♥ Saranghae Nam-Dongsaeng ♥

Title: Saranghae Nam-Dongsaeng

Author: Wenz Li

Genre: Angst, Family

Rating: G

Length: OneShot [2610 words]

Cast: Lee Sunkyu (SNSD), Lee Taemin (SHINee), other

Disclaime: Diadaptasi dari cerita temen aku, temen aku baca dari cerpen yang ntah apa judulnya *lupa*, so… don’t kill me ok!

A/N: Anggap Sunkyu sama Taemin itu kakak adik, Sunkyu noona Taemin, dan Taemin namdongsaeng Sunkyu.

HAPPY READING AND NO BASHING!


SARANGHAE NAMDONGSAENG

Wenz Li Collections

Namaku Lee Sunkyu, anak pertama di keluarga Lee. Aku memiliki satu orang namdongsaeng bernama Lee Taemin.

Kali ini aku tidak akan bercerita tentang kisah cintaku dengan seorang namja atau apapun yang bersifat romantis, kali ini aku akan bercerita tentang kisahku dan namdongsaengku, Lee Taemin.

Mungkin kisah ini tak berharga untuk kalian simak dan baca, tapi tetap ingin berbagi kisah ini pada kalian.

Sebuah kisah yang menceritakan tentang ketulusan hati seorang anak lelaki kecil kepada Noona-nya. Ya, dia adalah Taemin, namdongsaengku.

Lee Taemin.

Anak yang ketika berumur 10 tahun adalah seorang anak lelaki kecil yang manja, cengeng dan penakut. Semua teman-temannya selalu mem-bully dia karena sifatnya itu, membuatku yang ketika itu sudah berumur 14 tahun harus selalu menjaganya.

Lambat laun aku mulai lelah menjaga Taemin setiap hari, dia tidak pernah mau berubah dewasa, selalu anak kecil yang manja dan cengeng.

Ketika dia berumur 12 tahun, aku memarahinya dan tidak mau memperdulikannya lagi jika ia tidak berubah menjadi anak lelaki yang dewasa dan berani.

Umur 13 tahun Taemin berubah menjadi lelaki yang mandiri dan pemberani. Dia tidak memerlukan siapapun untuk menjaganya lagi.

Inti cerita ini bukan tentang Taemin yang berubah menjadi lelaki dewasa yang mandiri dan pemberani, tapi tentang ketulusan.

Aku masih ingat kejadian 4 tahun yang lalu, ketika aku berumur 17 tahun. Saat itu aku memerlukan banyak uang untuk membeli LKS pelajaran Matematika disekolahku. Aku meminta uang kepada Appa, tapi tidak ia berikan. Karena uangnya hanya cukup untuk kehidupan sehari-hari kami.

Keluargaku memang bukan dari keluarga yang berada, keluargaku hanya keluarga kecil dan sangat sederhana, hidup berkecukupan dan apa adanya.

Ketika itu, aku tak tau harus meminta uang darimana lagi. Apakah aku harus memohon-mohon pada Appa dan Umma? Tetap saja tidak bisa. Appa dan Umma tidak akan memberikan uang padaku.

Didalam kegundahan hatiku saat itu, tiba-tiba sebuah ide buruk terbesit dalam benakku. Kalian tau apa yang aku lakukan demi mendapatkan uang untuk membeli LKS Matematika?

Aku mencuri tabungan milik Umma.

Suatu tindakan bodoh dan tolol yang pernah aku lakukan hanya demi sebuah LKS Matematika.

Ketika sadar tabungan Umma sudah menghilang, Umma sangat sedih, dan Appa, ia sangat marah. Appa memarahiku dan juga Taemin.

Aku masih ingat, ketika itu Appa bertanya padaku dan Taemin, siapa yang mencuri uang Umma. Aku diam dan tidak mengaku. Taemin juga terdiam.

Untuk beberapa saat tak ada yang mengaku diantara aku dan Taemin. Tentu saja, karena Taemin bukan pelakunya dan aku sebagai pelaku tidak ingin mengaku karena takut pada Appa.

Tiba-tiba Taemin mengangkat tangannya dan berkata pada Appa dan Umma: “Aku yang mencuri uang tabungan Umma, mian…” ucap Taemin lirih ketika itu.

Betapa terkejutnya aku ketika Taemin mengatakan semua hal itu. Aku sangat yakin, ketika itu Taemin pasti tau pelaku pencurian itu adalah aku, tapi aku merasa aneh pada Taemin, dia tidak menuduhku dan malah mengaku kalau semua itu ia yang melakukan.

Appa yang mendengar pengakuan langsung dari mulut Taemin langsung marah pada Taemin, dengan cepat Appa mengambil sebuah bamboo panjang dan memukul betis Taemin dari belakang, membuat Taemin meringis kesakitan.

Detik itu juga, penyesalan besar menjalar dalam hatiku. Kenapa harus Taemin? Padahal aku yang salah. Tuhan… maafkan aku…

Setelah Appa selesai memukul Taemin, Taemin kembali kekamarnya dengan terhuyung-huyung. Kakinya pasti sangat sakit.

Taemin mengambil kotak P3k yang ada dikamarnya dan mengobati lukanya sendirian. Umma dan Appa tidak menolong Taemin, itu semua karena ingin membuat Taemin jera. Padahal aku, akulah pelakunya, seharusnya akulah yang mereka hukum, dan aku juga yang seharusnya merasa sakit saat ini. Tapi Taemin… Taemin menggantikan posisiku itu.

Aku berjalan mendekati Taemin dan merebut kotak P3K yang sedang ia pegang. Kemudian kuolesi betadine pada betis Taemin yang terluka dan memar. Taemin meringis menahan sakit. Tapi ia tidak menangis.

“Kenapa?” tanyaku padanya. Taemin menatapku pada bingung.

“Kenapa mengaku kau adalah pelakunya? Bukankah kau seharusnya tau, pelaku itu adalah Noona?” tanyaku lagi dengan tatapan penuh rasa menyesal juga bersalah pada Taemin.

Taemin tersenyum manis padaku, “Tak apa-apa, aku tau Noona punya alasan sehingga harus mencuri uang Umma. Biar aku saja yang tanggung resikonya, yang penting Noona tidak terluka.” Ucapan Taemin selalu terngiang dalam telingaku.

Tidak apa-apa katanya. Tidak apa-apa.

Begitu mudahkah ia mengatakan tidak apa-apa untuk hal seperti itu?

Hal ini membuatku sangat terluka dan juga sedih.

“Maafkan aku, Taeminie.” Aku memeluk namdongsaeng tersayangku itu, tak terasa air mataku mengalir membasahi pipiku. Air mata penyesalan.

“Tidak apa-apa Noona, jangan menangis. Semua sudah berlalu. Lupakan saja.” Ucap Taemin bergitu dewasa untuk ukuran anak diusianya itu.

Kejadian itu adalah salah satu dari banyak ketulusan Taemin padaku.

Ah iya, aku juga ingat, ketika aku lulus dari SMA dan hendak melanjutkan kuliah, ketika itu juga Taemin lulus SMP dan hendak melanjutkan SMA.

Appa dan Umma, seperti yang aku katakan pada kalian, kami bukan berasal dari keluarga yang berada, hidup kami apa adanya. Saat itu, Appa dan Umma tidak memiliki cukup uang untuk menguliahkan aku dan menyekolahkan Taemin ke SMA.

Hanya salah satu saja yang bisa Appa biayai, kuliahku atau SMA Taemin.

Aku berfikir sejenak. Kemudian kukeluarkan pendapatku pada mereka semua, “Taemin saja yang melanjutkan SMA. Aku tidak kuliahpun tidak apa-apa. Cukup lulusan SMA saja, aku bisa mencari kerja, sekarang biayai saja Taemin masuk SMA. Kuliah tidak terlalu penting kok.” Ucapku ketika itu.

Dengan cepat Taemin menolak usulku. “Tidak perlu. Noona saja yang kuliah. Aku ingin Noona seperti gadis-gadis remaja lainnya, melanjutkan kuliah sampai tinggi. Aku tidak sekolah pun tidak apa-apa, yang penting Noona harus bisa kuliah sampai tinggi.”

“Tapi…” aku berusaha menyanggah ucapannya itu. Tapi Taemin tetap bersikukuh ingin aku yang melanjutkan kuliah. Aku juga tak ingin kalah dengan pendapatku tadi.

Bukan karena aku malas melanjutkan kuliah atau apa, tapi aku tidak ingin Taemin mengalah demi aku. Cukup sekali Taemin mengaku kalau dia adalah pelaku pencurian uang Umma, aku tidak ingin dia mengalah demi aku lagi.

Perdebatan antara aku dan Taemin pun tak terelakkan. Kami terus beradu mulut tak ingin mengalah. Hingga akhirnya Appa memberhentikan perdebatan antara kami.

Tak ada yang menang ataupun kalah diantara aku dan Taemin. Keputusan akhir tetap ada ditangan Appa dan Umma. Jujur, aku sungguh berharap Taemin bisa melanjutkan SMA-nya. Jangan hanya karena aku lalu harus terbengkalai. Aku tak ingin itu sampai terjadi.

Esok harinya…

Untuk kedua kalinya, aku dikejutkan karena Taemin.

Kalian tau apa? Taemin menghilang dari rumah. Ia kabur. Dan ia hanya meninggalkan sepucuk surat dalam kamarnya.

‘Appa, Umma, Noona, Taemin pergi. Taemin akan mencari kerja. Tak usah memperdulikan Taemin. Appa harus menguliahkan Noona sampai tinggi dan sukses. Taemin akan selalu mendoakan untuk kesuksesan Noona. Tak perlu khawatir. Taemin akan baik-baik saja.’

Air mataku menetes sedikit demi sedikit membasahi pipiku.

Waeyo Taeminie? Kenapa begitu memperdulikan Noona?

5 tahun berlalu, dan saat itu aku sudah menjadi mahasiswi jurusan apoteker. Sebentar lagi kelulusanku.

Selama 5 tahun itu, aku tidak pernah lagi bertemu dengan namdongsaengku, Taeminie. Aku dan keluargaku hanya menerima surat dari Taemin selama 1 bulan sekali, yang berisi tentang kabar Taemin. Tapi tak satu pun dari surat Taemin yang mengatakan dimana keberadaannya sekarang. Taemin selalu menyembunyikan identitasnya. Ntah apa alasannya.

Aku ingat, hari dimana kelulusanku kuliah. Saat itu aku dan teman-temanku sedang mengadakan pesta di kost-an ku, kebetulan saat kuliah aku nge-kost di daerah yang tak jauh dari tempatku kuliah. Dan saat kelulusan tiba, semua teman-temanku mengadakan pesta kecil-kecilan dalam kost-an ku.

Saat semua orang sedang berpesta, tiba-tiba pemilik kost-an datang menghampiriku dan bilang ada seorang namja diluar sana yang mengaku adalah temanku, ia ingin bertemu dengan aku. Dengan segera aku keluar kost-an dan menemuinya.

Betapa terkejutnya aku begitu melihat sosok namja didepanku itu.

Lee Taemin. Dia namdongsaengku yang selama ini selalu aku cari. Dia ada didepanku sekarang.

“Taeminie…” panggilku. Taemin tersenyum memamerkan deretan giginya. Senyum yang sudah lama kurindukan.

Dengan segera aku memeluk Taemin erat.

“Noona, cukhae atas kelulusanmu…” ucap Taemin berbisik di telingaku. Aku menganggukkan kepalaku tanpa melepaskan pelukanku padanya.

Beberapa menit kemudian aku melepaskan pelukanku dan menatapnya penuh haru.

Taeminie-ku sudah sangat dewasa, tapi… pakaian Taemin begitu lusuh dan acak-acakan. Sepertinya selama 5 tahun ini dia tidak menjaga dirinya dengan baik.

“Bagaimana kabarmu Taeminie?” tanyaku basa-basi.

Dia tersenyum lalu menjawab, “Baik Noona, Noona sendiri?” tanyanya balik.

“Baik…” jawabku cepat.

“Kenapa bilang kau adalah teman Noona? Kenapa tidak bilang kau adalah adik Noona?” tanyaku lagi.

Taemin menggelengkan kepalanya, “Aku tidak mau teman-teman Noona menghina Nonna, gara-gara Noona punya namdongsaeng sepertiku.” Ucap Taemin lirih. “Sudah melihat Noona dan mengucapkan ‘Cukhae’ saja aku sudah senang.” Lanjutnya.

Ya Tuhan… Taemin begitu memikirkan diriku, sampai ia rela mengaku kalau dirinya hanya temanku saja, bukan namdongsaengku.

Tak terasa air mataku mengalir membasahi pipi, ntah perasaan apa yang aku rasakan saat itu, aku tidak tau, ntah itu perasaan sedih atau terharu.

“Taeminie, pulanglah…” ucapku. Dia menggeleng.

“Aku tidak akan pulang, aku masih harus bekerja, aku akan terus bekerja demi Noona.”

Aku terdiam, aku tak tau bagaimana harus menjawab perkataan Taemin itu.

“Ini untuk Noona, Appa dan Umma…” Taemin menyerahkan sebuah amplop padaku. “Aku sayang Noona, Appa dan Umma.” Lanjutnya. Kemudian ia pergi meninggalkanku sendirian yang masih menangis.

Pertemuan sekejap itu, tak kan pernah kulupakan.

Aku melihat amplop yang Taemin serahkan padaku. Ini uang. Hasil kerja keras Taeminie selama ini.

Lagi-lagi air mataku menetes, dadaku rasanya begitu sesak. Harus sampai seperti inikah pengorbanan Taemin untukku? Aku tidak pernah menuntut apapun pada Taemin. Aku hanya ingin dia bahagia, tapi kenapa? Kenapa Taemin harus begitu baik padaku.

1 tahun kemudian…

Aku menggelar acara pernikahanku dengan seorang lelaki yang sangat aku cintai. Lee Sungmin. Seorang dokter di tempatku bekerja sebagai Apoteker.

Dan lagi-lagi dia datang…

Lee Taemin.

Dia datang menghadiri acara pernikahanku, ah… bukan… sebenarnya Taemin hanya mengirimkan sebuah buket bunga pada hari pernikahanku itu. Sebuah bucket bunga dengan isi ucapan selamat atas pernikahanku. Tapi Taemin sendiri… ia sama sekali tidak datang menemuiku, hanya sebuah ucapan dari bucket bunga saja.

Saat menerima ucapan selamat itu, aku bergegas berlari keluar gedung resepsi dan mencari sosok Taemin, dan aku menemukannya. Dia berdiri didepan gedung resepsi sambil tersenyum menatapku.

“Noona, kau sangat cantik hari ini…” pujinya.

“Masuklah, aku ingin kau menghadiri acara penikahanku ini.” Aku menarik tangannya agar masuk kedalam gedung resepsi. Tapi dengan cepat Taemin melepaskan genggaman tanganku.

“Tidak Noona.” Lagi-lagi Taemin menggelengkan kepalanya dan menolak ajakanku.

“Waeyo Taemin-ah? Kenapa kau tidak pernah mau menerima ajakan Noona?” tanyaku. “Apa kau malu memiliki Noona seperti aku?” lanjutku.

“Bukan itu. Aku hanya merasa tidak pantas berada disini Noona. Aku hanya seorang lulusan SMP, tidak berpendidikan, jauh berbeda dengan Noona seorang Apoteker yang sangat sukses. Aku…, aku tidak ingin Noona malu memiliki namdongsaeng sepertiku.” Jawabnya dengan suara pelan dan senyum palsu yang dipaksakan.

“Hentikan Taeminie, aku tidak pernah malu memiliki namdongsaeng sepertimu, aku bangga memili namdongsaeng sepertimu, berusaha keras demi Noona. Tapi itu sudah cukup Taeminie, aku tidak pernah meminta kau untuk melakukan semua ini. Cukup menjadi Taeminie namdongsaengku saja…” aku tak bisa menahan tangisku.

“Gomawoyo Noona… kau selalu menggapku sebagai namdongsaengmu. Aku senang.” Ucap Taemin.

“Sampai kapanpun kau adalah namdongsaengku, jadi pulanglah…” ajakku lagi.

“Tidak, tidak akan.” Taemin tetap menolak permintaanku padanya. “Katakan pada Appa dan Umma, aku merindukan mereka, tapi aku tidak bisa pulang, aku masih harus bekerja keras Noona.” Lanjutnya.

“Tapi Taeminie…” ucapanku terputus ketika Taemin memutuskan untuk berlari pergi meninggalkanku. Dan tangisku pun pecah detik itu juga.

Sungmin menghampiriku dan mengajakku masuk kedalam gedung resepsi. Setelah pernikahan berlangsung, Sungmin bertanya padaku, apa yang terjadi denganku?

Aku menceritakan semua tentang Taeminie padanya. Sungmin merasa terenyuh mendengar ceritaku itu dan kemudian Sungmin berusaha mencari keberadaan Taemin untukku.

Aku menemukan Taemin.

Tempat tinggalnya sekarang, pekerjaannya dan apa yang suka ia lakukan selama ini.

Hatiku bergitu terpukul dan terasa sangat sesak begitu mendengar semua kenyataan tentang Taeminie selama ini.

Dia tinggal disebuah gubuk kecil yang hanya muat untuk tempat tinggal satu orang saja. Jika hujan datang, maka atap di gubuknya akan bocor. Tetangga disebelah gubuk Taemin bilang Taemin tidak pernah mengeluh jika atap rumahnya bocor. Ia akan dengan sigap mengatasinya sendirian.

Sementara aku? Aku tinggal disebuah rumah yang bisa dikatakan sangat memadai dan berada. Jauh dari rumah tempat tinggalku dulu ketika aku masih bersama Taemin, Umma dan Appa.

Ah iya, Umma dan Appa, mereka sudah meninggal satu tahun yang lalu. Mereka berdua sakit karena selalu memikirkan keadaan Taemin.

Betapa bodohnya Lee Taemin. Ia menyiksa dirinya sendiri dengan tinggal diluar rumah, hanya demi aku, Umma dan Appa. Tapi sebenarnya ia tidak tau, dengan tindakannya itu, aku, Umma dan Appa akan lebih sedih dibuatnya. Babo Taeminie!

Setiap hari Taemin makan seadanya. Bahkan mungkin, ia lupa makan.

Padahal jika ia pulang dan tinggal bersamaku, ia bisa makan sesuka hatinya, tak perlu susah hanya demi makan.

Dan satu hal lagi. Apa kalian tau apa pekerjaan Taemin selama ini?

Dia adalah kuli bangunan. Bekerja siang malam sampai badannya kelelahan, hanya untuk mencari uang yang tidak seberapa. Taeminie selalu menabungkan uang hasil kerjanya itu dan rela tidak makan seharian penuh demi menabung. Dan hasil tabungannya itu…, ia berikan padaku. Untuk biayaku kuliah dulu.

Tuhan… kenapa kau membuat namdongsaengku menderita seperti ini?

Aku tidak rela… aku tidak rela kalau Taeminie-ku begini selamanya.

Aku mengajak Taeminie pulang kerumah baruku bersama dengan Sungmin yang bisa dikatakan sebagai Istana.

Awalnya seperti biasa, Taemin menolak, tapi aku bersikukuh memintanya tinggal dan ia akhirnya mau tinggal bersamaku dan juga Sungmin.

Hari-hari Taemin berlalu bersamaku.

Hingga suatu hari Taemin sering sakit-sakitan. Begitu Sungmin, suamiku yang bekerja sebagai dokter memeriksa keadaan Taeminie, tenyata Taeminie mengidap Kanker Otak stadium akhir. Penyebabnya adalah karena Taemin sering berkerja di tempat bangunan yang banyak mengandung asbes, sehingga tubuhnya tercemar bahan-bahan berbahaya.

Untuk kesekian kalinya hatiku terpukul. Kenapa harus aku yang merasakan semua ini? Kenapa harus Taeminie-ku? Kenapa?

Lima bulan berlalu…

Taeminie menghilang dari dunia ini untuk selamanya. Dia sudah kembali kepada-Nya. Aku percaya ia bahagia dialam sana.

Sebelum Taeminie menghembuskan nafas terakhirnya, aku sempat bertanya padanya,

“Taeminie, kenapa kau melakukan semua banyak hal demi Noona?” tanyaku padanya yang sudah terkulai lemas tak berdaya diatas ranjang rumah sakit.

Ia tersenyum sangat manis. Benar-benar manis.

“Karena dulu Noona yang selalu menjagaku.” Ucapnya parau. Aku terdiam.

“Apa Noona ingat? Dulu anak keluarga Kim pernah menjahiliku dan saat itu Noona habis-habisan melindungiku, bahkan Noona sampai dilempar batu oleh anak keluarga Kim itu, membuat kepala Noona berdarah dan harus dijahit. Saat itu, aku bertekad dalam hatiku sendiri. Aku harus selalu menjaga Noona, apapun yang terjadi. Dan hanya inilah yang bisa aku lakukan sampai saat ini untuk Noona. Mianhae… aku tidak bisa menjadi namdongsaeng yang baik untuk Noona.”

Aku mataku untuk kesekian kalinya mengalir deras.

Hanya karena dulu aku selalu melindunginya dan sekarang ia melakukan semua ini demi aku? Apa ini pantas untukku? Tentu saja tidak. Taeminie bodoh!

“Noona, jangan menangis, mianhae…” ucapnya lirih.

Aku menghapus air mataku.

“Gomawoyo Taeminie…” aku memeluk Taemin erat, kurasakan Taemin tersenyum dibalik pelukanku itu.

“Saranghae Sunkyu Noona…” bisiknya lembut.

Dan… saat itulah… ia menghembuskan nafas terakhirnya.

Kutatap satu persatu album kenangan masa kecilku dan Taeminie.

Sekarang kau pasti sudah tenang disurga bersama Umma dan Appa bukan? Aku senang, kalau kau juga senang Taeminie…

Saranghae Nan Namdongsaeng…

Thank For Everything you gave to me…

I’ll always remember you… my bro…

Inilah kisahku. Sebuah kisah yang selamanya akan selalu aku simpan dalam tempat yang special dalam hatiku. Kisahku dan namdongsaengku, Lee Taeminie.

~ FIN ~

Ada yang merasa kenal dengan cerita ini nggak? Adakah, adakah? *celingukan*

Mian ya kallo ceritanya ngeboringin B-A-N-G-E-T-!

Namanya juga angst, jadi ya mellow mellow gimana gitu. *bikin ngantuk* /PLAK

Tapi buat yang udah baca sampai akhir cerita ini, satu kata untuk kalian:

“WAJIB COMMENT!”

Advertisements

83 responses to “♥ Saranghae Nam-Dongsaeng ♥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s