Kim Family’s Yeoja Dongsaeng [Part-6]

Title: Kim Family’s Yeoja Dongsaeng [Part-6]

Author: Wenz Li

Genre: Romance, Family, Comedy (?)

Rating: G

Length: Chaptered (2896 words)

Cast:

-      Kang Jiyoung KARA as Kim Jiyoung

-      All SHINee member as Kim Family member

-      Kim Hyojin Brown Eyed Girl as Umma Kim

-      Karam D-NA as Karam

-      Choi Sulli f(x) as Choi Sulli

P.S:

Jiyoung & all SHINee member + Hyojin = 1 keluarga, yaitu keluarga Kim. So… marga mereka semua diganti jadi ‘Kim’, OK?

Adaptation BY Tw-Drama MOMO LOVE with more editing :)

HAPPY READING AND COMMENT, NO BASHING

NO SILENT READER ALOWED HERE, HAO MA?

Previous Part : KIM-1 / KIM-2 / KIM-3 / KIM-4 / KIM-5

Summary :

Kim Jiyoung, anak bungsu sekaligus satu-satunya anak perempuan keluarga Kim, punya 5 Oppa yang super duper keren dan sayang banget sama Jiyoung si yeodongsaeng keluarga Kim. Tapi gimana kalau saking sayangnya Oppa-oppa Jiyoung, mereka semua sampe terserang syndrome Sister Complex? Ah… beruntung atau sial ya hidup Jiyoung? Apalagi sekarang Jiyoung ditunangkan dengan seorang namja bernama Karam. Ini gawat…

***

KIM FAMILY’S YEOJA DONGSAENG

-

CHAPTER – 6

-

Pagi yang cerah. Sinar matahari menyelusup masuk melalui celah-celah tirai hijau kamar Jiyoung si yeodongsaeng keluarga Kim. Yeoja berkulit putih dengan rambut sedikit pirang itu sudah berdiri didepan cermin bersiap-siap untuk menyambut hari minggu yang cerah.

Yeoja itu tersenyum bahagia pada dirinya sendiri, setelah ia sempat merasakan sakitnya patah hati, akhirnya ia merasakan apa itu bahagia.  Akhirnya ia tau, Karam– calon tunangannya sekaligus orang yang dia cintai bukanlah tunangan dari Choi Sulli- teman Karam dari kecil. Selama ini semua yang diucapkan Sulli pada Jiyoung hanyalah omong kosong belaka. Tak ada yang nyata.

“Hari ini kau akan merasakan apa yang aku rasakan kemarin Sulli-ya.” gumam Jiyoung sambil menyeringai kecil didepan cermin.

Semenjak insiden Sulli mengaku sebagai tunangan Karam, Jiyoung amat sangat sedih dan terpukul, tapi setelah ia tau kalau itu hanyalah omong kosong karangan Sulli saja, Jiyoung marah besar dan berniat untuk balas dendam pada Sulli. Entah apa yang ada dipikiran Jiyoung, yang dia tau, dia hanya ingin Sulli merasakan apa yang ia rasakan, yaitu rasa sakitnya patah hati. Sebenarnya Jiyoung bukan orang yang jahat dan pedendam, tapi ia hanya ingin Sulli tau, Karam itu calon tunangannya dan bukan tunangan Sulli.

Setelah selesai berias didepan cermin Jiyoung melangkahkan kakinya keluar kamar. Dilihatnya seisi rumah yang masih sepi. Tentu saja, waktu baru menunjukan pukul 06.00 am, semua penghuni keluarga Kim masih tertidur pulas. Hanya Jiyoung saja yang terlalu semangat menyambut hari itu, sehingga ia bangun lebih awal.

“Aih… Umma, Taemin dan Karam Oppa masih tidur.” Gerutu Jiyoung pelan. “Huh… baiklah, menu sarapan hari ini biar aku saja yang buat. Karam Oppa pasti senang melihatnya, dan dia akan memujiku. Hahaha…” ucap Jiyoung sambil berkhayal yang nggak-nggak tentang Karam dan dirinya.

Jiyoung membuka kulkas yang memiliki tinggi hampir setara dengan dirinya itu dan melihat apa saja yang ada dalam kulkas yang sekiranya dapat ia jadikan menu sarapan pagi keluarga Kim. Tapi sialnya kulkas itu kosong, tak ada satupun daging ataupun sayuran yang ada dalam kulkas. Jiyoung mendesah pelan.

“Sepertinya aku harus belanja dulu?” desah Jiyoung pasrah.

“Baiklah, belanja ya belanja. Semua demi Karam Oppa. Hwaiting Jiyoung!” Jiyoung menyemangati dirinya sendiri dan dengan semangat berjalan keluar rumah untuk belanja sayuran dan daging.

Dia membuka pintu utama rumah kediaman keluarga Kim.

DUGH!

Langkah Jiyoung tertahan karena kakinya terhalang oleh suatu benda didepannya dan ia hampir jatuh karena hal itu.

“Aisshh… apaan sih?” rutuk Jiyoung kesal. Ia menundukan kepalanya dan melihat benda apa yang menghalangi langkahnya itu.

Dilihatnya 4 orang namja yang sangat dekil dan kucel tengah bergelimpangan secara acak didepan teras rumah keluarga Kim layaknya pindang-pindang busuk yang dibuang oleh penjual ikan.

Jiyoung memandang dengan tatapan jijik keempat namja itu. Tapi setelah Jiyoung memandang wajah keempat namja dekil itu dengan teliti, akhirnya Jiyoung menyadari ternyata keempat namja itu adalah Oppadeul-nya sendiri yang sudah seminggu kabur dan minggat dari rumah keluarga Kim. Pantas saja dekil dan kucel, pikir Jiyoung dalam hatinya.

“Oppa, bangun… jangan tidur disini…” Jiyoung mengguncang-guncang tubuh Oppadeul-nya dimulai dari Jinki yang tidur tepat didepan pintu keluarga Kim dan sekaligus menjadi benda yang tadi hampir saja membuat Jiyoung terjatuh.

Kemudian tangan Jiyoung beralih membangunkan Key yang tidur dengan posisi tubuh dan wajah merapat dengan tembok bercat krem. “Oppa ayo bangun, sudah pagi.” Ucap Jiyoung. Key hanya menggeliatkan tubuhnya dengan malas dan berganti posisi tidur menjadi membelakangi tembok.

“Aigo… Jonghyun Oppa, ayo bangun…” kali ini Jiyoung beralih membangunkan Jonghyun yang tidur dengan posisi terlentang dilantai.

“Hm, 5 menit lagi…” gumam Jonghyun ngelindur.

“Haiisshh… dasar Oppadeul pemalas!” omel Jiyoung kesal.

Kali ini mata Jiyoung beralih pada sosok namja yang masih tidur pulas dengan posisi tubuh melingkar pada tiang yang menopang teras rumah keluarga Kim. Siapa lagi kalau bukan Minho. Jiyoung menghela nafas panjang.

“Lebih baik tidak usah membangunkan Minho Oppa. Membangunkannya sama dengan usaha yang sia-sia. Fuuuuhhhh…” Jiyoung menghembuskan nafas perlahan. Ia sangat mengerti kebiasaan tidur Minho yang nggak ketulungan malesnya. Kalau udah tidur, Minho sama aja kayak beruang kutub yang belum tidur selama bertahun-tahun, nggak bisa diganggu. Nggak ada yang bisa bangunin Minho, meski tsunami sekalipun.

“Sudahlah… mungkin Oppadeul kecapean, biarin aja deh mereka tidur disini. Lebih baik aku belanja aja dulu buat bikin sarapan ntar.”

Jiyoung akhirnya memutuskan untuk tidak membangunkan Oppadeul-nya yang sedang asyik tidur sambil menikmati hembusan angin yang silih berganti melewati teras rumah keluarga Kim.

***

“Bagun-bagun, ayo bangun…” Hyojin umma sudah mulai bercuap-cuap membangunkan anak-anaknya.

“Taeminie, Jiyoungie, cepat bangun!!!” panggil Hyojin umma sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar kedua anaknya itu.

“5 menit lagi ma, masih ngantuk…” balas Taemin dari dalam kamarnya sambil ngelindur.

“Ya ampun, dasar pemalas. Cepet bangun…” Hyojin umma masuk kedalam kamar Taemin, kemudian menguncang-guncangkan tubuh anak lelakinya itu dengan brutal.

“Aigo umma, ini kan hari minggu, 5 menit lagi dong ma…” balas Taemin dengan mata yang masih tetap terpejam sambil menarik sebuah selimut untuk menutupi tubuh mungilnya itu.

“Aigo… pemalas nian anak-anakku ini.” gerutu Hyojin umma kesal sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Ya! Taeminie, kalau kau tidak bangun sekarang, uang jajanmu akan umma potong!” ancam Hyojin umma pada anaknya itu.

“Hm… potong saja umma, lagian aku memang tidak punya uang jajan kok…” balas Taemin dingin sambil menggeliat tidur membelakangi umma-nya itu.

“Ya ampun benar-benar pemalas!” omel Hyojin umma kesal. “Sudahlah, umma capek membangunkanmu, lebih baik membangunkan Jiyoung saja…” akhirnya Hyojin umma menyerah dan beralih menuju kamar Jiyoung untuk membangunkannya.

Tok, tok…

“Jiyoungie, ayo bangun, sudah siang jagi…” panggil Hyojin umma dari luar kamar Jiyoung.

Tak ada balasan apapun dari kamar Jiyoung. Hening.

Akhirnya Hyojin umma memutuskan untuk masuk kedalam kamar anak perempuannya itu dan membangunkannya. Tapi……

“KHYAAAAAAAAA~” Hyojin umma berteriak histeris membuat seisi rumah bergetar hebat.

Karam yang mendengar teriakan Hyojin umma langsung berlari menuju sumber suara itu.

“Adjumma, waeyo?” tanya Karam pada Hyojin umma khawatir. “Gwenchana-yo?” lanjutnya.

“I-itu…” Hyojin umma menunjuk mini bed tempat Jiyoung biasa tertidur. Karam mengikuti arah jari telunjuk Hyojin umma.

“Hm? Waeyo?” tanya Karam tak mengerti dengan maksud Hyojin umma.

“Ji-jiyoung…” ucap Hyojin umma terbata-bata.

“Jiyoung? Jiyoung waeyo?”

“JIYOUNG MENGHILANG!!!” teriak Hyojin umma semakin histeris.

“MWO???” Karam ikut berteriak kaget.

Taemin yang masih tertidur didalam kamarnya langsung terbangun dan ikut kaget mendengar teriakan Hyojin umma itu.

“MWO??? JIYOUNG MENGHILANG???” teriak Taemin kaget dan langsung berlari menuju kamar Jiyoung dimana Karam dan Hyojin umma sudah lebih dahulu berada disana.

“Um-umma, apa yang terjadi? Jiyoung kenapa menghilang?” tanya Taemin khawatir begitu sampai di kamar Jiyoung.

“Umma juga tidak tau, yang jelas Jiyoung menghilang. Hiks, hiks…” air mata Hyojin umma mulai mengalir deras membasahi pipi mulusnya.

“Tenanglah Adjumma, lebih baik sekarang kita mencari Jiyoung bersama-sama, mungkin saja Jiyoung sedang keluar rumah sebentar. Jiyoung tidak mungkin menghilang, tenanglah Adjumma…” ucap Karam dengan sikap dewasanya sambil mengelus-elus pundak Hyojin umma.

“Tidak mungkin, Jiyoung pasti menghilang atau kabur dari rumah. Apa kalian tidak lihat expressi Jiyoung tadi malam? Jiyoung terlihat sangat marah gara-gara masalah Sulli adalah tunanganmu. Jiyoung tidak pernah marah sebelumnya, tapi tadi malah, Jiyoung terlihat sangat marah. Dan sekarang Jiyoung menghilang. Ini apa artinya coba? Tentu saja karena JIYOUNG MENGHILANG DAN KABUR DARI RUMAH!!!” tangis Hyojin umma semakin pecah.

“Aigo~ ini semua gara-gara kau tau!” Taemin mendorong pundak Karam.

Karam hanya diam saja, tak tau harus berbuat apa.

BRAK!

Terdengar suara pintu yang digebrak dengan keras. Suaranya berasal dari pintu utama rumah kediaman keluarga Kim.

Taemin langsung berlari menuju sumber suara itu, disusul dengan Karam dan Hyojin umma dibelakangnya.

“HAH???” mata Taemin membulat seketika, ia tercengang melihat pemandangan didepan matanya itu.

“Ada apa?” tanya Karam pada Taemin begitu sampai disebelahnya.

“I-itu…” Taemin menunjuk kearah pintu.

“Ka-kalian?” ucap Karam terbata-bata.

“Ada apa sebenarnya?” sekarang giliran Hyojin umma yang bertanya. “Apa Jiyoung yang datang?” tanya Hyojin umma sambil menghapus butiran-butiran air mata yang masih tersisa di pelupuk matanya.

“Bu-bukan umma. Tapi hyung…” ucap Taemin ragu dengan terbata-bata.

“Hyung?” Hyojin umma tidak mengerti maksud dari ucapan anak lelakinya itu, kemudian ia mengalihkan pandangannya.

Empat orang namja bertubuh kekar sudah berdiri didepan pintu utama kediaman keluarga Kim. Mereka tidak lagi memasang gaya ‘so keren’ atau ‘so ganteng’ ala BBF, kali ini mereka memasang wajah sangar dan marah, layaknya preman yang mau minta palak(?).

“APA YANG TERJADI DENGAN URI JIYOUNG?” teriak salah satu dari empat namja yang sedang bertengger didepan pintu. Dia adalah Jinki si ketua genk(?), anak sulung keluarga Kim.

“Hyung? Kalian sudah pulang?” tanya Taemin basa basi sambil berjalan mendekati keempat namja itu.

“Sudah, jangan mengalihkan pembicaraan, mana Jiyoungie?” tanya Key to the point.

“Ji-jiyoung… Jiyoung…” Taemin tidak kuasa mengatakan kalau Jiyoung kabur dari rumah dan menghilang. Ia tau, keempat hyung nya itu pasti akan marah besar kalau mendengar tentang hal itu.

“Ya! Taeminie, cepat katakan mana Jiyoung?” desak Minho.

“Ya! Kami semua tadi mendengar kalau Jiyoung menghilang, jinjja yo?” kali ini Jonghyun angkat suara sambil memasang evil face nya.

Taemin hanya diam saja tak bergeming.

“Benar. Jiyoung menghilang, ia kabur dari rumah!” jawab Hyojin umma sambil menghampiri keempat anak lelakinya itu. “Kenapa kalian pulang?” tanya Hyojin umma tiba-tiba dengan nada sinis. “Udah insyaf ya?” sindirnya.

“I-iya…” dengan polosnya Minho menjawab iya, tapi tangan Jonghyun dan Key segera menyikut tubuh cungkring(?) Minho.

“Bukan,” bantah Jonghyun. “Kami semua pulang karena kami tau, Jiyoung ada dalam masalah, dia kabur dari rumah, jadi kami semua datang karena mengkhawatirkan Jiyoung.” Jelas Key nge-les.

“Iya, kami semua pulang karena Jiyoung.” Tibal Jonghyun.

“Sudahlah, itu tidak penting, yang penting sekarang adalah kenapa Jiyoung menghilang? Dimana dia sekarang?” ucap Jinki bersikap dewasa.

“Semua ini gara-gara aku.” ucap Karam datar sambil menghampiri semuanya. “Aku yang menyebabkan Jiyoung pergi dari rumah.” Lanjutnya lagi.

“MWO? JADI PENYEBABNYA ADALAH DIA!” ucap Key emosi sambil menujuk wajah Karam.

“SUDAH KUDUGA PENYEBABNYA ADALAH DIA!” kali ini Minho yang berteriak emosi.

“AKU AKAN MENGHAJARMU SEKARANG JUGA!” Jonghyun sudah siap dengan kuda-kudanya menghajar Karam.

“CUKUP! KALIAN SEMUA TENANGLAH!” teriak Jinki berusaha menenangkan ketiga namdongsaengnya itu. “Kalau kalian semua mau menghajar bocah tengil ini *nunjuk Karam* kalian harus mengurungkan niat kalian dulu.” lanjut Jinki bijak.

“Ta-tapi hyung…” Minho mencoba menyela kata-kata Jinki.

“Cukup, aku bilang kalian harus mengurungkan niat kalian!”

“Kenapa memangnya? Tidak biasa-biasanya hyung bersikap tenang jika terjadi sesuatu pada Jiyoung? Kau berubah hyung.” ucap Key lirih.

“Aku tidak berubah kok.” Balas Jinki. Semuanya menatap tajam kearah Jinki.

“Maksudku kalian harus mengurungkan niat kalian dulu untuk menghajarnya adalah…, KARENA AKU YANG AKAN MENGHAJARNYA LEBIH DAHULU DARIPADA KALIAN!” teriak Jinki keras dan menggelegar sambil mengambil kuda-kuda untuk menghajar Karam.

Ketiga namdongsaeng Jinki itu langsung memasang tatapan berbinar-binar tanda kagum terhadap sikap yang ditunjukan oleh hyung-nya itu.

Benar-benar contoh hyung teladan. Pikir semua namdongsaeng Jinki, kecuali…

‘Sudah kuduga… Jinki hyung tidak akan berubah semudah itu…’ Taemin menghela nafas panjang dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

“YA! KALIAN INI! DASAR PREMAN!” teriak Hyojin umma kesal. “Yeodongsaeng kalian menghilang, tapi kalian masih sempat-sempatnya menghajar orang. Lebih baik sekarang pikirkan Jiyoung dulu!” lanjut Hyojin umma menasehati anak-anaknya itu.

Semuanya diam mendengarkan nasehat umma-nya itu.

“Jadi… sebenarnya apa yang terjadi?” Jinki mulai membuka suaranya, dan kali ini ia bersikap serius.

“Begini… jadi…” Hyojin umma mencoba menjelaskan semua hal yang terjadi pada Jinki dan semuanya, tapi Karam memotong pembicaraan Hyojin umma.

“Biar aku saja yang jelaskan…” ucap Karam. Hyojin umma mengangguk.

***

Semua duduk diruang tamu, Jinki dan Minho duduk bersebelahan sedang Key ada disisi Jonghyun, Taemin duduk sendirian dan Hyojin umma ada disamping Karam.

“Jadi begitulah ceritanya…” ucap Karam mengakhiri semua ceritanya tentang kejadian yang terjadi seminggu terakhir ini selama keempat namja keluarga Kim itu minggat dari rumah.

Keempat namja keluarga Kim itu menyadari ketidaksamaan cerita Karam dengan cerita Taemin yang selama ini selalu dilaporkan pada keempat hyungdeulnya itu. Mereka semua langsung melirik tajam kearah Taemin, seakan bertanya – Apa maksudmu menceritakan hal yang sebaliknya selama ini hah?

Taemin yang sadar akan tatapan tajam keempat hyungdeul-nya itu, dia langsung menggelengkan kepalanya sambil berkata, “Aku lakukan itu semua demi yang terbaik buat Jiyoung.” ucap Taemin seakan tau maksud dari tatapan hyungdeul-nya itu.

“Masalah diantara kita, kita selesaikan nanti saja setelah Jiyoung pulang!” seru Jonghyun dengan tatapan membunuh pada Taemin. Taemin hanya bisa bergidik ngeri dan merengkuk tubuh mungilnya itu.

“Lebih baik kita mulai pencarian Jiyoung sekarang.” usul Jinki si sulung keluarga Kim.

“Aku setuju, lebih cepat lebih baik.” Balas Karam. Jinki hanya menanggapi tanggapan Karam dengan tatapan sinis, seakan mengatakan – Siapa yang bertanya pendapatmu?

“Annyeonghaseyo… Oppa aku datang…” tiba-tiba terdengar suara teriakan seorang yeoja dari luar rumah keluarga Kim. Semua orang yang sedang berkumpul didalam ruang tamu langsung berhamburan keluar rumah. Berharap suara yeoja itu adalah kepunyaan Jiyoung yeodongsaeng kesayangan mereka.

Setelah mereka semua berdiri di teras, mereka melihat seorang yeoja dengan rambut kucir kuda mengenakan T-shirt putih dengan bercak-bercak hitam dibalut dengan jaket biru dan mengenakan celana jeans hitam panjang.

“Annyeong…” sapa yeoja itu dengan manis.

Taemin dan keempat hyungdeul-nya membulatkan matanya memandang sosok yeoja yang ada didepan mereka itu.

“Sulli, untuk apa kau kesini?” tanya Karam to the point.

“Aku?” Sulli menunjuk dirinya sendiri, “Tentu saja aku datang kemari untuk menemuimu Oppa.” Balas Sulli sambil berjalan mendekati Karam dan kemudian ia bergelayut manja ditangan kanan Karam.

“Sulli? Apa dia Choi Sulli yang tadi diceritakan?” tanya Key dengan tatapan heran pada Taemin yang berdiri disebelahnya.

“Ne hyung, dia Sulli, Choi Sulli.” jawab Taemin sekenanya.

“Jadi kau yeoja pembuat onar itu?” tanya Jonghyun ketus, tiba-tiba saja ia sudah ada didepan Sulli sambil memasang killer face-nya tepat didepan wajah Sulli.

Sulli berhenti menggelayut pada Karam, kemudian ia balik menatap wajah Jonghyun dengan sinis.

“Siapa kau? Seenaknya saja bilang aku yeoja pembuat onar!” balas Sulli tak kalah ketus dari ucapan Jonghyun sebelumnya.

“Kau bertanya siapa aku?” Jonghyun semakin mendekatkan wajahnya pada Sulli, membuatnya mundur selangkah agar menjauhi wajah Jonghyun. “Aku, Kim Jonghyun, Oppadeul Jiyoung. Dan kau, yeoja pembuat onar, kau sudah membuat yeodongsaeng tersayangku itu menangis dan terluka. Aku tidak akan membiarkanmu bahagia!” lanjut Jonghyun.

“He? Oppadeul Jiyoung?” gumam Sulli bingung. “Aku pikir Oppadeul Jiyoung hanya si lemah Taemin saja. Ternyata masih ada juga namja garang sepertimu ya?” sindir Sulli.

“Mwo? Apa kau bilang tadi? Namja garang?” Jonghyun mengulangi kata-kata yang Sulli ucapkan.

“Iya, memang kenapa?” tantang Sulli. “Memang cocok kok.” Lanjutnya.

“Ya! Kau!” Jonghyun mulai naik pitam mendengar kata-kata yang Sulli lontarkan itu.

“Cukup Jonghyun, tak usah meladeninya!” seru Jinki sambil menarik tangan Jonghyun menjauh dari Sulli. “Lebih baik sekarang kita mencari Jiyoung dulu.” Lanjut Jinki.

Semua mengangguk setuju. Termasuk Jonghyun, meski ia masih sedikit kesal dengan sikap Sulli padanya.

“Tunggu, kalian semua mau kemana?” tanya Sulli yang tidak tau apapun.

“Kita mau mencari Jiyoung, pagi ini dia pergi dari rumah dan menghilang.” Jelas Karam. Sulli membulatkan matanya dan menaikan sebelah alisnya.

Yeoja manja seperti Kim Jiyoung bisa kabur dari rumah? Pikir Sulli tak percaya.

“Aku ikut!” seru Sulli dan berhasil membuat seluruh mata tertuju padanya.

***

Jiyoung melangkahkan kakinya dengan riang menuju rumah sambil mengayun-ayunkan keranjang berisi belanjaan yang ia pegang di tangan kanannya itu.

Kali ini dia sudah siap membuatkan sarapan untuk semua orang yang ada dirumahnya, terutama Karam. Ia sudah tidak sabar untuk membuatkan sarapan untuk Karam dan ia pun sudah tak sabar ingin mendengar pujian yang akan Karam lontarkan padanya nanti.

Setibanya di rumah, Jiyoung membuka pintu gerbang utama rumahnya dan berjalan masuk kedalam rumah.

Sepi. Tak ada siapapun.

Tentu saja, karena semua orang sedang pergi mencari dirinya yang dianggap sedang kabur dari rumah dan menghilang.

“Mungkin masih tidur.” Ucap Jiyoung datar, ia tak terlalu memperdulikan apa yang terjadi dalam rumahnya itu.

“Lebih baik sekarang aku buatkan sarapan saja untuk semuanya.” Lanjutnya sambil berjalan menuju dapur dengan keranjang belanjaan yang yang ia tenteng ditangan kanannya.

***

Setelah beberapa jam lamanya Jiyoung berkutat didalam dapur, akhirnya ia selesai membuatkan sarapan untuk semua orang yang ada dalam rumahnya itu.

“Ok, semua hidangan sudah siap.” Ucap Jiyoung bahagia. “Sekarang tinggal menunggu semua orang bangun dan menyantap sarapanku ini. Hihihi.” Jiyoung tertawa kecil.

Satu jam.

Dua jam.

Tiga jam.

Lima jam.

Sudah lima jam berlalu dan tak ada tanda-tanda ada orang dalam rumah Jiyoung. Jiyoung mulai merasa aneh dengan keadaan dalam rumahnya itu. Kemudian ia memeriksa setiap kamar yang ada dalam rumahnya itu. Mulai dari kamar eomma-nya yang berada dilantai bawah, lalu kamar Karam dan yang terakhir kamar Taemin yang berada dilantai dua tepat disamping kamar Jiyoung.

Dan akhirnya Jiyoung menyadari tak ada satu pun orang dalam rumahnya itu.

“KHYAAAAAAA~ KEMANA SEMUA ORANG???” teriak Jiyoung histeris.

-

~ To Be Continue ~

-

Ok, aku tau, part yang ini emang geje + nggak banget.

Ngaco abis dari part-part selanjutnya.

Jujur…, otak udah mampet abis. Nggak ada ide brillian buat lanjutin FF ini. Yah~ jadi beginilah hasilnya. *seadanya*

Kekekekekkekeke~

Tapi… biarpun gitu… TETEP, akhir kata, aku nggak akan bosen-bosen buat bilang:

LEAVE A COMMENT PLEASE!

33 thoughts on “Kim Family’s Yeoja Dongsaeng [Part-6]

  1. lanjuttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttt chingggggggggggggggggggggggggggggggggggguuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu

  2. huhuhu… shinee boys disamain sama ikan2 pindang, hiks… T_T
    hahah, itu ngapain mino ngelingkeri tiang rumah? kdinginan y? mendingan jg meluk aku! *ditampar flamers+key+ojong*
    wkwkwk… keempat namja itu kek orang goblok aja yg waktu mo ngehajar karam, pke’ ribut2 segala pula…
    yaah, napa pendek banget chap ini?? dassoorr… lgi seru2nya, eh lngsung disuguhi ‘to be continued’… GUBRAKK!!
    komenku kli ini G panjang2 bget kan un? aku kasian sama kmu yg pasti mles ngebalesnya, hahaha… hbis bru2 ini aku merasakan hal yg sama -halah-
    ayo2! lanjut! lgi seru2nya nih… btw,,
    saengil chukkae hamnida yo!! *niup trumpet di kuping weni un* moga ubannya makin nambah aja, belantara!! <- telat ngasih slamat xD

    • aigo~ pendek? perasaan aku udah nulis ampe tangan pegel n otak mampet, eh taunya masih pendek juga ya?
      hallah hallah hallah~ *geleng2kpla*

      iya vy, tumben comment-nya pendek (lah?)
      bener-bener, aku juga akhir2 ini jadi malles bales comment
      nggak mood banget *so males*

      eh vy, kamu udah mulai hiatus ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s