Me Inside The Mirror [Part2-end]

 

Title : Me Inside The Mirror

Author : Cute Pixie

Casts : Park Jiyeon T-ARA, Lee Taemin, Anne Marry, Park Jisun

Genre : Horror, Romance

Rate : PG-13

Length : 2shot

Disclaimer : I don’t own all casts here (except Jisun, it’s me). I just own the plot. It’s belong from my imagination.

Previous part : Part.1

****

Jiyeon POV

Aku tak percaya ini.Aku terus meraba-raba wajahku dengan kedua tanganku.

Mataku bulat, hidungku mancung, kelopak mataku muncul, wajahku mulus dan putih, tak ada goresan-goresan aneh yang tergurat di daerah sekitar wajahku. Mulus dan bersih.

Dan juga tubuhku. Tubuhku di dunia nyata itu sangat gendut, sedangkan disini.. tubuhku menyusut. Aku langsing. Hore!

Akhirnya, aku cantik. Aku nyaris sempurna.

Permintaan terbesarku terwujud sudah. Sudah lama aku menginginkan fisik diatas rata-rata, seperti yang dimiliki Goo Hara, Sulli, Suzy, dan cewek-cewek golongan atas lainnya.

“Itulah dirimu yang sebenarnya, Jiyeon. Kau cantik.” kata Marry.

Itu sama sekali yak menyinggungku, Ya, aku memang cantik. Di dunia cermin.

“Itu hanya sebagian kecil dari hadiahku. Terimakasih telah menemaniku,” ucap Marry.

TOK-TOK-TOK

Tiba-tiba terdengar suara pintu terketuk. kami sama-sama terkejut, pandangan kami beralih ke sekitar.

“Jiyeon-ah!!”

Kedengarannya seperti suara umma. Apa umma sudah pulang dari makan di restoran?

Marry melirikku. “Sepertinya kau harus pulang.”

“Jiyeon-ah!! cepat buka pintunya!” seru umma sambil menggedor-gedor pintu.

“Kau harus pulang ke duniamu!”

“Sekarang?” tanyaku bego.

“Sekarang!” seru Marry. Ia menarik tanganku, menuruni tangga atap, melewati koridor demi koridor kelas. Kami bahkan tak perduli dengan beberapa orang yang kami tabrak sepanjang perjalanan. Aku berusaha menyamai langkah Marry, aku sudah leleah untuk berlari menyamai langkahnya.

Akhirnya kami tiba di aula, tempat dimana pertama kali aku masuk ke dunia cermin.

TOK-TOK-TOK

“Jiyeon-ah! Kau dimana?!”

“Pulanglah..”

“Tap-tapi…Aku masih ingin disini. Aku ingin di dunia cermin saja.” kataku mengelak.

“Ayo cepat!” Marry mendorongku agar semakin mendekati sudut tembok aula yang bercat putih.Perlahan-lahan ia pun mendorong tubuhku, hingga menembus portal antara dunia nyata dan dunia cermin itu.

Oh.

Kurasakan kembali rasa dingin yang kurasakan tadi saat memasuki cermin. Rasanya seperti menceburkan diri sendiri ke dalam bak mandi berair beku. Sangat dingin.

Tok-tok-tok.

“Ah!” aku terbangun. Kelopak mataku yang terasa berat terbuka perlahan. Aku mengucek-ngucek mataku. Pemandangan yang pertama kulihat adalah suasana kamarku yang agak remang-remang, sedikit pencahayaan yang memantul dari air danau di taman belakang rumah.

Apa yang terjadi? Tadi itu mimpi atau apa?

Aku terkejut saat mendapati diriku tengah berbaring di ranjang, dengan selimut tebal bermotif bunga lily yang menutupi separuh dari tubuhku.Tubuhku kini berbalut piyama pink kesayanganku.

“Jiyeon!”

Arghhh.. aku kesal dengan suara berisik umma. Bisakah dia diam? dia baru saja menghancurkan mimpi indah yang baru saja kurancang!

Dengan setengah ikhlas, kusingkirkan letak selimut yang melilit tubuhku. Perlahan kakiku turun menyentuh permukaan lantai. Aku bangkit dari ranjang dan melangkah arah pintu.

Kreett.. pintu terbuka. Yang kulihat saat ini adalah wajah kusut umma yang sengaja ditampakkannya padaku.

“Kalau kau masih hidup, harusnya kau membukakan pintu kalau orang ingin masuk!” bentak umma. “Makan malam sudah kusiapkan sejak pulang tadi. Cepat keluar kamarmu dan makan!”

Aku menggeleng.”Aku tidak ingin makan.Aku ingin diet.”

Umma tertawa. Alisku naik sebelah. Hei, apanya yang lucu?

“Kau mau diet? dengan badan sekurus itu? Hahahaha.. yang benar saja!”

Apa?

Kutundukkan kepalaku, melihat bentuk bentuk kakiku yang sekarang sudah berukuran normal. Tidak bengkak seperti dulu. Juga pinggangku. Pinggangku tidak lebar lagi.

“Itulah dirimu yang sebenarnya, Jiyeon. Kau cantik.”

Jadi.. mimpi itu.. ucapan Marry..

Kenyataan?

***

“If you wanna pretty.. everyone wanna pretty.. no.. no.. no.. no..”

Aku mematut diriku didepan cermin yang terpajang di dinding kamarku sambil bersenandung kecil. Hari yang cerah, harus dimulai dengan semangat yang cerah juga.

Tanganku bergerak menuju sekitar poniku, menjepit beberapa helai rambut depanku dengan jepitan kupu-kupu silver kesayanganku. Manis.

Kuperhatikan wajahku sekali lagi. Penampilanku nyaris sempurna. seragam sekolah yang ketat, dan rok super mini yang membuat penampilanku menjadi lebih menarik. Aku merasa seperti terlahir kembali. Seperti Park Jiyeon yang baru.

Kusentuh sisi cermin itu. Kacanya sedikit retak dan berdebu. Cermin inilah tempat tinggal Marry. Dan juga portal yang menghubungkan antara dunia nyata dan dunia tempat tinggal gadis itu.

Hm.. kira-kira gadis itu sedang apa pagi-pagi begini?

Wosssshhhh…

Angin berhembus kencang tepat saat tanganku masih menyentuh sisi cermin itu. Bulu kudukku agak sedkit merinding. Kupegang tengkukku. Hhh.. perasaanku agak aneh.

“Jiyeon unnie!”

“Ah!” aku terperanjat. Ternyata Jisun. Bikin kaget saja. Jisun yang masih memakai seragam SMP muncul dari balik pintu. ia berlari kearahku dengan tas ransel yang tergantung di pundaknya. Ia memperhatikanku sejenak.

“Sibuk dandan, ya?”

“Kalau iya, memangnya kenapa?” tanyaku agak jengkel.”Berangkat kesekolah, sana!”

Aku membalikkan tubuhnya dan mendorongnya perlahan agar keluar dari kamarku.

“Kau tak ingin berangkat bersamaku dan appa?”

Cih. Appa? dia bilang aku apakah aku ingin berangkat bersama mereka? apa tidak salah? biasanya appa yang selalu mengantar Jisun si anak emasnya itu.

“Appa sudah menunggu unnie di dalam mobil.. dia sangat berharap unnie mau diantar ke sekolah olehnya.” sahut jisun dari luar kamar sebelum ia menghilang entah kemana.

Apa aku tidak salah?

Kenapa appa tiba-tiba perhatian padaku?

***

“Park Jiyeon…”

“Suiittt.. suiitttt..”

“Hey, cantik..”

Aku melenggang melewati beberapa orang yang memandang ke arahku, bahkan aku bisa mendengar beberapa pujian dari mereka. Dan juga celaan dari yeoja yang tidak suka denganku.

“Dia cantik sekali..”

Aku tersenyum mendengar kata itu. Entah mengapa setiap kalimat bernada pujian yang dilontarkan orang-orang hari ini menjadikanku lebih percaya diri. Jauh sebelum aku menjadi Park Jiyeon si monster gendut, monster yang selalu dihina orang.

“Hey, Jiyeon.. kau mau pulang denganku?” tanya seorang namja yang tiba-tiba melintas dihadapanku. Matanya membulat, menatap penuh harap padaku. Seolah-olah memaksaku untuk mengiyakan ajakannya.

“Ah, tapi aku..”

Belum sempat aku menolak ajakannya, tiba-tiba kurasakan lenganku seperti ditarik oleh seseorang.
“Jiyeon sudah janji ingin pulang denganku.”

Aku berbalik. Kudapati Lee Taemin, namja yang kusukai sejak pertama masuk sekolah ini, menggenggam tanganku dengan erat. Ia tersenyum manis padaku. “Iya kan, Jiyeon?”

Aku mengangguk pelan. “Ah.. ne.. iya.”

Namja yang mengajakku tadi mencelos, ia mendengus kesal lalu pergi begitu saja. Aku menunduk malu saat menyadari tangan Taemin masih menyentuh kulit tanganku. Perlahan kulepas tangannya, membetulkan letak ranselku dan berjalan keluar gerbang sekolah.

Taemin menyamakan langkahnya. “Eit.. tunggu dulu, Jiyeon-ah. Kau sudah janji ingin pulang denganku.”

Hah? kukira ia hanya bercanda. Ternyata..

Akhirnya aku menyetujui permintaannya. Tak kusangka Taemin ini diam-diam ternyata agresif juga orangnya. Ia tak malu mengajak seorang gadis untuk pulang dengannya.

Aku sudah naik dibelakangnya. Taemin yang sudah bersiap sedia mengemudikan motornya, berbalik kearahku dan tersenyum.

“Pegangan yang erat, ya.”

“Untuk apa?”

“Ya pokoknya pegang saja..” ucap Taemin agak ngotot. Dan saat aku ingin memegang bahunya, tiba-tiba ia menggas motornya dengan kencang dan hampir membuat tubuhku terdorong ke belakang.Refleks tanganku bergerak melingkar di pinggangnya.

“Arghh! kau mengerjaiku, ya?!” seruku dengan volume suara yang keras, beradu dengan suara mesin motornya yang menggelegar.

Ia berbalik. “Sudah kubilang, pegang yang erat!”

Aku memanyunkan bibirku. Agak kesal sih.. tapi menyenangkan juga berpose seperti ini. Taemin terus memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Bahkan saking kencangnya, kami berdua hampir saja menabrak tong sampah yang ada dijalan.

Ckiiiiittt..

Tak sampai setengah jam, kami sudah sampai di depan rumahku. Taemin menghentikan mesin motornya dan melepas helm hitamnya. Aku turun dari motornya, disusul olehnya.

“Err.. kau mau masuk?” tawarku.

Ia menggeleng. “Tak usah. “

Aku mengendikkan bahuku. “Ya sudah.. aku masuk duluan, ya.”

Taemin menarik tanganku. “Tunggu dulu..!”

“Apa?”

Taemin tidak berbicara apa-apa. Ia menatapku lekat-lekat. jujur saja, aku makin salah tingkah. Bagaimana tidak, bagaimana perasaan seorang gadis kalau namja yang disukainya menatap wajahnya dari jarak sedekat ini? Pasti gadis itu akan merasakan hal yang sama sepertiku.

Bola mata Taemin memandangku dari bawah ke atas, menatapku dengan tatapan menilai. “Hmm.. sepertinya kau makin hari makin.. cantik.”

Benarkah?

“Aku tak tahu kenapa.. padahal sebelumnya kita jarang bicara.. tapi aku merasa kalau kita ini dekat.” terang Taemin. “Aku selalu saja memikirkanmu.. bayanganmu tidak bisa lepas dariku.. seperti ada sesuatu yang memaksaku untuk mengingatmu terus.”

Deg.

“Disini, manusia yang berhasil masuk ke dunia cermin dan mengatur keadaan dunia cermin berdasarkan keinginan mereka yang tidak tersampaikan. Seperti tadi. Aku berani bertaruh, kau pasti menginginkan Taemin menyukaimu, bukan?”

Ucapan Marry kini terlintas diotakku.Ternyata di dunia cermin bisa berdampak ke dunia nyata. Jadi itu berarti.. Taemin menyukaiku?

Taemin menyukaiku atas kehendakku sendiri? Itu karena aku yang mengendalikan perasaannya?

“Aku suka.. Park Jiyeon.” ucap Taemin sambil menunduk malu.

Aku tak bisa berkata apa-apa. speechless. Bibirku tertutup rapat. Ada perasaan malu dan bahagia yang muncul bersamaan saat mendengar pernyataan darinya. Ini aneh, kakiku mendadak lemas dan sebentar lagi akan meleleh dalam kurun waktu beberapa detik lagi.

“Jiyeon?”

Taemin mengibas-ngibaskan telapak tangannya didepan wajahku.

“Ah?”

“Bagaimana?”

“Bagaimana apanya?” tanyaku balik.

“Aigoo..” Taemin mengacak-acak rambutnya frustasi. “Bagaimana, kau mau jadi pacarku atau tidak?”

Ini aneh. bagaimana bisa ada pernyataan cinta seperti ini?

“Uhm.. aku..”

“Aku butuh jawabanmu sekarang, Jiyeon. Aku tak bisa menunggu lebih lama lagi.” katanya, kalimat yang dilontarkannya terdengar sedikit memaksa.

Otte? apa yang harus kulakukan? berpura-pura bersikap sok cool atau memasang tampang senang?

Akhirnya aku memutuskan untuk mengambil pilihan yang kedua. Aku tersenyum, mengangguk kecil. Seulas senyum terbentuk di bibir Taemin. Ada perasaan lega yang nampak dari wajahnya.

“Ah, akhirnya!” ucap Taemin sumringah. Sedetik kemudian aku sudah berada dalam pelukannya.

“Aku senang sekali.. sangat senang!”

“Aku juga..” kataku setengah berbisik. Ia memelukku erat, sangat erat. Hangat sekali. Jadi, beginikah rasanya memeluk seseorang yang kau cintai?

Kuberanikan diriku, tanganku berpindah posisi dan melingkar di pinggang Taemin. Sementara namja yang sedang memelukku mengacak-acak rambutku. Omo.. ini seperti mimpi. Mimpi yang sangat indah. Kalaupun ini mimpi, aku yakin sekali kalau aku tak ingin bangun dari tidurku.

***

Sehari.. tiga hari.. lima hari..

Akhirnya tepat seminggu aku dan Taemin resmi jadian. Dan coba tebak, apa yang terjadi padaku seminggu belakangan ini?

Hidupku berubah drastic. Dari Park Jiyeon si itik buruk rupa menjadi seekor angsa yang cantik. Kehidupanku di sekolah berbanding seratus delapan puluh derajat dibandingkan dulu.Aku termasuk siswi yang cukup diperhitungkan di lingkungan sekolah. Orang-orang mulai mendekatiku, ingin sekali berteman dengan golongan atas sepertiku.Dirumah, aku pun mendapat perhatian yang khusus dari appa dan umma. Mereka tak lagi meng-anak emaskan Jisun. Perhatian mereka kini lebih tercurah kepadaku.

Dan aku sadar ini semua berkat gadis itu. Gadis yang seminggu yang lalu menemuiku, membawaku ke dunia cermin –entah itu mimpi atau apa, yang jelas kejadian itu terasa nyata bagiku.

“Hari ini kelas kedatangan murid baru..”

Pak Leeteuk songsaenim melirik kearah siswi berambut panjang keemasan disampingnya. “Ayo, perkenalkan dirimu.”

“Namaku Anne Marry. Senang berkenalan dengan kalian.” Ucap gadis itu singkat dan datar.Pandangannya lurus kedepan. Kosong.

Terkejut. Itulah yang kurasakan detik ini. Keterkejutanku ini bukan tanpa alas an, siapa lagi kalau bukan pada siswi baru yang berdiri di depan papan tulis itu. Aku sangat mengenal siapa gadis yang berambut blonde itu.

Apalagi seteah ia mengucapkan namanya, membuatku semakin yakin dialah gadis yang dulu mengajakku masuk ke dunia cermin. Ya, tak salah lagi. Dia pasti Anne Marry.

Mau apa dia kesini?

“Anne Marry, kau boleh duduk di bangku paling belakang, sudut kiri.” Terang Leeteuk songsaenim seraya menunjuk bangku paling pojok plus paling belakang di kelas, sementara Marry menuruti kata pak guru dan melenggang menuju bangku yang dimaksud pak guru.

Disatu sisi, pandangan kebanyakan siswa di kelas terfokus kea rah gadis cantik itu. Apalagi siswanya. Seperti baru melihat gadis cantik saja. Bola mata mereka mengikuti arah pergerakan kaki Marry, tak terkecuali Taemin.

“Dia cantik..” gumam Taemin pelan.

“Apa?” aku melirik ke arah Taemin yang duduk di sampingku sambil mengeluarkan jurus death-glareku.”Jadi.. dia masuk tipe gadis idamanmu?!”

Taemin tertawa sejenak, lalu mengacak ujung rambutku dengan gemas. “Aigoo.. no way! I only have eyes for you..”

AKu terdiam. Ucapan Taemin sedetik yang lalu seakan-akan membuat aliran listrik mengalir dari atas hingga ke bawah tubuhku. Aku yakin, wajahku pasti berubah merah karena ini.Aku melirik ke belakang.

Dan saat itu juga mata kami berdua bertemu.

Marry. Benarkah dia gadis yang waktu itu? Benarkah dia gadis yang telah memberi banyak keajaiban di dalam hidupku?

Dan sayangnya mungkin jawabannya adalah iya. Rasanya aku yakin dia benar-benar Marry yang tinggal di dalam cermin.

****

Sejak saat itu, aku dan Marry menjadi semakin dekat. Marry telah resmi bertempat tinggal di dunia nyata, meskipun setelah itu ia kembali mendekam di cermin kamarku –tempat asalnya. Ternyata Marry anak yang manis dan menyenangkan, meskipun di kelas ia bisa dikategorikan sebagai gadis yang hemat bicara dan hanya berbicara padaku seorang. Marry juga kukenalkan pada Taemin, namjachingu-ku.

Namun semuanya menjadi berbanding terbalik. Semuanya seakan menjadi mimpi buruk bagiku.

Saat itu, masih pagi buta. Terlalu awal bagi orang awam untuk memulai aktivitasnya. Jam 7 pagi aku sudah tiba dikelas dan duduk dibangkuku, berkutat dengan novel remaja yang baru kubeli beberapa hari yang lalu. Suasana kelas makin lama makin riuh, seiring kedatangan satu-persatu siswa ke kelas ini. Aku celingak-celinguk ke sekitar. Taemin belum datang.

Namun suasana menjadi hening saat terdengar langkah sepasang sepatu memasuki ruang kelas. “Annyeong!”

“Ann..” balas salah satu teman kelasku, namun ucapannya terhenti saat melihat sosok gadis berambut panjang lurus yang berdiri di muka kelas. “Omo!!!”

Suara seruan temanku itu memecah konsentrasiku membaca. Dan saat aku mendongakkan kepalaku –menatap gadis yang baru datang itu, jantungku terasa berhenti berdenyut. Aku terkejut bukan main. Dia.. Marry?

Marry tampak lain. Rambutnya yang keemasan dan bergelombang, dicat hitam dan lurus. Dandanannya sama sepertiku, dan itu yang membuatku sulit percaya dengan kejadian di depan mataku ini. Marry menjadi mirip sekali denganku. Persis.

“Kau tampak lain. Kau terlihat seperti Jiyeon.” Kata salah satu teman sekelasku, Lee Jinki. Gadis yang menjadi lawan bicaranya itu hanya tersenyum simpul. Karena rasa penasaranku yang muncul, akhirnya aku bangkit dari bangkuku dan menghampiri Marry yang sedang dikerumuni teman-teman sekelas.

“Kau..”

“Ah.” Marry berbalik ke belakang, dan alhasil mata kami berdua bertemu. Namun kali ini lain, mata Marry benar-benar gelap dan teduh. Ia menunduk.

“Aku ingin lebih dekat denganmu, Jiyeon.. ituah sebabnya aku ingin meniru gayamu, meniru caramu berpakaian..” sepertinya Marry menyadari kalau aku ingin sekali marah padanya. Tiba-tiba ia berkata lagi. “Seharusnya aku meminta persetujuanmu dulu.. mianhamnida..”

Dia ingin sepertiku?

Perlahan-lahan setetes demi tetes air mata gadis itu jatuh. Ia menangis. Aku panik dan langsung merangkul pundaknya. “Aigoo.. jangan menangis! Aku tidak marah, aku malah senang!”

Tangisan Marry berubah menjadi sesegukan kecil. Ia menatap mataku tak percaya. “Jinjja?”

“Ne..”

***

Marry.

Dia benar-benar mirip denganku. Bahkan sangat mirip. Dia mengopi semua penampilanku, termasuk tas berwarna putih polkadot yang sering kubawa ke sekolah dan sepatuku yang bermodel sama dengannya. Awal-awalnya aku agak biasa dengan ini, tapi lama-lama jadi kesal juga. Terang saja, siapa orang yang tak kesal kalau ada seseorang yang meniru penampilannya? Tentu saja kesal. Kurasa ada yang lain dari Marry.

Aku berjalan gontai sepanjang  koridor sekolah, dengan beberapa buku yang kupegang erat. Tiba-tiba kudengar suara orang dari arah belakang.

“Marry!”

Ia menepuk pundakku, refleks aku berbalik saat mendapati sosok yeoja itu. “Namaku bukan Marry..Aku Jiyeon.”

Ia terkejut, meletakkan telunjuknya di ujung dagunya yang putih. “Omo.. mianhe, aku salah orang.Semakin hari, kalian berdua semakin mirip!”

“Aku ingin lebih dekat denganmu, Jiyeon.. ituah sebabnya aku ingin meniru gayamu, meniru caramu berpakaian..”

Perkataan Marry langsung terlintas di pikiranku, semuanya seperti rekaman kaset yang seolah-olah terputar di otakku. Huh. Dia bilang dia ingin lebih dekat denganku.. tapi ini terlalu ekstrim. Berlebihan.

Marry.. apa sih yang gadis itu pikirkan?

Sedetik kemudian aku berlari meninggalkan gadis itu. Kulangkahkan kakiku secepat mungkin menyusuri lorong-lorong kelas yang padat akan kerumunan siswa dan siswi. Aku terus berlari, tak perduli berapa banyak orang yang menggerutu karena telah kutabrak.

Aku harus memberitahu Taemin. Ya, harus. Saat ini hanya dia yang bisa mengerti perasaanku.

Dan saat kakiku muai berpijak di depan pintu kelas, mataku mulai mencari-cari sosok Taemin. Dia sedang duduk dibangkunya dan memasang tampang tersenyum, kelihatannya dia sedang mengobrol dengan seorang temannya.

“Kau mau kuajak nonton besok malam?”

“Ya.. aku mau! Tentu saja!”

Omo..

Ternyata yang duduk disebelah Taemin..Marry? dia sedang mengajak Marry kencan? Apa aku tak salah dengar?

“SHIREO!!!” teriakku kencang, kontan seluruh pasang mata yang berada di kelas memandang tajam kearahku.

Perlahan-lahan kurasakan mataku mulai memanas, air mataku sudah tak tertahankan lagi. Aku ingin sekali menangis.Hatiku sangat sakit, serasa dihujam dengan seribu pisau tajam sekalipun. Aku tak menyangka, namja yang kusayangi kini berada disisi orang yang kini kubenci.

Sialan.

“Jiyeon!”

Aku bisa mendengar seruan Taemin yang memanggilku darikejauhan, tapi aku tak perduli. Aku harus pergi dari tempat ini. Aku tak tahu kemana, yang jelas aku merasa muak melihat wajah mereka berdua. Aku membenci mereka.

***

Sejak saat itu, aku dan Taemin tak pernah berbicara, walau sepatah katapun. Beberapa kali mata kami berdua bertemu secara tak sengaja, tapi segera kualihkan keadaan seperti tak terjadi apa-apa. Aku malah membuang muka dan berpura-pura melihat kearah lain.

Aku benci pada Marry. Aku tak menyangka dia benar-benar jahat padaku. Taemin harus tahu, kalau sebenarnya Marry hanyalah rakyat dunia cermin.Semu. Dia hanyalah makhluk yang tak seharusnya berada disini.

Aku sedikit terkejut saat meihat Taemin dan Marry sedang berjalan beriringan melewati gang yang sunyi saat pulang sekolah. Dan yang membuat hatiku makin panas adalah tangan Taemin yang menyentuh kulit tangan Marry.

Aku ingin sekali berbalik ke belakang dan membuang muka dari mereka, tetapi nasib berkata sebaliknya. Mereka berdua menangkap basah diriku.

“Taemin..” aku berusaha menyapanya. Tapi Taemin malah tak meresponku.

“A.. aku..”

Perkataanku terpotong saat Taemin berbicara duluan. Ia menghela nafas.”Jiyeon, sekarang aku sudah resmi menjadi namjachingu-nya Marry.Jadi.. kita putus saja.”

Apa?

“Terimakasih telah membuat hari-hariku menjadi bahagia.. tapi kurasa aku akan lebih bahagia jika bersama Marry.” Lanjutnya lagi, acuh.

T-tunggu dulu..

Kau bercanda kan, Taemin? Kau hanya ingin mengerjaiku, bukan?

Tolong katakan ini semua hanya lelucon! Kumohon..

Aku menunduk.Perlahan-lahan, setetes demi tetes air mata jatuh membasahi sepatu sekolah yang kukenakan. Perasaanku saat ini sangat sakit. Aku tak menyangka ia akan berbuat hal yang setega ini padaku. Padahal aku sungguh mencintainya. Tapi ternyata?

“Terima saja, Jiyeon..” ucap Marry memandang sinis kearahku.

Cih. Sudah kuduga akan begini jadinya. Sejak awal Marry memang merencanakan sesuatu yang buruk padaku. Sejak aku diajaknya masuk ke dalam dunia cermin tempatnya tinggal.Aku baru sadar, inilah sisi gelap dari seorang Anne Marry. Kecantikan.. popularitas.. cinta.. dan kasih sayang orang tuaku, itu semua pemberian Marry. Dan kini ia ingin merenggut semua itu kembali dariku.

****

“Jiyeon dan Taemin putus..”

“Hah? Masa? Aku sudah menduga ini akan terjadi. Taemin lebih baik bersama Marry.”

“Ya, Jiyeon akhir-akhir ini mulai menunjukkan sikap buruknya.”

“Mereka memang sama dari luar, tapi didalamnya.. berbanding terbalik.”

Perkataan beberapa orang di sekolah terus saja terngiang-ngiang mengelilingi otakku. Aku menutup wajahku, ingin sekali menangis sepuasnya. Dan setelah itu kubuka mataku kembali, memandang langit-langit kamarku yang suram.Malam mulai menenggelamkan matahari. Sinar matahari kini tergantikan dengan sinar bulan yang terpantul dari air permukaan danau yang tenang di belakang kamarku. Tiba-tiba badanku terasa sangat merinding.

Hari ini, tepat hari ulang tahunku yang ke 17.

Tapi tak ada satupun yang mengucapkan selamat ulangtahun padaku. Padahal aku ingin sekali menerima ucapan selamat itu dari Taemin dan keluargaku.

Pandanganku akhirnya terfokus pada satu titik, sebuah cermin tua dan berdebu yang sepanjang tinggi manusia, tergantung disudut kamarku. Portal penghubung antara dunia nyata dan dunia cermin.

“Saengil Chukkae hamnida.. saengi chukkae hamnida..”

Terdengar suara tawa dari arah luar kamarku. Seperti suara tawa appa.

“Saranghaneun, nae Jiyeon.. saengil chukkae hamnida..”

Dan itu.. suara umma. Suara tawa Jisun yang meledak seantero ruangan juga sukses membuatku terkejut. Mereka sedang apa diluar? Apa mereka sedang merayakan ulangtahunku?

Karena rasa penasaranku yang muncul, akhirnya aku memutuskan bangkit dari ranjangku. Kubuka sedikit pintu kamarku, mataku mengintip keadaan ruang tengah melalui celah-celah pintu. Bisa kulihat Jisun, appa dan umma berdiri, serta sebuah cake ultah yang cantik berada diatas permukaan meja.

Mataku terbelalak kaget, sekaligus tak percaya saat menyadari gadis yang berdiri diantara mereka bertiga, meniup lilin ulangtahun hingga padam, yang seharusnya ditiup olehku. Dia..

Anne Marry.

Sial. Ternyata belum puas dia mengambil namjachingu-ku, kini dia ingin mengambil keluargaku. Aku menyesal sudah mengeluarkannya dari dunia cermin.

Batas kesabaranku sudah habis. Kubuka pintu kamarku dengan kasar dan menghampiri mereka berempat.

“Hentikan!”

Appa berbalik. Ia menunjuk kearahku dan melirik ke Marry.“Siapa dia, Jiyeon?”

“Dia temanmu?” tambah umma.

“Tidak. Dia bukan temanku.” sahut Marry, menatapku dengan pandangan tajam, seolah-olah ingin menghabisi nyawaku.

“Umma! Appa! Jisun.. dia bohong! dia bukan Jiyeon!” teriakku dengan suara serak, tapi aku tak perduli. Aku harus meyakinkan keluargaku bahwa gadis palsu yang berada ditengah-tengah mereka adalah makhluk jadi-jadian.

“Kau..” telunjuk appa mengarah padaku. Ia menatap marah kearahku, bola matanya yang biasanya teduh kini berubah kemerahan. “Aku tak tahu siapa kau.. tapi keluar dari sini!”

Marry tertawa iblis. “Ya! Cepatlah, keluar dari sini! Ini bukan rumahmu!”

Omo.. aku tak percaya ini.

Air mata mulai mengalir dari sudut mataku, air mataku ini sulit sekali kutahan.

“Keluar!”

Brak! Marry mendorong tubuhku hingga ke pintu kamarku. Aku hanya bisa meringis kesakitan saat terjatuh diatas lantai kamarku. Marry berjongkok kearahku,kepalanya perlahan mendekat. Ia menyeringai.

“KE-LU-AR-SE-KA-RA-NG-JU-GA..”

Mataku terbelalak. Wajah Marry berubah sangat mengerikan. Wajah putih pucatnya digantikan dengan goresan-goresan yang memenuhi wajahnya, mengeluarkan nanah putih yang perlahan-lahan menetes membasahi kamarku. Bola matanya tak ada, rongga matanya kosong. Yang terlihat hanyalah pembuluh darah yang memenuhi rongga mata Marry. Nanah yang bercampur darah merah amis dikeluarkannya dan mengeluarkan bau busuk.tangan dan baju yang kukenakan sempat terkena cairan darahnya yang jujur saja, baunya itu membuatku ingin muntah.

Marry tersenyum iblis. Ia semakin mendekat kearahku, dan dengan sekuat tenaga ia mendorong tubuhku kebelakang, semakin mendekat ke dinding sudut kamarku. Angin berhembus kencang, perlahan-lahan kurasakan kulit tengkukku dingin bukan main. Saat ini tubuhku sudah berjarak beberapa senti lagi dari cermin terkutuk itu.

“Ke-kenapa kau.. melakukan semua ini padaku?”

“Kau masih ingat, dulu kau sendiri yang tak ingin tinggal di dunia nyata, bukan?” ucap Marry dengan matanya yang berkilat-kilat marah. “Kini aku datang untuk membantumu.”

Aku teringat sesuatu, sesuatu yang seharusnya tak usah kukatakan sejak itu.

“Aku masih ingin disini. Aku ingin di dunia cermin saja.”

Ah.. aku baru sadar.

“Ta-tapi.. sebenarnya bukan begitu..”

Marry menyeringai mengerikan. “Cepatlah kembali ke asalmu! Dunia cermin tak bisa kehilangan salah satu rakyatnya..”

“TIDAK!!”

Sudah terlambat. Kulit tangan Marry yang pucat dan berurat mendorongku perlahan memasuki permukaan cermin.Semakin lama semakin dekat.. makin dekat, hingga tanpa sadar punggungku sudah menembus cermin itu. Aku merasa dingin. Sangat dingin. Tubuhku perlahan menghilang dari dunia nyata, pecah menjadi serpihan-serpihan kecil yang sebentar lagi akan hilang dalam kurun waktu yang tak lama lagi.

Siapapun itu, tolong aku..

***

Epilog

Marry tersenyum simpul. Ia memandang cermin tua itu, memegang sisinya yang sudah berdebu sembari berucap manis.”Selamat ulang tahun, Jiyeon…”

“Inilah hadiahku untukmu.. hadiah yang tak terlupakan, bukan?” ucapnya lagi.

Tok.Tok.

Terdengar suara ketukan pintu.Sedetik kemudian muncul kepala Jisun dari luar ruangan. “Jiyeon unnie, cepat keluar kamar! Aku punya sesuatu untukmu!”

Marry berbalik kebelakang. Dengan langkah riang, ia berlari kecil menghampiri Jisun yang berdiri di muka pintu.

“Aku sudah mempersiapkan hadiah yang spesial untukmu diruang tengah!” seru Jisun bersemangat. Marry tersenyum antusias.”Oh ya? Aku ingin lihat..”

BLAM!

Dan akhirnya mereka berdua meninggalkan kamar itu.Kamar bernuansa suram yang sunyi dan sepi dengan sebuah cermin sebesar ukuran manusia dewasa yang tergantung di sudut kamar tua itu.

Be careful..

Next time, the new Anne Marry..

Might appear at your mirror..

 

.::::FIN::::.

mian klo horornya gagal + ga jelas alurnya T.T

di ff ini juga banyak misstype-nya, so dimaklumin ajh ya chingudeul^^

pokoknya jeongmal gomawo yg udh mau ngikutin ni ff.. thx!!

dan buat silent readers, mudah2an tergerak hatinya untuk komen deh.. kkk~

 

 

 

 

 

 

39 responses to “Me Inside The Mirror [Part2-end]

  1. Sudah menyangka endingnya bakal kayak gini..
    Kasian Jiyeon.. Kehidupannya direbut sm Marry..
    Bagus nih ffnya ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s