SOULIZER [7th soul]

Author : Keychand

Cast : SHINee, Kim Hyunna, Shin Nara

rate : PG+16 – NC-17

Genre : thriller, romance, fantasy

length : chaptered

Soulizer [prolog / part 1part 2part 3part 4part 5/ part 6]

N.B : This part isn’t contain thriller genre, but contain some ‘dangered’ scene. honestly, i’m not yaoi author. it’s just the role of story. you don’t like that scene, don’t read. you like, don’t bashing. thanks 🙂 I really should doing deep bow for this part -,-

[soulizer]


Minho menghela nafasnya panjang, ia menghirup sedalam-dalamnya dan sebanyak-banyaknya kandungan oksigen yang ada disekitarnya, dan dengan perlahan menghembuskannya lewat mulut yang sedikit terbuka.

Matanya yang berwarna hitam jernih menerawang langit-langit ruangan berukuran sedang berwarna krem dengan ukiran-ukiran ala eropa. Ia tersenyum kecil dan menggerakan tanganya mengelus kepalanya yang baru saja mendapat sentuhan kasar dari seorang Lee Taemin dengan sebuah vas bunga dari bahan keramik.

he’s really loving her, ckckck..” gumamnya masih tersenyum kecil. Ia mengelus bagian belakang kepalanya lembut dan sedikit meringis.

Kembali ia menghela nafas dan menelentangkan kedua tangannya, memejamkan matanya cukup lama. Ada rasa damai yang menyelusup kedalam alam bawah sadarnya dan tubuhnya, membuatnya serasa berubah menjadi ringan seperti sehelai bulu malaikat yang suci yang melayang dilangit terkena sinar mentari. Membuatnya berkilauan dan dipandang indah oleh siapa saja, walau hanya sehelai saja tapi menjadi perburuan banyak jiwa.

Minho ingin seperti itu, menjadi makhluk yang diciptakan sebagai seorang malaikat yang membawa kebahagiaan, bukan kematian. Membawa kenyamanan dan ketenangan, bukan rasa tegang dan takut. Menyebarkan kehangatan, bukan hawa dingin yang menusuk sampai ketulang-tulangnya. Ia ingin bisa reinkarnasi, meninggalkan jabatannya yang lumayan memiliki prestise dikalangan ‘makhluk gelap’ menjadi seorang makhluk yang dikagumi dan dicintai oleh banyak manusia. Seorang malaikat.

Lagi-lagi ia tersenyum dalam kegelapan pikirannya, ia merasa semakin ringan, tubuhnya terasa melayang diudara, perlahan tergerakkan oleh angin yang membawanya terbang dengan lembut dan tenang. Ia menghirup dalam-dalam kembali oksigennya, mencium wangi langit yang selama ini menjadi tempatnya bernaung.

“hoy, minho!”

Brak! Dalam sekejap minho kehilangan dunia imajinasinya dan terjatuh kedunia nyata, rasanya sakit buatnya. Ia membuka matanya enggan, menatap si pemilik suara.

“wae?” jawabnya dingin, laki-laki itu –si pemanggil, masuk dan duduk disamping minho yang masih terbaring.

“omo! Ya, minho-ya! Neo gwenchana?” ia menunjuk wajah minho dengan telunjuknya yang berjarak tak kurang dari 3 sentimeter.

Minho mengerutkan keningnya, “wae?”

wake up, look by your self!” laki-laki itu menarik tangan minho, mendorongnya kearah kaca yang terpampang disudut ruangan.

see? How pale your face, choi minho!” seru laki-laki yang tak lain adalah Lee Jinki itu. Minho mendekatkan wajahnya, merabanya perlahan.

Ya, wajahnya pucat sekali, terlihat jelas kerutan disekitar lingkar mata dan dahinya, bibirnya kering dan pecah-pecah, matanya juga terlihat sayu. Ia Nampak seperti 10 tahun lebih tua dari umurnya sekarang, ah tidak— mungkin lebih tua dari itu, umur 60-an kah?

“ada apa denganmu, minho-ya?” Tanya jinki kemudian, ia menatap wajah minho dari pantulan kaca, menatap mata minho yang sayu.

“gwenchana, sepertinya kelelahan saja—“ jawabnya bohong,

“sudahlah, aku mau istirahat, hyung. I’m so tired, today..” ia mendorong tubuh jinki pelan, menyuruhnya keluar dan mengunci pintu kamarnya rapat.

Ia menghela nafas berat, menyandarkan punggungnya pada daun pintu dan kembali menatap kaca yang tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Lagi-lagi ia tersenyum kecil, menatap lantai kamarnya yang terbuat dari marmer.

“aku sudah tua, ya? Hha..” tuturnya pada diri sendiri.

Ia tahu apa yang menyebabkan wajahnya jadi seperti itu, dan tentunya kecil kemungkinan hanya karena kelelahan. Ya, bisa saja jawabannya kelelahan. Kelelahan mencium dua gadis, bahkan bukan hanya mencium. Ia ‘mendonorkan’ nyawa yang ia miliki pada dua gadis itu. Kim Hyunna dan Shin Nara.

Sebenarnya tak ada niatan dari dalam diri minho untuk mendonorkan nyawanya pada nara juga, tapi entah kenapa saat ia melihat pertengkaran kecil antara gadis itu dengan taemin membuatnya ingin mendonorkan nyawanya.

Ia ingin laki-laki itu senang, lebih tepatnya ia ingin merasakan bagaimana menjadi seorang berhati baik, tidak selalu jadi penghisap jiwa, tapi kali ini ia ingin memberikannya. Rasanya? Laki-laki bernama Choi Minho itu senang, ia merasa keberadaannya berguna. Ia ingin seperti itu seterusnya, tapi tak bisa.

Ia sudah punya takdir sebagai soulizer, he should sucking the soul, and defending him self from the rules –zoon politicon. Setelah semua ini? Ia sadar, sebentar lagi ‘ia’ akan datang, memaksanya untuk mencari jiwa baru, memberikan pasokan untuk tubuhnya yang sudah diambang batas minimum. Tapi lagi-lagi ia menantang, ia ingin mencoba menahan rasa itu, mengunci dirinya didalam kamar dan menjauh dari dua gadis atau bahkan kalau perlu dari tiga temannya yang ada dibalik kamarnya itu.

Ia harus mencobanya, dan akan mencobanya sampai ia mati kalau perlu. Begitulah seorang Choi Minho..

***

 

“nara-sshi! Gwenchana?” namja berambut pirang itu mengibaskan tangannya tepat didepan wajah nara yang masih terbengong-bengong setelah adegan ciuman-paksa-dari-choi-minho barusan.

Seharusnya sekarang ia mengucapkan terimakasih pada taemin, namja yang berhasil melepaskan ciuman minho-walau dengan cara memukulnya. Tapi ia malah terdiam, matanya menatap lurus kedepannya. Gadis itu merasakan sesuatu yang aneh merasuki tubuhnya, menyelusup menyatu dengan jutaan partikel yang membentuk DNA-RNA tubuhnya dan bercampur dengan literan darah yang ada dalam tubuhnya.

Tepat setelah bibir minho sedikit menekan bibirnya karena pukulan taemin dan bibirnya terlepas pelan. Ia merasa ada sesuatu terlepas dari kerongkongannya, sesuatu yang masuk beberapa detik setelah minho mulai menciumnya. Ia tidak tahu apa itu, tapi ia merasa tubuhnya melayang, ringan, dan terasa hangat. Gadis itu merasa kekuatan tubuhnya kembali, ia bisa merasakan kakinya yang beberapa hari terakhir lumpuh akibat perlakuan yang sama dari kibum. Ia bisa merasakan kakinya, merasa jiwanya seperti terlahir kembali, walau tak sepenuhnya. Gadis itu merasakan jiwanya kembali,

Did he give his soul to her?

“taemin-ah” tutur nara dengan volume yang kecil, taemin mengerjap, ia mendekatkan wajahnya pada gadis itu, menyentuh pundaknya lembut.

“wae?”

“a-aku, bisa merasakan kakiku..” lanjutnya masih terbata, ia menggerakan manik-manik hitamnya itu kesudut kiri, menatap taemin ragu.

“jinjja?” mata namja itu sedikit membulat, ada senyum yang sedikit terukir di bibirnya yang berwarna kecoklatan itu.

Gadis itu terlihat menelan ludahnya dengan susah, ia menggenggam kembali tangan taemin dan mengangguk ragu. Senyuman yang terukir disudut bibir itu berubah jadi senyuman tulus dari sang laki-laki.

“syukurlah..” gumam taemin pelan, ia baru saja hendak mengelus rambut gadis itu. Tapi si gadis dengan cepat melepas genggamannya dan menyibakkan selimutnya.

Ia turun dari ranjangnya, sempat terjatuh karena kakinya yang masih tahap pemulihan, tapi ia segera bangkit dan berlari keluar kamar meninggalkan taemin yang tercengang sendiri ditempatnya. Baru saja seulas senyum terukir disenyumnya –suatu keadaan yang langka- dengan cepat senyum itu memudar, berganti dengan tatapan sendu bercampur emosi yang membuat matanya kembali dingin dan datar.

He’s back to be real Lee Taemin.

***

 

“oppa—“ gadis itu kembali menggumamkan ‘oppa’ dimulutnya, kibum melepas pelukannya, menatap adiknya dengan tatapan penuh sayang.

“nan bogoshippoyo, hyunna-ya..” tutur kibum pelan, gadis itu tersenyum lemah, tubuhnya masih belum bisa beradaptasi dengan nyawa barunya.

“jong-hyun oppa?” kibum tertohok, wajahnya berubah datar –sendu tepatnya, ia menatap gadis manis didepannya dan menghela nafas panjang.

“ia sudah tak ada, hyunna-ya. Laki-laki bodoh itu meninggalkan kita semua..” tutur kibum tak sejelas yang sesungguhnya. Tapi memang kenyataan berkata bahwa jonghyun sudah tak ada, karena kalah dalam arena pertandingan melawan jinki.

“wae? Apa dia merasa bersalah akibat waktu itu?” kibum tersenyum miris, ia menggeleng pelan.

“dia hanya harus pergi, hyunna-ya. Dia ditakdirkan untuk pergi..” hyunna mengerutkan keningnya, baru saja ia mau kembali melontarkan pertanyaan, kibum sudah menyelanya.

“sekarang kau makan dulu, ok! Biar oppa ambilkan makan untukmu, kau duduk manis disini, ok..” kibum tersenyum dan mengelus rambut hyunna dengan lembut. Gadis itu mengangguk paham dan balas tersenyum.

Kibum meninggalkan hyunna sendiri dikamarnya, ia berjalan dengan perasaan sedikit tenang, setidaknya hyunna sudah kembali. Tapi disisi lain ia khawatir akan keadaan minho, ia tahu minho memberikan lebih dari 70% jiwanya pada hyunna tadi, siluet yang biasa menyelubungi tubuhnya menipis saat ia menyentuh minho tadi. Ia takut minho benar-benar kehabisan jiwa dan ia berubah seperti soulizer lainnya, tua akibat kekurangan jiwa.

“minho-sshi! Buka pintunya, aku mau bicara!” kibum menoleh, dilihatnya nara tengah menggedor pintu kamar minho dengan keras.

Kedua alisnya saling bertautan, ia bertanya-tanya, sejak kapan gadis itu bisa berjalan dan berteriak keras seperti itu. Seharusnya kemungkinan terburuk dari gadis itu adalah ia semakin lemah dan kemungkinan sembuhnya semakin lama. Tentu saja gara-gara kejadian Lee Jinki-memakan-Kim Jonghyun waktu itu. Tapi ini malah sebaliknya, gadis itu sudah bugar kembali, seperti tak ada apapun yang terjadi pada dirinya.

“nara-sshi!” panggil kibum, gadis itu menoleh, ia benar-benar tampak segar. Wajahnya bukan putih pucat, tapi putih selayaknya seorang gadis korea.

“sejak kapan kau sembuh?” Tanya kibum, gadis itu menghampiri kibum, ia berjalan dengan cepat dan berdiri tepat didepan kibum.

“apa kalian bisa berbagi jiwa?” gadis itu melontarkan sebuah pertanyaan dengan cepat, kibum lagi-lagi mengerutkan keningnya.

“apa maksudmu?”

you! soulizer! can you share your soul to each other?”

“us? Err—“

“ya! That boy give it to me!”

“boy?”

ne, Choi Minho!”

“mworago?!” kibum memekik, ia tak percaya atas apa yang gadis itu ucapkan.

Tak mungkin minho memberikan sisa jiwanya pada gadis itu, apa alasannya, sebagai seorang sucker soulizer ia pasti sudah tahu segala tektek bengek peraturan bagi seorang soulizer. Mana mungkin ia melakukan hal itu, memangnya dia pikir sebanyak apa pasokan jiwa yang ia miliki?

Kibum beralih menatap pintu kamar minho yang tertutup rapat, ia berjalan cepat sedikit menubruk tubuh gadis itu dan turut menggebrak pintunya.

“YA! CHOI MINHO, OPEN THE DOOR!” kibum berteriak dengan lantang dan keras, ia menggedor pintu itu dengan emosi, namun tak ada respon dari dalam.

Ia mengumpat pelan, kembali menggedor pintunya lebih keras dan cepat.

“ya! Choi minho, open the door now, or I’ll smash the door!” kibum kembali berteriak, ia benar-benar sudah dipuncak emosi sekarang.

Bukan emosi karena laki-laki itu mencium nara sesaat setelah ia mencium adiknya –hyunna, tapi karena ia takut terjadi sesuatu pada temannya itu. Ia tak mau kehilangan lagi setelah jonghyun. Ia mundur beberapa langkah, mengambil ancang-ancang dan dalam hitungan ketiga ia berlari mendobrak pintu itu hingga terbuka.

“minho-ya!” kibum segera merangsek masuk, dibukanya pintu itu lebar-lebar membuat nara dengan mudah turut masuk dan melihat keadaan minho.

“CHOI MINHO!” kibum kembali berteriak, dilihatnya temannya itu tengah meringkuk dilantai dengan tubuh yang menggigil. Tubuh jangkungnya ia tekuk, ia memeluk kakinya yang menekuk sampai bibirnya bisa mencium dengkulnya sendiri.

Kibum berlari menghampiri minho, ia merasa familiar dengan keadaan ini. Ya, keadaan saat ia dihinggapi sensasi itu dan mencoba menahannya sekuat mungkin, menyebabkan insiden yang menjadikan nara sebagai korbannya.

“minho-ya, gwenchana? Kau masih kuat kan? Biar kubantu cari, ayo!” kibum baru mau menarik tangan minho agar laki-laki itu berdiri, tapi yang ada malah minho balik menarik tangan kibum hingga ia terjatuh tepat diatas tubuh minho.

“andwae! Minho-ya!” dengan cepat dan shock kibum menarik tubuhnya hingga agak menjauh dari minho.

Damn! Kibum memekik dalam hati, ini situasi yang salah, tak seharusnya ia dan nara ada disini. Minho sudah masuk fase akhir, tingkat paling tinggi saat seorang sucker benar-benar membutuhkan jiwa dan ia belum mendapatkannya juga, saat dimana ia akan menerkam siapa saja yang tersensor oleh matanya atau terendus oleh penciumannya yang tajam.

Sekarang, dalam ruangan berukuran sedang itu, ada minho –si sucker kritis, kibum, dan nara yang tentunya baru sembuh –berkat minho. Suatu kesalahan besar, mereka masuk ke kandang harimau yang kelaparan.

Minho mulai bangun, tubuhnya bergetar, giginya beradu menghasilkan bunyi gemeletuk akibat peraduan gigi atas dan bawahnya. Bibirnya berwarna ungu kebiruan, matanya seperti biasa -berwarna hitam kelam dengan titik putih kecil ditengahnya. Ia berjalan gontai kearah nara, kenapa gadis itu?

That’s instinct of a boy, girl is better—

Nara mundur perlahan, ia menatap minho yang berjalan layaknya seorang harimau yang menyudutkan terkamannya.

“mi-minho-ya, ja-jangan aku!” nara memekik, ia menggerakan bola matanya kesudut kiri, meminta pertolongan pada kibum yang ada dibelakang sebelah kanan minho. Kibum menelan ludah enggan, ia tahu resiko yang harus ia terima saat ini juga. Ia berlari, menghempaskan tubuh minho kelantai dan membawa nara pergi dari kamar itu.

Tapi sialnya minho bergerak cepat, ia mencengkram kaki kanan gadis itu, membuatnya berteriak kencang.

“ya! Lepaskan bodoh!” kibum melepaskan cengkraman minho dari kaki sang gadis, ia mendorong cepat minho hingga kembali menghempas lantai. Kibum kembali bangun mendorong tubuh gadis itu supaya cepat keluar dari kandang harimau itu.

go out, now!” kibum mendorong tubuh nara keras sampai keluar dari kamar itu, tapi bodohnya kibum tak ikut keluar, ia malah masuk kembali kekamar dan menutup pintunya dengan keras. Sepersekian detik setelah pintu itu tertutup rapat, nara bisa mendengar teriakan yang keluar dari mulut minho.

“Kibum-sshi!” nara berteriak, ia menggedor pintu itu dengan keras, tak ada yang keluar dari sana. Wajah gadis itu berubah cemas, meski tak tahu bagaimana yang terjadi sebenarnya dibalik pintu itu, ia tahu apa yang akan terjadi setelah ini.

Ia menekuk wajahnya, menggigit bibir bagian bawahnya dan bersandar pada pintu. Matanya menyiratkan kecemasan, antara bingung apa yang akan terjadi dengan zoon politicon between the sucker dengan hows the situation after it.

“onnie?”

“hyunna?”

Nara menatap ragu gadis didepannya, ia kaget sekaligus bingung melihat gadis didepannya sudah sehat bugar, sama seperti dirinya. Wajahnya memang masih terlihat pucat, tapi tak nampak bahwa telah terjadi sesuatu pada dirinya.

“k-kau sudah sadar?” Tanya nara dengan terbata, gadis itu tersenyum dan mengangguk.

“sedang apa disini? Lihat kibum oppa tidak?” Tanya gadis itu dengan polosnya, nara tertohok. Tak mungkin ia menjawab jujur, bahwa oppa-nya ada dibalik pintu itu dan sedang melakukan pertandingan dengan minho.

“tadi aku mendengar teriakan kibum oppa memanggil minho oppa, wae geurae?” lanjut hyunna dengan penasaran.

“itu— err, itu—“

“nara-sshi! Wae geurae?!”

“Nara?!”

Nara kelabakan, seorang gadis dan dua orang laki-laki berdiri mengelilinginya, melayangkan pertanyaan yang sama dengan tatapan penuh rasa ingin tahu. Ia bingung harus jawab apa, sebenarnya bisa saja ia jawab yang sebenarnya, tapi ada hyunna disana, gadis kecil yang amat menyayangi dua laki-laki yang ada dibalik pintu itu.

“err— taemin-sshi, itu—“ nara menatap taemin bingung, ia bergantian menatap taemin dan melirik pintu yang ada dibelakangnya.

Sementara taemin semakin mengerutkan keningnya bingung, ia melayangkan tatapan pertanyaan pada nara, tapi nara tetap sulit menjawab.

“mana kibum? Minho?” Tanya jinki dengan dingin, matanya menyorotkan keseriusan, nara semakin takut dan bingung.

“itu— mereka—“

“ANDWAE! YA!” nara memejamkan matanya erat, akhirnya ia tak bisa menutupinya lagi, teriakan kibum barusan sudah menjawab semuanya.

“kibum? Sedang apa dia dikamar minho?” tutur taemin bingung, ia menatap nara dengan tatapan penuh pertanyaan.

“kibum oppa dan minho oppa ada didalam?” hyunna menunjuk kamar didepannya ragu, ia melemparkan pandangannya pada semua yang ada disana, terutama nara, gadis yang diyakini tahu segala kejadiannya.

“bawa dia kekamarnya, nara-sshi. Jangan keluar sampai ada yang datang kekamar!” tiba-tiba saja jinki menyeret tangan nara dan hyunna bersamaan, ia mendorong cepat punggung nara menyuruhnya masuk kekamar nara.

“eh, geundae—“

“palli!” bentak jinki, matanya berubah tajam dan menusuk, nara mengangguk paham, ia menarik tangan hyunna dan membawanya kembali kekamar, mengunci pintunya dua kali dan mendudukkan gadis itu diatas ranjang.

“sebenarnya ada apa onnie?” Tanya hyunna penuh kebingungan, nara menghela nafas panjang dan mendesah. Kedua tangannya bertopang dipinggang dan ia menatap hyunna dengan tatapan iba –untuk pertama kalinya.

“kau mencintai mereka berdua?”

“eh?”

***

 

‘brakk!’

Daun pintu itu tertutup rapat, kibum mengunci pintu itu dan berbalik menghadap minho. Tepat saat ia berbalik, seiring dengan menghamburnya minho, tanpa tedeng lagi laki-laki yang sudah sekarat itu meraup bibir kibum, dalam sekali serangan ia langsung menghisap nyawa kibum.

Mata kibum membulat, ia mendorong sekuat tenaga tubuh minho yang lebih kekar dan jangkung daripada dirinya, diinjaknya kaki minho dan dalam sekali hentakan mendorong tubuh namja itu hingga tersungkur kelantai.

“ANDWAE! YA!” kibum berteriak, sembari mengambil nafas ia menyusut bibirnya kasar dengan punggung tangannya.

Ia maju mendekati minho, diremasnya kerah baju minho dan menarik wajahnya lebih dekat satu sama lain. Tatapan minho sudah diluar kendali, sepertinya namja itu sudah tak mengenal lagi siapa laki-laki yang ada didepannya.

“ya! Kau tahu apa yang akan terjadi kalau kita bersaing kan?!” desis kibum, matanya menajam dan semakin menyipit.

“kubantu kau cari jiwa, tapi bukan aku, Choi Minho!” lanjutnya lagi, minho tak bergeming, ia malah mendengus dan dalam gerakan cepat mendorong tubuh kibum yang ada diatasnya berguling jadi berganti posisi kali ini minho yang ada diatas kibum.

“ya! Awas kau!” pekik kibum, ia panik saat sadar minho sudah menindih tubuhnya. Kedua tangan kekar minho segera merengkuh wajah kibum, ia kembali mendaratkan bibirnya yang tebal dibibir tipis milik kibum. Dengan kasar menghisapnya penuh nafsu.

“mmkh—“ kibum terus meronta, ia terus mencoba mendorong tubuh minho dari atas tubuhnya. Kali ini ia mendapatkan ide lebih gila, ia menarik lututnya, dengan cepat dan penuh hentakan hingga mengenai alat kelamin minho.

“arkh!” minho mengerang, ia melepas ciuman kasarnya, dan dengan segera kibum kembali mendorong tubuh minho.

Ia maju, kembali bertukar posisi dan kali ini kibum sudah kehabisan kesabaran. Ia segera melayangkan bogem mentahnya kewajah minho, tak cukup sekali, ia melakukannya berkali-kali sampai terdengar nafasnya yang menderu. Sedang minho, wajahnya sudah penuh lebam dan darah segar mengalir dari hidung dan sudut bibirnya.

“hh.. hh..” nafas kibum terengah, beberapa bulir peluh sudah menetes dari pelipisnya.

rude you, choi minho!” desisnya dan kembali melayangkan pukulan keras kewajahnya.

Minho melengos, wajahnya sudah kacau mendapatkan cap tangan gratis dari kibum, ia terkapar, matanya masih terbuka tapi dengan pandangan kosong dan mata yang masih berwarna hitam. Tangan dan kakinya tak bergerak, ia benar-benar terkapar.

“hh..” kibum tersenyum menampakkan seringai penuh rasa kemenangan, ia menampar pelan wajah minho yang sudah terkulai.

I’m not a killer, but I can kill you if I want!” tuturnya dan segera bangkit dari posisinya, kibum masih bisa mendengar desah nafas minho yang berat.

Sejenak ia terdiam mematung dalam posisinya, ia bisa melihat dengan jelas urat syaraf milik minho yang tercetak jelas berwarna hijau keunguan, diseluruh bagian tubuhnya. Ini pertama kalinya ia melihat seorang soulizer menampakkan seluruh urat syarafnya, biasanya hanya bagian tubuh tertentu. Tapi kali ini ia melihatnya, ia mengernyit jijik, tubuh minho yang penuh cetakan urat terlihat seperti mayat yang dikuliti ditambah lagi dengan mata yang membelalak hitam dan mulut yang sedikit terbuka, terlihat jelas jalur dan susunan urat syarafnya.

Kibum mendesah, ia berbalik hendak pergi tapi tiba-tiba sebuah tangan menarik cepat pergelangan tangannya hingga ia berputar tanpa ada keseimbangan, tubuhnya didorong paksa hingga membentur tembok. Kibum kaget, ia membelalakkan matanya –lagi. Belum sempat kibum memberikan umpan balik, minho lagi-lagi mengambil alih kuasa, ia langsung menyerang kibum dengan ciumannya yang penuh nafsu.

Bukan karena ia seorang gay, tak ada istilah gay atau homo diantara mereka. Ini masalah hasrat yang datang tiba-tiba, memaksanya memangsa siapa saja yang ada. Laki-laki yang sedang dikuasai hasrat itu terus saja menghisap nyawa dari dalam tubuh kibum, ia bergerak cepat, tubuhnya –kepala lebih tepat, bergerak maju mundur mengikuti alur hisapannya.

“ekkh—“ lagi-lagi kibum harus berjuang menahan ‘nyawa’-nya dan mencoba melepaskan dirinya dari minho. Ia terus mendorong tubuh minho yang ada didepannya, berusaha dengan berbagai cara agar lepas dari cengkramannya.

Kibum memejamkan matanya, demi apapun seumur hidup tak pernah terpikirkan olehnya ia harus melakukan ini, apalagi pada sahabatnya sendiri. Ia mengerang dalam hati, tangannya terkepal. Dengan enggan ia harus melakukan hal itu.

Dengan cepat dan sedikit usaha ia membuka mulutnya perlahan, membuat bibir minho sedikit masuk –tanpa disadari minho, kibum masih terpejam, tak mau merasakan adegan itu, dan ingin segera melewatinya.

Ia semakin membuka mulutnya, mencari jarak yang cukup untuk giginya meraih bibir bawah minho, tak lama ia berhasil, dengan sekuat tenaga ia menggigit bibir minho yang masih menggerayam di mulutnya. Kibum semakin mengeratkan kelopak matanya agar tertutup, ia bisa mendengar minho yang merintih dan segera melepaskan ciumannya. saat itu juga kibum mendorong tubuh minho hingga kembali terduduk dilantai.

“hhh.. hh…” kibum menunduk, menahan tubuhnya dengan kedua tangan yang bertumpu pada lutut.

you wanna us die together, huh?!” kibum berteriak, suara dan nafasnya tersengal , ia mulai kehabisan oksigen.

“dengar choi minho, aku tak mau kehilangan gadis yang kucintai, lebih baik aku yang mati daripada dia. So, I won’t let you make us die together. You wanna my soul? I’ll give it, but not with my little hyunna!” tambahnya dengan suara lirih, ia tersenyum pahit, laki laki bernama lengkap Kim Kibum itu pasrah.

Ia sudah mengambil keputusan, membiarkan dirinya kalah dan lenyap dari jadwal ‘pertandingan’ selanjutnya, membiarkan gadis yang ia sayangi tetap selamat daripada mendahulukan keegoisannya yang tidak ingin kalah dari seorang Choi Minho.

come on, you wanna mine, huh? Come hear, rude!” pancing kibum dengan lirih, ia sempat menyunggingkan seringai khas yang dulu selalu ia sunggingkan saat ia mengalami kemenangan.

Entah minho paham akan ucapan kibum barusan –padahal ia masih ada dibawah alam sadarnya, atau karena ia sudah benar-benar butuh pasokan nyawa hingga membuatnya tak memperdulikan apapun lagi kecuali satu, orang yang ada didepannya.

Minho kembali bangun, ia mengusap kasar dan cepat mulutnya yang barusan ia jilat dengan cepat. Ia merangsek maju dan kembali merengkuh wajah kibum. Tangannya menekan kuat wajah kibum pada kedua sisinya, membuat bibirnya terdorong kedepan dan memudahkan minho menjangkau bibir itu.

Lagi-lagi kibum memejamkan matanya, ia pasrah, takut, jijik, pening –segalanya bercampur. Ia terus berfikir, how can my lips get touched with his lips?!

Dengan ragu tangan kibum bergerak naik menggapai pundak minho yang terus maju mundur –kembali mengikuti alur hisapan. Ia mencengkram kuat pundak laki-laki yang lebih tinggi dari dirinya itu, masih dengan mata terpejam ia mulai mengikuti alur gerak minho, sebenarnya kibum juga sering melakukan ini, tapi sebagai pelaku, bukan korban!

Siluet biru keemasan mulai muncul tipis menyelubungi tubuh kibum, bertambah warna seiring bertambahnya ketebalan siluet yang semakin jelas terlihat itu. Siluet itu bergerak memutar dan bergelombang nampak indah, seperti aurora yang menari mengiringi gerak tubuh dua makhluk dengan jenis yang sama itu.

Kibum semakin mempercepat ‘penyaluran’ nyawanya pada minho, berharap ini semua segera berakhir. Setimpal dengan minho yang semakin agresif dan penuh nafsu dalam menghisap nyawa milik kibum, ia terus menekan wajah kibum, menekan dan mencium kasar bibir kecil kibum, dan menghisap nyawanya seolah takut kehabisan walau hanya ditinggal satu detik saja.

Kibum sudah merasa sesak, kuota oksigen dalam tubuhnya sudah menipis dan hampir habis, tapi minho pasti tak perduli, ia malah semakin mempercepat aktifitas penghisapannya. Kibum benar-benar pasrah kali ini, seluruh jiwanya hampir terhisap habis oleh minho, bahkan siluet yang tadi bergerak indah mulai menipis dan memudar.

Samar-samar kibum bisa mendengar suara teriakan dari luar sana, itu suara jinki dan taemin. Kibum tersenyum dibalik ciuman paksa-nya, matanya terbuka sesaat dan sedikit.

‘brakk!’

Matanya terbuka lebih lebar, ia bisa melihat jinki dan taemin yang masuk kekamar dengan terburu. Ia kembali tersenyum pahit, dalam hati bersyukur ada yang bisa membantunya lepas dari minho biar sedikit saja.

“CHOI MINHO!” jinki menarik tubuh minho dengan kuat dan penuh amarah, ditariknya tubuh minho dan dihempaskan kelantai.

Kibum terengah, nafasnya memburu, ia sudah tak bisa lagi menopang tubuhnya. Dengan cepat taemin menangkap tubuh kibum yang lemah, disandarkannya tubuh laki-laki itu ketembok. Kibum tersenyum, taemin menautkan kedua alisnya bingung, kenapa laki-laki itu tersenyum. Padahal keadaannya parah, tapi sedetik kemudian matanya berubah membulat, ia melihat siluet warna yang memudar dengan perlahan dimulut kibum.

“Kibum-ah!” ia menggoyangkan tubuh kibum kencang dan keras. Bukannya bangun dan semakin sadar, kibum malah semakin menutup rapat matanya yang sayu. Ia benar-benar menutup rapat matanya yang kuyu itu, wajahnya tampak pucat, kulitnya yang putih semakin terlihat pucat dengan urat yang mencetak jelas, bibirnya berwarna pias dan kering. he’s gone..

“aarghh!” disisi lain, minho mengerang keras, tubuhnya ditahan oleh jinki yang mendudukinya. Tangan kanannya menahan gerak leher minho, sementara kakinya menahan gerak tubuhnya, tangan kirinya yang bebas mencengkram kuat dagu laki-laki itu.

oh, damn! Now, what?! You wanna die like jonghyun, huh?! You make me being the real killer!” jinki memekik, ia semakin emosi saat tahu ada siluet indah yang menyelubungi tubuh minho, mirip dengan keadaan jonghyun waktu kedapatan tengah menghisap hyunna.

“minggir!” belum sempat jinki melayangkan pukulan, sebuah tangan sudah mendorongnya agar menyingkir, tangan kecil itu mengambil kekuasaan. Ia mencengkram kerah baju minho, mengangkatnya hingga wajah minho hampir beradu dengan wajahnya. Laki-laki pirang itu mendengus, ia menatap tajam mata minho yang gelap.

“apa maumu, CHOI MINHO?! Biadab kau!” laki-laki itu menampar pipi minho penuh dengan emosi. Ia menghempaskan tubuh minho kembali kelantai. Taemin, laki-laki penampar itu mengumpat dalam hati, matanya berkilat-kilat menyiratkan dendam dan amarah.

fuck you!” ia kembali mengumpat dan berbalik hendak meninggalkan minho, tapi ia lengah.

Tangan minho yang kuat segera menarik pergelangan tangan taemin dan memutarnya hingga ia kehilangan keseimbangan dan terjatuh tepat diatas minho. Minho mendengus cepat, tangannya yang besar merengkuh wajah kecil taemin.

“YA! CHOI MINHO!”

[soulizer]

ok! ini bener-bener diluar batas penulisan saya, pertama kali deh masukin scene kaya gitu, nyoba ngedalemin (?) ceritanya malah ngeri sendiri. Deep bow buat part ini lah pokoknya, maaf yang ngerasa biasnya mereka diatas, bukan kehendak saya mereka begitu (?)

part ini lebih panjang karena ada yang maksa supaya saya panjangin chapternya -,- sudah terpenuhi kan~

makasih yang setia baca, komen, dan like. semoga berkenan (?)

keychand!

63 responses to “SOULIZER [7th soul]

  1. Pingback: SOULIZER [the last soul] « FFindo·

  2. keychand ,tau ga si aku agak brkaca kca waktu key sedih jjong telah tiada … bner2 sad ke ati , tapi mala tambah serem …. onn , critanya dibanyakin pas taemin naranya dong , tp jngan2 dingin2 … andwaeee Kibum gag boleh Matiiiiiii ,, author … slamatkan key ….. klo egak aku aja yang transfer jiwa ke dia sama kya minho ke hyunna ma nara , boleh ya …. ?#chand cpet2 nransfer jiwa ke kibum biar gak keduluan reader pe.ak ini (?)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s