A Prince for Cinderella (Ficlet)

Tittle           : A Prince for Cinderella  /  Cinderella Short Story

Author       : Lee Chira

Genre          : Family, Romance, Fluff, Angst

Length       : Ficlet (2117/2360 words)

Rated          : General ß anak di bawah umur boleh baca, tapi manula dilarang keras!

Cast             : Lee Hyora  aka  Sung Minra (Fai)

Lee Chira <- jyaah, author numpang ngeksis

MBLAQ – Park Cheondung (Thunder)

SHINee – Choi Minho

Dan beberapa tokoh yang masih disembunyikan

Disclaimer    : Lee Hyora belongs to Armpit’s Cooperation(?), Lee Chira belongs to me, Thunder belongs to 2ne1 Dara(?), and Choi Minho belongs to my lappie(?????). Bwahaha, a weird disclaimer but plot belongs to me. n_n

PS                : ide ini muncul waktu aku lg bosen d klas sejarah. Dasar emg akunya bebal, org pd nyatet kisi2 buat ulngn eh akunya mlh nulis nih FF. Wkwkwk ß jgn ditiru

Keseluruhan isi FF ini memakai sudut pandang dari Fai  aka  Lee Hyora.

This FF special for Fai’s bd, saengil chukka, saengie~

 

***

“Annyeonghaseyo, choneun Lee Hyora imnida. Mannaso Bangapseumnida!”

Aku membungkukkan badan. Sebuah perkenalan bagi seluruh murid baru di hari pertama sekolah. Aku melemparkan sebuah senyuman pada seluruh isi kelas.

Baiklah, kita mulai perkenalanku. Seperti yang telah kukatakan tadi di depan kelas, namaku Lee Hyora. Aku adalah anak tunggal dari sebuah keluarga yang – ehem, bukan maksudku sombong tapi – cukup berada. Hm.. tunggu. Ralat! Sebuah keluarga yang hanya terdiri dari seorang ayah dan anak gadisnya. Yap, aku piatu. Ummaku meninggal ketika usiaku menginjak tujuh tahun karena sakit parah. Urgh, sebenarnya aku paling benci membicarakan masalah kematian ummaku. Jujur, kadang-kadang aku masih belum bisa menerima kepergiannya. Aku begitu menyayanginya.

Setelah kepergiannya hidupku terasa hampa. Untung aku kemudian bisa menyadari bahwa aku masih memiliki seorang ayah yang juga mencintaiku. Appa selalu menuruti permintaanku. Membelikanku permen lollipop, es krim kesukaanku, boneka-boneka lucu, dan sebagainya. Atas semua perlakuan Appa itu, jangan salahkan kenapa aku tumbuh menjadi gadis manja. Aku tak peduli dengan predikat cewek manja itu – walau sebenarnya menurutku aku cukup berusaha untuk tegar di depan Appa tiap kali teringat umma – karena yang kupikirkan hanyalah hidupku bahagia bersama Appa.

Dan sekarang aku mulai tumbuh dewasa. Tahun ini adalah tahun pertamaku masuk ke sekolah tingkat atas. Aku cukup senang tapi ada sesuatu yang amat sangat mengusik kebahagiaanku. Hal itu terjadi hampir setahun yang lalu.

Tiba-tiba saja Appa memberitahuku bahwa ia kesepian. Yeah, kuakui itu. Bertahun-tahun hidup menjadi single parent, tanpa pendamping. Tapi aku merasa sedikit sakit hati karena, selama ini aku juga berusaha – walau tak membuahkan hasil sepertinya – untuk menggantikan posisi umma untuk merawat Appa. Dan tak lama setelah itu Appa menemukan istri baru. Dan terlebih.. wanita itu membawa serta seseorang.

Oh great, sekarang aku bahkan menjadi seorang Cinderella.

 

***

 

Tanggal 22 November dan tak ada sama sekali tanda-tanda akan diadakannya PESTA ULANG TAHUNKU.

Aku duduk di tangga pualam sambil berpangku tangan. Pemandangan di depanku membuatku memanyunkan bibirku. Semua orang mondar-mandir di sekitarku, sibuk mempersiapkan sebuah pesta perayaan ulang tahun.

Yeah, kalian tak salah. Sebuah Pesta.Ulang.Tahun. Aku senang? Nope! Pesta itu bukan untukku tapi untuk kakak tiriku. Karena entah bencana macam apa yang menyinggahiku, tapi ia berulang tahun tepat sehari sebelum hari ulang tahunku. Aku tahu besok ia akan menginjak usia 17 tahun. Dan rumah beserta orang-orang terdekat sedang sibuk pada persiapan itu.

Hello… adakah yang berpikir tentang pesta ulang tahunku???

 

***

Pelayan rumah, umma tiriku, sahabat-sahabat kakak tiriku dan semuanya masih sibuk dengan persiapan itu. Padahal kulihat semuanya sudah siap sedia. Tapi mereka masih saja sibuk dengan ini-itu seakan takut ada kekurangan.

Daripada dongkol melihat pemandangan itu, aku kembali ke kamar. Aku membuka buku dongengku dan berdecak kesal menyadari nasib malangku – yang hampir setiap Cinderella alami. Malang!

Kemudian aku beralih pada kenangan-kenanganku bersama umma. Aku tenggelam pada aktifitasku. Kemudian tertumpu pada foto-foto ulang tahunku saat aku masih kecil. Foto kecilku yang mengenakan dress ala putri-putri kerajaan, senyum yang mengembang lebar bersanding dengan ekspresi bahagia di wajahku. Appa dan umma berdiri di kedua sisiku, memelukku. Keluarga bahagia.

Tapi itu beberapa tahun lalu. Dan sekarang, tak ada lagi keluarga bahagia seperti yang tampak pada foto yang mulai menguning ini.

 

***

 

Aku hanya bisa menyudut di pojok ruangan, di tangga tepatnya. Memerhatikan orang-orang yang berbahagia. Kakak tiriku itu, Chira, sedang tersenyum lebar kepada semua tamu undangan. Ia bercakap-cakap – dengan hangatnya – bersama beberapa sahabatnya. Sebut saja Park Kyungjin, Kim Kibum, Yoon Jisun, Choi Minho, Kim Jiyoung, Jung Sungha, dan sebagainya.

Dari mana aku mengetahui nama-nama mereka? Lihat di daftar tamu undangan. Aku yang sedari tadi bertugas melayani buku tamu. Huh! Bayangkan, aku bahkan harus melayani orang-orang yang tak kukenal itu. Oke, kecuali Choi Minho dan Jung Sungha karena dari kemarin mereka sudah berada di rumahku untuk mengurus pesta kejutan ini. Bisa kusimpulkan mereka adalah sahabat terdekat Chira atau bahkan salah satunya adalah kekasihnya. Terserah. Bukan urusanku!

Dengan tatapan malas, aku mengedarkan pandanganku yang kemudian bertumpu pada sebuah sosok. Park Cheondung. Refleks aku tersenyum melihatnya. Sepertinya ia hadir karena undangan yang diberikan oleh Appa. Ia adalah anak dari rekan kerja Appaku, setiap keluargaku menyelengarakan sebuah acara, keluarganya pasti datang. Setiap perayaan ulang tahunku juga ia selalu hadir. Dulu bersama kedua orang tuanya, tetapi beberapa waktu belakangan ini ia selalu sendiri. Mungkin karena kedua orangtuanya sudah terlalu sibuk atau memang ia sendiri yang menginginkannya? Oh, Lee Hyora, berhentilah berpikiran seperti itu. Tapi tunggu, apa aku salah?

Kuakui, aku menyukainya sedari dulu. Wajahnya yang imut dan tampan membuatku tak bosan memandangnya. Gayanya yang keren. Well, apa lagi? Kagum atau suka, entahlah.

Kulihat ia sedang memberi ucapan selamat pada Chira. Aku ingin menghampirinya, kami lumayan akrab. Jadi kuputuskan untuk menunggunya hingga ia selesai dengan Chira. Tapi sepertinya tak akan berlangsung cepat karena kulihat sekarang bahkan ia sedang bercengkerama dengan Chira. What? Hey, kau bisa saja merebut acara ulang tahunku dan perhatian semua orang, tapi tidak dengan Cheondung!

Aku berdiri tegak dan berjalan menuruni tangga dengan tergesa-gesa untuk menarik Cheondung tapi kemudian tanpa sengaja aku menabrak seseorang. Minuman yang dipegangnya tumpah mengenai dress putih tulang selututku, membuat dress itu kotor oleh bercak-bercak kuning orange juice yang tumpah tadi.

Aku meringis dan bersiap untuk mengomeli orang itu tapi kutahan dan malah berbalik menuju toilet. Aku tidak ingin membuat diriku dan keluargaku malu dengan keributan yang – mungkin – akan timbul kalau saja aku mengumpati orang itu. Atau membuat diriku sendiri malu karena seorang gadis terpandang sepertiku memakai dress yang kotor seperti ini.

 

Selesai membersihkan dressku – yah, aku hanya membersihkannya karena tiba-tiba saja seleraku untuk berganti baju dan kembali ke pesta hilang. Kemudian aku membasuh wajahku dan tanpa sadar langsung berjalan menuju taman belakang rumah. Aku duduk di ayunan putih yang sangat kusukai. Ayunan ini telah ada sebelum aku lahir. Aku sering bermain-main di ayunan ini. Bahkan dari cerita Umma dan Appa yang masih kuingat, dulu sewaktu hamil umma sering sekali bermain di ayunan ini sambil menyanyikanku lagu-lagu.

Ah, umma. Lagi-lagi aku teringat padanya. Umma, ulang tahunku kali ini menyedihkan. Tak ada persiapan pesta yang sudah dibicarakan sejak seminggu sebelum ulang tahunku, tak ada kecerian dan rasa deg-degan menanti hari H.

Aku memandang langit yang bertabur bintang. Menurut cerita dongeng yang dulu sering diceritakan umma sebagai pengantar tidur, seorang putri akan menemukan pangerannya di pesta perayaan tertentu. Apakah itu ulang tahun pangerannya, sang putri, ataukah pada perayaan ulang tahun kerajaan.

Hhh.. ulang tahun kerajaan? Aku tak punya kerajaan.

Ulang tahun sang putri? Aku putrinya – yang dalam hal ini kucoba posisikan diriku – tapi ulang tahunku hancur sebelum sampai pada waktunya.

Ulang tahun pangeran? Aku bahkan tak tahu siapa pangeranku. Er.. kecuali kalau boleh aku berharap. Aku harap pangeran itu adalah Park Cheondung.

 

Kata orang ada tiga hal bagaimana permohonan bisa terkabul. Yang pertama adalah dengan usaha keras. Tapi aku tak tahu harus memulai usahaku dari mana. Kedua, memohon saat bintang jatuh. Huh, aku memang terobsesi pada hal-hal seperti putri dan dongeng, tapi aku masih punya otak untuk berpikir bahwa sebenarnya yang jatuh itu bukanlah bintang – karena bintang tak mungkin jatuh. Jatuh ke mana coba? Si bintang tetap berada pada tempatnya, tak bergerak – melainkan sebuah meteor yang jatuh dan sedang menuju bumi dan perlahan terbakar karena terkikis lapisan udara bumi sehingga apinya membuatnya bercahaya. Ketiga, katakan permohonanmu saat kau berulang tahun sebelum meniup lilin. Bisakah? Seperti yang telah kukatakan tadi, ulang tahunku hancur dan semangatku menyambut ulang tahunku yang mungkin tak lama lagi menghilang entah ke mana.

Mungkin ada yang penasaran, sedari tadi aku terus memikirkan masalah permohonan dan ulang tahunku. Mau tahu? Permohonanku adalah menemukan seseorang yang bisa membuat tersenyum dan bahagia walau hanya sekedar berusaha menempati posisi kosong yang ditinggalkan oleh ummaku. Entah itu sebagai seseorang yang benar-benar bisa menggantikan posisi umma di hatiku – aku tahu aku jahat tapi aku belum terlalu akrab dengan umma dan saudara tiriku, atau sebagai – ehem – pangeranku, atau paling tidak sebagai sahabat.

Aku memejamkan kedua mataku, berusaha merasakan sejuknya malam. Melepas penat yang ada, sekaligus berbusaha meminta permohonan. Tiba-tiba aku merasakan ada sesuatu di dekatku. Aku membuka mataku dan langsung disuguhi oleh pemandangan yang menggoda. Sebuah permen lollipop kesukaanku. Aku langsung berbalik dan mataku membelalak kecil.

Pria ini. Ia berputar dan duduk di ayunan, tepat di sampingku, tanpa permisi. “Bagaimana bajumu?” tanyanya melirik dressku.

“Sudah kubersihkan, tapi belum terlalu. Masih ada sedikit noda.”

Ia mengangguk. “Maaf soal yang tadi.”

“No prob. Salahku berjalan tergesa-gesa.”

Hening. Tak ada pembicaraan. Kami terdiam cukup lama sampai akhirnya ia membuka suara. “Ehm, Hyora-ssi..”

“Ya?”

Kulihat ia melirik jam tangan hitam yang melekat di tangan kirinya. “Saengil chukkae.”

Aku langsung menatapnya. Apa yang dikatakannya tadi?

“Mwo? Ulang tahunku tanggal 24 bukan 23.”

Ia terkekeh. “Aku tahu. Tanggal 23 itu dua menit lalu, sekarang sudah pukul 00.02. Yang artinya sekarang sudah tanggal 24.”

Aku melirik jam tangannya. Dan benar saja, jarum itu menunjukkan pukul 00.02 lebih, hampir lewat tiga menit malah. Kemudian ia menyodorkan lollipop yang tadi dipamerkannya di hadapanku. Aku menatapnya heran.

“Anggap saja sebagai hadiah ulang tahunmu dariku.”

Aku menerimanya dan kami tersenyum.

 

***

 

Satu tahun kemudian..

 

“Kita mau ke mana sih?”

Aku hanya bisa berjalan mengikutinya. Mataku gelap, tertutup oleh sapu tangannya yang terikat di kepalaku. Kami terus berjalan. Hingga kami sampai di suatu tempat. Kurasakan ia berjalan ke belakangku lalu membuka ikatan sapu tangan itu perlahan. Gelap.

3..2..1..

DUSH!!

“SAENGIL CHUKAHAMNIDA..

SAENGIL CHUKAHAMNIDA..

SARANGHANEUN, JOHA-HYORA..

SAENGIL CHUKAHAMNIDA..!”

Tiba-tiba ruangan menjadi terang diikuti oleh munculnya semua orang satu per satu dari persembunyian mereka. Appa membawa sebuah kue tar bergambar karikatur wajahku dan lilin dengan angka 17 di tangannya. Aku sungguh terharu.

Setelah menyanyikan lagu ulang tahun itu untukku, mereka menyuruhku untuk meminta permohonan sebelum meniup lilin yang api kecilnya sudah berkobar hebat itu. Aku memejamkan mataku seraya membatinkan permohonanku dalam hati dan mendekatkan wajahku pada kue. Mereka diam dan sesaat kemudian aku membuka mataku dan meniup lilin itu. Mereka bertepuk tangan. Aku melemparkan senyuman paling bahagia yang pernah kumiliki. Kemudian aku memotong kue itu dan langsung memberikan potongan pertama pada Appaku. Potongan kedua, aku berpikir sejenak. Kuedarkan pandanganku dari kiri ke kanan, memandang sebuah lingkaran kecil yang mereka bentuk, sampai akhirnya penjelajahanku selesai dan kembali pada Appa yang berdiri tepat di samping kiriku.

“Untuk siapa, Hyora?” Semua bertanya-tanya.

“Kau lebih memilih laki-laki itu daripada umma dan saudaramu?” bisik Appa di telingaku. Sontak aku melirik ke samping kananku di mana ia tepat berdiri di sana.

Yah, berhubung hubunganku dengan umma dan saudara tiriku mulai membaik, jadi kue itu langsung kuberikan pada mereka. Mereka menerimanya dengan suka cita dan memberikanku ucapan selamat yang kuterima juga dengan suka cita.

“Yayaya! Semuanya, mari kita makan!”

Aku langsung mendelik pada Appa. Appa.. apa-apaan ini? Aku belum memberikan kue ketigaku dan ia malah memotong acara ini? Yang benar saja! Semuanya beranjak pergi kecuali Chira unnie yang sempat menepuk bahuku pelan sambil memberikan tatapan kurasa-Appa-belum-rela-anak-gadisnya-menjadi-milik-orang-lain. Aku mendengus pelan lalu melirik ke samping kananku. Ia tampak tak masalah dengan hal ini. Oke, mungkin ia maklum akan kelakuan Appa yang satu itu. Uh Appa, aku sudah dewasa. Aku bahkan sudah menginjak usia tujuh belas!

 

Aku kembali menghilang di tengah-tengah acara seperti halnya setahun lalu. Hanya saja bila tahun lalu karena dongkol dan sedih, malam ini lebih kepada karena bahagia. Aku berbicara dengan umma yang kuanggap telah bergabung di langit bersama rasi bintang yang lain, menemani Lyra, Orfeus, Draco, Canis Minor, dan kawan-kawan.

Kurasakan ada sesuatu yang menepuk kepalaku pelan. Aku berbalik ke belakang dan mendapati sebuah boneka beruang putih berukuran super besar sedang melambai padaku. Tiga detik kemudian kepalanya muncul dari balik lengan sang boneka. Aku tersenyum melihatnya. Ia mengambil posisi duduk di sampingku tanpa permisi – seperti halnya setahun yang lalu. De javu? Mungkin. Tapi aku benar-benar yakin kalau kejadian ini terulang. Tempat yang sama, orang yang sama, bahkan waktu pun hampir sama – hanya berbeda tahun. Ia memberikan boneka itu sebagai hadiah ulang tahunku kali ini. Aku tertawa. Tahun lalu ia memberikanku sebuah permen lollipop, kemudian tahun ini boneka super besar yang ukurannya menyamai ukuran badanku yang mungil.

“Semuanya akan indah pada waktunya,” katanya lembut. Aku mengangguk mengerti. Sekarang aku tahu apa maksud perkataannya. Tahun lalu memang seharusnya milik Chira un. Karena tahun ini adalah milikku. Lagipula, meskipun tahun lalu aku tak mendapatkan perayaan ulang tahun seperti yang setiap tahun kuinginkan, tetapi Tuhan sudah mengabulkan permohonanku : menemukan pangeranku.

Lalu ia mengeluarkan sebuah kue blackforest – yang entah dari mana asalnya – kecil dan menyuruhku untuk mengulang ritual tadi tapi dengan kesan pribadi yang lebih mendalam. Aku menurutinya walau tak tahu maksudnya apa. Ia tersenyum manis – yang menurutku adalah senyuman termanis di dunia. Karena kuenya begitu kecil, jadinya aku merasa tak harus memotong-motongnya. Lagian, di sini tak ada pisau kue. Ia tersenyum jahil dan mencubit pinggaran kue dengan ibu jari dan jari tengahnya. Ia mengarahkannya ke mulutku, aku membuka mulut. Tapi sepersekian detik kemudian ia malah menempelkannya k pipiku, membuat fla kue menempel dan mengotori wajahku.

Ia tertawa keras sambil berlari menjauhiku. Aku menaruh boneka beruang itu ke sebelah dan berusaha mengejarnya.

“Jyaah! Kembali, Oppa. YAH!! CHOI MINHO, KUBILANG KEMBALI..!!”

 

-FIN-

Apa ini?? Buat Fai, sori saeng FFnya aneh n gj. Ide ini terpikir gitu aja dengan asal-muasal yang kgk jlas n aku kerjain 1/3nya di ruang sejarah wkt semua org pd summak nyatet kisi2 buat ulngn sejarah. Daripada ngantuk, ya kan? ß contoh yg tdk pantas ditiru oleh manula(?)

Dan, apakah ada yg menyadari adanya ketidaksinambungan d ff ini? Klo klian jeli, pasti ada! Yang bisa tebak, ayo…!

Okelah, hanya ini yang bisa kuberikan sbg hadiah ultahmu dariku saeng. Ingat, ultahku tgl 5 maret!! ß all : kgk ada yg nanya!

Y sutralah.. saengil chukkae. Mana PUnya???? *ngancem pke nodongin piso kue

11 responses to “A Prince for Cinderella (Ficlet)

  1. @all : mksh dah mo bc+komen jg yg dah ngelike ^_^

    tp..tp.. nih ff tergagalku keknya. hiks hiks. komennya dikit. sejelek itukah ffku kali ini? y udah, krn komennya dkit.. aku (mngkn) mo narik ff seriesku yg life for the devil itu. soalnya author lg berkabung ( krn ffnya gatot). jd aku g bkal apdet tuh ff sampai wkt yg blon ditentukan oleh sy sndri. jd, jgn kecewa y !

    • akhirnya dah bisa ninggalin komen …
      huhahah *abaikan*

      okeh , g usah panjang2 ya unn komennya o.O
      soalny masih ada banyak FF yg mau aku komenin , fufufu~

      jah , pertama aku kira yg jadi kakak tiriku siapa , ternyata unn toh kkk~
      padahal pertama aku kira unn yg jd umtirku XD

      hoalah , ultahku dilupakan ToT
      kyaaaaaaa yg diinget cuma ultahnya unn , aku enggak huhu *apadeh*

      aih minho you’re so sweet *halah*
      K Y A A A A A A A A A A A
      beneran deh aku mesem2 sendiri pas baca yg itu XD
      jd pengen lollipop :d *g nanya*

      ihiy , pas tahun berikutnya ultahku yg dirayain , ultah unn kgk usah ! /PLAAAKKKK
      kkk~
      ih ih jadi ngarep dikasih boneka ama si minho … o.o
      ah bagian endingnya kejar2an haha XD

      btw , itu knp ada ‘angst’ dicastnya ? o.o
      kukira angst beneran , ternyata enggak .. haha XD

      oh ya , yg janggal tuh kayaknya pas unn ultah tgl 23 november y ?
      wkwkwk~

      oke , gomawo ya unnie udah bikinin FF 😉

  2. keren…………,
    kirain aku namjanya itu Cheondung oppa.., ternyata minppa…,
    hwaa.., keren….., keren…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s