Yourself, Himself, and The World [Drabble]

Hanya sebuah coretan kecil tak bermakna.

Kau mungkin takkan peduli kepadanya.

Namun jika kau intip sedikit,

Kuharap kau bisa mengerti.

Arti dari kata percaya dan peduli.

Mungkin suatu saat nanti.

Bisa kau tinggalkan beberapa komentar untuk ini.

Fiksi ini kudedikasikan untukmu.

Manusia yang tak dapat menggapai harapannya.

Tak harus artis Korea atau apa.

Mungkin bisa kau anggap sebagai cinta, sahabat, atau orang tua.

Terima kasih atas segalanya.

Kuharap kubisa kembali menulis secepatnya.

Hehehe. Mind to read, like, and comment? 😀

+++

Kau terdiam. Ketika jarum jam berdetak, dadamu menyeruak. Senyummu terkembang, jantungmu sesak. Kau limpahkan perasaan itu dengan seuntai kata yang kau ketikkan di layar maya.

 

October, 13th 2010

For my unreached love…

 

yourself, himself, and the world

yourself, himself, and the world; by shineeisland

PG-13/slight angst; drama/ficlet

you and your “unreached” love

unfortunately, i do not own anything in here except the story

 

Ketika kau sadari berapa lama waktu telah terlewati, kau tahu cintamu padanya semakin berubah. Kau sendiri bingung, apa makna dari berubah itu sendiri? Entah bertambah atau berkurang?

Kau kenal dirinya. Kalau boleh kujelaskan deskripsi tentangnya, kau pasti sudah tahu segalanya. Kau mengenal dirinya jauh lebih banyak daripada yang orang lain kira.

Dirinya; tak lain adalah segumpal cahaya—oh tidak, mungkin kau bisa mendeskripsikannya lebih baik daripada itu. Mungkin gelar yang pantas ia sandang hanyalah kata ‘malaikat’. Tak lebih, tak kurang. Kau tak tahu mengapa ia dapat eksis di galaksi ini, mengapa ia dapat hidup dan bernafas, mengapa ia berpijak di satu tanah yang sama denganmu, mengapa rupanya nyaris sama denganmu—dua mata, satu hidung, dan satu mulut, tapi ia jauh lebih bersinar daripada dirimu. Kau tak peduli hal itu. Yang pasti keberadaannya membawa kebahagiaan untukmu.

Dirinya; satu-satunya orang yang sanggup menggetarkan hatimu.

Dirinya; satu-satunya orang yang sanggup membawamu terbang ke langit ke tujuh.

Dirinya; satu-satunya orang yang sanggup membangkitkan semangatmu dan merundung gelisahmu.

Dirinya; satu-satunya manusia di galaksi Bima Sakti dan hidup di planet berjudul bumi, yang sanggup membuatmu tersenyum kala bersedih dan bersedih kala tersenyum.

Dirinya—

“—bangun dari tidurmu, sudah pagi!”

Sinar mentari membias dari jendela kamarmu. Perlahan kau buka kelopak matamu. Bayang-bayang sang Ibu berdiri tegak di hadapanmu dengan tatap penuh kekesalan.

“Sudah jam 7 pagi, segera bangun dan pergi sekolah!”

Kau tersenyum seraya menyibakkan selimut yang membungkusmu. Kau bangkit dari ranjang dan meraih handuk yang letaknya tak jauh. Sudut matamu menangkap sesuatu di dinding kamar. Sebuah poster ukuran jumbo terpampang di sana.

Senyummu terkembang, otakmu berputar.

 

Pada zaman dahulu kala, tersebutlah seorang gadis kecil yang tak berdaya. Setiap harinya, gadis itu hanya meneriakkan nama sang angan, menyambut tatap matanya di hadapan layar, menghentak bumi penuh kesal—ketika sang angan melakukan suatu hal yang tak ia inginkan. Gadis malang itu pergi sekolah dengan murung, dan pulang dengan ceria. Ia tekan tombol di mayanya, dan lensa matanya menangkap sesosok angan yang tak jauh—tidak, tidak jauh tentu saja, hanya terpaut berapa ratus kilometer dari tempatnya berpijak—sesosok angan yang dapat digapai, sesosok angan yang gila, sesosok angan yang sempurna, angan yang indah dan penuh harapan.

Namun, ketika sang gadis membuka mata—ia kecewa. Ia tersadar dari mimpinya.

Angannya tak lebih dari sekedar mimpi semata.

Yang ada hanya harapan kosong, keinginan tak pasti, dan cinta suci yang tak sampai.

Siapa, siapa gadis itu?

Kau melangkah mendekati cermin besar di dekatmu.

Dan kini kau tahu siapa gadis itu.

Gadis itu adalah dirimu.

+++

Mimpi dan angan tak selamanya harus jadi nyata.

Kau tahu dengan hal itu kau bisa terbang setinggi angkasa.

Namun ada kalanya kau harus mundur.

Membiarkan dirinya berbahagia.

Membiarkan sosoknya tersenyum gembira.

Tidak, tak harus kau hapus angan itu.

Tetap pegang teguh dengan jemarimu.

Kukuh dengan prinsipmu.

Mungkin kali ini bukan saatnya.

Tapi kau bisa dapat kesempatan lainnya.

Entah kapan hal itu terealisasi.

Yang pasti suatu hari nanti.

Kau sanggup gapai lengannya.

Dan teriakkan namanya.

Menatap matanya penuh suka cita.

Dengan itu kau dapat tahu.

Kau kan mencintainya seumur hidupmu.

Satu pesanku;

“Cintailah ia selamanya.”

 

THE END

 

Okay, it’s gonna be the end.

Thanks for reading my corat-coret hehe

Leave me some chit-chat, please? 😀

Advertisements

23 responses to “Yourself, Himself, and The World [Drabble]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s