I Miss You

 

“I Miss You”

Author : Noriko Kaoin

Genre : Angst, Romance

Length : Ficlet (876 words)

Rating : G

Cast : YOU, Lee Jinki (onew), Kim Jonghyun

Inspired by : I Miss You – SM The Ballad

Disclaimer : The casts is not mine, Jjong and Onew belong to they parents, SME, and SHINee World :p

A/N : Hay, author noriko balik lagi. Haha, udh lama ga post ff dsni. Oia, bagi yg g pernah bc ff saya sebelumnya. Tolong d baca ya, biar lbh kenal sama saya. Oh, also! Jgn lupa komen ya, dont be silent readers. Klo ada yg jd silent readers, liat aja ada balasannya kok *evil smile*.

 

ENJOY

XxXxXxX

 

Suara rintikan hujan, penghangat ruangan, coklat hangat di tanganku, selimut kecil di antara kakiku.

Sempurna.

Saatnya aku membuka laptop yang sedari tadi tergeletak di samping ranjangku. Aku mengambilnya dan duduk di samping jendela kamarku. Menatap keluar, melihat beberapa payung berwarna-warni bertebaran di jalanan. Meskipun aku tinggal di apartemen, tapi bau hujan yang selalu aku sukai samar-samar tercium di hidungku. Sangat menenangkan, namun juga membawa kepingan kenangan yang tak sengaja mampir. Aku melepas kacamataku sementara lalu memijat-mijat bagian keningku. Sedikit, pusing namun bau hujan itu tetap membuatku lebih tenang.

Lagu ballad yang baru saja rilis, sengaja kuputar di iPod-ku dan kudengarkan beberapa kali. Aku menyukainya, sangat menggambarkan diriku yang galau saat ini. Seolah aku terus membawa perasaan tak menentu ini dan tak mau melepas kenangan. Walau itu hanya berupa kenangan. Still, I love the past who taught me to be a better person…

Kenangan itu terus berlanjut sambil kudendangkan lagu itu.

“I miss you… Where are you?” bisikku lirih sambil menyesap coklat hangatku dan menaruh selimut kecil itu di atas kepalaku, menutupi sebagian kepalaku.

Kenangan yang terus berputar, memenuhi kepalaku namun mempunyai efek membuat hatiku sesak. Genangan air mata mulai memenuhi kelopak mataku. Oh, tidak. Jangan menangis lagi. Kenapa aku mesti mengingat semuanya. Ayolah, ia sudah tidak bisa kau raih lagi. Ia hanyalah sebuah debu kenangan yang bisa kau bersihkan kapan saja. Tapi, kenapa…

“Aku masih menunggumu entah sampai kapan. Aku terlalu bodoh untuk menunggu sebuah penantian, sedangkan kau saja sudah tidak bisa ku raih…” tangisan yang berasal dari diriku sendiri mulai terdengar di kamar yang gelap dan dingin padahal penghangat ruangan sudah dinyalakan. Oh, bukan. Bukan tubuhku yang dingin, tapi jiwaku…

Aku butuh pelukanmu, Jinki.

Aku butuh dirimu di sampingku, Jinki.

Sesegukan mulai tak bisa dihentikan. Astaga, hanya dengan mengingat  namanya berlanjut kepingan memori itu berhamburan di kepalaku, sekarang aku menangis tersedu-sedu. Menadah harapan yang takkan pernah datang.

“Aku merindukanmu. Sebuah bagian dari diriku yang butuh beberapa tahun untuk melupakan dirimu. Kau terlalu berharga tapi di satu sisi aku ingin melepas dirimu, perlahan…”

Desktop menampilkan beberapa foto yang kuedit hingga menjadi satu. Fotoku dan Jinki…

Saling tertawa.

Saling tersenyum.

Saling berbagi kebahagian.

Dan ada satu foto yang membuatku tersenyum kecil. Jinki dan aku berfoto bersama walau saat itu aku menangis tersedu-sedu sambil memegang sebuket bunga lili putih.  Aku masih ingat momen itu, saat ia pertama kalinya mengatakan “I love you” padaku. Ah, itu juga bertepatan dengan ulang tahunku. Sebelumnya kami memang pacaran, tapi tak ada kata yang bisa mengekspresikan perasaan kami sebelumnya. Hanya berupa pelukan atau tepukan sayang dari kami masing-masing.

Sekarang aku berandai, bisa kembali merasakan pelukan dan tepukan sayang itu. Mestikah aku terus mengadu ke Tuhan agar mengembalikan dirinya ke sisiku. Aku butuh senyumannya lagi. Aku merindukannya…

XxXxX

-tok tok tok-

Suara pintu apartemenku terdengar diketuk oleh seseorang. Aku tahu siapa itu. Dengan langkah yang terpaksa dan segera menghapus air mataku. Betul juga saat aku membuka pintu, orang yang sudah kutebak dalam hati ternyata benar ada di hadapanku. Ia tersenyum sekilas.

“Jadi, kau sudah siap hari ini?”

Aku hanya membalas dengan anggukan dan senyuma kecil, suara sesegukanku belum juga berhenti. Dan rupanya orang dihadapaku itu menyadarinya.

“Terlalu merenung hari ini? Hingga membuat matamu bengkak seperti itu?”

“Hmm… Tidak apa. Jonghyun, sebaiknya kita pergi sekarang,” ujarku sambil mengalihkan pembicaraan. Aku masih tidak sanggup bila membicarakannya lagi, tangisanku nanti akan mengalir lagi. Maka dari itu, lebih baik kusimpan setelah aku sampai di pemakaman umum nanti.

Gerimis, dingin, mendung, lengkap sudah kenangan itu akan berkumpul di kepalaku seharian ini. Kenapa setiap peringatan kematiaan Jinki selalu diiringi gerimis seperti ini? Oh, Tuhan. Aku ingin sekali-kali matahari bersinar terang saat aku mengunjungi makamnya. Ini hanya akan membuat tangisanku tidak bisa berhenti.

“Selamat ulang tahun, Jinki…” ujarku lirih.

 

Bunga lili segar yang sedari tadi di pegang oleh Jonghyun diserahkannya padaku. Aku menerimanya dengan tangan gemetar dan menaruhnya di depan nisan bertuliskan nama Lee Jinki. Astaga, haruskah aku menangis lagi? Lagi? Lagi? Sudah, aku tidak kuat. Biarkan aku menangis sambil memeluk nisannya dan mengadu betapa sepinya hidupku tanpa dirinya.

“Jinki… Jinki… Jinki… Terlalu susah untuk diriku tanpa dirimu. Aku sangat merindukanmu. Aku tidak bisa melupakan dirimu!” Tepukan untuk menenangkan diriku dari Jonghyun tetap tidak bisa menghentikan tangisanku.

“Jjong, maaf. Maaf… Maaf… Maaf… Aku tidak bisa seratus persen mencintaimu. Maafkan aku, kumohon. Saparuh cintaku masih untuk Jinki dan kau—“

“Ssstt…” Jonghyun mulai memelukku dan mencium keningku. “Kau… Kau tidak usah berkata seperti itu. Aku mengerti keadaanmu. Tidak apa, aku tidak peduli saat ini kau masih mencintainya. Kau hanya butuh waktu untuk melupakannya, maksudku kau hanya butuh untuk merelakannya. Aku masih setia padamu, tidak apa. Sungguh…” suara Jonghyun terdengar gemetar di telingaku. Aku yakin ia hendak menangis saat ini.

“Jinki adalah sahabatku. Meskipun kau belum bisa mencintaiku, tapi setidaknya aku sebagai sahabat darinya akan menggantikan dirinya untuk menjagamu. Bolehkah aku?”

Aku tidak menjawabnya, tangisanku semakin keras dan menggema di pemakaman itu. Kubalas pelukan Jonghyun dan mengeratkannya. Kuharap aku bisa membalas sayang orang ini dan merelakan Jinki. Walau aku setiap hari akan terus mengatakan kalau aku merindukannya.

“Ayo, kita pulang,” bisik Jonghyun dan merangkulku menjauh dari sana. Samar-samar, aku mendengar gumaman Jonghyun sebelum pergi dari hadapan makam Jinki.

“Selamat ulang tahun, sahabat. Maaf, hari ini aku membuat gadismu menangis bersedih lagi. Suatu saat aku akan menepati janji untuk membuatnya menangis bahagia sesuai permintaanmu. Aku juga merindukanmu, sahabatku.”

 

xXxXxXx

 

Maaf klo alur critanya ancur ya. Maaf *bungkuk 90 derajat*

Advertisements

45 responses to “I Miss You

  1. aaaaaaaaaah suka bgt…
    sedih, keren, suka pokoknya 😀
    tapi gx bisa ngebayangin jjong baik kayak gitu #PLAK
    nice chingu 😉

  2. huuaaaa jinki oppa T_T
    seandainya punya pacar kayak jjong, perasaan dihatiku sedih sangat hanya bisa menyakitinya, blum bisa mencintainya seutuhnya, tapi senang karena dia tetap disebelahku untuk selalu menemaniku… huaaa jjong,, yuk sini bareng aku hahaha XD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s