[freelance]Never Stop Love You

Never Stop Love You (freelance)
Author : renz
Genre : romance
Cast : seon woo, lee taemin [shinee]
Length : oneshoot
Annyeong…. Kali ini author datang dengan ff oneshoot. Sebelumnya saya minta mav ea kalau ceritanya aneh dan gak karuan..T.T
“Please Don’t Be Silent Reader”

“Seon.. Kankermu sudah masuk stadium akhir. Kamu harus segera menjalankan kemoterapi lagi seon kalau tidak….” Jungs soo ahjussi tidak melanjutkan kata-katanya, matanya menatapku dengan putus asa.
“Ne ahjussi.. tapi aku sudah lelah ahjussi dengan semua pengobatan ini. Aku hanya ingin menikmati waktu terakhirku dengan tenang.” kataku tenahg sambil tersenyum, membalas tatapan jung soo ahjussi. “Aku permisi ahjussi.” Aku segera berdiri dan berjalan keluar ruang dokter. Sempat kudengar jung soo ahjussi menghela nafas berat. Kuputuskan untuk pergi ke taman, menikmati kesendirianku.
Bukannya aku tidak mau terus hidup, tapi aku sudah benar-benar lelah dengan semua pengobatan yang sia-sia ini. Apalagi pengobatan seperti ini membutuhkan uang yang tidak sedikit. Aku tau jung soo ahjussi dan sarang ahjumma tidak keberatan mengeluarkan uang demi kesembuhanku, tapi aku tidak mau membebani mereka terus.
Sejak appa dan omma meninggal 2 tahun yang lalu, aku tinggal dengan jung soo ahjussi dan sarang ahjumma. Semuanya terasa berat untukku sejak kematian appa dan omma. Aku mengurung diri di kamar seharian, menangis hingga mataku sembab, dan jarang makan. Tapi mereka sangat baik dan perhatian padaku bahkan menganggapku seperti anak mereka sendiri. Aku mulai membuka hatiku dan menikmati kasih sayang mereka. Aku merasa seperti memiliki lagi keluarga yang utuh meskipun dengan sosok appa dan omma yang berbeda.
Awalnya semua terasa mulai membaik. Hidupku mulai kembali normal. Aku kembali kuliah, menikmati hidupku dengan teman-teman, dan menikmati limpahan kasih sayang dari ahjussi serta ahjumma. Tapi semuanya berubah sejak malam 1 tahun yang lalu.
Malam itu aku sedang di meja makan bersama jung soo ahjussi dan sarang ahjumma ketika tiba-tiba kepalaku mengalami sakit yang luar biasa. Aku kejang-kejang dan pingsan seketika. Ahjussi yang seorang dokter segera membawaku ke rumah sakit dan melakukan scan. Malam itulah aku divonis menderita kanker otak stadium 2.
Pertama kali menerima berita itu, aku stress berat. Aku berubah menjadi pemurung. Aku menolak kuliah bahkan bertemu teman-temanku. Aku tidak bisa menerima kenyataan bahwa aku akan meninggal. Aku takut.
Ahjussi dan ahjumma berusaha keras membujukku agar aku mengikuti kemoterapi. Melihat mereka yang begitu menginginkan kesembuhanku, aku merasa semakin memiliki harapan. Aku mengikuti kemoterapi hampir setengah tahun, tapi tidak ada hasilnya sama sekali. Aku mulai menyerah dengan keadaanku dan menolak kemoterapi lebih lanjut. Dan baru saja ahjussi mengatakan bahwa kankerku sudah masuk stadium akhir. Itu berarti waktuku tinggal sedikit lagi. Aku sudah pasrah. Aku hanya ingin menikmati waktu terakhirku dengan tenang.
BUKK…
Sebuah bola mengenai tepat di wajahku, menyadarkanku dari lamunan. Aku langsung jatuh terduduk sambil meringis kesakitan memegangi wajahku. Sakit sekali.
“Jeongmal mianhae… Gwenchana?? Aku benar-benar tidak sengaja noona.” Aku mendongak dan mendepati sesosok namja berdiri di hadapanku dengan wajah khawatir. “Ne.. gwenchana??” kataku menenangkan dan berdiri. Sepertinya aku berdiri terlalu cepat karena badanku hampir jatuh lagi jika namja itu tidak menangkapku. Dia memapahku ke kursi terdekat.
“Gwenchana?? Wajahmu pucat sekali noona.” tanyanya dengan khawatir, matanya menatapku lekat. Aku menggeleng pelan, mencoba menghilangkan pusing yang tiba-tiba menderaku. Kuambil bola yang ada di dekat kakiku dan menyerahkan padanya. “Ini bolamu kan?? Lebih baik kamu kembali. Sepertinya teman-temanmu sudah menunggu.” kataku sambil tersenyum, menunjuk sekumpulan namja yang tampak memanggil namja itu dari lapangan seberang.
Dia mengerjapkan mata dan menoleh ke lapangan. “Ah ne.. tapi apa noona baik-baik saja??” Dia menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahku dengan khawatir. “Tidak apa-apa. Cepat. Nanti teman-temanmu menunggu.”
Dia menatapku ragu, akhirnya berlari pergi menuju lapangan seberang. Aku hanya memandang kepergiannya dengan diam. Merasa iri dengan namja yang tidak kukenal itu. Betapa beruntungnya dia bisa menikmati hidupnya tanpa penyakit apapun. Seandainya aku juga bisa seperti itu. Kembali ke masa di mana aku bisa menikmati hidupku tanpa penyakit ini.
Aku memukul pipiku perlahan. Aishh!! Apa yang kamu pikirkan seon?? Sadarlah!! Bukankah kamu sudah berjanji untuk menerima takdirmu sendiri. Jangan lemah!! Tegarlah!!
Tuhan, aku sudah berjanji untuk menerima takdirku. Jangan biarkan aku melemah dan terpuruk. Berikanlah aku kekuatan untuk menerima semua kenyataan ini. Bantulah aku untuk menjalani sisa waktuku ini dengan tenang.
Aku tidak tau berapa lama aku duduk di luar, tapi sepertinya sudah cukup lama karena rasanya udara mulai dingin. Aku berdiri dan berjalan pergi ketika tiba-tiba rasa pusing menyerangku. Aku terhuyung dan hampir jatuh ke tanah jika seseorang tidak menangkapku cepat. Aku tidak tau siapa dia karena pandanganku mengabur dan tidak sadarkan diri.
——————-
Aku membuka mata perlahan, berusaha bangun. “Uhh…” Kepalaku pusing sekali. Dimana ini??
Kulihat seorang namja duduk di sebelahku, kepalanya tertunduk di kasur. Siapa dia??
“Emm..” Namja itu mengucek matanya dan mendongak. “Noona sudah bangun?? Gwenchana??” tanyanya dengan khawatir melihatku yang tampak kesakitan. Bukankah itu namja yang tadi??
“Ini dimana??” Aku menyenderkan tubuhku, menatap sekelilingku. Aku ada di sebuah kamar yang tidak kukenal. Kamar ini tidak begitu besar tapi sangat rapi dan nyaman.
“Noona tiba-tiba pingsan, jadi kubawa ke apartemenku. Aku tidak tau alamat noona. Apa noona baik-baik saja??” Namja itu menatapku khawatir. “Aku tidak apa-apa. Mian sudah merepotkan.” kataku dengan penuh terimakasih. Aku bangun dari tidur dan berjalan pergi.
“Noona mau kemana?? Ini sudah malam sekali.” Namja itu memegang tanganku, mencegahku pergi. Aku mengerjapkan mata, menatap jam yang ada di meja. Pukul 10 malam. MWOO!!! Gawat ahjussi dan ahjumma pasti sangat khawatir. Aku tidak membawa handphone. Ottokhae??
“Lebih baik malam ini noona menginap saja. Ini..” tawar namja itu sambil menyerahkan handphone padaku. “Noona pakai handphoneku saja untuk menelepon orang rumah. Besok akan kuantar pulang. Bagaimana??”
Aku menatapnya ragu, akhirnya mengangguk. Sepertinya aku benar-benar gila karena menerima tawaran namja itu. Aku bahkan tidak mengenalnya, tapi sepertinya dia orang yang baik. Kuambil handphone itu dan menelepon ahjussi.
“Seon!!! Kamu dimana???” kata ahjussi dengan khawatir bahkan sebelum aku mengatakan apapun.
“Hari ini aku tidak pulang ahjussi. Aku menginap di rumah teman. Jangan khawatir.”
“Teman??” Kudengar nada ragu di sana. Aku tau ahjussi pasti ragu karena sudah lama aku tidak mempunyai teman. Aku tidak ingin terlalu dekat dengan seseorang karena suatu saat pasti aku akan kehilangan mereka. Bukankah waktuku tinggal sebentar lagi.
“Ne ahjussi.. tenang saja. Besok aku akan pulang. Sudah ya ahjussi.” Kututup handphone itu sebelum ahjussi bertanya lebih lanjut. “Kamsahamnida.” kataku sambil tersenyum, mengembalikan handphonenya. Sekarang apa yang harus kulakukan??
Aku menatap sekeliling ruangan. Di salah satu sudut ada rak yang berisi berbagai macam cd. Kudekati rak itu. “Kamu suka dance??” tanyaku, menatap salah satu cd yang betuliskan street dance. Kutatap seluruh cd yang ada di rak itu. Rata-rata bercover maupun bertuliskan sesuatu yang berhubungan dengan dance.
Namja itu mendekat, matanya menataku berbinar. “Ne.. aku suka sekali dance. Aku ingin suatu saat bisa memperlihatkan tarianku pada seluruh dunia.”
Aku membalas tatapannya dan tersenyum tulus. “Aku yakin suatu saat kamu bisa. Aku belum tau namamu. Seon woo imnida.” Aku mengulurkan tangan ke arahnya.
“Taemin imnida.” Dia menjabat tanganku dengan bersemangat.
“Boleh aku melihatmu menari. Anggap saja aku penonton pertamamu.”
“Tentu saja. Aku akan memperlihatkan tarian terbaikku. Aku yakin noona pasti terpesona.” katanya bersemangat.
Dia pun mulai menari.
———————-
Hari itu adalah hari pertamaku mengenalnya. Taemin anak yang menyenangkan. Meskipun dia lebih muda dariku 3 tahun, tapi dia memiliki pemikiran yang dewasa. Dia selalu positive dalam menjalankan hidup, tidak pernah sekalipun putus asa. Dia mengajarkan banyak hal padaku. Dia membuatku merasa utuh, seakan tidak ada yang salah denganku. Didekatnya membuatku merasa hidup.
Sudah 3 bulan sejak perkenalanku dengannya. Sekarang kami menjadi sahabat. Dia adalah sahabat pertamaku. Kami banyak membagi cerita tentang apapun, kecuali tentang penyakitku. Aku tidak ingin dia menjauhiku. Apa dia mau berteman denganku jika tau tentang penyakitku??
“Seonn…” Seseorang menepuk pundakku pelan, membuyarkan lamunanku. “Kamu melamun lagi ya. Kamu hobi sekali sih melamun.” Taemin mengambil tempat duduk di hadapanku. Aku melarangnya memanggilku noona karena kupikir perbedaan umur kami tidak terlalu jauh. Lagipula lebih nyaman seperti ini.
“Aku melamun karena terlalu lama menunggumu tau. Apa kamu tidak sadar kalau kamu sudah telat hampir setengah jam??” kataku pura-pura kesal, menjitaknya dengan sendok. Dia tersenyum penuh rahasia. “Aku punya sesuatu untukmu.”
Taemin mengambil sesuatu dari kantongnya dan menyerahkan padaku. “Tiket seoul dance.” Aku mendongak, menatapnya tidak percaya. “Kamu berhasil lolos audisi!!! Chukkae!!!” teriakku keras sambil memeluknya.
Dia tertawa pelan, membalas pelukanku. “Ini berkatmu seon. Seandainya kamu tidak terus menyemangatiku, aku pasti sudah menyerah. Apa kamu tau, aku menjadi penari utama.”
Aku melepas pelukanku, menatapnya senang. “Berkatku?? Ini berkat usahamu sendiri. Aku kan hanya sebagai penontonmu.” candaku.
“Kamu akan datang kan??” tanyanya, menatapku lekat.
Aku mengangguk mantap. “Tentu saja aku akan datang. Rugi sekali kalau aku sampai tidak datang menonton sahabatku tampil.”
“Baguslah. Kalau begitu sebagai permohonan maaf karena sudah telat, aku akan mentraktirmu.”
“Wah~itu yang kutunggu dari tadi.” Kuambil buku menu dan mulai memilih makanan.
——————–
Aku menatap bayanganku di cermin, memastikan penampilanku sekali lagi. Malam ini adalah penampilan perdan taemin. Aku ingin tampil istimewa. “Wah~cantiknya..” Aku menoleh dan mendapati sarang ahjumma berdiri di depan pintu, menatapku penuh sayang.
“Tapi masih kalah dengan ahjumma.” candaku sambil tertawa. Ahjumma mendekat dan memelukku erat. “Ahjumma senang akhirnya melihatmu bisa tertawa seperti ini. Rasanya sudah lama sekali.”
Aku membalas pelukan ahjumma. “Sekarang aku akan terus tertawa ahjumma. Tenang saja.” kataku sambil tersenyum. “Sekarang aku akan pergi.” Kulepaskan pelukan dan berjalan menuju pintu, tapi tiba-tiba badanku limbung. Kepalaku pusing.
“Seon… Gwenchana??” tanya ahjumma dengan khawatir. Aku menegakkan badanku, berusaha menghilangkan rasa pusingku. “Ne..gwenchana ahjumma. Sepertinya aku butuh ke kamar mandi.” Dengan cepat aku berjalan ke kamar mandi. Kurasakan sesuatu yang hangat mengalir dihidungku.
Jangan sekarang. Kumohon jangan sekarang. Aku ingin melihatnya tampil di tempat yang paling diinginkannya. Aku ingin menyemangatinya. Kumohon beri aku kekuatan.
Kuseka darah yang mengalir dihidungku dan meminum obatku. Bertahanlah seon!!
Pusingku sudah berkurang dan darah sudah tidak mengalir lagi. Kuambil nafas dalam dan berjalan keluar kamar mandi. Ahjumma berdiri di depan pintu kamar mandi, menatapku khawatir. “Aku baik-baik saja ahjumma. Lebih baik aku pergi sekarang, sudah hampir telat.” kataku sepat sebelum ahjumma berkata apapun. Kucium pipi ahjumma sekilas dan pergi menuju stadion seoul.
Tempat itu sudah ramai. Rata-rata para gadis yang datang. Aku menyerahkan tiket dan duduk di tempat yang sudah disediakan. Ternyata dia memberikanku tiket VIP, tempat duduk paling strategis.
Musik dimulai dan para dancer keluar. Taemin tampak mempesona di atas panggung. Dia tampak bersinar ketika menari. Semua orang berteriak memanggil namanya, begitu juga aku. Taemin, impianmu hampir menjadi kenyataan. Sebentar lagi kamu pasti bisa memperlihatkan tarianmu pada dunia.
Acara sudah selesai, tapi aku tidak beranjak dari kursi. Mataku masih menatap panggung yang kosong. Aku ingin melihatnya menari sekali lagi. “Ternyata benar kamu masih disini.” Aku menoleh dan mendapati taemin berdiri di belakangku. “Melamun lagi ya. Aku yakin pasti kamu masih di sini. Bagaimana penampilanku??” tanyanya dengan bersemangat, matanya menatapku penasaran.
“Hmm..gimana ya??” Aku memutar bola mata, pura-pura berpikir. Dia mengerucutkan bibir cemberut, membuatku tertawa. “Kerennn… Kamu terlihat luar biasa.” kataku sambil tersenyum.
Dia tertawa lega. “Syukurlah kamu bilang begitu. Bagiku lebih penting pendapatmu dibanding orang lain. Lain kali akan kupastikan kamu bahkan tidak bisa-berkata-kata karena penampilanku. Lihat saja.”
Lain kali?? Apa akan ada lain kali?? Apa masih ada waktu untukku??
Tanpa sadar aku menangis. Aku menyadarinya. Tidak akan ada lain kali, yang ada adalah apakah ini akan menjadi yang terakhir. Aku bahkan tidak tau kapan kesempatan terakhirku untuk bertemu dengannya.
“Waeyo?? Apa aku melakukan hal yang salah?? Jangan menangis. Kumohon.” Bisiknya lembut sambil menyeka air mataku, membuatku semakin sedih. Jangan seperti ini taemin. Jangan terlalu lembut padaku. Jangan membuatku tidak rela meninggalkan dunia ini. Jangan membuatku lemah. Jangan membuat perasaan ini semakin menyiksaku.
Dia mencium bibirku lembut, membuat tangisku berhenti. Aku hanya diam, merasa kaget dengan ciuman itu.
Taemin melepaskan ciumannya, menatapku lembut. “Saranghae seon. Aku selalu ingin mengatakannya, tapi aku takut. Aku takut kamu menolakku. Aku tau kamu hanya menganggapku sebagai dongsaengmu, tapi aku tidak tahan lagi. Aku merasa kamu begitu jauh. Aku takut suatu saat kamu akan menghilang dari hadapanku. Maukah kamu menjadi yeojachinguku??” katanya lembut, menggenggam tanganku.
Aku mengerjapkan mata, tidak percaya dengan pendengaranku. Apa yang dia bilang?? Dia mencintaiku?? Aku tidak bisa. Aku tidak bisa menerimanya. Aku tidak pantas menerima cintanya. Tapi… aku juga sangat mencintainya. Tanpa berpikir, aku pun mengangguk.
“Gomawo seon.” Dipeluknya tubuhku erat, senyum bahagia muncul di bibirnya.
Tuhan, aku sudah jatuh cinta pada makhluk ciptaanMu yang paling sempurna ini. Makhluk tampan yang telah membuatku merasa memiliki harapan. Tapi bolehkan ini?? Bolehkah aku mencintainya?? Pantaskah aku memilikinya??
———————–
Setelah penampilan perdananya di seoul dance, taemin mendapat banyak tawaran tampil di berbagai acara bahkan dia bergabung dengan salah satu boyband yang bernama Shinee. Dia menjadi lead dance di shinee. Tapi meskipun dia sangat sibuk, dia selalu meluangkan waktunya untukku. Dia selalu membuatku merasa bahwa aku adalah yang paling berarti untunya. Itu membuatku sangat bahagia.
Hari ini adalah genap 4 bulan kami berpacaran. Kami berjanji untuk bertemu di kafe tempat kami biasa bertemu. Dia ingin memberikan kado spesial untukku.
“Anda yang bernama seon??” Aku mendongak dan mendapati seorang ahjussi yang tidak kukenal berdiri di hadapanku. Aku menatapnya bingung. Siapa ahjussi ini??
“Kenalkan nama saya kim joon. Saya adalah manager shinee.” Ahjussi itu mengulurkan tangannya.
Aku menjabat tangannya. “Ah ne.. saya seon. Ada apa memangnya?? Apa taemin baik-baik saja??” tanyaku panik. Apa terjadi sesuatu dengannya??
“Taemin tidak apa-apa. Anda tenang saja.” kata ahjussi itu, tersenyum menenangkan. “Saya ingin meminta bantuan dari anda.”
“Bantuan??”
“Saya tau mungkin ini terdengar kasar. Tapi saya mohon berpisahlah dengan taemin. Saat ini dia sedang menanjak dan banyak tawaran yang datang untuknya. Jika saat ini dia diketahui punya pacar pasti ketenarannya akan turun, apalagi jika pers tau bahwa pacar taemin mengidap kanker stadium akhir.”
Aku membeku. Darimana dia tau?? “Apa taemin…”
“Tenang saja agasshi, taemin tidak tau sama sekali tentang penyakit anda. Saya minta tolong pikirkan permintaan saya. Saat ini anda yang paling tau betapa berusahanya taemin meraih mimpinya dan saya yakin anda tidak ingin menghancurkannya. Pilihan ada di tangan anda agasshi. Saya permisi.” Ahjussi itu berdiri dan segera pergi dari hadapanku.
Aku hanya diam, menatap kosong pemandangan di hadapanku. Apa yang harus kulakukan?? Impian taemin adalah impianku juga. Aku tidak bisa merusaknya. Aku sangat mencintainya, tapi cintaku ini tidak lebih berarti dari impiannya. Impian itu adalah seluruh hidupnya.
Aku berdiri dan berjalan kembali ke rumah. Perasaanku begitu kosong dan hampa, tapi aku tau ini adalah yang terbaik. Aku harus melepaskannya.
Hal yang terakhir kuingat adalah kepalaku sangat pusing seakan mau pecah. Pandanganku mengabur dan aku tidak ingat apapun lagi.
——————
Aku membuka mata sedikit. Tampak jung soo ahjussi sedang berbicara dengan dokter sungmin, dokter yang dulu merawatku.
“Bagaimana keadaan seon??”
“Dia sangat lemah hyung. Jika tidak segera melakukan kemoterapi, hidupnya tidak akan lama lagi.”
“Aku tau..tapi dia selalu menolak. Aku tidak tahan melihatnya menderita seperti itu sungmin. Seon sudah seperti itu anakku sendiri. Aku tidak ingin kehilangannya.” kata ahjussi putus asa. Air mata mengalir, membasahi pipinya.
Aku ingin bangun dan memeluk ahjussi, tapi badanku begitu lemah. Aku tidak bisa bergerak.
Tuhan, bolehkah jika aku egois?? Aku tidak ingin mati. Aku ingin hidup. Aku ingin hidup normal bersama ahjussi dan ahjumma. Aku ingin melihat taemin menggapai impiannya. Aku tau ini egois, tapi aku tidak ingin kehilangan semua ini. Apakah masih ada harapan untukku Tuhan??
“Ahjussi..” bisikku lirih. Ahjussi menoleh dan mendekat ke arahku senang. “Syukurlah kamu sudah sadar. Ada apa seon??”
“Aku ingin mengikuti kemoterapi ahjussi.”
Ahjussi menatapku tidak percaya. Matanya berkaca-kaca dan memelukku erat. “Kamu pasti sembuh seon..pasti sembuh.. ” katanya pelan berulang-ulang.
——————-
Hari ini memasuki bulan ke 3 aku menjalani kemoterapi. Aku tidak pernah bertemu lagi dengan taemin. Aku mengganti no handphoneku dan melarang ahjumma mengatakan apapun padanya. Aku rindu. Aku sangat merindukannya. Aku ingin melihatnya, memeluknya, dan mengatakan bahwa aku sangat mencintainya. Kata yang belum pernah kuucapkan untuknya hingga saat ini. Tapi aku tau, aku tidak bisa melakukannya. Apa dia mau bertemu denganku jika melihatku yang sekarang?? Sejak menjalani kemoterapi, rambutku mulai rontok dan badanku mulai mengurus. Aku tidak ingin dia melihatku seperti ini. Dia pasti akan sangat jijik. Aku tidak ingin memperlihatkan diriku yang seperti ini padanya.
Ahjussi dan ahjumma selalu berusaha menghiburku. Mereka datang setiap hari ke rumah sakit dan menemaniku mengobrol, berusaha membuatku yakin bahwa aku akan sembuh. Tapi aku tau itu semua bohong. Aku sudah terlalu terlambat menjalankan kemoterapi dan saat ini yang terus membuatku hidup hanya kemoterapi ini.
“Ini dia lead dance shinee yang telah berhasil go internasional. Lee Taemin.” Aku menatap sosok taemin yang ada di tv. Dia tampak lebih dewasa dibanding terakhir kali aku melihatnya. Dia terlihat sangat tampan.
“Taemin. Bagaimana perasaan anda saat ini, akhirnya anda berhasil tampil di amerika??”
“Tentu saja aku sangat bahagia. Mimpiku untuk memperlihatkan tarianku ke seluruh dunia sudah hampir tercapai.” Taemin tampak tertawa bahagia. Akhirnya mimpimu hampir tercapai taemin. Aku ikut bahagia.
“Ah~kabarnya anda sedang dekat dengan salah satu personel girlband. Benarkah itu??”
“Itu hanya gosip. Saat ini aku sudah mempunyai seseorang yang sangat berarti untukku.” kata taemin mantap sambil menunjukkan cincin liontin yang ada di lehernya. Kalung itu??
“Apakah gadis itu bukan dari kalangan artis?? Kenapa tidak pernah dipublikasikan??”
“Saat ini aku sedang menunggunya untuk kembali.” kata taemin tegas. Taemin mendongak dan menatap layar tv dengan mantap. “Percayalah padaku, aku akan selalu menunggumu. Aku masih memegang janjiku.” Dia tersenyum dan segera berjalan pergi, meninggalkan para wartawan yang tampak penasaran.
Aku hanya diam, menutup mulutku dengan tangan. Tangisku pecah seketika. Dia masih menyimpannya. Dia masih menyimpan kalung itu sekaligus janji kami.
“Ini..”Taemin menyerahkan sebuah kalung padaku.
Aku menatapnya bingung “Apa ini??”
“Ini cincin liontin untukmu. Di cincin itu ada namaku. Sedangkan milikku ada tulisan namamu.” Taemin memasangkan kalung itu ke leherku ketika dilihatnya aku hanya diam. “Suatu saat nanti, jika aku berhasil go internasional akan kutunjukkan kalung ini ke seluruh dunia supaya mereka tau bahwa kamu adalah gadisku.”
Aku mendongak, menatapnya tidak percaya. “Jangan seperti itu taemin. Kalau para penggemarmu tau bagaimana??”
“Aku tidak peduli. Selama ini kamu hanya diam jika melihatku digosipkan dengan salah satu personel girlband, tapi kali ini jujurlah padaku. Apa kamu suka jika melihatku digosipkan dengan mereka??”
Aku memalingkan wajah. Dia menghela nafas, memutar wajahku menghadapnya. “Aku tidak akan lagi membuatmu gelisah. Kali ini peganglah janjiku. Aku akan selalu mencintaimu sampai kapanpun dan jika saatnya tiba akan kuberitahukan pada seluruh dunia bahwa kamu adalah gadisku.”Taemin memeluk tubuhku erat.
Aku ingin bertemu dengannya sekali lagi. Melihatnya secara langsung. Aku ingin bertemu denganmu taemin.
——————–
“Saat ini cafe tempat shinee mengadakan jumpa fans sudah penuh sesak dengan para shawol.” Aku menatap layar tv dengan serius. Hari ini shinee mengadakan jumpa fans di dekat rumah sakit tempatku dirawat. Tempatnya tidak begitu jauh, hanya 5 menit untuk berjalan sampai tempat itu.
Aku ingin pergi ke tempat itu. Aku ingin bertemu taemin. Aku ingin melihat wajahnya secara langsung. Aku sangat merindukannya. Tapi… hari ini jadwalku untuk menjalani kemoterapi. Sekali saja aku tidak mengikuti kemoterapi maka keadaanku akan sangat memburuk. Ottokhae??
Akhirnya kuputuskan untuk kabur dari rumah sakit. Aku tidak peduli apa yang akan terjadi padaku nantinya. Saat ini aku hanya ingin bertemu dengannya. Mungkin inilah kesempatan terakhirku. Aku tidak ingin kehilangan kesempatan ini.
Kuambil salah satu jaket milik ahjussi dan mengenakannya. Kututupi rambutku dengan sebuah topi dan kacamata yang entah milik siapa. Dengan perlahan aku membuka pintu kamarku dan berjalan keluar, memastikan tidak ada yang mengenaliku.
Setelah berhasil keluar dari rumah sakit, aku segera berlari menuju tempat itu. Cafe itu penuh dengan para gadis yang tampak memakai berbagai aksesoris bertuliskan shinee. Mereka tampak cantik dengan pakaian yang mereka kenakan, berbeda sekali denganku. Berada di antara mereka membuatku menyadari siapa diriku sebenarnya. Mana mungkin seorang gadis biasa yang menderita kanker bisa serasi berdampingan dengan seorang lee taemin.
Aku ikut mengantri untuk meminta tandatangan. Aku melirik ke arah taemin. Dia duduk di paling pojok karena dia yang paling muda diantara member lain. Wajahnya tampak bahagia ketika memberi tandatangan pada cd shinee dan bersalaman pada para shawol. Aku lega dia terlihat baik-baik saja. Dia kelihatan sangat menikmati pekerjaannya.
Akhirnya giliranku meminta tandatangan taemin. Ini pertamakalinya aku melihatnya sejak 3 bulan yang lalu. Dia terlihat lebih dewasa dan tampan. Seulas senyum tidak lepas dari bibirnya. “Harus kutulis untuk siapa??” tanyanya lembut, membuatku tersadar dari lamunanku.
“Ah~tulis untuk SeMin saja…” jawabku lirih, menahan keinginan untuk menangis. Nama itu adalah gabungan namaku dengan taemin. Seon dan taemin. Apa dia masih ingat??
Taemin mengerjapkan matanya, tangannya berhenti menulis. “Apa itu namamu??”
Aku menunduk, menyembunyikan wajahku. “Ani.. Itu nama sahabatku. Apa ada sesuatu dengan nama itu??”
“Ani…” gumamnya pelan sambil menandatangani cd shinee dihadapannya. Ternyata dia memang tidak ingat. Sebenarnya apa yang kuharapkan?? “Gomawo sudah datang ke sini.” Dia mengulurkan tangannya ke arahku sambil tersenyum. Aku menatapnya ragu, akhirnya menjabat tangannya. Ini adalah kesempatan terakhirku bertemu dengannya.
Cringg…
Rantai kalungku putus tiba-tiba dan jatuh ke lantai. Taemin menoleh ke lantai, matanya menatap kalung yang ada di lantai dengan kaget. Dengan cepat kuambil kalung itu dan berjalan pergi sebelum dia menyadarinya.
“Seon!!!” teriaknya keras, membuatku menghentikan langkahku. Dia memanggil namaku. Dia memanggilku. Rasanya sudah lama sejak terakhir kali mendengarnya memanggil namaku. Aku ingin berbalik dan memeluknya ketika sebuah pikiran menghantamku. Potongan percakapanku dengan manager shinee.
Saat ini dia sedang menanjak dan banyak tawaran yang datang untuknya. Jika saat ini dia diketahui punya pacar pasti ketenarannya akan turun, apalagi jika pers tau bahwa pacar taemin mengidap kanker stadium akhir.
Aku harus pergi. Aku tidak boleh bertemu dengannya. Aku akan menghancurkan mimpinya. Mimpi yang menjadi seluruh hidupnya.
Kuambil nafas dalam dan berlari pergi meninggalkan tempat itu. Tidak lagi menoleh ke belakang. Aku tidak tau seberapa cepat aku berlari. Aku hanya tau bahwa aku sudah ada di rumah sakit ketika kurasakan cairan hangat keluar dari hidungku dan pandanganku mengabur. Kemudian semuanya terasa gelap.
———————
Tuhan, kenapa rasanya begitu menyakitkan?? Kenapa rasanya tidak rela harus berpisah dengannya?? Kenapa sekarang aku tidak ingin menerima takdirku?? Aku ingin hidup. Aku tidak ingin mati. Aku ingin bersama dengannya selama sisa hidupku. Aku sangat mencintainya. Aku tidak ingin berpisah dengannya.
“Seonn..” bisik seseorang pelan di telingaku.
“Bangunlah.. jangan tinggalkan aku seperti ini.” kata seseorang lagi di telingaku. Suaranya bercampur dengan isak tangis. “Kumohon bangunlah…”
Suara itu… Aku tau siapa itu.. Aku ingin melihatnya. Kumohon biarkan aku melihatnya untuk terakhir kali. Kumohon biarkan aku mengatakan bahwa aku sangat mencintainya. Kumohon berikan aku waktu sedikit lagi.
Kubuka mataku perlahan dengan susah payah. Dia berdiri di sampingku, menatapku dengan kesedihan yang mendalam. Air mata mengalir di pipinya. Kuulurkan tangan ke arahnya, menghapus air mata di pipinya. “Jangan menangis..” bisikku lirih.
Taemin menggenggam tanganku erat, menatapku lekat. “Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu menderita kanker?? Kenapa kamu diam saja??”
“Aku takut. Aku takut kamu meninggalkanku jika aku memberitahumu tentang penyakitku. Aku takut kehilanganmu.” bisikku. Air mata membasahi pipiku.
“Apa kamu tidak percaya padaku?? Aku sangat mencintaimu. Bahkan meskipun kamu menderita kanker sekalipun. Aku akan selalu mencintaimu. Lalu kenapa kamu pergi tiba-tiba?? Apa kamu tau betapa aku menderita hanya karena memikirkanmu?? Aku hampir gila karena mencarimu.”
Aku mengigit bibir, mencoba menahan rasa sakit yang semakin menghantamku. Jangan sekarang. Beri aku kesempatan mengatakan kepadanya. Beri aku kesempatan menjelaskan semuanya.
“Aku menyadarinya taemin, aku tidak pantas untukmu. Aku hanyalah seorang gadis yang hidupnya tidak lama lagi. Kamu berhak mendapatkan yang terbaik. Aku tidak ingin menghancurkan mimpimu. Aku akan mati taemin.” kataku tercekat.
Dia menggelengkan kepalanya marah. “Jangan bilang seperti itu. Aku tidak membutuhkan apapun selain kamu. Kamu adalah segalanya dalam hidupku. Kamu akan sembuh….”
Aku batuk hebat dan kepalaku terasa sangat sakit, seakan akan pecah. Kurasakan darah di mulutku. “Seonn…jung soo ahjussi!!! Seonn..” teriak taemin panik.
Kegaduhan terjadi di sekelilingku, membuat rasa pusingku semakin menggila. Kulihat taemin tampak menangis dan mentapku dengan sedih. Aku harus mengatakannya. Hanya sekaranglah kesempatanku. “Taemin..” bisikku lirih. Dia mendekat ke arahku dengan lunglai. Matanya menatapku sedih.
“Saranghae taemin. Aku sangat mencintaimu. Jangan menangis lagi.” bisikku pelan, menghapus air mata di pipinya.
Tuhan, terimakasih atas kesempatan yang Engkau berikan padaku untuk mengenalnya?? Terimakasih telah memberikan cinta di akhir hidupku. Terimakasih atas hidup yang Engkau berikan kepadaku hingga saat ini.
Tuhan, dialah cinta pertama dan terakhirku. Berikanlah dia kebahagiaan di setiap perjalanannya. Buatlah dia selalu tersenyum. Kumohon jagalah dia Tuhan karena cintaku untuknya tidak pernah berhenti sampai kapanpun.
Pandanganku mengabur dan semuanya menghilang.
—-FIN—-
Hwaa~mian kalau aneh ea.. T.T
Mungkin ceritanya emang udah banyak yang buat tapi tetep jangan lupa comment nya ea.. hehehe xp

Advertisements

12 responses to “[freelance]Never Stop Love You

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s