I Should Marry Him ~ Part 1

Title : I Should Marry Him

Author : Flameunrii★

Main Cast : Han Ga in , Lee Donghae, Kang Hye Seo, Choi Si Won.

^^-^^-^^-^^-^^-^^-^^-^^-^^-^^-^^-^^-^^-^^-^^-^^

“Han kyu joo, mianhae” ibu berkata sambil tetap menatap lurus ke depan. Memandangi rumah kami, rumah yang selama ini kami huni bersama ayah. Aku yang tidak mengerti apapun, hanya diam memperhatikan ibu yang berdiri tepat disebelahku.

“Ga in-ah” panggil ibu lirih dan pandangannya masih belum beralih dari rumah kami.

“Rumah ini, adalah rumah yang ayahmu bikinkan kusus untuk kita berdua” lanjut ibu, dan aku bisa melihat dia sedikit gemetar saat mengatakannya.

“Kau , harus terus mengingat rumah ini.” apa maksud ibu? aku tidak mengerti. Tentu saja aku harus mengingat rumahku.

“Ga in-ah, mianhae. Ibu tidak bisa mempertahankan rumah ini untuk kita.” ibu terus berkata padaku , meski pandangannya tidak sedikitpun mengarah padaku.

“Walau ibu sudah berjanji padanya, untuk tidak menyerahkan rumah ini pada siapapun.”

“….”

“Ibu tidak sanggup membiayai mu , dan segela kebutuhan kita juga hutang piutang ayahmu”

“…”

“Almarhum ayahmu, akankah dia memakluminya?” Tubuh ibu kembali bergetar, dia menggigit bibir bawahnya.

“Ga in-ah, teruslah memandang kedepan. Kerumah kita. Supaya kau tetap mengingat nya” setitik air mata turun melalui kedua pipi ibu.

“yeobo-ah, mianhae. Aku terpaksa menyerahkan rumah kita untuk melunasi semuanya” apa ini? apa maksudnya? Menyerahkan rumah? Kenapa ibu menangis? Kenapa? Kenapa kami disini? kenapa kami membawa banyak kopor. Ibu kita mau kemana? aku ingin bertanya seperti itu, tapi…

“Ga in-ah, saat kau sudah besar nanti. Bisakah kau membawa ibu kembali kesini? Bisakah kau mendapatkan rumah kita lagi? Bisakah?” ibu memelukku dan menangis sejadi jadinya. Sementara aku hanya diam dalam pelukan ibu. Entahlah, aku yang tidak mengerti dengan keadaan ini hanya diam dengan berjuta pertanyaan di kepalaku.

Semenjak hari itu, aku dan ibu pindah dan menempati sebuah rumah kontrakan kecil di sudut kota. Ibu bilang, bisa tinggal di tempat ini juga berkat kebaikan Jung ajumma yang mencarikan. Aku dan ibu tinggal berdua, karna ayah sudah meninggal saat aku berumur 10 tahun. Ibu menghidupiku dengan bekerja sebagai penjahit. Ya, semenjak ayah meninggal ibu lah yang menjadi segalanya. Ibu dapat menjadi ayah untukku. Seperti saat lemariku patah, ibu yang memakukannya kembali. Saat genteng bocor, ibu akan naik ke atap dengan paku dan palu ditangannya. Saat lampu mati, ibu yang memanjat dan mengganti bohlamnya. Semuanya, semuanya bisa ibu lakukan. Dan ibu tidak pernah mengeluh. Dan ibu tidak pernah menangis. Tunggu, waktu itu , saat kami keluar dari rumah dan berdiri di ujung jalan memandangi rumah kami. Saat itu ibu memelukku sambil menangis. Hanya saat itu aku bisa melihat air mata ibu turun dengan derasnya. Hanya saat itu aku melihat wajah ibu yang tidak berdaya. hanya saat itu…

13 tahun kemudian…

“Huk…Huk…” aku mendengar ibu batuk batuk lagi. Tapi ibu tetap serius dengan jahitannya.

“Ibu,” aku menghampiri ibu dengan segelas air diputih di tanganku. Ibu tersenyum samar dan meminumnya.

Aku terus menatapnya

“Gwenchana,” kata ibu menenangkanku. Aku tau ibu melihat raut wajah kecemasan padaku.

“Nanti aku gajian, besok sore kita kedokter ya,”

“Shiro! Ibu tidak apa apa” ibu kembali menekuni jahitannya.

“Ibu~” kupeluk ibu dari belakang dan mengecup pipinya.

“Waeyo? Anak ibu sudah sebesar ini” ibu tersenyum simpul.

“Sana berangkat!”

“Pokoknya besok kita ke dokter” aku mengecup pipi ibu sekali lagi, dan berlari secepat kilat ke arah pintu depan.

“Yaa! dasar anak itu”

“Jeongmal gamsahamnida” aku menerima amplop gajian itu dengan riangnya.

“Ne, bekerjalah lebih giat lagi” ujar manager ku. Aku memang bekerja sambilan disebuah toko kue. Gajinya lumayan cukup untuk menambah nambah penghasilan aku dan ibu. Selain untuk uang jajanku.

Setelah menerima gaji bulan ini. Aku segera keloker untuk mengganti bajuku. Kemudian berjalan pulang…

“Panasnya…” desahku saat melintasi pusat perbelanjaan apgeujong-dong. Wah, di sudut sana ada kedai eskrim. Sepertinya enak sekali, apa lagi cuaca panas begini. Beli tidak ya? Aku kan juga baru gajian… Ngg,

Dan entah karna apa tiba-tiba kakiku berhenti didepan kedai eskrim kecil itu. Ah, apa salahnya mencobakan…

“Mau pesan eskrim apa nona?” ucap penjual eskrim itu dengan ramahnya padaku.

Setelah aku memesan asal salah satu nama eskrim itu. Aku berjalan ke kasir membayarnya.

“15000 won” Mwo? Mahal sekali ?

Akhirnya dengan berat hati aku menyerahkan 15000 won dari uang gajiku padanya. Ck, aku tidak akan membelinya kalau tau begini mahal…

Aku kembali berjalan pulang sambil menjilat eskrimku. Sampai seseorang dari arah belakang menyenggol pundak kiriku. Membuat eskrimnya jatuh dan sempat mengenai bagian bajuku.

“M-mianhae” jawabnya cepat kemudian kembali berjalan dengan terburu-buru.

T-tunggu! apa apaan ini? Eskrimku…Eskrim 15000 won ku!!

“Yaaak! Kau !! Kembaliiiiiiiii” teriakku dengan suara yang sangat kuat otomatis membuat semua orang yang ada disini menengok ku dengan pandangan heran. Yak pabo ga-in!

Begitupun dengan pria sialan yang menjatuhkan eskrim 15000 won ku. Ku tatap dia dengan penuh amarah.

“Ada apa lagi?”

“Enak saja kau mau pergi setelah menjatuhkan eskrimku. Kau harus menggantinya! Berikan aku 15000 won!” sambarku masih sambil memelototinya.

“Mwo? Apa maksudmu?”

“Kau tidak tau ya? Itu eskrim seharga 15000 won jangan harap kau akan kulepaskan sebelum menggantinya”

“Aku kan sudah minta maaf!”

“Tapi kau tetap harus menggantinya! Berikan aku 15000 won sekarang juga!”

“Hey, wanita ! aku sedang terburu-buru , tidak punya waktu meladeni mu”

“Apa?”

“Kau mencoba menarik perhatianku ya ? Hah”

“A-apa?” mulutku membulat saking kagetnya. Apa maksud orang ini? Menarik perhatiannya? Cuih, aku merasa mual

“Aku tidak punya waktu. Carilah pria lain”

“Heh, kau itu tidak waras ya? Atau kepalamu habis terbentur sesuatu?” pria itu mengernyit.

“kau pikir siapa dirimu? Aku cuma minta eskrimku kembali. Jadi tolong jangan mengalihkan pembicaraan pada hal yang tidak tidak. Terima kasih”

“Hah, ternyata… wanita jaman sekarang punya banyak sekali cara ya. Kau sampai bergaya melarat , bilang saja kau ingin aku mentraktir mu eskrim supaya bisa jalan berdua denganku”

Aku tidak habis pikir kenapa ada orang seperti ini. Kenapa dia bisa begitu pedenya mengatakan hal itu. Astaga tuhan…

“Heh, jangan bercanda kau. Bilang saja tidak punya uang mengganti eskrimku. Huh, dandananmu saja yang begitu. Ternyata kau yang orang melarat. Lalu, bisa bisanya kau berpikir aku mengincarmu. Hey? siapa kau? Aku tidak mengenalmu Arasseo.” kataku,

“Sebaiknya aku cepat pergi sebelum otakku berpikir untuk melempar sepatuku padanya” Aku berbalik dan berjalan cepat menjauhinya.

“Yak! siapa yang kau bilang melarat haa!”

Han ga-in , pura-pura tidak dengar saja. Jangan ladeni dia. Relakan saja 15000 won mu.

Entah angin apa yang membawaku melangkah kesini. Aku diam seperti saat 13 tahun lalu. Rumah ini, masih sama seperti dulu. Tidak banyak yang berubah. Rumah ku, rumah kami, yang dibuat kusus oleh ayah, yang diimpikan ibu untuk bisa kembali kemari. Yang menjadi semangatku untuk giat bekerja demi mengumpulkan uang, supaya aku bisa membeli rumah ini kembali.

Dulu saat ayah masih ada, aku dan ibu hidup sangat berkecukupan. Sampai saat kecelakaan itu merenggut ayah. Ayah meninggal dengan puluhan utang piutangnya. Mereka bilang ayah kecelakaan karna menyetir dalam ke adaan mabuk. Ayah mabuk saat tau perusahaannya akan bangkrut dan tidak ada satupun dari temannya yang ingin membantu. Dan ayah meninggal di tempat setelah mengalami kecelakaan parah karna bertabrakan dengan truk dari arah berlawanan. Bagai mimpi buruk, memori itu kembali berputar seperti role film dalam pikiranku. Semenjak itulah, kehidupan aku dan ibu berubah drastis. Ibu terus didatangi penagih hutang. Meski ibu bilang kami tak punya apapun lagi, tapi mereka tidak pernah mau tau. Bahkan mereka bilang akan mengambilku sebagai gantinya jika ibu tidak juga membayar. Dan akhirnya ibu menyerahkan rumah untuk melunasinya.
Mungkinkah kalian bertanya, kenapa kamu tidak minta bantuan keluarga kami yang lainnya? dan jawabannya adalah, Kami tidak punya keluarga lain. keluarga yang membela kami. Tidak punya tempat mengadu. Sejak dulu yang kusebut keluarga hanyalah aku, ayah dan ibu. Aku tidak punya nenek, kakek, paman atau seorang bibi? meski teman-temanku mengatakan seharusnya aku memiliki itu. Tapi kenyataannya tidak. Entahlah, aku tidak tau kenapa  tapi aku memang tidak punya itu semua. Jadi setelah ayah meninggal, Hanya ada kami berdua saja, dan aku tidak tau seperti apa jadinya aku jika ibu tidak ada disisiku lagi.

Tanpa terasa ternyata aku sudah banjir air mata. Aku menangis? Ya, aku memang menangis untuk meluapkan emosiku.

“Ayah, bisakah aku membawa ibu kembali kemari ?”

“Ibu ayo kita kedokter. Hari ini aku tidak bekerja” ucapku antusias , Ibu hanya tersenyum simpul menanggapinya.

“Setelah itu kita makan bimbibap, bukankah Ibu sangat menyukainya?”

“Hey, jangan habiskan uang jajanmu”

“Tenang saja. Aku kan baru gajian” Ibu menatapku dalam, seperti mencari sesuatu dari wajahku.

“Anak ibu sudah besar. Sudah dewasa.” ibu tersenyum,

“Sana, pergilah! Belilah baju dan keperluan lainmu. Jangan terus-terusan menghabiskan gajimu untuk mengobati orang tua ini” canda ibu. Aku menatapnya lekat, tapi ibu kembali duduk di meja kerjanya.

“Ibu,”

Donghae POV

“Hye seo, kau masih ingat tempat ini”

“Tentu saja,” aku melirik ekspresi wanita yang duduk disebelahku.

“Memang tempat apa?”

“Tempat kau dan si won oppa berkelahi untuk menjadi pangeranku saat kita bermain putri raja” dan wanita itu terkekeh kecil.

“Ne, baguslah . Ternyata kau masih mengingatnya” Hye seo melirik ku dengan tatapan setengah tak percaya. kemudian ia memukulkan lenganku seraya berkata

“Tentu saja aku mengingatnya. Mana bisa aku melupakan hal itu. Pabo”

Saat ini aku dan hye seo sedang duduk di bangku taman. Taman dimana dulu aku hye seo dan si won yang disebutnya tadi itu. Bermain dengan gembira bertiga. Maksudku, aku dan hye seo yang bergembira. Karna dia selalu menjadi pengganggu aku sewaktu bersama hye seo. Aku, hye seo dan orang itu adalah teman sejak kecil. Kami sudah saling berteman semenjak umur kami masih 5 tahun. Dan semenjak itu pula aku sudah menyukainya. Menyukai hye seo.

“Si won oppa, bagaimana dia sekarang ya?” pertanyaan hye seo barusan memecah lamunanku. Sial! kenapa harus bertanya si won lagi.

“Ntahlah, sudah 5 tahun aku tidak bertemu dengannya. Kurasa dia sudah sangat berubah.”

“Benarkah? Tapi bulan lalu dia masih mengirimkan kado dan ucapan selamat ulang tahun padaku” aku melirik ekspresi hye seo sekali lagi. Dan dia tersipu. Apa tersipu? Pipinya memerah! Jangan bilang kalo dia…

“Setidaknya dia tetap mengingat kitakan?” ujar hye seo lagi. Dan kali ini dia benar benar memerah. Sial,

“Ne,” entah sampai kapan aku akan begini. Menyukai hye seo diam diam. Tidak pernah mengungkapkan perasaan ku padanya. Selamanya memendam perasaanku. Dan karna itu pulalah, sampai saat ini aku belum pernah merasakan yang namanya berpacaran. Hye seo, bisa kah? kau melihat perasaanku?

Gain POV

“Ga in-ah, amber hari ini tidak masuk. bisakah kau tolong antarkan kue ini ke alamat ini ?” Shin sunbae menyerahkan secarik kertas padaku. Aku mengangguk dan segera mengantarkan kuenya ke alamat itu.

Di gedung perkantoran CS corp. Aku segera memarkir sepeda motor dan memasuki gedung itu. Aku menuju meja resepsionis dengan keranjang kue ditanganku.

“Ada yang bisa saya bantu?” seorang dari mereka menyapaku. Ramah.

“Anu, aku dari toko kue ‘Grewn’ mengantar pesanan kue untuk bapak um jing hwa.”

“Oh, dia sedang rapat. Serahkan saja kuenya pada sekretaris bapak jing hwa, nona yoon di lantai 2. Ruangannya di lorong kiri sebelah lift. Kau bisa melihat papan namanya didepan pintu.” jelas resepsionis itu padaku. Aku membungkuk setelah mengucapkan terima kasih padanya. Dan berjalan memasuki lift.

Aku masuk kedalam lift dan hanya ada aku dan seorang pria disana. Sepertinya dia bukan karyawan disini. karna, tidak seperti yang lainnya. Dia hanya memakai baju kaos hitam berkerah dan celana jeans. Oh, mungkin orang yang ingin melamar pekerjaan. Tapi tidak mungkin juga pakaiannya begitu. Atau mungkin petugas kebersihan yang baru datang. Masak sih? Apa mukanya terlihat begitu. Tapi aku tidak bisa melihat mukanya karna dia membelakangiku.

Ting! pintu lift pun terbuka.
Tunggu! tadi resepsionis itu bilang lorong sebelah kiri atau kanan ? Aduh kenapa aku begini pelupa…

Eh, laki-laki tadi mana ya? mungkin dia bisa membantuku. Aku melirik laki laki tadi. Dia berjalan ke lorong kiri kemudian tiba tiba membungkuk memungut sampah di lantai. Tuhkan benar dugaanku, dia petugas kebersihan…

“Ya! kau!” aku menghampirinya membuatnya menatap heran padaku.

“Petugas kebersihan,”

Dia mengernyit , kemudian menunjuk dirinya sendiri.

“Ya, benar kau. Taukah ruangan pak um jing hwa?”

“Um jing hwa?” tanyanya. Wajahnya, tampan juga…juga bersih. Sayang sekali , kenapa harus jadi petugas kebersihan? mungkin dia bisa masuk menjadi trainee di SMent. Dan menjadi aktor atau penyanyi. Loh kenapa jadi membahas ini?

“Ne, tahukah ?”

“Mungkin kau harus berjalan lebih keujung lagi , disana”

“Oh, petugas kebersihan bisa antarkan aku ?”

“P-petugas kebersihan,?” dia terlihat kebingungan. Memang kenapa? Ah dan kemudian dia tersenyum simpul.

“Ne, baiklah mari ku antar” aku mengikutinya dari belakang hingga ia berhenti di salah satu ruangan yang bertuliskan Um Jing Hwa di depan pintu nya.

“Jeongmal gamsahamnida” aku segera masuk keruang itu dan yang kujumpai ialah seorang wanita yang kuyakini sekretarisnya. Aku menitipkan kue itu padanya dan tidak lupa memintanya menandatangani bukti pembayaran.

Dan aku kembali keluar ruangan. Ternyata masih ada pria itu disana.

“Woh, kau menungguku?” dia mengangguk.

“Urusanmu sudah selesai?”

“Ne, terimakasih bantuannya. Aku pergi dulu.” dia mengangguk dan kembali mengulas senyum. Wajahnya, benar tampan sih. Ah apa yang ku katakan.

Aku berjalan meninggalkannya dan dari arah berlawanan ada dua pria berpenampilan seperti manager kantor ini.

“Oh, pak direktur” salah satu dari mereka tiba-tiba berkata begitu dengan wajah kaget.

“Anda sudah kembali?” kali ini yang seorang lagi angkat bicara. Mereka berdua benar terlihat kaget, dan tiba-tiba berlari melewatiku menghampiri… PRIA ITU !

“oh, pak direktur syukurlah anda sudah kembali. Kami benar-benar senang.”

“Kenapa tidak memberitahu? kami kan bisa menyiapkan pesta penyambutanmu”

“Ne, terimakasih. Kalian tidak perlu repot² begitu” SUARA PRIA ITU! TIDAK SALAH LAGI! AIGOOO APA MAKSUDNYA?

Aku menghentikan langkahku dan mencerna satu persatu pemikiranku.

Tunggu! Jadi yang mereka panggil pak direktur itu adalah pria yang kupanggil petugas kebersihan. APA?

Walau ragu, akhirnya aku memberanikan diri membalik tubuhku, mencoba memastikan semuanya.

Dan pria itu, dia melihatku. Mati aku! Dia melihat ke arahku dengan wajah tertawa. Membuatku nyengir tak karuan. Aku membungkuk sekali lagi dan secepat kilat melesat dari lorong ini.  Pabo ga-in !

HyeSeo POV

Ting tong! Ting Tong!

“iyaa tunggu sebentar” sahutku, siapa yang bertamu jam segini? Jarang sekali ada yang bertamu keapartemenku. Biasanya cuma donghae, tapi dia akan menelepon dulu memastikan aku ada dirumah atau tidak. Dan aku tidak menerima telepon maupun sms darinya hari ini.

Cklek, kubuka pintu dan ada seorang pria dengan seikat mawar menutupi wajahnya, berdiri dihadapanku.

“Si won-oppa!!!” pekikku ketika ia menurunkan mawar itu dari wajahnya. Tak kusangka dia sekarang disini. Di depan apartemenku. Si won oppa ku kembali!!

Dia menyerahkan mawar itu padaku, “Cantik…” aku menghirup mawarnya “dan wangi sekali,” sambungku lagi.

Aku meliriknya sebentar dan dia hanya melempar senyuman padaku.

“Jeongmal gumawo oppa-ah,”

“Cheonmanae”

“Neomu bogoshipo” tiba-tiba aku memeluknya begitu saja. Ya, karna aku sangat merindukannya. Merindukan si won oppaku.

“Nado,” dia terkekeh dan segera melepas pelukanku.

“Kau tambah cantik saja ya?” katanya membuat semburat merah menghiasi pipiku.

“Huh, oppa juga sekarang jadi tampan”

“Oh, jadi dulu tidak tampan ya” aku mengangguk bercanda membuat dia memanyunkan bibirnya.

“Kejamnya,”

“Hahahahahaha”

“kapan oppa datang? Kenapa tidak mengabariku?” tanyaku,

“Hey, tuan putri tidak mengijinkan aku masuk dulu ya?” sindirnya, astaga! aku lupa.

“Aigoo~mianhae, hehe. Ayo ayo masuk” ajakku.

“Oppa mau minum apa?”

“Hem, kau sudah makan siang?” aku menggeleng,

“Bagaimana kalau kita keluar untuk makan siang?” tawarnya. Aigoo~ dia mengajakku makan siang berdua saja. Senangnya…

“Kalau begitu aku ganti baju dulu” aku segera melesat masuk ke kamarku dan memilih-milih baju terbaikku untuk menarik perhatiannya.

“jadi kapan oppa datang?” tanya ku sekali lagi, pada orang yang sedang menyetir disebelahku.

“Hem, sekitar 2 hari yang lalu”

“Jadi oppa sudah datang 2 hari yg lalu , tapi baru menemuiku hari ini? Oppa jahat!” aku memukul pelan lengannya. Dia terkekeh dan mengacak rambutku sambil berkata.

“aku tidak mau menganggumu, bukankah, Gadis kecil ini sekarang sudah menjadi orang sangat sibuk ”

“Oppa aku bukan gadis kecil lagi,” kataku membuatnya kembali tertawa. Apa apaan dia, jantungku jadi berdebar-debar begini.

“Oh ya, apa donghae sudah tau?” dia menggeleng

“belum, aku baru akan memberi taunya,” ujarnya aku hanya ber’oh’ ria saja menanggapinya.

“Bagaimana kalo kita ajak dia ikut makan siang bersama kita, otte?” Andwae! bukankah kita akan makan berdua saja. Aku tidak mau donghae mengacaukan hal seperti ini. Andwae ya! Andwae.

“Ng, tidak usah saja oppa. Jam segini dia pasti sudah makan siang. Nanti saja kita temui dia, sekalian membuat sedikit kejutan. bagaimana?” sanggahku , supaya dia membatalkan niatnya. Lee donghae, sahabatku maaf. Tapi aku juga ingin berduaan saja dengan orang ini.

“baiklah,”

Aku dan siwon oppa makan siang disalah satu restoran langganan kami dulu. Menyenangkan, dan aku tak henti-hentinya melempar senyum termanis ku padanya.

sarangdo mukkhin chae~
Miraedo mukkhin chae~

“Ponselmu ?” aku mengangguk dan melihat nama sipenelepon di display hapeku. Lee donghae.

“Yobosaeyo? aku? Sedang makan siang. Mwo? Aku baru saja kedatangan tamu penting,” aku melirik ekspresi siwon oppa. Dia, tertawa.

“Ne?” siwon oppa memberikan kode² menyuruhnya menyusul.

“Kemarilah! Restoran XXX , benar! Kau pasti akan terkejut! Nde, annyeong” aku menutup flip hape ku.

“Dia akan kemari 10 menit lagi,”

“Lee donghae!” aku melambai ke arah pria yang berjalan dari pintu masuk.

“Annyeong” sapa ku kembali saat dia telah sampai ketempatku. Dia duduk tepat didepanku.

“Siapa tamu pentingmu?”

“Dia sedang ke toilet.” donghae membuat huruf o dengan mulutnya.

“Kau sudah makan?”

“Ne,”

“Annyeong Lee Dong Hae”
Author POV

“Annyeong Lee Dong Hae” sapa sebuah suara dari arah belakang donghae. Donghae tersentak dan membalik badannya.

“Si won !” kataku. Dia, kenapa ada disini? Aku melirik hye seo , mencari tau reaksinya. Dan dia? Terus tersenyum memandangi orang ini. Orang didepanku.

“Tidak kangen padaku ya?” kata-kata siwon membuyarkan pikiranku. Aku berdiri dan memeluknya dengan setengah hati.

“Kapan kau datang?”

“2 hari yang lalu,”

“Dan dia baru memberi tahu kita hari ini!” potong hye seo dengan tampang kesal.

“Hehe, mianhae,” dia mengacak rambut hye seo, membuat munculnya semburat merah di pipi hye seo. Ck, aku benci jika harus melihat kejadian ini.

“Bagaimana kalau kita main bertiga seperti dulu lagi?” tawar siwon,

“Bermain? Heh, oppa kira kita ini anak-anak apa?”

“Haha, main yang ku maksud itu jalan jalan bertiga tuan putri.”

Jijik, membuatku mual saja. Panggilannya pada hye seo sungguh membuatku ingin muntah. Lagaknya sudah seperti seorang playboy. Tidak salah saat di SMA dulu ia punya banyak pacar.

“Bagaimana kalau nonton? Hari ini banyak film bagus di bioskop oppa” pinta hye seo manja. Hhh,

“Hem, ide bagus. Bagaimana menurutmu donghae?”

“Terserah sajalah,”

Kami sampai digedung bioskop. Aku yang bertugas membeli tiket selagi mereka berdua membeli camilannya. Sebisa mungkin aku menghindari film bertema percintaan. Karna itu akan membahayakan posisiku hari ini.

Hye seo terus saja menggandeng lengan siwon  sampai kami memasuki studio.

Aku memesan tiga bangku nomor 2 dari depan. Biar aku bisa mengawasi mereka berdua. Karna di bangku atas pasti akan lebih gelap dari sini. Bisa bisa siwon melakukan hal yang tidak tidak pada hye seo. Astaga! apa yang aku pikirkan. Aku memukul kepala ku sendiri.

Aku duduk di kanan, hyeseo ditengah tengah antara aku dan siwon .

“Donghae , kau memilih film apa?” tanya siwon.

“Ghost tales.” jawabku singkat.

“Aigoo~itukan film kolosal!” kata hyeseo.

“Hey, itu kisah nyata masyarakat korea. Sangat bagus untuk pengetahuan” jelasku.

“Seharusnya kau memilih film eat,pray and love mereka bilang film itu ceritanya bagus dan penuh kasih sayang .” sambung hyeseo lagi.

‘Justru itu yang harus kuhindari’

“Salah sendiri menyuruhku memilih”

“Ck,” hye seo berdecak sebal.

“Sudahlah, bagaimana pun donghae sudah susah payah mengantri untuk tiketnya” satu lagi yang tidak kusukai darinya. Sok bijak dan sok baik. Sial,

“Tapi kan” hye seo merasa tidak rela begitu tau siwon membelaku.

“Kitakan bisa menonton lagi lain kali.” lanjut siwon. benar itu.

“Jinja? Kau akan nonton bersama ku lagi?”

Kuralat!! Salah. Kenapa siwon harus berkata begitu!

“Biar aku yang mengantar hye seo” kami sudah keluar dari studio dan berada di basement gedung bioskop.

“Eh?”

“Hye seo, siwon pasti punya kesibukan pekerjaannya. Makanya sementara ia kembali korea.” jelasku selembut mungkin pada hye seo. Hye seo   tersentak, matanya membulat.

“Oppa, kau hanya sementara disini?” tanya hyeseo, tak percaya. Katakan ya! Katakan ya!

“Tidak, mulai sekarang aku akan menetap dikorea” jawab siwon , singkat. Tapi berhasil membuatku mati kutu.

“Woo, donghae pabo! Siwon oppa akan menetap disini!”

Lee dong hae! Mati saja kau!

Gain POV

“Yoona-ah, igae mwoya?” aku mengambil sebuah amplop biru muda dari atas meja dan membaca isinya.

“itu undangan,” jawab yoona yang datang dari arah dapur.

“Undangan? Undangan apa?”

“Pesta penyambutan kembalinya direktur muda CS corp” aku hanya ber-oh ria menanggapinya.

“Aigoo~ pestanya di hotel GwangJhou. Itukan hotel bintang lima. Pasti pesta nya meriah sekali” celetukku masih sambil membaca-baca isi surat itu.

“Tentu saja. Aku kan sudah bilang direktur UTAMA !”

“Bagaimana kau bisa mendapatkannya?” tanyaku.

“Heh, kau ini meremehkan aku ya?” yoona menyenggol lengan kiriku dan duduk berhadapan denganku. Toko kue kami memang sudah akan tutup karna jam sudah menunjukkan pukul 9:30 malam. Ya, hari ini aku kebagian tugas malam.

“Tentu saja, appaku bekerja disana” undangannya tersisa satu jadi dia memberikannya padaku.

“Tidak bisa masuk tanpa undangan ya?”

“Tentu saja.”

“Pasti disana banyak makanan lezat.”

“Dasar kau ini” yoona menyeruput kopi hangatnya.

“Yoona-ah, ” panggilku dengan suara dibuat semanja mungkin.

“Wae??”

“Aku boleh ikut tidak?”

“Nde?”

“Ayolah~ aku kan sahabatmu :3”

“Ide bagus!”

“Apa?”

“Han ga in, kau pintar!”

Haah?

Aku berhenti sebentar sebelum masuk ke hotel itu, memastikan dandanan ku sudah rapi. Kulirik undangan biru milik yoona sekali lagi.

~~~~

“kim yoona, apa yang kau lakukan” yoona mengeluarkan seluruh gaunnya dan mencocokan satu persatu padaku.

“Buka bajumu”

“Mwo? Andwae yo!” aku menyilangkan kedua tanganku didada. Astaga, apa yang terjadi pada kim yoona, jangan bilang kalau dia tidak suka pria lagi.

“Ku bilang buka” yoona melotot padaku dan menarik-narik ujung t-shirt ku.

“Yaaa! kim yoona apa yang terjadi padamu! Sadarlah, aku ini wanita !”

PLETAK!

Yoona memukul kepalaku dengan gantungan baju dari plastik.

“Ga in pabo! Kau pikir aku sudah tidak waras ya!”

“Ha-habis..”

“Kalo tidak buka baju bagaimana mencoba gaun ini?”

“Nde?”

“Masa kau mau kepesta dengan t-shirt dan jeans kumal itu”

“Sembarangan aku baru mencucinya”

“Aku tidak peduli, cepat buka!”

3 kali. 3 kali yoona membongkar pasang pakaianku. Aigoo~ aku merasa seperti mainannya.

“Yak , sepertinya yang ini cocok untukmu” ucap yoona riang saat aku mengenakan pakaian yang ke-4

“Kim yoona, tidakkah ada yang salah disini?”

“Maksudmu?”

“Seharusnya kau memilih gaunmu dulu. Baru memilihkan untukku.”

“Gaun untukku?” yoona mengernyit. Bingung.

“Masa kau mau kepesta itu tanpa gaun” ujarku seperti membalas perkataannya.

“Memang siapa yang bilang aku akan kesana?”

“MWO?”

~~~~~

Dan aku baru sadar kalau ‘ide bagus’ yang dimaksudnya adalah memintaku mewakilkannya kepesta ini. Karna malam ini, rupanya dia sudah punya janji bertemu dengan kekasihnya yang baru pulang dari jepang.

Lagipula kenapa pesta ini harus dilakukan satnite. pabo!

Setelah mengisi buku tamu, aku berjalan jalan dulu melihat pesta ini. wao, makanannya banyak sekali sepertinya lezat. Tempatnya juga sangat bagus, dan juga…

Banyak orang-orang terkenal. Seperti eeteuk super junior, yesung. Bahkan artis sekelas boA juga ada! Omonaa~ yang menyelenggarakan pesta ini pasti benar-benar orang kaya.

“Baiklah terima kasih untuk kalian yang sudah hadir dalam acara ini” ujar sebuah suara. Oh, MC acara ini rupanya.

Aku mengikuti yang lainnya, berkumpul didepan podium.
“Baiklah, anda semua pasti sudah tahu dalam rangka apa pesta ini
diadakan. Keterlaluan sekali yang masih tidak tahu itu, huh.” ucap MC itu lagi diiringi tawa renyah tamu tamu disini.

“Baiklah, Pesta ini memang di adakan untuk menyambut pulangnya direktur kita. Sekaligus pewaris CS corp. Kita sambut CHOI SI WON” mereka semua bertepuk tangan begitupun dengan aku.

Seorang pria dari belakang podium muncul dengan jas hitamnya. Dia tersenyum sambil melambaikan tangannya *berasa miss universe =_=*

“Terima kasih semuanya” ujarnya. Tunggu dulu! Pria ini wajahnya terasa familiar sekali olehku.

Aku meminta jalan untuk bisa berdiri lebih didepan. Memastikan lebih lanjut. Sementara dia mulai memberikan kata sambutannya aku terus mengingat-ngingat. Ng, kalau tidak salah. Pria ini…

~~~

“Petugas kebersihan!”

“Ne,”

“Oh, pak direktur . Anda sudah kembali”

“Seharusnya anda memberi tahu , biarkami bisa mengadakan pesta penyambutan”

~~~

Aku teringat kejadian 2 hari yang lalu. Saat aku mengantar pesanan kue ke gedung CS corp. Aigoo~pria ini yang tempo hari ku kira petugas kebersihan. Mati aku!

Aku menjauh dari arah podium sambil menutupi wajahku. Bahaya sekali kalau dia melihatku disini. Dan akhirnya aku berjalan-jalan ke stan makanan. Mengambil segelas minuman berwarna merah pekat. Ugh, rasanya aneh sekali. Apa minuman orang kaya memang begini?

Aku mengambil beberapa makanan dan meletakkannya atas piring yang kupegang.

Wah, yang ini keliatannya enak sekali. Yang ini juga, ah yang itu juga, yang disana. Eh, yang ini aku sudah ambil belum ya. Aku sibuk mengumpulkan makanan-makanan yang ingin kumakan. Hingga tanpa sadar semuanya sudah bertumpuk dipiringku.

“Heh, liat dia itu. Hihihi,”

“Seperti tidak pernah liat makanan” seseorang menyindir ku. Hah, peduli apa! Sudah susah susah datang kesini. Sayang kan tidak memakan semuanya. Aku bersikap acuh dan mulai menikmati makananku.

Author POV

“Oppa” Sebuah suara memanggil siwon yang sedang berbicara dengan rekan-rekan bisnisnya.

“Hye seo-ah, kau datang” Siwon memeluk hyeseo sebentar.

“Sudah pasti aku datang”

“Bagaimana dengan donghae?”
“Molla,”

“Kau tidak bersamanya”

“Ha?” hyeseo tersentak.

“Kukira kau datang bersamanya” lanjut siwon.

‘A-apa? apa maksudnya’ pikir hyeseo.

“Aku belum melihatnya dari tadi. Kemana dia ya?” gumam siwon. Hyeseo hanya diam dan tampak memikirkan sesuatu.

‘Harus, aku harus melakukannya hari ini. Aku tidak ingin dia pergi lagi’

“Oppa,”

“Ne?”

“Ada yang ingin kukatakan” Hyeseo melirik teman-teman siwon. “Bisakah kita bicara berdua saja?” sambungnya.

“Ng? Baiklah,”

Gain POV

Hah, kenyangnya… Aku menyeruput minumanku. Kali ini bewarna biru. Terasa lebih baik dari yang merah tadi.

DUK!

“Ah, Mianhae” seseorang menabrakku dari belakang. Membuat minuman ini tumpah sebagian ke gaunku. Rrr,

Aku mengusap bagian yang kena tumpahan. Ku lirik pria yang menabrakku ini dengan tatapan tajam.

Dahiku mengerut. Begitu juga dengannya. Aku berpikir sebentar. Wajahnya seperti tidak asing lagi bagiku.

“KAUUU!” teriakku saat sadar siapa pria ini. Aku menunjuk wajahnya dengan telunjukku.

“Kau pria yang menjatuhkan eskrim 15000 won ku!” geramku. 2 Kali. 2 kali dia menabrak dan mengoroti pakaianku.

“Oh, kau si wanita melarat itu ya,” ucapnya sombong sambil berkacak pinggang. Kurang ajar!

“Apa yang kau lakukan disini?”

“Seharusnya aku yang bertanya begitu. Kau! Apa yang kau lakukan disini hah?”

“Aku memenuhi undangan!”

“Kau diundang. Hah? apa aku tidak salah dengar?”

“Kau!” aku mencengkram kerah bajunya.

“Apa?”

“Heh!” aku mendorongnya dengan kasar.

“Awas saja kau.”

Satbang, Ajar kurang, Lansia! Gaun inikan bukan milikku. Apa yang harus kukatakan pada yoona nanti?

Aku kembali mengusap gaunku.

“Bersihkan di toilet saja sana” ujarnya seraya berjalan melewatiku. Dengan sigap aku membalik.

“Hey!” dia menghentikan langkahnya dan berbalik menghadapku.

“Apa lagi?”

“A-aku…aku tidak tahu dimana letak toiletnya” ucapku, hais! memalukan sekali. Dia mendengus kencang dan berkata.
“ikuti aku!”

Author POV

“Jadi apa yang ingin kau katakan?” siwon dan hyeseo berjalan beriringan.

“Ng, Nanti saja. Kita keliling-keliling dulu saja,”

“Baiklah,”

Gain POV

“Sial,sial. Kenapa susah sekali hilangnya” umpatku masih sambil mengusap bagian yang tertumpah minuman dengan air bersih.

“Bawa ke laundry saja. Pasti bisa hilang kok.”ujar sebuah suara dari luar toilet. Laki-laki itu dia menungguiku diluar.

“Enak saja kau bicara. Kau pikir biaya laundry itu murah ya. ini bahkan lebih mahal dari eskrimku waktu itu”

“Cih, kau ini. Lagipula gaun itu juga bukan gaun mahalkan.” rrrr,

“Hey, cepatlah. Bagaimana kalau ada yang melihat aku disini” katanya lagi,

Aku menutup kran airnya dan merapikan pakaian juga dandananku. Setelah itu aku keluar. Pria itu, dia berdiri didepan pintu.

Kulirik dia dengan tatapan tajam. Tapi dia cuek saja.
“Kajja!” dia kembali berjalan didepanku.

Author POV

Hyeseo dan siwon duduk di salah satu bangku taman dihotel itu. Pestanya memang diadakan di taman hotel. Di dekat kolam renang hotel.

hyeseo, “Oppa,”

“Ne?”

hyeseo diam. Sementara siwon terus memperhatikannya. Mungkin menunggu apa yang ingin hyeseo katakan.

“Oppa,” kali ini hyeseo balas menatap siwon. Mata mereka beradu pandang. Hyeseo bangkit dari duduknya, berdiri dihadapan siwon.

“A-aku…”

“…”

“Aku menyukaimu oppa,” hyeseo menunduk. Wajahnya merah padam. Wajar saja, ia baru menyatakan perasaannya pada pria yang disukainya.

“Aku juga menyukaimu hyeseo,” hyeseo tersentak, reflek dia menegakkan kepalanya. Matanya membulat sedikit tak percaya. Ia menatap siwon yang tersenyum padanya.

‘Aku tidak bermimpikan? Ini benar benar bukan mimpi kan? Dia menyukaiku? Dia membalas perasaanku? Oh, thanks god’

Siwon bangkit dari duduknya. Dia mengelus puncak kepala hyeseo.

“Masa aku tidak menyukai adikku ini, haha” ujar siwon. Hyeseo lebih kaget lagi dari sebelumnya.

“Adikmu?”

“Ne, tentu saja aku menyayangi adikku ini” siwon masih mengelus puncak kepala

hyeseo.

Hyeseo bergetar, dia menggigit bibir bawahnya. Menahan sesuatu yang akan turun dari pelupuk matanya.

“Apa oppa menganggapku adik?”

“Ne, dongsaeng ku tersayang.”

“Oppa! Aku menyukaimu, aku benar-benar menyukaimu oppa”

“Aku juga menyukaimu. Aku menyayangimu hyeseo-ah”

“Tapi ini bukan perasaan suka kepada seorang kakak!!” Siwon tercengang. Dia menarik tangannya dari kepala hyeseo.

“Perasaan ini. Perasaan suka terhadap seorang pria” hyeseo mulai menangis dia memegang dadanya.

“Hyeseo-ah,”

“…”

“Sejak dulu aku sudah menganggapmu seperti adik kandungku sendiri”

“Apa itu artinya oppa takkan membalas perasaanku.” sela hyeseo,

“Perasaan ku padamu. Hanya rasa sayang kakak pada adiknya. Maafkan aku.”

“Oppa tidak bisa menyukaiku?” hyeseo mulai tidak sabaran. Dia masih bertanya di sela tangisnya.

“Bukan begitu maksudku.”

“Sejak dulu aku menyukai oppa. Semenjak oppa memberi permen padaku ditaman itu.”

“Itu sudah 15 tahun yang lalu kang hye seo”

“Dan selama 15 tahun aku terus menyukai oppa!” hyeseo semakin tidak sabaran.

“Ada seseorang yang selalu menyukaimu. Tapi itu bukan aku!”

“Omong kosong! Kenapa! Kenapa kau tidak menyukaiku! Kenapa kau tidak bisa membalas perasaanku. Aku menunggu 15 tahun untukmu! Aku menahan perasaanku selama itu. Tolong lihat aku!” hyeseo mencengkram kerah baju siwon.

“Kau harus melihat seseorang disampingmu!”

“Jangan mengalihkan permasalahan!!” hyeseo mulai berteriak-teriak.

“…”

“Bahkan ayah dan ibuku juga tidak menyukaiku! Tapi kenapa harus kau juga! Selama ini aku bertahan karna kau!” Hyeseo mendorong tubuh siwon , memukulnya kemudian berjalan menjauhi siwon.

“Hyeseo! Kang hyeseo!” teriak siwon memanggil hyeseo. Tapi hyeseo malah semakin berlari menjauhinya.

“hais, sial!” umpat siwon sembari mengejar hyeseo.

Gain POV

“Ya!” teriakku. Pria itu menoleh padaku.

“Kau harus bertanggung jawab untuk ini!”

“Apa?”

“Gaun ini ! dan juga, eskrimku”

“Arggghh!” geram pria

itu dan bersikap seperti ingin meremas-remas mukaku.

“Waeyo?” Aku melotot padanya. Sembarangan, seharusnya aku yang geram padamu bodoh! Kau pikir siapa yang membuatku begini.

Dia mengeluarkan dompetnya.

“Aku tidak punya uang 15000 won! Kau lihat!” dia menunjukkan isi dompetnya padaku. Waw, isinya uang 50rb dan 100rb-an semua. Banyak juga duitnya. Eh, jadi maksudnya dia mau menyombong.

“Kau lihat?” dia menutup dompetnya kembali.

“Tapi kau tetap harus menggantinya!”

“Kapan-kapan akan ku ganti.”

“Mencurigakan! Kau pasti akan kabur lagi.”

“Mwo?”

“Bukan apa-apa! Lalu bagaimana dengan gaun ini?”

“Kan sudah kubilang bawa saja ke laundry” aku menengadahkan tanganku kehadapannya.

“Apa?”

“Berikan aku uang laundry!”

“Eh?”

“Kenapa?”

“Ck!” dia membuka dompetnya lagi dan mengeluarkan uang 50rb won. Dan meletakkannya ditanganku.

“Segini mana cukup!”

“Apa?”

“Sekarang laundry sudah naik jadi 40rb perpotong. Belum lagi uang…”

“Arasseo, arasseo” dia memberikan 50rb won lagi. Aku tersenyum penuh kemenangan.

“Awas kalau kau menyebut eskrim lagi!”

“Huh, 100rb won ini sebenarnya juga masih kurang tau!” kusimpan uang itu dengan baik di peti harta ku. Maksudku, dompetku.

“Kau mau merampokku ya?”

Tap tap tap!
Dari arah depan muncul seorang wanita yang sepertinya habis menangis.

“Kang hyeseo.” Sahut pria menyebalkan ini. Dia terlihat kaget. Wanita itu berhenti tepat dihadapannya, meliriknya dengan mata sembab yang dibuat sinis.

“Apa yang terjadi pada…” wanita itu menepis tangan pria ini yang ingin menghapus air matanya. Waduh, apa ini telenovela. Atau sedang syuting sinetron ya. Aku melirik kekiri dan kekanan. Mencari tau letak kamera tersembunyi. Tidak ada! sepertinya ini bukan syutting.

“Hyeseo apa yang membuat mu begini?” tanya pria ini lagi. Aku melihat ada raut kecemasan di wajahnya. Lalu aku melirik ekspresi wanita itu, tapi dia justru menatapku kelewat sinis.

“Lee Dong Hae!” akhirnya wanita itu mengeluarkan suaranya.

“Apa kau menyukaiku?” Sambung wanita itu lagi. Lee donghae? Nama pria ini ya? Aku melirik pria itu lagi. Kali ini tampangnya keliatan jauh lebih kaget dari yang tadi. Matanya membulat , mulutnya sedikit terbuka. Siapa wanita ini? Kenapa tiba² bilang begitu? Aneh sekali. Pantas dia terlihat syok. Dan lagi, situasi ini membuatku tidak nyaman. Aku tidak tahu apa hubungan mereka. Aku juga tidak ingin wanita ini salah paham denganku. Situasi yang menyusahkan. Aku harus pergi dari sini.

“Ya! Lee donghae ! KAU MENYUKAIKU TIDAK? MALHAEBWA!!”

.:: To Back Continued ::.

Annyeong haseyo ~ ^^

Setelah lama hiatus akhirnya saya kembali dengan ff hina, dina nan nista ini o,O

Mianhae kalau ada yang tidak suka dengan ceritanya.

Dan jeongmal gumawo kalau ada yang suka :-*

Kritin dan saran sangat dibutuhkan untuk ff ini. Jadi…

Comment Please 🙂

Saya sangat berterima kasih kalau ada yang menghargai ini dengan memberikan komen. Seperti apapun komennya.

Saya tidak pernah benci readers, hanya saya sangat tidak suka dengan para readers yang hanya mau membaca ff tapi tidak mau menghargai author yang sudah susah payah bikin ff nya.

So, please coment di setiap ff yang kalian baca :3

Hargai FF dan si pemilik. Annyeong~^^ *lambai-lambai tissu toilet*

106 responses to “I Should Marry Him ~ Part 1

  1. Assalamualaikum min ,aku suka ff ini dari smp kls 2 sampek sekarang kuliah semester akhir ,…suka banget sama karakter han ga in oh iya min ini gk ada kah di weetped?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s