Girl Undercover

Girl Undercover


Author            :           Park Kyungjin

Cast                :           Choi Yeonni

After School – Park Sooyoung (Lizzy)

Other Cast     :           SHINee – Choi Minho

Genre              :           Yuri

Rating             :           Bimbingan Orang Tua

Length            :           One Shot

Disclaimer      :           Just own the story, not the casts, and Choi Yeonni belongs to enny onn.

Warning         :           FF ini mungkin sangat menjijikkan. Jadi bagi yang g bisa jijik2an aku sarankan tidak usah baca! SILENT READER DILARANG MASUK!!  FF ini juga diHARAMkan bagi yang pelit komen!!

NB                  :           FF percobaan.. Jadi kalau jelek,, maaf ya.. T-T

+++

“Ku mohon, jangan pernah beritahukan Lizzy tentang semua ini… Uhukkkk… Uhukkkkk…” kata Minho pada adiknya dengan susah payah dan sambil terbatuk-batuk.

“Oppa, jangan seperti ini. Kau tidak apa-apa kan oppa?” kata Yeonni cemas.

“Sudahlah Yeonni, apapun yang akan terjadi, aku sudah pasrah. Tapi ku mohon, uhukkkkk… Jangan pernah beritahu Lizzy saat aku sudah pergi nanti. Uhukkkkkk…”

“Oppa! Andwae! Aku yakin kau pasti sembuh oppa!” Yeonni mulai menitikkan air matanya sedikit demi sedikit, dan perlahan berubah menjadi sangat deras saat Minho semakin sulit bernapas.

“Yeonni, janji padaku, nanti jika saatnya sudah tepat… Uhukkkkk… Baru kau boleh memberitahukannya… Hhhh…” Minho masih mencoba untuk berbicara.

Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiittttttttttttttttt…

Dan beberapa saat setelah itu, suara bising yang berasal dari monitor alat pengecek pernapasan menggema di kamar rawat rumah sakit itu.

“OPPAAAAAAAAAAAAAAAAA!!” teriak Yeonni histeris, tidak ingin mempercayai apa yang baru saja terjadi pada oppanya. Sekarang oppanya sudah menghembuskan napas terakhirnya.

+++

(Yeonni P.O.V)

Sulit ku percaya. Oppaku harus meninggal secepat ini. Padahal ia baru saja menikah dengan seorang yeoja yang menurutku tidak pantas untuk oppaku. Yeoja itu bernama Lizzy.

Sebenarnya dia yeoja yang baik, tapi dia punya rasa ingin memiliki yang terlalu berlebihan. Untuk menikah dengan oppaku saja, dia yang memintanya pada oppaku. Akhirnya, mereka menikah muda. Tapi tidak apa-apa juga, sebab oppaku memang mencintai Lizzy.

Mereka hidup sangat rukun. Oppaku kebanyakan masih tinggal di rumah kami, sebab ia masih terlalu muda untuk tinggal di rumahnya sendiri dan membina rumah tangga. Jadi bisa dibilang, oppaku dan Lizzy hanya sekedar menikah saja. Tapi tenang saja, oppaku betul-betul mencintai yeoja itu.

Saking cintanya, oppaku tidak mau memberitahu Lizzy tentang penyakit kanker paru-parunya yang baru-baru ini merenggut nyawanya. Hhh, padahal seharusnya istrinya itu ada di samping Minho oppa saat ia meregang nyawa.

Tapi ada yang tidak ku mengerti dari pesan terakhir oppaku. Sampai detik ini ia tidak ingin Lizzy tahu kalau ternyata ia mengidap penyakit itu, dan malah oppaku tidak ingin Lizzy tahu kalau ternyata ia sudah pergi dari dunia ini.

Hhh, ottokhe? Aku tidak mengerti. Aku juga tidak tahu bagaimana cara menyembunyikan semuanya. Bahkan aku sendiri tidak tahu alasan oppa ingin menyembunyikan semuanya dari Lizzy.

Oppaku tahu kalau suatu saat nanti Lizzy pasti akan tahu, tapi ia tidak ingin Lizzy mengetahuinya secepat ini. Astaga, apa yang harus ku lakukan?

Aku bangkit dari pembaringanku dan berjalan dengan gontai menuju meja rias di kamarku. Aku duduk di kursinya dan menatap lurus ke arah cermin itu.

“Hhh, wajahku mirip sekali dengan Minho oppa…” gumamku pelan pada diriku sendiri. Entah mengapa, aku jadi rindu padanya.

Tiba-tiba sebuah pikiran melayang di otakku.

“Sepertinya aku mengetahui cara bagaimana menyembunyikan semua ini pada Lizzy…” gumamku lagi.

+++

Aku bergegas menuju sebuah salon yang letaknya tidak jauh dari rumahku. Saat aku tiba di tempat itu, aku segera duduk di kursi yang ada sambil memperlihatkan sebuah foto pada hair stylist itu.

“Onnie, tolong potong jadi seperti ini ya…” pintaku padanya sambil menyodorkan foto itu lebih dekat lagi.

“Kamu yakin?” katanya ragu.

“Ne” aku mengangguk dengan mantap, dan hair stylist itu mulai merombak rambutku sesuai dengan permintaanku.

“Nah, sudah selesai…” katanya saat ia sudah selesai sambil membersihkan pakaianku yang sedikit kotor akibat sisa guntingan rambutku.

Aku langsung berdiri dan berpose di depan cermin besar yang ada di situ.

“Wow! Onnie, kau hebat sekali!” kataku pada hair stylist itu.

“Hahaha. Tidak usah terlalu berlebihan” katanya malu.

“Hahaha. Aku serius. Kau membuatku benar-benar terlihat seperti oppaku…” kataku meyakinkannya. Ia lalu mengembalikan foto Minho oppa yang sedari tadi ia jadikan patokan untuk memotong rambutku.

+++

Aku berdiri di depan cermin sambil merapikan rambut baruku pelan sambil menatanya dengan baik agar benar-benar terlihat mirip dengan oppaku. Sebelumnya, aku juga sempat mengganti pakaianku dengan pakaian milik Minho oppa. Hmm, ternyata Minho oppa sangat tampan.

Aku berputar-putar sekali lagi di sekitar cermin dan mencermati tampilanku saat ini. Yup. Kurasa sudah cukup.

Aku kemudian memutuskan untuk berjalan-jalan keluar rumah sebentar dengan penampilan baruku ini, sekalian melihat respon orang-orang luar terhadap diriku.

Aku berjalan kaki menyusuri jalan raya. Mulai sekarang, aku harus mengubah cara berjalanku agar tidak terlihat seperti perempuan lagi. Ugh, ternyata berjalan dengan tegap seperti ini sedikit melelahkan juga.

“………………………” samar-samar terdengar suara bisik-bisik dari sekumpulan yeoja yang berpapasan denganku. Yeoja-yeoja itu terlihat tertawa cekikikan sambil melihat ke arahku. Eh? Ada apa?

Hhh, ya sudahlah.

Aku memutuskan untuk tidak menanggapi tingkah aneh mereka dan kembali berjalan menyusuri jalan raya.

“Eh kamu tunggu sebentar” aku merasakan ada yang menarik tanganku dari arah belakang.

Aku menoleh dengan cepat dan seketika itu pula aku dapat melihat serombongan yeoja tadi sudah berbaris di belakangku. Aku hanya menaikkan alisku tanda tidak mengerti.

“Kenapa buru-buru sekali?” kata salah seorang dari mereka yang tadi menarik tanganku. Aku diam saja, tidak ingin menanggapi perkataannya.

“Ck, kau ini sombong sekali. Ayolah ikut dengan kami…” tiba-tiba yeoja lain yang dandanannya terlihat sangat menor itu ikut menarik tanganku paksa.

Dengan cepat, aku menarik tanganku kembali dan bergegas pergi meninggalkan serombongan yeoja sinting itu. Ugh, sialan!

“HEY! WAJAHMU SAJA YANG TAMPAN TAPI KELAKUANMU SANGAT KAMPUNGAN!” tiba-tiba salah satu dari mereka meneriakiku dengan sangat keras.

Lama-lama aku jadi kesal. Aku baru saja berpikiran untuk kembali menghampiri mereka dan memaki-maki mereka tetapi akhirnya aku tersadar akan suatu hal. Suaraku masih kedengaran seperti suara seorang yeoja. Apa jadinya kalau mereka mengetahui ternyata aku ini juga seorang yeoja?

Akhirnya aku hanya mencoba untuk bersabar dan segera menjauh dari tempat itu sebelum hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Hhh, ternyata beginilah yang dirasakan oleh oppaku setiap hari saat yeoja-yeoja menggodanya.

+++

Malam harinya, aku memutuskan untuk memesan sebuah alat pemberat suara. Hmm,semoga saja alat itu bisa mengubah suaraku menjadi mirip dengan suara namja.

Beberapa hari kemudian, pesananku itu akhirnya datang. Aku memasangnya di dalam mulutku lalu mencoba untuk berbicara.

“Tes… Tes…”

Wow. Seketika suaraku jadi berubah drastis. Suaraku yang awalnya terdengar seperti suara anak-anak kini jadi lebih berat. Hmm, lumayan. Tapi, memakai alat ini cukup menyiksa juga. Seperti ada yang mengganjal di dalam mulut saja.

Hhh, ya sudahlah. Yang penting aku harus menepati janjiku pada oppaku.

+++

Esoknya, aku berkunjung ke rumah Lizzy.

Tok tok tok…

Aku mengetuk pintunya pelan. Astaga, aku jadi sedikit gugup. Aku takut kalau-kalau nanti Lizzy mengetahui yang sebenarnya. Ya Tuhan, semoga saja semuanya bisa berjalan dengan lancar.

Tak lama kemudian, seseorang membukakan pintu untukku. Oh, ternyata Lizzy.

“Astaga chagi, kau dari mana saja?” tiba-tiba Lizzy menghambur ke pelukanku. Eh?

“Err… Mianhae chagiya, belakangan ini aku sibuk dengan urusan kuliahku…” jawabku dengan terbata-bata. Astaga, kenapa aku jadi ketakutan seperti ini?! Seharusnya aku tetap tenang dan bersikap sewajarnya!

“Tapi kenapa saat aku menghubungimu ponselmu, kau tidak pernah menjawabnya ataupun membalas pesanku…” rengeknya manja.

“Hhh… Mianhae, ponselku memang sedang rusak…” kataku mengarang alasan lagi. Lizzy akhirnya melepaskan pelukannya padaku.

“Ya sudah tidak apa-apa, ayo masuk chagi…” katanya sambil menarikku masuk ke dalam rumah. Ia terus menggandengku sampai sampai ke ruang tengah.

“Duduk di sini dulu ya chagi…” katanya sambil menyuruhku untuk duduk di atas sofa.

“Ne…”

“Eh? Sepertinya ada yang lain dari suaramu chagi?” tiba-tiba ia yang tadinya ingin meninggalkanku kini ikut duduk di sampingku.

“Oh, ehmm… Suaraku memang ada sedikit gangguan. Tenggorokanku sedikit gatal…” jawabku asal.

“Haishh… Kasihan sekali kamu, sini aku obati…” dan langsung pada saat itu pula, dia menyambar bibirku dengan bibirnya dan mengulumnya pelan.

ASTAGA! APA INI?!

Aku sangat terkejut dengan perlakuannya. Jadi, dia mencium bibirku? Yeoja ini mencium bibirku? Arggggghhhhh!!

Aku hanya bisa meronta-ronta dalam hati. Ingin sekali aku menjauhkan yeoja ini. Tapi aku tidak bisa.

Ia terus saja bermain dengan bibirku. Menjelajahi inchi demi inchi dan lama kelamaan ia malah melumatnya dengan lebih agresif lagi.

Sungguh. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Rasa-rasanya otakku sudah tidak bekerja dengan baik lagi.

Beberapa menit kemudian, akhirnya ia melepaskan bibir liarnya itu dari bibirku. Aku mulai mencoba untuk mengatur kembali napasku yang tidak normal sejak semua kejadian menjijikkan itu berlangsung.

“Bagaimana chagi? Sudah baikan?” tanyanya dengan nada manja sambil menatap mataku dengan tatapan yang tidak bisa ku artikan.

“Hmm, yeah…” akhirnya hanya jawaban tolol itu yang bisa keluar dari mulutku.

“Chagi, aku mau ke belakang dulu ya” katanya lalu berjalan meninggalkanku.

Aku kembali mencoba menenangkan diriku. Astaga… Apa yang sudah ku lakukan?! Ingin rasanya ku buang memori tentang kejadian tadi.

Tak lama kemudian, Lizzy kembali muncul di hadapanku. Kali ini baju yang ia gunakan berbeda dengan yang tadi. Ia hanya menggunakan baju terusan yang panjangnya hanya menutupi seperempat dari pahanya. Belum lagi kainnya yang tipis licin dan transparan serta sama sekali tidak berlengan, jadi sebagian dada atasnya terekspose dengan jelas. Aku berani bertaruh, namja manapun yang melihatnya dalam keadaan seperti ini pasti tidak kuasa menahan keinginannya untuk menjamah yeoja ini.

“Chagii…” rengeknya manja sambil bergelayut mesra di dekatku.

Tiba-tiba aku menjadi takut.

Tanpa ku duga, Lizzy semakin mendekat ke arahku dan lagi-lagi ia menyambar bibirku dengan cepat. Perlahan-lahan ia mendorong tubuhku agar terbaring di atas sofa ini sambil tetap melumat bibirku dengan bersemangat. Lalu dengan gerakan cepat, ia akhirnya naik ke atas tubuhku dan berbaring menelungkup di atasnya.

Ia terus menyelami bibirku. Sekarang aku bisa merasakan lidahnya bergerak liar seakan ingin menerobos masuk ke dalam mulutku. Aku menutup mulutku rapat, tidak ingin membiarkan lidahnya masuk dan menjelajahi seisi mulutku.

Tapi tenyata pertahananku gagal. Lidahnya yang ternyata lebih kuat dari katupan bibirku itu kini mulai merambah seisi mulutku. Aku merasakan lidahnya bergerak-gerak menyentuh langit-langit mulutku, lalu mencoba untuk menggerakkan lidahku. Andwae! Aku tidak bisa!

Hal yang lebih ku takutkan lagi akhirnya kejadian. Ia melepas bibirnya sebentar dari bibirku lalu membuka baju tipisnya itu dalam sekali gerakan hingga yang tersisa dari tubuh langsingnya itu hanya bra dan celana dalamnya saja.

Ia lalu menarikku untuk bangkit dari posisi terbaringku.

“Ayolah chagi, kita habiskan hari yang indah ini…” katanya lalu ia sendiri gantian membaringkan tubuhnya ke atas sofa itu. Ia tersenyum sangat lebar ke arahku sambil berusaha menarikku untuk mendekat ke arahnya. Tanpa bisa mengelak, terpaksa aku ikut dalam permainannya.

Ya Tuhan, sungguh, aku tidak tahu harus berbuat apa!

Tak lama kemudian ia menarik kepalaku dan merapatkannya ke dadanya. Ia lalu memeluk kepalaku erat hingga membuatku sesak napas.

“Ck, kau ini lemas sekali. Tidak biasanya…” nada bicaranya yang tadinya terdengar manja kini berubah menjadi sedikit sinis. Aduh, ottokhe?

Tak ada pilihan lain. Aku benar-benar harus mengikuti permainannya sebelum ia curiga padaku. Dengan berat hati akhirnya aku mencoba untuk menguatkan diriku.

“Hehe, benarkah?” kataku dengan nada bicara yang dipaksakan untuk terdengar menantang. Ku lihat ia hanya mengerucutkan bibirnya.

Tanpa berpikir apa-apa lagi aku mendekat ke arah wajahnya dan mulai menelusuri bibirnya yang sedang mengerucut itu seperti apa yang tadi sudah ia lakukan padaku.

Seperti yang sudah ku duga, ia membalas ciumanku dan jadilah sekarang kami, dua makhluk sejenis ini sedang beradu mulut. Ternyata yeoja ini sangat agresif. Ia melumat bibirku dengan penuh nafsu.

Sekarang ia menuntun tanganku untuk membuka pengait branya. Arrggggghhh!!

Aku membuka pengait branya perlahan dengan perasaan yang campur aduk. Setelah pengaitnya terbuka, aku menarik branya itu agar terlepas dari tubuhnya, dan saat itu juga aku bisa melihat miliknya yang sebenarnya juga ku miliki itu. Aku hanya bisa menangis dalam hati atas semua kejadian ini.

Ia kembali menuntun tanganku untuk meraba-raba bagian tubuh atasnya itu, mulai dari perut, hingga naik ke bagian dadanya, dan semua itu Lizzy yang mengendalikannya! Aku hanya menuruti keinginannya dan sampai saat ini bibirnya yang sangat bertenaga itu belum juga mau melepaskan bibirku yang terasa sudah mati rasa.

Tak lama kemudian, ia kembali menuntun tanganku untuk melepaskan celana dalamnya. Perlahan-lahan, celana dalamnya itu mulai terlepas dan langsung ia buang ke sembarang arah.

Dengan cepat aku melepaskan ciumannya dengan paksa dan hendak mengatakan sesuatu.

“Err… Lizzy, aku belum siap punya anak sekarang… Ingat, kita masih terlalu muda…” kataku memperingatkannya. Peringatan bodoh! Justru aku takut jangan sampai ia memaksaku untuk menidurinya! Yang benar saja!

“Hahaha. Tenang saja chagi…” katanya lalu kembali menarikku untuk mendekatinya, dan kegiatan yang tadi sempat terputus itu kini berlanjut.

Lagi-lagi hal yang tidak ku duga terjadi. Ia mengumpulkan tiga jari tanganku lalu memasukkannya ke dalam liangnya! Damn!

Ia menggerakkan tiga jariku itu maju mundur ke dalam liangnya yang masih sempit. Aku mulai mendengar desahan yang tertahankan dari mulutnya. DASAR YEOJA GILA!

Ini sudah keterlaluan. Dengan cepat aku mencoba untuk menarik jari-jariku kembali. Berhasil. Jari-jariku kini sudah bebas dari tempat terkutuk itu. Tapi ia malah semakin menjadi-jadi. Sekarang ia memaksa untuk membuka celanaku.

“ANDWAE!” bentakku kasar padanya dan buru-buru berdiri. Ia terlihat terkejut, lalu ikut berdiri di depanku.

“Ya! Choi Minho kau ini kenapa?!” tanyanya penuh emosi.

“Dengarkan aku! Aku bukan Choi Minho!”

“Huh, jangan bercanda…”

“Aku serius! Choi Minho-mu itu sudah mati! Istri macam apa kau sampai-sampai tidak mengetahui keadaan suamimu sendiri!”

“Apa maksudmu!”

Aku jadi termakan emosi. Aku sudah tidak tahan lagi. Aku segera mengeluarkan pemberat suara dari mulutku itu, lalu mencoba memperdengarkan suara asliku padanya.

“Sekarang bagaimana menurutmu huh?” kataku padanya saat pemberat suara itu sudah keluar dari mulutku.

Ia terlihat sangat terkejut kali ini. Buru-buru ia menyambar pakaiannya yang tergeletak begitu saja di lantai lalu menutupi tubuhnya yang sama sekali tidak berbusana itu dengan asal.

“Siapa kau?!” tanyanya dengan gugup.

“Masih ingat Choi Yeonni?”

“Kau!” katanya sambil menunjuk-nunjuk wajahku.

“Ne, ini aku”

“SIALAN!” makinya padaku.

“Hhh, sudahlah, sekarang bukan ini masalahnya. Oppaku sebenarnya yang menyuruhku seperti ini…”

“Apa maksudmu?!”

“Dengarkan baik-baik Lizzy! Suamimu sudah meninggal karena penyakit kanker paru-paru! Kau pasti tidak tahu kan? Dia memang berusaha untuk menyembunyikannya padamu karena ia betul-betul mencintaimu!”

“JANGAN BERCANDA!”

“Aku tidak bercanda! Baiklah, sekarang kau ikut denganku!”

+++

”Tidak… TIDAK MUNGKIN!” Lizzy tidak bisa mengendalikan dirinya lagi. Ia mengamuk di atas makam Minho oppa.

“Jangan seperti itu! Itu akan membuatnya sedih!”

“TIDAK MUNGKIN!”

Plakkkkkkkkkk!!

Aku menampar pipi kirinya dengan sangat keras, dan saat itu juga ia berhenti dari amukannya. Perlahan-lahan air mata jatuh membasahi pipinya. Hhh, aku jadi merasa bersalah.

“Sudahlah… Ikhlaskan kepergiannya…”

Ia tidak menanggapi perkataanku. Ia hanya bisa terduduk lemas di samping makam Minho oppa. Aku mendekat ke arahnya, lalu mengusap pundaknya pelan.

“Minho oppa sudah tenang di sana… Kumohon, ikhlaskanlah kepergiannya…” kataku lalu memeluknya erat.

Aku menerawang ke arah langit sementara Lizzy masih sesenggukan di pelukanku. Hhh, mianhae oppa, aku tidak bisa menepati janjiku padamu. Aku ternyata memberitahunya lebih awal. Sungguh oppa, aku tidak bisa. Semoga kau tenang di sana.

THE END


AAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRGHHHH!! FF APA INI?! T__________T

Mianhae enny onn,, ffku gagal.. T-T niat awalnya mo dibikin yuri parah,, eh ternyata aku g bisa onn.. g kuat~ T-T *halah*

Oke,, yang udah baca,, komen ya untuk ff gagal ini! Udah baca warningnya kan?? Ingat,, yg g komen HARAM lho~ kekeke.. XD

Sekali lagi mianhae kalau ternyata ff ini tidak sesuai dengan harapan(?)..

Gomawo yang udah baca.. ^^

I LOVE YOU ACTIVE READERS.. ^^

Advertisements

52 responses to “Girl Undercover

  1. omo~
    aq ska bngd ama gaya bhsa ff u nie author b^^d
    . . tp paz bca adgan2 t agag gmna gt. .tp gag d lanjotin ampe slsai bca.a y sayang bngd. .ahihìhi
    #plakkkplokkplakkplokk

  2. Knp nyesel??
    omo*shock* critax bnr” g ad sma skli d.pkranq. .krain gmn trnyt. .heheh
    kerenn kq. .
    hayukk ff yg laen chingu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s