[Freelance] My Life Just For You

Author : Nayoung_Eunkyu’s  aka Anik

Genre : Romance

Rated : Teenager

Length : Oneshoot

Cast : Lee Hyuk Jae, Lee Donghae, Cho Kyuhyun,

***

Nami’s POV

“Ha, ini dia bukunya.” Gumamku bersemangat sambil mengambil sebuah buku. Namun dari sisi lain ada seorang namja yang juga mengambil buku itu secara bersamaan.

“Maaf, aku dulu yang mendapatkannya.” Kataku sopan.

“Tidak, aku dulu yang memegangnya.” Sergahnya.

“Kurasa aku dulu.” Balasku mencoba menahan emosi.

“Tidak aku dulu.” Ia tetap bersikukuh.

“Aku mohon, aku telah mencari buku ini dimana-mana,” aku sedikit memohon.

Ia mendesah, “Hah, baiklah, ini untukmu saja mungkin aku bisa mendapatkannya di toko lain.”

“Gomawo.” Ucapku sambil membungkukkan badan, namun ia hanya diam saja lalu pergi.

Aku berjalan menuju kasir, merasa bersalah atas kejadian tadi. “Apa sebaiknya buku ini untuknya saja?” gumamku sambil membayar buku itu, lama aku berpikir, Mungkin ia lebih butuh buku ini. Seketika itu juga aku berlari mengejar lelaki itu. “Hei, tunggu!” Teriakku. Ia menoleh lalu berhenti.

“Waeyo?” tanyanya heran.

Aku mencoba mengatur nafas agar bisa bicara “Ini… Untukmu saja mungkin kau lebih butuh daripada aku.” Aku memberikan buku itu.

“Tapi…” Ia tidak melanjutkan kata-katanya karena kaget.

Aku tersenyum, “Sudah kukatakan, mungkin kau lebih butuh buku ini darpada aku.” Kataku lalu meninggalkannya yang masih heran.

###

Hari pertama masuk kampus baru. Semoga akan baik-baik saja. Huh, meski ini bukan pertama kalinya aku menjadi murid baru, tapi tetap saja rasanya gugup. “Aku harus semangat!” mencoba menyemangati diriku.

“Silahkan perkenalkan dirimu.” Pinta dosen yang kalu tidak salah namanya Jang.

“Hi Guys. My name Michelle Park, or in Korea Park Nami. You can call me Nami. I’m from Sedney. Nice to meet you.” Aku memperkenalkan diri, gugup. Lalu aku dipersilahkan duduk.

Baru saja aku duduk seorang gadis berbisik padaku. “Hi, I’m HyunJin,”.

“Hi, I’m Nami.” Balasku berbisik.

“Nanti makan siang bareng yuk?” Ajaknya. Aku hanya tersenyum dan mengangguk.

“Can you speak Korean?” Tanya Hyunjin saat perjalanan ke cafetaria.

“Of  course my mom, is Korean.” Jawabku.

“Kenapa gak bilang dari tadi, kalau gitu aku gak perlu capek-capek ngomong pake bahasa Inggris.” Katanya sedikit kesal. Aku hanya bisa tersenyum.

Sungguh hari ini aku merasa tak nyaman semua orang menatapku. Berbeda sekali dengan sekolah-sekolahku yang sebelumnya. Mereka tak pernah peduli. Kalau ini… Semua orang memperhatikanku, membuatku gugup saja.

“Hi guys mianhae aku terlambat, oh ya kita dapat teman baru lho… perkenalkan ini Park Nami.” Celotehnya bersemangat pada sekelompok anak-anak yang sedang makan.

“Park Nami imnida.” Kataku memperkenalkan diri.

“Annyeong” balas mereka serentak.

“Oh ya perkenalkan ini teman-temanku. Itu Kyuhyun, Sungmin sunbae dan pacarnya Hyoson, Seungyeon, Kibum, Yoonae, disebelahnya Donghae sunbae pacarnya, dan itu, Hyukjae sunbae.” Ia menjelaskan.  Merasa disebut namanya pria yang bernama Hyukjae mendongak.

“Kau…” Pekikku kaget.

Hyukjae’s POV

“Kau…” Pekik kami hampir bebarengan. Kenapa gadis itu bisa disini. Diakah siswa baru yang akhir-akhir ini sering dibicarakan itu?  Pantas, dia memang benar-benar cantik.

“Apakah kalian sudah saling kenal?” Hyunjin menatap kami heran.

“Tidak, kemarin aku tak sengaja bertemu dengannya di toko buku, dan berebut buku.” Dia menjelaskan.

“Lalu?” Hyunjin penasaran.

“Ia memberikan buku ini padaku.” Aku menunjukkan buku itu.

“Oh… Kirain.” Kata Hyunjin. “Ayo duduk, tak usah malu-malu, anggap saja kami teman lamamu.” Ia mempersilahkan gadis itu duduk.

“Oh ya, aku belum sempat mengucapkan terimakasih padamu kemarin, Gomawo.” Kataku gugup.

“You’re Welcome.” Ia tersenyum padaku. Sungguh, manis sekali senyumannya. Tunggu, kenapa aku jadi seperti ini. Tak biasanya aku memperhatikan orang disekitarku, apalagi orang baru seperti dia. “Hey Hyukjae ada apa denganmu?” Tanyaku pada diri sendiri.

“Nanti malam, kami akan Barbequean bareng di rumahnya Kibum kau mau ikut?” Ajak Hyunjin pada Nami.

“Mm… Boleh, tapi aku tak tahu rumahnya.” Kata Nami polos.

“Tak perlu khawatir nanti ada salah satu diantara kami yang akan menjemputmu. Ngomong-ngomong kau tinggal dimana?” Tanya Hyunjin.

“Aku tinggal di apartemen Sharp Star City, di Tower C.” Jawabnya sambil mengunyah makanan.

“Ok, kalau gitu Hyukjae sunbae yang akan menjemputmu, kebetulan searah, kau mau kan?” Hyunjin menatapku penuh arti.

“Ah… Ya tentu saja.” Jawabku sedikit terbata-bata.

“Gomawo.” Ia tersenyum lagi padaku. Omo, kenapa tiba-tiba jantungku berdebar seperti ini. Apakah aku menyukai gadis ini?

###

Sebulan aku mengenalnya, rasa itu tak kunjung hilang, tiap kali bertemu dengannya, tiap kali melihatnya tersenyum, dan tiap kali ia berbicara, jantungku terus berdebar-debar, rasanya ingin melompat dari dadaku. Hingga akhirnya kuputuskan tuk menyatakan perasaanku padanya.

Semuanya telah kupersiapkan. Yah… meski aku tak menyiapkan sendiri. Donghae dengan senang hati membantuku. Sekarang tinggal menunggunya datang, kukirim sms untuknya.

To: Park Nami

Bisakah kau datang ke halaman belakang kampus setelah selesai kuliah?

Hanya itu yang bisa kukatakan, aku terlalu tegang. Tak lama kemudian ia membalas.

From: Park Nami

Ne, tapi aku selesai agak malam, kau tak apa-apa menunggu?

To: Park Nami

Akan kutunggu sampai kau datang

Dengan, sabar ku menunggu, kucoba singkirkan rasa takut yang melandaku. Akhirnya kulihat dia datang. Ia melambai lalu berlari mendekat.

“Sunbae ada apa,?” Tanyanya ketika ia sudah dekat.

“Mendekatlah!” Pintaku sambil mengulurkan tangan, ia menerimanya, dan aku menariknya mendekatiku.

“Ada apa?” Tanyanya lagi.

Aku hanya diam. Lalu mulai berjongkok untuk menyalakan lilin-lilin yang telah kupersiapkan. Perlahan lilin- lilin itu menyala membentuk ©. Sempat kulirik dia, ia terlihat terkejut. Lalu kuambil setangkai mawar putih dari atas pohon. Aku berlutut padanya, mengumpulkan keberanianku untuk berkata, “Nami, saranghaeol, would you be my girl?” Kata itu meluncur begitu saja “Jika kau menerimaku, terimalah bunga ini, tapi jika kau menolakku, silahkan kau matikan setengah dari bentuk lilin-lilin ini.” Lanjutku gugup. Kutatap matanya. Ia tampak terkejut, lalu berpikir. Apakah ia akan menolakku?

Lama aku menunggu, sampai akhirnya aku melihat senyumnya merekah, lalu perlahan ia mengambil bunga itu.“Ne…” katanya lirih. Seketika itu juga aku memeluknya erat. Lalu menekan tombol, di batang pohon itu, dan cahaya lampu menghiasi pohon itu. Ia menatap dengan kagum. “Kau yang melakukan ini?” Tanyanya kagum.

“Sebenarnya, tidak sepenuhnya aku. Donghae membantuku.” Jawabku malu-malu.

“Indah sekali” gumamnya.

“Oh, ya bolehkah aku meminta sesuatu darimu?” pintaku.

“Tentu, apa?” tanyanya.

“Tolong jangan panggil aku sunbae, panggil aku oppa.” Kataku.

“Ne, Oppa.” Jawabnya.

###

Nami’ POV

Shining Star! like a little diamond, makes me love..

Naegen kkoomgyeolgateun

dalkomhan misoro nal barabomyeo soksagyeojweo

hangsang hamkke halgeora, till the end of time

Hpku berdering, segera saja kuangkat. “Yeoboseyo?” tanyaku.

“Nami, besok kau ada acara tidak, aku ingin mengajakmu makan malam.” Kata Hyukjae Oppa diseberang.

“Oh mianhae, aku gak bisa, ada perkerjaan yang harus keselesaikan.” Kataku kecewa.

“Oh, ya sudah tak apa, kau sudah makan?” Tanyanya, ku dengar ada sedikit nada kecewa dalam suaranya.

“Sudah, sebagai gantinya, bagaimana kalau akhir minggu ini kita piknik berdua?” tawarku.

“Wah, itu ide yang bagus. Nanti kutelpon lagi ya, aku harus pergi sekarang, annyeong” Ia menutup teleponnya.

Aku kembali mengerjakan tugasku. Aku senang, sekarang aku punya Hyukjae Oppa yang telah resmi menjadi kekasihku kemarin, aku sangat menyayanginya, aku akan berusaha untuk membahagiakannya. Apapun caranya.

Ditengah, kesibukanku, tiba-tiba, aku merasa pusing sekali, perutku mual, rasanya ingin muntah, keringat dingin mengalir, dan aku merasakan ada sesuatu yang keluar dari hidungku, kakiku sulit sekali bergerak. Ada apa denganku? Mengapa jadi seperti ini? Aku menunggu sesaat, berharap rasa sakit itu reda.

Dengan mengerahkan sisa-sisa tenagaku, aku keluar dari apartemen, dan segera ke rumah sakit, menahan rasa sakit yang terus menyerang tubuhku. Sesampainya dirumah sakit, dokter memeriksaku. “Apa yang terjadi denganku?” Tanyaku tak sabar, setelah lama menunggu.

“Apa kau benar-benar ingin tahhu hasilnya?” Tanya dokter Choi dengan cemas.

“Tentu.” Aku mencoba tenang.

“Kau mengidap Leukimia.” Ujarnya, sambil menyerahkan sebuah amplop.

Seketika itu juga lututku terasa lemas, berharap ini hanya sekedar mimpi. “Apakah aku bisa sembuh?” tanyaku lirih.

“Sepertinya, sudah terlambat. ” Akunya.

“Kalau begitu kapan aku akan mati?” Tanyaku.

“Entahlah, kematian seseorang tak dapat diketahui, tapi kemungkinan, kurang dari 1 tahun, sekitar 10 bulan mungkin.” Ia menjelaskan.

“Oh, kalau begitu gomawo.” Ucapku lalu pergi.

Ketika aku akan keluar rumah sakit, aku melihat seorang lelaki paruh baya yang sangat kukenal, “Itu kan Lee Joon Sae?” Gumamku. “Dan itu, Hyukjae Oppa!” Pekikku lalu segera bersembunyi. Aku bisa melihat mereka, dengan jelas. Mereka begitu akrab dan mirip, seperti ayah dan anak, apakah Hyukjae Oppa, anak dari Lee Joon Sae, seseorang yang berambisi untuk membunuh keluargaku? Ya Tuhan, apa yang sebenarnya kau takdirkan untukku? Aku terus mengamati mereka hingga mereka meningglakan rumah sakit.

Dalam perjalanan pulang, aku tak bisa berpikir jernih. Pikiranku dipenuhi tentang kematianku. Well, setidaknya aku tahu bahwa umurku tak lagi panjang, dan aku tahu caraku mati. Jika tidak mati ditangan ayah dari pacarku, pacarku, berarti aku mati karena penyakitku ini. Sungguh, aku tak tahu harus bersedih karena tahu umurku tak lama lagi, atau bersyukur karena aku bisa mempersiapkan kematianku. Tanpa kusadari air mataku telah mengalir dipipiku.

Chagawoon nuhui geu han madiga

naui maeume dahke dwaesseul ddae

Nae noondongjaen nado moreuneun

chokchokhan eeseul bangwool

###

Hyukjae’s POV

Akhirnya, akhir pekan tiba, aku tak sabar untuk menjemput Namiku. Kupacu mobilku begitu kencang, tak sabar ingin segera bertemu dengannya. Tak lama setelah aku sampai di depan apartemennya, ia muncul dengan menenteng sebuah keranjang.

“Oppa, lihat apa yang kau bawa!” Serunya ceria. Aku menatapnya, tak mengerti. “Dasar, aku bawakan bekal makan siang untukumu.” Katanya.

“Jinja? Wah senangnya.” Ucapku berbinar. “Yuk berangkat!” ajakku bersemangat.

“Ayo.” Katanya tak kalah semangat.

Dalam perjalanan, kutatap dia, ada sesuatu yang aneh, ia terlihat begitu pucat, “Nami apa kau sakit?” Tanyaku.

“Tidak…” Jawabnya, dengan nada yang tak meyakinkan.

“Oh… ya sudah kalau kau baik-baik saja.” Kataku

“Oppa, kita disini saja, ayo kita gelar tikarnya.” Kata Nami ketika sampai di taman. Kami mempersiapkan semua, menggelar tikar, menyiapkan makanan.

“Apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanyaku ketika semua sudah beres.

“Bersantai.” Jawabnya lalu mengeluarkan sebuah buku dari keranjang.

“Masa cuma itu?” Protesku.

“Istirahatlah dulu, aku tahu kau lelah.” Katanya, sambil tersenyum. Aku menurut saja terlalu malas untuk protes, kuletakkan kepalaku dipangkuannya.

“Oppa, bagaimana kau mepresentasikan cintamu padaku?” Tanyanya tiba-tiba.

“Maksudmu?” Aku tak mengerti dengan ucapannya.

“Ya bagimu, cintamu padaku tuh gimana? Bagiku, menunjukkan cintaku padamu adalah dengan membuatmu bahagia, apapun akan kulakukan asal kau bahagia, meski pada akhirnya aku harus meningglakanmu, atau aku harus mati ditanganmu, asalkan aku bahagia, akan kulakukan itu, My Love Just for You.” Jelasnya.

Aku memejamkan mata, menyusun kata-kata yang tepat untuk menggambar cintaku padanya. “Sayangnya, aku bahagia hanya jika ada kau,” kataku akhirnya. “Aku takkan segan-segan mati, jika itu bisa membuatku bersama denganmu, bahkan neraka dengan senang hati kudatangi jika disitu ada dirimu. ” Lanjutku, lalu bangkit menatapnya. “My Life Just For You.” Ucapku lirih, lalu mendekatkan wajahku ke wajahnya. Kulihat dia begitu gugup hingga, ia menjauhkan mukanya.

“Awww!” Teriaknya ketika kepalanya membentur pohon, yang ada di belakangnya.

Aku terkekeh pelan. “Baiklah, jika kau belum mau, akan kutunggu itu.” Aku bahagia mendengar penjelasannya tadi. Yah, meski ia belum mau kucium siy, tapi mendengar perkataannya tadi membuatku yakin bahwa Park Nami adalah milikku.

“Main sepeda yuk!” Ajaknya untuk mengubah topik.

“Kita kan gak bawa sepeda.” Sergahku.

“Gak perlu, kita bisa menyewa sepeda.” Ia menunjuk tempat penyewaan sepeda disudut taman.

“Oke, Kajja!” Aku menarik tangannya penuh semangat.

“Ayo, Naik!” Perintahku setelah memilih sepeda.

“Kau yakin tak kan jatuh?” Ia ragu-ragu.

“Tidak, sudahlah, Kajja!” Kataku penuh semangat. Kami bersepeda keliling taman sesekali ia berteriak, sambil mencengkram bahuku erat, karena takut. Sungguh ini hari yang begitu indah bagiku.

###

Sudah 10 bulan aku berpacaran dengannya. Bagiku, ia adalah segalanya. Yah, meski ia bisa dibilang unik. Ia jarang sekali mau kalau diajak berkencan dimalam hari, sebagai gantinya, tiap akhir pekan Nami mengajakku pergi ketempat-tempat yang tak pernah terfikirkan olehku. Aku belajar banyak darinya, bahwa tak selamanya kencan harus berduaan, atau dengan hal-hal yang romantis melulu. Ia malah sering mengajakku ke panti asuhan untuk membantu anak-anak disana.

“Haish… ada apa dengan mobil ini?” Umpatku saat perjalanan pulang dari panti asuhan. Sial mobilnya mogok! Apalagi ini sudah malam! Sial!

“Oppa, ada apa dengan mobilnya?” Tanya Nami disebelahku.

“Entahlah, sebentar aku chek dulu.” Jawabku lalu keluar mobil untuk memeriksa kerusakannya.

“Nami, sepertinya mobilku rusak parah! Harus dibawa ke bengkel.” Kataku pada Nami.

“Benarkah, lalu bagaimana?” Tanyanya.

“Aku akan menelepon bengkel, jadi kita tunggu mereka datang.” Aku merogoh Hpku lalau menelepon bengkel langgananku. Sesekali kulirik Nami, ia terlihat begitu kelelahan, mungkin aku bisa meminta bantuan Donghae.

“Yeoboseyo?” sahut donghae diseberang.

“Kau sibuk tidak, bisakah aku minta tolong padamu?” Tanyaku.

“Ne, apa?” Hah.. Syukurlah ia mau menolongku. Kujelaskan permasalannya, dan Donghae bersedia datang. Nami kau bisa pulang dan istirahat, pikirku.

Tak lama, Donghae telah datang. “Hi!” Sapanya.

“Hi!” Balasku.

“Apa yang harus aku lakukan?” Ia melirik ke dalam mobil.

“Tolong, antarkan Nami pulang, ia terlihat kelelahan, aku akan tetap disini menunggu petugas bengkel datang.” Ujarku.

“Hm… Apa kau tak apa-apa disin sendiri?” Ia terdengar sedikit khawatir.

“Aku akan baik-baik saja, sebentar kupanggilkan Nami.” Aku berbalik masuk ke mobil.

“Nami kau pulang sama Donghae ya?” Pintaku.

“Lalu Oppa?” Ia bertanya.

“Aku akan menunggu petugas bengkel, datang kesini.” Jawabku sambil tersenyum.

“Tapi…” Ia mulai protes,

Tapi segera kupotong “Aku tak apa-apa, justru kau harus khawatirkan tubuhmu itu, lihat kau terlihat kacau sekali, pasti sangat lelah, kau pulang duluan saja.”

“Ne… Hati-hati Oppa.” Ia beranjak dari mobilku, menuju kursi mobil Donghae.

“Aku pulang dulu.” Pamit Donghae.

“Ne… Hati-hati.” Balasku.

Nami’s POV

“Nami, apa kau benar-benar mencintai Hyukjae?” Donghae membuka pembicaraan.

“Ya, tentu saja, aku tak pernah main-main dengan keputusan yang kubuat.” Jawabku. “Apa kau tidak setuju dengan hubungan kami?” Tanyaku curiga.

“Ani, aku hanya tak ingin melihat Hyukjae terluka, ia telah menjadi sahabatku sejak kecil.” Ujarnya, ambil terus menatap jalan.

“Kau tak perlu khawatir, aku akan berusaha membahagiankannya, aku takkan mengecewakanmu.” Kataku. Ya, aku akan selalu berusaha membuat Hyukjae Oppa bahagia, sebelum aku benar-benar pergi dari dunia ini.

Uhdisuh uhdduhke jakkooman maethineunji nado moreujyo

Geunyang naega manhi apeun guhtman arayo

Ddeuguhwuhdduhn gaseumi juhmjuhm ssaneulhajyo

Mwuhrago marhalji, uhdduhke bootjabeulji nado moreugejjanha

Uhdduhke nan uhdduhke hajyo

###

Hyukjae’s POV

“Disini kau rupanya.” Desah seseorang dibelakang kami. “Aku sudah keliling kampus ini, ternyata kau malah enak-enak makan disini.” Lanjutnya.

Seketika itu juga semua mendongak menatap lelaki asing itu. Ternyata ada dua lelaki. Dan Nami tiba-tiba bangkit lalu memeluk salah satu pria itu. “Aku sangat merindukanmu.” Gumam Lelaki itu lalu mencium kening Nami, ia sempat melirikku lalu membisikkan sesuatu pada Nami, Nami hanya mengangguk sambil tersenyum.

Melihat mereka berdua bermesraan seperti itu membuatku cemburu, tanpa sadar aku mencengkram kuat ujung meja hingga otot tanganku menyembul, dan aku merasakan wajahku panas. Siapa lelaki itu? Berani-beraninya diam mendekati Namiku, atau jangan-jangan dia pacar Nami sebelum diriku?

“Nami, kau ikut ke Jepang kan, sekalian kita bilang ke Ahjussi tentang rencana kita?” Matanya berkilat-kilat penuh kebahagiaan.

“Andwe!!! Bisa-bisa Appa jantungan kalau dengar rencana kita!” Tolak Nami.

Hey! Apa yang kalian rencanakan? Apa kalian akan bertunangan, sebenarnya dia siapa sih?. Aku terus bertanya-tanya dalam hati, sambil menahan amarah yang sudah tak bisa kutahan lagi.

“Hm… Kau benar,” Sahutnya setelah lama berpikir. “Hey, yang dipojok itu siapa? Ia kelihatan marah sekali melihatku, apa dia pacarmu?” Tanyanya curiga.

“Bukan…” Nami menjawab tanpa rasa berdosa sama sekali.

“Oh… Kirain. Berarti, tak da yang menggantikan posisiku dong. ” Lelaki itu kembali menatap Nami dengan tatapan yang URGH! Membuatku marah.

Sial! Berani-beraninya Nami berkata seperti itu. Aku menatap yang lain. Kulihat, mereka juga heran, mereka hanya menatap Nami dan lelaki itu heran.

“Oh ya kau belum mengenalkanku pada teman-temanmu ini. Lihat, ekspresi mereka. Seperti melihat apa saja.” Ia tertawa.

“Oh iya, aku lupa. Guys, kenalin ini pacarku waktu di Australy namanya Ryeowook, dan ini kakaknya, Jongwoon Oppa.” Ia memperkenalkan diri.

Apa Nami bilang? Pacarnya? Jadi dia telah punya pacar? Kali ini aku benar-benar marah, Aku hendak menerjang lelaki itu, tapi tiba-tiba Nami dan yang namanya Ryeowook tertawa terbahak-bahak, membuat kami semua tambah heran. Sedangkan yang bernama Jongwoon hanya geleng-geleng kepala.

“Hyung, sebaiknya kalu jelaskan ini pada mereka, karena jika aku atau Nami yang menjelaskan, akan tambah rumit jadinya.” Pinta Ryeowook, sambil terus tertawa.

“Dasar kalian ini! Tak henti-hentinya menjaili orang!” Hardik Jongwoon. Lalu menatap kami sambil tersenyum. “Kenalkan Aku Kim Jongwoon, atau panggil saja aku Yesung, dan ini adikku Kim Ryeowook, sebenarnya kami adalah saudara sepupunya Nami, yah begitulah kelakuan mereka kalau sudah jadi satu. Tak henti-hentinya berbuat jahil, aku bahkan sering pusing melihat kelakuan mereka.” Katanya.

Seketika itu juga aku merasakan lega yang luar biasa. Otot-otot yang tadi tegang terasa kendur, mukaku mulai kembali normal, dan cengkraman di meja juga sudah terlepas. Ryeowook yang tadi melihat reaksiku hanya terkekeh, tanpa rasa bersalah.

Kulihat Nami mendekatiku. “Oppa, kau tadi marahnya… Maaf dech.. Jeongmal Mianhae.” Ia meminta maaf, dengan mengeluarkan jurus memohon yang tak pernah bisa kutolak.

Aku menghela nafas panjang, baru berkata. “Hah… Baikalah kumaafkan kau, tapi tidak untuk yang kedua kalinya, Kau tahu kau hampir membuatku jantungan Tau!”

“Mianhae…” Katanya Lalu mengecup pipiku sekilas.

“Mianhae… ngomong-ngomong, siapa namamu?” Tanya Ryeowook masih menahan tawanya.

“Hyukjae, imnida.” Jawabku.

“Nami, ayo pergi sebentar lagi pesawatnya berangkat!” Perintah Ryeowook pada Nami.

“Ogah ah, aku beli tiketnya yang untuk besok lagi pula habis ini aku masih ada kelas.” Sergah Nami.

“Tenang saja, sudah kubelikan tiketnya kita tinggal berangkat.” Ujar Ryeowook.

“Tapi…” Nami suah mulai protes lagi.

“Tapi apa? Barang-barangmu belum diatur?” Tebak Ryeowook. Nami hanya tersenyum kecut.

“Aku bantu, pasti takkan lama, pokoknya kau harus berangkat sekarang!” Ryeowook berteriak.

“Pokoknya AKU TIDAK MAU!!!!” Balas Nami tak mau kalah.

“Sepertinya, aku memang harus menyeretmu.” Gumam Ryeowook. Benar saja, dia menyeret Nami.

“LEPASKAN!!! OPPA TOLONG! RYEOWOOK OPPA! LEPAS!!!!” Ia terus meronta-ronta. Ingin sekali aku menolongnya tapi Yesung menahanku.

“Biarkan saja mereka seperti itu, selama tidak saling melukai biarkan saja. Sepertinya, aku harus pergi sekarang, dan Nami takkan masuk kuliah selama tiga hari. Aku pergi dulu, pasti Ryeowook akan mengamuk kalau dia kelamaan nunggu. Bye.” Pamitnya lalu berbalik mengikuti Nami dan Ryeowook yang sudah jauh didepan.

Hening. Sepertinya teman-temanku masih kaget dengan apa yang barusaja terjadi. “Hyukjae, apa kau tak cemburu, melihat mereka berdua seperti tadi?” Sungmin membuka pembicaraan.

“Tentu aja aku cemburu, tapi mendengar fakta itu, aku jadi sedikit tenang.” Jawabku.

“Hyung, kau tak perlu buang energimu untuk cemburu seperti itu, aku tahu Nami sangat mencintaimu, dan mungkin, kau pria terakhirnya, sebelum ia benar-benar pergi.” Celetuk Kyuhyun tanpa mengalahkan pandangannya dari psp miliknya.

“Apa katamu?” aku memandangnya tak percaya.

“Anni, aku hanya berasumsi.” Kulihat senyumnya terpaksa.

Kyuhyun’s POV

Sial, hampir saja aku kelepasan bicara tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Nami. Seandainya saja, waktu itu aku tak menemukan notes miliknya, aku takkan pernah tahu hal ini.

Flashback

“buku apa ini?” Aku memungut buku itu dari bawah kursi Nami. Kubaca, halaman-halaman buku itu, hingga aku terpaku pada satu halaman.

Ketika, orang bertanya kapan mereka mati, dan menghindarinya seandainya mereka tahu, tapi aku? Dengan senang hati kusambut kematian itu, lucu bukan?

Yah… setidaknya, aku tahu kapan aku mati, dan bagaimana aku mati. Aneh kan? Tapi itulah kenyataannya. Hah… Aku akan mati ditangan orang yang kucintai, atau mungkin ayahnya.. Entahlah… Jika tidak keduanya, berarti kau mati karena Leukimaku ini. Itulah kenapa aku menerima kematianku dengan sengang hati. Entah orang akan berpikir aku gila atau apa. But I don’t  care, I like this.

“Kyuhyun-sshi,” Suara itu mengagetkanku. Segera saja aku berbalik dan meminta penjelasannya.

“Nami apa maksudnya ini? Jelaskan padaku apa yang terjadi?” Bentakku padanya.

“Apa maksudmu?” Ia terlihat bingung.

“Jangan, pura-pura bodoh! Apa maksudmu kau akan mati? Jelaskan padaku!” Aku kembali membentaknya.

“Itu bukan urusanmu, kembalikan bukuku!” Tolaknya sambil mencoba merebut buku yang kupegang.

“Takkan pernah, sebelum kau menjelaskan padaku semuanya!” Ancamku.

“Kyuhyun…” Ia memohon.

“Takkan pernah.” Aku tetap bersikeras.

Akhirnya ia menyerah. “Baiklah, akan kujelaskan semua tapi tidak sekarang. Temui aku di atap gedung ini jam 5.” Katanya lalu berbalik pergi.

Nanananana nanananana

yoorichangedo nae noon wiedo

Eeseul maethyunne noonmool

maethyunne jageun naetmooreul mandeune

Tepat jam 5, ia datang. Ia berjalan mendekatiku. “Jelaskan padaku semua!” perintahku, bahkan sebelum ia sempat duduk.

“Baiklah, sebenarnya yang ada dibuku itu semua benar, aku divonis menderita leukimia 7 bulan lalu, dan mungkin mumurku tinggal 3 bulan lagi.” Ia mengakui.

“Lalu, tentang mati ditangan ornag yang kau cintai?” Keningku berkerut heran.

Ia tersenyum tipis, “Itu semua benar, ya… Ayah Hyukjae oppa, dendam pada ayahku, dan dia berambisi membunuh keluargaku. Dan teoriku, ia akan mewariskan dendamnya pada Hyukjae oppa.” Ia menerawang.

“Apa dia berhasil? Lalu kenapa kau tak menghindarinya? Apakah Hyukjae hyung tahu?” Aku mengeluarkan pertanyaan bertubi-tubi.

“Kalau tanay satu-satu.” Ia protes, tapi kemudian tersenyum tenang. “Ya, dia berhasil membunuh kakak perempuanku, 6 tahun yang lalu, jika itu takdirku kenapa harus menghindarinya?” Ia balik bertanya. “Tidak, ia tidak tahu. Kalau dia tahu pasti dia telah menghabisi nyawaku.” Lanjutnya tenang.

“Dan kau apa kau tak takut? Kau bahkan terlihat sedang bahagia, apakah keluargamu tak khawatir?.” Aku menyuarakan pertanyaan yang sedari tadi mengganjal.

“Sudah kukatakan jika itu takdirku mati, aku akan menerima dengan senang hati. Tentu saja, tapi ayah hanya berpesasn untuk sejauh mungkin menghindar dari mereka, tapi tak perlu dendam.” Jawabnya. “Sudah puas?” Tanyanya akhirnya.

“Ya, ini bukumu.” Aku menyerahkan buku itu.

“Gomawo, satu lagi aku harap kau bisa menjaga rahasia ini, karena tak satupun orang tahu keculai kau!” pintanya tegas, lalu beranjak pergi.

“Tenang saja, aku akan menjaganya. Kau bisa percayakan itu padaku” Jawabku.

End of flashback

Sampai sekarang, perasaanku padanya tak berubah, aku masih tetap mencintainya meski kutahu, dia telah memiliki Hyukjae hyung, tapi aku tetap mencintainya. Dan aku akan terus menjaganya, hingga saatnya tiba. Ya, ia akan pergi, sebentar lagi. Dan tak ada seorangpun yang tahu, kecuali aku.

“Kyuhyun, kau sudah selesai?” Sungmin hyung membuyarkan lamunanku.

“Oh ya,”jawabku asal.

###

Hyukjae’s POV

“Umma, sudah pulang kenapa tak beritahu aku, akukan bisa jemput kalian?” Tanyaku pada Umma yang ternyata sudah kembali dari Jepang. Ia masuk ke kamarku.

“Hyukjae, ada yang Umma ingin bicarakan padamu.” Ia terlihat cemas.

“Ada apa? Ada masalah?” Tanyaku was-was.

“Apa benar kekasihm itu Park Nami?” Tanya Umma.

“Ya,” jawabu masih bingung.

“Kalau begitu….” Umma menggantungkan kalimatnya.

“Kalau begitu kau harus menjauhinya,… Tidak kau harus membunuhnya!” Bentak  Appa yang tiba-tiba berada di antara kami.

“Tapi kenapa?” Tuntutku

“Karena dia anak dari Park Taeha.” Nada jijik muncul ketika appa menyebut nama itu.

“Apa appa masih mengingat dendam itu? Apa appa ingin mewariskan dendam itu padaku? AKU TIDAK MAU!!!” Tolakku berapi-api.

“Kau harus mau! Atau jangan anggap kami sebagai orang tuamu lagi!” Appa benar-benar marah lalu pergi.

Uhdisuh uhdduhke jakkooman maethineunji nado moreujyo

Geunyang naega manhi apeun guhtman arayo

Ddeuguhwuhdduhn gaseumi juhmjuhm ssaneulhajyo

Mwuhrago marhalji, uhdduhke bootjabeulji nado moreugejjanha

Uhdduhke nan uhdduhke hajyo

Seketika itu juga lututku lemas, tak percaya dengan apa yang kudengar. Apa yang harus aku lakukan? Membunuh Nami? Atau membiarkan diriku dianggap anak durhaka? Apa yang harus kulakukan???

###

Kuputuskan untuk menemuinya, malam ini. Aku telah menyiapkan pisau untuk membunuhnya. Sebenarnya, aku tak ingin, tapi aku tak bisa menolak perintah ayahku. Semoga saja aku takkan pernah menyesalinya.

“Oppa.” Panggil Nami dari kejauhan, lalu mendekatiku.

“Nami, aku merindukanmu, mianhae.” Ucapku lalu memeluknya,  merasa sedih dan bersalah.

“Aku juga, rindu padamu.” Katanya. “Oppa, gwencana?”ia menatapku cemas.

“Nami, bagaimana jika aku membunuhmu, bagaimana jika aku tak bisa membahagiakanmu?” Tanyaku serius.

Ia mendesah. “Oppa, ternyata kau sudah tahu.” Gumamnya.

“Kau telah mengetahuinya?” Tanyaku terkejut.

“Ya,” ia berakta tanpa suara.

“Jadi??? Tapi kenapa kau tak menghindariku?” Aku menatapnya tajam.

“Karna aku terlalu mencintaimu, ingatkah kata-kataku saat kita pertama berkencan?” Ia begitu tenang.

“Ya.” Kataku mantap.

“Jadi, kau pasti sudah tahu jawabannya. Oppa, apapun akan kulakukan untuk membuatmu bahagia, meski aku mati ditanganmu, jika itu membuatmu bahagia, aku rela.” Ia mengulangi kata-katanya itu, lalu tersenyum.

“Nami apa yang sebenarnya ada dalam otakmu?” Gumamku. Tapi ia tak menjawab, ia hanya memejamkan matanya.

“Oppa, jika kau ingin melakukannya sekarang, lakukan lah kau siap.” Katanya tenang.

Dengan berat hati kukeluarkan pisau lipatku. Kuangkat tinggi-tinggi pisau itu, mengambil ancang-ancang untuk menancapkannya tepat di jantungnya. Kuamati wajahnya, Ia begitu damai, tenang. Benarkah aku harus membunuhnya? Benarkah aku harus membunuh gadis yang kucintai demi memenuhi dendam konyol ayahku???

“Oppa aku siap.” Gumamnya lagi tetap memejamkan matanya.

Noon gameumyuhn heulluh naerilggabwa

haneureul ollyuhbwado

Gyuhlgoogen mooguhwuhjin noonmool han bangwooreul

delkyuhbuhrigo marajji

Seketika itu juga kulepaskan pisau itu, kurengkuh wajahnya, menempelkan bibirku ke bibirnya. Kurasakan ia kaget, namun tak melawan. Tangan kanannya, berada didadaku, merasakan detak jantungku, sedang tangan kirinya meremas-remas rambutku. Entah berapa lami kai berciuman, hingga akhirnya ia melepas ciumannya dan menunduk.

“Jadi, kau tak ingin membunuhku?” Ia mendongak, mencoba tersenyum, namun air matanya mengalir.

“Lebih baik aku yang mati.” Jawabku singkat, lalu mengecup kedua kelopak matanya, mencoba menghentikan tangisannya. “Sudah baikan?” Tanyaku. Ia kembali memperlihatkan senyumnya yang indah. Aku langsung memeluknya. “Nami, aku sangat mencintaimu, lebih baik akulah yang mati, daripada harus melakukan semua ini.” Gumamku sambil menatap pisau yang tergeletak di atas rumput.

“Nami??” Panggilku. Ia tak menyahut. Lalu aku melepas pelukanku untuk melihat wajahnya. Ternyata ia tak sadarkan diri, darah keluar dari hidungnya mengotori bajuku. “Nami??” Panggilku lagi. Namun ia tak bangun-bangun juga. Seketika itu juga aku panik, segera membawanya kerumah sakit. Aku tak ingin Namiku kenapa-kenapa, Tuhan, apa yang terjadi dengannya???.

Kupacu mobilku, hanya satu tujuanku sampai dirumah sakit dengan cepat! “Cepat tolong DIA!!!” Teriakku ketika sampai dirumah sakit. Segera petugas medis membawanya kesebuah ruangan. Kuraih Hpku, menghubungi yang lain.

“Yeoboseyo?” Hyunjin menjawab malas-malasan.

“Hyunjin, Nami masuk rumah sakit!! Keadaannya gawat,!” Teriakku panik.

“Jinjja?? Ok-ok aku akan segera kesana, kau dirumah sakit mana?” Tanyanya.

“Seoul Hospital.” Kataku singkat langsung menutup telepon.

Tak lama kemudian Hyunjin datang, bersama teman-teman yang lain. “Hyukjae, apa dia baik-baik saja, apa yang terjadi dengannya? Hyunjin sangat panik.

“Aku juga tak tahu, saat itu aku sedang ditaman bersamanya, tiba-tiba saja dia tak sadarkan diri dan juga hidungnya mengeluarkan darah.” Aku menjelaskan. Kemudian hening, semuanya terlalu tegang untuk bertanya. Setelah lama menunggu, dokter yang memeriksa Nami keluar. “Bagaimana Dok, apa yang terjadi padanya?” Tanyaku panik.

“Jadi selama ini kalian tak tahu?” Dokter menatapku heran.

“Tahu apa?” Aku benar-benar bingung.

Dokter itu menghela nafas panjang, lalu menjawab. “Selama ini Nami mengidap Leukimia, mungkin ini hampir waktunya.” Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan. “kuharap kalian bisa menerimanya dengan tabah.” Ia menepuk pundakku, dan pergi.

Aku masuk keruangan Nami. Ia terbaring lemah, tubuhnya dipasang heart detector. “Nami,” panggilku lirih, lalu duduk di sebuah kursi disebelah ranjangnya. “Nami, kenapa kau menyembunyikan semua ini padaku?” Tanyaku lagi.

“Aku takut.” Akunya, ia kembali menangis. “Aku takut, jika aku mengatakannya padamu perasaanmu terhadapku kan berubah, bukan lagi rasa cinta tapi kasihan.” Ia mengakui.

“Perasaanku tetap seperti dulu. Nami jangan pergi, jangan tinggalkan aku sendiri.” Aku memohon.

“Mianhae aku oppa, aku tak bisa menahannya lagi.” Air matanya tak berhenti mengalir.

“Baik, jika memang ini sudah waktumu, berarti ini juga waktuku untuk pergi.” Ucapku.

“Oppa apa yang akan kau lakukan?” Ia bertanya kaget.

Aku meraih pisau buah di meja, lalu menempelkan pisau itu dipergelangan tanganku. “Jika kau mati berarti aku juga, tidak ingatkah kau dengan apa yang kau katakan? My Life Just for U.” ujarku, lalu menyanyat pergelangan tanganku sendiri. Nami berusaha menepisnya, namun terlambat, darah segar mengucur dari urat nadiku.

“Oppa,” rintihnya pelan.

Aku membungkuk, “Nami, saranghaeol.” bisikku, lalu menciumnya lagi. Lama, kami melakukannya, ia kembali melepas ciumannya lalu berbisik, “Oppa saranghae, berbahagialah.” Ia memejamkan matanya. Aku menatapnya merasakan, cengkraman  tangannya kian melemah, hingga akhirnya terdengar bunyi panjang di heart detector. “Nami!!!” Panggilku. Ia tak menjawab, karena panik, aku lari keluar sambil berteriak pada teman-teman yang menunggu diluar.

“CEPAT PANGGIL DOKTER!!!!!!” Semuanya langsung bangkit dan berlari memanggil dokter.

Dokter kembali memeriksa Nami, aku hanya menunggu di sudut ruangan, berharap Tuhan mau menyelamatkannya. Tak lama aku menunggu, dokter itu berbalik. “Kau harus merelakannya, sudah saatnya dia pergi.” Katanya lalu meninggalkan ruangan.

Aku tak percaya, kusibakkan selimut yang menutup tubuhnya. “Nami!” Panggilku, namun tak ada jawaban. Kuguncang-guncangkan badannya, tapi ia tetap tak bangun. Nami benar-benar telah pergi. Aku tak mampu menahan air mataku. “Nami……..” panggilku lirih. Kemudian Donghae mencoba menenagkanku dan mengantarku pulang.

Uhdduhke (Uhdduhke) Dashin nuhl bol soo uhbseumyuhn nan uhdduhke (Nan uhdduhke)

Naeil achim nado moreuge juhnhwagi eh (Hwagi eh)

Soni daheumyuhn geuruhmyuhn naneun uhdduhke (Nan uhdduhkharago)

###

Disinlah aku sekarang, memandang gundukan tanah yang menutupi Nami, gadis yang begitu aku cintai,  kupejamkan mataku sambil terus berharap ini hanya mimpi belaka. Nami……. Panggilku dalam hati.

Tiba-tiba terbesit sebuah ide di otakku, segera saja kupergi dari pemakan itu, tanpa memperdulikan yang lain. Kupacu mobilku, dengan cepat, ke sebuah tempat yang akan mengantarkanku ke Nami. “Nami, tunggu aku.” Gumamku.

Aku sampai  disebuah gedung, segera kau berlari menuju atap gedung. Sampai di atap, kulangkahkan kakiku dengan pasti ke tepi atap gedung ini. Kuambil sebuah kotak yang berisi, sebuah cincin yang akan kuberikan padanya saat dia ulang tahun, tiga hari lagi, tapi sayang gagal. Lalu kupejamkan mataku merasakan hembusan angin yang menerpa wajahku, “Chagi, kita kan bersama lagi, dan takkan terpisahkan, my life just for you.” pikirku. Nami tunggu aku, “PARK NAMI!!!! SARANGHAEOL!!!!!!” Teriakku setelah membuka mata. Detik berikutnya kakiku melangkah ke udara bebas.

Wooseumyuh nuhege joheun moseup namkigo shipuh nuhreul bwajjiman

Author POV

Pria itu terjun dari gedung berlantai 50. Seketika itu juga orang-orang mengerumuninya, yang telah tak bernyawa. Kepalanya bersimbah darah, kaki dan tangannya patah. Beberapa diantara mereka, memandang miris dirinya, bertanya-tanya apa yang membuatnya melakukan hal ini.

Pada akhirnya mereka bersama,dalam cinta yang abadi

Cinta yang murni, dari dalam libuk hati

Gyuhlgoogen heulluh naeryuhjji

THE END

Annyeong….. Gimana ffnya gaje ya??? Ini adalah debutku dalam menulis ff oneshoot, jdi mianhae kepanjangan + jelek+gaje… Niatnya pengen bikin terharu tapi, malah jadi ff yna gaje dan gak jelas kemana arahnya. Ya sudah daripada saya terlalu banyak bicara,… silahkan anda koment….

BUAT YANG UDAH BACA GOMAWO………

AND BUAT YANG BACA + COMMENT, GOMAWO KUADRAT!!!!!

BUAT YANG UDAH PUBLISHIN, KAMSAHAMNIDA…………..

 

Advertisements

14 responses to “[Freelance] My Life Just For You

  1. astaga.. kayak romeo juliet gt ya -_-
    romatis bgt sih Unyuk, terlalu romantis malah!
    daebak thor ^^d

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s