Clicking the Blitz

Clicking the Blitz


Author            :           Park Kyungjin

Cast                :           SHINee – Lee Jinki

Kim Rinhae

Other Cast     :           Other SHINee member

Genre             :           Dark, Angst

Rating             :           PG-15

Length            :           One Shot

Disclaimer      :           Just own the story, not the casts

Warning         :           FF STRESS!! CERITA ABAL!! ANEH!! GAJE!!

NB                  :           Lia,, pinjem namanya ya saengi.. hehe.. ^^v

+++

(Jinki P.O.V)

Saat ini aku sudah berada di penghujung SMA. Jadi sebentar lagi aku akan merasakan yang namanya bangku kuliah. Hhh, aku sudah tidak sabar.

Menyadari hal itu, aku jadi semakin rajin belajar. Aku juga bersemangat untuk mengukir prestasi di mana-mana. Aku juga berada di peringkat ke dua di satu sekolahan. Hmm, selanjutnya aku harus merebut peringkat pertama itu.

Aku memang menggilai semua mata pelajaran. Bisa dibilang aku adalah rajanya. Tapi sayang aku punya seorang saingan. Kalau tidak salah namanya Kim Rinhae. Yeah, dia siswi kelas sebelah.

Walaupun tingkatan kelasnya masih di bawahku, tapi ternyata dia cukup tangguh juga. Dia jugalah yang menduduki peringkat pertama itu. Semester ini dia mengalahkanku. Padahal semenjak pertama kali ada di sekolah ini, akulah yang menduduki peringkat pertama.

Ya sudahlah. Sekali-kali melepaskan peringkat pertama itu juga tidak apa-apa. Intinya, aku akan berjuang kembali di semester akhir depan.

Aku memang harus selalu berprestasi. Bagaimana tidak, keluargaku bukan orang yang berada. Aku bisa bersekolah hanya karena beasiswa yang rutin aku terima. Itupun harus aku bayar dengan prestasi yang memuaskan. Hhh, intinya, aku hanya ingin membuat appa dan eomma-ku bangga.

Yang ada di pikiranku hanya belajar dan belajar, oleh karena itu, aku jadi manusia kurang sosialisasi. Aku bahkan tidak mengenali sebagian besar orang-orang yang bersekolah di sini, kecuali orang-orang yang memang selalu terlihat tidak biasa. Ya, seperti Kim Rinhae itu. Aku bahkan baru mengenalnya saat ia menduduki peringkat pertama.

Selain Rinhae, ada beberapa orang lagi yang mungkin aku kenali. Seperti Kim Kibum. Siapa yang tidak mengenal dirinya? Dia itu anak dari pemilik sekolah ini. Aku mengenalnya karena ia selalu menggangguku dengan meminta contekan. Ugh… Padahal otaknya sama sekali nihil, tapi karena peran appa-nya itulah maka ia bisa berada di kelas yang tingkatannya paling tinggi sepertiku. Ckckck.

Saat jam istirahat seperti ini, aku hanya menghabiskannya dengan bertapa di perpustakaan sekolah. Di perpustakaan sebesar itu masih banyak buku pelajaran yang belum aku baca. Pokoknya aku harus membaca lebih banyak buku.

Aku lalu mengambil tempat di sudut perpustakaan. Tempat ini memang menjadi tempat favoritku. Aku duduk di sana dan mulai membuka lembaran demi lembaran buku tebal yang ada. Aku hanyut ke dalam bacaanku hingga seseorang datang dan mengusikku.

“Annyeong, boleh aku duduk di sini?” kata seorang yeoja. Aku mendongakkan kepalaku dan mendapatinya sedang menunjuk-nunjuk bangku yang ada di sampingku.

“Silahkan…” kataku singkat, lalu dengan segera yeoja berkacamata itu duduk di sampingku.

“Gomawo” katanya lagi. Aku hanya mengangguk sebentar lalu mencoba untuk kembali konsen pada bacaanku.

Ternyata gagal. Pikiranku jadi sedikit terganggu dengan kehadiran yeoja ini. Aku meliriknya dan ia terlihat sedang asyik dengan buku bacaannya. Aku lalu memperhatikan wajahnya dengan seksama. Eh? Bukannya dia Kim Rinhae?

+++

(Rinhae P.O.V)

Aku baru saja tenggelam dalam bacaanku namun tiba-tiba namja yang duduk di sampingku itu mengajakku berbicara.

“Kamu Kim Rinhae kan?” tanyanya padaku.

“Ne. Wae?”

“Ah, kamu yang menduduki peringkat pertama semester ini kan?” tanyanya lagi. Aku lalu memperhatikan dengan seksama namja yang ada di sampingku ini. Astaga, dia kan Lee Jinki! Namja terpintar di sekolah ini.

“Ah, aku tahu! Kamu pasti Lee Jinki kan?!”

“Ne” ia menganggukkan kepalanya.

“Senang berkenalan denganmu” kataku lagi lalu mengulurkan tanganku padanya. Ia pun menyambutnya dan menjabat tanganku.

“Oh iya, kamu sedang baca apa?” tanyanya sambil melihat brosur yang sedang aku pegang.

“Ah, ini tawaran untuk bebas tes saat memasuki kuliah nanti”

“Oh ya? Memangnya kamu mau mengambil jurusan apa?”

“Kedokteran” jawabku sekenanya.

“Ohh…” ia hanya berkata seperti itu lalu kembali sibuk dengan bacaannya. Ck, dasar namja yang aneh.

+++

(Jinki P.O.V)

Mwo?! Bebas tes untuk jurusan kedokteran? Artinya yeoja ini ingin mengambil jurusan yang sama denganku? Ck, hal ini tidak boleh dibiarkan.

Padahal sebenarnya aku juga ingin mendapatkan tawaran tersebut, dan setiap sekolah hanya bisa mengutus satu orang. Ck, kalau yeoja ini yang mendapatkannya, bisa tamat riwayatku. Apalagi hanya itu jalur satu-satunya untuk mendapatkan beasiswa.

Perasaan cemas mulai menghinggapi diriku. Pokoknya aku tidak boleh kalah darinya!

Kriiingggggg…

Bel tanda jam istirahat usai akhirnya berbunyi.

“Jinki, aku ke kelas dulu ya” pamit Rinhae padaku. Aku hanya menatapnya datar, tidak memberikan tanggapan apa-apa.

Saat yeoja itu sudah berlalu dari pandanganku, aku juga memutuskan untuk segera menuju ke kelasku sendiri. Hmm, sehabis ini ada ujian fisika.

Park songsaenim memasuki kelas dan langsung menginstruksikan kami untuk mempersiapkan diri.

“Taruh semua buku kalian di laci. Dan ingat, jangan sampai ada yang menyontek ataupun memberi contekan, sebab keduanya akan mendapatkan ganjaran yang sama” kata Park songsaenim memperingatkan kami. Park songsaenim memang tipikal guru yang disiplin.

Tak lama kemudian, lembar soal dan lembar jawaban dibagikan. Aku mulai mengerjakan soal demi soal.

Tak terasa waktu sudah satu jam berlalu. Aku melirik jam tanganku. Hmm, kira-kira waktu yang tersisa masih satu jam lagi dan aku sudah hampir menyelesaikan semua soal. Ujian fisika memang tidak sulit.

Pluk!

Tiba-tiba aku merasakan ada seseorang yang melempariku dengan kertas. Aku menoleh ke belakang dan mendapati Kibum sedang menatapku penuh arti. Ck, pasti lagi-lagi ia ingin meminta contekan.

Aku membalikkan tubuhku ke depan dan kembali berkonsentrasi pada lembar soalku. Untuk saat ini aku tidak ingin memberinya contekan. Lagipula berbahaya kalau sampai Park songsaenim mendapatiku sedang memberi contekan.

Akhirnya semua soal sudah ku kerjakan dengan baik. Aku mengumpulkannya pada Park songsaenim sebelum waktunya. Setelah itu, aku tidak memiliki kegiatan lagi padahal waktu masih banyak tersisa. Aku akhirnya memutuskan untuk kembali ke perpustakaan.

Beberapa lama kemudian, Kibum mendatangiku dengan tiba-tiba. Aku melihat ada tatapan geram di matanya.

“Mau cari mati kau huh?” kata Kibum sambil menarik kerah bajuku.

“Errr… Ini perpustakaan. Harap jaga ketenangan” kataku padanya.

“Kau ini sangat sok! Ya sudah, kalau begitu kita keluar dari perpustakaan ini!” katanya lagi lalu menarikku dengan paksa keluar dari perpustakaan ini.

“Apa maumu?!” tanyaku padanya.

“Mauku? Aku mau kau mati!” ia terus menarikku hingga kami tiba di toilet sekolah.

Bughhh!

Tanpa aba-aba ia langsung memukul wajahku dengan kepalan tinjunya. Sangat keras, hingga darah segar langsung keluar dari sudut bibirku.

Bughhhh bughhhh bughhhh!

Bertubi-tubi pukulan darinya mendarat di sekujur tubuhku tanpa bisa ku hindari. Ia baru menghentikan aksinya saat aku mulai tersungkur tak berdaya di lantai.

“Makanya, jangan macam-macam denganku huh?!” katanya sambil menendang tubuhku, lalu berlalu meninggalkan diriku yang sudah hampir kehilangan kesadaran.

+++

“Tunggu pembalasanku!” aku berteriak kencang di dalam kamarku. Argghhhh! Apa semua orang yang memiliki ekonomi berlebihan selalu bertingkah seenaknya seperti itu?! Kelakuannya kali ini benar-benar sudah tidak bisa dimaafkan! Pokoknya aku harus membalasnya!

Aku lalu melangkahkan kakiku dengan lunglai menuju ruang TV. Hhh, mungkin dengan sedikit menonton TV pikiranku jadi agak membaik.

Aku lalu meraih remote dan memindah-mindahkan channel TV hingga akhirnya aku berhenti pada sebuah acara yang menayangkan film Harry Potter. Sebenarnya aku tidak terlalu mengetahui jalan ceritanya, hanya saja scene dimana salah satu siswa yang sering menggunakan kamera itu memberikanku inspirasi.

Dengan segera aku menghampiri sebuah lemari dimana di dalam lemari tersebut ada sebuah kamera yang sudah lama rusak. Aku membawa kamera itu beserta peralatan-peralatan lainnya menuju kamarku.

Aku mulai mengutak-atik kamera itu, membongkarnya di sana sini lalu menyambungkan bagian-bagian yang harus disambung. Aku lalu meraih sebuah ensiklopedia kimia yang terletak di meja belajarku.

Aku membuka halaman demi halaman yang ada pada buku itu. Hmm, seingatku aku pernah membaca ada salah satu unsur yang menghasilkan cahaya kilatan blitz pada kamera.

Ayo ayo ayo, di mana bagian itu! Aku terus membuka halaman demi halaman namun aku belum juga mendapatkannya. Akhirnya lama kelamaan aku menyerah dan menaruh kembali buku itu di tempatnya. Hhh, padahal sedikit lagi kamera ini akan berfungsi sesuai dengan yang ku inginkan.

Tiba-tiba sebuah ide terbesit di otakku. Aku jadi teringat pada Rinhae. Bukannya dia paling ahli dalam bidang kimia? Hmm, besok aku akan mengorek informasi darinya.

+++

(Rinhae P.O.V)

Kegiatanku sehari-hari di sekolah selalu biasa-biasa saja, tidak ada yang spesial. Yang sering ku lakukan hanya membaca banyak buku hingga membuat mataku semakin hari semakin bertambah minus. Teman-temanku juga terkesan menjauhiku. Mungkin karena aku tidak masuk dalam kriteria teman yang pantas mereka ajak bergaul.

Hhh… Ya sudahlah. Yang penting aku harus belajar keras untuk bisa menggapai cita-citaku. Masa bodoh dengan apa yang mereka katakan.

Sama seperti hari-hari biasanya, jam istirahat hanya aku habiskan untuk membaca buku di perpustakaan. Sesampainya di perpustakaan, aku mengambil salah satu buku lalu mencari tempat duduk yang pas.

“Annyeong Rinhae…” seseorang menyapaku saat aku duduk di sudut perpustakaan. Aku melirik ke arah orang tersebut dan mendapati Jinki sedang duduk di sampingku.

“Eh, annyeong Jinki” aku membalas sapaannya.

“Kamu sedang baca apa?”

“Oh, ini. Kimia modern” jawabku sekenanya.

“Oh ya? Wah, kamu hebat sekali sudah mempelajari sampai ke bagian itu”

“Ah, biasa saja…” aku menanggapi perkataannya sambil menunduk. Agak malu juga dikatakan seperti itu.

“Hmm, aku ingin bertanya sesuatu. Ada yang tidak ku mengerti tentang blitz kamera…”

Blitz kamera? Hmmm, sepertinya aku pernah membaca artikel tentang itu.

“Kalau tidak salah, blitz kamera itu terbentuk dari gas alam. Kripton! Tapi sebenarnya peran blitz kamera itu lebih mengarah pada fisika terapan…” aku menjelaskan semua padanya secara detail apa yang telah ku ketahui. Dilihat dari raut wajahnya, namja ini sangat serius memperhatikanku.

+++

(Jinki P.O.V)

Perfect! Yeoja ini menjelaskan semuanya dengan sempurna. Hmm, ternyata yeoja ini lumayan juga. Pengetahuannya tidak kalah luas. Ckck, aku benar-benar harus hati-hati dengannya. Jangan sampai ia mengalahkanku.

“Memangnya kenapa kau menanyakan itu?” tanyanya lagi.

“Ah, anniyo… Hanya ingin tahu saja…” jawabku asal. Diam-diam aku merekam semua penjelasannya dengan baik di otakku.

Sepulang sekolah, aku kembali sibuk bergelut dengan kamera rakitanku setelah sebelumnya aku harus singgah dan bertapa di perpustakaan kota untuk membaca beberapa buku fisika terapan.

Setelah merangkai kamera itu sedemikian rupa, aku mencoba untuk menggunakannya.

Klik!

Saat aku menekan tombol pengambil gambarnya, cahaya blitz yang keluar dari kamera itu sangat menyilaukan. Sempurna. Aku harap kamera ini bisa bekerja dengan baik keesokan harinya.

+++

Hari ini aku berangkat ke sekolah dengan perasaan riang, dan tak lupa pula aku membawa kamera rakitanku itu di dalam tasku.

Jam pelajaran pertama hari ini adalah fisika. Hmm, hari ini juga hasil ujian kemarin akan diumumkan.

Park songsaenim memasuki kelas dan langsung membagikan lembar jawaban kami satu per satu. Aku menunggu giliranku sementara sebagian besar teman-temanku yang sudah mendapatkan hasil ujiannya hanya memasang ekspresi kecewa.

“Lee Jinki” Park songsaenim memanggil namaku dan aku pun berjalan mendekatinya dengan mantap. Aku menerima hasil ujianku dari tangan Park songsaenim.

Aku luar biasa terkejut saat aku melihat nilai yang tertera di atas kertasku itu bertinta merah. Ada apa ini? Kenapa aku hanya mendapatkan nilai seperti ini?

“Songsaenim, sepertinya ada yang salah…” protesku padanya. Park songsaenim melirikku sebentar lalu menanggapi perkataanku.

“Apanya yang salah? Semuanya sudah diperiksa dengan baik” katanya singkat.

“Tapi songsaenim…”

“Sudah, tidak ada tapi-tapian. Itu memang sudah nilaimu” ia memotong pembicaraanku, “Kim Kibum” ia lalu memanggil Kibum. Namja itu berjalan mendekat dan menerima hasil ujiannya.

“Selamat ya Kibum. Kau mendapat nilai yang sempurna” kata Park songsaenim pada Kibum. Mwo?! Bagaimana bisa?!

Aku akhirnya kembali ke tempat dudukku dengan perasaan galau. Aku kembali memperhatikan lembar jawabanku dengan seksama. Omo… Sepertinya ada yang sudah mengganti lembar jawabanku.

Aku lalu melirik ke arah Kibum. Namja itu hanya menyeringai ke arahku.

“Pasti dia dalang dibalik semua ini…” gumamku pada diriku sendiri sambil meremas lembar jawabanku.

+++

Kriiingggggg…

Bel tanda jam istirahat berbunyi. Park songsaenim berjalan ke arahku.

“Jinki, sekarang juga temui aku di ruang guru. Ada yang ingin ku bicarakan”

Aku hanya mengangguk pelan dan Park songsaenim berlalu meninggalkanku. Tak lama kemudian aku menyusulnya ke ruang guru.

“Ada apa songsaenim memanggilku?” tanyaku pada Park songsaenim. Ia lalu mempersilahkanku untuk duduk.

“Begini, sepertinya belakangan ini prestasimu menurun. Sedangkan pihak universitas yang ingin memberikan jaminan bebas tes pada murid berprestasi di sekolah kita menginginkan siswa yang mengalami peningkatan prestasi untuk melanjutkan pendidikan di tempat mereka. Awalnya pihak sekolah ingin memberikan tawaran itu padamu, tapi setelah dipertimbangkan kembali, akhirnya pihak sekolah memutuskan untuk memberikan tawaran universitas itu pada Kim Rinhae” Park songsaenim menjelaskan padaku.

“Mwo?! Tidak bisa begitu songsaenim! Begini saja, aku janji akan memperbaiki prestasiku semester depan. Tolong berikan kesempatan satu kali lagi. Aku tidak tahu ingin melanjutkan pendidikanku di mana lagi selain universitas itu” aku memohon-mohon pada Park songsaenim.

“Kau yang sabar saja. Pasti ada jalan yang lain untukmu” hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut Park songsaenim.

Mendengar itu, perasaanku terasa tercabik-cabik. Aku lalu meninggalkan ruangan itu dengan perasaan galau. Aku berjalan di sepanjang koridor menuju kelas. Saat aku melewati kelas tetangga, samar-samar aku mendengar sedikit keributan.

Aku mengintip ke dalam kelas itu dan aku mendapati seisi kelas tersebut sedang heboh memberikan ucapan selamat pada Rinhae. Oh, ternyata berita itu sudah tersebar.

+++

(Rinhae P.O.V)

Hari ini aku senang sekali, ternyata aku yang terpilih untuk mendapatkan tawaran bebas tes itu. Teman-teman sekelasku juga memberiku ucapan selamat.

Tiba-tiba pandangan tertuju ke luar kelas saat aku merasakan ada yang sedang menatapku. Benar saja, aku mendapati Jinki sedang menatap tajam ke arahku. Eh? Ada apa dengan namja itu?

Omo… Jangan katakan kalau namja itu marah padaku. Bukannya dia juga mengincar kesempatan yang sama?

Tiba-tiba aku jadi merasa tidak enak padanya. Aku berjalan ke luar kelas dan hendak menemuinya, namun ia tiba-tiba beranjak dari tempat berdirinya tadi.

Hhh, ya sudah. Kapan-kapan aku ingin bicara dengannya baik-baik.

+++

(Jinki P.O.V)

Aku sudah tidak bisa berkonsentrasi dengan pelajaran. Aku sudah tidak sabar menunggu jam pelajaran berakhir. Perasaanku benar-benar kacau. Aku kembali teringat pada kedua orang tuaku. Hhh, apa yang harus ku katakan pada mereka saat mengetahui kalau aku ternyata tidak bisa mendapatkan beasiswa lagi?! Aku tidak ingin membuat mereka kecewa…

Semua ini karena orang-orang itu! Lihat saja!

Kriiinggggg…

Akhirnya bel tanda jam pelajaran berakhir berbunyi. Semua teman-teman kelasku keluar dari ruangan satu per satu. Aku yang sedari tadi sudah bersiap-siap langsung berjalan membuntuti Kibum saat namja itu juga berjalan keluar.

Kibum berjalan ke arah toilet sekolah sementara aku terus mengikutinya dari belakang hingga akhirnya ia masuk ke dalam toilet itu.

Aku menepuk bahunya dari belakang dan saat ia berbalik, ia menepis tanganku kasar.

“Ya! Ada apa kau menyentuhku!” bentaknya padaku.

“Anniyo. Aku hanya ingin berfoto denganmu”

Klik!

Tanpa pikir panjang lagi aku mengeluarkan kamera yang ku bawa di tasku dan langsung menekan tombolnya. Seketika pula namja itu memegangi matanya.

“Arrrrrggggghhhhhhhhhhhhhhh!!” ia mengerang kesakitan. Aku mendekat ke arahnya lalu memaksanya untuk melepaskan tangannya dari matanya itu.

Saat tangannya sudah menjauh dari matanya, aku bisa melihat bola matanya berubah menjadi putih.

“Wow, sepertinya kau akan mengalami kebutaan permanen. Hahaha…” aku tertawa di depan wajahnya. Belum puas, aku mengeluarkan satu lagi benda yang ku curi dari laboratorium kimia. Raksa!

“Ayo chingu, buka mulutmu” kataku padanya seraya memaksa mulutnya untuk terbuka. Saat aku sudah mendapatkan celah, aku menuangkan sebotol raksa itu ke dalam mulutnya.

“Khhhhhkkkk… Khhkkkkhh…” kira-kira hanya suara itu yang dapat keluar dari mulut Kibum. Aku lalu mendekat dan membisikkan sesuatu di dekat telinganya.

“Bukan hanya buta, kau juga akan bisu… Kerongkonganmu sebentar lagi meleleh…” kataku lalu mendorong tubuhnya hingga tersungkur di sudut toilet.

Setelah itu, aku pulang dan bertingkah seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

+++

(Rinhae P.O.V)

Pagi ini sekolah dikejutkan dengan berita buruk dari Kim Kibum. Keadaan namja itu saat ini sangat mengenaskan. Tidak ada yang mengetahui siapa dibalik semua ini, sebab bukan hanya buta, Kibum juga tidak bisa berbicara.

Setiap orang di penjuru sekolah sibuk memperbincangkan hal yang bisa dianggap teror bagi sekolah ini. Namun sebagian lagi lebih memilih untuk mencari aman dan kembali pulang ke rumah mereka.

“Omo… Park songsaenim juga mengalami hal yang sama dengan Kibum!” seorang teman yeoja-ku datang ke kelas dan langsung menjerit-jerit histeris. Seketika itu pula keadaan kelas jadi ricuh. Orang-orang mulai berhamburan dan berebutan untuk keluar dari kelas.

Karena panik, aku jadi ikut-ikutan berlari keluar kelas menuju gerbang sekolah. Namun aku merasakan ada yang tidak beres dengan gerbang itu saat aku melihat orang-orang yang sedang panik ini hanya bisa menggoyang-goyangkan pagar sambil sesekali mengumpat.

“Apa yang terjadi?” tanyaku pada salah satu yeoja yang ku temui.

“Gerbangnya terkunci! Tidak ada yang bisa membukanya!” dan seketika itu pula keadaan semakin tak terkendali.

+++

(Jinki P.O.V)

Baru saja aku tiba di sekolah, orang-orang satu sekolahan sudah gempar dengan berita tentang Kibum. Hhh, ternyata semuanya tersebar dengan sangat cepat. Aku yang awalnya ingin berjalan menuju kelas langsung membelok menuju ruang guru.

‘Masih ada yang harus ku lakukan’ gumamku dalam hati. Baru saja aku ingin menuju ruang guru namun ternyata orang yang ku cari-cari tiba-tiba muncul dari arah pertigaan koridor dan berjalan di depanku. Ia terlihat sibuk dengan ponselnya hingga tidak terlalu mempedulikan sekelilingnya. Hmm, kesempatan bagus, apalagi tidak ada orang lain di sini.

Dengan cepat aku berjalan menyusulnya.

“Songsaenim!” aku menepuk bahunya dari belakang dan saat ia berbalik aku langsung menekan tombol kamera yang sudah aku persiapkan.

Klik!

Park songsaenim mengerang hebat, sementara aku melarikan diri dengan cepat dan berbelok di koridor yang sudah ku lewati sebelumnya.

Oh, ternyata aku salah. Dugaanku yang awalnya mengira tidak ada orang lain selain aku dan Park songsaenim langsung gugur saat aku melihat seorang namja berdiri di belokan koridor tersebut. Ekspresi wajahnya langsung menegang saat melihatku. Aku berjalan mendekatinya.

“Siapa kau huh?! Apa yang telah kau lihat?!” kataku sambil menarik kerah bajunya.

“A..a…aku Lee Taemin. Murid kelas 11…” jawabnya terbata-bata.

Aku segera mengeluarkan kembali kameraku dari dalam tas dan mengarahkannya pada namja sialan ini. Belum sempat aku menekan tombolnya, ia sudah mendorong-dorong tanganku agar menjauh dari wajahnya.

“Ampun, sunbae… Aku mau melakukan apa saja asalkan kau mau membebaskanku…” ia memohon-mohon padaku.

Aku berpikir sejenak. Tiba-tiba muncul serombongan siswa lain yang sedang memergokiku bersama namja ini.

“Jinki!” teriak mereka hampir bersamaan. Aku menoleh pada mereka dengan panik, namun tak lama kemudian mereka memilih untuk pergi dari tempat ini dengan terburu-buru.

Sial!

“Ya sudah, sekarang juga kunci semua jalan keluar yang mungkin bisa dilewati. Palli! Bagaimana pun caranya aku tidak ingin ada yang berhasil lolos dari sekolah ini! Arachi?!” teriakku tepat di telinga namja yang ada di hadapanku ini. Seketika itu pula ia berlari dan melaksanakan perintahku dengan cepat.

Sial sial sial! Kalau sudah begini, orang-orang satu sekolahan pasti sudah mengetahui kalau aku adalah pelakunya! Sial!

+++

(Rinhae P.O.V)

“Aku tahu siapa pelakunya!” tiba-tiba serombongan siswa lain berlari dengan kalap mendekat ke arah gerbang sambil meneriakkan kata-kata yang sama.

“Ini semua ulah Lee Jinki!” kata salah satu dari mereka. Seketika itu pula suasana yang memang sudah ricuh sedari tadi menjadi bertambah ricuh.

“Dia punya penemuan aneh!”

“Kameranya bisa membuat kita celaka!”

Kira-kira begitulah sederetan kata-kata yang keluar dari mulut mereka secara bergantian. Orang-orang yang mendengar pernyataan dari mereka langsung berteriak histeris.

Apa maksudnya ini? Lee Jinki? Penemuan? Kamera?

Tiba-tiba aku kembali teringat pada percakapanku bersama Jinki tempo hari. Waktu itu kami memang sedang membicarakan tentang kamera. Tapi, apa maksudnya? Bagaimana bisa?

Ngiiiingg… Ngiinggggg…

Tiba-tiba dari arah lapangan utama terlihat seseorang sedang mengecek microphone yang ada di tangannya.

“Cek… Cek… Selamat pagi semuanya…” akhirnya orang tersebut menggunakan microphone itu untuk berbicara. Semua pandangan kini hanya tertuju pada seorang namja yang berdiri persis di tengah-tengah lapangan yang letaknya strategis dan merupakan pusat dari sekolah ini.

“Maaf telah mengusik ketentraman seluruh penghuni sekolah ini. Oh iya sebelumnya perkenalkan, aku Lee Jinki. Murid kelas 12 jurusan IPA…” kata namja yang ternyata Jinki itu dengan microphone-nya. Ia berhenti sebentar, lalu kembali melanjutkan kata-katanya.

“Hhh, sebenarnya aku sendiri tidak pernah merencanakan keadaan seperti ini. Maksudku, aku hanya ingin memberi pelajaran pada beberapa orang saja. Tapi siapa yang menyangka ternyata semuanya harus terlibat…”

“Jujur saja, aku merasa sakit hati pada segala sesuatu yang menimpaku belakangan ini… Kalian tentu tahu bagaimana catatan prestasiku di sekolah ini. Hmm, yeah, kira-kira itulah garis besar dari masalahku…”

“Oke, mungkin aku akan bercerita panjang lebar jadi mau tidak mau, kalian pasti akan mendengarkannya. Begini, akhir-akhir ini prestasiku menurun. Aku yang dulunya menjadi pemegang tetap peringkat pertama di sekolah ini akhirnya harus melepaskan predikat itu pada orang lain…”

Glek.

Aku menelan ludah dalam-dalam saat namja itu mengatakan hal tersebut. Omo… Bukannya yang dia maksud itu aku. Ia kembali melanjutkan kata-katanya tanpa ada yang berani memotongnya.

“Hhh, mungkin aku terlalu berlebihan, tapi asal kalian tahu saja, meskipun penurunan prestasiku hanya sedikit tapi itu akan berdampak besar pada hidupku…”

“Hmm, mungkin lebih baik kita membahas tentang namja bernama Kibum. Memang benar, aku yang membuatnya jadi seperti itu. Kalian tahu kenapa huh?!” katanya sambil mengedarkan pandangan dan jari telunjuknya ke sekelilingnya.

“Karena dia menambah masalahku! Orang kaya itu banyak merepotkanku! Selama di sekolah ini, akulah yang menjadi penopang nilai-nilainya. Cih, percuma uang banyak kalau hanya bisa mengandalkan orang lain…”

“Oh ralat sedikit, uang juga tentunya mengambil peran besar. Seperti aku yang kesulitan ekonomi, tentu hanya bisa mengandalkan beasiswa di sekolah yang seelit ini. Ya, itulah yang membuatku bisa bertahan untuk bersekolah…”

“Aku kasihan pada appa dan eommaku. Mereka harus bekerja keras membanting tulang hanya untuk menghidupi keluarga miskin kami…”

Jinki terus berbicara tanpa henti. Kali ini suaranya terdengar serak. Mungkin ia ingin menangis.

“Oleh karena itulah aku harus belajar keras hanya untuk bisa membahagiakan mereka, dan berharap suatu saat nanti aku bisa mendongkrak keadaan keluargaku agar bisa menjadi lebih baik dan lebih dipandang…”

“Hanya saja harapan itu sepertinya mulai kandas sejak aku kalah dalam memperebutkan kursi di universitas. Padahal hanya itulah satu-satunya jalur agar aku tetap mendapatkan beasiswa…”

“Memang sangat berlebihan, tapi itu membuatku sangat kesal! Aku bahkan mencelakai Park songsaenim… Mianhae songsaenim, hanya saja kau terlibat dalam semua ini…”

“Baiklah, aku memang keterlaluan. Mungkin sehabis ini aku tidak akan dibiarkan bersekolah lagi di tempat ini. Hhh, ternyata aku menghancurkan harapan appa dan eomma-ku secepat ini. Tapi tidak apa-apa, ini sudah konsekuensi yang harus ku terima…”

Ia berhenti sebentar. Ia menghapus butir-butir air mata yang sempat keluar dari pelupuk matanya itu, lalu menghela napas yang sangat panjang.

“Tenang saja, setelah ini aku akan pergi…” ia berhenti sebentar, lalu merogoh tasnya, “Tapi sebelum itu, kita berfoto dulu ya…” katanya lagi sambil mengacungkan sebuah kamera yang ia keluarkan dari dalam tasnya.

“KYAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!” seketika itu pula suasana yang sempat hening kini berubah kembali menjadi tak terkendali. Jinki terlihat berjalan mendekat sambil terus mengarahkan kameranya. Orang-orang mulai berlarian tidak karuan menghindari sosok Jinki yang terus berjalan mendekat.

Satu per satu orang-orang sudah menjauh dari arah gerbang hingga akhirnya tidak seorang pun yang tersisa, kecuali aku. Aku hanya bisa berdiri mematung di tempatku. Entah mengapa aku tidak bisa menggerakkan tubuhku untuk ikut menjauh, sementara kini dapat aku lihat dengan jelas Jinki berjalan mendekat ke arahku.

“Kim Rinhae…” gumamam Jinki terdengar dengan jelas di telingaku saat ia sudah ada di dekatku. Aku hanya bisa menatapnya datar. Ia menyeringai sebentar, lalu mengarahkan kameranya tepat di hadapan wajahku. Ya Tuhan, apa yang akan namja ini lakukan padaku…

Aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Bahkan untuk lari sekarang pun aku rasa sudah terlambat. Mau tidak mau yang bisa aku lakukan sekarang hanya pasrah dan berdoa.

“Chukae…” katanya sambil tersenyum dan kembali menjauhkan kamera itu dari wajahku. Eh?

Brukkk…

Bersamaan dengan itu, Jinki langsung ambruk tak sadarkan diri di atas tanah.

“Astaga!” aku menjerit kaget saat melihatnya. Ada apa dengan namja ini?

Aku berlutut di dekatnya lalu mencoba membangunkannya. Ottokhe? Orang-orang yang ada di sekitar sini pun terlihat enggan untuk mendekat.

“Tolong dia!” teriakku kencang ke seluruh penjuru. Tapi tetap saja, tidak seorang pun yang mau mencoba untuk menengok keadaan namja ini. Tak lama kemudian, busa putih dengan bau yang menyengat keluar dari mulutnya.

“ASTAGA! DEMI TUHAN CEPAT TOLONG DIA!” teriakku histeris. Barulah saat itu orang-orang mulai mendekat dan membantu membawa sosok Jinki menuju UKS, sementara aku mencoba menghubungi pihak rumah sakit.

Beberapa saat kemudian, pihak rumah sakit datang.

Tapi terlambat. Ternyata nyawa namja itu tidak bisa tertolong lagi.

“Dokter, sebenarnya apa yang terjadi dengan Jinki?” tanyaku pada salah satu dokter yang menangani Jinki.

“Hhh, aku sendiri tidak menyangka. Ternyata anak itu nekat mengkonsumsi cairan Klorin…” kata dokter itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Aku sangat terkejut mendengarnya.

“Astaga…” kataku sambil menutup mulutku dengan kedua tanganku.

Tragis sekali nasib namja itu. Kasihan kedua orang tuanya, padahal sebenarnya dia anak yang sangat berpotensi.

 

THE END


Aneh kan?? Gaje kan?? Hehehehe.. *ketawa2 gaje bareng ff gaje* makanya udah aku kasi warning kan~ kekeke.. ~(‘.’~) (~’.’)~

Beginilah ff orang stress yang baru aja belajar kimia unsur.. imajinasinya jadi melayang2 g jelas.. hahha..

Btw ada yang tahu g senyawa klorin itu apa?? Itu lho,, senyawa yang biasanya dicampurin di pemutih baju alias Bayclin,, bisa juga buat campuran bensin,, pestisida atau pemutih tekstil.. yang baunya g enak,, trus kalo dikonsumsi mungkin bisa langsung bikin mati(?) di tempat.. *plakk/sotoy*

Komen ya.. Gomawo.. ^^ *bow bareng minah*

Advertisements

49 responses to “Clicking the Blitz

  1. huahahaa, authornya stres gara2 kimia ya.
    critanya lucu (loh?) soalnya ujung2nya jinki yg mati sndiri…
    *dicium onew*
    😀

  2. wooww is amazing! daebak
    tapi sedih bgt bcny kok smpe gt..huhu
    rae g kawin ajh ma jinki biar jinki g mati trus bljr bersm ato ap lh yg pnting g oke acra mati sgla

  3. DYU ONNIII~ RINHAEEE DATAAANGG~ *rusuh mode : on
    huaa~ onni~ bagusss~ tapi rada gak ngeti /plakk belum diajarin kimia sama guru sekolah T^T

    omaygawd pertama dan terakhir kalinya (walau cuma dalem cerita) aku ranking 1 se-sekolahan wow wow wow
    onni tau aja kalo aku pake kacamata *toel2 dyu onni*
    sayang banget aku udah gak berminat sama kedokteran ckck *geleng2

    waaww~ onni tau aja kalo pas istirahat aku rajin baca buku ><" *dyu onni: pade banget lo li /plakk #madesu*

    • hhahahahha datang2 langsung ngerusuh..
      yasudah,, kita ngerusuh bareng..
      hhohoo.. ntar beberapa tahun lagi kamu ketemu kok!!
      persiapkan diri ya hahah.. 😀 *apadeh*
      wah?? kamu beneran pake kacamata?? O.o
      padahal aku cuma ngarang hahah.. 😀
      eh?? ni apanya yang kepotong lia??
      kok isinya sama aja ya?? O.o
      yasudahlah.. gomawo udah mampir!!

  4. Heu. .imajinasi~
    Serem euy crita.x(?)
    Pdhl onyu karakter.x keren, trnyta ending.x dy bgtu =3=
    setres kbykan bljar tuh nyu~
    onyu sadar dong~
    *tepuk2 pipi onyu*

    blits.x mngingatkn.q am crita harpot yg chamber of secret, yg liat mata c basilik.x scra lgsg bkal mati :3
    but overall, emg gaje nih ff, tp seru + mghbur
    aio bwt lgi~ >w<d

    • iya nyu!! *bantuin nepuk jidat(?)nya onyu*
      iya,, kan ceritanya si onyu terinspirasi dari film harpot itu.. 😀
      wah,, akhirnya ada yang bilang ni ff gaje.. 😀 *lha??*
      oke deh gomawo ya.. ^^

  5. yaelah nyu.. mati konyol kan tuh
    eh tapi kocak loh pas dia bediri ditengah bawa2 mic sambil curhat trus ujung2nya nangis ahahahaha mwolhaedo onew sangtae-lah intinya

    • wahhh syukurlah kalo bisa berguna.. ^^
      gomawo ya.. ^^
      kamu anak ips?? O.o
      kadang aku juga mau jadi anak ips..
      soalnya menurutku anak ips lebih cepat sukses.. :3 *curcol*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s