[THE SERIES] PRINCESS PROTECTION PROGRAM

HEYHOOOO, saya datang dengan ff THE SERIES yang saya janjikaan~ (tunjuk2 THE SERIES’ intro)

berhubung Siwon itu main cast-nya, jadi dia dulu yaak, dan ini emang pembuka semuanyaa, okeoke? *cekidot

^^

 

PRINCESS PROTECTION PROGRAM

(Bahasa version; english version)

Written by Lolita Choi aka Park Yora (@lolita309)

Starring: Choi Siwon


 

Niga animyeon andwae, neo eobsi nan andwae~

Ponsel Siwon berbunyi nyaring pagi itu. Aku mencolek lengan berototnya pelan, “Jagi-ya~ bangun, telepon…”

“Eng…?” ia menggumam, nyawanya belum terkumpul penuh sepertinya.

“Bangun… HP kamu bunyi…” kataku lagi sambil menguap, aku juga masih ngantuk sekali. Akupun menarik selimut di kamar Siwon itu lagi dan memunggunginya, niat melanjutkan tidurku yang terganggu karena ‘nyanyian’ ponsel bermerk BlackBerry itu.

Siwon mengambil ponselnya yang ia letakkan di atas meja kecil untuk lampu, di samping tempat tidur ini. Ia dan peneleponnya pun berbicara sebentar, dan tak berapa lama aku bisa merasakan ia terburu-buru bangun dan membuka lemarinya, mengambil pakaian dan bersiap-siap pergi.

Aku membalikkan badan agar dapat melihatnya dengan jelas, tidurku jelas-jelas batal sekarang. “Eodikaseyo? (Mau kemana?)” tanyaku.

Dia menjawab sambil mengenakan celana panjangnya, “Kasus penting, pembunuhan.”

“Pembunuhan?” bulu romaku tiba-tiba merinding mendengar hal itu.

“Ne, mereka butuh staf tambahan untuk bergabung di tim investigasi khusus untuk menyelidiki kasus ini, dan mereka pilih aku jadi salah satunya.”

“Tapi kan kamu harusnya libur hari ini.” Aku manyun.

“Jeongmal mianhada. (Maaf banget ya.)” ia mencium bagian pundak kaus longgar yang aku kenakan, sambil tangannya mengancingkan kancing-kancing atas kemeja lengan panjangnya. “Ini bakal sangat membantu buat promosi aku di kantor. Tolong mengerti ya, jagi.” Bisiknya di telingaku.

Sekarang ia sedang berusaha mengancingkan kancing di pergelangan kemejanya ketika aku, refleks, membantunya. Ia tersenyum, pasti ia pikir aku sudah mengerti keadaannya. Aku bangun dan berdiri di atas tempat tidur, merapikan kemejanya dari ketinggian yang pas—dia itu tinggi sekali, asal tahu saja—memastikan kemeja itu rapi sempurna. Ralat, semua benda sudah pasti terlihat sempurna jika ia yang memakai. Aku memegang kedua pundaknya, menghela napas. SHYU~

“Kayo. (Pergilah.)” kataku.

“Tapi kamu ga apa-apa kan?” tanyanya memastikan.

Aku mengangguk, “ Kalaupun ‘apa-apa’ juga emangnya aku punya pilihan?”

Dia tertawa kecil sambil mengacak rambutku, “Saranghanda, miin-ah. (Cinta kamu, cantik.)”

“Nado, nado. (Aku juga, aku juga.)” jawabku, template sekali. Ia mencium bibirku sekilas dan segera pergi.

Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling kamar yang kosong karena baru saja ditinggalkan pemiliknya itu sambil menghela napas berat. HAAH~ kami berdua betul-betul pasangan sosialis yang ironis, seorang polisi dan calon dokter. Ya, tunanganku, orang yang baru pergi tadi itu, namanya adalah Choi Siwon. Ia baru saja lulus dari Akademi Polisi Seoul dan sekarang bekerja di divisi investigasi Kepolisian Seoul. Sedangkan aku, namaku Park Yora, mahasiswi semester akhir di fakultas kedokteran Universitas Korea.

Masih belum ‘ngeh’ kenapa aku bilang kami ini pasangan yang sudah sosialis, ironis pula? Gini deh, sebagai polisi, tugas Siwon adalah menyelamatkan dunia—oke, lebay. Untuk sekarang mungkin baru menyelamatkan kota ini—dari kejahatan kan? Dia mendedikasikan hidupnya untuk membawa kedamaian *ceilah* bagi kota ini. Sedang aku, ketika aku jadi dokter nanti, tugasku adalah menyembuhkan orang banyak, merawat pasien-pasien, aku mendedikasikan hidupku untuk menyelamatkan orang-orang dengan menyembuhkannya.

YAHH~ kami berdua hidup dengan membawa misi sosial, mendedikasikan hidup kami untuk kehidupan sosial, sedangkan untuk diri kami sendiri satu sama lain, kami tidak pernah punya waktu. Ironis. Ini, aku masih mahasiswi. Betul-betul tidak bisa membayangkan deh akan sekacau apa hubungan kami jika aku sudah resmi jadi dokter nantinya.

BRAKK~ Pintu kamar ini tiba-tiba membuka dengan keras, ternyata Yesung. Kim Jongwoon aka Yesung adalah sahabatku dan Siwon, yang juga mengontrak rumah ini berdua dengan tunanganku itu.

“Tadi pas lagi nyuci motor aku liat Siwon buru-buru banget, ada apa?” ia melangkah mendekat dan duduk di sebelahku di atas tempat tidur.

“Kasus, dadakan.” Jawabku.

“Sepagi itu??”

Aku mengangguk. Ia melihatku dengan tampang (sok) simpati. Aku segera menoyor kepalanya dan beranjak dari dudukku.

“Eodiga? (Mau kemana?)” tanyanya.

“Pulang?” aku menjawab. Memangnya kurang jelas ya? “Siwon pergi, mau ngapain lagi aku disini? Aku mau ngerjain skripsiku aja di rumah selama dia ‘hilang’.”

“Ya udah aku anterin. Sekalian aku berangkat kerja kok. Ahh~ udah aku bilang dari dulu kalo lebih baik kamu itu sama aku aja, seorang polisi lalu lintas ga akan ninggalin pacarnya tiba-tiba, begitu aja, pagi-pagi buta kayak gini, Yora-ya.” godanya.

“Keluar nggak!” teriakku bercanda sambil melempar bantaI ke arahnya. Ia tertawa Pak Lampir (?) dan buru-buru kabur, kami janjian ketemu di teras nanti setelah aku selesai mandi.

***

Besoknya, aku baru saja berniat membuka pintu rumah Siwon dan Yesung ketika aku sadar kalau pintunya ternyata tidak dikunci. Oh, ya, Siwon memang memberiku dua kunci duplikat, masing-masing untuk pintu rumah ini dan pintu kamarnya, untuk memberiku akses ke kehidupan pribadinya. Nah, tapi yang aku pikirkan sekarang adalah, apa salah satu dari mereka sudah pulang? Tapi hari juga masih siang, atau jangan-jangan… bahkan kediaman polisi juga tidak bisa luput dari pencuri?

Aku berdoa sambil melangkahkan kaki ke dalam rumah mungil itu, dan aku melihatnya. Aku melihat seorang gadis yang sangat cantik sedang duduk di sofa, menangis di pelukannya. Pelukan Siwon. Pelukan TUNANGANKU.

Siwon terlihat kaget menyadari keberadaanku. Aku tersenyum sinis ke arahnya, lalu memutar badanku cepat. Aku benar-benar mau pulang!

“Jagi, jagi-ya, jamkkanman (sebentar)!” panggilnya. Aku tetap berlalu, bahkan mempercepat langkahku. “Yora-ya, please.” Ia menahan tanganku.

“Apa?” tanyaku. “Apa lagi?! Bukti memberatkan Anda, Tuan Polisi. Anda tertangkap basah!” aku berteriak, menggunakan istilah-istilah dari pekerjaannya sebagai investigator.

Ia memelukku erat. Aku berusaha keras melepasnya, tapi tentu saja kekuatannya jauh lebih besar. “Kamu salah paham! Masuklah, aku akan jelasin semuanya.”

Dan diketahuilah bahwa gadis ini—namanya Jo Dambi—adalah saksi kunci dari kasus dimana Siwon bergabung kemarin. Kepolisian harus melindunginya karena nyawanya terancam oleh pembunuh yang sama, dan Siwon adalah satu dari tiga staf yang dipilih menjadi pelindungnya. Hari ini adalah jadwal Siwon melindunginya dan tempat tinggal yang aman untuk gadis ini baru akan siap kira-kira tiga jam lagi, jadi para atasannya menyuruh Siwon membawa gadis ini ke rumahnya dahulu agar ia dapat beristirahat sejenak karena ia belum sempat tidur sejak kemarin.

“’Witness protection’ then, eh?” aku berbisik sambil menginjak kakinya dengan sengaja. “Tapi ga pake meluk juga bisa kan? Huh?”

Aku segera berpaling dan tersenyum ke arah gadis yang duduk di hadapan kami itu. Siwon mengerang pelan.

“Aku ga meluk dia.” jawabnya juga dengan berbisik. “Dia nangis di depan aku, apa kamu berharap aku cuma bakal diam gitu aja?”

“Ga peduli.” Aku berbisik untuk terakhir kalinya sebelum berdiri dari sofa dan menginjak kaki Siwon dengan lebih sengaja. Ia mengerang kesakitan. Aku mengacuhkannya dan malah tersenyum ke arah gadis itu, “Kamu pasti belum makan kan, Dambi-ssi? Aku mau masak nih, apa ada makanan tertentu yang mau kamu makan?”

Aku betul-betul tidak bisa mengalihkan mataku dari melihatnya ketika kami sedang makan bersama. Whoa~ dia betul-betul cantik, dilihat dari sisi manapun! Dia punya manner dan juga sangat girlie. Lebih cocok rasanya jika dibilang tunanganku melindungi seorang ‘putri’ daripada sekedar ‘saksi mata’. Terlebih lagi, ‘putri’ ini betul-betul tipe kesukaan Siwon! *danger alarm ringing*

“Ah, berapa umurmu, Dambi-ssi?” aku betul-betul tidak tahan untuk bertanya! ><

Ia melihat ke arah Siwon terlebih dulu sebelum memutuskan untuk menjawab, mungkin ia berpikir: kenapa sih eonni ini cerewet banget dari tadi? “18.” Jawabnya. “Dan… eonni, apa hubungan eonni sama Siwon oppa?” tanyanya.

Siwon oppa?? Aku mendelik pada Siwon. Ia tersedak.

“Ehm.” Siwon membersihkan tenggorokannya. “Tunangan.” Jawabnya. Aku mengangkat tangan kiriku rendah, sekadar ingin menunjukkan cincin platina yang melingkar cantik di jari manisku.

Ia hanya mengangguk pelan. Aku betul-betul yakin kalau gadis ini jelas-jelas ada hati dengan kekasihku.

***

“Ini udah tiga bulan, Choi Siwon. Masih belumkah ‘tim khusus’-mu menangkap pembunuh itu?” aku sengaja bersikap dingin padanya malam ini. Aku capek membagi dirinya dengan gadis lain! Bagaimana mungkin orang luar seperti dia bahkan punya kesempatan bertemu Siwon dua hari seminggu, sedangkan bagi tunangannya sendiri, mau bertemu saja sudah merupakan masalah??

Ia memeluk pinggangku dan mencium punggungku yang memang sedang menghadap ke arahnya. Aku memang memutuskan akan tidur dengan memunggunginya malam ini. “Kami udah dekat kok, jagi. Aku tau akhir-akhir ini pasti berat banget buat kamu, buat aku, juga buat tim aku. Kami juga baru tau kemarin kalau ternyata tersangka kami ini bersentaja. Temanku bilang, penjahat itu bahkan nyaris menembak Dambi-ssi kemarin. Tapi itu juga berarti kalau ia sebetulnya ada disekitar kami kan? Makanya cuma tinggal masalah waktu aja sampai kami bisa menangkap dia. Tolong sabar sebentar lagi ya, jagi-ya.” katanya sambil mencium punggungku lagi.

Aku bisa merasakan bibirnya yang hangat menyentuh pundakku setelahnya, lalu leher, kemudian ke telinga, lagi dan lagi. Aku berbalik dan menatapnya. Ia menarik badanku sehingga kami berdua saling menempel dan mengunciku dalam pelukannya.

“Tapi serius, Siwon-ah, aku bener-bener ga tahan lagi. Dia suka sama kamu, kamu juga tau itu kan? aku betul-betul ga bisa fokus sama apapun yang aku lakuin karena ini. Kamu tau? Ada halmeoni (nenek) nyaris meninggal mendadak tadi gara-gara aku kasih dia suntikan pemicu untuk naikin tekanan darah, karena aku pikir barusan dia komplain tentang darah rendahnya padahal ternyata dia malah punya darah tinggi!”

“Hmmpphh, HAHAHA~” Siwon malah tertawa keras tanpa mampu dikontrol. Aku menjitak kepalanya, kesal. Dia berhenti… sebentar. Karena belum berapa lama ia sudah kembali tertawa seakan habis menghirup gas tertawa yang ada di EHB.

“Omo~ Aku serius!” aku mencubit pinggangnya berkali-kali. Ia malah makin tertawa. Dan kata orang, tawa itu menular? Itu benar, saudara-saudara. Saking hopeless-nya bikin dia berhenti ketawa, aku malah jadi ikutan tertawa bersamanya. Ia tersenyum menatapku, dan perlahan menempelkan bibirnya di milikku. Ia melumat bibirku penuh nafsu dan aku membalasnya, lagi, lagi, dan lagi.

Dia mengubah posisinya sehingga kini ia berada di atasku, tanpa melepaskan bibir kami yang terus melaksanakan ‘tugas mulia’-nya. Sekarang ciuman kami sudah naik tingkat menjadi French kiss, dan (tentunya) tambah menjadi-jadi. Aku memeluk lehernya seakan tak ingin ia mengakhiri ini. Siwon hanya menggeleng dan tersenyum dalam jeda sepersekian detik yang kami ambil untuk bernapas, seperti berkata: mana mungkin aku duluan yang menyudahinya? Ia kini beralih menjilati telingaku, yang biarpun aku sudah sering merasakannya, tetap sensasi yang diberikan oleh salah satu kenikmatan duniawi itu mampu menghilangkan kewarasanku sesaat. Aku membuat kiss mark kecil di lehernya demi menyalurkan hasrat alamiah khas young adults-ku yang sudah terlanjur di-on-kan olehnya. Baru begini saja kami baju kami sudah betul-betul basah oleh keringat, padahal Siwon sudah menyalakan AC-nya. Bibirnya yang ‘menyenangkan’ itu kini sudah berpindah ke leherku, and oh, I feel something yummy hardened down there…

Aku hanya tersenyum saat ia menyingkirkan rambutku yang menghalangi akses langsung bibirnya ke leherku dengan kedua tangannya, dan sengaja mengunci kedua tangan itu di balik leherku, membiarkannya tetap disana, memastikan kedua alat gerak itu tidak melakukan ‘hal-hal yang tidak semestinya mereka lakukan’ jika akal sehatnya mulai menghilang, if you know what I mean. If you don’t, baiklah akan aku jelaskan. Ya, biarpun tentu ini memang menyenangkan, sangat menyenangkan, tapi kami memang tidak pernah mencoba berbuat ‘lebih’. Kami memang suka tidur bareng, tapi yang ini betul-betul, literally, arti harfiahnya dari ‘tidur bersama’. No sexual intercourse, dirty talks, whatsoever. Siwon dan kereligiusannya. Dan aku dan kereligiusanku. Itulah kenapa kami betul-betul cocok satu sama lain, totally an item.

Keesokan paginya, aku terbangun dan tersadar kalau aku tinggal sendirian di kamar bergaya minimalis, khas kesimpelan seorang pria ini. Oh bagus, jadi sekarang dia udah merasa ga perlu bilang-bilang dulu sama aku, gitu, kalau mau pergi? Aku melihat jam weker yang berada di atas meja, jam yang berpasangan dengan yang aku miliki di kamarku, masih jam setengah enam pagi. HAAH~ Aku lupa kalau hari ini gilirannya menjaga gadis itu. Dia sudah pergi sepagi ini pasti karena dia sudah tidak sabar menghabiskan hari ini dengannya.

Oke, kalau maunya seperti itu. Aku berganti pakaian dan melempar kemeja Siwon yang aku pakai tidur semalam ke dalam laundry basket. Sebagai dokter magang, aku juga bisa lebih sibuk dari dia kalau aku mau.

“Park, book OR 6 buat jam 3.” (OR=Operating Room)

“Park, klinik sibuk, cepat bantu dr. Kang di sana.”

“Yora-ya, boleh tolong titip pasienku sebentar ga?”

“dr. Park, penanganan seperti apa yang harus kita berikan?”

“Dokter, Anda tidak boleh membiarkan istri saya meninggal!”

AAARGH~!! Aku berdiri dan menatap suami pasien ini. “Pak, tolong, istri Anda cuma terkilir pergelangan kakinya ketika belanja tadi! Dia berjalan-jalan di mall terlalu lama, itulah kenapa kakinya sakit. Dia akan sembuh dalam waktu singkat, tidak akan ada orang yang meninggal hanya gara-gara kakinya terkilir.” Jawabku jengkel dan langsung keluar begitu selesai memberikan pengobatan yang proper.

Aku meregangkan badanku ketika sudah berada di luar klinik. HAAH~ jadi dokter magang memang jelas lebih sibuk, tapi pada dasarnya kesibukan kami itu hanya demi memenuhi suruhan-suruhan semua orang disini. Lihat kalimat-kalimat perintah di atas? Biarpun berbeda-beda tipenya, tapi tetap saja semuanya meminta kita melakukan sesuatu. Kalimat pertama dan kedua jelas-jelas milik dokter pembimbingku (kami menyebutnya resident doctor atau resident saja), dr. Shin. Resident doctor adalah dokter yang ditugaskan membimbing beberapa dokter magang, mengajarinya, dan tentu, memerintahnya. Itulah mengapa performa para dokter magang sangat mencerminkan kualitas resident-nya. Kalimat ketiga berasal dari teman magangku, Shinae. Sepertinya resident-nya baru saja memberikan tugas lagi sampai-sampai ia harus menitipkan pasiennya padaku. Lanjut, kalimat keempat pastinya milik perawat. Ohh~ aku suka sekali deh dipanggil dengan ‘dr.Park’. Tapi kecuali Anda sudah lulus sebagai dokter magang, tidak akan ada yang akan memanggilmu ‘Dokter’ kecuali perawat dan pasien. Nasib banget kan jadi dokter magang… Fiuhh~

“Park, ayo bantu. Pasien untuk UGD, ambulans bakal datang sebentar lagi. Ayo cepat, cepat.” dr. Shin menepuk pundakku dalam larinya menuju pintu masuk UGD. Aku segera menyambar pakaian steril dan sarung tangan sekali pakai yang berada di lemari inventory dan ikut berlari.

“Lee Donghae, 24 tahun, luka tembak di bahu kanan, terus kehilangan darah sejak dari TKP.” Kata si paramedis sambil menurunkan ranjang beroda itu dari dalam ambulans.

Aku mengangguk dan mendorong ranjang itu bersama teman-temanku sesama dokter magang ke dalam UGD ketika aku melihat dr. Shin sedang menangani pasien baru kami yang lain.

“Choi Siwon, 23 tahun, luka tembak serius di bagian perut, peluru masih bersarang di dalam. Tak sadarkan diri sejak 10 menit—“

Aku tidak bisa mendengar lebih lanjut karena pergerakan ranjang beroda pasienku memaksaku untuk terus bergerak pula. Yang aku tahu hanyalah bahwa aku tidak bisa melepaskan pandanganku dari pasien yang ditangani dr. Shin tadi…

 

<TBC>

 

naaaahhhh, gimana, gimana??

suka ga suka kudu komen! *loh ngancem* :p

oh iya, sekalian buka request-an juga nih, abis ini mau ceritain siapa yaaaa? (yang belum tau casts-nya boleh klik link THE SERIES intro diatas 🙂

 

gomawo chingu^^

42 responses to “[THE SERIES] PRINCESS PROTECTION PROGRAM

  1. Pingback: Kiat-Kiat Menulis Kreatif « FFindo·

  2. Pingback: World Spinner·

  3. Pingback: THE SERIES’ INDEX [1] « FFindo·

  4. Pingback: [THE SERIES/ENG] PRINCESS PROTECTION PROGRAM | Super Junior and DBSK fanfics!^^·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s