Life for The Devil – Part 3

 

Tittle     : Life for The Devil – Part 3

Author : Lee Chira

Genre    : Fantasy, Romance, Semi-Thriller, Smut(?)

Rated    : PG15 – NC17

Length : Chaptered

Main Cast :

Yoon Jisun  aka  Cute Pixie

SHINee – Kim Jonghyun

Minor Cast :

SHINee – Lee Jinki

Disclaimer : Yoon Jisun milik Taemin, Kim Jonghyun milik aku dan jempolku(?) dan Lee Jinki milik siapa saja yang mau. Gratis kok! Kan Cuma nama.. ß diobral! khkhkh

WARNING..!! Baca rated ff ini. Bagi yang mau m’bc tp msi dbwh umur, baca sama mamanya y!! ^.0

Previous :Prolog, Part 1, Part 2,

 

***

Iblis itu melepaskan tanganku saat kami sampai di parkiran yang amat teramat sepi. Bukan melepaskan tanganku, lebih tepatnya ia melepaskanku dengan kuat sampai tubuhku menabrak body mobil. Ouch, sakit. Apa-apaan dia seenaknya berbuat begini padaku? Kulihat mobil itu. Mobil BMW berwarna silver dengan dua pintu.

Kubalik badanku dan melihatnya. Ia tidak memakai jaket yang tadi diambilnya bersama jaketku di tempat penitipan barang, melainkan memegangnya dengan sebelah tangannya yang tak memegang tanganku tadi.

Aku baru saja akan mengeluarkan protes akan apa yang baru saja kulakukan tapi malah tersentak kaget. Ia berdiri menyamping tiga meter dariku. Tapi bukan itu.

Ia memejamkan matanya. Bisa kulihat ada hal lain yang mengelilinginya. Gas? Entahlah. Sesuatu yang bersambung membuat garis berwarna abu-abu kelam dan biru. Kutebak, mungkin sesuatu itu adalah.. auranya? Tapi, bagaimana mungkin auranya bisa terlihat olehku? Dan.. terlihat di tempat seperti ini? Oke, mungkin parkiran ini sepi. Tapi.. tetap saja.

Kulihat tubuhnya sedikit bergetar. Tunggu. Jangan katakan bahwa ia akan bertransformasi sekarang? Tidak, kumohon. Tiba-tiba ia membuka matanya dan menoleh padaku. Menatapku perlahan dengan sinis.

Aku menutup mulutku dengan tangan dan merapatkan tubuhku ke mobil.

“Masuk!”

Aku hanya diam. Apa yang dikatakannya tadi? Masuk? Ke mana?

Ia melirik mobil BMW itu dan sekali lagi memerintahkanku untuk masuk. Tanpa babibu lagi, aku langsung masuk ke kursi penumpang. Dari balik kaca mobil, bisa kulihat perlahan auranya yang pekat mulai teriris hingga makin lama menghilang. Ia diam beberapa saat sampai akhirnya ia masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelahku. Ia mulai menjalankan mobil kembali ke mansion.

Di perjalanan ia hanya menatap lurus ke depan, tanpa berkata sepatah katapun. Aku ingin sekali bertanya apa yang terjadi padanya, tapi kuurungkan melihatnya yang.. kembali menyeramkan?

 

***

 

“Selamat pagi,”

Untuk kali pertamanya sejak beberapa minggu yang lalu aku ‘bersamanya’, aku menyapanya. Entah apa yang selama ini kulakukan selama tinggal bersama iblis itu, tapi semua terlewati begitu saja. Well, dengan sedikit banyak kejadian-kejadian menyeramkan memang. Termasuk kejadian malam itu di mana dia mengeluarkan auranya – atau auranya terpancar begitu saja. Sejak malam itu kami tak pernah berbicara panjang, hanya sekedar obrolan tak penting. Ya, obrolan tak penting yang menyelingi ‘kegiatan’nya menikmati auraku.

Iblis dalam wujud manusia itu menatapku heran sesaat sebelum berjalan menghampiriku yang sibuk di dapur.

“Pagi,” jawabnya membalas sapaanku seraya menarik kursi.

Aku sontak menoleh padanya. Ia duduk sambil menopang dagunya di atas meja dan menatapku heran. “Wae?”

Aku menggeleng. Ada apa dengannya? Berhari-hari ia terkesan tertutup lalu sekarang ia mulai mencair. Oke, mungkin waktunya menjalankan misiku.

“Mau ikut sarapan?” tanyaku basa-basi sambil membawa sarapan ke meja makan. Aku tahu ia tidak memakan makanan ‘manusia’ sepertiku. Kecuali malam itu, ia meminum wine. Ataukah, waktu itu ia hanya berpura-pura minum?

“Makanan manusia? Aku tidak butuh,”

“Tapi kurasa kau perlu mencobanya, kau hidup di dunia manusia.” Aku mulai memaksanya.

“Aku bukan manusia. Aku tidak membedakan rasa kecuali aura,” jawabnya sedikit dingin.

Tapi aku terbiasa dengan kedinginan dan kesinisan iblisnya. “Aku tahu. Tapi setidaknya cobalah,” Aku menyodorkan sepiring sandwich padanya. Aku memasang tampang memelas. “Cobalah. Rasanya enak,”

Saat ia membuka mulutnya untuk menyergahku, aku langsung memotongnya. “Kali ini saja!”

Dan dengan wajah malas-malasan, ia mengambil sandwich itu dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Aku tersenyum puas.

Jangan berpikiran bahwa aku menaruh racun di dalam sandwich itu karena meskipun aku melakukannya, tak akan mempan untuknya.

“Bagaimana? Enak kan?” Ia tak menggubrisku. “Habiskan!” Ia sempat melotot sesaat tapi kemudian aku langsung memasang tampang diktator. Ia mungkin lebih diktator dariku, tapi kuharap kali ini ia mau menurutiku.

Sambil memerhatikannya yang memakan sandwich itu, aku membuat sandwich khusus punyaku.

“Err.. boleh aku bertanya padamu?” tanyaku hati-hati. Ia mengangguk sekali. “Mm, siapa Jonghyun?”

Ia menatapku sesaat sebelum menjawab, “Aku.”

o.o

“Seperti katamu, aku hidup di dunia manusia jadi kurasa aku perlu memiliki nama manusia,”

“Jadi, siapa nama MANUSIAmu?” kataku dengan penekanan pada kata manusia.

“Jonghyun. Kim Jonghyun.”

“Dapat ide darimana kau sampai memilih nama seperti itu?”

“Asal. Kupikir nama itu lumayan bagus.”

Dan kau sama sekali tak memiliki darah keturunan keluarga Kim!

“Boleh aku bertanya lagi?” Ia mengiyakan. “Kalau boleh aku tahu, apa yang terjadi padamu malam itu?” Aku mengecilkan volume suaraku saat mengatakan malam itu. Semoga saja ia tak tersinggung.

“Sedikit masalah..” katanya dengan enggan. Sebenarnya aku ingin bertanya lebih jauh lagi, tapi kutangkap ada keengganan untuk bercerita padanya.

 

***

 

“Ada apa denganmu?”

Aku langsung mendongak. Sebelah alisnya naik, tatapannya heran melihatku.

“Ada apa memangnya?” tanyaku balik.

“Kau seperti orang gila. Senyam-senyum terus.”

Aku berpikir sesaat, mencerna kata-katanya. “Oh, itu. Tidak, hanya menurutku hari ini adalah hari yang cerah. Harus diawali dengan senyuman,” Aku memamerkan senyum ceria termanisku.

Dan ia hanya melongo melihatku. Alisnya mulai menyatu kemudian ia kembali dengan ekspresi datarnya.

Kami makan dalam diam. Ya, MAKAN dalam diam. Ia, iblis yang menamai dirinya dengan Kim Jonghyun itu MEMAKAN MAKANAN MANUSIA sepertiku. Sejak kali pertama ia mencoba sandwich beberapa hari yang lalu, aku selalu memaksanya untuk ikut makan denganku. Tentu saja awalnya lagi-lagi ia menolak, tapi aku tak pernah kehabisan akal untuk memaksanya. Berjuta alasan kukeluarkan. Sampai tampang sok marah, mengancam (yang ini tidak berpengaruh, ia yang memegang kendali. Ingat?), sampai memelas pun pernah. Katakan aku menurunkan harga diriku karena memohon padanya? Tak apa.Toh hanya ia yang tahu kan? Maksudku, yah kalian bisa mengartikannya sendiri. Mungkin karena sudah lumayan lama aku bersamanya, aku jadi tak berniat untuk menjaga imejku di depannya. Sebodoh amat!

Dan semuanya berhasil. Misiku adalah mencoba menariknya ke dalam kehidupan manusia. Sulit? Sangat! Aku hanya berusaha karena jujur saja, aku tak ingin hidup dalam ‘kegelapan’ selama sisa hidupku. Kalau saja ia mau masuk ke dalam kehidupan manusiaku – meski hanya sedikit – tapi aku sudah merasa cukup. Setidaknya aku masih bisa menyeimbangkan antara kehidupan normalku sebagai manusia dengan ‘kegelapan’-ku selama bersamanya di mansion ini.

Dulu tak pernah ada yang terbuka di mansion ini. Semuanya hanya disinari oleh cahaya lampu. Namun sekarang sedikit berubah, sedikit. Seperti pagi ini.

Ia mulai terbiasa dengan makanan manusia. Menemaniku makan – siapa juga yang rela makan sambil hanya dipandangi terus-terusan? Jendela dapur dan kamarku juga sudah kubuka, udara segar mulai masuk bertukar dengan yang di dalam. Dan yang paling penting, setidaknya kami mulai bisa mengobrol dengan membahas hal-hal yang lain di luar masalah perjanjian itu. Lebih banyak aku yang bercerita memang, ia hanya mendengarkan sambil sesekali memberiku ekspresi yang kadang-kadang membuatku puas atau dongkol. Ia hanya mengangkat alisnya atau menatapku dengan tatapan meremehkannya atau pun mencibir. Aku hanya puas kalau ia manggut pelan atau mengeluarkan kata-kata ‘Yeah’ atau ‘Tentu’ dan sebagainya. Setidaknya ia menggubrisku kan?

Aku menghentikan makanku dan menatapnya saat teringat sesuatu. Ia hanya memberiku tatapan ada-apa-lagi-nya.

“Aku bosan, besok aku tidak ada kuliah.”

“Lalu?”

“Bagaimana kalau kau temani aku nonton film?” Aku memajukan kepalaku, memberinya tatapan harap-harap.

“Kau nonton saja sendiri,” jawabnya cuek.

Huh! Aku bukannya berharap ia menemaniku, hanya saja aku malas kalau harus menonton seorang diri. Mengantri tiket, nonton sendiri, tak ada teman sejalan.

“Kau jahat, dasar iblis brengsek!” cemoohku.

Ia menyeringai. “Thanks.”

“Itu bukan pujian,”

“Aku tahu,”

Aku memanyunkan bibirku. Diam lagi. Aku berpikir, aku terlalu bosan hidup seperti ini terus. Aku butuh refleshing. Ayolah, apa yang harus kulakukan untuk mengusir kebosanan ini?

“Aha!” aku menjentikkan jariku. “Aku punya ide lain kalau kau memang tidak mau menemaniku pergi,”

Ia hanya mengerutkan keningnya.

Lagi-lagi aku mendekatkan wajahku. “Aku mau nonton DVD cassette saja,”

“Terserah, lakukan saja.” Ia mengedikkan bahunya.

“Tapi kau temani aku!”

“What??”

……….

 

Aku mencoba beberapa posisi nyaman di atas sofa seraya menunggu proses pembacaan kaset DVD di depanku.

“Memangnya film apa yang ingin kau tonton?” tanyanya yang duduk di sebelahku.

“Titanic.”

“Film bergenre apa itu?”

“Tragedy-romantic.” Pandanganku tetap tertuju pada layar TV yang mulai menampilkan Leonardo DiCaprio di pelabuhan dengan buku gambarnya.

“Ganti.”

Aku langsung menoleh. “Mwo? Ganti?”

“Aku tidak mau menonton film cengeng seperti itu.”

Aku menggeliat pelan. “Ah, tapi aku hanya mau nonton film ini. Aku sudah lama tidak menontonnya.”

“Tapi kau sudah pernah menontonnya kan? Untuk apa ditonton ulang? Ganti yang lain saja. Action mungkin..”

“Aku mau nonton ini!”

“Action!”

Kami saling beradu. “Aku tidak suka film action, mendingan yang romantis!”

“Jangan film cengeng!”

“Aku..” Belum selesai kata-kataku keluar, aku terdiam menatap matanya. Tatapan yang mulai mendingin, sifat diktatornya kembali lagi. Aku menelan ludah. Sepertinya aku akan kalah lagi.

“Baiklah, tapi aku tidak ada film action di sini,” kataku akhirnya. “Jadi..?”

Ia mengangkat sebelah alisnya. “Tidak ada sama sekali?” Aku mengangguk. “Lalu, yang ada apa?”

Aku berpikir mengingat apa-apa saja kemudian sedikit gugup sekaligus senang. “Hanya ada film-film drama romantis…” Aku menyengir tipis.

Ia menghela nafas. “Sudah. Kau nonton saja sendiri!”

Aku senang tapi teringat satu hal. “Lalu aku harus nonton sendiri begitu? Sirheo!”

“Apa susahnya sih? Hanya menonton saja kan? Kau tinggal duduk, diam, dan nonton. Selesai.”

“Kan sudah kubilang kalau..”

Ia melirikku tajam. “Aku malas menonton film seperti itu.” Dan ia beranjak meninggalkanku.

Aku mendengus kesal. Huh, dasar iblis tak bisa diajak kompromi!

“Bisa tolong matikan lampu dapur?” pintaku saat ia berjalan keluar dapur dan menuju kamarnya. Dan tanpa perlu menjawab, ia mematikan lampu dapur. Penerangan berkurang, konsentrasiku kembali tertuju pada film yang telah berjalan beberapa menit.

 

…..

 

Aku semakin tenggelam dalam alur film itu. Kupeluk bantal kursi semakin erat. Kapal pesiar itu telah menabrak gunung es. Bencana dimulai. Tatapanku tak beralih sedetik pun.

Namun tiba-tiba kurasakan sebuah tangan kekar melingkari leherku, memeluknya. Kurasakan desahan nafas berat di belakang telingaku, berhembus di rambutku. Hidung mancung itu menyapu tengkukku dan berhenti di telingaku. Aku terdiam.

Tangan satunya memegang daguku dan membuat kepalaku berbalik, menatapnya. Tatapan kami bertemu.

Deg.

Aku membeku menatap matanya. Dingin. Tapi ada sesuatu di sana yang membuat jantungku berdegup kencang. Semakin lama kami bertatapan, semakin sesak nafasku. Wajahnya mendekat. Jarak kami tinggal beberapa senti lagi. Nafasku yang memburu menyatu dengan nafasnya.

Aku menggigit bibir bawahku secara tak kentara, menahan gemuruh di dadaku. Ibu jarinya mengelus pelan daguku, membuat hatiku mencelos. Seluruh tubuhku melemas. Ia semakin mendekatkan wajahnya, hidung kami hampir bersentuhan.

Klek!

Aliran listrik padam seketika. Lampu-lampu mati, begitu pun dengan TV dan DVD. Tak ada penerangan sama sekali. Semuanya menjadi gelap dan aku tak dapat melihat apapun, hanya bisa merasakan desahan nafas di wajahku dan mendengar detak jantungku sendiri.

 

***

 

Pagi ini sedikit berbeda dari pagi yang terlewati kemarin-kemarin. Kalau biasanya suasana mulai menghangat, tidak halnya dengan dua hari terakhir. Sejak kejadian malam itu, kami lebih banyak terdiam. Tak lagi banyak obrolan.

Sebenarnya bukan hal-hal yang tidak biasa memang, hanya sebuah pelukan dan tatapan seperti pada umumnya. Hanya saja entah mengapa, tatapan itulah yang merubah suasana.

Katakan bukan dia yang berubah memang. Aku. Aku yang merasakan hal lain pada diriku sejak malam. Di mana aku bahkan takut melihat matanya. Karena setiap kali tatapan kami bertemu – sejak kejadian itu – ada sedikit perasaan aneh pada diriku. Entah apa perasaan yang muncul itu, yang pasti cukup untuk membuat nafasku mulai sesak.

Dan pagi ini, setelah menyelesaikan sarapan – dalam diam – dan mencuci piring, aku langsung mengurung diri di kamar. Menjelang siang, aku baru keluar kamar, menyiapkan makan siang, makan siang bersamanya – yang lagi-lagi hanya ada sapaan basa-basi – dan berangkat kuliah.

Meninggalkan mansion sejenak, berusaha melupakan ingatan akan kejadian malam itu. Walau pada akhirnya aku tak benar-benar bisa mengusir pikiran itu.

 

***

 

Pulang kuliah aku baru tersadar bahwa persediaan bahan makanan di mansion sudah hamper habis. Kuputuskan untuk singgah di supermarket dulu sebelum kembali ke mansion.

Aku membeli beberapa bahan makanan mentah dan camilan. Saat aku keluar dari supermarket, aku mendengar adanya pertunjukan jalan. Penasaran, kuhampiri kerumunan orang itu. Ternyata ada atraksi badut.

Badut itu memakai kostum lucu dan memiliki kaki (palsu) setinggi dua meter. Ia melakukan beberapa atraksi yang mengagumkan, khas badut. Aku terlalu larut dalam pertunjukan itu. Kemudian, sang badut menyerahkan sehelai kertas padaku.

Aku tersadar langit mulai gelap. Aku melirik jam tanganku. Oh tidak. Ini sudah malam. Aku keasyikan menonton. Aku kembali berjalan pulang. Di sela-sela perjalananku, aku memerhatikan kertas tadi. Kosong. Kubalik. Ternyata ada kata-katanya.

 

Hopefully, you’re mine

Just like ..

 

Dan sebelum aku selesai membacanya, angin bertiup dan menerbangkan kertas itu. Angin membawanya jauh. Kertas itu mendarat di sebuah genangan air. Aku memungutnya dan membaca ulang tulisannya.

 

Hopefully, you’re mine

Just like what he meant, as below..

 

Tulisannya luntur karena air. Aku tak bisa membacanya. Hm, apa maksudnya? Ataukah ini hanya sesuatu yang sebenarnya sama sekali tak penting?

Karena sibuk berpikir, aku tak menyadari bahwa kertas itu membawaku masuk ke sebuah gang sempit, jauh dari keramaian. Aku menyapu gang itu dan mendapati seorang pria paruh baya sedang menatap tajam ke arahku. Perlahan ia mendekatiku dengan langkah linglung. Sesekali ia menabrak sesuatu. Ia terus mendekat, aku menjauh.

“Hey, Cantik. Kemarilah!” godanya sambil tersenyum mesum padaku.

Cih, ternyata ia mabuk. Ia memegang sebotol soju. Pakaiannya berantakan. Ia semakin mendekat hingga aku bisa mencium bau alkohol darinya. Ia mulai mencolekku. Sialan.

“Kita bermain-main dulu, Cantik..”

Aku tidak sudi! Tapi ia memaksa. Aku semakin terpojok. Arrgggh, seseorang tolong aku!

 

(End of POV)

 

***

 

(Author POV)

 

Perlahan-lahan ia berjalan mendekati pria paruh baya itu. Tak ada yang aneh dengan mereka berdua. Saat jarak keduanya sudah dua meter, raut wajah kaget nan ngeri muncul di wajah pria yang beberapa menit yang lalu itu tersenyum mesum pada gadis yang berdiri beberapa meter dari mereka. Dari pantulan keduanya di genangan air yang hanya diterangi oleh lampu gang yang sempit ini, terlihat ia menyeringai licik pada pria itu.

Kemudian ia mengangkat tangannya dan memposisikannya di leher pria itu seraya mendesis pelan, “Don’t touch my girl, Bastard!”Lalu tangannya mencekik leher pria itu perlahan.. perlahan semakin menekan dengan pasti. Pria itu meronta. Ia mengangkat tubuh pria itu dengan tangannya yang terus mencekik. Dan tak lama kemudian darah segar terciprat keluar dari leher pria itu, sedikit membasahi tangan, lengan dan wajahnya. Ia tak menggubris pukulan-pukulan pria itu. Ia terus berkonsentrasi pada cekikannya.

Mata sipit pria itu membelalak sangat hingga hamper keluar dari tempatnya. Ia berteriak histeris, tapi lama kelamaan suaranya menghilang. Pita suaranya telah hancur karena tekanan dari tangan sang iblis. Lalu sebelah tangan iblis itu yang bebas dan memperlihatkan kuku-kukunya yang panjang-tajam mencungkil mata pria itu hingga kedua matanya jatuh, berdarah-darah dan terpental di jalan. Salah satunya menabrak pelan ujung sepatu gadis yang sedang membelalak takut itu.

 

(End of POV)

 

***

 

(Jisun POV)

Dengan tubuh yang masih gemetaran, aku mengikuti Jonghyun – nama barunya – kembali ke apartemen. Saking shocknya, aku tak bisa lagi berbuat apa-apa. Hanya mengikuti Jonghyun yang menuntunku kembali ke mansion. Sesampainya di mansion, aku langsung menuju ke kamarku sambil menggigiti kuku dan jariku dengan gertakan gigiku yang bergetar hebat. Tanpa melihat ke sana kemari lagi.

Namun sebelum aku mencapai pintu kamarku, sebuah tangan menahan lenganku. Aku merasakan sentuhan hangat yang menembus mantelku, membuatku langsung berbalik.

“Hey..” serunya.

Aku bergidik dan langsung menepis tangannya saat melihatnya yang masih berlumuran darah. Wajahnya, lengannya, tangannya.. semua kena cipratan darah. Aku merasa muak akan lumuran darah itu.

“Kau takut?”

Aku tak bergeming.

“Hey..” serunya lagi. Ia mencoba meraih wajahku.

“Jangan sentuh aku dengan darah itu, please..”

Ia menatapku dingin tapi aku hanya berujar, “Tolong, biarkan aku!” Dan tanpa melihat responnya, aku langsung masuk ke dalam kamarku dan mengunci pintunya.

Di dalam kamar, aku hanya duduk di atas tempat tidur dan memeluk lututku. Kejadian tadi berkelebat hebat di pikiranku. Semua kejadian amat sangat jelas terlihat. Tak ada satu pun yang terlewatkan. Cekikan, pemberontakan, darah, bola mata, semuanya. Aku tak pernah berpikir akan menyaksikan secara langsung kejadian mengerikan seperti tadi.

Kuakui, aku pernah menyuruhnya membunuh psycho itu. Ia melakukannya, ya. Bahkan ia membantainya. Aku senang? Tentu saja, dendamku terbalas. Tapi hanya itu yang dulu kuinginkan. Psycho itu mati. Tidak lebih. Aku tidak pernah berniat ataupun mengjarapkan dapat menyaksikan pembantaian itu secara langsung, dengan kedua mata kepalaku.

Tapi kenapa justru sekarang aku harus mengalaminya? Terlalu mengerikan dan menakutkan bagiku. Aku sendiri tak tega.

Aneh? Ya. Aku membuat orang seperti itu, dulu. Aku tak memikirkan hal lain. Dendam, hanya dendam. Yang kuinginkan hanyalah ia mati. Dan pria tadi? Hanya seorang dari segelintir makhluk bernama pria mesum pemabuk yang mencoba menggodaku. Alkohol? Itu penyebabnya. Ia menggangguku, benar. Aku ketakutan setengah mati, benar. Tapi aku bahkan tak pernah berpikir bahwa pembalasan yang harus diterimanya karena perbuatan di bawah alam kesadaran penuhnya itu akan berujung pada sebuah pembantaian.

Aku tahu apa tujuan iblis itu. Ia memilikiku. Wajar ia tak suka, tapi.. alasan itu terlalu ringan untuk balasan sekejam itu. Dan atas apa yang terjadi hari ini, aku hanya bisa mengatakan bahwa berurusan dengan seorang iblis sama dengan menggali lubang kuburmu sendiri. Hal sekecil apapun itu, sadar tidak sadar. Itulah hukumnya.

 

***

 

Aku sedang berjalan keluar kelas saat mendengar sebuah suara memanggilku. Aku menoleh. Ah, wanita ini.

“Sebelumnya aku minta maaf, aku sedikit mencampuri urusanmu malam itu tanpa mengenalmu terlebih dahulu,” Aku hanya bisa menatapnya. “Kenalkan, aku Kim Jiyoung. Kau Yoon Jisun kan? ‘Teman baik’ Jinki dari SMA?”

 

-TBC –

 

komen yo, klo g komen g aku lnjutin!! *ngancem*

93 responses to “Life for The Devil – Part 3

  1. uuh.. jjong nyeremin banget..tapi juga romantis (?)
    adegan skinship-nya ngena banget ><
    hahaha
    lanjut ke chapt slanjutnya XD XD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s