He is (not) My Bestfriend – Part 2 (End)

He is (not) My Bestfriend – Part 2 (End)


Author            :           Park Kyungjin

Cast                :           SHINee – Kim Jonghyun

Park Kyungjin

Super Junior – Kim Heechul

Genre              :           Angst, Romance

Rating             :           PG-13

Length            :           Two shot

Disclaimer      :           This story is mine!

Previous         :           Part 1

+++

(Heechul P.O.V)

“Aku tahu kalau sebenarnya kau sudah mempunyai namjachingu. Tapi, tidak bisakah kau memberiku kesempatan? Menjadi kekasih gelapmu juga tidak apa-apa” aku memberanikan diri untuk menyatakan perasaanku padanya. Hhh, sebenarnya aku sendiri juga bingung. Awalnya aku hanya ingin membuat si Jonghyun itu merasa kehilangan. Tapi lama kelamaan, aku malah tidak bisa menampik perasaanku pada yeoja yang ada di sampingku ini. Aku hanya bisa terdiam menunggu jawaban yang mungkin akan keluar dari bibirnya itu, tidak berani menatapnya.

Beberapa saat kemudian, aku akhirnya menyadari betapa bodohnya diriku ini. Hhh, biar sajalah. Lagipula apa ruginya?

“Oppa?” hanya itu kata-kata yang akhirnya bisa keluar dari mulutnya. Yeah, aku tahu. Pasti akan berujung seperti ini.

+++

(Kyungjin P.O.V)

Astaga. Apa aku benar-benar tidak salah dengar? Heechul oppa, menyatakan perasaannya padaku?

Tapi… Tapi… Aku sungguh tidak mengerti jalan pikirannya. Padahal dia sendiri tahu kalau aku sudah memiliki Jonghyun. Bahkan ia rela menjadi kekasih gelapku? Aigo… Ottokhe?

“Oppa?” sekali lagi aku ingin memastikan apa yang telah ia katakan barusan. Ia akhirnya menoleh ke arahku yang tadinya hanya menatap kosong ke arah langit hitam.

“Wae? Ada yang salah?” tanyanya padaku dengan ekspresi yang biasa-biasa saja.

“Harusnya kau tidak pernah berkata seperti itu padaku oppa…” kataku dengan nada dingin.

“Bukannya hal itu wajar? Bukan salahku kalau akhirnya aku malah menyukaimu…”

“Jonghyun itu sahabatmu kan?”

+++

(Heechul P.O.V)

“Jonghyun itu sahabatmu kan?” tanyanya dengan tatapan menyelidik. Cihh, sial! Kenapa harus ada namja itu lagi! Sungguh, aku benar-benar sudah muak mendengar siapapun yang mengingatkanku padanya.

“Kyungjin, untuk saat ini aku tidak peduli apapun yang bisa menghalangiku untuk menyatakan perasaanku padamu. Dengarkan aku, aku mencintaimu. Dan ingat, aku sungguh tidak peduli bahkan dengan Jonghyun sekalipun…” aku yang sudah kesal dengan situasi yang seperti ini akhirnya hanya bisa memberikan pengertian padanya. Tanpa sadar aku mulai memegang tanggannya. Ku lihat ia sangat kaget mendengar perkataanku barusan. Aish…

Brakkkk!!

Tiba-tiba terdengar suara gaduh dari arah belakangku.

+++

(Jonghyun P.O.V)

Ckck, miris sekali. Aku memang sudah berpacaran dengan Kyungjin, tapi aku sendiri jarang berduaan dengannya layaknya sepasang kekasih. Aish…

Dan jadilah sekarang aku hanya bisa pergi ke toko buku itu seorang diri. Padahal aku sangat ingin pergi dengannya. Tadinya aku juga berencana untuk mengajaknya makan malam.

Aku menapakkan kakiku dengan malas di sepanjang jalan menuju toko buku. Entah mengapa malam ini aku tidak ingin menggunakan kendaraanku sendiri. Aku lebih memilih untuk menumpang di bus dan turun di tempat yang masih jauh dari tempat tujuanku itu.

Entahlah. Aku hanya ingin menghabiskan malam ini lebih lama dengan berjalan kaki. Lumayan, setidaknya dengan melihat hiruk pikuk kota Seoul di malam hari, kekosongan hatiku sudah sedikit terisi.

Aku menapaki jalan demi jalan, gedung demi gedung hingga akhirnya sepasang mataku ini menangkap sesuatu yang sudah sangat familiar bagiku.

“Itu kan mobil Heechul?” gumamku pada diriku sendiri. Ya, aku sangat yakin kalau itu adalah mobil Heechul. Mobil itu terparkir di sebuah gedung pemancar stasiun televisi yang sangat tinggi itu. Hmm, ada apa Heechul datang ke tempat ini?

Rasa penasaranku akhirnya membawaku untuk semakin mendekat ke mobil itu. Aku mulai melihat-lihat ke bagian dalam mobil itu. Hmm, kosong.

Tiba-tiba aku tersadar akan suatu hal. Bukannya tadi Kyungjin ada janji dengan Heechul? Jadi bisa dibilang, sekarang mereka ada di dalam?

Aku jadi semakin penasaran. Aku akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam gedung itu. Ck, gedung ini besar sekali. Akhirnya aku kerepotan sendiri mencari-cari dimana keberadaan mereka.

Aku menyusuri ruangan demi ruangan dan kebetulan seseorang lewat di depanku. Aku memutuskan untuk bertanya padanya.

“Annyeonghaseo… Maaf mengganggu sebentar…”

“Ne, tidak apa-apa” jawab nona itu.

“Begini, ada yang ingin ku tanyakan. Apakah anda melihat dimana pemilik mobil yang terparkir di luar gedung itu?” tanyaku seraya menjelaskan padanya. Semoga saja nona ini mengetahuinya.

“Ah, kalau tidak salah memang tadi ada dua orang yang bukan pegawai kami masuk ke gedung ini. Mungkin saja mereka orang yang kamu maksud…”

“Ne, mereka memang berdua. Satu namja dan yang satunya lagi seorang yeoja…”

“Ah, ne. Namja berambut coklat itu kan?”

Aku menganggukkan kepalaku kuat-kuat. Nona itu lalu melanjutkan perkataannya.

“Sepertinya mereka berdua sedang ada di atap gedung ini…” katanya sambil menunjuk-nunjuk ke atas.

“Ah, ne. Gamsahamnida…” kataku seraya membungkuk padanya dan berlalu dari hadapannya.

Dengan cepat aku mencari jalan menuju ke atap gedung ini. Pikiran mulai tidak karuan. Untuk apa Heechul mengajak Kyungjin ke tempat itu?

Akhirnya aku tiba di atap gedung yang tinggi itu. Ada sedikit perasaan aneh saat aku melihat atap ini. Maksudku, tempat ini begitu gelap. Hanya cahaya bintang dan lampu jalan yang meneranginya samar-samar dari arah bawah. Aku membuka pintu menuju atap itu perlahan dan mulai mencari-cari sosok mereka.

Aku mulai tidak yakin apa mereka benar-benar berada di tempat. Namun sedetik kemudian ketidakyakinanku itu langsung terjawab saat aku mendengar suara percakapan dari arah yang tidak terlalu jauh dari tempatku berdiri.

“Kyungjin, untuk saat ini aku tidak peduli apapun yang bisa menghalangiku untuk menyatakan perasaanku padamu. Dengarkan aku, aku mencintaimu. Dan ingat, aku sungguh tidak peduli bahkan dengan Jonghyun sekalipun…” aku mendengar penggalan kalimat yang ku yakin berasal dari mulut Heechul.

Mwo?! Apa aku tidak salah dengar?!

Dengan cepat aku mendekat dan melihat mereka dengan jelas sedang duduk-duduk di pinggi atap itu.

Brakkkk!!

Aku menendang tumpukan kayu yang ada di atap itu. Perasaanku sudah campur aduk, antara marah, kesal, sedih, dan kecewa. Entahlah, aku tidak terlalu bisa mendeskripsikan semuanya. Yang ku tahu hanya perasaan itu membuatku merasa seperti tercekik.

Heechul dan Kyungjin yang mendengar kegaduhan yang ku timbulkan langsung berbalik ke arahku. Terrlihat ekspresi terkejut dari wajah mereka berdua.

“Katakan kalau aku memang tidak salah dengar…” pertanyaan itu langsung keluar dari mulutku yang ku tujukan pada mereka berdua.

“Jonghyun…” Kyungjin mulai panik dan terlihat ingin bangkit dari posisinya, tapi Heechul malah semakin menariknya dan memaksanya untuk duduk kembali. Apa-apaan ini?

“Hhh, akhirnya kau mengetahui semuanya, Jong…” kata Heechul dengan suara yang pelan.

“Apa maksudmu?” aku sudah semakin tidak karuan.

“Tanyakan saja padanya…” kata Heechul sambil menunjuk Kyungjin dengan dagunya.

“Mwo?! Ah, anni Jonghyun. Biar ku jelaskan…” terdengar nada panik dari suara Kyungjin.

“Ckck… Kau tidak usah menyembunyikannya Kyungjin…” kata Heechul lagi. Sekarang aku merasa kepalaku beserta isinya sudah mulai memanas.

“Oppa! Apa yang kau bicarakan!” Kyungjin mulai membentak Heechul.

“Kalau begitu jelaskan saja padanya…” terlihat senyuman menyeringai dari bibir Heechul.

“Sudah! Apa-apaan kalian ini!” kataku dengan kesal.

Brakkkkkk!!

Aku menendang tumpukan kayu itu sekali lagi, kali ini lebih keras dari sebelumnya. Kepalaku terasa ingin meledak.

Kenapa sahabatku dan yeojachinguku malah mengkhianatiku?!

+++

(Kyungjin P.O.V)

Apa yang sudah terjadi? Kenapa semuanya jadi seperti ini? Kenapa Heechul oppa malah semakin membuat Jonghyun berpikiran negatif, padahal aku tidak melakukan apa-apa.

Aku hanya bisa memandang kepergian Jonghyun yang terlihat tidak bisa mengendalikan diri lagi.

“JONGHYUN-AH!” aku berteriak sekeras mungkin, berharap ia berbalik dan tidak meninggalkanku seperti ini. Percuma, ia malah semakin menjauh dan kini sudah menghilang dari pandanganku sementara Heechul oppa masih terus menahanku di tempat ini.

“Oppa, lepaskan aku!” aku mulai memberontak dan memaksa Heechul oppa untuk melepaskan tangannya dariku, tapi tetap saja Heechul oppa tidak mau melepaskannya.

“Kau harus ikut denganku” sekarang Heechul oppa malah memaksaku berdiri dan mengikuti langkahnya.

“Oppa, kita mau kemana?!”

“Sudah, tenang saja! Kau hanya perlu ikut denganku dan mengikuti semua kemauanku!”

“Oppa!” aku mulai kesal dengan perlakuan Heechul oppa padaku.

Aku mulai sedih. Kemana sosok Heechul oppa yang selama ini ku kenal? Heechul oppa yang ada bersamaku saat ini tidak seperti Heechul oppa yang biasanya. Yang ku tahu Heechul oppa itu adalah orang yang baik dan bersikap lembut. Sekarang, ia malah berubah 180 derajat.

Heechul oppa membuka mobilnya dan memaksaku untuk masuk ke dalam mobil itu. Saat ia sudah duduk di kursi kemudi, Heechul oppa memacu mobilnya dengan cepat.

“Oppa, aku mau pulang!”

Heechul oppa tidak menggubrisku. Ia terus saja mengarahkan pandangannya ke depan sambil terus menambah kecepatan mobilnya.

“OPPA AKU MAU PULANG!” kali ini aku berbicara dengan volume suara yang lebih keras, bahkan terdengar seperti membentak.

“DIAM!” hanya itu yang keluar dari mulut Heechul oppa. Singkat, jelas, namun sanggup untuk membuat hatiku merasa tertusuk. Ia memang betul-betul sudah berubah.

Tanpa sadar butir-butir air mata mulai menggenangi pipiku. Aku terisak sebisa mungkin, berharap semua rasa sesak yang mengganjal di hatiku bisa keluar bersama air mataku ini.

+++

“Sudah sampai” kata Heechul oppa santai. Ia turun dari mobil dan berjalan menuju pintu yang ada di dekatku, lalu menyuruhku untuk turun dan ikut dengannya.

“Di mana ini?” aku bertanya pada Heechul oppa sambil masih terus terisak.

“Sudahlah, jangan menangis seperti itu” katanya seraya menarikku untuk masuk ke sebuah rumah.

Aku mengedarkan pandanganku ke sekililing rumah ini. Rumah yang sangat besar, tapi sepi.

“Selamat datang di rumahku, anggap saja seperti rumah sendiri” kata Heechul oppa berbasa-basi.

“Oppa, ku mohon, aku ingin pulang. Hari sudah terlalu larut…” kataku dengan sangat memelas pada Heechul oppa.

“Ckckck…” ia berdecak sebentar, lalu melanjutkan kembali perkataannya, “sekarang kau sudah ada di sini, Kyungjin-ah, dan asal kau tahu, siapapun yang sudah masuk ke istanaku ini, ku jamin tidak akan bisa keluar lagi sebelum aku yang mengizinkannya…”

“Hah?! Oppa, JANGAN GILA! AKU INGIN PULANG SEKARANG JUGA!” aku membentaknya lalu segera meninggalkannya menuju pintu keluar, namun tiba-tiba Heechul oppa kembali menarik tanganku dan menahanku untuk tidak pergi.

“Jangan pergi…” bisiknya lirih padaku.

“Andwae, oppa… Andwae…” kataku pelan sambil menggeleng-gelengkan kepalaku. Air mataku sudah mengalir dengan sangat deras dan tidak bisa ku bendung lagi.

Heechul oppa lalu menghapus air mataku dengan tangannya.

“Ssssshht… Ssshhtt… Jangan seperti itu… Aku sama sekali tidak berniat untuk menyakitimu. Andai saja tadi kau mau memenuhi permintaanku, mungkin tidak akan seperti ini jadinya”

Kata-katanya barusan hanya membuatku semakin menangis. Jonghyun, tolong aku…

“Aku tidak suka melihatmu menangis seperti itu, apalagi kalau aku yang harus membuatmu menangis” katanya lagi lalu merengkuhku masuk ke dalam pelukannya.

Aku ingin memberontak, tapi tubuhku ini serasa kehabisan tenaga. Akhirnya aku hanya bisa pasrah. Bukannya menjadi tenang, aku malah semakin merasa sesak di dalam pelukannya.

+++

Heechul oppa menyuruhku untuk tinggal di rumahnya. Astaga, apa-apaan ini? Ia membuatku serasa terkurung di dalam rumahnya. Ini sama saja dengan penculikan!

Ia menyuruhku untuk tidur di kamar tamu. Hhh, aku takut sekali. Sejak tadi aku belum bisa tidur. Bagaimana tidak, aku selalu dihantui oleh perasaan was-was. Lagipula, siapa yang bisa tertidur dalam keadaan seperti ini? Padahal meskipun belum pernah melihat jam, aku sangat yakin bahwa sekarang sudah sangat larut malam.

Heechul oppa benar-benar mengurungku. Aku sama sekali tidak memiliki cela untuk lari dari tempat ini. Tiba-tiba aku jadi memikirkan sesuatu. Kenapa aku tidak minta tolong pada Jonghyun saja?

Eh, tapi Jonghyun sedang marah padaku. Bagaimana agar ia bisa kembali percaya pada semua perkataanku?

Aish, lebih baik aku mencobanya saja. Aku mengambil ponselku lalu menekan sejumlah nomor yang sudah ku hapal.

Tuuutttt… Tuuuutttt…

Tidak ada jawaban.

Tuuuttttt… Tuuuuuttttt…

Tuutttttttt tuutttttttt tuuuuuuutt…

Aish… Jonghyun tidak ingin mengangkat teleponku. Ottokhe?

Oh, lebih baik aku mengiriminya pesan singkat saja.

+++

(Jonghyun P.O.V)

Aku meraih ponselku yang bordering sedari tadi dengan malas. Huh, telepon dari Kyungjin. Ck, pasti dia ingin mencari-cari alasan agar aku bisa kembali percaya padanya.

Aku membanting kembali ponselku dengan asal ke atas tempat tidurku. Malam ini aku tidak bisa tidur. Entah mengapa aku merasa mataku sangat sulit terpejam. Pikiranku sudah dipenuhi oleh berbagai masalah yang kuhadapi hari ini.

Tiba-tiba aku merasakan ponselku kembali bordering. Ada pesan masuk.

Jonghyun-ah, kumohon tolong aku…

Heechul oppa mengurungku di dalam rumahnya…

Aku menunggu kedatanganmu…

Ternyata dari Kyungjin. Ckck, apa maksud dari isi pesannya ini? Huh, sekarang yeoja itu malah tinggal di rumah Heechul… Hebat…

+++

(Heechul P.O.V)

Tak terasa hari sudah pagi. Aku membuka mataku dan mencoba untuk memulihkan kembali kesadaranku sehabis bangun tidur. Aku jadi teringat seseorang. Kyungjin.

Aku melangkah menuju kamar tempat aku menyuruh Kyungjin untuk tidur.

Tok tok tok…

Aku menunggu reaksinya, tapi lama kelamaan ia tidak menyahut.

Tok tok tok…

Aku mencoba untuk mengetuk pintunya kembali, namun tetap saja, tidak ada jawaban dari dalam sana.

Klik…

Aku memutar gagang pintu dan membuka pintunya lebar-lebar.

“Kyungjin?” aku sedikit kaget melihat keadaan Kyungjin pagi ini. Dia duduk sambil menekuk lututnya di atas tempat tidur, namun ia sama sekali tidak bergerak. Aku berjalan mendekat ke arahnya.

“Kyungjin?” aku mencoba untuk mengguncang-guncang bahunya. Ia tetap tidak mau bereaksi. Ia hanya menatap lurus ke depan dengan pikiran yang kosong. Aku memperhatikan wajahnya. Astaga, wajahnya pucat sekali. Matanya juga terlihat bengkak, dan disekitar matanya menghitam.

“Astaga, Kyungjin kau kenapa?!” aku mulai panik melihat keadaannya. Ku cek dahinya sekali lagi, ckck, suhu badannya tinggi sekali. Aku terus-terusan mencoba untuk menyadarkannya.

“Jonghyun-ah…” tiba-tiba ia berkata lirih sambil tersenyum padaku.

“Anni, Kyungjin. Ini aku, Heechul!”

“Jonghyun-ah, aku sudah yakin kau pasti akan datang… Gomawoyo…” katanya dan tak lama kemudian, ia langsung pingsan.

“Kyungjin!” aku semakin panik. Tanpa pikir panjang, aku membawanya ke rumah sakit terdekat.

+++

Tuuuuttttt… Tuutttttttu…

“Ada apa kau meneleponku, mau mengkhianatiku lagi huh?” jawab Jonghyun di seberang telepon.

“Ku mohon jangan bahas masalah itu dulu. Sekarang juga kau harus menemui Kyungjin! Kondisinya sedang memburuk!”

“Aku tidak peduli”

“Brengsek!”

“Kau yang brengsek!” jawab Jonghyun tak kalah sengit.

“Oke oke, terserah apa katamu, yang jelas sekarang aku cuma ingin memberitahumu kalau Kyungjin sedang membutuhkanmu! Aku tunggu kedatanganmu di rumah sakit dekat kampus!” aku mencoba meredam emosiku.

“Sudah ku katakan, aku tidak peduli!”

Klik.

Ia memutuskan sambungan teleponnya. Arrgghh, sial!

Akhirnya aku menemui Kyungjin yang sedang terbaring lemah di atas tempat tidur rumah sakit itu.

“Kyungjin, mianhae…” kataku sambil membelai lembut rambutnya. Sungguh, aku tidak tahu akan seperti ini jadinya. Ku lihat setetes cairan bening keluar dari ujung matanya.

“Kyungjin, kau makan dulu ya…” kataku sambil mencoba untuk menyuapinya, tapi ia tetap tidak mau membuka mulutnya. Gawat, sudah seharian dan bahkan sejak semalam Kyungjin sama sekali belum makan apa-apa.

“Ku mohon Kyungjin, kau harus makan…” kali ini aku menyodorkan sendok itu ke mulutnya, tapi tiba-tiba ia menolaknya dan membuat sendok itu terjatuh di lantai.

“Baiklah, aku mengaku salah… Mianhae, Kyungjin…” aku menyerah. Aku akhirnya memilih untuk meninggalkannya sendirian di kamar.

+++

(Kyungjin P.O.V)

Aku sudah tidak peduli. Walaupun Heechul oppa terus berusaha untuk membuatku makan, aku tetap tidak akan makan. Lebih baik aku mati saja daripada aku terus seperti ini.

Akhirnya Heechul oppa menyerah dan meninggalkanku sendirian di kamar. Aku hanya bisa menangis dan menangis. Aku mencoba untuk memejamkan mataku. Batin ini terasa letih untuk menanggung semuanya. Kenapa semua ini harus terjadi padaku?

“Pabo, kenapa tidak ingin makan huh?” tiba-tiba muncul suara seseorang yang sangat ingin kutemui. Aku membuka mataku dan seketika aku melihat Jonghyun sudah berdiri di samping tempat tidurku sambil tersenyum ke arahku.

“Jonghyun-ah, akhirnya kau datang juga…”

+++

(Heechul P.O.V)

Kini aku sadar bahwa cinta itu memang tidak bisa dipaksakan. Betapa bodohnya diriku, padahal aku sendiri tahu bagaimana rasanya menjalani sesuatu itu dengan paksaan. Seperti halnya appaku yang memaksaku untuk berkuliah di fakultas kedokteran padahal aku sendiri sama sekali tidak memiliki bakat di bidang itu.

Alhasil, di tahun terakhirku berkuliah ini, aku tidak bisa lulus. Pihak universitas sudah memberikan surat tanda pengeluaran terhadap diriku. Appaku sangat kecewa denganku, tapi aku sudah berhasil meyakinkannya. Sekarang, aku akan mencoba untuk membangun kembali hidupku sendiri. Hidup  yang akan ku jalani dengan sepenuh hatiku. Aku meminta untuk dikuliahkan pada jurusan hukum, seperti cita-citaku. Meskipun terlambat, aku tetap akan mencobanya, karena ku rasa, di situlah jiwaku.

Memang benar, segala sesuatu yang dipaksakan itu tidak akan berakhir dengan baik. Tidak seperti cinta Kyungjin dan Jonghyun yang lahir secara alami, tanpa adanya paksaan dari pihak masing-masing. Tidak ku bayangkan kalau sekarang aku masih memaksa Kyungjin untuk bersamaku, pasti kebahagiaan itu hanya mimpi belaka. Sekarang aku sudah merelakan mereka untuk hidup bahagia sesuai dengan keinginan mereka masing-masing. Aku hanya perlu mencari sosok yang tepat untuk diriku.

THE END


Hueeeeeeee.. akhirnya selesai juga.. -_____-

Mian ya,, jadinya malah jelek.. *bow*

Maafkan author pabo ini yang membuat chingu2 sekalian menunggu sedangkan hasilnya tidak maksimal.. jeongmal mianhae.. *bow again*

Komen chingu2 sekalian sangat dibutuhkan.. Jangan jadi silent reader ya.. ^^ gomawo yang udah mau baca n komen.. ^^

I LOVE YOU ACTIVE READERS.. ^^

Advertisements

15 responses to “He is (not) My Bestfriend – Part 2 (End)

  1. aku first..??
    yeahh!!

    huwaaaaa…!!!
    akhirnya.. heechul sadar,,
    yahh! chukkae wat jonghyun ma kyungjin.. *?*
    keren..!!!
    nice ff..!!
    ditunggu sekuel jjongnya yg lain ya..!!

  2. heechul jahaaaat tp aku sukaaaa haha X)
    Jrang2 chul dpt karakter jhat kyx gini..
    untung aj dy sdar..
    jjong-kyungjin baikan lg,tp ending.a berasa ‘sediikiiit’ krg greget..
    tp ak suka kok 😀

  3. Woy, dais.. akhrnya sy m’bc ffmu ini. hhaha, kusuka. emg kan, yg nmnya jodoh g bkln lari kmn. meskipun awalnya mo dksh angst asli, tp syukurlah pd akhrnya mrk ttp sm2. n sy nd jd mogok bc ffmu, wkwk
    tp kok endingnya krg gmn gt.. mqa short storynya ttg hub klian stlh d rmh skt, biar cm bbrp paragraf. tp b’hub mmg dlm tahap p’selesaian smw ff, yah mo bmn lg. *drajamdyu
    skian komen sy. annyeong..!

    • aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
      saya bukan blingers!!
      dasar ff gagal~
      kenapa malah pasangan ama si ojong~
      kyaaaaaaaaaaa.. DX *plakkk!!*
      tak akan ada kisah cinta jonghyun kyungjin lagi~
      huweeeeeeeeeee.. T0T

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s