[freelance]Unexpected Love part 2

Title : Unexpected Love part 2
Author : Park Jae Ra
Genre : Romance, Comedy
Rating : All Ages
Cast : Park Jae Ra, Kim Jonghyun

Author’s POV
Seorang lelaki paruh baya turun dari sebuah mobil mewah. Dia terlihat elegant dengan balutan jas hitam. Wajahnya terlihat kalau dia orang yang keras. Sepertinya dia akan menemui orang nomer satu di Seoul International School.
“Bisakah kau mengantarkanku ke ruang kepala sekolah?” ucapnya kepada seorang Adjusshi tua yang sedang menyapu halaman.
Adjusshi itu mengangguk dan mulai berjalan didepan lelaki paruh baya itu. Sesampainya didepan ruang Kepala Sekolah, Adjusshi itu mengetuk pintu
“Masuk saja, tidak dikunci” ucap seorang pria dari dalam ruangan, ya itu kepala Sekolah Seoul Int Art School
Adjusshi itu mempersilakan lelaki yang dibawanya masuk ke ruangan tuan Shim.
“Terima Kasih” ucap lelaki itu.
Adjusshi tersebut pergi dari ruangan kepala sekolah dan pergi melanjutkan pekerjaannya.
Tuan Shim menyambut tamunya Tuan Kim, kepala sekolah dari Kimberly Art School dengan ramah. “Annyeong Tuan Kim, apa kabarmu? Bagaimana perkembangan Kim’s school?” ucap Tuan Shim dengan senyuman.
“Sudahlah tidak usah bersikap manis, aku datang kesini hanya untuk memberikan ini.” Ucap Tuan Kim dingin sambil memberikan Tuan Shim dokumen coklat yang berisikan surat-surat.
Tuan Shim membuka dokumen itu dan membaca surat-surat itu satu persatu. Dia terbelalak kaget melihat isi-isi surat itu. “Surat penggusuran? Rincian hutang? Apa yang sebenarnya terjadi. Aku tak mengerti”
“Jangan berpura-pura tak tahu Tuan Shim. Cepat bayar semua hutang sekolahmu padaku atau aku akan menggusur sekolah ini! Buat apa aku membiayai sekolah orang yang selalu menjadi nomer satu? tapi sekolahku sendiri menjadi selalu menjadi nomer dua, dibawahmu!” bentak Tuan Kim, sedikit berteriak.
“Aku tak mengerti, sungguh tak mengerti” Tuan Shim menggeleng-gelengkan kepala pasrah.
“Aku lelah dengan sikap kalian yang selalu memberikan janji-janji palsu. Maaf Tuan Shim aku harus mengambil jalan ini” ucap Tuan Kim sembari meninggalkan ruangan Kepala Sekolah.
Didepan ruang kepala Sekolah, Tuan Kim menemukan Adjusshi Tua kaget melihatnya keluar dari ruangan itu dan Adjusshi itu menyapa Tuan Kim dengan gugup “A-a-a-annyeong Tuan”
Tuan Kim membuang mukanya dan langsung bergegas pergi meninggalkan Seoul Int Art School. Dan siapa sangka jika Adjusshi tua tadi mendengarkan pembicaraan Tuan Kim dan atasannya itu?

Ruang Musik

Jonghyun’s POV
Setelah bel pulang sekolah berbunyi, aku langsung bergegas ke Ruang Musik. Disekitar ruang musik terlihat sangat sepi sekali, mungkin murid-murid disekolahku tidak tahu jika ada ruang musik lain disekolah ini.
Aku tidak melihat Jae Ra, kemana dia? Apakah dia kabur? Tapi sepertinya tidak mungkin, karena dia yang membuat janji.
Aku memainkan River Flows on You di grandpiano classic ini. Walaupun sudah terlihat tua, suara dentingannya masih terdengar indah. Lalu aku memainkan Last Gift, dan didentingan terakhir ada seseorang yang duduk disebelah kananku, ya! akhirnya Jae Ra datang juga.
Aku sedikit bergeser kekiri dan aku menatap kesebelah kananku. Mata kami bertemu, dan untuk kali ini aku melihat Jae Ra dengan uraian rambut hitam bergelombang membingkai wajahnya. Aku terdiam.
“Jonghyun-ssi, lagi-lagi kau melihatku seperti itu, Ada apa denganmu?” ucapnya lantang dan membuat ku kaget.
“Aniyo, darimana saja kau? Aku sudah lama menunggumu” ucapku tak kalah lantang dan menyembunyikan rasa maluku dengan memainkan beberapa lagu-lagu pendek dipianoku. Dia terdiam dan terlihat menikmati nada yang sedang kumainkan.
“Jonghyun-ssi hentikan permainanmu, aku membawakanmu ini!” kata Jae Ra bersemangat, senyum menghiasi wajahnya dan dia menunjukkan plastik yang kini ada ditangannya. Aku kembali terdiam. “Jonghyun-ssi kau ini kenapa sih?” dia berteriak sambil menaruh kedua tangannya dipundakku dan menggoyangkan tubuhku. Aisssssh ada yang aneh dengan perasaanku saat ini.
Aku tetap terdiam dan mengalihkan mataku dari matanya. Dia pun mengalihkan matanya ke plastik yang dia bawa, lalu ia mengeluarkan 2 kotak makanan “Jonghyun-ssi ayo kita makan siang dulu, aku membawakanmu sushi. Apakah kau menyukainya?” ia menyerahkan kotak yang berisikan sushi itu kepadaku dan aku menerimanya
“ya, Gomawo” ucapku.
Aku memakan sushi yang dia berikan dan aku juga melihat dia melahap sashimi. Nampaknya dia sangat kelaparan.

Jae Ra’s POV
“Jae Ra, bagaimana kalau kita mencari informasi lewat Daesang Adjussi?” dia memberhentikan permainan pianonya, mengawali pembicaraan dan menatapku yang ada disebelahnya.
Belum sempat aku menjawab pertanyaannya, dia sudah berdiri mengambil tasnya dan bersiap untuk pergi. Dia menarik tanganku, aku mencoba mengelak tapi tidak bisa karena dia menggenggam tanganku terlalu erat.
“Jonghyun-ssi lepaskan tanganmu!” kataku berteriak. Dia melepaskan tangannya
“Hey berhentilah kau berteriak dihadapanku! Kau tau? Sudah berapa kali kau berteriak dihadapanku? Kau ini yeoja atau bukan? Bersikap manislah sedikit dihadapan seorang namja” bentak Jonghyun pedas.
Hatiku sakit, baru kali ini ada seorang namja yang membentakku. Aku pun mempercepat langkahku dan meninggalkannya sendirian.
Aku mendengar langkah seseorang mengejarku, dan menarik tanganku.
“Jae Ra, mianhaeyo” Jonghyun menatap mataku, lalu membuang tatapannya. Aissssh aku kesal sekali melihat tingkah lakunya hari ini, ingin sekali aku meninju mukanya.
“Ara, ara, aku maafkan” ucapku ketus
“Baiklah.. karena aku lebih tua darimu, mulai sekarang kau panggil aku oppa” dia menyuruhku begitu saja dengan sentakan dinginnya itu.
“Mwo? Aku tidak mau” kataku kaget dan sedikit membentaknya. Aku mencoba pergi dari hadapannya, tapi tanganku digenggamnya erat sekali. Aku mengeram kesakitan.
“Kalau kau tidak mau, aku tidak akan melepaskanmu” desak Jonghyun. Aissh apa yang harus aku lakukan? Aku sungguh tidak sudi memanggilnya dengan sebutan oppa. Tapi apa boleh buat? daripada tanganku sakit digenggam eratnya? Aku memanggilnya oppa dengan terpaksa
“Lepaskan aku Jonghyun oppa” aku mengatakannya cepat
“Apa? Aku tidak mendengarnya?” dia setengah berteriak.
“Le-pas-kan a-ku Jong-hyun op-pa” ucapku kesal dan memberikan sentakan disetiap perkataanku. Dia mengacak-acak rambutku dan pergi meninggalkanku menuruni anak tangga.
Aku memanggil Jonghyun “Jonghyun-ssi tunggu aku” dia mengabaikanku begitu saja.
“Jonghyun-ssi” teriakku sambil berlari menuruni anak tangga. Jalannya cepat sekali sampai-sampai aku harus berlari untuk mengejarnya.
BRUK !!
Aku terjatuh dari tangga, “Jonghyun oppa, tolong aku” Jonghyun berlari menghampiriku
Ia membantuku berdiri “Aissssh kau ini” dia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal
“Bukannya kau yang menyuruhku bersikap manis?”
“Tapi—” ucapnya mengelak
“Setidaknya hargailah usahaku untuk menjadi seorang yeoja manis, Jong-hyun Op-pa” aku tersenyum meremehkannya.
Jonghyun memeluk bahuku dan membantuku menuruni setiap anak tangga. Huh ini baru sampai lantai tiga, aku tidak tau apakah aku masih kuat untuk menuruni setiap anak tangganya. Jonghyun terlihat telaten sekali membantuku. Sesekali aku mencuri pandang untuk melihat wajahnya yang tampan, dan tak sekali mata kami saling bertatapan. Sorotan matanya yang tak bisa diartikan, rambutnya yang berwarna coklat gelap dan bibirnya merah semakin mendukung ketampanan wajahnya. Pantas saja, banyak yeoja yang memujanya. Tapi anehnya sampai saat ini aku tidak pernah melihat Jonghyun bersama seorang yeoja. Aissssh Park Jae Ra, lagi-lagi kau memikirkan namja itu. Pergilah dari pikiranku Kim Jonghyun.
Akhirnya kami sampai di halaman belakang sekolah. Jonghyun menduduki ku di sebuah kursi panjang dibawah pohon besar.
“Jae Ra, tunggu disini. Aku akan mencari Daesang Adjusshi” aku hanya tersenyum tipis dan dia pun berlalu.
Tak lama kemudian Jonghyun datang dengan Daesang Adjusshi dibelakangnya.
“Ini untukmu!” ucap Jonghyun sembari memberikannku sebotol air putih. Aku menerimanya “Gomawo oppa”
Lalu Daesang Adjusshi duduk disebelah kananku dan Jonghyun berdiri disisi kiriku.
“Ada apa kalian mencariku?” tanya Daesang Adjusshi
“Apa kami mengganggumu?” tanyaku
“Tidak, tugasku baru saja selesai” jawab Daesang Adjusshi
“Baiklah kalau begitu, ada sesuatu yang kami ingin tanyakan” ucap Jonghyun
“Silahkan tanyakan, saya akan menjawab setahu saya” ujar Daesang Adjusshi lembut.
Sepertinya Jonghyun tahu aku masih sakit dengan kakiku, jadi dia yang terus mengorek informasi dari Daesang Adjusshi. Aku hanya duduk sambil menggigiti sedotan minumanku.
“Apa menurutmu ada sesuatu yang aneh dengan sekolah kita?” tanya Jonghyun
“Kenapa kau bisa bertanya seperti itu?” Daesang Adjusshi berbalik tanya pada Jonghyun
“Karena saya merasa ada sesuatu yang aneh dengan kepengurusan tanah disekolah ini” Jonghyun masih mencoba mencari informasi
Daesang Adjusshi terlihat berfikir keras, sedangkan Jonghyun terus mendesak Daesang Adjusshi. Dan Akhirnya Daesang Adjusshi menceritakan apa yang dia dengar diruang kepala sekolah tadi pagi.

Jonghyun’s POV
Aku melihat jamku, ternyata sudah jam 6 sore. Untuk kedua kalinya aku mengantarkan Jae Ra pulang.
“Gomawo oppa” ia tersenyum manis padaku. Aku membuka kaca helmku, dia masih tersenyum manis dan aku kembali menatapnya dalam. Jae Ra membuang mukanya yang bersemu merah itu. Lalu aku tertawa kecil.
“kyaa kau Jonghyun-ssi mengapa kau mengapa menertawakanku?” ucap Jae Ra tinggi dan kesal.
“Yeoja kasar ya tetap kasar, sulit sekali diubah menjadi yeoja manis” sindirku padanya dan langsung menjalankan motorku meninggalkannya.
Selama perjalanan dari rumah Jae Ra ke rumahku, aku tidak bisa berhenti memikirkan Jae Ra. Sesekali aku tertawa kecil sendiri mengingat dia memanggilku oppa yang terdengar aneh sekali dan senyumannya, senyum mencoba untuk menjadi seorang yeoja manis. Dasar Park Jae Ra babo
Hari ini melelahkan sekali, untung saja aku tidak punya PR untuk besok, tapi aku tidak bisa tinggal diam dengan masalah sekolahku saat ini. Ah tiba-tiba saja aku ingat kejadian 2 hari yang lalu. Aku mendengar appa yang sedang membentak seseorang ditelfon diruang kerjanya. Sekesal-kesalnya appa, appa tidak pernah meluapkan amarahnya lewat telfon. Setelah kudengar-dengar dari depan ruang kerjanya, sepertinya appa meminjamkan sesuatu tetapi orang itu tidak bisa mengembalikannya. Meminjamkan apa yah? Sampe Appa membentak sehebat itu. Ah sudahlah, Appa memang keras, tapi apakah ada kaitannya dengan masalah sekolahku? Ah tidak mungkin, kerabat Appa kan banyak. Tapi hatiku berkata iya. hmm Aku harus menyelidikinya
Entah kenapa hatiku ini berkata kalau Appa ada hubungannya dengan masalah sekolahku. Aku melihat jam didinding kamarku yang berwarna putih. Tepat jam 10 malam.
Aku melangkahkan kakiku keluar dari kamar dan menuju keruang kerja. Apakah Appa sudah tidur? Sepertinya belum. Pintu ruang kerja Appa terbuka kecil dan aku bisa melihat Appa masih berkelut dengan laptopnya.
Aku kembali kekamarku. “huh apa yang harus aku lakukan?” gumamku.
Aku mengambil buku-buku sastraku, dan memulai membacanya. Ternyata tidak bertahan lama, semangat belajarku turun sekali.
Aku meraih handphone-ku dengan malas. Jika sudah malam, aku malas sekali meraih handphoneku. Handphoneku pasti dipenuhi dengan sms-sms yeoja yang tidak aku kenal. Mereka seakan-akan meneror malamku.
Aku mengecek inbox handphoneku, yaaa 23 new message. Aku membukanya satu-satu sms tersebut
‘Saranghae Jonghyun oppa’ aneh sekali yeoja ini, semudah itukah dia menyatakan perasaannya? aku tertawa kecil.
‘Jonghyun oppa, tolong balas smsku sekali ini saja’ masih dengan nomer yang sama. Sebesar itukah perasaannya padaku? Tapi aku sama sekali tidak tertarik untuk membalas smsmu, mian.
Semua smsnya sudahku baca, isinya sejenis yang kubuka tadi. Tapi ada satu sms yang menarik perhatianku.
‘Aku benci Kim Jonghyun, dia tidak pantas dipanggil oppa’ aku tersenyum membacanya. Sepertinya aku tahu siapa yang mengirim sms ini.

Jae Ra’s POV
Aku menarik selimutku dan bersiap untuk tidur. Aku menutup mataku, tapi suara bising handphone-ku terdengar. “mengganggu saja! Siapa yang menelponku malam-malam begini?” dengusku.
Aku mengangkat telfon itu tanpa melihat siapa yang menelfonku dilayarnya
“Yoboseyo” ucapku malas
“Ah ternyata kau belum tidur” ucapnya
Aku terbelalak kaget mendengar suara namja yang menelponku.
“Kau kah itu Jonghyun oppa?”
“Oppa? katamu aku tak pantas dipanggil oppa?” ucapnya dingin
Ternyata dia membaca sms ku tadi, ya aku mengirim sms itu karena aku kesal sekali dengan sikapnya tadi.
“Ne, kau memang tidak pantas” ucapku tak kalah dingin
“Sebenci itukah kau padaku?” pertanyaan-nya membuatku terdiam. “Jae Ra” sapanya lagi.
“Ne oppa, kau belum tidur?” aku mengalihkan pembicaraannya dan bertanya sambil menguap
“Ani, sepertinya kau ngantuk sekali. Selamat tidur” dia memutuskan telponnya. Dasar namja aneh.

Jonghyun’s POV
Tak terasa ternyata sudah jam 12 malam. Aku kembali meninggalkan kamarku menuju ruang kerja Appa. Appa sudah tidak ada disana, sepertinya dia sudah tidur.
Sebenarnya aku tak tahu untuk apa aku kesini, tapi hatikulah yang meminta. Laptop&Handphone Appa masih terletak di meja kerjanya dan ada sebuah map hijau pula.
Aku membuka map itu, dilembar yang pertama ada sebuah laporan berisi kalau Kimberly Art School mengikuti sebuah lomba festival musik. Aku mengangguk mengerti, karena sekolahku juga mengikuti lomba itu.
Di lembar yang kedua berisikan laporan pengeluaran Kimberly Art School
Dan dilembar terakhir berisikan surat tanah Seoul International School. Aku terbelalak kaget. Surat ini asli. Kenapa bisa ada ditangan Appa?
Lalu aku mengambil handphone Appa, ya aku ingin tahu siapa yang Appa telpon 2 hari yang lalu. Setelah aku teliti, Wakil Kepala Sekolah Choi? Apakah dia yang mengkhianati seluruh warga sekolah?
~TO BE CONTINUE~
mohon kritik dan saran dari semuanya 

Advertisements

7 responses to “[freelance]Unexpected Love part 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s