A B C (Life is a Choice)

 

ABC (Life is a Choice)


Author            :           Park Kyungjin

Cast                :           SHINee – Lee Taemin

SHINee – Choi Minho

Genre              :           Friendship, Life

Rating             : G

Length            : One Shot

Disclaimer      :           Choi Minho is not mine, but Lee Taemin is MINE! *plaakkkk!*

+++

Hidup memang sebuah pilihan. Seperti halnya saat kita sedang menghadapi soal ujian berbentuk pilihan ganda, dimana dalam soal itu tertera pilihan A, B, C, atau yang lainnya. Kita memang harus memilih salah satu dari beberapa jawaban yang ada, dan sebenarnya jawabannya sudah ada, tinggal kita yang memilih mana yang akan menjadi jawaban kita. Terlepas dari apakah pilihan kita salah atau benar, yang jelas kita harus memilih.

Mungkin dalam menjawab soal berbentuk pilihan ganda, kita boleh saja tidak memilih satupun dari jawaban yang sudah tersedia. Iya, memang bisa. Tapi, betapa tidak berwarnanya hidup kita kalau ternyata kita sendiri tidak mempunyai pilihan untuk menjadi sesuatu. Dan sama halnya dalam soal pilihan ganda, tidak memilih sama sekali berarti NOL.

“Perhatian. Waktu sekarang sudah menunjukkan pukul 09.45. Jadi dalam 15 menit kedepan, semuanya sudah harus selesai” Choi sonsaengnim memberikan instruksi kepada kami sebagai pengingat waktu.

Ya, sekarang aku sedang dihadapkan pada pilihan-pilihan. Maksudku, aku sedang menghadapi ujian. Bentuk soalnya sangat menggembirakan, pilihan ganda. Dan itu berarti, aku hanya butuh memilih salah satu di antara jawaban-jawaban yang tersedia. Sebenarnya aku tidak begitu cerdas dalam memilih jawaban yang benar, hanya saja naluriku selalu membawaku untuk yakin pada jawaban yang akan kupilih.

Kalau bisa dibilang, sebenarnya keberuntungan juga tidak selamanya berpihak padaku. Kebanyakan dari jawaban-jawaban yang kupilih berdasarkan nuraniku itu (yang sebenarnya lebih pantas untuk dikatakan menjawab secara asal-asalan) salah. Yah, setidaknya aku sudah memilih. Rasanya aneh saja ketika aku membiarkan lembar jawabanku ini kosong begitu saja. Lagipula, aku selalu optimis pada sebuah kemungkinan, yaitu kebenaran. Sebuah pilihan tidak selamanya akan salah kan?

Aku melingkari lembar jawabanku dengan yakin. Yah, sedikit lagi semuanya akan selesai. Aku melirik jam tanganku, kira-kira 5 menit lagi Choi sonsaengnim akan mengumpulkan semua lembar jawaban.

Aku terus saja bersemangat untuk melingkari semua kemungkinan-kemungkinan yang ada. Oke, yang nomor ini aku melingkari jawaban B, selanjutnya C, selanjutnya D, nah selesai!

Aku melirik ke sekelilingku. Semua teman-temanku masih sibuk berkasak-kusuk dengan lembar jawaban dan kertas cakaran mereka. Haha, semangat chingu, kalian hanya perlu memilih. Aku meregangkan seluruh otot-ototku. Hhh, berkutat dengan soal fisika selama dua jam membuat seluruh ototku menegang.

“Hoammmmpphhh…” tanpa sadar aku menguap cukup lebar.

“Lee Taemin” tiba-tiba Choi sonsaengnim menegurku.

“Ne, sonsaengnim” aku membetulkan kembali posisi dudukku yang tadinya sudah miring kesana kemari.

“Sudah selesai?” ia kembali bertanya padaku.

“Ne, sonsaengnim” lagi-lagi aku hanya bisa mengeluarkan kata-kata yang sama.

“Ya sudah, tunggu apa lagi, ayo kumpulkan” Choi sonsaengnim mengisyaratkan padaku untuk maju ke depan.

Aku mengambil lembar jawabanku lalu mengeceknya sekali lagi, dan saat aku yakin bahwa seluruh pertanyaan sudah kujawab, aku melangkahkan kakiku dengan pasti menuju meja guru.

“Ini, sonsaengnim” aku menyerahkan lembar jawabanku pada Choi sonsaengnim. Ia menerimanya lalu melihat-lihat jawabanku, dan beberapa saat kemudian, dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Ya sudah, silahkan duduk kembali” katanya seraya mempersilahkanku duduk. Aku berjalan kembali menuju bangkuku.

“Ya, waktu habis” seru Choi sonsaengnim kepada seluruh isi kelas. Suasana kelas jadi hiruk pikuk, dan beberapa temanku mulai mencuri-curi kesempatan untuk melihat jawaban dari teman yang lain. Huh, lebih baik aku mendapat angka yang rendah daripada harus menyontek untuk mendapat nilai yang tinggi. Aku ingat betul, sejak kecil eomma selalu melarangku untuk berbohong. Dan menyontek sama saja dengan berbohong. Membohongi guru, dan membohongi diri sendiri.

Tak lama kemudian seluruh lembar jawaban sudah terkumpul dengan rapi di tangan Choi sonsaengnim.

“Baiklah anak-anak, hasil tes hari ini akan tertempel di papan pengumuman besok. Kalau begitu pertemuan kita cukup sampai di sini” kata Choi sonsaengnim lalu berjalan meninggalkan kelas.

+++

“Aku pulang” kataku saat membuka pintu rumah. Di ruang tamu, appa dan eomma tampak sedang bersantai.

“Bagaimana ujian hari ini?” appa bertanya dengan tatapan menyelidik.

“Lumayan. Hasilnya akan keluar besok” aku menjawab sekenanya.

“Taemin-ah, belajarlah dengan baik. Kau tidak bisa selamanya cuek dengan urusan pelajaran. Tidak lama lagi penentuan masa depan akan mendesakmu” appa melanjutkan pembicaraan dengan nada dingin.

Ya. Hidup memang pilihan. Sama halnya dengan pilihan appa untuk menyekolahkanku ke sekolah jurusan IPA. Tapi, apa artinya sebuah pilihan kalau ternyata kita menjalaninya dengan setengah hati? Andai saja appa mau membebaskanku untuk memilih sendiri apa yang telah menjadi impianku selama ini. Tapi sudahlah, tak ada gunanya aku menyesali itu semua. Aku hanya perlu menjalani semua, karena mungkin saja apa yang tadinya akan menjadi pilihan kita justru sebuah pilihan yang salah.

Aku tidak berminat untuk menanggapi perkataan appa. Hidup memang pilihan, dan untuk saat ini aku memilih untuk beranjak ke kamarku, meninggalkan appa yang sepertinya masih tetap ingin anak satu-satunya ini menjadi seorang insinyur.

+++

Seperti yang Choi sonsaengnim janjikan kemarin, hasil ujian fisika kami akan diumumkan hari ini. Murid-murid sekelasku sudah sibuk memenuhi daerah di sekitar lapangan, saling dorong mendorong untuk melihat pengumuman yang tertempel di sana.

Aku semakin tak berminat untuk mendekat ke papan pengumuman saat melihat situasi yang kacau ini. Aku hanya berdiri di tempat yang berjarak 8 meter dari papan pengumuman itu sambil menunggu murid-murid yang memenuhi papan itu menghilang satu persatu.

Aku melihat sesosok namja yang berjalan dengan angkuh menerobos papan pengumuman itu. Secara otomatis, orang-orang yang tadinya saling berebut di depan papan itu kini membuka jalan untuk namja itu.

Namja itu adalah Minho, Choi Minho, sang raja fisika. Setidaknya begitulah teman-temanku menyebutnya, tapi bagiku, dia tidak lebih dari namja yang amat sangat sombong. Lihat saja, gayanya sudah seakan-akan dialah yang akan mendapat nilai tertinggi. Tapi kalau dipikir-pikir, dia memang selalu mendapat nilai tertinggi di kelas kami, dan itulah yang membuatnya congkak seperti sekarang ini. Melihat pemandangan itu, aku jadi semakin tidak berminat untuk mendekat ke papan pengumuman.

Gubrakk!!

Tiba-tiba terdengar suara-suara bising dari arah papan pengumuman. Seseorang memukul papan pengumuman itu dengan kasar hingga membuatnya terjatuh. Seketika suasana di sekitar papan itu menjadi tidak terkendali. Orang yang tadi memukul papan itu kini bergerak mendekat ke arahku.

Brukk!!

Tiba-tiba saja ia mendaratkan tinjunya di pipiku.

“Ya! Choi Minho! Apa masalahmu?!” aku yang memang dari tadi tidak mengetahui apa-apa menjadi emosi saat menerima perlakuannya yang semena-mena terhadapku.

“Hey anak bodoh, apa maksudmu dengan semua itu?!” katanya dengan tatapan membunuh sambil menunjuk-nunjuk papan pengumuman yang tadi ia robohkan.

“JUSTRU AKU YANG HARUS BERTANYA SEPERTI ITU!” aku menjadi semakin terpancing emosi.

Brukk!!

Ia melayangkan tinjunya sekali lagi ke wajahku.

Arrrgghhh! Keterlaluan!

“SIALAN!” aku langsung membalas tinjunya dengan sekuat tenaga. Ia terhuyung sejenak namun masih bisa menjaga keseimbangan agar tidak terjatuh.

“Dengar, anak bodoh! Aku menganggap kalau pengumuman yang ada di situ hanya kebohongan. Aku menantangmu di ujian selanjutnya!” katanya dengan seringai yang terlihat memuakkan, dan setelah itu ia langsung pergi meninggalkan sebuah tanda tanya yang besar di kepalaku.

Aku langsung berlari menerobos seluruh murid-murid yang dari tadi menonton perkelahianku menuju papan pengumuman yang ambruk itu. Aku mencabut paksa secarik kertas yang tertempel di sana, dan sesaat kemudian aku mengetahui penyebab dari semua ini.

Dia sangat marah padaku. Sebenarnya nilai ujiannya sangat tinggi. Dari semua jumlah soal yang ada, dia hanya melakukan 3 kesalahan. Tapi yang membuatku kaget, aku hanya melakukan 2 kesalahan, dan itu berarti, aku mengalahkannya. Aku mendapati namaku tertera dengan jelas di kertas itu di posisi pertama, dan Choi Minho ada di urutan selanjutnya. Astaga, ternyata pilihanku kali ini benar.

Tapi aku kembali teringat pada Minho. Kenapa dia sebegitu marahnya saat aku mengalahkannya? Apa karena selama ini belum ada yang bisa menggeser posisinya di peringkat pertama? Tapi menurutku itu wajar-wajar saja. Siapapun berhak untuk menempati posisi manapun!

Mendadak kepalaku seakan-akan terbakar mengingat perkataannya tadi. Orang bodoh? Kebohongan?

Hey, itu murni hasil usahaku. Walaupun aku hanya menjawabnya secara asal-asalan, tapi siapa yang akan mengira kalau ternyata kebanyakan dari jawaban yang ku jawab asal-asalan itu benar? Aku bukan orang suka menyontek! Ku akui selama ini aku hanya murid biasa yang tidak termasuk dalam jajaran-jajaran murid berotak cemerlang. Nilai ulanganku juga selalu pas-pasan, dan tidak pernah menduduki peringkat yang membanggakan.

Tapi biarpun begitu, aku tetap tidak terima kalau ia menyebutku berbohong dalam menjawab soal-soal ujian itu!

Aku meremas kertas pengumuman itu lalu melemparnya dengan asal. Aku benar-benar tidak bisa menerimanya!

+++

Aku pulang ke rumah dengan keadaan gontai. Eomma sangat kaget saat melihat kondisiku yang babak belur. Urrggh, merepotkan saja.

Tak lama kemudian, appa menghampiriku.

“Ya! Lee Taemin. Apa kerjaanmu di sekolah hanya berkelahi saja?” kata appa dengan tangan di pinggang dan dalam posisi siap menerkam.

Aku hanya diam saja. Aku benar-benar malas menanggapi pertanyaan appa.

Plakk!!

Appa tak segan-segan menamparku, kasar sekali. Dapat kurasakan pipi kiriku memanas, dan dalam sekejap rasa perih menjalar di pipiku. Bukan hanya pipiku yang memanas. Kurasa mataku juga sudah memanas, dan sepertinya air mataku sudah mendesak untuk dikeluarkan.

Tidak. Aku harus kuat.

Aku hanya menatap appa nanar, lalu berlalu menuju kamarku. Eomma mulai panik dengan keadaan ini, tapi eomma juga tidak berani untuk melakukan apa-apa.

Hatiku sakit sekali. Baru kali ini appa tega menamparku. Padahal selama ini appa hanya sekedar menegur atau memarahiku saat aku berbuat salah. Lagipula, aku sama sekali tidak bersalah!

Aku membanting pintu kamar dengan keras lalu merebahkan tubuhku dengan asal ke tempat tidurku.

“Arrrrrrrgggghhhhhhh!!” hanya inilah yang dapat kulakukan. Bahkan berteriak pun belum bisa menghilangkan penatku.

Aku bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju cermin yang terletak di sudut kamar. Aku menatap sosok bayangan yang ada di sana.

Menyedihkan. Yang bisa ku lihat hanya bayangan seorang namja yang menyedihkan, bayanganku sendiri.

Choi Minho. Aku kembali teringat pada namja itu. Kata-kata mengejeknya masih terngiang-ngiang di kepalaku. Bahkan bekas tinjunya masih terasa di sekujur wajahku.

“Oke. Kita lihat saja nanti” kataku pada sosok bayangan yang ada di cermin.

+++

Aku membanting sederetan buku fisika yang lumayan tebal di atas meja belajarku. Aku mulai mengambil satu buku lalu melihat isi-isinya. Ah, membosankan.

Baiklah, fokus. Hal pertama yang harus dilakukan adalah fokus. Aku mencoba mengerjakan beberapa soal yang ada di buku itu dan, wow, dari jumlah soal yang 10 nomor, aku hanya bisa mengerjakan 3 soal dengan tuntas. Astaga, ternyata aku separah ini.

Kalau begini caranya, bagaimana bisa aku mengalahkan Minho si raja fisika? Ya sudah, aku masih mempunyai waktu 3 minggu untuk mengejar ketinggalanku sebelum ujian selanjutnya tiba.

Aku kembali fokus pada soal-soal yang ada di buku-buku itu, meskipun sebagian besar dari mereka tidak bisa ku selesaikan.

Tanpa terasa sudah berjam-jam aku berkutat dengan soal-soal ini. Aku melirik jam dinding yang ada di kamarku. Sudah pukul 11 malam. Baiklah, untuk malam ini cukup sampai di sini dulu.

+++

Hari-hariku di sekolah menjadi sangat membosankan semenjak insiden perkelahianku dengan Minho. Dia jadi lebih sering menggangguku, mengejekku, bahkan mengancamku. Tapi aku tidak peduli. Meskipun aku memang tidak sepintar dia, tapi aku yakin keberuntungan akan tetap ada di pihakku. Aku tidak pernah sedikit pun menggubris setiap perlakuannya padaku.

Saat pulang ke rumah, aku buru-buru masuk ke kamar dan berkutat kembali dengan buku-buku fisika. Ujian berikutnya, aku tidak boleh asal pilih lagi. Aku harus menjawab semua soal-soalnya dengan benar.

Tanpa mengganti seragam sekolahku terlebih dahulu, aku langsung duduk di meja belajarku dan mulai mencoret-coret sederetan rumus yang sebenarnya tidak ku mengerti itu di kertas. Yeah, setidaknya aku harus mencobanya terlebih dahulu.

Beberapa jam kemudian, eomma datang ke kamarku, dan alangkah terkejutnya ia saat tahu aku belum mengganti seragamku. Bahkan aku juga lupa untuk makan siang. Eomma memaksaku untuk berdiri dan mengganti pakaianku lalu menggiringku ke dapur. Sebenarnya aku belum merasa lapar, tapi eomma menyuapku dengan paksa. Aish, dasar eomma.

“Taemin-ah, eomma perhatikan akhir-akhir ini kau terlalu rajin belajar. Eomma bahkan sering mendapatimu tertidur di meja belajarmu” kata eomma di sela-sela suapannya.

“Ah, ne eomma. Tidak lama lagi aku akan ujian” jawabku dengan mulut yang dipenuhi makanan.

“Tumben. Biasanya biarpun besok sudah ujian, kau hanya asyik tiduran di kamar” kata eomma dengan nada mengejek.

“Ah, eomma!” aku hanya bisa manyun mendengar perkataan eomma.

“Taemin-ah, sebenarnya eomma senang kau sudah mulai rajin belajar. Tapi kau tidak perlu terlalu memaksakannya, nak. Belajar yang wajar saja, tidak usah terlalu keras seperti itu”

+++

Sama seperti hari-hari belakangan ini, aku lebih banyak menghabiskan waktuku di rumah untuk belajar. Semakin hari aku jadi semakin kesal pada Minho. Dia menjadi semakin sombong. Dia tidak pernah berhenti mengejekku. Dia sangat yakin kalau aku akan kalah dalam ujian nanti. Huh, lihat saja!

Aku mengikat kepalaku dengan sehelai kain putih dan menyeruput kopiku sedikit demi sedikit. Sekarang aku sudah mulai mengkonsumsi kopi. Setidaknya jam tidurku bisa berkurang. Aku tidak mengindahkan kata-kata eomma beberapa hari lalu yang melarangku untuk terlalu memaksakan diri dalam belajar. Oleh karena itu, aku sering mengunci pintu kamarku dan saat eomma mengetuk pintu dari luar, biasanya aku tidak menggubrisnya dan berpura-pura tidur.

Tapi ternyata begadang di malam hari cukup menyiksa juga. Aku jadi sering mengantuk saat di sekolah hingga membuatku tidak fokus saat menerima pelajaran. Belakangan ini aku juga sering merasa pusing.

Berbeda dengan Minho. Ku lihat anak itu sehat-sehat saja. Mungkin dia tidak perlu belajar dengan cara yang sama sepertiku untuk menguasai semua rumus-rumus fisika yang bahkan sudah kupelajari dengan susah payah namun masih sulit ku mengerti. Rasa pesimis mulai muncul di benakku.

Tidak, aku tidak boleh menyerah. Aku masih punya waktu beberapa hari lagi untuk memperbaiki diri.

Tapi, aku jadi penasaran dengan anak itu. Bagaimana bisa ia menguasai pelajaran mematikan itu dengan baik?

+++

Aku semakin giat berusaha. Porsi belajarku makin lama makin bertambah, bahkan sampai-sampai aku tidak tidur sama sekali. Dan bukannya bertambah pintar, aku malah jatuh sakit.

Awalnya aku hanya merasa agak pusing, namun aku tetap melanjutkan kegiatan belajarku. Lama-kelamaan, aku merasakan ada cairan hangat yang mengalir dari hidungku dan jatuh di atas kertasku. Aku sangat terkejut saat melihat cairan yang jatuh itu berwarna merah dan berbau amis.

Aku mengusap darah yang keluar dari hidungku itu dengan tanganku, namun darahnya tak kunjung berhenti mengalir. Aku mulai panik, apalagi ditambah dengan pakaian dan tanganku yang sudah dipenuhi darah. Aku bingung harus melakukan apa. Aku takut membuat eomma dan appa khawatir, apalagi waktu sudah sangat larut. Aku berjalan mondar-mandir di dalam kamar, dan tak lama kemudian aku tiba-tiba pingsan.

Paginya, eomma baru mengetahui keadaanku saat aku tak kunjung-kunjung keluar dari kamarku dan tidak bereaksi saat ia mulai menggedor-gedor pintuku. Eomma langsung panik dan berlari memanggil appa. Saat tiba di depan kamarku, appa mendobrak pintu kamarku dan langsung menemukanku terbaring di lantai dengan tubuh dipenuhi darah yang mulai mengering. Tanpa pikir panjang, eomma dan appa membawaku ke rumah sakit.

Keadaanku sudah membaik, namun pihak rumah sakit menyarankan agar aku tetap di rawat di rumah sakit selama beberapa hari. Tubuhku semakin melemah akibat usaha belajarku yang terlalu keras. Eomma tidak henti-hentinya memarahiku bahkan melarangku untuk belajar lagi, tapi appa diam saja. Ia sama sekali tidak berkomentar apa-apa. Kurasa appa tidak keberatan kalau aku terlalu memaksakan diri untuk belajar, bahkan itulah yang diinginkan appa. Appa ingin anak satu-satunya ini menjadi ahli fisika.

Aku merasa waktuku terbuang sia-sia di rumah sakit. Aku tidak masuk sekolah selama dirawat di rumah sakit, dan eomma sama sekali tidak membiarkanku untuk menyentuh buku sedikitpun. Padahal, ujian tinggal beberapa hari lagi. Aku tidak mau menyerah begitu saja.

Saat aku sudah diperbolehkan pulang, aku kembali bersekolah dan bertemu dengan Minho. Dua hari lagi ujian akan dilaksanakan, dan ku rasa Minho sudah siap dengan semua itu. Aku jadi semakin penasaran dengan Minho.

Akhirnya saat pulang dari sekolah, aku membuntutinya sampai di rumah.

+++

Akhirnya waktu ujian tiba. Aku menjadi gugup. Baru pertama kalinya aku merasakan suasana ujian yang sebenarnya.

Choi sonsaengnim berjalan mengelilingi kelas dan membagikan soalnya kepada kami. Saat ia menginstruksikan bahwa ujian telah dimulai, aku membuka soalnya perlahan.

Aku memperhatikan sederetan soal yang ada. Hmm, lumayan juga. Kebanyakan dari soal-soal ini sudah kupelajari sebelumnya. Aku mulai mencoret-coret kertas dan saat aku sudah menemukan jawabannya, aku menandainya pada lembar jawaban tanpa ragu.

Aku melirik Minho yang duduk jauh di dari posisiku. Aku duduk di bangku paling belakang di sudut kanan, sedangkan Minho duduk di bangku terdepan yang terletak di sudut sebelah kiri. Ia terlihat sangat serius mengerjakan soalnya. Aku kembali memusatkan perhatianku pada lembar soal yang ada di depanku.

Dua jam kemudian, Choi sonsaengnim menyuruh kami semua untuk mengumpulkan lembar jawaban kami. Masih sama seperti sebelum-sebelumnya, aku selalu mengumpulkan lembar jawabanku duluan.

“Baiklah anak-anak, besok hasilnya sudah tertempel di papan pengumuman” kata Choi sonsaengnim sambil membereskan peralatan-peralatan yang tadi ia bawa. Dan tak lama kemudian, ia berjalan meninggalkan kelas kami.

Aku merasakan ada seseorang yang sedang menatapku. Benar saja, dari sudut sana Minho sedang menatapku.

+++

Hari ini pemandangan yang terlihat sama dengan 3 minggu lalu. Murid-murid sudah memenuhi papan pengumuman untuk melihat hasil ujian kemarin. Hhh, terkadang aku heran dengan Choi sonsaengnim. Ia tipikal guru yang unik. Ia satu-satunya guru yang lebih suka memamerkan hasil ujian kami di papan pengumuman, tidak seperti guru-guru lain yang lebih sering memberitahukan hasil ujian kami di kelas.

Suasana yang kacau di dekat papan pengumuman itu membuatku malas mendekati papan. Aku hanya menunggu murid-murid di sana menghilang satu per satu.

Tak lama kemudian, si raja fisika muncul. Dia langsung berjalan menerobos kerumunan murid-murid lain, dan lagi-lagi semua yang ada di dekat papan pengumuman itu membuka jalan untuknya.

Setelah melihat apa yang tertempel di sana, ia berjalan menghampiriku.

“Gomawo, Taemin” ia mengulurkan tangannya saat tiba di hadapanku.

“Cheonmaneyo” aku membalas uluran tangannya dan menjabatnya erat.

(Flashback)

Sepulang dari sekolah, aku membuntuti Minho sampai di rumah. Aku naik ke bus yang sama dengan bus yang ditumpangi Minho. Aku duduk persis di belakang Minho. Kurasa ia tidak menyadari keberadaanku. Sebenarnya aku sendiri juga tidak yakin akan mendapatkan apa yang ku inginkan ketika membuntutinya.

Minho turun dari bus yang kami tumpangi, dan aku juga ikut turun secara diam-diam. Ia berjalan beberapa meter dari tempat kami turun dari bus hingga tiba di sebuah rumah bercat biru yang terlihat sederhana. Aku bersembunyi di balik pohon yang ada di seberang rumahnya dan mengamatinya.

Ia mulai membuka pagarnya, namun belum sempat ia masuk ke dalam rumah, seorang pria paruh baya datang dengan mengendarai sebuah sepeda motor. Minho membuka pagarnya dengan lebar agar pria itu bisa masuk. Pria itu memarkir motornya di halaman rumah dan membuka helmnya. Aku langsung tersentak saat melihat wajah dibalik helm itu.

Dia adalah pria yang sangat familiar. Dia Choi sonsaengnim, guru fisika kami.

“Ingat Minho, dua hari lagi ujian selanjutnya akan dilaksanakan. Appa tidak mau ada seseorang yang mengalahkan peringkatmu lagi” kata Choi sonsaengnim dengan nada dingin pada Minho.

“Ne, appa” Minho menjawab dengan wajah tertunduk.

“Tidak ada yang boleh mengalahkanmu dalam mata pelajaran yang appa ajarkan. Kau harus selalu menjadi yang pertama. Kau itu anak appa. Apa yang orang katakan kalau anak gurunya sendiri tidak bisa jadi yang terbaik”

Minho terus menunduk tanpa menanggapi kata-kata Choi sonsaengnim, appanya.

“Pokoknya appa tidak mau kejadian yang lalu terulang kembali” Choi sonsaengnim melanjutkan perkataannya sambil berjalan masuk ke dalam rumah. Minho tetap diam di tempatnya, namun tiba-tiba ia mengalihkan pandangannya ke arahku. Gawat, dia menyadari keberadaanku!

Ia langsung keluar dari halaman rumahnya dan berjalan ke arahku.

“Kau sudah dengar semuanya?” katanya saat tiba di dekatku.

Aku hanya menatapnya tanpa menjawab pertanyaannya.

“Seperti yang sudah kau dengar, begitulah appaku. Ia memang terlalu menuntutku untuk menjadi yang terbaik di mata pelajaran yang ia ajarkan. Sebenarnya aku sudah sangat lelah untuk melakukan semua ini” Minho memalingkan wajahnya. Ia tidak menatapku.

“Aku ingin seperti anak-anak lainnya yang belajar tanpa tekanan orang tua. Beginilah nasib memiliki guru yang ternyata appanya sendiri” ia melanjutkan kata-katanya, dan lagi-lagi aku hanya bisa diam mendengar semuanya.

Ia menceritakan semuanya. Sekarang aku tahu penyebab ia marah saat aku mengalahkan nilai ujiannya. Ternyata Choi sonsaengnim, appanya sendiri, menuntut Minho untuk selalu mendapat nilai tertinggi, dan mau tak mau Minho harus menuruti perkataan appanya.

“Bahkan waktu itu appa memarahiku habis-habisan saat aku tidak lagi mendapat nilai tertinggi. Sebenarnya aku tahu bahwa itu juga hakmu untuk mendapat nilai yang tinggi, tapi aku tidak boleh membiarkan itu, sebab appa tidak akan pernah mau menerimanya”

Ia menoleh ke arahku.

“Taemin, kau bisa membantuku kan?” ia menatapku, dan kali ini tatapannya berbeda dari Minho yang biasanya ku kenal sombong.

Aku menganggukkan kepalaku sambil menepuk-nepuk pundaknya.

(End of Flashback)

Ternyata selama ini aku terlalu cuek dengan keadaan sekitarku, sampai-sampai aku sendiri lupa kalau Minho itu anak dari Choi sonsaengnim. Ya, sebenarnya aku sudah tahu dari dulu, dan semua orang-orang di sekolah juga mengetahuinya, hanya saja aku benar-benar lupa.

Sebenarnya aku tidak membantu Minho sama sekali. Aku yakin, Minho pasti bisa menjawab semua soal-soal itu dengan benar dibanding denganku. Aku hanya menjawab soal-soal semampuku, dan sekeras apapun aku belajar, aku menyadari bahwa aku belum bisa mengalahkan kehebatan Minho. Aku berjalan mendekati papan pengumuman yang sudah mulai sepi dan melihat tulisan-tulisan yang tertera di sana. Minho menempati urutan pertama. Hebat, dia mendapat nilai sempurna dan tidak ada yang bisa membantah itu. Dia memang pantas mendapatkannya.

Aku mengarahkan pandanganku ke urutan selanjutnya, dan disana aku melihat namaku, Lee Taemin, tertera dengan jelas di bawah nama Choi Minho. Aku sudah cukup bangga dengan hasil yang kudapatkan, meskipun pada akhirnya bukan aku yang memperoleh peringkat pertama. Aku malah merasa berterima kasih pada Minho, sebab karena dialah aku jadi mulai ingin belajar dengan serius, dan semoga dengan begitu aku bisa mewujudkan keinginan appa.

Hidup memang sebuah pilihan. Dan saat ini aku mengarahkan pilihan hidupku untuk membahagiakan appa dan eommaku. Ya, kurasa itu pilihan yang baik.

THE END


Curhat lagi ahh… *ditabok reader*

Hhhuhuhu… Saya sudah kelas 3 SMA… Bentar lagi UN… Bentar lagi SNMPTN… Bentar lagi USM… Bentar lagi… Bentar lagi… Bentar lagi… T___T (semakin menggila)

*reader: derita lu!*

Ff ini terinspirasi dari keadaanku sekarang ini yang sedang stress memikirkan masa depan… Mau dibawa kemana masa depanmu dyu?! *plakkk!!*

Ngemeng2 belakangan ini aku rajin ya ngepost ff.. Kekeke.. Mumpung ada kesempatan,, sebelum aku harus menghilang dari dunia per-fanfic-an yang indah ini *lebe* dan balik ke dunia nyata yang fana ini.. T______________T

Oke oke,, curhatnya sampai di sini dulu… Yang udah baca,, jangan lupa komen ya… Kalau g komen,, HARAM.. Nasib kalian akan sama dengan ff Croooootttt ini.. Kekeke… XD *dicelupin ke comberan ama reader*

Gomawo udah mau baca dan komen… I love you active readers.. ^^ *hugs reader*

Advertisements

29 responses to “A B C (Life is a Choice)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s