Please, Marry Me! (Part.2)

Title : Please, Marry Me! (Part.2)

Author : Cute Pixie (Rara) & Keyholic (Nisa)

Main Casts : Choi Minho, Han Yooki

Minor Casts : Yoon Jisun, Lee Taemin, Shin Hyunchan, and other casts (still hidden)

Genre : Romance

Length : Series

Rate : PG-15

Previous Part : Part. 1

Mian ngadat apdetnya.. huhu.. TToTT

Oh ya, mian kalo ceritanya asli jelek bgt..

For SILENT READERS, please back off!

***

Sebuah mobil berwarna hitam pearl meluncur dengan mulus di jalanan kota Seoul. Si pengendara tak lain seorang wanita berumur 40 tahunan –berkulit pucat dan berperawakan khas wanita Asia. Garis wajahnya terkesan angkuh dan seperti wanita berkelas. Ia memasang kacamata hitamnya yang membuat pandangannya sedikit terhalangi oleh sinar matahari di sore hari itu. Ia berusaha memfokuskan pandangannya ke jalan.

Wanita itu bernama Choi Minyoung. Istri dari seorang dosen perguruan tinggi negeri di Seoul, sekaligus sebagai ibu dari dua buah hatinya yang kini sudah beranjak dewasa, Choi Hyunchan dan Choi Minho. Anak tunggalnya –Choi Hyunchan, terhitung sebagai salah satu mahasiswi kedokteran terbaik. Selain otak yang bisa dibilang diatas rata-rata, anak gadisnya itu tumbuh menjadi wanita yang bisa diandalkan keluarga. Ia juga baik dan sangat menyayangi adik semata wayangnya, Minho. Meskipun sikapnya sedikit kasar dan suka memukul adiknya sendiri.

Dan terakhir. Anak keduanya, anak lelaki yang paling diharapkannya. Buah hati yang akan membanggakan nama keluarga Choi, Minho. Berusia 17 tahun, memiliki prilaku yang sopan –meskipun tak terlalu pintar dalam bidang akademis. Tapi sekarang, semuanya hancur. Masa depan anaknya bahkan sudah diujung tanduk.

Minyoung menarik nafas panjang –berusaha menghirup oksigen sebanyak-banyaknya agar perasaannya sedikit tenang. Tangan kanannya masih memegang penuh kendali. Pikirannya kacau balau, terlebih lagi saat ia tahu bahwa anak lelakinya akan segera menikah. Menikah di masa muda, sungguh hal yang tak bisa masuk di akalnya. Meskipun ia juga seorang penganut yang menikah di usia remaja.

Dua hal yang menjadi alas an utama untuk menolak permintaan Minho untuk menikah adalah : ia tak ingin Minho menikah saat masih duduk di bangku SMA dan terutama pada si gadis yang mengakui dirinya hamil. Sepertinya Minyoung tak mempercayai gadis itu. Bisa saja ia berpura-pura hamil, dan memaksa Minho untuk menikahinya. Jujur ia masih shock dengan semua yang menimpanya akhir-akhir ini.

Ckiiittt… Mobil mewah itu berhenti tepat di depan sebuah pusat pebelanjaan di sudut kota Seoul. Minyoung mematikan mesin mobilnya, memasukkan kunci mobil kedalam tas hitamnya, dan segera turun dari mobil.

Refreshing dan melihat-lihat barang mungkin akan membuat pikirannya sedikit lebih dingin.Minyoung memasuki pintu utama Mall, lalu melenggang menuju butik langganannya. Sedetik kemudian langkahnya terhenti tepat didepan butik itu. Sapaan dari pemilik butik terdengar saat kedua kaki Minyoung memasuki pintu butik yang menjual pakaian-pakaian high class itu.

Setelah melihat-lihat pakaian dengan waktu yang cukup lama, akhirnya wanita itu memutuskan untuk membeli mantel berbulu coklat seharga sejuta won –meskipun musim dingin masih jauh. Setelah memanggil karyawan butik untuk mencatat notanya, ia lalu beranjak ke kasir untuk membayar.

Betapa terkejutnya ia saat matanya menangkap sosok gadis remaja yang sedang mengecek barang belanjaannya. Gadis berambut sebahu, dengan mata bulatnya. Ya, ia sangat kenal garis muka gadis itu. Gadis itulah yang beberapa minggu lalu didapati tidur bersama anaknya. Gadis pengacau.Ah.. siapa nama gadis ini?

“Dia bukan gadis pengacau, umma. Dia punya nama. Namanya Han Yooki!”

Ia mengingat-ingat ucapan Minho saat ia menyebut gadis itu dengan sebutan ‘gadis pengacau’ –semalam . Han Yooki –atau apalah itu, dia tak perduli.

Wanita itu agak terkejut saat melihat gadis itu. siap-siap saja posisinya akan berubah menjadi ibu mertua si gadis berseragam karyawan butik ini.Minyoung mendesis pelan. Cih. Dari pakaiannya saja, ia bisa menebak bahwa gadis itu pasti berasal dari keluarga golongan bawah.

“Ini barangnya..” Yooki mendongak, dilihatnya wajah wanita yang masih membekas diingatannya. Dia.. umma Minho?

Deg. Jantung Yooki seakan-akan berhenti berdetak saat ia menyodorkan belanjaan pada pembeli yang notabene dikenalnya itu.Entah apa yang harus Yooki lakukan sekarang.Ia tak menyangka akan seperti ini. Bagaimana reaksi umma Minho saat melihatku bekerja ditempat ini? Pikir Yooki.

Sedetik kemudian bibirnya terkunci rapat, seakan-akan lidahnya terasa kelu untuk mengatakan sesuatu pada wanita itu. Akhirnya ia hanya membalas dengan senyuman kecil tak berarti pada Minyoung.

Minyoung mengambil benda yang disodorkan kepadanya, membalas senyuman Minyoung dengan muka datar, lalu berjalan keluar pintu butik.

***

Sebuah mobil sedan hitam terhenti di tengah gang sepi. Di dalam mobil itu, si pengemudi berusaha meyakinkan apa yang dilihatnya. Minyoung tak percaya kenapa dia bisa ada di sini –maksudnya di gang sekumuh dan sesempit ini. Bagaimana bisa ada orang yang tahan di tempat kotor seperti ini? Batin Minyoung.

Matanya menerawang jauh, mengikuti pergerakan kaki Yooki yang sengaja dibuntuinya tadi sepulang bekerja hingga pulang larut malam seperti ini. Entah kenapa ia ingin sekali mengetahui tempat tinggal gadis itu. Ia tak mau Minho menikah dengan orang yang statusnya tak jelas seperti Han Yooki. Ia tak yakin Han Yooki berasal dari keluarga baik-baik.

Minyoung melihat Yooki berjalan terseok-seok dengan higheels yang dikenakannya. Tatanan rambutnya sudah berantakan, ditambah lagi makeupnya yang luntur akibat bekas terpaan air hujan tadi sore. Minyoung sempat kehilangan jejak Yooki saat gadis itu berbelok ke gang lain. Mau tak mau Minyoung turun dari mobil, meskipun ia harus menahan jijik dan menembus angin malam yang bertiup sangat kencang. Kacamata hitam dilepasnya, untuk lebih mudah mengintai Yooki. Ia melihat Yooki terhenti di sebuah rumah kumuh, Yooki mendorong pagar rumahnya dan memasuki pintu kayu yang sangat kecil.

Jujur saja, wanita itu tak terkejut dengan pemandangan yang dilihatnya barusan. Kini sudah jelas siapa sebenarnya Han Yooki itu. Setelah punggung Yooki menghilang dibalik pintu rumahnya, Minyoung berbalik arah, berjalan menuju mobil miliknya yang terparkir manis di ujung gang, dan segera menyalakan mesin mobilnya.

***

Minho mengaduk-aduk bubur di depannya dengan tatapan enggan. Hyunchan noona dan appa berada di depannya –duduk dimeja makan dan memakan makanan yang tersedia diatas meja dalam diam. Hatinya agak bimbang. Bimbang antara menikah dengan Yooki ataukah harus membatalkannya saja. Kalau ia menikah dengan Yooki, bagaimana dengan Jisun? Apa harus aku memutuskannya?

Padahal Minho sangat menyayangi Jisun. Ia tak mau melepaskan Jisun demi apapun itu. Kecuali Yooki.

Tapi ini lain. Mau tak mau, ia harus menikahi Han Yooki. Walaubagaimanapun bayi yang sedang dikandung Yooki adalah miliknya juga.

“Saranghaeyo geudae maneul jeo haneul mankeum…”

Rigtone milik ponsel Minho berbunyi. Sedetik kemudian namja itu sudah mengeluarkan ponsel berflip hitam dari saku celananya. Terpampang nama “Jisunnie” di layar. Minho menekan tombol answer pada keypad ponselnya.

Terdengar suara riang dari seberang sana.“Yoeboseo.. oppa?”

“Aku kangeeen…” sahut Jisun manja. Minho hanya tersenyum kecil.

“Ne.. aku juga.”

“Kau sudah makan?”

“Ah, ini lagi sementara makan..”

“Oh ya? Baguslah..” terdengar suara lega dari Jisun.”Kau harus makan yang banyak .. aku tak mau kau sakit.”

Minho tertawa.” Hahaha.. kau seperti ummaku sa –“

BRAK!

Terdengar suara pintu yang seperti didobrak paksa dengan sangat keras oleh seseorang. Minho menghentikan ucapannya . Ia mendengar suara umma yang baru pulang –berteriak -teriak dari arah pintu  utama dan sontak membuat Minho, Hyunchan, dan appa terperanjat dan menghentikan aktivitasnya.

“Jisunnie, teleponnya aku tutup dulu ya! Aku kebelet pipis!” ucap Minho berbohong. Soalnya kalau tak segera ditutup, bisa-bisa obrolan Jisun hampir berjam-jam lamanya. Terdengar suara pasrah dari gadis itu.

“Ya sudah.. huft.” Kata Jisun jengkel. “I love you..”

“Love you, too.”

Tit.Setelah menutup ponselnya, ia memasukkan benda itu kedalam saku.

Umma kenapa? Tanya Minho dalam hati. Minho, appa, dan Hyunchan berpandangan satu sama lain, lalu akhirnya mereka mengambil gelas mereka –meneguknya dengan terburu-buru,  bergegas menuju ruang tengah dimana umma sedang melepas lelahnya diatas sofa.

“Umma, wae gurae?” Tanya Minho saat mereka bertiga sudah duduk di sofa ruang tengah. Minho berpindah posisi –duduk disamping ummanya yang sedang memijit keningnya. Hyunchan dan appa hanya bisa terdiam dengan raut muka khawatir.

“Kau tak boleh menikah dengan gadis itu!” sentak umma dengan mata terpejam. Ia memperbaiki posisi duduknya dan menyingkirkan barang belanjaannya hingga ke sisi sofa.Set! mendengar ucapan pedas dari ummanya, bibir Minho terkunci rapat. Umma berbicara lagi.

“Aku sudah tahu dia. Dia bukan dari keluarga berada. Dia tak pantas dengan kita!”

Haish. Sejak kapan sifat umma matrealistis seperti ini? Minho bertanya-tanya dalam hati.

“Aku hanya setuju jika kau menikah dengan gadis yang jauh diatas kita. Kita ini sudah hidup sedehana. Gaji appa pas-pasan. Aku bosan hidup terus seperti ini. Hanya dengan kau menikah dengan gadis yang diatas kita saja aku sudah merasa lega. Ini semua demi kebaikanmu, Minho-ah.” Lanjut umma lagi, berterus terang.

Minho hanya bisa menunduk. Sulit untuk melawan kata-kata ummanya. Antara iya dan tidak, namja itu sama sekali tak memilih keduanya. Kata-kata umma seakan menusuk jantungnya.

“Tapi.. umma –“

Appa memotong kata-kata Minho. “Kita harus membiarkan Minho menikah. Toh, Minho akan lulus sekolah dua bulan lagi. Bayangkan jika kita berada di posisi keluarga gadis itu, pasti kita akan merasa sedih. “

Dan akhirnya appa dan umma pun beradu mulut. Appa mendesak Minho untuk bertanggung jawab, sedangkan umma sebaliknya. Semua ini membuat pikiran Minho makin kusut.

“Sudahlah, umma..” Hyunchan berusaha menghentikan umma yang sepertinya ingin menjelek-jelekkan gadis yang akan dinikahi Minho. Ia berteriak marah pada Minho. “Ya! bicaralah! Dasar laki-laki tak bertanggung jawab!”

Minho berkata dengan suara rendah. “Aku.. aku akan tetap menikahinya, meskipun umma melarangku.”

Hyunchan dan appa tersenyum kemenangan, sementara umma tak bisa berkata apa-apa lagi. Akhirnya ia bangkit dari sofa, lalu bergegas menaiki tangga menuju kamarnya. “Terserah. Biarkan saja mereka menikah dan tinggal bersama. Asal jangan tinggal di rumah ini.”

Kini yang tersisa hanya mereka bertiga.Pandangan Hyunchan lurus, menatap tajam adiknya yang terdiam dan wajahnya terbenam. Hyunchan maju dan mencengkram kerah baju adiknya itu.

“Ini semua gara-gara kau! Semua jadi kacau gara-gara perbuatanmu! Kalau kau tak menghamili gadis itu, tak akan seperti ini jadinya!”

Namja itu tak bisa melawan. Selain ia takut pada kakaknya, perkataan Hyunchan noona memang ada benarnya. Namun semuanya sudah terlambat, ia hanya bisa merutuki nasibnya.

TING.TONG.

Suara bel terdengar. Akhirnya Hyunchan melepaskan cengkramannya, lalu berjalan membuka pintu rumah. Haish, siapa sih yang bertamu malam-malam begini? Mengganggu saja! Ingin sekali rasanya gadis itu menonjoknya!

Hyunchan membuka pintu rumah sambil mendumel sendiri.

“Ngapain sih bertamu malam-malam begi –ah..” Hyunchan langsung meralat ucapannya saat menyadari tamu yang berada di muka pintu. “An.. annyeong..”

Yang dibukakan pintu tersenyum simpul. Ada dua orang. Yang satu wanita yang sudah berumur, dengan rambut ubanan dan sedikit garis keriput dibagian sekitar matanya. Seperti orang yang sudah terlalu letih. Disampingnya ada gadis muda, berambut sebahu. Hyunchan mengenal sosok gadis ini, terlebih lagi dengan tipikal wajahnya.

Kedua tamu itu membungkuk sopan. Hyunchan membalasnya dan mempersilahkan masuk. Kedua orang itu mengikuti langkah Hyunchan yang mempersilahkan mereka duduk di ruang tengah dengan perasaan asing sekaligus canggung.

Minho terkejut saat melihat sosok Yooki yang tiba-tiba saja berada ditengah-tengah mereka. Ia menatap wajah Yooki sekilas, sementara Yooki membalasnya sambil tersenyum pahit.

Mereka berlima sudah duduk diposisi masing-masing. Minho disamping appa dan noona-nya, sedangkan Yooki berdua dengan ummanya duduk disofa lain yang berhadapan. Tak lama appa pun yang mulai berbicara.

“Aku sudah mendengar kalau anak Nyonya Han hamil.” Ucap appa dengan sopan –berusaha tak menyinggung hati umma Yooki. “Sungguh sangat menyesal.. aku minta maaf sebesar-besarnya atas perbuatan anak lelakiku..”

Umma Yooki hanya terdiam. Kenyataan ini sungguh tak bisa diterimanya. Ia tak menyangka Yooki  akan hancur masa depannya. Walaupun sebenarnya ia tak memiliki rasa kasihan apapun pada gadis ini, semuanya hanya demi menghormati mendiang ayah Yooki yang  sudah meninggal setahun lalu. Kalau bukan karena pria yang sangat dicintainya itu, ia tak akan sudi menampung anak tirinya itu.

Umma Yooki berusaha tersenyum senatural mungkin. “Gwenchana.. semua sudah terjadi.” Ia mendelik kearah Yooki. “Jadi, kapan anak tuan akan bertanggung jawab pada anakku?”

Minho dan Yooki sama-sama terkejut.Sekilas Minho menoleh pada Yooki, berusaha tersenyum tapi  sebenarnya senyum canggunglah yang ditunjukkan pada gadis itu. Sedangkan hati Yooki sedang bergemuruh. Sedih dan tak rela jika pernikahan ini akan dilangsungkan. Appa berkata.”Secepatnya. Secepatnya pesta pernikahan akan digelar.”

“Lalu pestanya..”

“Tenang saja, nyonya. Keluarga kami yang akan mempersiapkannya. Nyonya tak perlu repot mengurusi keperluan pernikahan. Kami semua yang akan menanggungnya,”

Baguslah, batin umma Yooki dalam hati.Walaupun rumah keluarga Choi ini tak terlalu besar –seperti yang diharapkannya, tapi tak apalah. Toh, Yooki akan menikah dengan anak lelaki keluarga Choi dan ia bisa bebas tinggal di kediamannya, tanpa harus bersusah payah mengusir Yooki dari rumah.

***

Yooki mematut dirinya di depan cermin. Bayangannya terpantul menghasilkan sosok gadis yang cantik. Gadis itu berdiri persis diepan cermin –disebuah ruangan yang bercat serba putih. Yooki melihat dirinya sekali lagi. Rambutnya yang panjang diikat setengah, anak rambutnya yang hitam kecoklatan itu disibak kesamping. Ia memakai gaun pengantin berwarna putih yang terjuntai panjang.

Dalam kurun waktu yang tak lama lagi, ia akan mengalami peristiwa yang sangat besar dalam hidupnya. Pernikahan. Dan sayangnya, satu hal itu-lah yang paling dihindarinya.

Menikah di usia muda memang bukan keinginannya. Bukan maunya juga ia bakal hamil di luar nikah.Apalagi menikah dengan pemuda yang tidak dicintainya.

Perlahan-lahan air matanya menetes –membasahi makeup yang melapisi wajahnya. Ia merasa sangat sedih, dan ragu apakah keputusan ini tepat. Jujur saja, jawabannya mungkin iya.Di tangan Yooki terselip selembar foto berukuran kecil, dimana ada dia dan seorang pemuda disampingnya. Ekspresi Yooki dan pemuda di foto itu tampak bahagia sekali.

Lee taemin… sedang apa dia sekarang?

“Yooki-ya..”

Tiba-tiba pintu kamar rias terbuka sedikit dan muncul sosok umma yang memakai hanbok. Refleks Yooki meremas foto di tangannya dan menyembunyikannya dilaci meja rias dengan gugup. Untung saja umma tak menyadarinya, batin Yooki.

Umma tersenyum saat melihat Yooki memakai gaun pengantin. Akhirnya. Waktu berlalu dengan sangat cepat. Kini ia berdiri di belakang Yooki –persis menghadap cermin seukuran tubuh manusia itu. Tangannya bergerak, menyentuh pundak Yooki. Ia memuji penampilan Yooki hari ini.

“Neomu yeppeoda..” puji umma. Ia berucap.”Kalau melihatmu berpakaian seperti ini, aku jadi ingat mendiang appamu. Dulu aku juga seperti kau –memakai baju pengantin dan merasa gugup. Aku sempat ragu untuk menjadi istri kedua appamu. Tapi perasaan itu kukubur jauh-jauh. “

Yooki tersenyum kecut. Umma berkata lagi. “Kau sedih?”

Bibir Yooki terkunci rapat.

“Kuharap tidak. Seharusnya kau senang dengan hari terpentingmu ini, kau tak boleh sedih, Yooki-ah.”

“Nde.” Ucap Yooki sambil menunduk.Padahal di dalam hatinya, seakan-akan berteriak, ingin mengatakan tidak.

Tiba-tiba pintu kamar rias terbuka lagi, kali ini kepala Hyunchan unnie yang muncul dari pintu. Ia menyahut dengan keras. “Yooki-ya, pengantin pria sudah menunggu!”

Umma mengenggam tangan Yooki dengan erat, ia berusaha meyakinkan gadis itu. “Sudah saatnya, Yooki-ya. “

Yooki mengangguk. Tiba-tiba tangannya gemetaran, jantungnya deg-degan bukan main.

Gadis itu berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Lakukan saja, Yooki, batinnya.

***

Saatnya tiba. Dia, berdiri disamping gadis yang memakai gaun pengantin itu. Minho. 17 tahun. Dan Han Yooki. 17 tahun.

Sebuah gereja seadanya disulap menjadi acara yang tak terlalu mewah –karena orang yang diundang pun tak terlalu banyak. Letaknya pun jauh dari pusat kota, agar tak ada yang tahu akan pernikahan rahasia ini. Hanya keluarga terdekat saja yang menghadiri pemberkatan pernikahan mereka . Itupun hanya keluarga Minho saja, keluarga dari pihak pengantin wanita hanya diwakili oleh seorang saja, yakni nyonya Han.

Beberapa ucapan yang tidak enak sempat melintas di telinga Yooki. Dan itulah yang membuat hatinya panas. Yooki melirik namja bertubuh tinggi di sampingnya. Minho tampak sangat tampan mengenakan tuxedo putih. Tanpa sadar, Minho pun melirik kearah Yooki.Dalam hati, ia memuji penampilan gadis itu. Kepala mereka menunduk saat mata mereka bertemu.

Mata Yooki memanas saat mereka sudah berdiri berdampingan di depan pendeta. Air matanya ingin sekali menetes saat pendeta baru saja ingin melakukan sesi ‘pengucapan sumpah pernikahan’. Yooki menggigit bibir bawahnya, ia menoleh ke belakang dan melihat Tuan Choi, Hyunchan unnie, dan umma memberinya semangat dengan tatapan mereka dari bangku tamu. Gadis itu terkejut saat dirasakannya tangannya disentuh seseorang. Ternyata Minho. Minho menggenggam tangan Yooki, dan menatap Yooki teduh –seolah-olah berkata ‘tenanglah, Han-goon’.

Pendeta mulai membacakan sumpah pernikahan. Sekilas terlihat senyuman dari pria itu. Ia berkata.

“Apakah aku bersedia menerima gadis ini sebagai pendampingmu?”

Minho terdiam, pikirannya mengambang. Tapi dengan cepat dihapusnya. Ia menjawab mantap.”Ya, aku bersedia.”

Pendeta berbalik kearah Yooki. “Apakah aku bersedia menerima pemuda ini sebagai pendampingmu? Menemaninya di saat senang, maupun sedih, sehat maupun sakit?”

Sebelum Yooki menjawab, Minho tersenyum kearahnya dan itulah yang membuat hati Yooki semakin tenang. Ia menjawab dengan pelan. “Ya, aku bersedia.”

“Sekarang anda dapat mencium pengantin wanita.”

Kini posisi mereka saling berhadapan satu sama lain. Jantung mereka berdua berdetak cepat. Antara gugup, takut. Kini jarak Minho dari Yooki sangat dekat. Perlahan Minho membuka kain tipis yang menutupi penglihatan Yooki, wajahnya semakin mendekat. Yooki memejamkan matanya. Ia takut jika Minho akan menciumnya.

Jarak bibir mereka sekarang tingga beberapa senti lagi. Minho tersenyum kecil saat melihat ekspresi Yooki, mengurungkan niatnya untuk mencium bibir gadis itu, lalu akhirnya mengecup kening Yooki hingga Yooki membuka kelopak matanya.

****

Hari sudah malam. Pesta pernikahan sudah usai. Semuanya kini berada dalam aktivitasnya masing-masing. Sepasang pengantin baru itu keluar dari mobil bercat silver. Si pengantin wanita yang masih berbalut gaun pengantin berusaha mengangkat koper besar berwarna hitam yang diambilnya dari bagasi. Sementara pengantin laki-laki mendongakkan kepalanya. Rumah baru mereka. Hadiah dari appa dan ummanya. Bukan hadiah –lebih tepatnya.  Rumah itu diberikan appa dan umma untuk Minho karena umma sendiri  tak ingin melihat wajah Yooki berada di tengah-tengah mereka. Minho hanya bisa menerimanya saja, dan tak berniat memberitahukan alasannya ke Yooki.

“Biar aku saja.” Tawar Minho saat Yooki berniat membawa koper miliknya. Baru saja dia ingin menolak, tapi Minho bersikukuh untuk membawakannya untuk gadis itu. Akhirnya Yooki mengikuti langkah Minho memasuki rumah baru mereka. Rumah dengan dua lantai, sisi luarnya bercat putih bersih. Sebuah taman kecil dengan lampu yang berwarna-warni di depan rumah membuat suasana cukup terang pada malam hari seperti ini. Rumah yang berukuran mini, tapi cukup untuk mereka berdua.

Mereka berdua terperangah saat menatap ruangan utama didalamnya. Bukan karena desainnya –desainnya biasa-biasa saja, tapi seluruh barang sudah tertata rapi di dalamnya. Mulai dari sofa, meja makan, alat-alat dapur, semuanya sudah ready to use. Mereka sempat terkejut saat mengetahui kamar di rumah ini cuma ada satu. Minho berpikir sejenak. Apa maksud appa memilihkan rumah yang hanya ada satu kamar di dalamnya? Huh.

Minho dan Yooki menaiki tangga, dan membuka pintu kamar. Mereka berdua memasuki kamar dan mata mereka menjejali setiap sudut ruangan itu. Kamar yang kecil untuk ditempati berdua.Semua peralatan sekolah mereka sudah tertata rapi seperti semula. Dan seragam Minho yang digantung tepat disamping seragam Yooki.Apalagi tempat tidurnya yang tergolong besar itu cuma hanya ada satu. Bukan dua single bed seperti yang ada dipikiran mereka.

Saat Minho sedang meletakkan koper disamping lemari, Tiba-tiba Minho merasakan benda yang bergetar di balik sakunya. Dengan segera diangkatnya tanpa melihat nama si penelepon. “Yeoboseo?”

“MINHO-YA! KAU SUKA DENGAN RUMAHNYA, KAN?!”

Minho mendengus. Dia sangat mengenal suara ini. Siapa lagi kalau bukan Hyunchan noona.  Ia menjawab dengan suara pelan saat Yooki berbalik kearahnya dan segera berdiri di sampingnya untuk mendengar suara Hyunchan.

“Nde.”

“CEPAT LOUDSPEAKER-KAN SUARANYA, ADA YANG INGIN KUSAMPAIKAN UNTUK YOOKI!” teriak Hyunchan tak sabaran. Minho menurutinya, menekan tanda loudspeaker pada benda itu. Alhasil suara Hyunchan terdengar dari seberang sana.

“Yooki, kalau Minho berbuat yang macam-macam padamu, bilang saja padaku! Aku pasti akan datang dan  menghajarnya!” Yooki tertawa kecil. Sedangkan Minhyo bermuka kecut. Hyunchan berbicara lagi “Dan kau, Minho, jagalah Yooki baik-baik. Terutama bayinya. Aku tak mau kalau sampai terjadi sesuatu pada calon keponakanku. ARASSEO?!”

Minho jengkel.”Nde.. nde.. ara..”

“Dan satu lag –“ perkataan Hyunchan terputus saat Minho menekan tombol reject pada ponselnya, lalu memasukkan benda itu ke dalam saku celananya.

“Huh. Cerewet.”

Sementara itu, Yooki merasa sangat lelah. Bruk! Ia menghambur ke atas ranjang, sambil merentangkan kedua tangannya selebar mungkin. Huahmm… ngantuk.Hari yang sangat melelahkan,. Terlebih lagi ia harus sekolah esok paginya.

Gadis itu memejamkan kedua matanya. Dan saat ia membuka matanya, tiba-tiba saja Minho sudah berada di sampingnya.

“Kau mau apa?” Tanya Yooki.

“Mau tidur.” sahut Minho santai. Ia memperbaiki posisi tidurnya ke samping, persis menghadap gadis itu.Gadis itu menjerit histeris dan mendorong tubuh Minho dari samping.”AAAA.. Pergi dari sini!”

Minho terkejut. “Lho? Waeyo? Ini kamarku juga, tahu.”

“Pokoknya tidak boleh! Pergi dari sini.. ppali!”

“Haish. Berisik!” Minho menutup telinga kanannya dengan tangannya, “Oke.. aku pergi! Tapi biarkan aku berbaring disini beberapa menit saja! Aku sangat lelah seharian ini.”

Yooki pasrah. Akhirnya mereka berbaring di ranjang yang sama –masih terbalut baju penganntin. Ekor matanya melirik kearah Minho yang tak lagi memejamkan matanya. Namja itu malah memandangi langit kamar.

“Mianhe.”

Tiba-tiba saja Yooki mengeluarkan satu kata itu. Kepala Minho menoleh kearah Yooki. “Maaf soal apa?”

“Maaf karena aku sudah merebutmu dari Jisun..”

Minho sedikit terkejut. “Jisun? Kau mengenalnya?”

“Siapa yang tak kenal Yoon Jisun? Seluruh siswa di sekolah pasti tahu hubungan kalian.” Yooki mendesah pelan.

Minho menanggapinya dengan senyum. Yooki berkata lagi.”Tenang saja, aku tak akan merebutmu dari Jisun. Saat anak ini sudah lahir, kita akan bercerai dan kau bisa bebas. Kita akan berjalan sendiri-sendiri. Kau dengan Jisun,  dan –”

Minho memotong ucapan gadis itu. “Kau dengan Lee Taemin, kan?”

Deg. Dada Yooki berdebar kencang. Semburat merah muncul dari kedua pipinya. Ia salah tingkah. “Kita tak lagi membahas soal namja itu!”

Minho tertawa, sedangkan Yooki berusaha menutupi rasa gugupnya. Lama mereka terdiam. Tak ada suara yang muncul dari kedua belah pihak.

“Tapi.. sebenarnya, aku mengharapkan kita membesarkan anak itu bersama.” Ucap Minho lirih. “Selamanya.” Yooki terdiam saat mendengarkan kata-kata Minho.Pemuda itu meralat ucapannya. “Ah, lupakan saja yang kukatakan tadi.”

Minho berusaha mencairkan suasana.”Lalu.. apa yang akan kita lakukan sekarang?”



.::::TBC:::.

AAA.. mian, aku potong ceritanya gak pas banget, kkk~

soalnya udah kepanjangan, ya sutralah aku kasih TBC smpe disitu ajh..

gomawo yang udh mau ngerelain untuk baca, n komen^^

oke, seperti biasa.. kalo responnya kurang, mungkin akan smpe disini ajh.Percuma kalo yang ngeview banyak trus responnya sedikit, sama ajh buang-buang tenaga.. -____-

intinya, aku butuh banget respon kalian. Trutama buat silent readers yang ‘mahal’ soal komen. Gak usah bingung mau komen apa.Aku siap nampung berbagai macam komentar.. hohoho

so, comment, please.. yang komen disayang author Tuhan.. kkk~

Advertisements

212 responses to “Please, Marry Me! (Part.2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s