The Next Target : Nix

*muka ga keliatan*

Title : The Next Target : Nix

Author : Rara a.k.a Cute Pixie

Casts : Lee Chira (Chira onn) , Kim Jonghyun, Alex (Ocs).

Genre : Romance, Action

Length : Oneshot

Rate : PG-16

Disclaim : Jonghyun milik Sekyung, Chira onn milik JongKey.. Saya milik tuhan.. *gaknyambung* kkk~

NB : Ini ff balas dendam ku untuk Chira onn yang udah meras otak bikinin ff “Life For Devil” .. mudah2an suka, klo ga suka yah terima ajah.. *lha?


***

Paris, France, 22.13 PM.

Malam itu cukup sunyi. Awan gelap menutupi langit dan berhembus pelan di pinggiran jalan kota Paris. Kebanyakan orang telah tertidur lelap di ruangan yang hangat dan selimut tebal yang menutupi tubuh mereka.

Tak jauh dari pinggiran jalan itu, berdirilah sebuah gedung kantor yang dari luar sudah terlihat tua dan kuno.suasananya masih terlihat sama. Sunyi. Sepi. Di lantai bawah dan di halaman gedung itu, yang biasanya dijaga oleh beberapa orang bertubuh kekar, kini tak terlihat batang hidungnya. Namun, jika kalian perhatikan dengan seksama, sekitar 5 tubuh tak bernyawa bersimbah darah diikatkan ke batang pohon di depan halaman gedung itu.Tujuh lantai dari atasnya, tepatnya di sekat ruangan presiden direktur, tak kurang dari empat mayat yang tak berdaya.

Di  suatu ruangan –tepatnya kantor direktur, seorang gadis tinggi dan ramping, rambutnya yang hitam dan panjang dikuncirnya keatas. Pakaiannya terlihat sangat ketat, dengan celana panjang hitam dan skinny yang biasa dikenakan oleh Angelina Jolie di film Mr. dan Mrs. Smith saat akan beraksi melawan musuhnya. Kira-kira begitulah tampilannya.

Gadis itu berjongkok tepat di depan tubuh seseorang yang sudah tak bernyawa. Tangannya memegang kulit pipi pria tua itu dan menamparnya sekuat tenaga.

Ia menghela nafas pelan, lalu merogoh saku celananya, dan meraih ponsel lipat yang super tipis. tangannya sibuk memencet keypad ponsel itu. Terlihat ia sedang menghubungi seseorang.

“Nix disini. Lokasi : rue de Voltaire, status : aman. chip berhasil ditemukan. “

Tit.

Chira tersenyum. tugas kali ini selesai. Namun saat ia ingin memasukkan ponsel itu kembali ke saku celananya, tiba-tiba dirasakannya seseorang menekan bahunya dari belakang.

“Wanita sialan. Kubunuh kau!”

Ternyata itu salah satu penjaga gedung yang berhasil lolos.

Chira menahan lengan kekar pria itu, kakinya mundur satu langkah kebelakang, dan dengan sekuat tenaga ia kaki panjangnya menendang perut pria itu dan dengan mudahnya tubuh musuhnya itu menghantam meja kerja. Bodyguard itu ambruk.

Dengan santai ia mengeluarkan sesuatu yang bersinar dari balik jaket kulitnya. Sebuah benda kecil dan bermata tajam. Gadis itu bersiap-siap mengarahkan mata pisau lipat itu, dan dengan sekali gerakan, ia menghujam benda tajam itu tepat di tengkuk si musuh.

Pria itu kontan berteriak keras, namun hanya sampai disitu saja, sedetik kemudian ia hanya mengeluarkan erangan, lalu setelah itu terdiam. Desahan nafasnya tak lagi terdengar. ia sudah mati.

Setelah memastikan bahwa makhluk itu sudah tak bernyawa, Chira mengambil ponselnya lagi, masih menekan nomor yang sama. Dan setelah nada bunyi ke dua terdengar, ia berbicara.

“Nix disini. Lokasi : rue de Voltaire, status : aman. chip berhasil ditemukan. Keadaan aman…tadinya. Ada si bodoh yang hampir mengacaukan tugasku.”

“Biarkan saja. Chip itu sudah berhasil kau temukan?” tanya pria bersuara berat diseberang sana.

“Tentu saja.”

“Good job. Temui aku di markas secepatnya. Ada tugas baru untukmu.”

Dan setelah itu telepon terputus. Chira mendengus kesal. Sial, baru saja tugasnya selesai, kini sudah menanti tugas baru.

***

Seorang gadis menatap menara Eiffel yang menjulang tinggi dan dipenuhi ratusan cahaya lampu yang berkelap-kelip. Ia mengakui, pemandangan yang indah. ya, kota Paris memang sangat indah. Seorang pria tua berjubah hitam berdiri di samping Chira yang sedang memandangi menara Eiffel dari atas atap sebuah gedung belasan lantai.

“Pekerjaan yang bagus, Nix.”

“Aku baru saja membunuh sembilan orang hari ini dan kau datang lagi? tak bisakah aku beristirahat sebentar saja?” sentak Chira agak marah.

“Tugas seorang pembunuh bayaran itu tidak gampang. Kau tak bisa mengharapkan hari libur seperti manusia pada umumnya,” jelas Alex, bos sekaligus pemimpin para assasin. Ya, assasin yang dipunyai Alex memang tak hanya Chira -yang bercode name Nix. Selain Chira, Lucas, Hendric, Reagan, Megan, dan Morris juga termasuk salah satu assasin handal yang bekerja di bawah pengawasan Alex.

Pekerjaan menjadi assasin hanya membutuhkan dua pilihan simpel, yakni berhasil atau mati.

Ya, assasin yang berhasil akan diberi bonus yang besar, sedangkan yang gagal dalam misinya akan dijatuhi hukuman mati, dengan cara salah satu anggota kelompok assasin itu membunuh temannya yang gagal misi. Tentu saja mau tidak mau hal itu harus dilakukan, sebab jika orang itu masih hidup, ia akan diincar oleh kepolisian dan cepat atau lambat keberadaan kelompok assasin ini akan tercium keberadaannya dari dunia luar.

“Huh. Cerewet.” dengus Chira kesal. “Cepat katakan, siapa orang yang harus kubunuh kali ini?”

Ia mengulurkan selembar foto dengan gambar rupa manusia diatasnya. chira menatap wajah orang itu dengan enggan.

”Kau diberi waktu membunuh orang yang di dalam foto ini sampai tiga hari.”

“Aku tahu ini tugas yang berat, tapi kuharapkan kau berhasil kali ini. Aku yakin.” ucap Alex lagi. “Selamat malam, Nix.”

****

Di cafe pinggir jalan yang ramai, terlihat banyaknya turis yang berlalu-lalang dan pengunjung yang menikmati secangkir coffee, duduk bersantai dengan relasi atau kerabatnya di sore hari yang cerah itu. Seorang gadis bernama asli Lee chira mengaduk-ngaduk coffee-nya dengan sendok kecil di genggamannya, raut wajahnya terlihat gelisah, terlihat jelas terlebih saat ia sibuk melirik pergerakan arah jarum jam di arlojinya. Ia sedang menunggu kedatangan seseorang.

“Hei tebak siapa aku? clue-nya : aku adalah seseorang yang tampan dan keren..”

Suara itu berhasil membuat Chira tercekat. Si pemilik suara itu berhasil menutupi pandangan Chira dengan kedua telapak tangannya yang besar.

“Ya! Kim Jonghyun! jangan main-main denganku! cepat lepaskan tanganmu dari wajahku..!”

Namja yang dipanggil Kim Jonghyun itu tertawa. Akhirnya ia melepaskan kedua tangannya yang menghalangi wajah Chira. Ia menarik kursi kafe itu, lalu duduk tanpa dipersilahkan terlebih dulu.

“Sudah lama menunggu, chagi?”

Chira berhenti mengaduk minumannya, kepalanya mendongak hingga matanya berhadapan dengan namja di depannya itu. “Ya. dan aku hampir mati menunggumu disini selama 2 jam lebih.”

“Hahaha.. tenang saja, kalau kau mati, aku pasti akan menyusulmu.” ucap Jonghyun sambil tertawa garing, tapi yang diejek malah tak merespon sama sekali. Jonghyun mengguncang-guncang lengan yeojachingunya itu.

“Kok diam saja? ayo cerita padaku.. sudah lama kita tak berkencan.”

Berkencan? haish, bahasanya menjijikkan sekali, pikir Chira.

Suasana kembali hening. Lama mereka terdiam. Chira tak banyak bicara pada Jonghyun, entah kenapa hari ini membuatnya malas untuk bicara, sedangkan Jonghyun bingung dengan tingkah laku aneh dari gadisnya itu.

Jonghyun akhirnya memulai topik pembicaraan. “By the way.. kau kemana semalam? aku meneleponmu, tapi tak kau angkat…”

Chira menaikkan sebelah alisnya. Oh, yang itu. Semalam ia sedang bertugas melawan belasan pria kekar yang bodoh itu, yang dengan mudah dikalahkannya demi mendapat sebuah chip kecil yang tertanam di balik lukisan ruang direktur.

Tapi tentu saja ia tak akan menceritakan hal itu pada Jonghyun. Bisa gawat kalau namjachingu-nya itu sampai tahu bahwa selain mahasiswi di salah satu perguruan tinggi Paris yang terkenal, ia juga seorang assasin alias pembunuh bayaran. ia tak ingin Jonghyun mengetahui hal itu. ia ingin pemuda itu hanya mengenalnya sebagai Lee Chira, bukannya sebagai Nix si assasin berdarah dingin.

“Aku… aku sedang menginap dirumah temanku semalam. Biasa, tugas kuliah yang menyebalkan..” Chira nampak agak gugup saat mengeluarkan alas an yang tepat untuk membohongi Jonghyun, dan kelihatannya Jonghyun percaya. Bagus.

“Hahaha.. baguslah, belajar dengan baik. kalau sudah berhasil, menikahlah denganku..” kata Jonghyun sambil tersenyum.

Chira memutar bola matanya. Baru saja ia ingin meminum coffee-nya, tiba-tiba Jonghyun menciumnya, yang hampir saja membuat isi cangkir itu tumpah ke atasan yang dikenakannya.

“Jonghyun, kau kena –hmmphh .. “

Selama semenit mereka berciuman, Jonghyun akhirnya melepaskan bibir Chira, dan tersenyum manis.

Gadis itu merasakan wajahnya kini memanas, mungkin saja pipinya akan berubah merah. Sedangkan Jonghyun tak perduli dengan pandangan orang-orang yang berada di luar kafe itu, yang seolah-olah memusatkan perhatian pada mereka berdua.

“Kalau kau melakukan hal itu sekali lagi padaku, aku tak akan segan-segan menonjok hidungmu!” seru Chira kesal, padahal dalam hati dadanya berdesir hangat. Entah kenapa susah sekali berakting sok cool di depan namja ini.

Jonghyun hanya tertawa gaje, lalu berdiri dan menarik tangan Chira.

“Ikut aku!”

“Kemana?” Tanya Chira penasaran. “Kopiku..”

“Sudah kubayar tadi sebelum menemuimu.”

Baru saja Chira ingin protes, tapi Jonghyun sudah menarik tangannya –berdiri dari mejanya. Mereka akhirnya melenggang pergi dan berjalan beriringan melewati jalanan kota Paris yang indah dan padat akan kerumunan orang-orang. Sore sudah berganti malam, yang terlihat hanyalah awan gelap yang menyelimuti matahari.

“Kita beli eskrim, yuk.” Tunjuk Jonghyun pada sebuah kedai Eskrim kecil yang terletak diujung jalan, jauh dari mereka.

“Sudah lama aku tak makan eskrim.” Begitulah alas an Jonghyun saat Chira menanyakan kenapa ia tiba-tiba ingin memakan sesuatu yang dingin dan manis itu. Dan akhirnya mereka berjalan menuju kedai itu, dan memesan dua sekop besar eskrim. Jonghyun yang vanilla dan Chira memilih yang rasa stroberi, rasa favoritnya.

Beberapa menit kemudian, mereka sudah memakan eskrim masing-masing sambil berjalan menyusuri jalanan kota Paris yang kini dipenuhi lampu-lampu yang terpancar dari lampu kota dan juga toko-toko kecil yang berjejer. Sesaat kemudian, awan gelap berubah menghitam dan kini mengeluarkan rintik-rintik air hujan. Jonghyun yang menyadari gadisnya itu akan kebasahan, langsung mengajak gadis yang menemaninya itu untuk berteduh sebentar di salah satu gang yang sepi.

“Kita harus cari tempat untuk berteduh.” Ucap Jonghun sambil merentangkan jaketnya untuk melindungi kepala Chira dari air hujan.Terpaksa mereka membuang eskrim mereka – yang kebetulan sudah habis –ke jalanan. . Mereka berlari hingga ke gang sempit itu.

“Huh.. mestinya aku bawa payung tadi.” Ucap Chira sambil mengeringkan rambut panjangnya yang basah dan lepek terkena air hujan.

Jonghyun tak menjawab apa-apa.Tiba-tiba tangan kekar Jonghyun menekan tembok and membuat wajah keduanya berhadap-hadapan.

“J-Jonghyun..”

Wajah Jonghyun semakin mendekat ke arahnya, hingga Chira ingin sekali kabur dari tempat itu dan segera menghajar wajah mesum Jonghyun.Namun saat wajah mereka berdua hampir bertemu, tinggal beberapa senti lagi, tiba-tiba..

Trrtttt… trrtttt…

Ponsel Chira berbunyi dan itulah yang membuat Jonghyun menghentikan tindakannya. Jonghyun hanya bisa menggerutu saat gadis yang berada di depannya itu mengangkat telepon –yang entah dari siapa.

Sementara itu, mata Chira membelalak melihat nama yang terpampang di layar ponselnya. Alex –si tua bangka itu? Ngapain dia menelepon lagi? Huh, merusak acara liburku saja, batin Chira jengkel.

“Halo..” kata Chira dengan nada malas-malasan.

Namun, saat mendengar perkataan om-om menyebalkan itu, jantung chira seakan berhenti dan akhirnya ia menjawab pelan. “Baiklah..”

“Bisakah kau tak menelepon orang lain saat bersamaku?” Tanya Jonghyun jengkel dan langsung menekan tembok hingga mereka seperti posisi beberapa menit yang lalu, berhadap-hadapan dalam diam.Mata Jonghyun menatap Chira tajam dan sebaliknya, gadis itu melihat pemuda didepannya dengan pandangan takut-takut.

Chira baru saja ingin menyimpan ponselnya kedalam saku roknya, tapi terlambat. Wajah Jonghyun kini sangat dekat dengan wajahnya hingga ujung hidung mereka saling bersentuhan. Chira dapat merasakan hembusan nafas Jonghyun yang menyapu wajahnya, hingga berubah hangat. Jantungnya berdetak tak karuan.

Dan sedetik kemudian, bibir mereka sudah saling bersentuhan. Jonghyun mencium permukaan bibir Chira. Menekan sedikit ciumannya hingga terasa agak kasar dan sedikit geli. Dicium Jonghyun ternyata jauh lebih menegangkan dari pada menyelesaikan suatu misi. Kalau disuruh memilih, Chira pasti lebih memilih membunuh belasan manusia dibanding dicium oleh pacarnya sendiri.

Chira tak bisa berbuat apa-apa saat itu. Pasrah. Ia hanya bisa menggenggam posel ditangannya erat-erat.

Namun sedetik kemudian, gadis itu meletakkan ponselnya kembali ke saku roknya sementara ciuman itu masih berlangsung. Ia memejamkan matanya, tangan yang satunya bergerak mencari sesuatu di dalam roknya –di pahanya yang putih dan mulus . Agak ragu.

DOR!

Suara tembakan senjata menggema di seantero gang sepi kota Paris. Namun, sepertinya orang-orang tak menanggapinya serius. Suara tembakan memang sering terdengar di kota itu. Bukan hal yang aneh.

Nix berhasil menembak Jonghyun tepat di daerah dadanya, tepat saat pemuda itu masih menciumnya.

Jonghyun mengerang kesakitan saat menyadari sebuah peluru menghantam jantungnya.Refleks bibirnya menjauh dari Chira. Dengan mata terbelalak, dan nafas yang sedikit lagi habis, ia berkata. “Kau..”

Chira mengangkat moncong pistolnya.”Maafkan aku..”

“Ke.. kenapa..” ucap Jonghyun lagi. Tubuhnya semakin menjauh dari tempatnya semula berpijak. Keseimbangannya hampir goyah.

Kim Jonghyun, 20 tahun. Putra dari seorang pengusaha terkaya di Korea Selatan, sekaligus target pembunuhan yang dirancang Alex.

“Aku mencintaimu..” ucap Chira tulus, tapi terlambat. Pertahanan namja yang sangat dicintainya itu sudah ambruk tak berdaya –tepat diatas aspal yang dingin. Darah segar membanjiri jalanan di gang sunyi itu.

Air mata gadis itu ingin sekali jatuh ke tanah, tapi ditahannya sebisa mungkin. Seumur hidupnya ia tak pernah menangis selama membunuh manusia. Ia bukan gadis yang cengeng.Profesionalitas adalah hal yang nomor satu baginya.

Namun kali ini lain. Air mata Chira membasahi pipinya yang putih, sulit sekali untuk menahan tangisnya. Sekuat apapun ia menahannya, ia tak akan bisa. Ia sangat mencintai Jonghyun.

Sedetik kemudian ia mengusap pelan daerah sekitar matanya, meraih ponsel tipis berflip itu, dan segera menelepon Alex.

“Nix disini. Lokasi : Montreal, status : aman. Kim Jonghyun sudah dimatikan. “

.::::FIN::::.

AAAAA… mian chira onn.. jeha mati disini.. *plakk!!*

soalnya pengen liat si jeha dengan muka menderita.. *digorok jeha* kkk~

mudah-mudahan tidak suka ama ffku yah onn.. hahaha

for dyu onn.. sabar ajh.. setelah ini, ff buatmu yg kugarap.. *emgnya sawah digarap* XD

buat readers, makasih klo ada yg mo komen… biar komennya cuma sepatah kata tp sangat berarti untukku.. hiks… *crott*

n buat SILENT READERS, klo baca plus ga komen, artinya K.E.T.E.R.L.A.L.U.A.N…hhh~

57 responses to “The Next Target : Nix

  1. huah, tragis, knapa pacarnya sendiri dimatiin ?
    katanya cinta !!!
    T,T
    smoga jjong tenang di alam sana (lhoh?)

    ff.nya seru …
    ^^)b

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s