Harmonious

Harmonious


Author            :           Park Kyungjin

Cast                :           Shin Hyunra

SHINee – Choi Minho

Genre             :           Romance

Rating             :           PG-13

Length            :           One Shot

Disclaimer      :           Just own the story, not the casts

NB                  :           FF buat citra onnie.. hhuhuhuuu.. T-T sepertinya ff ini gagal.. mian onnie.. *bow bareng minah*

+++

(Hyunra P.O.V)

Arrrghhhh! Ternyata punya namjachingu seperti Minho sangat menyebalkan! Biarpun dia tampan, tapi sifatnya yang sering telat itu membuatku harus selalu mencoba bersabar.

Aku melirik jam tanganku yang entah sudah berapa kali aku lirik. Omo… Sudah satu jam lebih aku menunggu namja itu! Aku segera meraih ponselku yang ada di dalam tas dan menekan sejumlah nomor yang sudah sangat ku hapal itu.

Tuuuttt tuutttt tuuttttt…

Tidak ada jawaban. Baiklah, akan ku ulangi sekali lagi.

Tuuttttt tutttttt tutttttttttttttttt…

Sial! Dasar namja menyebalkan! Eomma, aku sudah kelaparan menunggu namja itu!

+++

(Minho P.O.V)

Aku membuka mataku dengan berat. Ugh, semalaman aku begadang. Aku bangkit dari tempat tidur dan ku lirik kalender yang ada di atas meja. Oh, ternyata hari ini hari libur, jadi aku tidak perlu masuk kuliah hari ini. Aku lalu melirik jam besar yang terpasang di dindingku. Masih pukul sembilan.

Aku yang tadinya berniat untuk bangkit dari tidurku yang indah ini akhirnya kembali memutuskan untuk melanjutkan tidurku. Aku membanting tubuhku dengan tidak sabar ke atas kasurku yang terasa sangat empuk ini. Aigo… Surga dunia…

Baru saja mataku hendak tertutup namun tiba-tiba aku merasakan ponselku berdering.

Dengan malas aku meraih ponsel yang ku letakkan dengan asal di tepi ranjangku itu. Aku melirik layar ponsel itu sekilas. Ugh, Hyunra. Mau apa yeoja itu menelponku sepagi ini? *author : hedehh si mino.. udah jam 9 masih dibilang pagi.. -______-*

Karena malas, aku akhirnya menaruh kembali ponsel tersebut ke tepi ranjang lalu mencoba untuk memejamkan kembali mataku yang masih mengantuk ini.

Tak beberapa lama kemudian, ponselku lagi-lagi berdering. Ah, nanti sajalah aku menghubunginya kembali. Aku benar-benar mengantuk. Akhirnya ponsel itu berhenti berdering dan aku bisa kembali tidur dengan nyenyak.

Tapi ada sesuatu yang mengganjal di pikiranku. Apa ya? Dalam keadaan masih memejamkan mata aku mencoba untuk mengingat-ingat sesuatu yang sepertinya aku lupakan.

“Arrrrgghhhhhhhh!” tiba-tiba aku teringat pada janjiku dengan yeojachingu-ku, si Hyunra itu. Hari ini aku janji akan mengajaknya jalan-jalan seharian. Aku kembali melirik jam dindingku dengan cemas. Omo… Berarti aku sudah terlambat satu jam lebih.

Dengan segera aku menyibakkan selimut yang membungkus tubuhku lalu berjalan menuju lemari. Aku memilih baju dengan asal dan memakainya dengan terburu-buru. Setelah itu, aku langsung berlari menuju mobilku dan melajukannya ke tempat janjianku dengan Hyunra tanpa mandi dan cuci muka sebelumnya. Biar saja, daripada Hyunra mengamuk.

Aku memacu mobilku dengan ugal-ugalan dan lima belas menit kemudian aku sudah tiba di tempat tujuan. Aku memarkirkan mobilku dengan asal dan segera berlari menghampiri Hyunra yang sedang duduk di kursi halte itu.

Aku mendekat lalu menyapanya dengan takut-takut.

“Chagi…”

Ia menoleh sekilas, lalu menatapku dengan tatapan ingin membunuh. Satu… Dua… Tiga…

“YA! CHOI MINHO! KAU SUDAH MEMBUATKU LUMUTAN GARA-GARA TERLALU LAMA MENUNGGU! KAU INI SELALU SAJA TERLAMBAT! AISH!” sudah ku duga, yang terjadi selanjutnya pasti aku akan mendapatkan omelan beruntun dari mulutnya yang lebar itu. Astaga… Rasa-rasanya gendang telingaku hampir pecah dibuatnya. Aku hanya bisa memasang wajah ingin dikasihani pada yeoja ini.

Setelah aku memastikan bahwa semua omelannya sudah selesai, aku akhirnya membuka mulut.

“Mianhae chagi… Aku telat bangun tidur. Semalam aku begadang, tugas kuliahku banyak sekali…” kataku mencoba mencari-cari alasan. Hhh, aku berbohong. Sebenarnya semalam aku begadang karena menonton pertandingan sepak bola. Hhuhuhuhuu…

“Ah, sudah ku kira. Kau pasti masih tidur. Dasar tukang tidur!” katanya lagi sambil mengerucutkan bibirnya. Ia lalu membuang pandangannya dariku. Aduh, ottokhe?

“Hhh, mianhae… Kalau begitu apa yang harus aku lakukan agar kau mau memaafkanku?” aku mencoba memberinya sebuah penawaran. Ia terlihat berpikir sejenak. Aduh, kenapa tiba-tiba perasaanku jadi tidak enak?

“Traktir aku makan sepuasnya!” katanya kemudian. Aish… Sudah ku duga…

“Ya sudah, kajja!” kataku lalu menariknya menuju mobilku.

+++

(Hyunra P.O.V)

Akhirnya namja itu datang juga. Hhh, sudah ku duga, pasti ia terlambat karena asyik dibelai oleh selimut tidurnya itu. Ugh!

Aku memarahinya sampai semua unek-unekku keluar. Aku agak kasihan juga melihat wajahnya saat aku memarahinya, tapi biarlah. Ia memang sudah keterlaluan sampai membuatku menunggu selama ini.

“Hhh, mianhae… Kalau begitu apa yang harus aku lakukan agar kau mau memaafkanku?” katanya padaku.

Wah, tawaran yang bagus. Aku berpikir sejenak namun tiba-tiba aku merasakan cacing-cacing di perutku ini berbunyi. Hhh, menunggunya membuatku kelaparan.

“Traktir aku makan sepuasnya!”

Ia terlihat membelalak, namun akhirnya buru-buru memperbaiki ekspresinya.

“Ya sudah, kajja!” katanya kemudian lalu menarikku menuju mobilnya.

Ia melajukan mobilnya dengan cepat hingga membuatku sedikit khawatir.

“Chagi, pelan-pelan saja…” kataku mengingatkannya.

“Tidak bisa, perutmu itu harus segera ditangani”

Pletak!

Aku menjitak kepalanya dengan keras.

“Omo… Kenapa kau malah menjitakku…” katanya sambil mengelus-elus kepalanya dengan satu tangan, sementara tangannya yang lain masih sibuk menyetir.

“Kau mengejekku huh?!”

“Ya sudah ya sudah…” katanya lalu memonyongkan bibirnya.

Aku tersenyum kecil melihat ekspresinya. Hhh, namja ini… Biarpun ia selalu membuatku emosi, tapi aku tidak pernah bisa betul-betul marah padanya.

Kami memang sering mengadu mulut, tapi kami tidak pernah bertengkar hebat. Ia namja yang cukup baik, sebab tiap kali aku marah, ia yang selalu mengalah.

Aku mengusap-usap rambutnya dengan lembut. Hahaha. Pasti jitakanku tadi terasa sakit.

+++

(Minho P.O.V)

Aish… Yeoja ini. Bukannya berterima kasih karena aku telah berusaha mengantarnya dengan cepat ke sebuah restoran, ia malah menjitak kepalaku dengan keras.

Aku hanya bisa mengusap-usap kepalaku dan lebih memilih untuk diam. Hhuhuhuu, malang betul nasibku memiliki yeojachingu seperti Hyunra.

Tiba-tiba aku merasakan ada yang membantu mengusap-usap kepalaku. Aku lalu melirik ke arah Hyunra yang duduk di sampingku dan benar saja, ia sedang mengelus-elus rambutku pelan, dan tersenyum tipis. Manis sekali.

Hhh, itu dia yang membuatku menyayanginya. Dibalik sifatnya yang keras itu tersembunyi sifat penyayang. Hanya saja, ia jarang menampakkannya.

Kami akhirnya tiba di sebuah restoran dan aku segera membawa yeoja kelaparan ini menuju salah satu kursi yang kosong. Selama berjalan, ia terus menggandeng lenganku.

+++

(Hyunra P.O.V)

Akhirnya kami tiba di sebuah restoran yang kami tuju. Ia membukakan pintu mobil lalu mengajakku untuk masuk ke restoran tersebut. Aku menggandeng lengannya hingga aku merapat padanya.

Tiba-tiba aku mencium bau yang aneh dalam jarak sedekat ini dengan Minho.

“Minho, jangan bilang kau tidak sempat mandi…” bisikku tajam di dekat telinganya.

Ia menoleh dengan cepat ke arahku. Raut wajahnya menunjukkan kalau ia sangat terkejut.

“Darimana kau tahu?” tanyanya pelan.

“Astaga… Siapapun yang mencium bau badanmu pasti tahu kalau kau belum mandi. Dasar!”

Mendengar perkataanku, ia malah cengengesan tidak jelas. Hhh, namja ini…

“Biar tidak mandi pun aku tetap terlihat tampan…” katanya sambil mengedipkan mata kanannya ke arahku.

“Ih, dasar…”

Kami memilih untuk duduk di sudut ruangan. Minho memanggil salah satu waitress dan mulai memesan makanan.

“Kau mau apa?” tanya Minho padaku sambil menyodorkan kertas berisi sederetan menu. Aku memperhatikan menu yang tersedia itu. Omo… Semuanya enak.

“Oke, aku pesan…” kataku sambil menyebutkan sederetan menu makanan. Waitress itu terlihat kewalahan mencatat pesananku. Apa aku memesan makanannya kebanyakan?

Aku lalu melirik ke arah Minho. Ia hanya melongo di tempat duduknya.

+++

(Minho P.O.V)

Astaga, yang benar saja! Apa ia tidak sadar sudah memesan makanan sebanyak itu? Dia ini sebenarnya yeoja atau bukan?

“Salah sendiri kenapa kau membuatku menunggu terlalu lama. Alhasil aku sangat kelaparan” katanya santai dengan wajah yang sama sekali tidak ada raut bersalah itu.

Tak lama kemudian, pesanan kami datang. Seketika itu pula meja dipenuhi dengan berbagai jenis makanan. Tanpa dikomando lagi, Hyunra mulai menyuapkan satu per satu makanan itu ke dalam mulutnya.

Aku yang sedari tadi juga belum memasukkan apa-apa ke dalam perutku mendadak kehilangan selera makan saat melihatnya makan selahap itu. Astaga…

“Pelan-pelan…” aku memperingatkannya, namun ia terlihat tidak peduli.

“Uhukkk… Uhukkk…” tiba-tiba Hyunra tersedak. Dengan panik ia mulai mencari-cari keberadaan minuman yang sudah di pesan. Aku jadi ikut-ikutan panik dan juga ikut mencari-cari minuman yang ternyata tersembunyi di balik mangkok besar.

“Ini” kataku sambil menyodorkan minuman itu padanya. Dengan cepat ia menyambar minuman itu dari tanganku dan meneguknya sekaligus sampai habis.

“Sudah ku bilang, pelan-pelan…” kataku lagi. Ia hanya menoleh sebentar sambil memamerkan deretan giginya, lalu kembali melanjutkan aktivitasnya melahap makanan-makanan ini.

“Kau tidak makan?” katanya dengan mulut yang dipenuhi makanan. Aku hanya menggeleng pelan, namun tiba-tiba ia menyodorkan sesendok makanan lalu memaksaku untuk membuka mulut. Dengan malas aku membiarkan ia menyuapiku dengan makanan yang menurutku sudah tidak ada rasanya lagi itu.

“Aku kenyang…” katanya saat semua makanan itu sudah habis. Aku lalu memanggil kembali seorang waitress. Aku merogoh kantong celanaku.

Aduh, gawat! Sepertinya aku lupa membawa dompetku saking buru-burunya.

+++

(Hyunra P.O.V)

Minho memanggil kembali seorang waitress. Hmm, pasti ia ingin membayar semuanya. Aku melihatnya tengah merogoh saku celananya namun tiba-tiba raut wajahnya berubah menjadi cemas. Ada apa?

Minho lalu berdiri dari tempatnya dan mengajak waitress itu untuk menjauh dari tempat dudukku ini.

“Minho!”

“Tunggu sebentar” katanya sambil mengisyaratkanku untuk tetap di tempat. Ada apa?

Beberapa saat kemudian, Minho kembali.

“Kajja…” katanya sambil menarikku dan berjalan keluar dari restoran itu. Kami kembali masuk ke dalam mobilnya.

“Tadi itu kenapa?” tanyaku penasaran pada Minho saat ia mulai melajukan mobilnya.

“Ah, kenapa apanya?”

“Yang tadi. Kenapa kau berbisik-bisik pada waitress itu?”

“Ah, tidak ada apa-apa. Oh iya, kita langsung pulang saja ya”

“Oh, ya sudah…” kataku padanya. Ia lalu mengantarku sampai di rumah.

+++

(Minho P.O.V)

Fiuhhh… Untung saja pihak restoran itu mau menerima ponselku sebagai jaminannya. Sungguh memalukan, aku benar-benar lupa membawa dompetku sementara Hyunra memesan banyak sekali makanan. Apalagi restoran itu adalah restoran bintang lima yang harga makanannya juga tidak kalah eksklusif. Tapi yang paling penting, Hyunra tidak mengetahuinya.

Aku terus berusaha menyembunyikan hal itu darinya hingga akhirnya ia tidak lagi mempertanyakan hal itu. Ugh, rasanya malu kalau sampai Hyunra mengetahuinya.

Aku lalu mengantar Hyunra sampai ke rumahnya.

“Oh iya, besok aku ingin ke toko buku. Kau mau kan mengantarku?” kata Hyunra sebelum turun dari mobilku.

“Besok? Pukul berapa?” tanyaku padanya.

“Nanti saja aku menelponmu dan memberitahu kapan waktunya. Oke?”

“Ah, jangan menelponku. Ponselku hilang…” kataku lagi-lagi berbohong, padahal ponselku itu sudah ku berikan pada pihak restoran tadi.

“Jinjja? Omo… Ya sudah, kalau begitu aku menunggumu di taman kota pukul empat sore. Bisa?”

“Ah tentu saja bisa. Aku akan datang”

“Baiklah. Ingat, jangan sampai terlambat lagi ya!”

“Hehehe. Sippp…”

+++

Hari ini aku ada janji dengan Hyunra untuk mengantarnya ke toko buku. Hmm, kali ini aku tidak boleh terlambat. Aku sudah mempersiapkan segala sesuatu hingga semuanya beres. Aku lalu melirik jam tanganku. Hmm, masih ada waktu sekitar satu setengah jam lagi dari waktu yang telah dijanjikan.

Aku mencoba untuk bersabar menunggu hingga lama-kelamaan aku kembali merasa mengantuk. Hmm, aku pikir waktunya masih lama. Ya sudah, lebih baik aku tidur dulu sejenak.

+++

(Hyunra P.O.V)

Aku kembali melirik jam tanganku. Hhh, sudah setengah jam berlalu dari waktu yang dijanjikan, namun Minho belum juga datang. Lagi-lagi namja itu terlambat. Atau, apa ia lupa?

Aku mencoba untuk menunggunya beberapa saat lagi.

Astaga, saat ini waktu menunjukkan pukul lima sore dan namja itu masih belum muncul juga. Minho, sampai kapan kau terus seperti ini? Lagi-lagi ia tidak bisa datang tepat waktu.

Baiklah, aku akan menunggunya beberapa saat lagi.

+++

(Minho P.O.V)

Syukurlah, aku bisa bangun dari tidurku dan saat aku melirik jam, aku rasa aku tidak akan terlambat lagi.

Aku melangkah dengan santai menuju mobilku dan melajukannya menuju taman kota, tempat aku dan Hyunra janjian kemarin.

Bruggh brughh brughh…

Tiba-tiba mesin mobilku berbunyi aneh dan setelah itu, mobil ini berhenti seketika. Astaga, jangan katakan kalau mobil ini mogok? Aku turun dari mobil dan membuka kapnya. Asap hitam langsung mengepul keluar saat aku membukanya.

Ada apa dengan mobil ini? Setauku mobil ini tidak pernah bermasalah? Aduh, aku sama sekali tidak mengerti dengan urusan mesin.

Aku melirik jam tanganku. Ck, waktu yang tersisa tinggal lima belas menit lagi hingga aku tidak terlambat sampai di taman kota. Ottokhe?

Aku lalu berlari menuju telepon umum yang ada di pinggir jalan dan menghubungi asuransi mobilku.

Beberapa menit kemudian, pihak asuransi mobil itu datang menemuiku. Ia memeriksa keadaan mobilku.

“Bagaimana?” tanyaku padanya.

“Sepertinya ini harus dibawa ke bengkel…”

“Mwo?! Aish… Berapa lama?”

“Entahlah…”

“Ya sudah, bawa ke bengkel sekarang. Palli!” kataku dengan sedikit emosi. Aku memutuskan untuk ikut dengan mereka. Hhh, semoga saja mobil ini cepat diperbaiki.

Sesampainya di bengkel, aku menyuruh mereka untuk memperbaiki mobilnya dengan cepat. Sesekali aku melirik jam tanganku. Astaga, lagi-lagi aku terlambat. Hyunra pasti marah padaku…

Sudah lama aku menunggu mobil itu diperbaiki hingga akhirnya aku kehilangan kesabaranku.

“Berapa lama lagi mobil itu diperbaiki?” tanyaku pada mereka.

“Entahlah. Mesinnya rusak…” jawab salah satu dari mereka.

“Sial!”

Aku akhirnya memutuskan untuk tidak lagi menunggu mobil itu dan berlari keluar bengkel lalu mencari sebuah kendaraan umum yang bisa membawaku menuju taman kota. Gawat. Aku sudah terlambat beberapa jam.

“Sial sial sial!” aku tidak henti-hentinya mengumpat. Kenapa di saat seperti ini aku sama sekali tidak menemukan kendaraan umum!

Akhirnya aku mencoba untuk berlari secepat mungkin menuju taman kota. Hhh, letaknya tidak begitu jauh dari bengkel ini.

Aku terus berlari sekuat tenaga. Rasa-rasanya tenagaku sudah hampir habis, namun aku terus berusaha untuk berlari secepat mungkin. Ya Tuhan, aku sudah berjanji padanya untuk datang tepat waktu. Kenapa aku selalu sulit untuk menepati janji?

Hari sudah hampir gelap. Aku terus memacu langkahku hingga akhirnya aku tiba di taman kota.

Hossshh… Hosshhh…

Aku mengambil napas sebentar lalu segera berjalan menuju bangku yang selalu ditempati Hyunra untuk menungguku.

Aku sama sekali tidak menemukan Hyunra di sana. Yang aku temukan di bangku itu hanya sepucuk surat. Aku membaca surat itu dengan perasaan khawatir.

Choi Minho, kau terlambat lagi.. Padahal kau sudah janji padaku untuk tidak datang terlambat.. Ya sudah,, mungkin kau sibuk hingga akhirnya kau tidak bisa datang tepat waktu..

Aku yang salah.. Selama ini aku selalu merepotkanmu..

Tadi aku mencoba untuk menghubungi ponselmu.. Aku lupa kalau kau sudah mengatakan kalau ponselmu itu hilang.. Tapi ada seseorang yang menjawab teleponku..

Tadinya aku berpikir kalau itu kamu,, tapi aku sangat terkejut saat mengetahui kalau yang menjawab teleponku itu adalah pihak restoran yang kemarin..

Hhh, kenapa kau tidak bilang kalau kau lupa membawa dompet dan malah memberikan ponselmu pada mereka.. Sungguh, aku sangat merasa tidak enak.. Padahal aku yang banyak makan..

Aku jadi berpikir kalau selama ini aku memang terlalu sering merepotkanmu.. Dan aku juga sudah kehabisan kesabaran untuk menunggumu..

Choi Minho,, kita putus saja ya.. Dengan begitu,, kau tidak perlu lagi repot-repot mengurusiku dan aku juga tidak perlu lagi menunggumu..

Mianhae kalau keputusanku ini tiba-tiba.. Tapi ku rasa ini yang terbaik..

Hyunra

Aku meremas surat itu dan membuangnya dengan asal ke atas tanah. Pabo! Kenapa mesti memutuskanku hanya karena masalah ini?!

Tanpa pikir panjang aku memutuskan untuk mendatangi rumahnya. Aku berlari ke arah jalan dan berniat untuk memberhentikan sebuah taksi.

Saat aku menyebrangi jalan, tiba-tiba aku melihat sebuah mobil sedan yang dipacu dengan ugal-ugalan ke arahku.

Kejadiannya berlangsung sangat cepat.

Bersamaan dengan suara decitan ban, aku hanya merasakan sedan itu menyambar tubuhku dengan kasar, lalu tubuhku terbaring di atas jalanan dan pandanganku memudar hingga akhirnya aku tidak merasakan apa-apa lagi.

+++

(Hyunra P.O.V)

Ya, aku rasa ini keputusan yang terbaik. Aku memang sudah tidak bisa lagi bersabar saat Minho membuatku terus menunggunya. Lagipula selama ini aku selalu merepotkannya. Jadi, putus adalah jalan yang terbaik.

Aku melangkahkan kakiku dengan lunglai menjauh dari taman. Perlahan-lahan air mataku mulai menetes membasahi pipiku.

Belum jauh aku melangkah meninggalkan taman tiba-tiba aku mendengar suara decitan ban yang memekakkan telinga.

Bughhh!

Aku juga mendengar sesuatu yang seperti ditabrak. Aku menoleh ke belakang dan orang-orang yang berada di sekitar taman tiba-tiba berlari dan berkerumun di suatu titik.

Apa yang terjadi?

Karena penasaran, aku akhirnya memutuskan untuk ikut ke dalam kerumunan tersebut.

“Apa yang terjadi?” tanyaku pada salah satu orang yang ada di situ.

“Ada seseorang yang tertabrak” jawab orang itu.

Aku semakin mencoba untuk menembus kerumunan manusia yang sangat padat itu. Saat aku berhasil menembusnya, aku lalu memusatkan pandanganku pada sesosok namja yang terbaring tak sadarkan diri dengan wajah dan tubuh yang bersimbah darah.

Aku memperhatikan namja malang itu dengan seksama hingga akhirnya aku menyadari bahwa aku sangat mengenal namja itu!

“Minho!” jeritku sambil mengguncang-guncang tubuh Minho. Ya Tuhan, ada apa ini? Kenapa ini bisa terjadi?

Aku menangisi Minho yang keadaannya sangat mengkhawatirkan itu. Beberapa saat kemudian, sebuah ambulance datang dan membawa sosok Minho menuju rumah sakit. Aku juga ikut bersama rombongan pihak kesehatan itu.

+++

Aku menunggu kabar Minho di depan ruang perawatannya. Sudah berjam-jam Minho berada di dalam sana namun belum ada tanda apa-apa.

Beberapa saat kemudian, seorang dokter keluar dari ruangan itu. Dengan cepat aku menghampiri dokter itu.

“Bagaimana keadaannya dokter?” tanyaku buru-buru.

Dokter itu terdiam sejenak, namun akhirnya memberiku instruksi untuk masuk ke dalam ruangan dan memeriksanya sendiri. Tiba-tiba perasaanku semakin bertambah tidak enak.

Saat aku masuk ke dalam, aku mendapati Minho yang sedang terbaring lemah di atas tempat tidur. Aku mendekat ke arahnya perlahan. Lagi-lagi air mataku jatuh tanpa bisa ku cegah. Aku merasa sangat bersalah.

“Chagi…” tiba-tiba Minho menggumam. Dengan cepat aku mendekat ke arahnya.

“Ne chagi, aku disini…” kataku sambil menggenggam tangannya. Aku melihat ia mencoba untuk berbicara lagi, namun alat bantu pernapasan yang terpasang di mulutnya itu membuatnya kesulitan.

“Mianhae…” katanya lirih hingga membuat air mataku semakin tumpah.

“Minho, tidak usah minta maaf seperti itu. Aku yang salah…”

“Chagi, kau tidak akan memutuskanku kan?” tanyanya dengan susah payah. Mendengar perkataannya, aku menggeleng-geleng dengan cepat.

“Ne! Kau masih namjachingu-ku! Jadi ayo cepatlah sembuh!” seruku padanya. Ia hanya tersenyum sekilas, namun lama kelamaan ia memejamkan matanya.

“Minho? Minho?” aku mengguncang-guncang tubuhnya perlahan. Tidak ada reaksi.

“Minho!” aku semakin mengguncang-guncang tubuhnya, namun tetap saja ia tidak bergerak. Rasa khawatir mulai menghinggapi diriku. Ya Tuhan, apa yang terjadi padanya?!

Aku segera berlari keluar ruangan dan memanggil-manggil dokter dengan kalap. Tak berapa lama kemudian, serombongan dokter beserta perawatnya kembali memasuki ruangan tersebut.

Astaga, semoga tidak terjadi apa-apa.

Kali ini aku ikut masuk ke dalam ruangan. Aku hanya bisa menangis sambil terus berdoa di dalam hati sementara dokter itu memeriksa keadaan Minho. Tak lama kemudian, dokter itu mendekat ke arahku.

“Ada apa dengannya?” tanyaku takut-takut pada dokter itu.

Dokter itu lalu membisikkan sesuatu di dekat telingaku. Aku mencoba untuk mencerna kata-kata dokter itu barusan. Mwo?!

Aku mendekat ke arah Minho dengan cepat.

Pletak!

Aku menjitak kepala namja itu dengan geram. Seketika itu pula Minho kembali membuka matanya.

“Aish… Lagi-lagi kau menjitakku… Padahal aku sedang sakit…” rintihnya sambil mengusap-usap kepalanya.

“KAU INI MEMBUATKU KHAWATIR SAJA! AKU PIKIR KAU KENAPA-NAPA! TERNYATA KAU HANYA SEDANG TIDUR! DASAR TUKANG TIDUR!”

Ia hanya bisa terdiam sambil mengerucutkan bibirnya. Tangannya tidak henti-hentinya mengusap kepalanya yang sudah ku jitak itu.

“Kau ini tega sekali…” katanya akhirnya.

Aku menarik salah satu kursi dan duduk di samping ranjangnya. Aku hanya bisa membantunya mengusap-usap kepalanya.

“Hehehe… Mianhae… Makanya jangan membuatku khawatir…”

Segaris senyuman akhirnya terbentuk di bibirnya.

“Saranghaeyo, yeojachingu-ku yang galak dan jago makan… Hehehe…”

“Ih… Dasar… Nado saranghaeyo, tukang tidur!”

 

THE END


FF g mutu.. hueeeeee.. T-T *nangis di kaki citra onn* mianhae onnie.. ini bonus cipokannya mino dah~ *plakkk!!*

Oke,, yang udah baca komen ya.. Jadilah reader yang baik,, okhayy?? komennya pasti saya bales kok.. 😉

oiya,, saya punya twitter.. 😀 *promosi* >>> @diandiandyu

45 responses to “Harmonious

  1. HUAHAHAHAHAHAHA
    endingnya bikin ngakak
    gila..gila..
    ku pikir minho bkal mati
    eh taunya cuman tidur
    lagi sedih-sedih jadi ngakak gara2 ending

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s