… (Special Henry’s Birthday)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s