Life for The Devil – Part 1

Tittle : Life for The Devil – Part 1

Author : Lee Chira

Length : Chaptered

Rated : PG15 – NC17

Genre : Thriller, Romance, Smut

Cast :

SHINee – Kim Jonghyun

Yoon Jisun  a.k.a  Rara (Cute Pixie)

Disclaimer : I don’t own the casts, they belong to themselves. But I do own the plot based on my imagination.

WARNING !!! dlm ff ini t’dpt adegan yg sgt tdk pantas dtiru.. jd kalo klian msi dbwh umur,, dlrg m’bc ff ini!!!

 

Daaannn.. klo mo nyambung, yg belum bc prolognya bc dlu y. Daripada baca tp kgk ngerti..?

Previous : Prolog

 

***

(Jisun POV)

 

Aku benar-benar tak percaya dengan apa yang kulihat barusan. Psycho itu membunuh orang tuaku di depan mata kepalaku sendiri.. dengan cara yang keji. Saat kulihat nyawa kedua orangtuaku akan segera melayang, psycho itu mengalihkan pandangannya dari orang tuaku yang tergeletak di lantai kepadaku. Aku tak sempat memikirkan hal lain kecuali berlari menjauh, kabur sejauh mungkin.

Aku keluar dari rumah, melewati pagar, terus berlari dan menghambur ke jalan raya. Aku tak peduli akan keadaan kakiku yang tengah berdarah-darah dan perih karena harus berlari sejauh berkilo-kilo meter tanpa alas kaki, aku tak peduli pada tenagaku yang terkuras habis, aku tak peduli dengan orang-orang yang mencela saat aku menabraknya.

Karena yang kupikirkan hanyalah berlari.. berlari.. kabur sejauh yang aku bisa dari psycho itu.

……

Beberapa jam kemudian – setelah aku memberanikan diriku – aku kembali ke rumah. Mengendap-endap, takut akan psycho itu masih berada di sekitar sini. Aku menuju kamar utama – kamar kedua orangtuaku.

Shock, nafasku tertahan. Darah menciprati tembok bercat putih bersih itu, juga mengenang di lantai kamar yang juga menggunakan keramik putih. Jasad orangtuaku? Aku tak tahu. Tapi aku melihat sesuatu yang lain di sana. Terdapat bekas darah yang membentuk jejak seakan sesuatu telah dipindahkan dengan ditarik, sesuatu yang menyentuh permukaan lantai hingga timbul jejak seperti ini.

Aku berjalan mengikuti arah jejak itu. Jejak itu berhenti di sebuah ruangan. Dapur! Hatiku benar-benar miris melihat jasad ibuku terikat kuat di pantry dapur.

Dan selanjutnya aku malah menemukan jasad ayahku di taman belakang rumahku. Darah kering menyelimuti kemejanya dan rumput-rumput hijau di sana dengan keadaan yang mengenaskan.

 

***

 

Aku tak tahu apa yang sedang kupikirkan. Aku terlalu diselubungi oleh emosi dan hasrat balas dendam. Peristiwa mengerikan sekaligus mengenaskan yang terjadi padaku beberapa minggu lalu membuatku membulatkan tekadku untuk segera membalas dendamku pada si pembunuh psycho itu.

Aku mencari tahu tentang siapa dia dan apa tujuannya hingga tega membunuh kedua orangtuaku dengan keji seperti itu. Aku memang mengetahui siapa dia, tapi sayangnya aku tak menemukan alibi mengapa ia membunuh orangtuaku. Berdasarkan hasil penelusuranku selama berminggu-minggu, akhirnya aku menarik kesimpulan bahwa ia tak ada maksud apa-apa terhadap orangtuaku. Ia hanyalah seorang psycho yang merasakan kenikmatan setelah membunuh. Ternyata ia adalah buronan, ia telah melakukan banyak pembunuhan. Mulai dari awal-awal pembunuhannya yang masih terbilang normal dan perlahan-lahan berubah menjadi sadis hingga akhirnya saat ia membunuh orang tuaku, ia berada pada tingkat psycho stadium akhir.

Melihat bagaimana orangtuaku dibunuh saja sudah mengerikan, entah bagaimana nasib korban-korbannya selanjutnya – bila ia belum tertangkap. Aku yakin lebih mengenaskan dari ini. Korban terakhirnya – yang ia bunuh dua minggu lalu – dimutilasi ringan karena ia memotong-motong tangan mereka hingga tak berbentuk.

Dasar psycho gila!!

Tekadku membulat. Aku sudah berusaha menghubungi pembunuh bayaran, dari yang paling junior hingga professional dan meminta bayaran tinggi – tapi semuanya memberikanku jawaban yang sama. NO THANKS! Mereka mengaku tak sanggup kalau target mereka adalah si psycho murderer itu. Alasan mereka, bisa-bisa mereka yang habis duluan oleh sang psycho.

CUIH!

Dasar pembunuh tak berkualitas. Masa begitu saja tidak bisa? Jadi apa yang mereka bisa bunuh? Hanya orang yang sedang terbaring di rumah sakit, anak-anak, atau hanyalah seekor ayam kampung??

Ide lain yang sesungguhnya benar-benar gila tebersit di kepalaku.

 

***

 

Aku terbangun dengan shock berat dari mimpiku. Sekujur tubuhku berkeringat. Piyamaku bahkan sudah setengah basah. Aku bangkit menjadi posisi duduk di atas ranjangku dan melirik ke arah jam. Masih terlalu pagi, pukul 04.15 KST.

Aku menyibakkan selimut yang menyelimutiku dan berjalan perlahan ke arah kamar mandi, tapi sebelum aku mencapai kamar mandi, aku berhenti di depan meja rias. Kuurungkan niatku untuk ke kamar mandi dan malah menghampiri meja riasku. Aku menatap bayangan diriku di cermin. Tak ada yang berubah. Masih sama seperti semalam.

Tapi ada sesuatu yang menarik perhatianku. Aku membuka dua kancing piyamaku lalu menurunkan bagian belakangnya hingga punggungku terlihat. Aku mendekatkan diriku dengan cermin dan membalikkan tubuhku enam puluh derajat.

DEG.

Mataku tertumpu pada punggung kananku. Perlahan kusapukan jemariku di atas kulit punggungku itu. Kurasakan punggungku yang sedari dulu mulus kini berubah. Terdapat ukiran di sana, atau lebih tepatnya sebuah bekas luka.

Aku mematung sesaat. Ternyata hal itu memang telah terjadi. Perjanjian itu.. ritual itu.. semua telah terjadi. Ya, telah terjadi. Kapan? Entahlah, semalam mungkin.

Aku kembali memandang lukaku itu, sudah agak mengering. Aku makin menurunkan piyamaku hingga setengah punggungku terlihat dan meringis saat kucoba menekan bagian itu dan menimbulkan sedikit rasa perih.

“Sampai kapan kau akan memandangi mahakaryaku, heh?”

Aku langsung berbalik saat mendengar suara itu. Ah, dia! Aku mengenalnya.

“Bagaimana menurutmu, Sayang? Ukiran yang indah kan?”

Ia berjalan mendekatiku. Saat tersadar akan penampilanku saat ini, aku langsung menaikkan kembali piyamaku dan memasang kancingnya. Aku tak mau memberinya ‘pemandangan’ di pagi ini.

“Untuk apa kau berada di sini? Kau menguntitku, ya?” tanyaku.

Ia hanya memberikan seringaiannya sambil berujar, “Aku bisa berada di mana pun – di sekitarmu. Ingat, kau sudah jadi MILIKKU seutuhnya!”

Dan tiba-tiba saja ia menghilang dari pandanganku.

 

***

 

Perkenalkan, namaku Yoon Jisun. Aku adalah seorang gadis berusia 20 tahun. Seorang yatim piatu sejak kedua orang tuaku dibunuh secara tragis dua bulan lalu. Hidupku hancur berkeping-keping sepeninggal mereka. Aku dirasuki oleh rasa dendam yang membutakan diriku, aku tahu itu. Aku menjauh dari teman-temanku, secara tiba-tiba berhenti bersosialisasi.

Ya, aku terlalu berhasrat untuk membalas dendam pada pembunuh orang tuaku. Hingga tanpa bisa terhentikan, aku malah bersatu dengan iblis demi mewujudkan keinginan bejatku itu. Aku mengatai psycho itu kejam, tapi aku sendiri justru malah menyiapkan sesuatu yang lebih kejam dari itu. Bejat? Ya, kuakui aku memang bejat. Aku telah termakan obsesi balas dendam itu.

Obsesi yang kuyakini bahwa tak lama lagi akan kuraih. Karena waktu pembalasan telah dimulai…

 

(End of POV)

 

***

 

(Author POV)

 

Seorang pria berjalan angkuh memasuki sebuah pusat perjudian termewah di Seoul. Tangga demi tangga, ruangan demi ruangan. Hingga ia sampai di depan sebuah private room – VIP yang berada dua lantai teratas. Ia membuka pintu yang disambut oleh pemandangan yang dikatakan kotor.

Bagaimana tidak. Di depannya ada kurang lebih lima orang pria yang sedang asyik berjudi ditemani oleh wanita-wanita panggilan nan seksi di sekeliling mereka. Minuman-minuman keras, asap rokok yang menggempul, semua bersatu menjadi satu. Tak lupa suara musik keras mengalun dengan suara speaker yang mampu menggetarkan ruangan.

‘Cih! Dasar manusia-manusia tak berguna!’ batin pria itu dalam hati. Semua mata tertuju padanya. Ia berpakaian hitam-hitam, dengan dandanan yang tak kalah sangarnya dari lima orang pria tadi.

Lima orang itu merasa terganggu atas kedatangan pria itu. Mereka berteriak menyuruh pria itu untuk keluar, tapi pria itu tak menampakkan bahwa ia akan menurut. Salah satu dari lima orang itu kemudian mengeluarkan pistol dan menembakkan ke dinding karena tak sabaran. Tapi pria itu tetap tak bergeming.

Dorr!

Dorr!

Tembakan demi tembakan membuat keadaan di dalam ruangan itu kacau balau. Wanita-wanita tadi berlarian keluar. Tinggalah mereka berenam.

Are you ready for the hell, bastard?”

Pria itu menyeringai dan dengan langkah mantap mendekati kelima pria lainnya. Kedua tangannya diarahkan menyilang ke belakang dan dalam sekejap ia telah mengeluarkan dua buah pedang samurai bersamaan dengan matinya lampu.

 

Kelima orang itu tergeletak di lantai dalam keadaan yang tak berbentuk dan berlumuran darah. Tak seorang pun dari mereka yang memiliki tubuh yang utuh. Tubuh mereka sudah terbagi-bagi menjadi 8 bagian.

Satu..

Setelah melepas lengan tangan dan kaki orang itu, pria bersamurai itu mengarahkan ujung samurainya ke arah perut sang korban. Perlahan, ia mengiris kulit korbannya secara vertikal, makin lama makin dalam hingga bisa diyakini bahwa samurai itu telah menusuk sampai tulang belakang sang korban. Darah keluar dari celah yang ada.

Dan seakan tak puas, pria itu menyayat dalam kulit korbannya hingga ia bisa merobek kulitnya dan memperlihatkan isinya. Dengan mata merahnya, pria ia mengeluarkan benda tipis yang panjang dan saling melilit. Usus.

 

Dua..

Pria itu mendekati korbannya yang masih terluka parah, tapi masih sanggup bernafas. Ia menyeringai lalu membuka paksa mulut korbannya. Karena korbannya yang sudah tak berdaya itu menolak, akhirnya pria itu memukulkan pegangan samurainya ke arah kepala korbannya. Setelah itu, tangannya masuk ke dalam mulut korban, mencari-cari sesuatu di sana. Jarinya sempat digigit oleh korban yang masih mencoba bertahan. Pria yang mulai naik darah itu langsung menarik lidah korbannya sementara tangannya yang masih memegang samurai langsung mengiris lidah korbannya tanpa ampun.

Sang korban ingin berteriak, tapi apa daya. Ia sudah kehilangan lidahnya. Ia meraung-raung kesakitan sebelum akhirnya tewas mengikuti temannya yang lain.

 

Tiga..

Hal yang sama terjadi pada orang ketiga. Ia masih hidup, tetapi sudah tak dapat lagi berbuat apa-apa. Pria itu mengambil kuda-kuda, bersiap melompat. Dan saat terjun, sepatu baja pria itu sengaja menabrak kepala sang korban. Seketika itu pula sang korban berteriak. Dan..

Kepalanya terhambur ke mana-mana. Ubun-ubunnya yang kokoh saja retak dan pecah menjadi keping-keping layaknya pecahan gelas. Darah sengar mengalir. Seluruh komponen tulang tengkoraknya terbengkalai.

 

Empat..

Lagi-lagi pria itu bermain di sekitar kepala. Korban keempatnya meninggal setelah apa yang ia lakukan. Tanpa perlu usah-usah lagi, langsung saja diarahkannya samurainya ke samping kepalanya. Samurai itu perlahan-lahan, mengiris daun telinga korbannya. Kedua daun telinganya tergeletak di samping kepalanya dengan darah yang hampir menutupi seluruh permukaan telinganya.

 

Lima..

Inilah dia sang pembunuh psycho itu. Target utama, batin pria itu. Singkat, pria itu mengarahkan salah satu samurainya ke arah dada sang korban. Ditusuknya dalam sedetik, membuat organ dalam korban berhenti dalam sekejap.

Dikeluarkannya jantung yang telah berlumuran darah dan kehilngan fungsi utamanya untuk memompa darah. Darah berhenti mengalir, jantungnya bocor. Sempat pria itu meremas pelan jantung sang korban sebelum akhirnya ia mencincangnya lalu cincangannya itu dibuang masuk ke dalam perut temannya yang telah kosong karena jeroan temannya itu telah kosong sebelumnya.

 

(End of POV)

 

***

 

(Jisun POV)

 

“Aku sudah melakukan tugasku. Sekarang giliranmu, Sayang!”

Aku menatapnya yang sedang duduk di depanku. Ya, dia memang telah melakukannya. Dia telah menghabisi psycho itu lengkap dengan teman-temannya malam itu. Dia juga telah membuktikan semuanya. Memperlihatkan padaku bagaimana wujud dan bentuk kelima mayat itu setelah apa yang ia lakukan.

Sudah dua hari sejak pembalasan itu. Dan sekarang ia datang padaku untuk menagih utangku.

“Sekarang?” tanyaku harap-harap cemas.

“Ya iyalah. Memangnya kau mau kapan, hah? Tahun depan? Atau saat kau mati?”

“…”

Ia berjalan mendekatiku. “Aku mau sekarang…”

“Ta..ta..pi.. Aku bahkan belum siap-siap.”

Ia berdecak pelan. “Tenang saja, Sayang. Kau tidak perlu mempersiapkan apapun. Cukup dirimu saja. Aku tak membutuhkan yang lain.”

“0_0”

Kemudian dengan satu tangannya yang menggenggam tanganku, kami berdua menghilang dari permukaan bumi dengan tarian api (lagi) sebagai pengiringnya. Meninggalkan sebuah kehidupan yang selama ini kulalui menuju kehidupan baru yang tak kuketahui sebelumnya.

 

***

 

Aku membuka mataku perlahan. Tak percaya dengan penglihatanku, aku mengerjap-ngerjapkan mataku.

Di depan mataku terpampang sebuah pemandangan yang menurutku… mengerikan. Sebuah bangunan yang lebih layak disebut kastil dengan batu-batu besar sebagai penyusun gerbangnya dan terdapat sebuah pintu besi berukuran sekitar lima kali lima meter di tengah-tengahnya yang tertutup rapat.

Iblis itu berjalan mendahuluiku, aku mengikutinya. Saat kami sudah berdiri semeter dari pintu gerbang itu, secara otomatis pintu jumbo itu terbuka lebar. Barisan ‘pagar ayu’ mengisi dua sisi. Aku tak tahu secara pasti bagaimana wujud mereka karena mereka menggunakan jubah hitam besar yang menutupi seluruh tubuh mereka. Saat kami berdua mulai berjalan, barisan langsung berlutut.

Aku tak tahu apa yang terjadi.

Langkahku terhenti ketika menyadari pemandangan lain yang dipamerkan. Kastil megah itu terlihat angker. Sama seperti kastil pada umumnya memang, hanya saja yang ini memiliki aura-aura mistis yang sangat pekat. Warnanya didominasi oleh hitam, abu-abu tua, dan merah darah. Tak ada warna cerah di sana, apalagi putih. Aku menengadahkan kepalaku dan mendapati bahwa langitnya pun berwarna abu-abu tua dengan halilintar dan petir yang terus menyambar tanpa henti menimbulkan suara ribut.

Memasuki bagian dalam kastil, aura hitam makin jelas. Dinding batu, lantai yang licin. Banyak ukiran di permukaan dinding dan lantai, tapi tak ada satu pun yang dapat kubaca. Gelap.. tidak juga. Setidaknya ada penerangan di sini, meskipun hanya berubah obor-obor api yang justru memanaskan keadaan.

“Masuk dan tunggu di dalam!” perintah iblis itu seraya membukakan sebuah pintu untukku dan berbalik pergi entah ke mana.

Sesaat aku terdiam, tapi kemudian aku melangkah masuk tersadar akan perintahnya. Ya, p-e-r-i-n-t-a-h-n-y-a. Meski masih belum bisa kupercaya seratus persen, tapi aku tahu bahwa aku telah menjalankan ritual itu. Dan sekarang, aku benar-benar miliknya. Mengingat ritual itu, tiba-tiba rasa perih menyinggapi lukaku. Aku meringis pelan.

Tak berapa lama kemudian, sebuah sosok mengerikan masuk. Aku menatapnya dengan tatapan horor. Oh tidak, aku tak suka pada sosok itu.. sejak kali pertama aku melihatnya.

Sosok itu berjalan mendekatiku, aku mundur beberapa langkah. Dan ternyata ia tak sendirian, di belakangnya berjajar sosok yang aneh dan mengerikan lainnya. Mereka berbaris membentuk sebuah saf. Aku memerhatikan mereka satu per satu. Sepasang makhluk yang kutaksir adalah jin, zombie, dan sisanya aku tak tahu apa namanya. Mereka memiliki bentuk dan wujud yang sanggup membuatku was-was. Bayangkan saja, ada yang memiliki tiga mata, ada yang hanya memiliki satu kaki, ada yang tangannya berselaput, dan sebagainya. Aku hampir pingsan saat melihat mereka.

Iblis itu memperkenalkanku kepada – yang dikatakannya anak buahnya – sebagai permaisurinya. Eh? Aku ingin bertanya apa maksudnya, tapi jangankan bertanya.. menopang diriku agar tak jatuh saja terlalu sulit. Satu per satu dari mereka memperkenalkan diri, tapi aku tak dapat lagi memerhatikan.

Setelah itu mereka pergi, meninggalkanku bersama sang iblis – atau yang mereka sebut pangeran kegelapan (?). Pangeran Kegelapan? Ada hubungan apa dia dengan Lord Voldemort?

Aku menunduk, tak sanggup menatap sosoknya yang begitu mengerikan. Tinggi besar, dengan segala keangkuhan dan aspek mengerikan lainnya pada dirinya. Kulihat percikan api dengan ekor mataku. Dan itu membuatku tak sanggup lagi untuk bertahan.

 

***

 

Aku membuka mataku dan merasakan sakit kepala yang hampir membuat kepalaku pecah. Aku bangkit menjadi posisi duduk. Kulihat iblis itu tersenyum simpul.

“Kau benar-benar payah. Masa begitu saja kau sudah pingsan? Kau bahkan belum bertemu dengan makhluk-makhluk lain yang jauh lebih mengerikan dari mereka,” ujarnya panjang lebar.

Aku hanya menatapnya dingin.

“Mulai saat ini, kau harus belajar beradaptasi. Kehidupanmu akan dimulai di sini.” Ia berjalan keluar dari ruangan ini.

Aku terdiam akan kata-katanya. Ya ampun, apa yang telah aku lakukan? Lagi-lagi aku sangat menyesal dengan keputusanku waktu itu. Kenapa semuanya jadi hancur seperti ini?

Tapi satu pertanyaan terlintas di benakku.

“Hey, tunggu!” Ia berhenti berjalan. “Kalau begitu, apa aku sudah mati?” Aku harap-harap cemas.

“Belum.” Dan ia berjalan meninggalkanku.

Jadi aku belum mati, syukurlah.

Aku mengedarkan pandanganku. Sama seperti yang lainnya, mungkin. Dindingnya.. lantainya.. hanya saja, ada aura lain di ruangan ini. Auranya tak sehitam di luar. Dan, ah! Tadi seingatku sebelum aku pingsan, iblis itu menunjukkan wujud aslinya. Dan baru-baru ini ia menampakkan wujud manusianya. Apa ia bertransformasi lagi? Ah, bukan urusanku.

 

***

 

Seminggu sejak pertama kalinya aku datang ke tempat ini. Dan selama seminggu itu pula aku seperti orang gila. Pemandangan sehari-hari yang pernah kulihat begitu mengerikan dan menakutkan. Bagaimana tidak, aku hidup di sebuah kastil tempat para iblis berada.

Dan banyak pertanyaan melayang-layang di otakku layaknya roh-roh iblis itu melayang di langit-langit kastil ini. Suatu hari, aku memberanikan diriku untuk bertanya dan mengungkapkan unek-unekku pada sang iblis yang baru saja masuk ke dalam ruangan yang kusebut ‘kamarku’.

“Ehm, boleh aku bertanya?” tanyaku.

Ia duduk di sampingku sambil mengangguk.

“Sebenarnya kau siapa? Err.. aku tahu bahwa kau adalah iblis. Tapi.. kenapa mereka meninggikanmu dan juga memanggilmu layaknya atasan mereka?”

Ia menyeringai dan menatapku. “Kalau kukatakan bahwa aku adalah putra mahkota – anggap saja begitu – kerajaan iblis ini, apa kau percaya?”

Aku tak langsung mengangguk. Ia mendekatiku dan mulai memainkan ujung rambutku. Aku merasa risih sedikit. Ia berada sangat dekat padaku. Bahkan sekarang ia mulai memelukku.

“Err..” Aku memberinya sinyal bahwa aku merasa risih. Tapi ia tak menghiraukannya. Terpaksa aku hanya diam. Setidaknya sekarang ia dalam wujud manusianya.

Saat hening lagi, aku membuka pembicaraan.

“Boleh aku meminta satu hal?”

Ia tak menggubris pertanyaanku hanya terus bermain dengan rambutku.

“Plis.. satu saja..” pintaku memelas.

“Apa dulu?” bisiknya di telingaku yang membuatku bergidik.

Aku menimbang-nimbang kata-kata yang harus kulontarkan. “Kau tahu kan kalau aku tak nyaman dengan keadaan seperti ini.. jadi bisakah..” aku menggantungkan pertanyaanku. Kurasakan ia menatapku penasaran. “Bisakah aku keluar dari tempat ini?” tanyaku hati-hati.

Dan tatapannya berubah sinis.

“Tidak boleh!”

Aku melemas mendengar jawabannya, tapi aku berusaha mencari alasan.

“Kumohon, plis. Aku – maksudku kita – hanya perlu keluar dari tempat ini. Kau tahu kan aku bisa mati perlahan kalau tinggal di sini terus? Kau bisa membawaku pergi ke manapun asal tidak ke tempat seperti ini. Kumohon, sekali ini saja.. aku sudah memberikan segalanya padamu. Tak bisakah kau mengabulkan permintaanku.. sekali ini saja?” Aku memasang wajah memelas. Aku benar-benar ingin keluar.

Ia masih tak acuh.

“Kumohon.. sekali ini saja..” Aku memberanikan diri memegang lengannya sambil terus memohon.

“Ini habitatku, Jisun. Dan karena kau adalah milikku, jadi sudah seharusnya kau mengikuti aturan mainnya.”

 

***

 

Besok-besoknya aku terus memohon padanya. Tiap ada kesempatan. Bahkan sampai aku benar-benar sudah muak pada tempat ini dan mengamuk (yang kutahu adalah hal terbodoh yang kulakukan karena mungkin saja ia akan membunuhku saat itu juga).

“Kenapa kau tidak bisa memberikanku satu saja kesempatan, hah? Aku sudah memberikanmu apa yang kau mau. Aku sudah menyerahkan diriku. Tapi kenapa kau tidak bisa memberikanku sedikiiit saja kebebasan?” Aku menatapnya tajam. “Apa kau tahu bagaimana rasanya hidup dikelilingi oleh rasa takut? Semua ini begitu mengerikan. Mungkin kau memang terbiasa, ya karena ini adalah asalmu. Llu bagaimana denganku? Kau bilang aku hanya perlu beradaptasi. Aku bahkan sudah berusaha keras untuk itu. Tapi tetap saja aku tidak bisa.”

Ia hanya menatapku dingin, kuputuskan untuk melanjutkan.

“Apa kau pernah bayangkan bagaimana bila kau berada di posisiku sebagai seorang manusia yang harus menyaksikan semua kegilaan ini? Melihat patung-patung vulgar yang mengeluarkan darah, lukisan-lukisan yang bergerak-gerak, roh-roh yang membisikkan hal-hal yang tak kumengerti tapi sanggup membuatku pingsan saking ngerinya, pelayan-pelayan zombie-mu yang begitu mengerikan. Oh, tolonglah. Apa kau bisa menempatkan dirimu di posisiku?”

Aku mulai tak tahan. Air mata yang tertahan di pelupuk mataku mulai tumpah.

“Aku tidak dalam keadaan harus mengerti kau!” katanya dengan penuh penekanan seraya keluar dari ‘kamarku’.

Dan seketika itu juga tangisku pecah.

 

***

 

Sejak saat itu aku terus menangis tanpa henti. Tapi yang tak kumengerti, mengapa air mataku tak kunjung habis? Padahal kalau dipikir-pikir, 80% waktuku kugunakan untuk menangis hingga aku yakin jikalau aku bercermin – di sini aku tak menemukan cermin – aku yakin bahwa mataku sudah sangat membengkak dan lingkaran hitamnya sudah memenuhi lebih dari setengah wajahku. Aku juga menolak berbicara padanya. Terserahlah kalau ia ingin membunuhku. Tak apa, itu lebih baik daripada aku harus hidup penuh penderitaan seperti ini.

Seperti saat ini – di sini aku tak tahu kapan siang dan malam, semuanya gelap – aku masih menunduk dan mogok berkomunikasi dengannya. Aku menunduk begitu dalam, rambutku jatuh menutupi wajahku.

Kurasakan derap langkah kaki mendekat. Pasti dia. Kemudian ia menyibakkan rambutku dan mengangkat wajahku dengan paksa karena aku menolak untuk melakukannya.

“Kau tidak cukup berusaha, Sayang. Lihat tampangmu sekarang. Kau bahkan lebih mengerikan dari makhluk yang kau katai mengerikan itu..”

Aku hanya menatapnya nanar. Ia mendekatkan wajahnya dan menciumku.

 

***

 

Entah ada angin apa, tiba-tiba aku mendapat kabar bahagia. Ia menyetujui permintaanku. Yes! Tapi ada syaratnya. Pertama, aku tidak boleh macam-macam. Kedua, aku harus siap melakukan apapun yang ia perintahkan. Ketiga, aku tak boleh melarikan diri. Khusus untuk yang ketiga, entah mengapa aku tak berpikiran ke arah sana. Mungkin karena aku sudah terlalu kesenangan bahwa akhirnya aku keluar dari tempat penyeramkan itu atau aku tahu bahwa ke manapun aku pergi, ia akan langsung mengetahuinya. Ingat, dia seorang iblis. Membunuh saja mudah ia lakukan, apalagi kalau hanya mencariku. Sangat cepat akan ia menemukanku mengingat bahwa ia sudah memiliki sebagian auraku.

Dan di sinilah aku berdiri sekarang. Di depan sebuah pintu.

Ia menyuruhku masuk ke dalam.

Aku terkesima akan pemandangan di hadapanku – kali ini berbeda dengan sebelumnya saat aku mendatangi kastil itu.

“Kita akan tinggal di sini,” ujarnya dari belakang.

 

-tbc-

Oke, jadi bagi yg dah bc diharapakan di-WAJIB-kan untuk komen. Peraturannya sm kek diprolog dlu. Komen bergantung pd komen. Klo komennya dikit, g ada lanjutannya.

JADI.. KOMEN y!!!

 

.leechira.

-^_^-

86 responses to “Life for The Devil – Part 1

  1. Woaaahhhhh kerenn thor…. Q tidak menyangka ada juga kisah romancenya,
    Sukaaaaa, apa wujud pangeran iblis itu c’joong? Hoaaahh, apa ini berarti jisun sudah menjadi istri c’pangeran iblis? °\(♥▿♥)/°
    Sukaa thorrr…..
    D’tgu part selanjutnya….hwaiting…

  2. Keren… keren…
    dari awal aja dah tertarik sama konfliknya… ^^
    Sama tadi ada typo sedikit… tapi tak menganggu kok 😀
    Tau ff ini karena ngeliat di daftar nominee.. XD

  3. hoii bsa dijelaskan gmn kronolpgisnya jisun kenal ama tu devil?
    dan lagi devilnya namanya jonghyunkah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s