(oneshot) Our Poem Through the Glass

Our Poem Through the Glass

Casts     : Key (SHINee), Han Yoo Neun
Genre   : Romantic
Author  : jinhyeonni
Length  : Oneshot

***

Aku adalah salah seorang dari penduduk desa Noguri, di belahan timur negeri Geunara. Di negeri Geunara ini, wilayah timur dan barat dibatasi oleh sebuah kaca tebal yang tak bisa dipecahkan. Katanya, bila dipecahkan, tangan orang yang memecahkannya akan hancur dan tak bisa kembali seperti semula karena kekuatan blackhole di dalamnya.

Namun, suatu hari di musim dingin, seorang gadis dari desa seberang, desa Rokkugo, membuatku terpana saat ia melihat-lihat desa sebelah lewat kaca. Cantik sekali. Aku pun mendekatinya dan meneriakinya,

“Hoi, namamu siapa?!”

Aku tahu, dia pasti tak akan dengar. Lalu, ia mengangkat bahunya, tanda tak tahu. Sudah ku duga.

Berkali-kali aku berteriak pun dia pasti tetap tak dengar.

Ya sudah, kurogoh kantung celana sampingku. Kutemukan dua batang krayon warna biru tua di dalamnya. Baguslah. Kulempar satu untuknya.

Aku mulai menuliskan sesuatu. Tentunya dengan huruf yang terbalik.

Apa kau bisa menulis?

Ia menjawab,

Tentu bisa.

Aku menjawabnya lagi,

Namamu siapa?

Ia menjawab, Han Yoo Neun.

Aku kembali menjawab,

Aku Key, Kim Ki Bum. Hei, bagaimana kalau kita menulis puisi?

Ia mengangguk.

Kami pun mulai menulis puisi. Puisi cinta, puisi yang menggugah, sampai akhirnya aku berpuisi tentang kaca tebal yang menghalangi kami.

Ini puisiku,

Kaca tebal
Angin suram
Dingin salju
Semuanya bukan yang kuharapkan

Tapi,
Kau
Kehangatan
dan keberadaanmu di sisiku
Itu semua yang aku inginkan.

Ia tersipu. Lalu kembali mengangkat tangannya dan menulis kembali di kaca dengan krayonku,

Aku ada bersamamu, kok.

Hanya saja kaca ini menghalangi kita untuk saling menghangatkan.

Aku berdiri. Menatap Yoo Neun lama. Ia pun ikut berdiri pula, balas menatapku dengan tatapan cemas namun lembut.

Cukup sudah! Aku ingin membuat perubahan untuk kami! Aku bisa meruntuhkan kaca ini! Aku… aku hanya ingin bersama Yoo Neun!

Aku menghantam kaca dengan tinjuku berkali-kali. Yoo Neun menempel di kaca itu dan berkali-kali menggeleng padaku, namun terlambat. Kaca sudah retak. Kusuruh dia minggir dari depan kaca.

“Minggir! Minggir!” teriakku sambil mengibaskan tanganku ke pinggir. Ia menurut sambil agak takut-takut.

PRANG! Kaca itu pecah. Namun, saat tanganku berhasil menembusnya, serpihan-seerpihan kaca yang tadi aku pecahkan kembali ke tempatnya semula, menusuk-nusuk tanganku, dan sebuah kekuatan kecil hitam merayapi tanganku.

Masih bisa aku mendengar suara Yoo Neun ketika kaca belum sepenuhnya tertutup, “Key! Ddeonajima!”

Maaf, Yoo Neun… Aku masih belum sanggup.

Sakit yang kurasa di tanganku yang remuk tak sebanding dengan tak bisa bersentuhan dengan Yoo Neun.

Hatiku perih. Kenapa kaca ini harus ada? Kenapa aku dan Yoo Neun harus pisah? Kenapa…?

***

Aku kembali duduk di depan kaca bersama Yoo Neun keeseokan harinya. Ia menuliskan sesuatu.

Key ssi, kwaenchannayo?

Aku menggeleng dan menunjuk bebatan tebal di tangan kananku.

Tapi… bisakah kau tetap menulis puisi bersamaku?

Aku menggeleng dan menulis dengan tangan kiriku yang belum remuk seperti tangan kanan.

Hmm, kurasa tak bisa lagi.

Ia sedih. Aku tak rela melihatnya. Aku izin pamit dan kembali ke rumah.

***

Saat aku kembali ke kaca tebal itu, aku menemukan kembali Yoo Neun di seberang. Ia memakai sebuah jubah panjang yang melapisi baju dinginnya. Ia tersenyum padaku.

Di wilayahku, terdapat sebuah kotak tergeletak, tepat di depan Yoo Neun. Ia menggerakkan satu tangannya dan mempersilahkan aku untuk membuka kotak itu.

Kotak yang telah dibungkus kado dan diikat dengan pita cantik.

Saat aku membuka isinya…

APA APAAN INI?!

SEBELAH TANGAN YOO NEUN?!

Ia menatapku lembut di seberang. Dan kembali menulis sesuatu,

Ayo kita buat puisi lagi!

Aku kaget bukan kepalang. Kulihat beberapa tetes darah masih jatuh dari pangkal bahunya.

Dia benar-benar memotong tangan kirinya untukku. Ia terus tersenyum padaku yang masih terbelalak.

Senyum yang tulus, yang mengharapkan puisi-puisi kami berdua tetap menghias kaca tebal ini.

 

***

Gomawo untuk para readers… don’t forget to add comments, okay? i need it sooo much :3

 

Advertisements

27 responses to “(oneshot) Our Poem Through the Glass

  1. God, dramatis bngt! Sgtu besar’na rasa si Yoo Neun k’Key, ia rela ngorbanin tangan’na? Can’t belive it..
    Tpi mank bisa y tangan’na Yoo Neun dipasangin ke Key? Kan ukuran’na beda..
    Klo Yoo Neun XL..
    Key’na L..
    ???????hehehehe

  2. *Ngelap aer mata pake anduk tebel, sesegukan*
    Huhuhhuh, author, kok ironis gini sih…
    Hiksss…
    merinding saya bacanya… TT.TT

  3. aku punya darah lelaki, yang telah membentuk hatiku sekeras batu. tapi runtuh seketika setelah ngebaca ini cerpen. salut…… cerita yang benar benar menyentuh hati. minta ijin share di facebook ya.

  4. Aku baca berulang ulang, tapi kenapa tangan kiri Nao yun bisa sampai ke wilayah Key ? sedang mereka tak bisa bersentuhan di balik dinding kaca.

  5. AAAAA.. mian baru baca!!
    bener kata2 komen diatas.. ngeri, so sweet.. dramatis.. aaarrggghh *frustasi* <– lha?
    keren banget sekeren-kerennya! btw aku ga pernah ngebaca ff yg temanya gini! daebak!
    bener2 true love.. kkk~
    loooovvveee it!

  6. maaf banget ya saeng~
    onnie baru baca T.T #dibabuk #ditendang
    YA TUHAN~
    serius gak ngerti mesti ngomong apa~
    ceritanya dalem~
    YA TUHAN~~~
    key tabahkan hatimu nak dari rasa penyesalan (?)
    JEMPOL SEGEROBAK DEH BUAT KAMU T.T
    huhu
    LIKIE THIS !!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s