It’s About Life (part 2)

Ah, saya gak kuat mental lanjutinnya huahaha. Tapi tetap aku post aja deh -.-
Btw, FF ini untuk Avy dan Lathipong a.k.a Summer.
Tiap part, aku akan nambah cast-nya dan akan semakin banyak pula tokoh yang aku bunuh. Jadi jangan bingung+nanya ke author lagi ya :3

Title : It’s About Life
Author : Sung Minra
Cast :
• Kim Kibum (Key SHINee)
• Kim Jonghyun (SHInee)
• Kim Jiyoung (Avy)
• Cho Sunghee (Summer)
• Kim Hyora (author)
• Find other cast by your self
Genre : thriller (hmm??), family (maybe), dark (??) *gak meyakinkan bgt*
Rating : PG-15 ???
Length : series / chaptered
Disclaimer : they’re belong to them selves. This Fanfic inspired by a movie named ‘Orphan’. But you will find my style 😉
NB : semakin ke part berikutnya, akan semakin banyak pula cast yang saya tambah dan tiba-tiba muncul. Jadi jangan bingung ya :3
WARNING : kekerasan! Sadis! Densus 88! AAAA!!!
Previous : Prolog , Part 1

 

~~~~~~~~~~

Kill… Kill them all… Kill who knew who you are… Don’t let them life in this world.
Save your self, and kill them all…

~~~~~~~~~~~

“AAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!” jerit suara itu.
“Siapa sih yang teriak-teriakkan dimalam hari gini?!” seru Jonghyun lalu keluar disusul Jiyoung dan Kibum. Dan mereka melihat seorang namja yang tubuhnya sudah dimutilasi, dan tidak jauh dari sana ada seseorang yang mereka kenal.
“H-Hyora???” panggil Jiyoung.
“Unnie! Lihat ini siapa! Ini…,” ujar Hyora terputus-putus menunjuk mayat yang ada dihadapannya.
“LEE HONGKI?!” seru Kibum. Ya, namja yang terkapar itu bernama Lee Hongki. Dia mati menggenaskan. Kepalanya pecah, kulit ditangannya sudah habis dan sekarang tulangnya dapat terlihat dengan jelas, perutnya sobek, kakinya pun patah.
“Tapi.. ini.. bagaimana…?” Jonghyun tidak dapat menyelesaikan kalimatnya.
“Tadi, sebelumnya aku melihat sebuah bayangan. Perempuan,” kata Hyora.
“Seperti apa ciri-cirinya?” tanya Kibum.
“Tidak begitu jelas,” jawab Hyora..
“Ini… ANEH!” seru Jonghyun sambil mondar-mandir.
“Udah dong mondar-mandirnya! Daritadi kamu udah mondar mandir, tau!” kata Kibum sambil ngejambak rambut Jonghyun.
“Lalu, kita apakan jasad Hongki oppa?” tanya Jiyoung seraya menjepit hidungnya dengan jarinya.
“Kita beritahu saja pada Lee ahjussi,” jawab Kibum.
“Oke,” kata mereka.

~~~~~~~~~~~~

Tangisan keluarga Lee menghiasi suasana pemakaman Hongki. Keluarganya benar-benar tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini pada Hongki.
“Kalian berhati-hatilah. Sekarang pembunuhan sering terjadi dimana-mana,” jelas Kibum seraya memperingatkan kedua yeodongsaeng nya.
“Ne, tentu saja kami akan berhati-hati. Bukan begitu, saeng?” ujar Jiyoung sambil melirik Hyora.
“Ya, tentu,” jawab Hyora sambil memandang curiga pada Sunghee yang membawa sebuah buku kecil berwarna putih-hitam. Sunghee yang merasa diperhatikan, langsung pergi menjauh dari pemakaman, dan entah apa yang ingin dia lakukan. Setelah beberapa menit, Sunghee kembali berkumpul dipemakaman.
‘Dia.. apa yang dia lakukan dengan buku itu?’ tutur Hyora dalam hati.

~~~~~~~~~~~

13 September 2009, Paris, Prancis
“Apa sudah ada jejak dari pembunuh bernama Emillia Northsen?” tanya seorang polisi yang memang penduduk asli Prancis.
“Belum ada, monsieur (tuan),” jawab polisi yang lainnya.
“Tapi, dilokasi kejadian kami menemukan jaket ini,” kata polisi itu sambil memberikan sebuah jaket yang berlumuran darah pada polisi yang satunya.
“Apakah tidak ada info lain yang tersisa?” tanya polisi yang paling berkuasa.
“Sekedar informasi, ada yang melihatnya pindah keluar negeri dan menyamar menjadi penduduk Korea,” kata polisi yang ditanyai itu.
“Apakah itu benar?” tanya polisi yang paling berkuasa. Polisi yang ditanyai itu hanya mengangguk.
“Huh, lagi-lagi dia menyamar,” katanya lagi.
“Ehm, maksud Monsieur?” tanya polisi itu.
“Dia adalah pembunuh tingkat tinggi. Sudah berkali-kali polisi hebat ditugaskan untuk menangkapnya. Tapi dia pintar dan licik. Dia selalu berpindah negara, dan mengganti namanya,” kata polisi yang dipanggil ‘Monsieur’ itu.
“Sekedar pengetahuanku, sebelum tinggal dinegara ini, dia tinggal di Rusia dengan nama yang lain juga,” lanjutnya.
“Hm, memang sulit untuk ditangkap,” kata anak buah polisi itu.
“Tapi dia mempunyai bekas luka,” kata polisi lainnya.
“Dimana, Monsieur?” tanya anak buah polisi itu lagi.
“Aku sudah membuat bekas luka disekitar pergelangan tangannya…”

16 September 2009, Seoul, South Korean
“Unnie, oppa!” panggil Hyora.
“Apaan sih? Siang-siang kayak gini udah heboh aja,” rusuh Kibum.
“Ada kasus pembunuhan lagi didekat rumah kita!” seru Hyora sambil mendatangi Kibum dan Jiyoung. Kibum dan Jiyoung yang mendengarnya langsung terkejut.
“Oh ya?!” seru Kibum. Hyora mengangguk, dan mengajak Kibum beserta Jiyoung ke lokasi kejadian.
“Lihat ini!” seru Hyora sambil menunjuk kesuatu tempat. Lokasi itu ditumbuhi banyak pohon, dan semak-semak liar tumbuh dimana-mana. Mereka bertiga tanpa pikir panjang langsung mendekat kesana, dan melihat ada mayat. Mayat itu menghasilkan bau anyir yang tidak sedap, dan bau busuk yang tidak karuan.
“Ini siapa?” tanya Jiyoung. Hyora mengangkat bahunya tanda tidak tau.
“Sepertinya keamanan di Seoul harus lebih ditingkatkan lagi,” kata Kibum.
“Kau sendiri saja yang menjaga keamanan Seoul,” sindir Jiyoung. Tidak terlalu jauh dari situ, mereka melihat Sunghee dan Victoria Song–singkatnya dipanggil Victoria.
“Tumben mereka berdua,” kata Jiyoung. Mereka berdua sama-sama mengenakan gelang yang cukup lebar dan hampir menutupi seluruh pergelangan tangan mereka.
“Hei,” sapa Victoria dan Sunghee. Kim bersaudara hanya tersenyum. Victoria dan Sunghee kembali melanjutkan pembicaraan mereka, dan makin lama semakin jauh dari Kibum, Jiyoung juga Hyora.
“Dengar apa kata mereka?” tanya Jiyoung.
“Tidak. Emangnya kamu dengar?” Kibum balik bertanya.
“Mereka membahas tentang kasus pembunuhan yang kini sedang marak-maraknya,” jawab Jiyoung.
“Lalu?” Kibum bertanya lagi. Jiyoung berbalik menatap Kibum, dan berkata dengan serius.
“Mereka membicarakan tentang pelakunya,” kata Jiyoung lagi. Kibum langsung tersontak saat mendengarnya.
“Jadi maksudmu, mereka tau siapa yang melakukan semua ini?” seru Kibum.
“Entahlah. Mungkin juga seperti itu,” kata Jiyoung lagi.
“Oke, masalah ini bisa dibicarakan kapan-kapan. Sekarang pulang saja,” kata Kibum lalu mengajak kedua yeodongsaeng nya pulang.

25 September 2009, Seoul, South Korean
“Permisi…,” panggil seseorang didepan pintu rumah Kim.
“Ne, tunggu sebentar!” jawab Jiyoung seraya menuruni tangga rumah lalu membukakan pintu. Dia terkejut begitu melihat Sunghee berdiri didepan pintu rumahnya.
“Ehm, ada apa?” tanya Jiyoung sedikit canggung.
“Aku mau pinjam korek api, boleh?” tanya Sunghee.
“Eh? Korek api?” Jiyoung balik bertanya.
“Ne,” jawab Sunghee. Jiyoung yang masih bingung, langsung saja mengambil korek api dan diberikan pada Sunghee.
“Ini,” kata Jiyoung sambil menyerahkan sebuah korek api. Sunghee mengembangkan senyumnya pada Jiyoung.
“Ah, terima kasih! Kamu telah membantuku!” kata Sunghee lalu kembali kerumahnya.
‘Eh? Membantunya? Membantu mengambil korek api maksudnya?’ pikir Jiyoung dalam hati. Tapi akhirnya Jiyoung masuk lagi kedalam rumahnya, dan menutup pintunya rapat-rapat.

~Two hours later~
“Hey, Kibum! Apa kau menyium sesuatu?” tanya Jonghyun.
“Menyium? Menyium apa?” tanya Kibum.
“Masa tidak tercium olehmu? Bau api,” kata Jonghyun.
“Ah, efek volume lubang hidungmu yang besar mungkin makanya kamu bisa mencium bau api!” ejek Kibum.
“Yeeee!!! Enak aja!” kesal Jonghyun sambil memukul kepala Kibum.
“Eh, tapi beneran… Ada bau api gitu,” kata Jonghyun lagi.
“Ah, masa? Tapi kok…,”
“KEBAKARAAAAAANNNNN!!!!” teriak seorang yeoja dari luar memotong pembicaraan Kibum. Jonghyun dan Kibum yang mendengar teriakan yeoja itu antusias mengintip dari dalam rumah Kibum dan benar saja. Didepan rumah keluarga Kim, ada sebuah rumah besar yang termakan api yang melambai-lambai.
“Besar sekali apinya,” kata Kibum. Terlihat 3 mobil pemadam kebakaran yang diparkir didepan rumah Kibum, dan petugas pemadam kebakaran itu berusaha menjinakkan apinya. Didepan rumah yang terbakar itu ada Sunghee. Ya, rumah yang terbakar itu adalah rumah keluarga Cho. Kibum dan Jonghyun segera keluar rumah untuk melihat kejadian. Sedangkan diluar sudah ada Jiyoung dan Hyora, juga Victoria.
Terlihat ada beberapa petugas pemadam kebakaran yang berusaha masuk kedalam rumah keluarga Cho–menyelamatkan orang tua dan kakak Sunghee.
Kibum menatap Sunghee yang ‘sepertinya’ terlihat biasa saja, dan dia membawa sebuah tas besar.
‘Mengapa ia begitu tenang?’ pikir Kibum. Sejenak kemudian, Sunghee baru tersadar bahwa dia sedang diperhatikan Kibum. Sunghee menatap Kibum tajam, dan membuat Kibum ketakutan setengah mati.
“Jangan takut, Kibum,” bisik Jonghyun. Mungkin Jonghyun tau kalau Kibum takut saat menatap mata Sunghee yang tajam.
“Hm, tentu saja aku tidak takut,” kata Kibum berbohong.
2 jam kemudian, api baru bisa dipadamkan. Rumah keluarga Cho habis terbakar, dan seluruh keluarga Cho tidak dapat menyelamatkan diri–kecuali Sunghee. Sunghee mulai menangis kecil, dan dia ditenangkan oleh Victoria.
‘Aneh… Baru kali ini dia seperti ini…,’ batin Kibum sambil melihat kearah Sunghee yang sedang menangis. Rupanya bukan hanya Kibum yang menyadarinya. Kedua yeodongsaeng nya dan bahkan Jonghyun pun menyadari hal yang sedang dipikirkan Kibum.
Petugas pemadam kebakaran yang memasuki rumah keluarga Cho tadi membawa jasad-jasad keluarga Cho yang tak lain adalah Cho ahjumma dan Cho ahjussi, serta Cho Kyuhyun. Tubuh mereka hangus terbakar api, dan kulitnya sedikit terkelupas. Sunghee tidak mengeluarkan air matanya. Ehm, maksudnya dia tidak menangis, melainkan senyum kecil mengembang dibibir merahnya.
‘Orang ini…,” pikir Kibum.

~~~~~~~~~~~

“Eh?” Jiyoung dan Kibum tersontak mendengar permintaan Sunghee.
“Ne, bolehkah aku tinggal disini?” pinta Sunghee sekali lagi. Ya, setelah rumahnya terbakar dan orang tuanya meninggal dimakan sulut api, dia meminta untuk tinggal dirumah keluarga Kim.
“Wah, Jiyoung, Kibum. Ada tamu kok bukannya disuruh masuk?” ujar Kim ahjumma seraya menuruni tangga dan berjalan mendekati pintu rumah – tempat Jiyoung, Kibum dan Sunghee berbicara sekarang.
“Lho? Sunghee?” ujar Kim ahjumma terkejut. Sunghee tersenyum kecil, dan membetulkan posisi tas ransel besar yang digendong dipundaknya.
“Oh, kamu mau tinggal disini sementara ya? Boleh kok!” kata Kim ahjumma. Jiyoung dan Kibum terkejut mendengar ucapan umma mereka, dan mereka berdua saling pandang – seolah berkontak mata.
Kim ahjumma mempersilahkan Sunghee masuk kedalam rumahnya, dan ternyata kamar Sunghee disebelah kamar Jiyoung dan disebelah kamar Hyora. Errr, maksudnya, kamarnya ditengah-tengah kamar Jiyoung dan juga Hyora.
‘Aish… Kenapa kamarnya disebelah kamarku?!’ pikir Jiyoung dalam hati – mulai merasakan kegelisahan sendiri.
“Kalau ada dia, kunci saja pintu kamarmu. Atau perlu jangan sampai kamu ada dirumah,” bisik Kibum pada Jiyoung dan dibalas anggukan oleh Jiyoung.

~~~~~~~~~~~

Sunghee memasuki kamarnya, dan dia mendapati kamarnya begitu luas.
‘Hh, boleh juga,’ pikir Sunghee dalam hati. Dia menaruh barang-barangnya dikasur dan mengacak-acak lemari pakaian yang ada dikamarnya itu. Dia langsung memasukkan bajunya kedalam lemari itu, dan menyelipkan sesuatu disela-sela bajunya itu. Barang itu adalah peninggalan terakhir dari orang tua kandungnya.
Sunghee membuka laci meja belajarnya, dan menaruh sebuah buku berwarna hitam-putih kesudut laci meja itu. Buku itu adalah saksi hidupnya. Sunghee menorehkan segala perasaannya dibuku itu.
Dia mulai menulis dibuku itu sejak orang tuanya dibunuh, dan akhirnya Sunghee berpindah keluar negeri untuk menghapus memorinya dengan keluarganya. Dia menyadari bahwa kamarnya berada disebelah kamar Jiyoung juga Hyora.
‘Aku harus hati-hati,’ pikir Sunghee dalam hati.

~~~~~~~~~~~

“Aku tidak tenang,” kata Kibum sambil mondar-mandir didepan Jonghyun.
“Apanya?” tanya Jonghyun.
“Yeoja itu! Dia tinggal dirumahku!” seru Kibum sambil menatap tajam mata Jonghyun.
“Mwo?!” kejut Jonghyun sambil membelalakkan matanya.
“Ya! Kau pikir apa aku bisa tenang kalau begitu?” kata Kibum sambil melipat kedua tangan didadanya. Jonghyun sedikit menunduk kebawah, sedangkan Kibum tidak henti-hentinya mondar-mandir.
“Terlebih lagi kamarnya ditengah-tengah kamar kedua yeodongsaeng ku!” seru Kibum gelisah.
“Kenapa kamu tidak menyuruh yeodongsaeng mu itu tidur dikamar yang sama saja? Jadi bisa jaga-jaga,” usul Jonghyun.
“Hm, mungkin kamu ada benarnya juga. Tapi tetap saja aku tidak tenang! Dua orang yang sangat tidak aku percayai. Yaitu Sunghee dan Victoria,” kata Kibum lalu duduk disebelah Jonghyun.
“Victoria?” tanya Jonghyun.
“Dia teman Sunghee,” jelas Kibum.

~~~~~~~~~~~

5 days later
Pada sore hari, saat Sunghee sedang mandi Kim ahjumma membereskan kamar Sunghee. Saat sedang membereskan laci meja Sunghee, tidak sengaja sebuah buku warna hitam-putih terjatuh.
‘Eh? Apa ini?’ batin Kim ahjumma lalu mengambil buku tersebut. Dibuka perlahan halaman pertama dari buku itu dan membaca halaman pertama dari buku itu.

7 Maret 2005
Hari ini dalah hari kematian orang tuaku.. Mereka dibunuh oleh musuh ayahku dan mayatnya dibuang kejurang. Sedangkan ibuku, dia meninggal karena sebuah peluru yang menembus dadanya. Dia meninggal demi melindungiku yang dulunya hampir dibunuh oleh musuh ayahku.
Aku tidak terima orang tuaku dibunuh.
Aku sangat benci pada orang yang membunuh orang tuaku, benci sekali!
Apa salah kedua orang tuaku sampai-sampai mereka harus dibunuh?
Kurasa mereka tidak salah.
Dan mulai dari situ, aku…

BRAK!!!

 
Tiba-tiba Sunghee membanting pintu kamar mandinya. Sebelum Kim ahjumma menyelesaikan membaca kalimat akhir dari paragraph itu, Sunghee mengagetkannya.
“Eh, Sunghee?? Maaf ya, ahjumma tidak bermaksud untuk membacanya kok. Tapi ahjumma penasaran pada isi buku tersebut…,” kata Kim ahjumma sambil menutup buku itu dan menaruhnya ditempat semula. Sunghee diam saja, dan menatap Kim ahjumma.
“Ya, tidak apa-apa,” jawab Sunghee sambil menahan amarah.
“Tadi ahjumma belum baca sampai habis kok,” kata Kim ahjumma lalu berjalan mendekati Sunghee. Walaupun sebenarnya Kim ahjumma penasaran dengan kalimat terakhir dibuku itu, tapi dia tidak mau meneruskannya. Kim ahjumma langsung keluar dari kamar Sunghee.
‘Huh.. Untung saja orang itu belum membaca sampai akhir,’ pikir Sunghee dalam hati.

~~~~~~~~~~~~

Malam harinya saat semua orang tidur dengan lelap, seorang yeoja masuk kedalam kamar Kim ahjumma dan Kim ahjussi. Dia juga sudah merusak engsel pintunya. Ya, yeoja itu adalah pembunuh yang selama ini sedang dicari-cari.
‘Dia.. orang ini.. harus kubunuh!’ tekadnya dalam hati lalu mengeluarkan sebuah pisau dari dalam saku bajunya. Kim ahjumma merasa ada hembusan nafas yang mendekatinya, dan dia membuka matanya. Didepan matanya sudah ada pisau yang bersiap-siap menancap dijantungnya. Dia ingin berteriak sekeras mungkin, tapi suaranya tercekat.

.:::To Be Continue:::.

Hohoho, bisa menebak apa yang akan terjadi?? Wkwkwk, ayo ditebak! XD
Tuh, Avy, Lathipong, Rara unn! Aku panjangin dikit tuh part 2 nya! Masih belum puas? *ngeluarin palu*
Komen ya, yang udah baca wajib memberi komentar! Ayoooo komentar sebanyak-banyaknya! *tebar kecoa ke readers*

Advertisements

40 responses to “It’s About Life (part 2)

  1. Pingback: It’s About Life [Part 4] « Sungminra9386's Blog·

  2. Pingback: It’s About Life (Part 5-END) « FFindo·

  3. Pingback: It’s About Life [Part 5-END] « Sungminra9386's Blog·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s