SOULIZER [4th soul]

Author : Keychand

Cast : SHINee, Kim Hyunna, Shin Nara

rate : PG+16

Genre : thriller, romance, fantasy

length : chaptered

Soulizer [prolog / part 1/ part 2 / part 3]

[soulizer]

 

Taemin terdiam dalam posisinya sekarang. Bersandar pada dinding gedung yang terletak tepat disamping gerbang sekolah hyunna, adik manusia kibum. Ia melipat kedua tangannya di dada dan kakinya menapak aspal dengan bersilang. Earphone terpasang rapi ditelinganya, terhalang dengan rambut pirangnya yang berterbangan tertiup angin sore.

“lama sekali..” taemin mengeluh pelan, matanya menatap gerbang sekolah didepannya yang masih tertutup rapat. Dengan sangat terpaksa ia harus menjemput gadis kesayangan kibum –kakaknya- atas perintah hyung-nya.

“aku benci kehidupan manusia..” taemin kembali menggumam, nadanya sarkartis dan terkesan angkuh. Ia mendecak pelan dan matanya kembali terpejam mendengarkan lagu dari iPod yang dipinjamnya dari minho.

‘kriiiiingg..’

Bel sekolah itu berbunyi dengan nyaring, taemin yang berada diluar saja bisa mendengar kerasnya volume bel sekolah itu. Perlahan gerbang terbuka disusul dengan ribuan kepala manusia yang memudal keluar dari tempat yang memusingkan otak para muridnya.

Mata taemin bergerak mencari sesosok gadis dengan rambut panjang yang diikat dua tinggi dengan pita berwarna merah muda. Ia sedikit berjinjit berusaha menemukan hyunna diantara banyak murid yang baru saja bubaran sekolah.

“Uh! Sialan!” taemin menghujat kecil, ia bergerak maju mendekati gerbang sekolah menembus arah berlawanan.

Ia sudah tak tahan lagi harus menunggu lebih lama setelah lebih dari 1 jam menunggu ditempatnya barusan. Ia memilih menyusul gadis itu kesekolah meskipun tak tahu dimana lokasi kelasnya secara pasti. Langkahnya lebar dan cepat diikuti gerakan matanya yang menyapu setiap sudut sekolah mencari gadis bernama hyunna itu.

“taemin?” taemin menghentikan langkahnya, dilihatnya gadis yang tengah ia cari dengan wajah bingung.

“lama sekali! Kita pulang sekarang!” tanpa aba-aba taemin menyeret tangan gadis itu paksa dan membawanya keluar dari lingkungan sekolah dengan tergesa.

“taemin-sshi! Tunggu! Lepaskan!” hyunna menghentakkan tangannya hingga terlepas dari pegangan taemin, mereka menghetikan langkahnya.

“kenapa kau kesini? Mana kibum oppa?”

“kalau bukan karena kibum hyung yang menyuruh aku tak kan mau berdiri disana lebih dari 1 jam hanya untuk gadis manja sepertimu!”

“eh? Kau menungguku?!”

Hyunna menatap taemin tak percaya, baru kali ini ada seseorang yang mau menunggunya selama itu, bahkan sampai menjemputnya masuk kedalam sekolah –meskipun tanpa kendaraan-.

“maaf, maaf membuatmu menunggu..” hyunna menekuk kepalanya, merasa bersalah.

“jangan banyak gaya! Pulang sekarang, aku tak mau mendengar ocehan kibum hyung!” taemin memutar tubuhnya mengambil langkah duluan meninggalkan hyunna.

Tangannya masuk kedalam saku celana dan ia kembali berjalan cepat dalam diam, sementara hyunna mengikutinya disampingnya dengan sesekali berlari kecil berusaha menyamakan langkahnya dengan taemin.

“jangan cepat-cepat! Aku kan pakai rok!” protes hyunna manja, taemin hanya berdecak tanpa merubah kecepatan jalannya.

***

 

“mworago?!” mata gadis bernama nara membulat lebar, ia langsung menatap jinki yang tengah menundukkan kepalanya.

“jadi waktu itu-?” nara tak melanjutkan ucapannya, ia hanya menunjuk jinki enggan. Jinki mengangguk kecil mengiyakan pemikiran nara.

“kau hampir kehilangan nyawa, dan jantungmu- artinya tubuhmu tak utuh..” jelas jinki lirih.

Mulut nara terbuka lebar, ia tak percaya dirinya berada diantara makhluk-makhluk gila yang kapan saja bisa mengambil nyawanya langsung tanpa pandang bulu. Ia menatap bergantian 4 namja yang ada didepannya dengan pandangan antara tak percaya dan takut. Perlahan ia menarik selimut menutupi setengah tubuhnya, tangannya mencengkram erat selimutnya.

“jangan takut, kami tidak mungkin menjadikan manusia yang dekat dengan kami jadi korbannya. Kecuali-“ jonghyun menggantungkan ucapannya, melirik pada kawannya yang lain.

“berhati-hati dengan taemin, terutama saat ia tengah emosi.” Tutur minho datar, wajahnya terus saja tak berekspresi, bahkan kalimatnya barusan sama sekali tak bernada peringatan.

“taemin?” kedua alis sang gadis saling bertautan. Taemin teman ter-‘dekat’ nya sampai sekarang dibanding 4 laki-laki yang lain, masa dia harus jaga jarak dengan taemin?!

“dia masih labil, kau tau dia termuda diantara kami. Dan seseorang yang labil, emosinya mudah terpancing, sama seperti manusia, bukan?!” jelas kibum santai, nara menatap 4 namja didepannya hati-hati.

Bukan hanya taemin yang harus ia waspadai, 4 namja ini juga sama saja. Hanya berbeda judul tak merubah maknanya secara keseluruhan kan?! Setan tetap saja setan, mencabut nyawa manusia sesuka hati demi kepuasan pribadi.

“sekarang kau istirahat saja, kau tak bisa menumpu tubuhmu sendiri untuk sementara waktu. Biar kubawakan makan untukmu kesini..” kibum bangkit dari posisinya, ia hendak berbalik pergi tapi ucapan nara menahan langkahnya.

“kau gila?!maksudmu aku lumpuh?”

“sementara waktu, agasshi..”

“kau! Dasar setan!”

“maaf..” kibum berlalu meninggalkan nara dengan 3 namja lainnya. Pintu tertutup rapat, jonghyun dan jinki segera menghela nafas panjang sesaat setelah kibum pergi.

“kenapa kalian?” nara mendelik, tak ada jawaban.

“berhenti mengatai kami setan, nara-sshi. Kami bukan dari golongan setan..” minho berucap –dengan nada datar lagi-.

“masa bodoh! Kalian kan mencabut nyawa manusia, apa bedanya dengan setan” jawab nara sinis. Matanya mendelik tajam.

“baiklah, terserah kau mau memanggil kami apa. Tapi sebaiknya kau berhati-hati dengan kibum, ia tak sediam yang kau lihat, shin nara!” minho menekankan setiap perkataan yang keluar dari mulutnya, baru kali ini ia bersuara dengan ekspresi, meskipun penuh penekanan seolah peringatan.

what he can do now? I don’t care..” nara menggeleng pelan, ia memalingkan wajahnya dari 3 namja didepannya yang kini sama-sama terdiam.

***

 

Kibum menuruni tangga dengan lemas, ia terus merutuki kebodohannya semalam karena hampir menghilangkan nyawa seorang gadis yang menjadi teman dongsaengnya, taemin. Ini adalah pertama kalinya ia disebut setan setelah sekian lama tak mendengar sebutan kasar itu. Ia tahu itu memang kesalahannya karena hampir merenggut nyawa nara, tapi ada sisi lain dalam hatinya yang bergemuruh kala ia disebut golongan setan.

“oppa, annyeong..” kibum menoleh, hyunna berlari kearahnya dengan rambut yang bergerak kesana kemari.

“annyeong saengi..” kibum tersenyum ringan, tangannya bergerak mengelus kepala hyunna yang bertumpu dipundaknya.

“kenapa denganmu, oppa? Wajahmu lemas sekali..” Tanya hyunna dengan nada manjanya. Kibum tersenyum lagi, kali ini lebih lebar.

“gwenchana, hanya sedikit lelah mengurusi yang sakit”. Jawab kibum bohong,

“sakit? Nugu?” Tanya taemin yang baru masuk, kibum menatap taemin dengan pandangan yang sulit diartikan. Ini dia alasan ia tak benar-benar menghirup jiwa nara semalam, karena taemin.

“nara, ia demam” jawab kibum singkat, taemin langsung menegak, matanya membulat tak percaya.

“dimana dia sekarang?”

“dikamarnya, ada jinki, minho, dan jonghyun disana. Kau lihat saja keadaannya, hyunna mau bantu oppa tidak?”

“apa?”

“bawakan makanan untuk nara kekamarnya, ok?” senyum terkembang diwajah hyunna, ini kesempatannya untuk dekat dengan ‘onnie palsu’-nya itu. Hyunna mengangguk semangat dan segera mengikuti kibum kearah dapur.

***

 

“nara-sshi? Gwenchanayo?” taemin menghambur masuk dan segera menghampiri nara yang bersandar diatas ranjangnya.

“taemin-sshi? Aku-“

“ia hanya demam biasa, taemin-ah. Don’t be panic, we have given her some medicine..” minho memotong ucapan nara. Gadis itu mendelik tajam padanya, tapi minho pura-pura tak tahu.

“begitu? Kenapa bisa sakit, huh?”

“aku kelelahan saja..” jawab nara enggan, ia memalingkan wajahnya dari taemin dan 3 namja yang masih setia menungguinya daritadi.

“eh?” tiba-tiba saja nara merasakan seseorang meraba keningnya, ia menoleh dan melihat tangan taemin yang menempel didahinya. Ia menatap taemin heran, sebegitu panik-nya kah taemin?

“hangat, sebaiknya kau istirahat saja. Aku tinggal keluar dulu, ok?” taemin melepas tangannya dari kening nara, dan kembali memasukkannya kedalam saku celana.

Nara mengangguk kecil dan menatap punggung taemin yang semakin jauh. Jonghyun ikut bangun dari duduknya diikuti jinki,

“kami juga keluar dulu, kalau ada apa-apa panggil saja. Ingat kata-kata minho barusan, ok?” jonghyun mengingatkan dengan nada santai, ia mengedipkan sebelah matanya dengan genit. Dengan segera jinki menyikut perut adiknya itu hingga jonghyun meringis pelan.

“sudah, keluar sana!” suruh nara dengan ketus, dagunya menunjuk kearah pintu kamar yang masih terbuka setengahnya.

Jonghyun mengendikkan bahunya dan tertawa kecil, ia melangkah keluar kamar dengan diikuti jinki dibelakangnya. Minho masih diam ditempatnya, nara menatapnya heran.

“tak ikut keluar?” sindir nara dingin, minho menggeleng pelan dan mengambil posisi duduk dikursi bekas jinki.

“aku akan menunggu disini sampai ada yang menggantikanku, kau tak bisa pergi kemana-mana, jadi harus ada yang menungguimu disini..” jelas minho datar, lagi-lagi nara mendengus, ia merasa dirinya sudah seperti seorang pasien penderita penyakit kronis yang sudah dalam tahap akhir, butuh penjagaan setiap saat.

“err.. sial! Sebenarnya aku tak mau, tapi aku harus kekamar mandi sekarang. Bantu aku cepat!” nara ragu dengan ucapannya, tapi minho dengan mantapnya menyibakkan selimut yang menutupi bagian kaki nara.

“hey kau mau apa?!” nara memekik kaget, minho menatapnya dengan pandangan datar.

“kau bilang mau kekamar mandi? Aku harus menggendongmu, shin nara!” minho menyelipkan tangan kanannya kebawah kaki nara dan tangan kirinya menopang punggung nara. Ia menggendongnya dengan gampang seolah nara amat ringan.

“sial! Kalau saja bastard itu tak menghisapku, aku pasti takkan seperti ini!” desis nara pelan, tapi minho mampu mendengarnya karena setelah nara berucap minho menatapnya dengan glare-nya yang mampu membuat nara terdiam.

***

 

Hyunna P.O.V

Aku berjalan dengan riang kelantai atas dengan membawa nampan berisi bubur untuk nara onnie, senyum terus menghias diwajahku, membayangkan aku yang bercerita sambil menyuapinya bubur. Pasti asik sekali, nara onnie akan mulai menerimaku dan akhirnya kami akan dekat satu sama lain, dan ia menganggapku sebagai adiknya juga.

“hyunna-ya, sudah pulang?” jonghyun oppa menyapaku dari arah berlawanan, aku mengangguk riang dengan senyum yang masih terkembang.

“wajahmu ceria sekali, ada yang membuatmu senang, ya?” lanjut jinki oppa dari belakang jonghyun oppa. Lagi-lagi aku hanya mengangguk ceria, aku mengangkat sedikit nampan yang kubawa, menunjukkannya.

“aku mau menyuapi nara onnie, pasti menyenangkan. bye, oppa~!” tuturku riang, aku melewati jonghyun oppa dan jinki oppa, sampai didepan kamar nara onnie.

Untunglah kamarnya tidak tertutup, jadi aku tidak perlu kesusahan membukanya, tapi baru saja aku mau masuk aku sudah melihat pemandangan yang membuat hatiku sakit.

Minho oppa menggendong nara onnie..

Entah kenapa rasanya hatiku sakit melihat minho oppa yang menggendong nara onnie dengan perhatian seperti itu. Aku tahu nara onnie sedang sakit, tapi apa harus sampai segitunya ia diperlakukan oleh minho oppa? Aku saja yang lebih lama kenal dengannya tak pernah digendong seperti itu, bahkan kalau aku sedang sakit.

Aku mematung diambang pintu dengan nampan yang masih kupegang, mataku membulat karena shock dan mulutku sedikit terbuka. Aku melihat pemandangan yang benar-benar membuatku sakit selama aku mengenal minho oppa. Ini pertama kalinya aku melihat ia berlaku manis pada seorang gadis. Ia membawa nara onnie kedalam kamar mandi dan tak lama keluar lagi, menutup pintunya dan bersandar dipintunya. He’s so caring to her..

Aku maunya aku yang diperlakukan manis seperti itu. Aku yang digendong saat sakit seperti itu. Karena aku yang mencintai minho oppa, aku yang sudah lama memendam perasaan padanya, aku yang menyukainya sejak pertama kibum oppa mengenalkannya padaku.

Yes, I really loving him. Too love..

 

“hyunna?” aku masih terpaku ditempat, “hyunna!”

“eh?” aku mengerjap cepat, kulihat minho oppa sudah ada didepanku dengan wajah innocent-nya. Ya, ia tak tahu aku melihatnya tadi, dan ia tak tahu kalau aku sakit hati atas perlakuannya pada nara onnie barusan.

“oppa? Kau sedang menjaga nara onnie, ya?” tanyaku kaku. Ia mengangguk enteng, ia balas menatapku dan nampan yang kupegang.

“kau mau menyuapi nara, kan? Baguslah kalau begitu, ia belum makan sejak bangun dari pingsannya..” jawab minho oppa.

“pingsan? Separah itukah, oppa?” tanyaku kaget, ia mengangkat kedua alisnya dan tersenyum manis padaku. Ah, I like his smile. It’s make me fly to the highest sky..

“tenang saja, hanya demam biasa..” jawabnya menenangkan, tapi agak menyakitkan. Aku mengangguk kecil, belum masuk kedalam kamar nara onnie.

“minho-sshi!” kudengar nara onnie memanggil dari dalam kamar mandi, aku sedikit melongok kedalam.

“masuk, hyunna-sshi..” minho oppa menyuruhku masuk, aku mengangguk dan duduk dikursi didepan tempat tidur nara onnie. Sedang minho oppa menghampiri pintu kamar mandi dan membukanya.

Ia masuk kedalam sana, mau apa dia? Tapi tak lama ia kembali dengan menggendong nara onnie. Mereka terlihat.. serasi. Ya, lengan onnie yang melingkar dileher minho oppa, tangan minho oppa yang kekar yang menggendong tubuh mungil nara onnie. Mereka serasi, dan aku sakit akan semua hal itu.

Oh, jangan menangis disini hyunna! Kau harus kuat! Kau kan mau ‘pdkt’ dengan nara onnie, bertahan!

“gomawo minho-sshi..” nara onnie berbaring diatas tempat tidur dengan bersandar pada dinding ranjangnya. Minho oppa mengangguk kecil dan membantu membenarkan posisi selimut nara onnie. Bahkan ia melakukan hal itu pada seorang yang baru dikenalnya?! Ada apa dengan minho oppa dan nara onnie?!

“hyunna-sshi?” aku berpaling pada nara onnie, ia menatapku aneh yang sedari tadi menatap minho oppa.

“gwenchana?” tanyanya bingung, aku mengangguk kecil dan berusaha tersenyum.

“kubawakan makan untukmu, onnie. Biar aku suapi, ya..” aku bergerak menyendok bubur itu sedikit dan siap menyodorkannya kemulut nara onnie, tapi ia menolak dengan cepat.

“nara-sshi, kau masih lemah. Baru saja sadar dan tubuhmu masih lemah, ingat itu. Biarkan hyunna menyuapimu, jangan bandel!” tutur minho oppa dengan nada datar.

Meski dengan nada datar tetap saja rasanya sakit buatku, bayangkan saja, seseorang yang kau sukai tengah memperhatikan perempuan lain tepat dihadapanmu tanpa rasa canggung atau tak enak hati. Rasanya sakit sekali, seolah dikhianati oleh perasaan sendiri.

“nan shiro!” tukas nara onnie dengan ketus, minho oppa duduk ditepi ranjang dan menatap nara onnie dengan serius, mata bulatnya saling bertatapan dengan nara onnie, dan dia membalas saja. Arkh! Rasanya semakin menusuk saja!

“ingat pembicaraan kita tadi kan, Shin Nara?! Sekarang turuti apa kataku, dan istirahatlah! Arasseo?! Atau harus aku yang menyuapimu, tuan putri?!” ucap minho oppa dengan penuh penekanan.

Pembicaraan apa yang ia maksud? Kenapa ia menyebutnya dengan tuan putri?! Ada hubungan apa mereka sebenarnya?! Bahkan minho oppa memaksanya untuk makan sampai mau menyuapinya. Akh, damn! It’s make me crazy! I’m going crazy cause of you, minho! You make me crazy, you know?!

“arasseo! Cerewet sekali kau! Satu hal, jangan pernah sebut aku tuan putri! Aku benci nama itu! Pergi sana!” nara onnie berteriak, ia mendorong tubuh minho hingga ia terbangun dari tempatnya.

“bagus, kenapa tidak daritadi saja, sih. Hyunna-sshi, suapi ia sampai buburnya habis, ok! Dan setelah itu suruh ia istirahat, kutinggal dulu..” aku mengangguk paham dan menatap punggung minho oppa yang semakin menjauh.

“ish! Dasar setan!” aku mendengar nara onnie mendesis cepat, aku menoleh padanya dan mengerutkan kening.

“tadi onnie bilang apa?” tanyaku, ia menatapku kesal, “anniyo”.

“yasudah, sekarang onnie makan, ya. Aku tak mau dimarahi minho oppa karena onnie tak makan..” kataku bercanda dan mulai menyiuk sesendok bubur.

“apa peduliku, kau yang kena marah..” jawabnya ketus, aku menghela nafas pendek dan menyodorkan sendok kedepan mulutnya. Ia menerimanya dan memakannya dengan malas, entah kenapa semangatku untuk lebih dekat dengannya mendadak hilang setelah kejadian selama beberapa menit yang terjadi tepat didepan mataku ini. Semuanya membuatku hilang mood.

“sejak kapan kau tinggal dengan kibum?”

“ye?” aku menoleh pada nara onnie yang menatapku kesal, aku tak mendengar ucapannya barusan, aku terlalu sibuk melamun.

“jangan melamun, hyunna-sshi. Aku Tanya sejak kapan kau tinggal dengan kibum?” katanya mengulang, aku tersenyum mengingat masa itu, saat aku bertemu dengan kibum oppa yang menyelamatkanku.

“waktu itu aku sedang kabur dari rumah gara-gara tidak terima orangtua-ku meninggal dan aku jadi anak yatim piatu. Tapi tiba-tiba ada laki-laki yang menarik tanganku seenaknya, dan menarikku paksa keujung gang yang sepi dan gelap. Aku dicengkram olehnya dan ia hampir menciumku dengan paksa, kalau saja kibum oppa tidak datang” kataku dengan semangat, yah setidaknya ia yang membuat mood-ku sedikit meningkat.

“lalu?”

“kibum oppa membawaku lari menjauhi orang yang terus mengejarku itu, ia menyuruhku bersembunyi didalam sebuah kedai dan ia keluar entah kemana. Aku yang tak tahu apa-apa hanya menurut sampai selang sejam kemudian dia datang dan membawaku keluar dari kedai itu.. ia menyelamatkan nyawaku, katanya lelaki itu hampir saja mau memperkosa dan merenggut nyawaku. Aku bergidik ngeri mendengarnya waktu itu..” kataku diikuti gerakan bergidik karena ingat kembali waktu itu.

“lalu? Kenapa sampai sekarang kalian bisa tinggal serumah?”

“aku yang mengajaknya, habis aku tak mau pulang kalau tak ada teman. Sedang kibum oppa terus memaksa untuk mengantar pulang, dia bilang tak baik perempuan berkeliaran sendirian diluar rumah. Makanya dia terus memaksaku, akhirnya aku mengajukan syarat supaya dia mau tinggal denganku sebagai gantinya, dan ia setuju.” Aku mengakhiri cerita latar belakang kibum oppa bisa satu rumah denganku, senyumku terkembang lebar mengingat betapa baik dan perhatiannya kibum oppa selama ini padaku.

“kau tak pernah diperlakukan yang aneh-aneh oleh bastard itu?” tanyanya lagi, aku mengerutkan kening, menghentikan sendokan bubur.

bastard?” kataku mengulang,

“eh, maksudku kibum. Wajahnya mirip seorang bastard, jadi aku selalu berfikir kalau dia bastard” jawabnya kikuk. Aku mengangguk paham dan kembali menyuapkan bubur padanya.

“dia sangat baik, malah ia bisa menggantikan kedua orangtua-ku yang sudah tak ada. Ia bisa jadi appa, umma, dan oppa yang baik sekali. Aku benar-benar menyayanginya, sama seperti aku menyayangi onnie~” jawabku dengan rengekan manja diakhirnya.

“ck.” Ia mendecak dan menatapku tajam, aku langsung menutup mulutku dengan tangan kananku, aku lupa ia benci rengekan manja. Aish, hyunna pabo!

“satunya membahayakan, satunya menjijikkan..” desisnya pelan tapi samar bisa kudengar. Apa maksud ucapan nara onnie?!

***

Minho P.O.V

 

Aku melangkah menuruni anak tangga kelantai dasar dengan santai, rasanya ada perasaan yang mengganjal saat menggendong nara didepan hyunna barusan. Kenapa, ya? Padahal kan aku hanya membantu nara, dan hyunna juga datang untuk menyuapi nara. Kenapa aku merasa tak enak pada hyunna?!

“BRENGSEK!!” pikiran kacau-ku langsung buyar saat mendengar teriakan seseorang yang amat kukenal dari arah dapur, taemin.

Aku berlari kearah dapur, dan tercengang saat melihat keadaan yang ada. Taemin baru saja memukuli kibum, apa yang terjadi?!

“apa yang kau lakukan pada nara, huh?!” taemin membentak tepat didepan muka kibum, tangannya mencengkram kerah baju kibum yang sudah terkena bercak darah dari hidungnya.

“jawab, bodoh!” taemin kembali berteriak, kibum hanya tergeletak lemah dilantai. Kemana semua orang, kenapa tak ada yang menghentikan mereka?!

“kenapa nara bisa sampai lumpuh, kim kibum?! Kau benar-benar brengsek! Aku sudah mau menjemput adik sialan-mu itu, dan kau malah membuat nara lumpuh, hah?! Sialan kau!” taemin kembali meninju wajah kibum yang sudah lebam dimana-mana. Ia meninju wajahnya berkali-kali hingga darah yang mengalir lewat hidung dan sudut bibir kibum semakin banyak.

“taemin-ah! Stop!” aku berteriak padanya, tapi ia tak menggubris, ia terus meninju kibum yang semakin lemah.

“taemin-ah! Sadarlah! Dia hyung-mu!” aku menarik tangannya agar menjauh.

“persetan dengan hyung! Aku tak punya hyung sama sekali, dia ini bajingan! Bukan hyung-ku!” taemin menangkis tanganku dan kembali melayangkan bogem mentah kewajah kibum.

“kau benar-benar brengsek, kibum! Sialan kau! Kau dan adik manusia bodohmu itu sama saja! Brengsek!” taemin meludahi wajah kibum dengan penuh emosi.

“AArrrghh!!” kibum berteriak keras, tangannya mendorong tubuh taemin hingga ia terpental dan jatuh didepanku.

“berhenti mengatai hyunna sialan dan brengsek! Ia tak ada kaitannya dengan ini, LEE TAEMIN!!!” kali ini kibum yang berteriak penuh emosi, wajahnya yang sudah penuh dengan darah terlihat mengenaskan. Ia bangun dengan tertatih dan menghampiri taemin yang ada didepanku, dan mencekik lehernya kuat.

“kibum, hentikkan! 2 gadis itu bisa mendengar pertengkaran kalian!” kataku mengingatkan, tapi kibum hanya mendecak kecil dan menarik sudut kanan bibirnya memperlihatkan seringaian jahat.

“peduli apa aku pada adik kesayanganmu yang seperti b*tch itu, heh” taemin mendecak melecehkan, ia membuang pandangannya dari kibum.

“brengsek kau, lee taemin!” kibum menggeram hebat, tangannya semakin mencekik kuat leher taemin bahkan sekarang ia menekan tengkuk leher taemin dengan kukunya yang aku yakin semakin tajam.

Akh, sial! Zoon politicon datang lagi, I hate it!

“aaarrrkkkhhh-“ taemin berteriak tertahan, lehernya dicakar paksa dan dalam oleh kibum dengan kukunya yang tajam dan runcing. Sementara kibum sudah diliputi oleh nafsu yang kukira ditambah dengan sensasi yang turut muncul pula. Terlihat dari pupil matanya yang mengecil, tapi bagaimana ia menyerap jiwa taemin? Dia sucker bukan killer..

“mati kau, lee taemin!” kibum semakin menusukkan kukunya lebih dalam menembus kulit tubuh taemin hingga kedangingnya. Ia mendorong taemin hingga membentur dinding dapur berwarna krem.

Kalau sudah begini aku tak bisa melakukan apapun, 2 orang yang sama-sama diliputi emosi hanya akan menganggap lingkungan mereka adalah arena pertarungan dengan satu hasil, menang atau kalah. Yang menang akan melanjutkan kehidupannya, dan yang kalah harus rela terhempas dari kehidupan ini. Aku harus kehilangan salah satu dari mereka? I won’t that..

“akh! Brengsek kau, kibum!!!” taemin berteriak keras, didadanya sudah ada bekas cakaran memanjang dari tengkuk leher ketengah dadanya, sementara kibum terus menekan dada tepat dibagian jantung taemin.

“taemin? Kibum? What the hell!” aku memalingkan wajahku, ada jonghyun hyung dan jinki hyung yang baru datang. Jonghyun hyung langsung berlari menghampiri mereka ber-2 diikuti jinki hyung dibelakangnya.

“ya! Kibummie! Lepaskan!” jonghyun hyung menarik tangan kibum paksa menjauh dari taemin dan dalam hitungan milisekon, tangannya sudah menampar keras wajah kibum hingga ia menghempas lantai dan akhirnya tak sadarkan diri.

“ya! Lee taemin! Bangun!” jinki hyung menggoyangkan tubuh taemin yang sudah melorot kelantai. Pakaian yang ia pakai sudah sobek karena cakaran kibum, dan dadanya juga bersimbah darah, matanya tertutup dan tangannya terkulai lemas.

“ta-taemin! Lee taemin!” jinki hyung mulai panik. Ia menepuk-nepuk pipi taemin keras, tak ada respon.

This is, zoon politicon..

[soulizer]

makasih buat yang udah komen dari part sebelumnya, buat yang ngelike dan yang baca juga^^ semoga ga bosen buat ttep baca, komen..

sekedar penjelasan zoon politicon itu politik didunia hewan, umpamanya kalo ada singa sama kijang, siapa yang paling kuat? singa kan, jadi singa yanag menang bisa makan kijang. kijang yang lemah bakal kalah trus mati dimakan singa. semoga yang waktu itu nanya bisa ngerti, hhe.

keychand!

Advertisements

79 responses to “SOULIZER [4th soul]

  1. huweee..karakter tokohnya bikin gregetan semua
    hyunna manja bgt, aku ga suka *ditimpuk*
    nara walaupun dingin tp ngomongnya kasar *dirajam*
    minho..aish, kenapa dia ga ngelerai sih? *diusir*

    tp gpp, itu yg bikin cerita makin rame *sokbijak*
    *go to the next part*

  2. huweee..karakter tokohnya bikin gregetan semua
    hyunna manja bgt, aku ga suka *ditimpuk*
    nara, dinginnya keren tp ngomongnya kasar *dirajam*
    minho..aish, kenapa dia ga ngelerai sih? *diusir*

    tp gpp, itu yg bikin cerita makin rame *sokbijak*
    *go to the next part*

  3. Ooh jdi zoon politicon itu bisa dibilang hukum rimba gitu kaan?? *sotoy*
    Nyesel bru baca skraaang, lanjuttt

  4. Semuanya pada dasarnya gara2 nara sih ya. Si cewek menyebalkan itu. Hah karena aku kesel sama nara berarti suatu keberhasilan untukmu authornim. Kasian sama hyunna. Dia cuma pengen orang-orang sayang sama dia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s