Life for The Devil – Part 4

 

Tittle : Life for The Devil – Part 4

Author : Lee Chira

Genre : Romance, Smut(?), Semi-Thriller

Rated : PG15 – NC17

Length : Chaptered

Main Cast :

Yoon Jisun  aka  Rara

SHINee – Kim Jonghyun

Minor Cast :

SHINee – Lee Jinki

Kim Jiyoung  aka  Avy <- kgk nampang byk, cm cameo

Disclaimer : Yoon Jisun milik Taemin, Kim Jonghyun milik aku dan jempolku(?) dan Lee Jinki milik siapa saja yang mau K’Mitha. Kim Jiyoung milik Ojong(?)

WARNING..!! Baca rated ff ini. Bagi yang mau m’bc tp msi dbwh umur, baca sama mamanya y!! ^.0

D part ini keknya thrillernya ngilang. Jgn kecewa y. peace =V=

Previous : Prolog, Part 1, Part 2, Part 3

 

***

 

Aku sedang berjalan keluar kelas saat mendengar sebuah suara memanggilku. Aku menoleh. Ah, wanita ini.

“Sebelumnya aku minta maaf, aku sedikit mencampuri urusanmu malam itu tanpa mengenalmu terlebih dahulu,” Aku hanya bisa menatapnya. “Kenalkan, aku Kim Jiyoung. Kau Yoon Jisun kan? ‘Teman baik’ Jinki dari SMA?”

Aku hanya mengangguk. Lagi-lagi ia tersenyum.

“Sepertinya akhir-akhir ini kau berubah..” katanya saat kami berjalan bersama menuju gerbang kampus.

“Eh?”

Ia tampak berpikir sejenak. “Maksudku, kau sedikit labil. Emosimu ‘kurang’ normal.”

Aku meliriknya. “Maksudmu aku gila begitu?”

Ia terkekeh sambil mengibas-ibaskan tangannya. “Bukan.. bukan itu. Maksudku, kau sering terlihat hampa, kosong, bahkan kadang-kadang ngeri. Ada sesuatu yang – maaf kalau aku lancang – mengganggu pikiranmu?”

Aku hanya tersenyum simpul. “Aku hanya banyak pikiran. Tapi aku bisa mengatasinya sendiri. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku,” Aku berhenti melangkah saat kami sampai di depan gerbang. “Aku masih ada urusan. Sampai jumpa nanti. Annyeong..” Aku berlari keluar area kampus sambil melambai padanya.

 

***

 

Aku berubah? Ya, mungkin. Maksudku, bagaimana mungkin tak ada yang berubah di diriku setelah semua yang terjadi? Petualangan hidupku selama beberapa bulan terakhir yang begitu ekstrim – karena berhubungan dengan dunia di luar dunia manusia. Kejadian-kejadian menyeramkan, mengerikan, mendebarkan semua telah kurasakan. Hidup di dua dunia berbeda penghuni pun sudah. Hidup bersama makhluk non-manusia bernama iblis yang karena dengan emosi yang menggebu-gebu di dalam dadaku membuatku dalam waktu semalam menyerahkan jiwa ragaku untuknya, menyerahkan diriku sendiri menjadi koleksinya.

Dan bahkan, setelah menurutku cukup lama dan banyak kejadian yang terjadi, aku bahkan tak tahu kapan akhir dari petualanganku ini. Petualangan yang memiliki kemungkinan bahwa hal ini tak akan berakhir. Ia memiliku, jiwa dan ragaku. Saat ragaku punah nanti dimakan waktu dan umur, jiwaku tetap ada. Jiwaku tetap eksis di dunia, hanya saja seperti katanya dulu, ia bisa membawaku ke dunianya yang dipenuhi oleh kegelapan.

Aku tersandung sesuatu, membuatku tersadar kembali ke dunia nyata. Aku melihat sekelilingku. Sepertinya aku tak sadar bahwa aku telah berjalan cukup jauh sampai-sampai halte bus pun terlewati cukup jauh.

Tes.. tes..

Aku menyentuh rambutku yang sedikit basah dan mendapati ada sesuatu di sana. Aku mendongak menatap langit. Butir-butir salju menetes. Baru kusadari pakaianku sudah diselimuti oleh salju. Angin berhembus menerpaku. Saat itu juga kurasakan dingin yang amat sangat.

Dengan segera aku berlari kembali ke halte dan menunggu di sana. Tubuhku mulai menggigil. Entah apa yang terjadi padaku tadi sampai-sampai aku bisa mengacuhkan rasa dingin ini. Aku meniup-niup tanganku, menghembuskan nafas hangat yang berupa uap-uap gas.

 

Dingin bukan main. Itulah yang kurasakan.

Sesampainya di mansion, aku langsung masuk ke dalam kamar tanpa menghiraukan pandangan bingung Jonghyun. Aku melompat ke tempat tidur dan duduk sambil membungkus seluruh tubuhku dengan bed cover tebal. Gigiku bergertak hebat, sedikit menimbulkan bunyi. Kupeluk kakiku erat. Arrgh, kenapa dingin sekali ini?

Pintu kamarku terbuka dan Jonghyun masuk dengan santai. Kulirik ia sekilas. Ia tampak biasa saja dengan sebuah kaos oblong hitam dan celana kain panjang. Apa ia tak kedinginan dengan udara seperti ini? Aku saja sampai terkena hipotermia tingkat rendah begini.

“Kemari,” katanya sambil berdiri di dekat tempat tidurku.

Aku menggeleng. Ia terus memanggil, tapi tak kuhiraukan. Aku terlalu takut keluar dari selimut. Bisa-bisa sebentar lagi aku akan membeku.

Jonghyun memaksa. Ia menyibakkan sedikit bed cover yang membungkusku dan meraih tanganku. Hangat. “Kemari..” Ia memaksaku dan dengan kekuatannya, ia berhasil mengeluarkanku dari pertahananku (baca: bungkusan bed cover tebal). Aku berdiri di hadapannya. Aku semakin merinding saat pertahananku lepas. Tapi ada sesuatu yang membuatku tetap berdiri.

Ia menggenggam tanganku kuat. Rasa hangat timbul di sana.

“Lepaskan pakaianmu.”

0.0

Aku melototinya. “Kubilang lepaskan,” katanya datar.

Aku tak percaya dengan pendengaranku barusan. Apa yang dikatakannya? Apa dia sudah gila.

“Kau kedinginan kan?” tanyanya. Aku mengangguk. “Jadi lepaskan saja!”

Refleks aku menutupi tubuhku dengan tanganku dan sedikit mundur. “Sirheo!”

Ia mendengus kesal lalu melemparkan tatapan membunuhnya (lagi) padaku. Karena sedikit takut, aku terpaksa melakukan permintaannya. Aku melepaskan pakaianku satu per satu. Mulai dari mantel tebal, jaket, dan kemejaku. Saat membuka kancing kemejaku, aku sengaja berbalik, memunggunginya. Aku gugup bukan main. Kulemparkan kemejaku ke bawah. Sedetik kemudian kurasakan lenganku dipegangnya, lagi-lagi hangat. Ia menarikku ke belakang, memelukku dari belakang. Seketika itu juga kehangatan ‘menyentuh’ku. Semakin lama rasa hangat itu menjalar ke seluruh tubuhku. Sekarang aku tahu apa maksudnya.

“Kenapa tubuhmu hangat?” tanyaku.

“Karena auraku negatif.Aku berasal dari dunia gelap dan panas,” jawabnya kemudian mempererat pelukannya.

Aku menggeliat pelan, meregangkan ototku yang sempat kaku. Ia beralih memeluk perutku. Hidungnya menempel dan menyapu pelan wajahku. Aku tak lagi merasa kedinginan. Aku juga tak tahu berapa lama waktu yang terlewati namun semakin lama kehangatan yang mengusir kedinginan itu mulai beralih menjadi rasa panas. Detik demi detik, menit demi menit. Aku mulai kepanasan. Tapi ia tak merenggangkan pelukannya. Aku bisa merasakan kaos dalamku mulai basah karena keringat. Panas.

“Jong.. panas,” gumamku. Aku memegang tangannya yang melingkariku. “Lepaskan..”

Tapi ia tak bergeming. Aku berusaha melepaskan diriku. “Kumohon, lepaskan aku..” Ia tetap tak bergeming. Aku meronta, tapi ia tak kunjung melepaskanku. Beberapa lama kemudian barulah ia melepaskanku yang sudah mandi keringat karena kehangatan yang diberikannya.

 

***

 

Katakan bahwa hari ini adalah salah satu hari terindahku. Kurasa kalau dalam anime, tanda-tanda berbentuk hati sedang mengelilingiku.

Tadi sepulang dari kampus, Jinki tiba-tiba menghampiriku dan mengajakku berjalan-jalan. Kami pergi ke taman bermain, bermain-main di sana, tertawa, melepaskan segala beban. Kami mencoba semua wahana, mulai dari yang biasa seperti bianglala sampai wahana yang memacu adrenalin. Setelah puas bermain, kami makan malam bersama.

Hingga pada akhirnya tak terasa malam telah tiba. Aku terlambat pulang.

Sesampainya di rumah, aku tak menemukan siapa-siapa – oke, dalam hal ini sebenarnya hanyalah Jonghyun karena jelas yang tinggal di mansion ini hanya kami berdua. Mansion sepi tak berpenghuni. Aku heran melihatnya yang tak menunjukkan batang hidungnya. Biasanya ia bersantai-santai ria di ruang tengah dan kami melakukan obrolan basa-basi. Atau pun obrolan tak penting saat makan malam.

Aku melirik jam. Ah! Sudah pukul sepuluh lewat. Aku lupa memasakkannya makan malam. Ya, kuakui ia mungkin tak akan protes karena bahkan untuk menyuruhnya memakan MAKANAN MANUSIA saja harus dengan sedikit banyak usaha.

Aku berjalan ke arah kamarnya, mengetuk pintunya namun tak ada jawaban. Kubuka pintu itu dan tak menemukannya di sana. Penasaran, aku mencarinya ke seluruh penjuru mansion. Namun nihil. Aku bahkan tak dapat merasakan hal-hal yang biasa kurasakan saat ia berada di dekatku.

Apa ia marah ya? Kalau pun benar, harusnya ia bisa langsung mendatangiku tadi seperti sebelumnya. Tapi mengapa tidak? Dan ini adalah kali pertamanya aku tak menemukannya.

Menyerah karena tak dapat menemukannya, kuputuskan untuk kembali ke kamar dan beristirahat. Hari yang melelahkan namun menyenangkan. Aku sendiri bahkan tak menyangka dapat ‘kembali’ berjalan dan menghabiskan waktu bersama Jinki. Hal yang sudah lama kurindukan.

Setelah kejadian di klub malam itu, aku merasa aneh saat berpapasan ataupun mengobrol dengannya. Semua memang kembali pada sedia kalanya tapi tidak dengan hatiku. Hati yang sempat terluka karena adanya Jiyoung di sisinya. Maksudku, bagaimana mungkin aku yang telah bertahun-tahun bersamanya – walaupun hanya sebagai teman baik – dan menyukainya sedari dulu, bisa tersingkirkan oleh seseorang yang baru masuk ke dalam kehidupannya?

Tidak terima? Memang. Saat hatiku sakit, perlahan rasa sakit itu mengabur sejalan dengan waktu. Namun harus kuakui terkadang aku merasa cemburu pada Jiyoung. Dengan cepatnya ia masuk, merebut – kata kasarnya – Jinki ‘dariku’. Dan tiba-tiba saja di saat aku sudah punya kesibukanku yang lain, tiba-tiba saja Jinki mendatangiku, mengajak jalan, dan memperlakukanku seperti dulu di mana perlakuannya itulah yang membuatku menyukainya.

Berhenti berpikir tentang bagaimana indahnya hariku, aku kembali terpikir akan Jonghyun. Baru kali ini aku tak menemukannya di sini. Maksudku, seperti yang telah kukatakan sebelumnya, ia selalu berada di mansion ini saat aku kembali. Dan tadi ia tak ada.

Beribu pertanyaan muncul di kepalaku. Ke mana dia? Apa yang dilakukannya? Kenapa ia tak berada di sini? Apa yang direncanakannya?

Aku memutuskan untuk tidur. Kupejamkan mataku, berusaha melepas lelah dan menikmati kasur yang empuk ini.

 

Aku membuka mataku lalu mendengus kecil. Kulirik jam di samping tempat tidurku. Pukul 5 pagi. Dan aku mataku belum bisa terpejam sempurna. Aku ingin sekali tertidur, tapi rasa kantukku yang sempat mendera karena kelelahan tadi pergi begitu saja.

Lama aku hanya memandang kosong ke arah langit-langit kamar. Sampai akhirnya kuputuskan untuk bangun dan menyibakkan bed cover yang menutupiku. Dingin. Segera aku menuju dapur dan mengambil segelas air mineral. Saat akan kembali ke kamarku, aku melihat ada cahaya-cahaya yang berpendar dari arah kamar Jonghyun yang setengah terbuka. Aku terdiam di tempat. Apa itu?

Cahaya itu berwarna merah kebiruan. Seperti api. Cahaya itu membesar, menerangi sebagian mansion yang gelap. Lalu cahaya itu mulai meredup lagi. Aku berjalan ke arah pintu kamar Jonghyun dan dengan hati-hati masuk ke dalamnya. Tak ada yang berubah, sama seperti sedia kala.

Kemudian tatapanku berhenti di jendela kamar itu. Jendela kamarnya terbuka lebar, angin berhembus masuk meniup gorden putih transparan. Hembusan angin mendinginkan kamar. Tapi bukan itu.

Di depan jendela kamar super besar itu, berdiri Jonghyun dalam wujud manusianya. Aku memang tak pernah lagi melihatnya dalam wujud aslinya sejak ia pertama kali membawaku ke kastilnya.

Ia hanya memakai celana jeans biru tua yang berantakan tanpa memakai atasan apapun, bertelanjang dada.

Perlahan aku berjalan mendekatinya. Angin yang bertiup menerbangkan rambutku yang terurai. Meskipun udara dingin, tapi bisa kulihat ia tetap pada suhu tubuhnya yang hangat – atau mungkin panas. Ia berdiri memunggungiku. Bisa kulihat punggung dan belakangnya yang berkeringat hebat. Aku makin mendekat sampai akhirnya aku berdiri tepat dibelakangnya.

“Aku memang tak pernah melarangmu berhubungan dengan siapa pun. Tapi untuk saat ini, jangan.”

“Jong..” Entah sejak kapan aku mulai memanggilnya dengan nama manusia buatannya itu.

Ia menoleh dan menatap mataku lurus-lurus.

“Dari mana kau?” tanyaku yang mulai gugup.

Ia hanya tersenyum simpul. “Sedikit masalah. Aku tidak bisa hanya sekadar berpangku tangan di sini.”

“Kapan kau pulang?”

“Belum terlalu lama. Sudah, jangan bahas masalah itu.” Ia menyentuh wajahku dan mengelusnya pelan.

Deg.

“Boleh aku tanya satu hal?” Sebuah pikiran mulai menghampiriku. “Aku tidak boleh pergi darimu karena aku adalah milikmu. Lalu.. bagaimana denganmu?” Ia menaikkan sebelah alisnya. “Apa kau..”

“Aku tidak bisa menjawabnya,” tukasnya lalu berjalan melewatiku. Ia menuju pintu kamarnya.

Pertanyaan itu merasukiku. Entah apa jadinya pertanyaan itu kelak, tapi satu hal itu membuatku merasa.. entahlah. Aku menatap punggungnya yang mulai menjauh, tapi sedetik kemudian aku berlari ke arahnya dan memeluknya dari belakang.

Keringat di punggungnya sangat terasa di kulitku yang menempel dengan kulitnya. Kurasakan ia tersentak kaget, tapi aku tetap memeluknya. Hal ini mungkin tak sesuai dengan perintah otakku. Karena aku sendiri juga tak tahu apa yang kulakukan.

Sepercik rasa bersalah muncul dalam diriku. Rasa bersalah yang bahkan aku sendiri tak tahu apa itu. Dan sekarang aku hanya membutuhkan sebuah jawaban atas pertanyaanku itu.

 

***

 

“Jadi pendapatan dari hasil ekspor produk A akan menjadi devisa negara yang kemudian dikalkulasikan dengan faktor dari sektor industri. Dan kurva yang terbentuk adalah kurva di mana garis X berbanding lurus dengan pendapatan per kapita negara..”

Aku menjelaskan dengan cukup lambat kepada Jinki yang meminta bantuanku untuk mengajarkannya materi kuliahnya yang tidak terlalu dimengertinya tapi lumayan kukuasai. Awalnya aku menolak, setahuku ia cukup pandai dan materi ini tidak terlalu sulit. Tapi ia memelas dan aku tak bisa menolak.

Dan di sinilah kami berada sekarang. Duduk berhadapan di meja diskusi di dalam perpustakaan kampus yang saat ini lumayan ramai.

“Jadi, apa yang tidak kau mengerti?” Tanya pada Jinki tanpa mengalihkan pandanganku pada buku tebal di depanku.

Aku menunggu jawabannya namun ia tak kunjung menjawab. Aku mengangkat kepalaku dan mendapatinya sedang menatap ke arahku. “Jinki? Lee Jinki..?” Aku melambai pelan di depan matanya beberapa sampai akhirnya ia tersadar.

“Oh, ya. Kenapa?” tanyanya gugup.

“Kau memperhatikanku tidak sih?” tanyaku.

Yang ditanya malah salah tingkah. Ia memamerkan gigi kelincinya dan membentuk tanda damai dengan jari telunjuk dan jari tengahnya. Aku sempat kesal juga. Aku sudah capek-capek menjelaskan tapi ternyata ia malah tak memperhatikan penjelasanku. Tapi kembali lagi seperti dulu. Ia selalu membuatku tersenyum.

…….

 

Kami – aku dan Jinki – berjalan keluar perpustakaan menuju gerbang kampus. Kami membicarakan beberapa hal. Ia mengeluarkan lelucon, tapi seperti biasa. Kadang-kadang garing.

Tak terasa kami tiba di pintu gerbang.

“Perlu kuantar kau pulang?” tawarnya.

Jujur saja, aku tertarik dengan tawarannya. Lumayan, tak ada Jiyoung. Soal Jiyoung, ke mana dia? Akhir-akhir ini aku jarang melihatnya, baik seorang diri atau pun bersama Jinki. Kembali ke masalah sekarang. Aku sudah bersiap untuk menjawab ‘ya’ saat sebuah mobil berhenti di depanku dan Jinki.

……..

 

“Ada angin apa tiba-tiba kau menjemputku?”

Jonghyun tetap memandang jalanan. “Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin keluar saja denganmu…”

“Tumben.”

“Kau meminta ini-itu. Temani nonton, memakan masakanmu, atau apalah. Kenapa aku tidak boleh? Apa posisi kita sudah berbalik?” Ia melirikku, menyindir.

Aku tak berkeinginan untuk membalasnya. Aku hanya menatap dirinya yang berkonsentrasi memacu mobil di jalan raya. Lagi-lagi ia berpenampilan seperti ini. Setelan hitam-hitam. Ia mengenakan jaket hitam di dalam yang dilapisi mantel kulit, celana hitam, dan sepatu olahraga ¾ berwarna merah – mungkin hanya ini yang tak berwarna hitam.

“Sebenarnya kita mau ke mana?”

“Ke mana saja.” Ia hanya menyeringai.

O.O

 

(End of POV)

***

 

(Jonghyun POV)

Aku memberhentikan mobil di depan sebuah kafe yang terlihat tidak terlalu ramai di daerah pinggiran kota. Aku keluar dari mobil dan memutar ke sisi seberang dan membuka pintu penumpang. Jisun keluar dari mobil dengan ekspresi kebingungan di wajahnya.

“Di mana ini?”

“Nanti kau tau sendiri,”

Aku menutup pintu mobil dan menarik Jisun mendekat ke arahku. Kepalanya celingukan melihat daerah sekitar.

“Ayo!”

Aku langsung melingkarkan lengan kiriku di lehernya dan menariknya bersamaku masuk ke dalam kafe. Beberapa orang memandang kami dengan tatapan aneh. Aku tahu itu bahkan sebelum kami keluar dari mobil BMW sport silverku ini. Tapi aku tidak peduli dan terus merangkul Jisun sampai di dalam kafe.

 

Selesai makan malam – hanya Jisun yang betul-betul menikmati makanannya karena aku tidak terlalu peka dan tertarik dengan makanan manusia, ingat? – aku membawanya ke sebuah tempat di daerah dataran tinggi tak jauh dari kafe.

(End of POV)

 

(Jisun POV)

“Whoaa..!”

Aku terkagum-kagum melihat pemandangan yang disajikan, memandang berkeliling. Setelah menempuh jarak yang cukup jauh nan mendaki dengan berjalan kaki, akhirnya sampai juga. Sekarang kami – aku dan Jonghyun – berdiri di sebuah bukit kecil yang lumayan tinggi. Dari tempat ini bisa melihat pemandangan Kota Seoul dengan segala kerlap-kerlip lampu warna-warni di malam hari. Di langit bertaburan bintang-bintang yang perpendar indah menghiasi langit malam yang kelam.

Meskipun udara cukup dingin, tapi setidaknya aku mensyukuri satu hal : tak ada hujan salju di akhir musim salju tahun ini.

Aku menoleh ke belakang dan melihat Jonghyun sedang duduk di sebuah gundukan batu besar. Aku menyusulnya.

“Dapat ide dari mana kau sampai mengajakku ke tempat seperti ini?” tanyaku masih memandangi hamparan langit malam.

“Tak banyak tempat yang sesuai denganku. Selain tempat-tempat seperti klub malam, ini satu dari sedikit pilihan itu,” Aku menatapnya. “Tidak mungkin aku membawamu ke pantai di pagi hari. Terlalu terang..”

“Oh, pantas..” Aku manggut-manggut mengerti perkataannya. Baru kusadari bahwa puncak bukit ini begitu gelap, hanya ada pancaran sinar yang dipantulkan oleh bulan dan bintang-bintang serta lampu jalan di bawah sana.

Aku mengusap-usap telapak tanganku, berusaha menimbulkan kehangatan dari nafasku. Aku yakin Jonghyun melihatnya karena sedetik kemudian ia mengambil tanganku dan menggenggamnya. Lagi-lagi hangat. Aku mencoba menyalurkan kehangatan itu ke seluruh tubuhku.

Aku memandangi langit malam (lagi dan terus menerus). Benar-benar pemandangan yang indah. Aku senang Jonghyun membawaku ke tempat ini. Sebelah tangannya merangkulku, aku menyandarkan kepalaku di bahunya. Aku menatapnya.

“Ada apa?” tanyanya.

Aku menggeleng pelan, tak yakin apakah aku harus menanyakannya atau tidak. Tapi aku memberanikan diri.

“Kau sudah mendapatkan ‘pengisi’ kekuatan lain? Aura yang berpendar lebih hebat?”

Ia menyeringai. “Tidak. Aku tidak butuh yang lain. Bukankah sudah kukatakan dulu, aura tak membuat kekuatanku bertambah. Bahkan aura manusia bisa membuat kekuatanku sedikit terkikis.”

Bukan itu yang kupertanyakan. Yang kupertanyakan adalah apakah ‘pengisi’ itu bisa berubah dan apakah kadarnya bisa mereka – kaum iblis pemilik jiwa manusia – tentukan sendiri? Berlatar belakang perubahan sikap Jonghyun yang akhir-akhir ini tak lagi seagresif dulu. Membuat pertanyaan lain muncul : apakah semua bisa berubah seperti sedia kala? Kalau perlu ke zaman di mana aku masih bersama orang tuaku.

Air mataku mulai mengisi pelupuk mataku. Aku menenggelamkan wajahku. Namun seenit kemudian aku menghapus air mata yang mulai turun itu, melupakan kesedihanku. Aku kembali bersandar pada Jonghyun seraya menatap lurus ke depan. Aku menerawang jauh.

“Kita aneh ya?” gumamku.

Aku yakin saat ini sebelah alis Jonghyun naik. “Kau berubah. Dulu kupikir kau tipikal perempuan yang tegar, kuat, dan mandiri. Tapi ternyata.. kau memiliki sifat manja bagaikan anak kecil.”

Aku langsung manyun. “Aku tidak ingin kita dingin terus. Suasana hangat lebih baik kan?”

“Mungkin.”

Kami terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing – meski aku yakin bahwa kemungkinan hanya aku yang berpikir.

“Kau sadar apa yang kita lakukan sekarang? Kita seperti pasangan manusia normal, tapi kita bukan..” Aku mengeluarkan hasil semi-pengamatanku sambil tetap memandang ke depan.

“Maksudmu pasangan manusia.. pasangan kekasih, eh?”

Aku menatapnya, ternyata ia lebih dulu menatapku.

Deg.

Lagi-lagi jantungku berdegup kencang. Tiupan angin menerbangkan rambutku dan menampar pelan wajahku. Entah karena hal itu atau karena tatapan kami, aku bergidik. Ia memandangku lurus. Ia mulai mendekatkan wajahnya. Aku memejamkan mataku dan tak lama kemudian kurasakan bibirnya mendarat di bibirku. Ia menciumku lembut dan pelan. Aku membalasnya.

Hanya sebuah ciuman manis namun meninggalkan jejak tersendiri.

…….

 

-TBC-

 

Komen.. NO SILENT READER..! g komen, g aku lanjutin. *ngancem* hhe

79 responses to “Life for The Devil – Part 4

  1. jadi jiyoung itu cewek yg di klub sama jinki itu~~ aaa dikira GD bigbang kkkkk
    seru. ceweknya mulai suka sama jjong

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s