My eyes for you, my dance machine [1/2]

Title: My eyes for you, my dance machine

Part: 1/2

Cast: Lee Hyukjae, Cha Ryujin, Cha Ryumin ( Ryujin’s sister )

Other Cast: Lee Donghae, Lee Chunghee, Choi Minho

Author: Vdlitanasuciara

NB: Maaf ya, part 6 nya blum bisa keluar.

Aku masih UAS.

Nah sebagai permintaan maaf aku,

aku kasih FF 2 shoot ini ^^

Mianhae (_ _)

***

“Aaahh, kau menari dengan sangat indah. Lincah ! Kakimu seperti mempunyai mata. Aku ingin bisa seperti itu” teriakku girang ketika melihatnya menari di panggung semegah itu.

“You’re my Dance Machine, Lee Hyukjae” lanjutku sambil menitikan air mataku.

Air mata bahagiaku yang tak akan pernah ia hapus.

Karena untuk melihatku saja, ia tak bisa.

***

“Annyeong, Lee Hyukjae imnida” ia memperkenalkan dirinya.

Aku hanya tersenyum dan langsung meninggalkan dia.

“Hei tunggu. Aku belum tahu namamu” teriaknya.

“Kau tidak perlu tahu siapa namaku” kataku dan langsung benar benar pergi meninggalkan dia.

“Kau gila ? Laki laki itu tampan, Ryujin. Kau menyianyiakannya begitu saja” omel sahabatku, Lee Chunghee.

“Kau mau ? Ambil saja” jawabku sambil tersenyum.

“Hm, seandainya aku tidak punya Donghae, dia sudah aku ambil” lanjut Chunghee.

“Sendainya begitu, apa dia mau denganmu ?” sindirku setelah itu langsung berlari menjauh sebelum jitakan mautnya mendarat dikepalaku.

“Ryuujiiinnn” Chunghee mengejarku.

Aku terus tertawa dan berlari.

***

“Eonni, laki laki yang tadi mau nganter eonni pulang siapa ? Kayanya keren tuh” tanya dongsaengku, Cha Ryumin.

“Nggak tau. Kayanya murid baru dari kelas sebelah. Katanya sih pinter nge dance, Cuma kamu tau kan kalau eonni benci sama cowok yang suka ngedance?” jawabku sambil mengutak atik HPku.

“Buatku boleh ? Kayanya dia keren dan cakep, eonni. Boleh ya ?” dongsaengku mulai terpesona dengan laki laki bernama LEE HYUKJAE ?

“Eonni nggak mau kamu sama dia. Kekasihku ataupun kekasihmu tidak boleh jago ngedance. Aku tidak mau ada yang pinter dan jago ngedance dirumah ini” tolakku.

“Eonni nggak asik” katanya sambil melempar bantal kearahku.

“Terserah. Awas aja sampe kamu deket deket sama si Hyukjae itu. Eonni bilangin appa kalau kamu …” kata kataku terpotong karena mulutku disumpel handuk sama dongsaengku satu satunya itu.

“Ssstt .. Jangan bilang appa. Itu kan nggak sengaja” kata Ryumin cepat.

“Nggak ngurus. Pokoknya jangan deket deket sama si Kunyuk itu” aku langsung menuju ke kamar mandi.

“Eonni jelek, eonni jahat, eonni seenaknya, eonni kayak setan” umpat adikku.

Aku hanya tertawa kecil dikamar mandi.

***

“Pagi, Ryujin. Mau ke kantin ya ?” sedang lapar seperti ini, makhluk ini muncul.

“Iya mau ke kantin. Waeyo ?” tanyaku balik.

“Denganku ? Aku juga mau ke kantin” jawabnya sambil tersenyum.

Senyum yang bisa mebuat para wanita tergeletak tidak berdaya dilantai.

Tapi tidak untukku.

“Boleh” jawabku singkat.

Dia tertawa senang dan langsung berlari kekantin.

“Hyukjae, kau mau makan sendiri ?” tanyaku dengan sedikit berteriak.

“Ah, mianhae. Lupa” dia kembali dan menarikku menuju kantin.

***

“Matamu indah, Ryujin. Pantas saja banyak laki laki yang ingin menjadi pacarmu. Hm .. Apa kau seorang model ?” Hyukjae memulai penmbicaraan.

“Gomawo, Hyukjae. Model ? Bukan. Aku nggak mau jadi model dan nggak tertarik sama sekali menjadi model” jawabku.

“Ryujin” panggil seorang cewek yang sudah bisa aku tebak dia adalah Chunghee.

“Apa ?” jawabku.

Dia menarikku menjauh dari Hyukjae.

“Katanya nggak tertarik sama Hyukjae ? Kok sekarang malah makan berdua ?” cerocos Chunghee.

“Cuma makan doang kali. Lagian dia yang ngajak” kataku.

“Oh, yaudah deh lajutin aja. Aku mau makan bareng Donghae dulu. Daaah” sekarang Chunghee sudah melenggang pergi entah kemana.

“Maaf ya, barusan ada pengganggu” kataku seraya duduk.

“Nggak apa” dia tersenyum.

Duh, bisa nggak sih dia berhenti tersenyum seperti itu ?

“Kau tahu namaku dari siapa ? Aku kan belum memberitahukan namaku” tanyaku.

“Aku tahu dari perempuan yang tadi itu” jawabnya.

“Perempuan yang barusan ngomong denganku ?” tanyaku lagi.

“Ne” dia mengangguk.

“Awas kamu, ikan buntal. Aku goreng kamu habis ini” umpatku pelan.

Setelah aku mengumpau umpat ria,

Akhirnya makanan kami datang.

“Ayo makan” katanya.

“Iya” aku memandang makananku.

Terlihat sangat enak.

Aku langsung memakannya.

Setelah selesai,

Aku langsung kembali ke kelas.

“Ryujin” Hyukjae menarik tanganku.

Badanku ikutan tertarik dan jarakku dengan Hyukjae sekarang dekat.

Duh,

Aku kena serangan jantung atau apa, aku nggak tau.

Yang pasti jantungku seperti sedang balapan dengan nafasku.

Apa ini maksutnya ?

Aku nggak pernah merasakan yang seperti ini.

“A..Apa ?” tanyaku.

“Terima kasih sudah mau makan denganku. Aku tidak akan pernah melupakannya” jawabnya sambil tersenyum.

Argh,

Jangan tersenyum seperti itu, Hyukjae.

“Oke oke. No problem. Aku harus kembali ke kelas sekarang” kataku dengan sedikit gugup dan langsung meninggalkannya.

***

“Buakakakak ! Kena karma juga kamu” tawa Chunghee langsung pecah ketika mendengar ceritaku.

“Tau nggak itu artinya apa ?” tanya Chunghee.

“Arti apa ? Jantungku yang balapan tadi itu ?” tanyaku balik.

“Iyalah. Itu artinya …” duh anak ini babo bener. Orang udah penasaan kaya gini, dia nggak langsung jawab.

“Kau suka dengan Dance Machine, Lee Hyukjae” bisik Chunghee tepat ditelingaku.

“MWO ?” teriakku.

Dan teriakanku berhasil membuat Ryeowook terbangun dari tidurnya. *author ngakak kalau ngebayangin wookie bobok di skolah dan bangun karena kaget dengan wajah polos*

“Nggak mungkin” kataku sambil menyilangkan kedua tanganku didepan dadaku.

“Kau ini. Sudahlah, kalau dia menembakmu langsung bilang iya saja” saran *nggak ada kata yang lebih tepat ?* Chunghee.

“Argh, nggak bantu tau saranmu itu” ambekku.

Aku suka dengan Lee Hyukjae ?

Mustahil !

Aku benci dengan cowok yang nge dance.

Apa lagi dance machine.

Nggak mungkiin !!

***

“Eonnii” malam malam begini dongsaengku teriak teriak.

“Mwo ?” tanyaku malas.

“Aku dapet nomer hapenya The Coolest Dance Machine, Lee Hyukjae” jawabnya.

“Teruuss ?” tanyaku lagi.

“Eonni nggak mau ?” wajahnya seperti orang yang shock.

“No. Buat apa ?” kataku.

“Kata Chunghee eonni, eonni udah mulai suka ama the coolest dance machine. Masa eonni nggak butuh nomer hapenya ?” MWO? Dongsaengku bicara seperti ini ?

Chunghee ..

Kau berani sekali berbicara ngawur seperti ini terhadap dongsaengku.

“Chunghee kau percaya. Sedetikpun aku nggak pernah suka dengan si Hyukjae itu. Aku benci dance. Aku benci dengan Hyukjae karena dance” jawabku dengan sedikit kasar.

Aku menangis di bawah bantalku.

“Eonni, mianhae” Ryumin mendekat dan entah apa yang dia lakukan.

Aku hanya menangis dan akhirnya tertidur TOT

***

“Ryujin, boleh ngomong sebentar ?” tanya Hyukjae.

“Boleh. Langsung ngomong aja” jawabku santai.

“Hm …” dia hanya ingin mengatakan ‘hm’ ?

“Apa ?” tanyaku.

“Maukah **** men**di p**a*ku ? Aku m**cin**imu” katanya cepat.

Mengerti saja tidak.

“Hei hei hei .. Pelan pelan. Aku nggak ngerti” kataku.

“Baiklah”

“Cha Ryujin, maukah dirimu menjadi pacarku ?” tanya Hyukjae sambil menundukkan kepalanya.

Aku belum menjawabnya.

“Kalau kamu nggak mau juga nggak apa apa kok” katanya pasrah.

Dia langsung membalikkan badannya dan hendak pergi.

“Hyukjae, chankkaman” panggilku.

“Aku mau jadi pacarmu. Tapi …” sekarang wajah Hyukjae sudah ada tepat didepanku.

“Tapi apa ? Apapun akan aku lakukan agar aku bisa menjadi pacarmu” kata Hyukjae dengan wajah yang senang, berharap dan penasaran.

“Aku ingin kau tidak menari lagi” jawabku.

Dia shock. *pasti*

Dia bingung.

Dia berfikir.

“Aku sudah bilang, apapun akan aku lakukan agar aku bisa menjadi pacarmu. Jika aku harus berhenti menari karena kau membencinya, aku akan lakukan itu. Untukmu, Cha Ryujin” ucap Eunhyuk sambil tersenyum.

Dia rela berhenti menari demiku ?

Sekarang giliranku yang shock.

Aku tersenyum lebar.

“Terima Kasih, Lee Hyukjae” kataku senang sambil memeluknya.

Akhirnya hatiku luluh karena pengorbanan Lee Hyukjae.

***

Sudah sebulan aku berstatus sebagai pacar dari seorang Lee Hyukjae.

Dan sudah 3 bulan aku mengenalnya.

Mungkin Hyukjae lebih lama mengenalku karena dia tahu semua tentangku.

Tak ada satupun yang dia tidak tahu.

Menyenangkan.

Hanya saja ada yang aneh dengannya akhir akhir ini.

Hyukjae tidak pernah tertawa selepas dulu.

Dia juga tidak pernah tersenyum semanis dulu.

Senyum dan tawanya memang selalu ada.

Tapi berbeda dengan dulu.

Ada apa, Hyukjae ?

“My lovely chagiyaaaa” panggil Eunhyuk sambil memelukku dari belakang.

“Hyukjae” jawabku sambil memukul tangannya pelan.

“Kau mengagetkanku, tau” kataku kesal.

“Habisnya kamu melamun terus. Kenapa sih ?” tanya Hyukjae sambil mencubit pipi kananku.

“Aku mikirin kamu, Hyukjae babyy” jawabku sambil membalas cubitan Hyukjae.

“Mikirin aku ? Duh, aku jadi malu” dia memasang wajah malunya yang selalu sukses membuatku tertawa melihatnya.

Aku memeluknya.

“Berhenti membuatku tertawa karena wajahmu yang sok imut itu, Hyukjae babyy” kataku sambil bersandar dipundak Hyukjae.

“Ryujin babyy, aku ini nggak sok imut. Aku kan memang imut” kata Hyukjae manja.

“Iya sayangku. Kamu imuuuuuutt banget” pujiku.

“Makasih” katanya singkat.

Kami terdiam cukup lama.

“Hyukjae” panggilku.

“Hmm ?” jawabnya.

“Boleh tanya sesuatu ?” tanyaku.

“Ya bolehlah. Mau tanya apa ?” tanya Hyukjae balik.

“Apa yang istimewa dariku ?” kataku sambil menatapnya.

“Maksutmu apa ?” dia malah bertanya apa maksut dari pertanyaanku barusan.

“Ya .. Apa yang membuatku istimewa dimatamu sampai sampai kau ingin menjadi pacarku dan kau rela berhenti menari hanya karenaku” jelasku.

Tidak mudah untukku berkata seperti ini.

Entah apa yang membuatku sulit untuk menanyakan hal ini.

“Matamu. Kau tidak sadar jika matamu itu istimewa ? Matamu terlalu indah. Semua lelaki akan rela meninggalkan apapun jika sudah menatap matamu. Sekalipun hidupnya” jawabnya.

“Seandainya aku diberi satu permintaan, aku akan meminta mata indah sepertimu” lanjutnya.

Ya Tuhan,

Baru kali ini ada orang yang memuji mataku.

Padahal selama hidupku aku selalu mengutuk mataku yang nggak berguna ini.

Mataku yang buruk rupa kalau dibandingkan dengan adikku atau keluargaku yang lain.

“Hyukjae, terima kasih. Kau adalah orang pertama mengatakan mataku indah. Diriku sendiri saja, tidak pernah berkata seperti itu. Dan kau sudah membuatku bangga dengan apa yang aku miliki. Beruntungnya diriku memiliki pacar sebaik dan setampan Lee Hyukjae” kataku sambil menatap Hyukjae.

Dia terlihat kaget saat aku berkata seperti itu.

Aku tahu,

Dia pasti berpikir kenapa aku tidak pernah menghargai keindahan mataku sendiri.

“Sudah lah, nggak usah dibahas lagi sekarang aku mau ngajak kamu ke suatu tempat” aku mengganti topik pembicaraan.

“Kemana ?” tanya Hyukjae.

“Nggak usah tanya. Ayo ikut” aku menarik Hyukjae dan langsung menuju tempat yang aku ingin tunjukkan padanya.

***

“World’s Dance Machine ?” tanya Hyukjae saat membaca salah satu artikel di majalahku.

“Ne. Aku ingin kau mengikuti ini. Dance Machine is YOU. Jadi, kamu harus jadi Dance Machine bagi seluruh dunia dan juga untukku” kataku.

“Tapi kamu kan …” aku tau dia pasti kaget.

“Aku nggak mau bikin kamu sedih karena harus meninggalkan kehidupanmu yang ini hanya karenaku. Aku terlihat sangat egois kalau aku melarangmu untuk melakukan sesuatu yang seharusnya kamu lakukan” jawabku sambil menunjuk tulisan ‘Dance Machine’

“Bagaimana, Hyukjae baby ? Mau ya ?” aku ingin sekali dia ikut.

“Jebbal, baby” aku memasang wajah melasku.

“Baik baik. Dan kau harus datang saat audisi” pintanya.

“Pasti. Aku akan selalu hadir disetiap penampilanmu. Nggak akan ada satu moment yang akan aku lewatkan” janjiku.

“Gomawo, Ryujin. Terima kasih sudah mengembalikan hidupku” ucap Hyukjae sambil memelukku.

Kini aku bisa melihat Hyukjaeku yang dulu.

Yang bisa tertawa lepas dan tersenyum tulus.

***

“Waktu 5 bulan itu nggak lama. Aku nggak mau menyianyiakan kesempatan ini. Aku harus bisa” kata Hyukjae didepan kaca.

“Latihan yang rajin, baby” sambungku sambil bersorak sorak ala cheerleader.

“Sip deh” jawabnya.

Setelah itu ia mencium keningku.

Mujogeon You sesangi banjjogi nandaedo nan You
Amuri saenggakhaedo yeoksi nan mujogeon neol wonhae

Jinsimin geol Everybody know that i love you

saranghae You gogaereul kkeudeogimyeo malhaejwo You
Naramyeon gwaenchantago malhaejwo You
Baby, baby, baby, baby
Ipsureul yeoreo ijen daedaphae jwo

“Ne? Ah~ Arraseo” entah dia mengangkat telepon dari siapa.

“Nuguseyo, Hyukjae baby ?” tanyaku saat ia menutup telponnya.

“Temanku. Ryujin baby, aku harus ke tempat latihan” pamitnya.

“Um? Sekarang ya ? Aku ikut boleh ? Aku masih kangen sama kamu, Hyukjae baby. Seminggu kemarin kan kita nggak ketemu gara gara kamu ujian” rengekku.

“Aku latihan cuma 2 jam, sayang. Habis itu aku kesini lagi deh. Sampe malem” janjinya.

“Dua jam lama, Hyuk. Kamu latihannya satu jam lagi. Aku masih mau sama kamu” kataku sambil merangkulnya mesra.

“Kamu kok tumben banget sih ? Nempel banget. Biasanya kalau nggak ketemu lama nggak gini gini juga. Kenapa ?” tanya Hyukjae penasaran.

“Mollayo, my baby. Yang pasti aku masih pingin sama kamu” jawabku.

“Yasudah yasudah. Aku janji sepulang latihan aku akan disini sampai malam. Bagaimana ?” tanyanya sambil memegang pipi kananku.

“Janji ?” tanyaku.

“Janji” jawabnya tegas dengan senyuman manisnya.

Senyuman yang dulu aku benci.

“Baiklah. Hati hati di jalan ya, Hyukjae baby” kataku.

“Ne, jagiyaa” katanya sambil mengambil tasnya dan langsung pergi.

Hyukjae, hati hati ya.

Firasatku mengatakan bahwa sesuatu akan terjadi,

padamu …

***

BRAK …

***

PRIANG …

“Sayang, apa yang jatuh ?” tanya eomma.

“Hm? Jatuh ? Aku lihat ya” jawabku seraya berdiri dari dudukku.

Aku mencari sumber suara yang mengagetkanku dan eomma.

Celingak celinguk.

Mondar mandir.

Tiba tiba aku melihat ada yang tergeletak di lantai.

Saat kulihat ternyata itu foto Hyukjae.

Kaca framenya pecah.

Aku bersihkan serpihan serpihan kaca itu dan mengambil foto Hyukjae.

Ganti frame yang baru aja.

“Eomma, yang jatuh tadi fotonya Hyukjae. Aneh banget, eomma. Nggak ada apa apa bisa jatuh” kataku pada eomma sambil membawa foto Hyukjae tadi.

“Kucing kamu kali. Kucingmu kan sukanya lari lari” jawab eomma.

“Nggak mungkin, eomma. Dia lagi ditaman sama Ryumin” balasku.

Aku berpikir.

Sial,

Perasaanku berubah kacau.

Hyukjae …

Hyukjae …

Aku harus telpon dia.

Aku takut ini pertanda buruk.

Aku nggak mau dia kenapa napa.

“Sayang, kamu kenapa ? Wajahmu seperti orang takut dan khawatir gitu ?” tanya eomma sambil memandang wajahku terus.

“HPku. HPku mana ? Aku harus telpon Hyukjae, eomma. Aku takut dia kenapa napa” jawabku panik.

Aku berlari mencari HPku.

Setelah bertemu dengan HPku,

Aku langsung menelpon Hyukjae.

Sekali …

Dua kali …

Tiga kali …

Tetap saja,

tidak diangkat.

“Bagaimana ? Dia baik baik saja ?” tanya eomma khawatir.

“Nggak di angkat, eomma” jawabku dengan perasaan takut, khawatir, bingung, dan sedih.

“Eonniii, ada Chunghee eonni sama Donghae oppa. Keluarlah” teriak Ryumin dari taman.

“Ne. Sebentar” jawabku dengan berteriak juga.

Aku keluar dan menuju taman.

“Chunghee ? Donghae ? Ada apa datang keseini ?” tanyaku saat dihadapanku sudah terpampang (?) wajah Chunghae couple *author sedih nulis nama couple ini. ga rela gimana gitu*

“Ikut kita sebentar” kata Chunghee singkat , padat , jelas dan datar.

“Kemana ?” tanyaku lagi.

“Sudahlah, ikut saja. Ini penting” kali ini Donghae yang berbicara.

“Ta..Ta..Tapi …” belum selesai aku bicara, Donghae menarik tanganku dan menyeretku keluar rumah.

“Ryumin, bilang ke eommamu kalau eonnimu pergi dengan kami” kata Chunghee pada Ryumin.

“Ah ? Ne, eonni. Hati hati ya” jawab Ryumin polos.

Entah akan di bawa kemana aku.

Yang pasti aku ingin bertemu Hyukjae.

Kalau bisa sekarang juga !

***

“Rumah Sakit ?” tanyaku saat mobil Donghae berhenti didepan sebuah rumah sakit di kota Seoul tercinta ini.

“Ne. Ayo turun” Chunghee mendorongku keluar dari mobil.

“Iya, cerewet” lailah, bawel deh ah.

“Donghae Donghae Donghae, kita ngapain kesini ?” tanyaku pada Donghae.

“Pergilah ke ruang ICU dilantai 5. Kau akan tahu kenapa kita kesini” jawab Donghae santai.

“Nggak bisa langsung kasih tau ya? Pelit deh” kataku kesal sambil melayangkan jitakanku ke kepala Donghae.

“Sudahlah. Cerewet kamu. Sana pergi kelantai 5 dengan Chunghee. Nanti aku menyusul” kata Donghae kesal.

Baru dijitak aja udah marah.

Dasar ikan nemo jelek.

Aku goreng baru tau rasa.

“Yuk” Chunghee tiba tiba menarik tanganku.

Padahal aku lagi asyik ngumpat ==

“Chunghee, apa nggak bisa kamu kasih tau aku kenapa kita kesini ?” kali ini aku berusaha bertanya pada teman baikku, sahabat sehati dan sejatiku, Lee Chunghee.

“No” jawabnya singkat.

Sangaaaat singkat.

“Dasar. Ikan nemu sama ikan buntal ini sama saja” umpatku pelan.

“Sudah, diam saja kamu ikan tengiri” Chunghee membekap mulutku.

Baik baik,

Kali ini aku mengalah.

Aku mengekor di belakang Chunghee.

Memasuki lift dan menuju lantai 5.

“Ryujin, kamu tau ruang ICU nya dimana ?” tanya Chunghee padaku.

“Ha? Mollayo, Chunghee. Aku kesini saja tidak pernah” jawabku.

“Suster, ruang ICU dimana ya ?” tanya Chunghee pada suster suster yang lagi nggosip.

“Disana. Mau menjenguk ya ?” tanya salah suster sambil menunjuk suatu tempat.

“Ne, suster” jawab Chunghee sambil tersenyum.

“Mau menjenguk siapa ? Pasien Park , Lee atau Choi ?” tanya suster yang lain.

“Lee” jawab Chunghee cepat.

Lee ?

Lee siapa ?

Dan apa hubungannya denganku ?

“Pasien yang cakep itu. Saya antar deh” kata suster yang lain lagi.

“Iya. Makasih” Chunghee yang kaget karena suster itu langsung bicara ala Aziz Gagap.

Aku terus mengekor dibelakang suster yang daritadi senyum senyum nggak jelas.

“Chunghee, aku kebelet pipis” kataku pelan.

“Kebelet pipismu ilang kalau udah lihat yang ini. Udah jangan bawel cerewet mbacot, okeh ?” omel Chunghee.

“Ah, Ne~ Terserah dirimu saja lah ikan buntal” jawabku pasrah.

Tak lama kemudian,

Aku dan Chunghee sudah sampai di ruang ICU.

“Masuklah” suruh Chunghee.

“Mwo ? Masuk ? Aku ? Kenapa ? Emang dia siapa ? Lee ? Siapa itu ? Kamu aja deh yang masuk” cerocosku nggak karuan.

“Sudahlah, Ryujin. Cerewet banget deh ah. Udah masuk ajaaaaaa” Chunghee mendorongku untuk masuk keruangan itu.

“Eh kamu ikut aja deh” aku menarik Chunghee masuk.

Aku mendekati pasien itu dan rasa ingin tahuku benar benar besar saat ini.

“Lihatlah, siapa dia” kata Chunghee pelan.

Aku menoleh padanya dan langsung melihat siapa yang berbaring di atas ranjang putih itu.

“Tuan Lee Hyuk …” aku belum selesesai membaca nama yang ada di ujung ranjangnya.

“Hyukjae ?” tanyaku pada Chunghee.

Chunghee hanya diam saja.

Tak lama kemudian,

Donghae memasuki ruangan yang sudah dari tadi aku dan Chunghee masuki.

“Apa yang terjadi dengan Hyukjae ? Dia kenapa ?” tanyaku pada Donghae dan Chunghee.

Mereka masih diam.

Belum ada satu katapun mereka keluarkan dari mulut mereka.

“Bicara padaku. Beri tahu aku. Kenapa diem aja kaliaan ?” teriakku.

Tangisku sekarang pecah.

Perasaanku tidak karuan.

“Dia kecelakaan, Ryujin. Dan …” Donghae tidak meneruskan kata katanya.

“Dan ?” aku ingin tahu apa yang terjadi pada namjaku.

“Dan matanya buta. Pecahan kaca mobilnya ada yang merusak matanya” lanjut Chunghee.

Aku hanya terdiam dan menangis.

“Hyukjae, kenapa harus matamu ? Bukan mataku ?” tangisku disamping Hyukjae yang masih belum sadar.

“Sudah ya, Ryujin. Secepatnya kita cari donor mata yang cocok. Jangan sedih ya” kata Chunghee.

“Kau masih ingin disini ?” tanya Donghae.

“Ne, menunggu Hyukjae sampai sadar” jawabku.

Donghae dan Chunghee langsung keluar dan disini hanya ada aku dan Hyukjae yang belum sadar.

***

“Pagi, Hyukjae baby” sapaku saat baru datang.

“Pagi, sayang. Hari ini kamu bawa apa ?” tanyanya.

“Hm … Ayo tebak. Pokoknya makanan kesukaanmu” jawabku sambil kemudian mencium pipi kanannya.

“Apa ? Langsung makan saja, ya. Aku sudah lapar” pintanya.

“Yaudah. Bilang nyerah aja nggak mau. Ayo buka mulutnya” aku mulai menyuapi Hyukjae.

“Enak ?” tanyaku.

“Heemb. Enak banget. Kamu yang masak ?” tanyanya sambil terus mengunyah makanannya.

“Iya. Tadi aku di ajarin eomma masak. Di ajarinnya khusus buat kamu” jawabku.

“Habis ini minum obat ya” lanjutku.

Dia hanya mengangguk sambil tersenyum.

“Ryujin, aku ingin pulang. Apa dokter sudah memperbolehkanku ?” tanyanya.

“Mau pulang ya ? Nanti aku tanyain deh” jawabku.

“Hai Hyukjae” teriak Chunghee dan Donghae.

“Duh, merusak saja orang orang ini” omelku pelan.

“Aku bawa ayam goreng kesukaanmu lo. Dimakan ya” kata Donghae sambil memberiku sekantong makanan.

“Makan berdua ya” lanjut Chunghee.

“Makasih” kataku sambil tersenyum.

“Aku mau sekolah” kata Hyukjae tiba tiba.

“Tapi kamu kan belum sembuh” kataku.

“Tunggu sampai sembuh ya” lanjutku.

“Kamu mau sekolah gimana, Hyuk ?” tanya Chunghee.

Hyukjae terdiam.

Chunhee hanya menutup mulutnya dengan tangannya sendiri.

“Aku akan bantu kamu. Aku nanti minta izin kepala sekolah buat pindah ke kelasmu. Aku duduk disebelahmu. Aku yang akan mengajarimu. Jangan khawatir” jawabku.

“Aku selalu didekatmu. Kapanpun kamu membutuhkanku, aku ada buatmu. Aku akan menjadi matamu” lanjutku.

Hyukjae langsung memelukku.

“Jangan tinggalkan aku. Aku nggak mau berjalan melewati kegelapan sendiri” kata Hyukjae.

Ia menangis dipelukanku.

“Nggak akan. Aku akan selalu denganmu. Sampai akhir hayatku” aku menghapus air matanya.

Dia memelukku lagi.

Lebih erat seakan ia tahu kalau aku akan …

***

“Eonni, ini makannya Hyukjae oppa. Jangan ketinggalan” kata Ryumin sambil memberi kotak makan bergambar Mario Bros kesukaan Hyukjae.

“Iya. Makasih ya” jawabku.

Setelah itu aku langsung pergi kerumah Hyukjae.

Ya, Hyukjae sudah seminggu keluar rumah sakit.

Dia benar benar ingin sekolah,

Tapi kasian dia.

Jadi aku suruh dia untuk tidak sekolah dulu.

Aku ?

Aku minta izin untuk merawat dia.

Kakaknya sedang studi di luar negeri dan eomma appanya bekerja diluar negeri.

Kalau seperti itu,

jika bukan aku, siapa lagi yang akan merawatnya?

Neomu banjjak banjjak nooni booshuh no no no no no

Neomu kkamjjak kkamjjak nollan naneun oh oh oh oh oh

Neomu jjarit jjarit momi ddeullyuh gee gee gee gee gee

O juhjeun nunbit oh joeun hyanggee

Pasti Hyukjae yang telpon.

Karena itu ringtone khusus untuk Hyukjaeku sayaaaangg C=

“Ada apa, Hyukjae ?” aku mengangkat telponnya.

“Sayang, kamu kerumah ?” tanyanya.

“Iya. Ini diperjalanan” jawabku.

“Ehm .. Aku mau tidur. Rumah nggak aku kunci. Nanti kalau sudah sampai, bangunin aku ya” katanya.

“Oke sayang. Istirahat okeh ?” kataku sambil tersenyum.

“Ne. Cepat ya” pesannya.

“Ne” jawabku.

Dia menutup telponnya.

Aku langsung cepat cepat kerumah Hyukjae.

***

Aku masuk kerumah Hyukjae dan langsung menuju kamarnya.

Aku melihatnya sedang tertidur pulas.

Kakiku melangkah mendekatinya.

Mataku tertuju pada

Buku harian ?

Aku membaca salah satu bagian dari buku itu.

Tuhan, terima kasih engkau masih memberiku Ryujin yang setia.

Dia selalu menemaniku dimanapun dan kapanpun.

Menyayangiku apa adanya.

Seandainya aku punya satu permintaan,

Aku ingin melihat wajahnya lagi dengan mata baru yang indah seperti mata milik Ryujin

Dari dulu sampai sekarang dia selalu mengagumi mataku ?

Sampai sampai ia ingin mendapat donor mata yang sempuna dan seindah mataku.

Tuhan, berikan saja mataku untuknya.

Air mataku jatuh.

“Ryujin” panggil Hyukjae.

Dia sudah bangun ?

“Iya, Hyukjae ? Lapar ? Aku buatkan makan ya ?” tanyaku.

“Nggak. Aku nggak laper kok. Kamu nangis ya ?” tanyanya balik.

“Hm? Ani” jawabku cepat sambil menghapus air mataku.

“Kamu udah bohong 123 kali lo ke aku. Jangan jadiin ini yang ke 124 dong” Hyukjae selalu menghitung berapa kali aku bohong.

Aku aja lupa berapa kali bohong ke dia.

“Kamu kenapa ? Kamu menangis karenaku ? Kamu malu ya karena punya namjachingu buta sepertiku ?” tanyanya.

“Aniyo. Jangan berkata seperti itu, Hyukjae. Sedetikpun aku nggak pernah berpikir seperti itu. Aku sayang kamu apa adanya. Kamu mau buta, tuli, bisu, cacat apapun aku akan selalu ada didekatmu. Dan aku nggak pernah malu punya namjachingu sepertimu. Berhenti bicara seperti itu” jelasku.

Aku memeluknya erat.

“Jangan berkata seperti itu lagi. Aku sayang kamu, Hyukjae. Aku mecintaimu. Sangat mencintaimu melebihi cintaku pada diriku sendiri” ucapku sambil menangis di pelukannya.

Hyukaje hanya diam.

“Jangan menangis, Ryujin. Aku juga mencintaimu” balasnya.

Hyukjae mencium keningku dan memelukku lagi.

***

“Tulis disini. Nah” aku membantu Hyukjae untuk menulis apa yang Choi sonsaengnim katakan.

Dia mulai menulis dengan hati hati.

“Nggak apa apa salah, nanti aku benerin. Kan ntar aku ajarin” kataku.

“Hyukjae, sudah tidak usah ditulis. Dengarkan saja apa yang saya katakan” kata Choi sonsaengnim tiba tiba.

“Ah? Ne sonsaengnim” jawabnya.

KRIINGG …

Bel istirahat akhirnya berbunyi juga ~

“Hyukjae, makan di kantin yuk. Kita makan nasi goreng favortimu” ajakku.

Dia mengangguk senang dan tersenyum sangat lebar.

“Berdirinya hati hati. Sebentar sebentar, ada tasmu” kataku sambil menyingkirkan tasnya.

“Udah. Yuk” aku berjalan menuju kantin bersamanya sambil tertawa.

Setelah sampai di kantin,

Aku dan Hyukjae menuju tempat nasi goreng favorit Hyukjae berada.

“Nagii, minta nasi goreng kesukaannya Hyukjae” aku memesan makanan kesukaan Hyukjae.

“Oke, mbak” jawab si penjual.

Setelah selesai,

aku dan Hyukjae makan.

Seperti biasa aku menyuapi Hyukjae.

“Enak ? ” tanyaku.

“Enak. Kamu makan juga dong” jawabnya.

“Nggak. Kamu yang makan. Aku tadi udah sarapan” tolakku.

“Oh. Ryujin, nanti sepulang sekolah antar aku keruang latihan dance bisa ?” pintanya.

“Bisa. Tapi sekarang makan dulu” jawabku.

“Aww.. Pasangan yang serasi ada di kantin rupanya” tiba tiba Chunghee dan Donghae muncul.

“Chunghee, Donghae” panggil Hyukjae.

“Hyukjae, aku mau dong jadi kamu. Setiap hari disuapin sama Ryujin” celetuk Donghae.

Celetukannya itu membuat dirinya mendapat jitakan gratis dari yeojachingunya.

Hyukjae tertawa mendengar Donghae kesakitan.

“Kau tega sekali, Hyukjae. Sahabatmu di jitak begini, kamu malah ketawa” kata Donghae kesal.

Aku dan Chunghee hanya tertawa melihat Hyukjae tertawa terbahak bahak karena Donghae.

***

Pulang Sekolah, @ Ruang Latihan Dance …

“Aku ingin berdiri di tengah tengah ruangan ini” pinta Hyukjae.

Aku langsung menuruti apa yang ia inginkan.

“Duduklah di pojok sana” katanya.

Aku duduk di pojok,

Di bawah tangga.

“Ryujin, bisa tolong nyalakan musiknya ?” tanyanya.

“Iya, sayang. Aku nyalain” jawabku sambil menyalakan musik.

Musik mengalun sesuai dengan irama dan ketukannya masing masing.

Hyukjae masih berdiri mematung.

Apa maksutnya ?

Tak lama kemudian, kakinya bergerak.

Sangat lincah.

Seakan kakinya memiliki mata.

Dari kaki kini mulai naik.

Saat ini badannya ikut bergerak melengkapi gerak kakinya.

Tangannya pun akhirnya ikut bergerak.

Dia menari ~

Ya, Menari.

Gerakannya sama indahnya seperti Hyukjae yang dulu.

Hyukjae yang masih bisa melihat.

Musik berhenti.

Hyukjaepun berhenti.

“Hyukjaee. Keren” teriakku sambil memeluknya.

“Chinja ? Gomawo, baby” dia tidak percaya dengan apa yang aku katakan.

“Sekarang pulang yuk. Capek” kata Hyukjae.

“Ayo. Duh baru sebentar udah keringetan kaya gini” kataku sambil menlap (?) keringetnya dengan handuk Barbie ku.

Dia hanya tersenyum.

***

COMMENT yaa C=

no silent readers !

Advertisements

9 responses to “My eyes for you, my dance machine [1/2]

  1. kerennnnnnnnnnn cerita na…
    sedih juga… takut na ryujin donorin mata na tuk hyukjae…
    ntar gimana ya jadi na???
    baca lanjutan na dulu ach…
    mudah2an happy end…

  2. ahhh,sedih bacanya..
    ga kebayang klu hyukjae ampe buta..hikss,biaskuuu!!! 😥
    setia bgtt dh si ryujin ntuu..:)

  3. sedih ceritanya… 😥
    aku takut si ryujin bakalan donorin mata.a 😥
    ryujin setia bngt sama eunhyuk walaupun eunhyuk buta dia masih sayang sama eunhyuk jarang tuh cewe kaya gtu haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s