Our Big Trouble! – Prolog

Our Big Trouble! – Prolog


Author            :           Park Kyungjin

Cast                :           SHINee – Lee Jinki

Hwang Suin

SHINee – Kim Jonghyun

Other Cast     :           SHINee – Kim Kibum (Key)

Kim Rinhae

Genre              :           Romance

Rating             :           PG-15

Length            :           Series (On Going)

Disclaimer      :           Just my stupid idea

+++

“Jinki!” tiba-tiba seseorang muncul ke dalam ruang kerjaku dan langsung meletakkan setumpuk map dengan asal ke atas mejaku.

“Ne appa…” tanggapku dengan malas pada sosok appa yang notabene adalah pimpinan dari perusahaan ini.

“Pokoknya malam ini juga semuanya harus selesai. Arachi?” tanyanya dengan enteng. Yeah, biarpun dia appaku, tapi tetap saja profesionalitas adalah segalanya.

Aku hanya mengangguk dengan malas, dan sesaat kemudian appaku keluar dari ruangan ini.

Bughhh!

Aku menjatuhkan kepalaku dengan asal ke atas meja kerjaku yang terbuat dari kayu ini.

‘Sampai kapan aku begini terus’ gumamku dalam hati.

Aku sudah tidak tahan lagi. Umurku memang sudah mapan, tapi dengan pekerjaan yang setiap hari menumpuk seperti ini juga bisa menghabiskan sebagian besar waktu dan energiku. Bosan!

Aku melirik jam tangan yang kukenakan di lengan kiriku.

Omo… Sudah jam lima sore. Itu berarti, aku hanya memiliki waktu yang sangat singkat untuk mengedit semua berkas-berkas ini!

“Arrrrghhh!” aku menggebrak meja dengan keras sambil mengacak-acak rambutku frustasi. Hhh, kalau begini terus, bisa-bisa aku jadi gila!

Aku lalu melirik benda yang terletak di sudut mejaku, kunci mobil.

Setelah menimbang-nimbang sebentar, akhirnya aku memutuskan untuk menyambar benda itu lalu berjalan keluar dari ruangan kerjaku.

‘Masa bodoh dengan pekerjaan, aku ingin bersantai’ gumamku lagi dalam hati lalu melangkah dengan pasti di sepanjang koridor kantor.

“Jinki-ssi, anda mau kemana?” seorang yeoja yang ternyata sekretaris pribadi appa-ku itu mencegatku saat aku sudah hendak membuka pintu kaca gedung. Dengan malas aku membalikkan tubuhku lalu menanggapi perkataannya.

“Bilang pada appa, aku hanya keluar sebentar. Jangan bicara yang macam-macam!” kataku singkat, lalu segera berlalu dari hadapan yeoja yang sudah terlihat cemas itu.

Di luar gedung, mobilku sudah terparkir dan aku langsung naik ke atasnya, lalu tanpa ragu lagi aku melajukannya dengan cepat meninggalkan area perkantoran yang sudah membuatku muak itu.

Di tengah perjalanan, aku membuka kaca mobil itu lebar-lebar dan membiarkan angin liar sore hari dari luar mobil masuk dan menyapu rambutku yang sudah agak panjang ini.

“Yeah, bebas!”

+++

Setelah lama berkeliling-keliling menyusuri kota Seoul yang sudah mulai ramai ini, aku memutuskan untuk singgah di suatu tempat karena sejak tadi aku hanya mengemudikan mobilku tanpa arah yang jelas. Tanpa terasa hari sudah malam.

Aku lalu memasuki sebuah bar kelas elite yang sebelumnya sama sekali belum pernah aku kunjungi.

Baru saja aku membuka pintunya, suara bising yang berasal dari dalam sudah membuat telingaku merasa tidak nyaman, belum lagi orang-orang yang sibuk keluar masuk bar ini hingga membuat suasana di dalam terasa sesak dan seakan-akan tidak memiliki ruang kosong.

Aku berusaha menerobos sekumpulan manusia-manusia yang sepertinya sudah setengah sadar itu dan berjalan semakin ke dalam. Semakin jauh aku melangkah, tiba-tiba aku mencium bau alkohol yang sangat menusuk di hidungku. Ugh, seketika itu pula perutku terasa mual.

Oke, Jinki. Kau harus menahannya.

Akhirnya aku memutuskan untuk tetap melangkahkan kakiku hingga akhirnya aku tiba di meja yang paling sering dikunjungi orang-orang stress yang ingin melepaskan penatnya.

“Ada yang ingin kau coba bro?” sapa bartender itu padaku. Aku menatap wajahnya yang terlihat menyeringai ke arahku.

“Errr…” aku menimbang-nimbang sebentar apa yang harus aku lakukan saat ini. Haruskah aku mencobanya?

“Hey, sepertinya kau bingung. Coba ku tebak, kau pasti baru-baru ini kan ke tempat ini?” tanya bartender itu lagi.

“Oh, yeah…” jawabku kikuk. Ugh, entah mengapa aku merasa sedikit malu.

“Wow! C’mon boy, jaman seperti ini masih ada orang sepertimu? Padahal kalau dilihat dari penampilan, kau ini tipikal namja kelas elite yang tentunya sudah terbiasa dengan trend hidup seperti ini…” ia berseru kencang.

Aku hanya tersenyum datar menanggapi perkataannya barusan. Yeah, sekarang aku sudah benar-benar malu.

“Hey, tidak usah sungkan seperti itu. Well, aku mencoba untuk mengerti keadaanmu. Biar ku tebak, sedang ada masalah, may be? Err, pekerjaan?”

“Bingo!”

“Oh oke oke, no problem boy. Aku sudah cukup berpengalaman dalam menghadapi pelanggan-pelanggan sepertimu. Wanna try something?”

“Huh?” kataku bingung. Sesaat kemudian ia mengeluarkan sebotol minuman dari bawah mejanya lalu menyodorkannya ke arahku.

“Coba saja. Get well soon…” katanya dengan nada meyakinkan.

Glekk.

Aku menelan ludahku dalam-dalam, mencoba menimbang-nimbang kembali. Aku lalu melirik ke arah botol minuman yang ia sodorkan, hhh, aku yakin seteguk saja minuman itu menyentuh tenggorokanku, aku langsung tak sadarkan diri, mengingat ini baru pertama kalinya aku memasuki dunia ini.

Bartender itu lalu meletakkan sebotol minuman itu persis di hadapanku. Sungguh, kebingungan kini berkecamuk di pikiranku, seakan ada sepasang iblis dan malaikat yang sedang mati-matian berjuang untuk mempertahankan argumen masing-masing. Tetap menjadi Jinki yang baik, atau berubah menjadi Jinki yang sedikit liar?

Aku lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Suara hentakan musik yang sangat keras mengiringi para pengunjung bar yang asyik menari-nari tanpa beban. Ruangan ini terlihat sangat ramai dengan lampu warna-warni yang kadang membuat mataku silau.

Setelah menimbang-nimbang sebentar, akhirnya aku mengambil sebuah keputusan.

“Tidak ada salahnya mencoba” kataku akhirnya lalu mulai mengambil salah satu gelas yang sudah tersedia. Tanpa lama-lama lagi, bartender itu menuangkan sedikit minumannya ke dalam gelasku.

Aku lalu mendekatkan minuman itu ke mulutku.

“Ughhh…” hanya dalam jarak yang belum terlalu dekat, aku bisa mencium bau alkohol yang sangat tajam.

“Hhahahah… Just try it!” bartender itu menertawakan tingkahku.

Baiklah, dicoba saja.

Aku kembali mencoba meminumnya. Berhasil, minuman itu kini sudah bersarang di mulutku.

“Hey Jinki!” tiba-tiba seseorang menepuk pundakku dari belakang bersamaan dengan aku menyemprotkan kembali minuman yang baru singgah di mulutku itu.

Aku menoleh dengan geram dan mencoba melihat siapa yang telah merusak acaraku ini.

“Jonghyun?” aku mendapati Jonghyun, sepupuku yang juga ikut bekerja di perusahaan milik appa-ku.

“Aigo… Ternyata kau sudah mulai liar rupanya…” katanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Tak lupa pula ia mengeluarkan seringainya yang terlihat sangat khas itu.

“Errr…” aku menggaruk-garuk kepalaku dengan panik. Aduh, ottokhe? Bagaimana kalau anak itu melaporkan kejadian ini pada appa-ku? Bisa-bisa aku dicambuk habis-habisan dan diusir dari rumah, apalagi appa-ku adalah orang yang cukup dipandang di masyarakat.

“Hahahah… Santai saja, aku tidak akan memberitahu siapapun…” kata Jonghyun sambil tertawa, seakan-akan bisa membaca isi pikiranku. Ia lalu mengambil posisi dan duduk di sampingku. Aku menghela napas lega saat mendengar perkataannya barusan. Hhh, semoga saja anak ini bisa dipercaya.

“Sedang stress? Pekerjaan?” kata Jonghyun lagi.

“Bagaimana kau tahu?” tanyaku heran.

“Hey, coba pikir apa yang bisa membuat seorang Lee Jinki yang terkenal berkepribadian baik ada di tempat seperti ini?” katanya yakin.

Diam-diam aku membenarkan perkataannya. Seketika itu pula seleraku untuk mencoba minuman memabukkan itu ku urungkan. Aku menyingkirkan segelas minuman itu dari hadapanku.

Tak lama kemudian, Jonghyun memesan minuman yang tidak bisa ku cerna dengan pasti apa nama minuman itu pada bartender yang setia menguping pembicaraan kami.

“Ya! Kim Jonghyun!” tiba-tiba muncul lagi seorang namja bersuara berat yang datang menghampiri Jonghyun.

“Oh, Key!” Jonghyun menyambut namja yang ternyata bernama Key itu. Beberapa saat kemudian, mereka larut dalam pembicaraan mereka berdua meskipun namja yang bernama Key itu sudah terlihat berbicara dengan tidak karuan, mungkin karena pengaruh alkohol.

Setelah beberapa lama berbincang, akhirnya Jonghyun ingat tentang keberadaanku di tempat ini.

“Oh iya Key, perkenalkan, ini Lee Jinki…” kata Jonghyun sambil memperkenalkan aku pada Key. Aku lalu mengulurkan tanganku dan langsung disambut dengan baik oleh Key.

“Jinki”

“Ne, Jinki. Just call me Key…” katanya lalu kesambut dengan anggukan kecil. Key lalu kembali berbicara pada Jonghyun.

“Hey, sepertinya ia masih baru…”

“Ne. Biasa, ia sedang stress karena pekerjaan” Jonghyun menanggapi perkataan Key.

“Wow. Jangan bilang semua yang ada di sini belum pernah ia rasakan sebelumnya huh?” tanya Key sambil menatapku dengan ekspresi tidak percaya. Jonghyun hanya menanggapinya dengan mengangkat bahunya.

“Hahahahahahahahahahhahahahhaha… Aigo…” seketika itu pula Key tertawa dengan sangat lebar. Aku yang melihatnya hanya bisa tersenyum kecut. Hey, sebegitu ketinggalannyakah aku ini?

“Alcohol? Never? Oh My God… Hahahahhaahhahahhaha…” ia terus-terusan tertawa. Jonghyun yang tadinya hanya diam kini ikut-ikutan tertawa. Tanpa sadar emosiku sedikit terpancing melihat mereka berdua tertawa merendahkanku.

“Kalau menegak alkohol saja belum pernah, apalagi kalau meniduri wanita! Kau ini belum pantas dikatakan sebagai seorang pria! Hahaahahahhahahhaa…” ia tertawa terpingkal-pingkal sambil menepuk-nepuk pundak Jonghyun. Jonghyun yang awalnya hanya tertawa kecil kini ikut tertawa dengan tak kalah lebar dari Key.

“Malam ini juga ia akan melakukannya…” tiba-tiba seorang yeoja muncul dan menggandeng lenganku. Seketika itu pula Key dan Jonghyun menghentikan aktivitasnya menertawaiku dan menatap yeoja itu dengan sedikit terkejut.

Aku menatap wajah yeoja berambut panjang yang tiba-tiba muncul di tengah-tengah kami itu.

Eh? Bukankah dia itu sekretaris pribadi Jonghyun?

“Maksud kamu?” tanya Jonghyun pada yeoja itu dengan nada menyelidik.

“Ya, malam ini juga Lee Jinki akan menjadi pria yang sesungguhnya, seperti yang kau katakan. Benar kan?” kata yeoja itu sambil menoleh ke arahku.

Omo… Apa maksud yeoja ini?!

TO BE CONTINUE


Oke,, ini masih prolog.. dilanjutin g?? kalo banyak yang minta,, aku lanjutin.. kalo kalian diam,, berarti aku menganggap kalo ff ini g mau dilanjutin.. -__________-

oiya,, ini bukan ff yadong kok~ 😉 prolognya aja yang kayaknya ngarahin ke sana.. pikunya juga seadanya dulu yah,, lagi g ada waktu buat ngedit piku.. heeheh.. o.ov

btw,, met ultah ya mas nyunyu.. ni ff spesial buat ultahnya si nyunyu.. hahahah.. *ketawa gaje*

66 responses to “Our Big Trouble! – Prolog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s