[FREELANCE] The Lakeside View – chapter 1,5 The Choi Family

Title: The Lakeside View – chapter 1,5 The Choi Family

Author: Min

Genre: drama, romance, comedy

Cast:

Choi Minho

Choi Yoo Min (oc)

Choi (Lee) Tae Min

Kwon Ji Yong

Kwon Yoon Cha (oc)

Kwon (Yang) Yo Seob

Lee Donghae

Lee Viona (oc)

other cast

Rating: PG-15 (berhubung udh gak ada adengan-adegan tidak senonoh, ratingnya diturunin)

 

Sore itu aku dan Minho duduk di meja makan. Kesunyian ini sudah menyelimuti kami selama 3 jam lebih. Setelah kejadian tadi siang, tidak ada satupun dari kami yang mau memulai bicara. Kejadian tadi siang. Hah, mengingat-ingat itu hanya membuatku merasa mual. Sepasang suami istri. Saling memergoki pasangannya selingkuh. Ketika mereka sendiri sedang selingkuh. Ya, kedengarannya memang lucu, sebenarnya TIDAK. Itu adalah kejadian paling memalukan, paling tidak bisa dijelaskan, dan paling menghancurkan martabat diri sebagai seorang manusia. Aku merasa seperti disamakan dengan binatang, yang bisa berganti-ganti pasangan seenak jidat. Ya Tuhan, kuasa apa yang sudah membuatku melakukan hal menjijikan itu? Minho juga tidak ada bedanya. Dia juga sama menjijikannya denganku. Kau tahu siapa wanita yang ada dibawahnya saat itu? Kwon Yuri. Kakak kandungku sendiri!

 

 

Kwon Yuri. Kakak perempuanku satu-satunya yang hanya satu tahun lebih tua dariku. Wajah cantik. Tubuh aduhai. Pekerjaan: tidak menentu. Dia memang wanita yang suka menggoda. Menurutnya sikap laki-laki yang salah tingkah ketika digodanya itu sangat lucu. Iya menggoda untuk kesenangannya sendiri, bukan karena dia kegatelan atau apa. Aku tahu kakakku bukan wanita murahan. Tapi apa yang terjadi siang ini benar-benar sudah mengubah pandanganku padanya. Yuri memang punya sifat yang care-free. Dia hidup untuk diri sendiri, dan memilih untuk tidak berkeluarga. Tidak seperti aku yang memilih untuk hidup normal seperti layaknya 90% wanita lain di dunia ini, Yuri memilih untuk berpetualang. Berpetualang dalam artian mencoba berbagai hal baru, bukan berpetualang seperti Dora the explorer atau mendiang Steve Irwin. Walau kami jarang bertemu, Yuri sering sekali meneleponku atau mengirim pesan/email padaku, untuk sekedar memberi kabar dan berbagi cerita. Hubungan kami memang dekat. Sebenarnya aku pernah berpikir untuk hiup seperti dia. Mendapatkan pengalaman baru setiap hari. Pastinya bukan hidup yang monoton. Tetapi aku selalu takut untuk menjadi seperti dia. Lagipula, jika aku mengikuti gaya hidup ‘hippie’ seperti Yuri, aku tidak akan mempunyai Taemin dalam hidupku. And you know how much I love him, my little angle.        Ngomong-ngomong soal Taemin, tadi aku sudah menyuruhnya menginap di rumah Yoseob untuk malam ini, agar tidak mengganggu peperangan besar yang mungkin akan terjadi malam ini. Lagipula aku juga tidak ingin dia melihat orang-tuanya bertengkar dan membuatnya sedih.

Kesunyian masih menyelimuti ruang makan ini. Tidak ada diantara kami yang mau memulai berbicara. Arrgghhhh! I can’t stand this silence. Tapi aku tidak tahu harus bicara apa.

“Haah, jika tidak ada yang mau mulai bicara diantara kita, lebih baik kita pergi saja” ucapku seraya beranjak dari kursi, hendak keluar.

“Tunggu Choi Yoo Min. Masih banyak yang perlu kita bicarakan” Ucap Minho tegas padaku, yang membuatku kembali ke tempat dudukku. “Jangan berlagak seperti kamu tidak berbuat apa apa, Choi Yoo Min. You know you did wrong” kata Minho, yang membuatku naik darah.

“Oh, jadi kau pikir kau tidak salah, Choi Minho?” kataku ketus.

“Aku tidak pernah bilang aku tidak berbuat salah. Tapi kamu juga tidak benar. We’re both guilty and we need to talk about this…… issue”

“Issue? Maksudmu bagaimana kita mencoreng pernikahan kita dengan berhubungan dengan orang lain, di tempat kita membangun keluarga kita, di waktu yang bersamaan?” ucapku dengan sarkastik.

“Ya.. Itu” jawab Minho, lalu diam.

“Jadi, apa yang perlu kita bicarakan?” tanyaku akhirnya memelankan suaraku.

“Entahlah. Aku tidak tahu. Aku tidak pernah membayangkan ini akan terjadi. Aku juga tidak berpengalaman dengan hal seperti ini.” Jawab Minho, to the point. Jujur saja, Aku juga bingung harus bicara apa. Hal seperti ini tidak pernah terlintas di otakku untuk terjadi. “Kau tahu? Nama keluarga ini baru saja hancur” Kata Minho dengan nada datar.

“Oh, jadi maksudmu aku sudah menurunkan martabat keluarga ini? Kau pikir kau lebih baik dariku?”  ucapku sedikit emosi.

“For God sake, Min, you fucked the gardener!” teriak Minho.

“And you fucked my sister!” ucapku tidak kalah keras.

“We’re no better than each other. We both brought shame to this family” ucap Minho bijak.

“Agree” jawabku menyetujui. “So, what do we do now? Apakah kita harus….”

“Bercerai?” Minho menyelesaikan kalimatku.

“Bercerai” ucapku perlahan. Diam kembali menyelingkupi kita.

“Mungkin memang itu pilihan terbaik untuk kita” ucap Minho memecah keheningan yang tadi sempat hadir di tengah-tengah kami.

“Ya, mungkin memang” Jawabku sambil memandang ke meja makan. “Tapi.. bagaimana dengan Taemin?” Aku bersikeras, jika sampai kam bercerai, Taemin HARUS ikut denganku.

“Oh iya. Bagaimana juga dengan rumah ini dan segala isinya? Rumah ini kita bangun bersama dengan uang hasil jeri payah kita berdua” ucap Minho menimpali omonganku yang tadi.

“Oh iya. Bagaimana juga dengan perusahaan kita? Perusahaan itu juga secara sah milik kita berdua. Dan jika kita bercerai, aku tidak yakin bisa bekerja dengan mantan suamiku. It’s gonna be akward” ucapku menambahkan.

“Oh iya.” Jawab Minho. Suasana kembali hening di antara kita. “Aku butuh waktu untuk memikirkan ini” katanya dengan wajah serius.

“Yeah, me too.” jawabku. “Sepertinya lebih baik kita menjauh untuk beberapa saat sampai masing-masing dari kita mendapat keputusan.”

“Ok. Biar aku yang keluar dari rumah ini untuk beberapa saat. Nanti jika kita bertemu lagi, semoga saja kita sudah menentukan pilihan kita.” Kata Minho, sambil lalu bergegas berdiri dari kursi meja makan.

“Tunggu, sebelu kau pergi, boleh aku tanya sesuatu?” Ucapku ragu-ragu yang dijawab dengan anggukkan Minho.” Kenapa harus dengan kakaku?” Untuk sementara Minho terlihat bingung dan diam.

“Kenapa harus dengan tukang kebun?” tanyanya balik padaku, yang membuatku diam.

“Because he’s hot?” jawabku ragu-ragu.

“Well, now you know the answer. Because she’s hot” Jawab Minho sambil lalu naik ke kamar atas, membereskan barang-barangnya. Meninggalkanku sendirian di ruang makan yang mulai gelap karena sore sudah berganti menjadi malam.

 

***

Sudah 2 hari semenjak Minho pergi dari rumah ini. Taemin yang sudah kembali dari menginap di rumah Yoseob, kebingungan ketika tidak adah appanya di ruamh. Dengan berat hati aku harus menjelaskan bahwa aku dan Minho sedang ada masalah, walaupun tidak kukatakan apa masalah itu. Aku terlalu malu untuk mengucapkanapa yang sudah kuperbuat pada anakku ini. Tapi aku yakin, Taemin sudah cukup dewasa untuk mengerti apa yang aku maksud karena setelah itu dia hanya mengangguk.

“Umma tidak apa-apa?” tanyanya padaku ketika aku selesai menjelaskan padanya.

“Tidak, umma tidak apa-apa Taeminnie.” jawabku lemas sambil menunduk. Taemin lalu memelukku, melihat aku yang sudah kehilangan semangat hidup. Aigoo, anak ini. Kenapa dia harus begitu baik? Pelukkannya justru membuatku semakin merasa bersalah, sudah menghancurkan keluarga ini dengan perbuatanku yang tercela itu. Air mata mulai mengalir dari mataku yang membuat Taemin semakin erat memelukku. Bukannya berhenti, tangisku malah semakin menjadi-jadi karena sikap Taemin yang terlalu baik. Maafkan umma, my little angel.

Hari ini aku pulang malam. Aku sengaja menyibukkan diri dengan pekerjaan, agar pikiranku teralihkan dari kejadian itu. Sesampainya di rumah, aku disambut oleh Taemin yang memberikan kabar mengejutkan. Kakaku, Yuri, berkunjung ke rumah saat itu. Dia sudah berada di ruang makan, menikmati santap malam yang dia masak bersama Taemin. Berani sekali dia datang ke tempat ini setelah kejadian itu. Kulangkahkan kakiku dengan malas-malasan ke arah meja makan, berharap semoga dia tiba-tiba ditangkap oleh alien dan dibawa pergi jauh dari bumi ini sebelum aku sempat melihat wajahnya. Tapi sepertinya Alien-alien itu tidak datang ke bumi hari ini karena aku masih bisa melihat wajahnya yang sedang asik makan pasta di meja makan.

“Minggy my lil sister! Ayo makan! Ini sudah kubuatkan spaghetti aglio olio. Aku tahu kamu pasti kelaparan setelah bekerja seharian” suruhnya padaku dengan mulut penuh spaghetti.

“Ada urusan apa kau datang ke sini?” tanyaku padanya dengan nada agak kasar.

“I just wanna see my lil sister and my favorite nephew” ucapnya sambil mencubit pipi Taemin yang duduk di sebelahnya, menikmati hidangan di depannya. “Is that a crime?” tanyanya dengan wajah innocent.

“Well, kalau penjahat datang ke tempat yang dulu pernah menjadi TKP nya , bukankah itu bodoh?” tanyaku dengan nada menyindir, yang membuat Yuri sedikit terdiam

“Sudah-sudah, Taemin jadi tidak bisa menikmati makanannya tuh. Kita lanjutkan obrolan ini nanti malam, oke? Sekarang kau makan dulu pastamu itu. Rasanya tidak akan seenak jika dimakan ketika masih panas” kata Yuri dengan nada ceria.

 

“So, care to explain the real reason you’re here?” tanyaku to the point ketika Taemin sudah perki ke kamarnya.

“Mengenai Kejadian 2 hari yang lalu. Aku benar-benar ingin minta maaf. Jeongmal Mianhe” Ucap Yuri dengan wajah penuh penyesalan.

“Jadi? Hanya itu saja? Kau pikir hanya maaf saja sudak cukup? Onnie, apa gunanya polisi kalau semua masahlah bisa diselesaikan dengan kata maaf?” Ucapku sambil menatapnya tajam.

“Oh God, Minggy, kau mau aku berbuat apa? Jujur saja, aku hanya bisa minta maaf. Tapi kalau aku bisa, aku janji aku akan melakukan apa saja untuk bisa mendapat ampun darimu” ucap Yuri dengan tulus. Aku tahu dia mengucapkannya dengan tulus karena aku sangat mengenalnya. Mungkin akulah orang yang paling mengenalnya di dunia ini. Dan ketulusannya itulah yang membuatku tidak bisa terlalu lama marah padanya. Walaupun dia sering ceroboh dan berbuat banyak kesalahan, aku tidak pernah bisa menghilangkan rasa sayangku padanya. Tapi untuk kali ini, aku tidak boleh dengan mudah memberikannya pengampunanku.

“Aku hanya ingin tahu kenapa? Kenapa harus suamiku?” tanyaku dengan wajah agak miris.

“Ok, kalau kau mau tahu cerita lengkapnya, biar kuceritakan. Jadi siang itu aku berencana berkunjung ke rumahmu, karena aku sudah lama tidak bertemu denganmu dan hari itu aku baru sampai di Seoul. Di tengah perjalanan, aku bertemu Minho yang menawarkan tumpangan padaku. Selama perjalanan, kami berbincang-bincang sampai entah bagaimana dia menceritakan bagaimana belakangan ini dia merasa berbeda. Seperti bagaimana hidupnya sangat monoton dan dia mulai kehilangan semangat hidupnya. Lalu kubilang mungkin dia butuh sesuatu yang menegangkan, seperti berselingkuh dengan kakak iparnya. Sungguh Minggy, saat itu aku hanya bercanda. Tapi Minho menanggapinya dengan serius. Dan sesampainya di rumahmu, dia langsung menyetujui usulanku itu. Dan dia mulai mendekatkan wajahnya ke wajahku, lalu…”

“Stop stop, sudah, cukup. Aku tidak mau mendengar detailnya! Itu hanya membuatku semakin muak.” Ucapku memotong cerita Yuri yang terlalu mendetail. Membayangkan Yuri dengan Minho hanya membuat perutku semakin mual.

“Yah, jadi kira-kira begitulah ceritanya. Aku tahu aku salah, seharusnya ku bisa menahan diri untuk tidak mengikuti kemauan Minho. Tapi mau bagaimana lagi? Kau kan tahu aku paling bodoh dalam mengendalikan diri. Dan sekali sudah dimulai, aku tidak bisa berhenti. Aku benar-benar menyesali perbuatanku itu. Please forgive me. You know I would never do anything to hurt you on purpose. You’re the ony sister I have” ucapnya dengan wajah sangat menyesal. Oh God, aku memang selalu kalah dengan Yuri. Entah bagaimana, dia selalu berhasil membuatku memaafkan semua kesalahannya. Tapi kali ini aku tidak akan mudah memaafkan lagi seperti sebelum-sebelumnya. Bagaimanapun juga, Yuri harus belajar untuk berhenti melakukan kesalahan.

“Sekarang sudah jam 12 malam. Aku sudah lelah dan ingin tidur. Onnie juga sebaiknya pulang” ucapku sambil bangkit dari kursi.

“Tunggu Minggy, bolehkah aku menginap di sini malam ini? Aku tidak berani kembali ke apartement ku malam-malam buta seperti ini” Yuri memohon padaku dengan wajah memelas

“Hah, yasudah, terserah kau saja. Biar kuambilkan selimut dan bantal untukmu tidur” kataku sambil berlalu ke lantai 2. Kuambil bantal yang ada di ranjangku dan selimut dari dalam lemari, lalu membawanya ke lantai bawah.

“Nih. Sudah yah, aku sudah lelah, tidak sabar ingin menyentuh kasur dan bantal” aku membalikkan badan dan bergegas menuju tangga.

“Tunggu, ada sesuatu yang ingin ku katakan padamu” ucap Yuri sambil menahan tanganku. Aku hanya menengok ke arahnya dan memberikan tatapan aku-sudah-cape-jadi-tolong-cepat-katakan.

“Aku tahu, kamu juga sebenarnya sedang merasa bosan kan? Kau tahu Minggy? Ketika kau bertanya kenapa harus suamimu, sebenarnya jawabannya ada di dalam dirimu sendiri. Sometimes the problem lies in you, so you should stop blaming other” Yuri memberikan petuahnya padaku, yang hanya membuatku semakin bingung.

“Goodnight Yull onnie” ucapku peelahan lalu meninggalkannya tertidur di sofa ruang tamu, menuju ke kamarku dengan sejuta pikiran di kepala.

 

 

 

 

 

Sudah seminggu berlalu dan masih saja otakku dipenuhi oleh berbagai macam pikiran. Hari ini aku memutuskan untuk bertemu dengan sahabat-sahabatku, Yoon Cha dan Viona. Kami berjanji untuk bertemu di rumah Viona yang biasanya sepi, tidak seperti rumahku dan rumah Cha yang notaben ramai karena adanya anak kita. Cha dan aku sudah duduk di meja makan, menunggu Vi yang sedang membuat teh dan mengeluarkan beberapa kue kering yang ada di dalam lemari.

“Jadi, kau benar-benar selingkuh? Dengan si tukang kebun sexy itu?” tanya Viona to the point sambil membawa teh untuk kami, lalu ikut duduk di meja makan. Aaku hanya menjawab dengan anggukkan kecil sambil menundukkan kepala.

“Gimana? Was he good at it? Pasti seru sekali selingkuh dengan tukang kebun” ucap cha begitu antusias.

“Molla. I was thinking about Minho the whole time, jadi aku tidak terlalu memperhatikan.” jawabku murung.

“Dan sekarang Minho pergi dari rumah?” tanya Vi yang kujawab sekali lagi dengan anggukkan.

“This is all because of you Cha. Kalau kau tidak menanamkan ide itu di otakku, sekarang pasti semuanya akan baik-baik saja” ucapku dengan perlahan, tidak bermaksud menyalahkan Cha juga sebenarnya.

“Eits, jangan seeanknya menyalahkanku. Salah sendiri kenapa kamu tidak bisa menahan diri . Aku kan hanya memberi usulan” Bela Cha lalu menyerup teh camomile nya.

“You’re right. Aku harus berhenti menyalahkan orang lain. Sometimes the problem lies in ourself” ucapku mengutik kata-kata Yull onnie kemarin.

“Lagipula, kalaupun kamu tidak selingkuh, Minho tetap akan selingkuh dengan Yuri onnie, dan pada akhirnya tetap saja kau dan dia akan berpisah. Justru lebih baik kau selingkuh juga, jadi kalian sama-sama impas” ucap Vi menimpali.

“Betul juga. Tapi sekarang aku jadi bingung. Haruskah aku bercerai?” tanyaku pada kedua sahabatku itu.

“Apakah kamu masih mencintainya?” tanya Vi padaku, yang membuatku terdiam. Cinta. Kata yang sudah lama tidak kudengar. Apakah aku masih mencintainya? Tidak, seharusnya apakah aku MENCINTAI dia? Ini benar-benar membuatku berpikir lagi. Suasana di ruangan itupun hening seketika. Semuanya hanya diam, terpaku dengan pikiran masing-masing. Kuhirup teh camomile di depanku. Hem, camomile. Vi memang tahu teh yang tepat untuk saat yang tepat. Wangi camomile membuat hatiku merasa lebih tenang. Membuatku bisa memikirkan ucapan tadi dengan baik-baik. Cinta. Itu akan menjadi PR ku untuk beberapa hari ini.

Malam itu aku duduk di atas ranjang kamarku. Foto-foto berserakan dengan sembarangan di mana-mana. Kupegang fotoku bersana Minho, masih menggunakan seragam SMA. Kuingat foto itu diambil ketika sedang ada festival di sekolah kami. Hari itu adalah hari dimana Minho memberikan ciuman pertamaku, di bawah cahaya kembang api yang memenuhi langit malam di lapangan sekolahku. Percintaan remaja. Siapa sangka highschool sweetheart seperti kami bisa bertahan sampai menikah? Jika dihitung sejak kami pacaran, sudah 20 tahun aku menjalin hubungan dengannya. Dan selama 20 tahun itu juga, kami tidak pernah terpisahkan. Until last week. Kupandangi lagi foto-demi foto yang berisi berbagai kenangan bersama Minho. Foto ketika dia lulus SMA, ketika aku pertama kali masuk kuliah, ketika dia menerima gelarnya, ketika dia melamarku. Melihat semua ini menyadarkanku pada sesuatu yang bisa menjadi jawaban dari sengala pertanyaan di kepalaku. Setelah 20 tahun hidupku dipenuhi oleh seorang Choi Minho, bukan cinta yang kurasakan padanya. Cinta hanyalah gabungan dari perasaan sayang dan asmara yang dibumbui dengan nafsu birahi. Dan perasaan itu sudah lama berubah dalam hatiku, menjadi sesuatu yang lebih dalam. Tidak, bukan cinta yang kurasakan pada dia, lebih pada hubungan batin yang intim. Seperti jiwa kami disatukan, sehingga jika dipisahkan, akan meninggalkan kekosongan yang berlebih. Mungkin simplenya karena rasa terbiasa. Terbiasa selalu ada untuk dia, dan dia untukku. Terbiasa untuk selalu berbagi, selalu bersama dan selalu hidup bersamaan. Terbiasa menjadi bagian dari jiwa masing-masing. Ya, sekarang aku tahu jawabannya.

Jantungku berdetang begitu cepat, tidak sabar ingin menemui Minho dan memberikan jawabku padanya. Ku bergegas keluar dari kamar, menyuruh Taemin menjaga rumah, dan berlari ke apartement di dekat perumahanku, tempat Minho tinggal untuk sementara. Kakiku kugerakkan secepat mungkin, berharap bisa melihat wajah suamiku secepatnya. Sampai aku kehabisan nafas ketika akhirnya sampai di depan gedung apartemen itu. Dan tidak kusangka, Minho juga sedang berada di luar gedung apartementnya, dan sedang berjalan ke arahku.

“Minho! Aku sudah menetukan pilihanku!” ucapku pada Minho yang sudsah berada di depanku.

“Aku juga” jawabnya dengan wajah datar.

“Aku tidak ingin bercerai” “Aku ingin bercerai” ucap kami bersamaan. Tunggu, tadi apa yang dia bilang? Dia ingin bercerai? Ekspresiku saat itu sudah tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Aku terpaku diam memandangi mata bulat Minho yang terlihat sendu. Shock. Aku tidak bisa berkata apa-apa.

“Minggu depan aku akan datang ke rumah, untuk mengurus perceraian kita. Sampai jumpa Yoo Min” ucap Minho dengan datar. Lalu meninggalkanku yang masih membatu di tengah jalan. Mataku mulai terasa panas. Otakku kosong karena tidak bisa berpikir. Aku hanya berdiri di bawah lampu jalanan, membiarkan semua air mataku jatuh ke tanah. It’s over.

 

 

 

 

Advertisements

23 responses to “[FREELANCE] The Lakeside View – chapter 1,5 The Choi Family

  1. Pingback: The Lakeside view – Never Is a Happy Ending Chapter 4 (Last Chapter) « FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s