[Freelance] Say it just for me 3

Say it just for me 3 (freelance)

Author : Renz

Genre : Romance, Friendship

Rating : Teenager

Cast : Seon woo, Choi Minho [Shinee], Lee Donghae [Super junior]

Aiii….Ini dia part 3 dari say it just for me. Miannn banget ea kalau jelek. Hehehe. Seperti biasa author ingatkan “Please don’t be silent reader” cz untuk part selanjutnya tergantung dari para reader semua perlu gak sie dilanjutin. Selamat membaca.. ^0^

Previous: Part 1, Part 2

Minho POV

Seon turun sambil menatap stadion dengan bingung. “Apa kita akan menonton pertandingan??” tanyanya mengalihkan pandangan ke arahku. “Sepertinya sedang tidak ada pertandingan” dia menunjuk stadion yang sepi.

Aku hanya tersenyum penuh rahasia dan menarik tangannya. “Kajja..”

Dengan cepat kutarik tangannya menuju pintu masuk stadion. Dalam stadion sudah ramai dengan anak-anak yang sedang berlatih sepakbola. Kuhampiri seseorang yang sedang sibuk melakukan pemanasan. “Hyung..” sapaku sambil tersenyum lebar. Donghae hyung menghentikan kegiatannya dan menatapku, sebuah senyum muncul di bibirnya.

“Minhooo.. gwenchana?? Lama tidak berjumpa. Apa yang membawamu ke sini??” katanya dengan semangat sambil memelukku. “Ahh sepertinya aku tau apa yang membawamu ke sini.” Hyung melepas pelukannya dan melirik seon yang ada di sebelahku. Matanya menatapku jail, melirik tanganku yang menggenggam erat tangan seon.

Aku hanya tertawa dan segera melepas tangan seon. Aku tidak sadar kalau terus menggenggam tangannya. “Kenalkan hyung, ini seon.”

“Seon woo imnida” seon mengulurkan tangannya sambil tersenyum pada donghae hyung.

“Lee donghae imnida. Panggil saja hae atau hae oppa juga boleh. Hahaha” hyung menjabat tangan seon dan tersenyum hangat.

Dalam sekejap saja mereka sudah terlihat akrab. Mereka tampak senang membicarakan sesuatu yang tidak kumengerti. “Hyung, dia ini yeojachinguku” kataku cepat tanpa sadar. Entah kenapa, aku tidak suka melihat mereka berdua begitu akrab.

Hyung menoleh dan tertawa melihatku. “Ohh sepertinya ada yang cemburu. Hahaha. Tenang saja, aku tidak akan mengambil gadismu” kata hyung santai, memukul bahuku pelan. “Jadi apa kamu akan menunjukkan kebolehanmu pada yeojachingumu ini??”

Aku menoleh menghadap seon. “Kamu duduk saja di tribun penonton” aku menunjuk kursi penonton yang berada paling depan. “Kamu pasti akan terpesona melihatku. Lihat saja” candaku sambil tertawa sebelum dia mengatakan sesuatu.

Seon mengerjapkan matanya dan tertawa. Ini pertama kalinya aku mendengarnya tertawa. “Yah..buktikan saja. Kalau kamu tidak bisa membuatku terpesona, kamu harus mentraktirku” katanya sambil tersenyum dan berjalan pergi menuju tribun penonton.

Aku menatapnya yang berjalan menjauh dan bergegas menuju ke kamar ganti. Waktunya menunjukkan kebolehan.

Aku bermain satu tim dengan hae hyung dan bertugas sebagai striker. Selama permainan aku terus melirik ke arah seon yang tampak serius melihat kami bertanding. Dia tampak melonja-lonjak kegirangan ketika aku berhasil memasukkan 1 bola ke gawang tim lawan. Sesekali dia berteriak memberi kami dukungan, membuatku semakin bersemangat. Aku tidak ingin terlihat jelek di depannya.

Tim kami mendapat kemenangan mutlak, 2-0 untuk tim kami. Begitu kami selesai, seon segera berlari ke lapangan. “Hwahhh selamatt!!!. Kalian benar-benar hebat. Tidak kusangka sepakbola bisa semenarik ini” katanya penuh semangat ke arahku dan hyung. Matanya tampak berbinar-binar.

“Sepakbola yang menarik atau pemainnya??” goda hyung ke arah seon sambil tertawa melihat pipi seon yang mulai memerah. “Aku duluan ya” hyung melambaikan tangannya ke arah kami dan berjalan pergi menuju kamar ganti.

Aku melirik seon yang tampak gugup. Dia menundukkan kepala, menutupi pipinya yang memerah. Dia terlihat sangat manis jika seperti itu. “Jadi apa kau sudah terpesona padaku??” kataku dengan nada jail sambil menundukkan kepala, berusaha melihat wajahnya.

Seon mengangkat kepalanya. “Ne.. aku sudah terpesona padamu.” katanya dengan lembut sambil menatapku.

Aku hanya diam menatapnya, tidak menyangka jawaban yang dia berikan. Matanya yang menatapku lekat membuatku gugup. “A…a…aku..”

Seon tersenyum dan sebuah tawa keluar dari bibirnya. “Seharusnya kamu lihat wajahmu sekarang. Hahaha.” Dia membungkukkan badannya sambil memegang perut. Tertawa terbahak-bahak.

Aku mengerjapkan mata dan tersenyum masam. Aishh!! Dia mengerjaiku. Apa dia tidak tau bahwa jantungku hampir berhenti berdetak mendengar kata-katanya. Siall!!

Ehh~tunggu dulu. Kenapa jantungku harus berdetak kencang hanya karena mendengar kata-katanya?? Ahh~mungkin aku terlalu kaget saja. Yah pasti karena itu.

Dengan kesal aku segera berjalan ke kamar ganti, tidak memperdulikan panggilannya. Begitu aku keluar dari kamar ganti, dia segera mendekatiku. “Miann.. jangan marah dong. Aku kan hanya bercanda. Hehehe” katanya sambil tersenyum menahan tawa. Dia berlari kecil mendekatiku yang mulai berjalan menjauh.

Aku berhenti dan menoleh ke arahnya. “Baiklah kumaafkan, tapi kamu harus mentraktirku. Kamu sudah terpesona padaku kan” kataku sambil tertawa. Seon menatapku dan ikut tertawa. “Baiklah.. aku memang terpesona padamu, meskipun hanya pura-pura. Jadi aku harus mentraktirmu dimana??” tanyanya dengan santai, mengikuti langkahku menuju pintu keluar.

“Kita ke..”

Drrt..drttt

Belum sempat aku menyelsaikan omonganku, handphoneku bergetar. Tanpa melihat nama yang tertera, aku segera mengangkatnya. “Yoboseyo?? Appa??”

Seon Woo POV

“Yoboseyo?? Appa??”

Aku menengok ke arah minho. Nada suaranya tampak terkejut ketika mendengar suara seseorang di seberang sana. Keningnya berkerut dan wajahnya tampak tegang. Dia menoleh ke arahku dan menunjuk handphonenya. Aku mengangguk, membiarkannya menjauh untuk menjawab telepon.

Aku memperhatikan selama dia menerima telepon. Tangan kirinya terkepal dan otot-otot lehernya tampak menonjol. Sepertinya di berusaha menahan marah. Apa yang membuatnya begitu marah??

Dia menutup hanpdhonenya dengan kasar dan menghembusakan nafas panjang. Dia menoleh ke arahku dan tersenyum samar. “Kajja..”

Aku tidak berani bertanya apapun padanya. Dalam perjanjian ditulis bahwa aku tidak boleh mencampuri urusan pribadinya, tapi aku tidak suka melihat wajahnya yang murung. Dia hanya diam setelah menerima telepon  itu. Sesekali dia menghembuskan nafas berat dan pandangannya terlihat menerawang. Apa yang bisa kulakukan??

Sepertinya aku tau apa yang harus kulakukan.  Aku menghentikan langkahku dan menoleh ke arahnya. “Ayo kita pergi..” kataku dengan semangat sambil menarik tangannya.

Minho mengerjapkan matanya dan menatapku dengan bingung. “Kemana?? Motornya??” dia menunjuk motornya yang ada di tempat parkir.

Aku menatapnya dan tersenyum. “Kita akan bersenang-senang.. Kajja..” Dengan cepat kutarik tangannya dan berjalan pergi menjauh dari stadion.

——————–

“Apa ini??” tanyanya dengan nada penasaran menatap makanan di tangannya.

Aku hanya tertawa melihatnya yang terus menatap makanan di tangannya dengan penasaran. “Ini namanya gulali. Kamu belum pernah mencobanya??” kataku sambil memasukkan gulali yang ada di tanganku ke dalam mulut. Minho menggelengkan kepalanya dan menatap gulali di depannya.

Saat ini kami sedang berjalan menyusuri pusat seoul yang penuh dengan toko-toko dan pedagang yang menjual berbagai macam makanan dan souvenir. Kami sudah berjalan kesana kemari hampir satu jam. Menikmati segala keramaian di sekitar dan mencoba berbagai hal yang baru. Minho tampak benar-benar menikmatinya. Dia terus mengamati sekitarnya dengan penuh minat, senyum tidak pernah lepas dari bibirnya. Sepertinya dia sudah melupakan masalahnya. Syukurlah.

“Cobalah…” bujukku yang melihatnya masih memandang gulali di tangannya dengan ragu.

Dia menatap gulali di tangannya dan mulai memakannya. “Manissss…” serunya sambil tersenyum senang menatapku.

Aku tertegun melihat senyumnya. Entah kenapa, tiba-tiba saja jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya. Ada apa denganku??  Apa karena aku belum makan sejak pagi?? Yah itu pasti karena aku belum makan.

“Waeyo??” tanyanya sambil menggoyangkan tangannya di depan wajahku. Aku tersentak dan memandang wajahnya yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahku.

DEG!! “Ani…” kataku sambil menggelengkan kepala, tanpa sadar mengambil langkah mundur. Minho mengernyit melihatku yang menjauh darinya. “Aku lapar. Ayo kita makan.” kataku sambil menunjuk ahjussi penjual makanan, berusaha menghindari pandangan matanya. Aku benar-benar butuh makan. Sepertinya jantungku mulai tidak beres.

Kami membeli gimbap dan ddeokboki masing-masing 1 porsi, kemudian berjalan menuju taman. Taman itu berada tidak jauh dari pusat seoul dan tidak terlalu besar, tapi tempatnya sangat nyaman. Pohon-pohon berjejer memutar mengelilingi sebuah kolam yang jernih. Kami melangkah menuju salah satu bangku panjang yang ada di dalam taman.

“Tempat ini benar-benar nyaman. Aku pasti akan sering datang ke sini. Ini akan menjadi tempat favoritku.” kataku dengan semangat sambil memandang sekeliling taman. Minho mengambil tempat duduk di sebelahku, ikut memandang sekeliling taman.

“Lain kali kita bisa kesini lagi.” katanya dengan santai.

Aku menoleh ke arahnya dengan ragu. “Kita???”

“Tentu saja aku dan kamu. Apa kamu akan membiarkanku pergi sendiri?? Tempat ini akan menjadi rahasia kita berdua.” katanya sambil tersenyum mengulurkan jari kelingkingnya ke arahku.

Aku menatapnya dan mengaitkan jari kelingkingku. “Rahasia..” kataku membalas senyumnya. “Saatnya makan..” aku melepas jari kelingkingku dan mulai membuka bungkus makanan di depanku. Berusaha mengabaikan detak jantungku yang mulai menggila. Aku harus segera makan.

Aku menghabiskan waktu hampir 1 jam hanya untuk menyelesaikan makananku. Berulang kali aku berusaha menelan makananku dengan benar selama minho ada di sampingku. Dia terus menerus membuatku tertawa dan hampir tersedak. Jadi aku harus berhenti makan demi keselamatan. Detak jantungku juga mulai berjalan normal. Sepertinya aku memang kelaparan.

Tes..tes..tes..

Tiba-tiba hujun turun, membuatku dan minho harus berlari menuju slah satu toko yang tutup. Berteduh dari hujan yang turun makin deras. Aku menggigil, menyadari tubuhku yang basah kuyup.

Aishh!! Bisa-bisanya aku lupa membawa jaket. Paboo!!

“Jika seperti ini kamu bisa sakit…” kata minho lembut, melepas jaketnya dan memakaikannya ke tubuhku. Aku hanya diam, memakai jaket yang diberikan minho padaku. Menyadari kehangatan dari jaketnya yang membuatku nyaman tanpa kusadari. “Gomawo..” gumamnya pelan.

Aku menoleh ke arahnya dengan bingung. “Untuk apa??”

Dia menghadapku dan tersenyum hangat, membuatku tanpa sadar menahan nafas. “Aku tau kamu berusaha untuk membuatku senang, melupakan masalahku. Gomawo..” katanya lembut dan kembali memandang hujan yang turun.

Aku memegang dadaku erat. Menyadari detak jantungku yang mulai berpacu kencang dan sepertinya untuk waktu yang lama.

————————–

Pernahkah kamu merasa begitu nyaman berada di dekat seseorang yang baru kamu kenal. Aku baru saja mengenalnya kurang dari 2 minggu, tapi hanya ada di dekatnya saja membuatku merasa nyaman dan hangat. Aku mulai menikmati peranku di sebelahnya. Menikmati senyum, tawa, dan caranya memandangku. Aku mengerti arti perasaan ini, tapi aku tidak ingin mengakuinya. Itu hanya akan membuatku kehilangannya.

~ 2 week later ~

“Seon..” Aku menengok ke arah suara itu berasal. Minho berlari kecil menuju tempatku berdiri, sebuah senyum keluar dari bibirnya. “Apa yang sedang kamu lakukan??”

“Mencari buku referensi matematika” jawabku sambil menunjuk ke arah meja di sebelahku. Lima buah buku matematika tebal –cukup untuk membuatmu stress- sudah bertumpuk di sana. Aku mengambil dua buah ensiklopedia matematika dan menaruhnya di tanganku. Berjalan menuju rak selanjutnya.

“Untuk apa??” tanyanya dengan bingung. Wajahnya mengernyit melihatku yang mulai mengambil dua buah buku lagi.

“Tugas choi seonsangnim. Aku disuruh membuat lima makalah matematika dengan tebal masing-masing 100 halaman.” Aku menghela nafas berat mengingat hukuman yang sempat tertunda menjadi neraka buatku. *masih ingat kejadian tidur di kelas. Sepertinya seonsangnim masih mengincarku. Benar-benar sial.*

“Lima!! Waeyo??” minho menatapku yang sekarang sudah meletakkan semua buku itu dan duduk di kursi. Membuka semua buku yang ada di hadapanku.

Aku menatapnya ragu. Apa aku harus menceritakannya?? Dia pasti akan tertawa. “Aku tidak akan tertawa. Aku kan menahan mulutku” katanya sambil tersenyum geli melihat ekspresiku.

“Aku ketiduran di kelas ketika pelajaran choi seonsangnim”

Minho mengerjapkan matanya dan tertawa keras. Tuh kan, dia pasti tertawa. Menyebalkan!! Seharusnya tidak kukatakan saja.

Beberapa orang menoleh ke arah kami dan terlihat kesal. Minho menutup mulutnya, berusaha menahan tawa yang terus keluar dari mulutnya. “Kamu tidur di kelas choi seonsangnim. Hahaha. Benar-benar hebat. Hahaha”

Aku melotot ke arahnya, memutuskan untuk tidak memperdulikannya. Kembali memusatkan perhatian dengan berbagai buku matematika –yang aku yakin bisa membuatku gila dalam sekejap- di hadapanku. Minho duduk di sebelahku, senyum geli masih muncul di bibirnya.

“Bagaimana kalau kubantu??” tawarnya padaku. Aku menengok ke arahnya dengan curiga. Apa yang sedang direncanakannya??

Dia melipat tangannya di depan dada, memandangku pura-pura kesal. “Kenapa kamu selalu berpikiran jelek tentangku sih?? Aku benar-benar ingin membantu. Lagipula sepertinya kita perlu menunjukkan kemesraan lagi.” katanya sambil mengedip jail. Dia mendekatkan kursinya ke arahku. “Jagiyaaa.. bagaimana kalau aku membantumu mengerjakan tugas. Nanti pulang sekolah ke rumahku saja.” katanya dengan suara keras, membuat seluruh penghuni perpustakaan menoleh ke arah kami. Kali ini bukan dengan pandangan kesal tetapi penasaran.

Wajahku memanas seketika. Entah kenapa, sejak hari itu jantungku terus berdetak tidak normal setiap berada di dekatnya. Membuatku harus berjuang ekstra keras untuk mengendalikan pipiku yang memerah tiba-tiba.

“Tumben kamu diam saja. Jangan bilang kamu jatuh cinta padaku” guraunya sambil tertawa, mencubit pipiku.

“Aish~sakit tau. Kenapa sih kamu selalu mencubit pipiku?? Mana mungkin aku jatuh cinta padamu.” kataku dengan santai, berusaha menyembunyikan kegelisahan dalam hatiku. Aku tidak bisa seperti ini terus. “Jadi kamu serius akan membantuku??”

“Tentu saja. Nanti pulang sekolah aku akan menunggu di pintu gerbang. Jadi jangan terlambat, aku tidak suka menunggu. Kalau begitu lebih baik aku ke kelas sekarang. Aku tidak mau mendapat hukuman dari choi seonsangnim. Hahaha” Dia segera berlari pergi begitu melihatku yang menatapnya kesal sambil tertawa keras.

———————

“Jadi hari ini kamu akan pulang bareng minho??” tanya hyo na sambil menatapku lekat.

Aku menganggukkan kepala. “Ne.. dia bilang akan membantuku mengerjakan tugas. Semoga saja bisa cepat selesai dengan bantuannya.” Kulirik jam tanganku yang mulai menunjukkan pukul 1 tepat, sebentar lagi waktunya pulang. Dengan cepat kumasukkan semua bukuku ke dalam tas. Aku tidak boleh terlambat.

“Hmmm..Apa kamu tau seon?? Akhir-akhir ini kamu terlihat seperti seorang gadis yang sedang jatuh cinta. Sepertinya kamu benar-benar menikmatinya ya..” kata hyo na dengan pandangan menyelidik ke arahku. Sebuah senyum menggoda muncul di bibirnya.

Aku mengalihkan pandangan, mencoba menyembunyikan kegelisahanku. “Aishh!! Apa yang kamu katakan. Aku hanya menjalankan tugas hyo na, tidak lebih. Sudahlah aku harus segera ke pintu gerbang. Dia bisa mengomel kalau aku telat.”

Aku segera memakai tasku dan berjalan keluar kelas, menghirup udara untuk menenangkan kegelisahanku. “Aku ikut. Aku ingin melihat kemesraan kalian berdua jika di luar sekolah. Hahaha” sahut hyo na cepat menjajari langkahku. Aku menatapnya dengan pasrah. Apa yang bisa kulakukan?? Aku tidak akan menang jika berdebat dengannya.

Minho belum ada di pintu gerbang ketika kami sampai di sana. Aku dan hyo na menunggu di sana, mengamati setiap orang yang keluar dari sekolah begitu bel berbunyi. Hampir setengah jam kami menunggu, tapi tidak ada tanda-tanda dia keluar dari sekolah. Kemana dia?? Apa dia lupa dengan janjinya??

“Hei wajahmu jangan seperti itu. Mungkin dia sedang ada urusan di kelas jadi belum keluar. Coba kamu telepon.” Hyo na menunjuk handphone sambil tersenyum. Menepuk pundakku pelan, menenangkanku.

Drrt..Drrt

Aku menatap nama minho yang muncul di layar handphoneku. “Yoboseyo??”

“Ohh begitu..Ne.. Tidak apa-apa. Aku akan pulang dengan hyo na.” Aku menutup handphoneku sambil menghela nafas panjang. Hyo na menatapku dengan penasaran.

“Waeyo??”

“Tiba-tiba dia ada urusan penting. Jadi tadi dia keluar lebih awal sebelum bel berbunyi. Sepertinya hari ini aku akan pulang denganmu lagi. Kajja…” Dengan cepat aku berjalan menjauh dari gerbang sebelum hyo na bertanya lebih lanjut.

——————–

“Kamu benar-benar akan membeli ini??” tanya hyo na ragu, menatap 2 buah buku tebal yang ada di tanganku.

Aku menganggukkan kepala dan tersenyum melihat reaksinya. Aku tau dia pasti heran melihatku membeli ini. “Ne.. Kata sarang, ini referensi yang sangat bagus untuk membuat tugas choi seonsangnim. Aku sudah mencarinya di seluruh rak di perpustakaan, tapi tidak ada. Mungkin itu berarti aku harus membelinya.” jelasku cepat sebelum dia berbicara. Hyo na meganggukkan kepalanya, masih menatap buku yang ada di tanganku.

“Seon??” Aku menoleh ke asal suara tersebut. Seorang namja tampan berdiri dihadapanku dan hyo na. Sebuah senyum tersungging di bibirnya. “Tidak ingat padaku?? Yah wajar sih, ketika itu kan kamu hanya memperhatikan namjachingumu.” guraunya sambil tertawa.

Aku mengerjapkan mataku, menyadari siapa sosok di hadapanku. “Hae oppa?? Lama tidak bertemu.” Kataku dengan hangat sambil tersenyum. Sejak awal bertemu aku sudah merasa nyaman di dekatnya. Dia orang yang ramah dan menyenangkan. Didekatnya seperti ada di dekat key oppa, membuatku aman.

“Yah kalian berdua kan sibuk pacaran, mana sempat mampir bermain sepakbola lagi. Iya kan??” goda hae oppa sambil tersenyum jail ke arahku. Aku menundukkan kepalaku, menyembunyikan pipiku yang memerah. Sepertinya akhir-akhir ini pipiku gampang memerah hanya karena mendengar hal seperti itu. Hyo na menyikutku, mebuatku menoleh ke arahnya. Hyo na tersenyum kepadaku dan kembali menatap hae oppa. Aku tersenyum kecil, menyadari maksud hyo na.

“Oppa.. kenalkan ini sahabatku hyo na. Hyo na, ini donghae oppa”

Hyo na tersenyum manis dan mengulurkan tangannya. “Hyo na imnida”

“Lee donghae imnida. Oh ya, bagaimana kalau kutraktir makan siang di situ??”

Sebelum aku sempat berkata apapun, hyo na sudah mengangguk dan menyeretku pergi.

——————

“Tempat ini salah satu favoritku. Tempatnya tenang dan nyaman. Apalagi bersebelahan dengan toko buku paling besar di seoul. Aku selalu betah lama-lama di sini” jelas hae oppa sambil membuka menu. Hyo na ikut membuka menu, sedangkan aku mengamati sekeliling.

Hae oppa benar. Tempat ini memang tenang dan nyaman, jenis tempat yang sangat kusukai. Suasananya mengingatkanku pada taman yang tidak sengaja kutemukan dengan minho. Aku ingin pergi ke sana lagi. Apa dia ingat janji itu??

“Seonn.. Bukankah itu minho??” seon menyikutku dan menunjuk keluar jendela. Di sana tampak seorang namja tampan tertawa pada yeoja di sebelahnya. Yeoja itu sangat cantik dan mempesona. Sangat serasi dengan namja tampan di sebelahnya. Mereka tampak bagai potret pasangan sempurna. Aku hanya diam menatap pemandangan itu.

Hae oppa mengikuti arah pandanganku. “Bukankah itu minho dan… Krystal??” Oppa menoleh ke arahku dengan bingung. “Apa dia memberitahumu?? Kenapa dia bisa dengan krystal??” tanyanya dengan khawatir melihatku yang masih diam menatap keluar jendela.

“Jadi ini alasan minho membatalkan janjinya tadi. Aishh!! Benar-benar manja menyebalkan. Meskipun kalian hanya pura-pura pacaran, tapi tidak seharusnya kan dia seperti itu. Membatalkan janjinya pdamu hanya untuk pergi dengan yeoja lain.” kata hyo na dengan nada marah menatap keluar jendela.

Aku menginjak kaki hyo na dan melotot ke arahnya. Apa yang hyo na lakukan?? Kenapa dia mengatakannya di depan hae oppa?? Hyo na menoleh ke arahku dan hae oppa. Wajahnya berubah pucat, menyadari kesalahan yang dibuatnya.

“Pura-pura pacaran?? Jadi kalian hanya pura-pura??” tanya hae oppa dengan kaget menatapku lekat.

Aku menghela nafas dan menganggukkan kepala. “Ne oppa.. Aku hanya pura-pura dengannya. Jadi aku tidak berhak marah padanya. Aku bukan siapa-siapanya” jelasku sambil tersenyum tipis, menyadari kebenaran kata-kata itu. Seharusnya sejak awal kuingat kata itu sebelum aku benar-benar terjatuh. Seharusnya aku tau ini akan terjadi.

———————

Aku menghempaskan tubuhku ke kasur. Menatap selembar kertas yang ada di atas meja. Kuraih kertas itu dan menatapnya, menghela nafas panjang. Mungkin sebentar lagi perjanjian ini akan selesai.

Drrt…Drrt..

“Yoboseyo?? Minho??”

To Be Continue ~

PLEASE COMMENT… ^0^

Dilanjutkan/tidak tergantung para reader semua lho.. so jangan lupa comment nya ea.. hehehe

 

 

18 responses to “[Freelance] Say it just for me 3

  1. hellooo authoorr lam kenal !!!! (reader baru)

    miaan author baru bs comen skarang hehehe *d tendang author* soalnya gak bisa coment wat hp.

    baguuus de ffnya…
    d tunggu part selanjutnya ya!!! n please jgn lm2 post-nya
    *maksa*

  2. gomawoo semuanya udah baca+comment..hehehe
    ciapp nie lagi dalam proses ko’, bentar lagi juga kelar..
    makanya buat yang belum comment, comment dong..ahahaha.. xp

  3. Pingback: [Freelance] Say it just for me 4 « FFindo·

  4. Pingback: [FREELANCE] Say it just for me 5 « FFindo·

  5. Pingback: FF Say it just for me 3 [Super Junior Version] « Asian_Lovers Blog·

  6. Pingback: [FREELANCE] Say It Just For Me 7~ « FFindo·

  7. Pingback: Say It Just For Me 8 « FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s