L.O.V.E.?

L.O.V.E.?


Author            :           Park Kyungjin

Cast                :           SHINee – Lee Taemin

T-Ara – Park Jiyeon

Park Yijoon

Other Cast     :           Lee Taesun

Genre              :           Romance, Fluff

Rating             :           PG-13

Length            :           One Shot

Disclaimer      :           Cerita ini terinspirasi dari mimpi anehku.. hehehe.. ^^v So, all of the plots are mine!

NB                  :           FF ini jelek kok.. Cuma pengen share mimpi aja~

+++

(Taemin P.O.V)

“Eomma… Aku mau punya adek…” rengekku pada eomma yang masih sibuk bergelut dengan panci dan wajan yang ada di hadapannya. Aku menunggu reaksi eomma, tapi ia terlihat tidak mempedulikanku.

“Eomma…” kataku sambil mulai menarik-narik ujung baju eomma.

“Ya! Taemin-ah… Kau tidak lihat eomma sedang sibuk!” kata eomma akhirnya.

“Aku mau punya adek…” rajukku sekali lagi.

“Kau ini apa-apaan. Sudah sana, lebih baik kau belajar saja! Tidak usah minta macam-macam!” kali ini eomma mulai memarahiku.

“Aish… Aku kan cuma minta adek baru…”

“Taemin!!” eomma mulai berbalik ke arahku sambil melipat tangannya di depan dada. Oh, gawat.

“Ne… Ne eomma…” kataku lalu buru-buru berlalu dari depan eomma sebelum emosinya kembali memuncak.

“Kau kenapa Taemin?” tanya Taesun hyung yang sedang duduk di ruang TV. Raut wajahnya terlihat keheranan, mungkin karena melihatku yang sedang terburu-buru.

“Ah, anni hyung… Tadi eomma hampir saja memarahiku… Heheh…” jawabku pada Taesun hyung sambil menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gagal. Aku lalu mengambil posisi dan duduk di samping Taesun hyung.

“Nonton apa hyung?” tanyaku pada Taesun hyung yang masih terpaku pada layar kaca.

“Molla… Aku hanya asal nonton saja…” jawab Taesun hyung. Aku lalu memperhatikan TV yang sedari tadi menjadi tontonan Taesun hyung.

“Ini hanya iklan saja… Kenapa tidak nonton film?” tanyaku lagi.

“Sudah ku bilang, aku hanya asal nonton saja. Sudah jangan banyak bicara” jawab Taesun hyung dengan malas.

Ckck, aneh sekali. Menonton TV hanya untuk melihat iklan saja. Karena tidak ada pekerjaan lain, aku akhirnya ikut menonton bersama Taesun hyung.

Hyungku satu-satunya ini memang sangat aneh. Aku sendiri tidak bisa menebak apa yang sebenarnya menjadi kesukaannya. Ya seperti sekarang ini, ia hanya berdiam diri di depan TV tanpa mengetahui dengan jelas apa yang akan menjadi tontonannya.

“Hyung… Hyung…” gumamku pelan sambil menggeleng-gelengkan kepalaku. Sepertinya Taesun hyung tidak mendengarnya.

Aku kembali mengarahkan pandanganku pada TV. Di situ aku bisa melihat sebuah iklan produk susu formula bayi.

“Aigo… Neomu kyeopta…” lagi-lagi aku hanya bisa menggumam pelan sambil memperhatikan layar TV itu dengan seksama.

Hhh, aku ingin sekali mempunyai seorang adik. Padahal usiaku sekarang sudah menginjak 17 tahun. Di dalam kelurgaku, aku adalah anak bungsu. Aku hanya mempunyai satu orang hyung yaitu Taesun hyung. Itupun Taesun hyung sama sekali bukan tipe orang yang perhatian dengan dongsaeng-nya.

Tok tok tok…

Tiba-tiba dari arah luar terdengar seseorang mengetuk pintu rumah.

“Taemin-ah, buka pintunya…” perintah Taesun hyung padaku.

“Mwo? Shireo… Hyung saja” aku segera menolak mentah-mentah perintahnya. Ugh, apakah setiap dongsaeng harus mau di suruh-suruh sama hyung-nya! Shireo!

“Tadi hyung sudah memesan pizza, mungkin saja itu pengantar pizza. Kalau kau tidak mau membuka pintunya, pizzanya aku makan sendiri…” kata Taesun hyung cuek.

“Aish…” aku menggerutu kesal, namun tidak punya pilihan lain. Daripada tidak kebagian pizza?

Dengan malas aku akhirnya melangkahkan kakiku menuju pintu depan. Aku langsung membuka pintunya dan mendapati seorang berpakaian seragam pengantar pizza sedang berdiri di depan sana.

“Ini pesananannya” kata pengantar pizza itu.

“Ne” kataku sambil menerima pizza itu dari tangannya.

“Hihihi…” tiba-tiba entah dari mana aku mendengar suara tertawa cekikikan dari arah belakang pengantar pizza itu. Tak lama kemudian, sebuah kepala kecil mengintip di balik badan pengantar pizza itu.

“Aigo!” seruku kencang lalu meletakkan kotak pizza yang ku pegang itu di atas lantai. Dengan cepat aku mendekat ke arah pemilik kepala kecil itu.

“Arrrrghh… Kamu lucu sekali…” aku berjongkok di depan anak kecil itu sambil mengelus-elus kepalanya. Ia lalu tertawa. Aigo… Neomu kyeopta!

“Ahjussi, dia siapa?” tanyaku pada ahjussi pengantar pizza itu. Aku lalu menggendong anak kecil yang kira-kira masih berusia empat tahun itu.

“Ah, dia anakku…” jawab ahjussi itu malu-malu.

“Aish… Padahal kalau dia bukan anak siapa-siapa, aku yang akan merawatnya…” rajukku sambil mengerucutkan bibirku.

“Hahaha… Kamu ini bercanda saja…” kata ahjussi itu sambil tertawa pelan.

Hah? Siapa yang bercanda? Padahal aku benar-benar serius ingin merawat seorang anak kecil di rumahku ini.

“Ya sudah…” kataku pada ahjussi itu sambil menyerahkan kembali anaknya yang terlihat sangat menggemaskan itu. Ia lalu permisi pergi dan aku kembali masuk ke dalam rumah.

Aku lalu menyerahkan sekotak pizza itu pada Taesun hyung, lalu kembali duduk di sampingnya.

Taesun hyung mulai antusias membuka kota pizza itu, kemudian melahap sepotong pizza.

“Kau tidak mau?” tanya Taesun hyung padaku dengan mulut yang dipenuhi pizza. Ck, Taesun hyung kalau urusan makanan tidak pernah kalah.

“Aku tidak berselera lagi”

“Oh, baguslah” kata Taesun hyung lalu terus melahap pizza itu.

“Hyung, kapan kau menikah?” tanyaku kemudian.

“Uhukkk… Uhukkkk…” tiba-tiba Taesun hyung tersedak. Dengan cepat ia meraih segelas air minum yang ada di meja lalu meneguknya sampai habis.

“Ya! Taemin, kau ingin membuatku mati tersedak huh?” tanya Taesun hyung dengan sedikit emosi.

“Wae? Aku kan hanya bertanya saja… Cepatlah menikah hyung. Aku ingin mempunyai seorang ponakan…”

Pletak!

Sebuah jitakan mendarat dengan mulus di kepalaku.

“Awww…” aku meringis kesakitan sambil mengusap-usap kepalaku.

“Kau ini macam-macam saja! Pergi sana!” kata Taesun hyung, masih sedikit emosi.

“Aish… Hyung ini kenapa? A…” baru saja aku ingin melanjutkan perkataanku, Taesun hyung sudah mengambil ancang-ancang untuk kembali menjitakku. Dengan cepat aku berlari menjauh sebelum ia sempat melakukannya.

Ck, dasar aneh. Apanya yang salah kalau aku bertanya seperti itu? Andai saja aku sudah cukup umur, pasti aku yang akan menikah. Dasar!

Akhirnya aku memutuskan untuk berjalan-jalan keluar rumah sebentar. Kejadian akhir-akhir ini benar-benar menyebalkan!

+++

(Jiyeon P.O.V)

“Yijoon-ah… Ssstthhh… Sssssthhh… Jangan menangis” kataku pada Yijoon sambil mencoba membujuknya untuk berhenti menangis.

“Huaaaaaaaaa…” ia malah semakin menjadi-jadi.

“Astaga saengie, jangan menangis terus” aku jadi mulai panik. Aduh, ottokhe? Apalagi eomma-ku sedang tidak ada di rumah!

Aku terus menggendongnya ke sana ke mari mengelilingi rumah, namun ia tetap tidak ingin berhenti menangis.

Aku lalu mencoba untuk memberinya sebotol susu, tetapi ia tidak terlihat enggan meminumnya. Ia terus saja menangis dan menangis.

“Huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…” suara tangisannya semakin menjadi-jadi.

Aduh, aku bingung sekali! Berbagai cara sudah aku coba. Mulai dari memberinya mainan hingga memeriksa popoknya, sebab mungkin saja ia merasa tidak nyaman. Tapi hasilnya tetap sama. Nihil!

Aku lalu mencoba untuk mengajaknya berjalan-jalan mengelilingi kompleks perumahanku sambil terus menggendongnya.

“Huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…” suara tangisan Yijoon kini mengundang perhatian orang-orang yang berada di sekitar kompleks. Keringatku mulai bercucuran. Aduh, berhentilah menangis.

“Jiyeon, adikmu kenapa?” tanya ahjumma yang tinggal di samping rumahku.

“Molla… Dari tadi ia menangis terus” jawabku dengan wajah memelas pada ahjumma itu.

“Ya sudah, coba kau ajak ia jalan-jalan sebentar” ahjumma itu kembali menyarankan.

“Ne ahjumma, aku juga berpikiran begitu. Kalau begitu aku pergi dulu ahjumma…” pamitku pada ahjumma itu lalu mulai berjalan keliling kompleks.

“Huaaaaaaa…” Yijoon masih saja terus menangis.

“Yijoon, jangan menangis ya…” bujukku pada Yijoon sambil mengusap-usap kepalanya. Aku lalu menurunkannya dari gendonganku lalu mengajaknya berjalan.

“Huaaaaaaaaaaa…” lagi-lagi Yijoon hanya menangis. Keringatku semakin deras bercucuran di sekujur wajahku. Aduh, beginilah susahnya memiliki seorang adik kecil yang usianya baru menginjak tiga tahun, apalagi kalau eomma tidak ada di rumah dan malah sibuk memborong belanjaan di mall. Ck…

“Annyeong…” tiba-tiba seorang namja muncul dan langsung berjongkok di hadapan Yijoon. Eh? Bukannya itu Taemin, namja yang tinggal di blok sebelah?

Namja itu lalu mencoba berbicara pada Yijoon.

“Huaaaaaaa…” Yijoon masih tetap dengan kegiatan menangisnya.

“Adik kecil, jangan menangis ya…” kata Taemin sambil tersenyum pada Yijoon. Ia lalu mengusap-usap rambut Yijoon, tapi Yijoon masih menangis.

“Aigo…” kata Taemin lagi lalu mengangkat Yijoon dan menggendongnya. “Ssstttt… Sstttttthh…” Taemin lalu memeluk Yijoon di gendongannya, mencoba untuk membuatnya berhenti menangis.

Aku hanya terdiam di tempatku sambil terus melihat Taemin memperlakukan Yijoon.

‘Astaga, namja ini lembut sekali…’ gumamku dalam hati. Melihat perlakuannya pada Yijoon, aku jadi sedikit terpesona.

Sedikit demi sedikit, Yijoon mulai berhenti menangis hingga akhirnya ia benar-benar berhenti menangis.

“Nah, begitu! Anak manis tidak boleh menangis…” kata Taemin pada Yijoon. Yijoon terlihat sedikit tertawa. Melihat itu, entah mengapa aku merasa pipiku memerah. Eh? Dasar aneh.

“Gomawo” kataku pada Taemin.

“Ne” Taemin menanggapi kata-kataku sambil tersenyum. Omo… Senyumnya manis sekali! Seketika itu pula ia membuatku mematung di tempat.

“Oh iya, di sana ada penjual es krim. Kita ke sana ya…” kata Taemin pada Yijoon, lalu menggendong Yijoon menuju penjual es krim yang ia maksud. Namun tiba-tiba ia berhenti dan berbalik ke arahku.

Aku jadi sedikit salah tingkah saat melihat ia menatapku, namun tak lama kemudian ia juga menarik tanganku dan membawaku mendekat ke arah penjual es krim itu.

Deg.

Tiba-tiba aku merasakan jantungku berdegup kencang. Astaga, jangan bilang kalau aku menyukai namja ini. Hueeee…

Taemin memesan dua es krim dan membayarnya dengan uangnya, lalu ia mengajak kami untuk duduk di trotoar jalanan.

“Ini untukmu” katanya sambil menyodorkan salah satu es krim itu padaku.

“Gomawo” kataku lalu menerimanya dengan gugup.

Ia lalu membuka pembungkus es krim yang masih ada di tangannya lalu menyuapi Yijoon dengan lembut. Entah mengapa aku jadi sedikit iri pada Yijoon. Aku mulai menyuapkan es krim yang ada di tanganku pada mulutku sendiri.

“Kau tidak mau es krim?” tanyaku pada Taemin.

“Tidak usah. Kalian saja yang makan” jawabnya sambil terus sibuk menyuapi Yijoon. “Kau Jiyeon kan?” tanyanya lagi.

“Ne”

“Ck, aku tidak tahu kalau kau punya dongsaeng secantik ini” katanya santai. Omo… Lagi-lagi pipiku memerah. Aku ini aneh sekali! Padahal bukan aku yang ia maksud.

“Adik manis, namamu siapa?” tanya Taemin pada Yijoon. Aku melihat Yijoon hanya tersenyum malu-malu. Ish… Dasar anak kecil.

“Park Yijoon…” aku yang menjawab pertanyaannya.

“Ah, Yijoonnie…”

“Hihihihi…” aku mendengar Yijoon tertawa kecil. Aku melirik ke arahnya, dan Taemin sedang menggelitiki Yijoon sambil mengajaknya bercanda.

“Gomawo Taemin…” ucapku tulus pada Taemin, sebab ia telah banyak membantuku hari ini. Yeah, meskipun hanya sekedar membujuk Yijoon dan membelikan kami es krim.

“Cheonmaneyo… Oh iya, hari sudah sore. Kita pulang ya… Aku antar!” kata Taemin lalu bergegas menggendong Yijoon kembali. Aku masih terduduk di pinggir trotoar, namun lagi-lagi Taemin menarik tanganku dan membawa kami pulang.

“Kau tahu rumahku?” tanyaku ragu pada Taemin. Aku mulai agak risih, sebab satu tangan Taemin menggendong Yijoon dan tangannya yang lain masih menggenggam tanganku. Omo… Namja ini membuat jantungku berdetak tidak karuan.

“Tentu saja. Kau tinggal tidak jauh dari rumahku kan…” jawabnya. Benar juga, rumahku dengan rumahnya memang tidak begitu jauh, tapi kami bahkan tidak pernah bertegur sapa sebelumnya.

“Nah sudah sampai” kata Taemin saat kami tiba di rumahku dan akhirnya ia melepaskan tanganku dari genggamannya.

+++

(Taemin P.O.V)

“Nah sudah sampai” kataku pada mereka lalu memberikan Yijoon pada Jiyeon.

“Katakan gamsahamnida pada Taemin oppa…” Jiyeon menyuruh Yijoon. Yijoon melirik ke arahku sebentar, lalu kemudian tersenyum. Aigo…

“Kacamnida oppa…” kata Yijoon dengan suara cadelnya.

“Hahahaha…” aku tertawa pelan melihat tingkah lucunya sambil mengacak-acak rambutnya. “Ya sudah, oppa pulang dulu ya. Jiyeon, aku pulang dulu” aku pamit pada mereka berdua lalu segera pulang ke rumah.

+++

Besoknya sepulang sekolah, aku sengaja lewat di depan rumah Yijoon. Hmm, kira-kira anak itu sedang apa ya?

Iseng aku berjalan masuk melewati pagar dan mengintip ke jendela yang kira-kira terhubung ke ruang tamunya.

Di dalam sana, aku melihat Jiyeon yang sedang asyik dengan majalahnya, sementara Yijoon sibuk bermain di dekatnya.

Kebetulan jendela itu terbuka. Aku lalu melongokkan kepalaku ke dalam dan melambai-lambai ke arah Yijoon. Anak itu kebetulan melihat ke arahku

“Mmmuuuuaaaccchhhhhh…” aku bertingkah seolah-olah menciumnya dari arah jauh.

“Taemin?” Jiyeon akhirnya menyadari keberadaanku.

+++

(Jiyeon P.O.V)

Aku sedang bersantai sambil menjaga Yijoon di ruang tamuku lalu tiba-tiba aku mendengar suara seorang namja dari arah jendela.

“Mmmuuuuaaaccchhhhhh…”

Seketika itu pula aku berbalik dan mendapati kepala Taemin muncul di balik jendela. Eh? Apa yang ia lakukan?

Dan tanpa dikomando lagi, pipiku kembali memerah. Aku menunduk malu. Aish… Namja itu selalu saja membuatku jadi salah tingkah.

“Annyeong Jiyeon” sapanya dari arah jendela.

“Eh, annyeong…” jawabku dengan gugup.

Deg. Deg. Deg.

Detakan jantungku semakin tidak karuan. Omo… Aku deg-degan.

“Bagaimana kabar Yijoonnie?” tanya Taemin lagi.

“Ah, seperti yang kau lihat. Dia baik-baik saja” jawabku lagi. Aduh, mendengar suaranya saja sudah membuatku hampir meleleh. Ckckck, namja ini benar-benar membuatku jatuh hati.

“Oh iya, aku bisa sering-sering ke sini kan? Sekalian menjenguk Yijoon” katanya lagi. Wajahnya terlihat sangat sumringah. Menjenguk Yijoon ya? Hmm… Itu cuma alasannya saja. Pasti sebenarnya dia ingin sering-sering menemuiku. Hahaha.

“Ne. Sering-sering saja!”

+++

Benar saja. Baru tadi siang Taemin muncul tiba-tiba di rumahku, sorenya ia muncul lagi.

“Yijoon!” panggilnya dari arah luar. Aku merapikan sedikit penampilanku lalu berjalan keluar sambil menggendong Yijoon.

“Aaaa Yijoonnie…” kata Taemin lalu mengambil Yijoon dari gendonganku. “Kita jalan-jalan lagi ya…” lanjutnya. Lagi-lagi aku hanya terdiam di tempatku.

“Aish… Kau ini kenapa selalu ingin ditarik-tarik sih?” gerutu Taemin padaku, namun akhirnya ia menarik tanganku lagi dan membawa kami berjalan-jalan.

Deg. Deg. Deg.

Omo omo omo… Genggaman tangannya terasa begitu hangat.

+++

(Taemin P.O.V)

Aku senang sekali, Jiyeon ternyata membolehkanku untuk sering-sering datang menemui Yijoon. Seperti saat ini, aku sedang mengajak kakak beradik ini jalan-jalan keliling kompleks.

Aku jadi teringat sesuatu. Aku merogoh kantong celanaku lalu mengeluarkan sebatang coklat yang tadi aku sempatkan untuk membelinya sebelum mendatangi rumahnya.

“Jiyeon, ini untukmu…” aku menyodorkan coklat itu pada Jiyeon. Jiyeon lalu terdiam sebentar hingga akhirnya menerima pemberianku. Hmm, hitung-hitung sebagai ucapan terima kasih karena sudah mengizinkanku bermain dengan Yijoon.

+++

Hari demi hari ku lewati dan tanpa terasa aku sudah teramat sering mendatangi rumah mereka. Saat ini kami sedang bermain-main di teras rumah Jiyeon.

“Taemin…” tiba-tiba Jiyeon memanggilku saat aku asyik mengajak Yijoon bercanda.

“Hmm?”

+++

(Jiyeon P.O.V)

Taemin sering sekali mendatangi rumahku. Melihat gelagatnya, aku jadi bertambah yakin kalau sebenarnya Taemin menyukaiku. Hmm, tapi kenapa Taemin belum menyatakan perasaannya padaku? Ckck, mungkin dia masih malu-malu. Atau bagaimana kalau aku saja yang menyatakannya duluan?

“Taemin…” aku menegurnya yang sedang asyik bermain bersama Yijoon.

“Hmm?”

“Joahae…”

“Mwo?!” ia membelalakkan matanya ke arahku. Wae? Apa yang salah? Bukannya malah bagus?

+++

(Taemin P.O.V)

“Joahae…”

“Mwo?!” aku luar biasa terkejut saat mendengar pernyataannya. Apa aku tidak salah dengar?

“Jadi bagaimana?” tanyanya padaku.

“Bagaimana apanya?”

“Kau mau kan menjadi namjachingu-ku?”

MWO?!

Aku hanya bisa menatap yeoja itu dengan tatapan tidak percaya. Aku meneliti raut wajahnya, siapa tahu ia hanya bercanda.

“Taemin!”

“Ne!” tiba-tiba kata-kata itu keluar dari mulutku begitu saja saat ia mengagetkanku. Omo… Jangan bilang kalau ia beranggapan…

“Nah! Sudah ku duga! Kalau begitu sekarang kita sudah resmi berpacaran!”

Hah?! Yeoja ini… Belum sempat aku menjelaskan semuanya, ia sudah menghampiriku lalu menggamit lenganku.

Hhh, ya sudahlah. Tidak ada salahnya kalau aku berpacaran dengannya. Lagipula itu bisa membuatku semakin dengan Yijoon.

+++

(Jiyeon P.O.V)

Akhirnya aku dan Taemin resmi berpacaran. Hhh, sudah ku duga kalau ia memang menyukaiku. Dia selalu memberikanku coklat. Belum lagi ia senang menggandeng tanganku ke mana-mana.

Semenjak kami berpacaran, intensitas kunjungan Taemin ke rumahku semakin bertambah. Apalagi Taemin selalu mengajak Yijoon bermain. Hmm, rasanya seperti sudah berkeluarga saja. Hahahah.

Tapi lama kelamaan, Taemin malah keasyikan bermain dengan Yijoon hingga akhirnya dia sendiri lupa kalau ada aku bersama mereka. Ish… Lagi-lagi Yijoon membuatku iri. Padahal aku yeojachingu-nya.

“Taemin… Kenapa kau hanya bermain dengan Yijoon terus…” aduku padanya.

“Huh? Memang kenapa? Aku memang suka bermain dengan Yijoon. Kesukaanku itu bahkan melebihi segalanya…” jawabnya santai.

“Mwo?! Jadi kau lebih mementingkan bermain dengan Yijoon daripada aku?” ucapku dengan nada sinis.

+++

(Taemin P.O.V)

Aduh, gawat. Sepertinya Jiyeon cemburu pada Yijoon.

“Errr… Bukan begitu…”

“Lalu kenapa selama ini kau hanya asyik meladeni anak kecil itu saja?!”

Mendengar perkataan Jiyeon, keringat dinginku perlahan-lahan menetes.

“Sebenarnya kau cinta padaku atau tidak?!” kali ini Jiyeon bertanya dengan tegas.

Glek.

Aku menelan ludahku dalam-dalam. Ottokhe? Aku sendiri tidak yakin kalau aku mencintainya. Aku hanya terdiam, tidak berani menjawab apa-apa.

Aku melirik ke arah Jiyeon. Ia sedang memanyunkan bibirnya, dan tak lama kemudian ia mengambil Yijoon dan hendak berlalu meninggalkanku.

“Jiyeon…” aku mencegat tangannya dan saat ia berbalik ke arahku, aku mencium pipinya sekilas dengan cepat.

Chu~

Aku menunggu reaksinya. Tak lama kemudian, segaris senyuman terbentuk di wajahnya. Eh? Aku baru sadar kalau ternyata Jiyeon sangat cantik.

“Jadi kamu tidak marah kan?” tanyaku meyakinkan. Beberapa saat kemudian, ia mengangguk pelan.

Fiuhhhh… Syukurlah. Dengan begitu, aku masih bisa bermain dengan Yijoon lagi. Hmm, sepertinya aku juga harus mulai menumbuhkan perasaanku pada Jiyeon.

+++

“Taesun hyung… Kau tidak perlu repot-repot untuk cepat menikah” kataku pada Taesun hyung yang seperti biasa hanya sibuk menatap layar kaca. Ckck… Hyung-ku yang satu ini kasihan sekali. Di usianya yang sekarang, ia masih belum juga menikah. Ia lalu melirik tajam ke arahku.

“Wae hyung? Oh iya, mungkin aku yang akan duluan menikah daripada kamu hyung… Hahaha…”

Pluk!

Dan saat itu juga sandal jepit yang biasa Taesun hyung gunakan di rumah mendarat di atas kepalaku.

THE END


Sudah saya bilang,, ff ini jelek kan?? -_______________- salahkan mimpi saya yang menghasilkan mimpi setidak kreatif ini.. tapi sumpah,, taemin di mimpiku itu imut sekali.. hobinya main sama anak kecil.. >.< *plakkk!!*

Oke.. yang udah baca jangan lupa komen ya.. ^^ jelek2 begini juga berhak buat dikomenin.. okhayy??

Gomawo.. ^^

oh iya.. sekarang saya lagi pengen coba ngeksis di dunia pertwitteran.. hhohooo.. *semoga bisa keurus -_____-*

ada yg mau follow?? O.o *g ada!!*

oke,, kalau ada >>> @diandiandyu

heheheh.. ^^v

32 responses to “L.O.V.E.?

  1. HAHAHA…
    iy nih, kek kata suci un, ak mlah kasian sama si taesun! kaga laku2… hahaha… -BLETAK!!- *disambit sendal ma taesun*
    cerita’a aneh banget! *jujur* cuma G sreg sama si taemin, G bisa ngebayangin dy fanatik ma balita di bwh umur… jgn2 taem pedopil?? di hello baby kn sering dapet ‘worst’ appa, ha…ha…
    kasian jiyeon… xD
    y sudah, cuma skedar ninggalin jejak omm… aku baca ff mu yg ada key-nya y, hohoho… <-kurang ajar, suka'a bc ff yg castnya key doang

    • ya sudah,, nikahin taesun sono~ 😀
      yaelah,, kan udah dibilangin ni ceritanya emak jelek..
      tapi yang g bisa ku lupa si taemin,,
      dia imut banget.. >.< *plakkk!!/apadeh*
      oke oke,, terserah kamu sajalah~
      gomawo.. 😉

  2. Mimpi author kok bisa seunyu ini? *meratap
    bagus thor! Saya sampe simpen ini cerita di hp. Saya baca terus. Nice dream!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s