Please, Marry Me! (Part.3)

Title : Please, Marry Me! (Part.3)

Author : Cute Pixie (Rara) & Keyholic (Nisa)

Main Casts : Choi Minho, Han Yooki

Minor Casts : Yoon Jisun, Lee Taemin, Shin Hyunchan, and other casts (still hidden)

Genre : Romance

Length : Series

Rate : PG-15

Previous Part : Part. 1 | Part.2

Mian ngadat apdetnya.. huhu.. TToT

Biar ceritanya nyambung, baca n komen dari part.1nya.. *nunjuk2* kalo udh lupa ama ceritanya juga.. hahaha

For SILENT READERS, please back off!

***

Author POV

Yooki tak menanggapi pertanyaan Minho, pandangannya menatap lurus kedepan, memandangi langit-langit kamar yang bercat coklat tua. Minho lalu berbicara.

“Bagaimana rasanya mengalami ‘itu’?” Tanya Minho, yang refleks membuat gadis itu menoleh padanya. Yooki mengerutkan keningnya. Sedetik kemudian ia mengerti.

“Rasanya? Agak aneh..” katanya, kali ini ekspresi Minho sangat antusias mendengar suaranya. “Bahagia.. sedih.. mendebarkan.. takut, semuanya campur jadi satu. “

Dan setelah itu, Minho dan Yooki saling mengobrol satu sama lain.Baru sekali ini mereka ngobrol, padahal di kelas mereka sama sekali tak akrab. Minho sempat bercerita hal yang lucu mengenai teman-teman kelas mereka, dan sukses membuat Yooki terbahak. Minho sempat melihat ekspresi Yooki yang tertawa terpingkal-pingkal  hingga mata gadis itu hanya terlihat segaris. Minho tersenyum. Baru sekali ini dia melihat ekspresi Yooki yang sangat rileks, wajahnya bahkan sangat polos.

Tiba-tiba ponsel Minho berbunyi. Refleks membuat tawa Yooki dan Minho menghilang, mereka terdiam seketika. Minho buru-buru mengeluarkan ponsel dari saku jasnya. Matanya menatap kea rah layar. Aigoo.. Jisunnie? kenapa dia menelepon malam-malam begini? Minho bertanya-tanya dalam hati.

Minho segera membuka flip ponselnya dan menekan tombol answer. “Jisunnie?”

“…..”

Minho berucap lagi.”Halo? Jisunnie?”

“Hmmmpffh…” terdengar suara desahan dari seberang sana. “Aku sakit, oppa…”

Ekspresi Minho yang sedaritadi datar, kini berubah menjadi sangat khawatir.”Omo.. kau sakit? Kau sudah makan obat? Sudah panggil dokter?Kau baik-baik saja, kan? Siapa saja yang ada di rumahmu?”

My Jisunnie.. dia sakit? Oh tuhan.. dia kenapa, sih?

Jisun tersenyum geli saat diberondong berbagai macam oleh Minho. “Aku hanya sendirian dirumah.Badanku lemas.. aku tak bisa mengambil obat, apalagi pergi ke dokter.”

“Kalau begitu, aku akan kesana!”

“Tapi.. oppa, ini sudah malam..”

“Gwenchana! Aku harus melihat keadaanmu dulu!” seru Minho sebelum akhirnya ia menutup percakapan mereka dan segera meletakkan benda mungil itu ke tempat semula. Yooki yang sedari tadi memperhatikan Minho -bertanya.
“Telepon dari Jisun, ya?”

“Ne.. aku harus segera kesana. Ia sakit.” kata Minho cepat. “Kau tak apa-apa ‘kan kalau kutinggal sendiri?”

Yooki tergelak. “Uh? Ya tentu saja! kau kira aku ini anak bayi?” ia sempat menyetop langkah Minho sebelum namja itu keluar kamar. Telunjuknya mengarah pada tuxedo putih yang masih melekat pada namja itu. “Kau mau pergi dengan itu? kau mau Jisun sekalian tahu kalau tadi pagi kita sudah menikah?”

Minho menepuk jidatnya. Haish, Minho pabbo!

***
Minho berlari menerobos angin malam yang seakan-akan menusuk tulangnya. Brr.. dinginnya.. sesekali ia menggosok-gosok kedua tangannya agar rasa dingin itu menghilang.Berlari sendirian ditengah jalan begini rasanya agak aneh, terlebih lagi dia memang tak membawa motor kesayangannya. Dan Minho harus puas pergi ke rumah pacarnya dengan berjalan kaki -berlari, lebih tepatnya.

Sepanjang perjalanan menuju rumah Jisun, pikiran Minho terus saja dikelilingi perasaan khawatir. Ia sangat cemas dengan kondisi Jisun. Baru sekali ini ia mengeluh sakit -err, tidak. Dua bulan yang lalu bahkan ia sempat masuk rumah sakit karena peradangan usus dan namja itu dengan setia merawatnya meskipun harus tidak masuk sekolah selama dua hari. Semua pengorbanan yang dilakukannya hanya demi dan untuk satu-satunya gadis yang disukainya. Jisun. That’s it.

Beberapa kali mata Minho sempat ingin sekali terpejam, ngantuk.Sangat melelahkan setelah dihari yang sama ia melangsungkan pernikahan, dan malamnya harus menjenguk Jisun. Bahkan saat di dalam bis, ia tak henti-hentinya terkantuk-kantuk -ketiduran sejenak dengan kepala yang menunduk. Namun dengan cepat ia mengangkat kepalanya kembali dan berusaha menyemangati dirinya sendiri agar tak ngantuk.

Tak sampai setengah jam perjalanan, akhirnya apartemen yeojachingu-nya sudah nampak didepan mata. Minho melangkah kedepan -memasuki apartemen berlantai belasan itu.

Lelaki itu kini berdiri didepan pintu apartemen bernomor 187. Ia memencet belnya berkali-kali. Tak ada respon. Apa Jisunnie sudah tidur? pikir Minho gelisah.

Aku merindukan Jisun. Rasanya memang baru dua hari kita tak berjumpa tapi.. haish, rasanya aku ingin bercerita semuanya padanya. Bercerita tentang semua hal buruk yang menimpaku akhir-akhir ini. Termasuk kejadian dimana aku menghamili anak orang dan menikahinya dengan setengah hati. Tapi tak mungkin aku menceritakannya, bisa-bisa aku dibunuh olehnya,  ucap Minho dalam hati.

“Jisunnie, aku datang.” kata Minho dari luar. Tetap tak ada jawaban. Haish, bagaimana ini? padahal aku sudah menelepon ponselnya berkali-kali, tak diangkat.

Karena takut terjadi apa-apa pada gadisnya, Minho membuka pintu itu dengan lancang. dan pemandangan menyedihkan kini tersuguhkan di depan matanya. Jisun terbaring dengan wajah pucat. kedua matanya terpejam. Dengan sigap Minho menghampiri Jisun dan menggenggam telapak tangan Jisun yang dingin bagaikan es.

“Jagi.. gwenchanayo? Mianhe aku terlambat datang.. aku menyesal.” kata Minho dengan raut muka serius sekaligus resah. Namun sepertinya Jisun masih tertidur. Sebuah senyum terbentuk dari bibir Jisun saat mendengar nada penyesalan dari namjachingunya. Geli. Akhirnya ia membuka matanya, dan sontak berseru.

“BOO!!”

Minho terperanjat kaget. “Haish.. apa sih?! kau mengerjaiku, ya?!”

Jisun tertawa keras, lalu bangkit dari tidurnya dan duduk di sisi sofa. “Hahaha.. aku baik-baik saja, oppa. aku tidak sakit, kok.”

Lelaki itu menggembungkan pipinya kesal. Dirinya merasa terbodohi oleh gadis yang usianya setahun lebih muda darinya itu. Ia ngambek.

“Ternyata kau baik-baik saja, ya sudah.. aku pulang saja.”

Minho segera melangkahkan kakinya keluar, tapi buru-buru ditahan oleh Jisun. gadis itu menahan lengan Minho.
“Oppa.. tetaplah disini. aku kesepian.” ucap Jisun pelan. “Ini satu-satunya cara agar kau lebih memperhatikanku. Maaf kalau aku berbohong padamu, tapi ini terpaksa kulakukan. Aku merasa sikapmu berubah akhir-akhir ini.”

Deg. Hati Minho terasa ingin meleleh saat itu juga. Pikirannya langsung tertuju pada Jisun. Apa sifatku berubah akhir-akhir ini? Apa aku tak perhatian lagi padanya? Minho merutuki dirinya sendiri.

Tiba-tiba, genggaman mereka terlepas.Minho berbalik, dan mengelus puncak kepala Jisun dengan telapak tangannya yang besar. Jisun merasa hangat. Minho tersenyum. “Aigoo.. jadi, aku merasa sikapku berubah akhir-akhir ini, Jagi?”
Jisun mengangguk cepat.

“Baiklah.. sebagai permintaan maafku padamu..” Minho mengedipkan sebelah matanya. “Bagaimana kalau kita keluar sebentar?”

***
Dongdae-mun, 22.13 PM

Di kawasan perbelanjaan yang murah meriah, nampak banyak kerumunan warga Seoul yang berlalu lalang mengitari kawasan ini, berbelanja berbagai macam makanan yang dijajakan banyaknya stan yang berjejeran di malam hari yang dipenuhi lampu berwarna warni . Seolah-olah mereka tidak ngantuk, mereka sibuk berjalan-jalan dengan kerabat mereka dan menikmati suasana malam yang ada di kota Seoul.

Sepasang muda-mudi berjalan beriringan satu sama lain. Kelihatannya sangat akrab. Si pemuda bahkan rela membagi dua jaket tebalnya agar tubuh gadis di sampingnya merasa sedikit hangat. Maklum, udara malam ini suhu dinginnya tak terkira.

Ice cream time?”  tanya Minho menoleh pada Jisun.

Gadis itu mengangguk cepat. Minho tersenyum manis. ia tahu, gadisnya itu sangat sangat menyukai eskrim. Sebelum jadian, bahkan ia sudah mengetahui bahwa Jisun suka eskrim hasil mengamati tingkah laku gadis itu dari jauh. Mereka akhirnya berjalan menerobos kerumunan manusia yang sedang mengantri di salah satu kedai eskrim. Tak sampai semenit, mereka keluar pintu kedai itu sambil membawa dua sekop besar eskrim. Yang satu stroberi -kesukaan Minho, dan yang satu rasa coklat -kesukaan gadis itu tentunya.

Sepanjang jalan, jantung Minho rasanya berdebar bukan main, apalagi saat melihat wajah gadis itu dari samping. Sedangkan orang disampingnya merasakan hal yang sama. wajah gadis itu terus saja bersemu merah ketika lengannya diapit oleh namja itu, seakan-akan berseru ‘Hei, akulah namjachingu gadis ini!’ dan entah mengapa itulah yang membuatnya terseyum-senyum tak waras seperti ini. Jisun berusaha menyembunyikan perasaan dagdigdungnya dengan meremas erat tas selempang yang dibawanya.

Sesaat kemudian, mereka sudah duduk dalam posisi berhadapan satu sama lain di meja yang sengaja diletakkan di luar ruangan. Minho melahap eskrim stroberi di tangannya dalam diam, tak sadar bahwa sedaritadi sepasang mata bulat didepannya memperhatikan tingkah lakunya.Ketika Minho menghentikan kegiatannya, Jisun merasa jantungnya berdebar kencang setelah melihat wajah Minho dengan jelas. Omo, selalu saja begini. kenapa jantungnya berdetak cepat sekali setiap bertemu dengannya? Apa aku semakin menyukai namja didepanku ini?

Jisun berhenti tersenyum saat Minho berkata. “Waeyo, jagi? kau mau mencoba rasa eskrimku? cobalah.”
Jisun menggeleng. “Anni..aku tak suka rasa stroberi.” ia lalu melahap eskrim miliknya dengan sembrono, lalu beranjak dari mejanya. Minho yang bingung lalu berdiri dari duduknya. Jisun merogoh tas besar yang sedari tadi dibawanya. Ia mengeluarkan setoples berisi origami angsa dan menyodorkannya pada namja itu. Alis Minho bertaut.

“Untuk apa ini?”

Gadis itu terkekeh. “hari ini tepat seratus hari semenjak hari jadian kita, dan itu hadiahku untukmu. jumlahnya ada seratus, dan dua malam ini aku tak tidur gara-gara melipat kertas-kertas origami itu.”

Minho merasa tersentuh. Jadi dia mengingat hari jadian kami. Oh tuhan.. padahal aku melupakan hari itu.
“Mianhe..” ucap Minho lirih. “Sepertinya aku bukan namjachingu yang baik..”

Jisun menepuk pundak Minho. “Gwenchana oppa.. aku sendiri yang kurang kerjaan memikirkan hari jadian kita. Mian kalau hadiahnya jelek, habisnya aku bingung mau memberimu hadiah apa.Kau sudah menjadi namja chingu terbaik yang ada didunia!”

Thanks, sweety.” ucap Minho, hatinya merasa senang melihat senyuman Jisun yang benar-benar tulus. Jisun orangnya sangat teliti, bahkan hari keberapa mereka pacaran-pun sempat dihitungnya.. ckckck..

Tiba-tiba Jisun berkata. “Tapi.. oppa… bolehkah aku meminta sesuatu padamu?”

“Apa itu?” tanya Minho antusias.
“Err.. “ Jisun menggigit bibir bawahnya. Ia merengkuh kedua tangan Minho.”Aku ingin.. kita seperti ini selamanya,”

“Entah kenapa aku selalu memikirkan bagaimana kalau kau tak disampingku lagi.Aku ingin kau selalu disampingku. Aku tak ingin ada orang lain yang merebutmu. Aku ragu..”

Eh?

Jisun yang menyadari ekspresi aneh dari Minho, langsung buru-buru berkata.”Anni.. lupakan saja yang kukatakan tadi. Itu hanya isi hatiku, kok. Aku sadar, waktu masih panjang.. bisa saja kau bersama gadis lain, dan aku bersama namja lain selain oppa..” ia mengibas-ngibaskan tangannya.

Minho terdiam. Sedetik kemudian, ia mendekap gadis itu dan mengelus puncak kepalanya. “Tenang saja, Jisunnie.. aku akan selalu bersamamu.i’ll promise.”

Entah kenapa, pernyataan namja itu seakan menghapus semua keraguan Jisun. Ia merasa hangat saat dipeluk oleh Minho.

***

“Selamat pagi, Han-goon!!”

Minho duduk di sisi ranjang sembari mengguncang-guncangkan bahu Yooki yang masih tertidur pulas dengan selimut yang menyelimuti sebagian tubuhnya. Han-goon. Sebutan yang tak asing bagi telinga Yooki. Minho selalu saja memanggilnya dengan sebutan ‘Han-goon’. Bahkan selama hamper tiga tahun mereka sekelas, ‘Han-goon’ terus menjadi julukannya bagi Minho.

“Hei, Han-goon! Sudah pagi!”

“Haish. Berisik!” omel Yooki sambil menutup kedua telinganya. Ia menyingkap selimutnya dan mengucek-ngucek matanya. Dilihatnya jam beker yang terletak diatas nakah sebelah ranjang. Baru jam 6 pagi.

Hari ini adalah hari pertama yang dilalui mereka sebagai pasangan suami istri. Mereka masih tak percaya kalau mereka telah menikah –tepatnya kemarin. Rasanya sudah hamper sebulan sejak kejadian di tempat karaoke itu, dan mereka tak ingin membahasnya lagi. Sampai kapanpun.

Setelah menyiapkan semua perlengkapan sekolah dan memakan roti yang dibikin sendiri-sendiri, akhirnya sepasang pengantin baru itu keluar dari pintu rumah mereka.Tiba-tiba pandangan Minho menangkap sesuatu, ia merasa aneh saat melihat sebuah mobil keren berwarna hitam-pink yang terparkir manis didepan pagar rumah mungilnya.

Itu ‘kan mobilnya Key hyung, tanya Minho dalam hati.  Kalau itu memang mobil Key hyung.. berarti Hyunchan noona juga ada?

Yap. Ternyata tebakan namja itu benar. Pintu mobil berjenis lamboghini itu terbuka dan keluarlah yeoja yang paling membuatnya muak, siapa lagi kalau bukan Choi Hyunchan –kakaknya diikuti oleh sesosok namja berambut coklat dan memakai kacamata hitamnya. Hyunchan dan Key  berjalan kearah Yooki dan Minho dan langsung mengatakan bahwa mereka berdua ingin mengantar Minho dan Yooki ke sekolah. Kata Hyunchan, karena Yooki dan Minho pengantin baru makanya ia tak ingin adiknya dan adik iparnya itu capek-capek naik bus ke sekolah. Dan mau tak mau Minho dan Yooki harus ikut.

Minho dan Yooki duduk berdua di belakang, sedangkan Hyunchan duduk disamping Key yang sibuk mengendalikan mobil dan berpandangan lurus ke depan. Sepanjang jalan, Yooki dan Minho bergelut dalam pikiran mereka masing-masing. Mereka takut kalau nanti mereka ketahuan berangkat bersama. Sebenarnya bagi Minho tak apa-apa. Toh Jisun juga suka datang agak kesiangan, tapi lain dengan Yooki. Namja yang disukainya –Lee Taemin, selalu datang pagi ke sekolah. Gadis itu takut kalau-kalau Taemin mendapatinya keluar dari mobil yang sama dengan Minho, yang jarang bicara dengannya. Ottokeh?

Sementara Yooki berfikir, selama perjalanan Hyunchan terus saja mengoceh tentang cara merawat orang hamil, kesehatan wanita yang lagi hamil, hal-hal yang harus dihindari Yooki selama mengandung, dan sebagainya. Maklum, Hyunchan seorang mahasiswi kedokteran.

Key, Minho dan Yooki mendengarkan penjelasan dari Hyunchan yang seolah-olah tak ada ujungnya. Key mulai kesal.

“Hyunchan-ah, kau bisa diam, tidak? Kepalaku pusing mendengar ocehanmu itu.” Key angkat bicara tanpa sedikitpun bergeming dari kemudi.

“Apa maksudmu?!” seru Hyunchan tersinggung . ia langsung mengkempit leher key dengan lengannya dan menjitak kepala namja itu. Key kehilangan keseimbangan, sampai-sampai mobil yang mereka tumpangi hampir saja menabrak mobil di depannya.  Untung saja Key cepat tanggap dan segera mengerem mendadak. Semuanya tak henti menghela nafas lega saat mobil itu tak jadi menabrak, termasuk Hyunchan.

Minho berseru.”Ya! Noona! Kau mau membuat kita semua mati konyol?!”

“Makanya, jangan menyela perkataanku.” Sahut Hyunchan sambil melirik sinis kearah Key.

Key memutar bola matanya. “Yeoja menyeramkan.”

“Makanya hyung, sudah kubilang dari dulu, kau akan menyesal sudah menyukai nenek sihir seperti dia,” tunjuk Minho kearah Hyunchan, dan langsung dihadiahi satu jitakan dari kakaknya itu.

Minho hanya bisa mengusap ubun-ubun kepalanya yang terasa sangat perih, sementara Yooki tersenyum-senyum sendiri melihat kejadian di depan matanya. Keluarga yang aneh. Hyunchan gadis yang aneh, Minho juga. Dan Key, sama saja dengan pacarnya itu.

Dan setelah itu, mereka terdiam. Tak ada lagi ocehan dari Hyunchan. Tak lama kemudian mobil sudah hampir melaju mendekati arah sekolah Minho dan Yooki. Keduanya sontak meminta agar Key menyetop mobilnya di tempat yang agak jauh dari gerbang sekolah, sebelum hal yang tak diinginkan keduanya terjadi.

Yooki turun dari mobil dan disusul oleh Minho. Key menurunkan sedikit kaca mobilnya dan berkata pada mereka berdua. “Sampai jumpa..” Hyunchan tak mau kalah. Kepalanya menyembul melalui jendela mobil dan berkata. “Minho-ya, jaga Yooki baik-baik!”

Minho mendengus.”Nde!”

Mereka sempat membungkuk sopan sebelum akhirnya mobil bercat pink hitam itu menghilang dari hadapan mereka.

Sementara itu, tak jauh dari sana, seorang namja berambut blonde dan berseragam SMA memperhatikan pemandangan yang nampak didepannya. Kening namja itu berkerut. Lee Taemin. 17 tahun. Siswa kelas 3-B.

Taemin yang baru memarkir motornya hanya bisa terheran-heran dengan pemandangan yang baru saja dilihatnya. Ekor matanya terus berhenti pada  sosok kedua orang itu. Bagaimana bisa –sosok Han Yooki yang dikenalnya itu berangkat ke sekolah bersama, dan semobil pula dengan Choi Minho yang tidak akrab dengannya?

****

Seminggu berlalu.

Dan hari-hari berlalu seperti biasa, semuanya berjalan normal. Minho dan Yooki berangkat ke sekolah seperti keadaan smula, menjalankan aktifitas mereka masing-masing. Tidak ada yang berubah.

Namun satu yang beda, yaitu status mereka yang sekarang sudah menikah.

Mereka tetap menjadi pribadi yang tak saling dekat di sekolah, semuanya karena perjanjian mereka. Jangan sampai orang mengetahui bahwa mereka sudah menikah –apalagi Yooki yang sedang hamil sebulan.

Minho membolak-balik halaman majalah sepakbola miliknya seraya duduk santai di sofa, sementara disebelahnya Yooki sedang asyik nonton TV. Hari ini hari minggu, satu-satunya hari yang bisa dipakai untuk bersantai-santai seperti ini.

TING.TONG.

Minho dan Yooki dikejutkan dengan suara yang berasal dari bel didepan pintu utama. Minho sama sekali tak bergeming, sedangkan Yooki melirik sekilas kea rah ruang depan. Karena Yooki tahu, Minho orangnya malas membuka pintu, akhirnya ialah yang berinisiatif sendiri berjalan menuju ruang depan.

Alangkah terkejutnya Yooki saat dilihatnya sosok namja melalui layar interkom. Namja berhoodie kunin itu sangat dikenalnya.

Omo.. kenapa Taemin bisa datang kesini? Batin Yooki.

Dengan secepat kilat Yooki berbalik arah dan langsung mencopot semua pajangan yang bisa membuat Taemin curiga tentang pernikahannya dengan Minho. Ia segera mencopot pigura-pigura pernikahannya dan menyembunyikannya di dalam bufet.

Bahkan Minho yang baru saja ingin ke kamar mandi buru-buru di dorongnya memasuki kamar.

“Kau harus sembunyi! Cepat!”

“Memangnya ada apa?!”

“Taemin datang kesini! Pokoknya cepat sembunyi !”

“Kenapa memangnya?”

“Kau lupa? Kita menyimpan rahasia ini pada semua orang! Termasuk Taemin…”

“Kalau begitu aku ingin ke kamar mandi dulu,” sahut Minho lalu berjalan memasuki pintu WC, tapi tangannya ditahan oleh Yooki.

“Jangan disitu! Kau bersembunyi di kamar saja!“

“Ta-tapi.. aku..mau.. ”

“Yah!” sentak Yoki sambil menarik lengan kaos biru muda milik Minho menuju arah kamar.Sesampainya di kamar, ia malah kebingungan bagaimana caranya untuk menyembunyikan Minho. Dan beberapa detik kemudian, akhirnya Yooki menyuruh Minho bersembunyi dibalik lemari. Minho pasrah saja, walaupun sebenarnya ia sangat tidak tahan ingin buang air kecil.

Setelah memastikan bahwa semuanya aman, Yooki berjalan menuju ruang depan sambil meremas kedua tangannya yang berkeringat. Ia membuka pintu rumah,sudah nampak pemuda yang tengah berdiri sambil tersenyum manis ke arahnya.

“Annyeong, Yooki-ya,”

Yooki berusaha tersenyum senatural mungkin.  “Eh? ah..mm.. masuklah,” gadis itu kemudian menuntun langkah Taemin memasuki ruang tengah. Mata Taemin menjejali berbagai sudut di rumah itu. Rumah yang kecil, namun sangat rapi. Perabotannya pun masih sedikit.

Taemin duduk sopan di sofa ruang tengah saat dipersilahkan oleh Yooki. Tiba-tiba matanya terfokus pada satu titik. Taemin meraih majalah bola yang terletak diatas meja. Ia memandangi isinya.

“Sejak kapan kau suka tentang sepakbola?”

“Ah, baru-baru ini, kok.” Jawab Yooki cepat.

“Kalau begitu, baguslah. Boleh kan kalau lain kali aku mengajakmu menonton pertandingan bola, kau mau ikut kan?”

“Eh? Ya.. pasti.” Ucap Yooki berbohong, padahal sebenarnya itu hanya alas an saja agar Taemin tak curiga kalau majalah bola itu bukan miliknya, melainkan Minho. Yooki pun berinisiatif mengambilkan minum untuk Taemin, dan segera beranjak ke dapur. Namun saat ia sudah kembali dengan membawa nampan, Taemin sudah berdiri dari duduknya.

“Aku ingin melihat kamarmu, boleh kan?”

Yooki terkejut.Omo.. bagaimana ini? Kalau aku mempersilahkannya ke kamar, nanti Minho keluar..

Tapi pikiran-pikiran itu buru-buru dihapusnya, lalu dengan cepat ia mengangguk. Ia mempersilahkan Taemin masuk ke kamarnya, meskipun dengan perasaan campur aduk.

Taemin duduk di sisi sofa mini yang terletak di sudut kamar. Yooki menaruh dua gelas berisi sirup merah dan beberapa toples cemilan di atas meja kecil, sambil sesekali matanya melirik kearah celah-celah pintu lemari yang terletak tak jauh dari situ –mengisyaratkan Minho agar tak keluar dulu sebelum Taemin pergi.

“Kau pindah rumah, tapi tak bilang dulu padaku.” ucap Taemin saat keduanya sudah duduk bersampingan.

“Dari mana kau bisa tahu kalau aku tinggal disini?”

“Dari ikatan batinku..” kata Taemin sok putis, membuat hati Yooki terasa berbunga-bunga. Wajah keduanya sontak memerah saat itu. Mereka sama-sama mengambil minum dan meneguknya untuk menghilangkan rasa cangggung.

Dilihatnya Yooki dengan tatapan lembut. Aih, Taemin benar-benar menyukai gadis ini. Tidak. Lebih tepatnya –pemuda itu sayang padanya. Dan Taemin ingin dia tahu kalau namja itu.. yeah, menyukainya.

Love was surely made for fools like me, batin Taemin.

Mereka hanya teman biasa. Hubungan mereka hanya sebatas teman satu sekolah, yang tak sengaja bertemu saat sama-sama mengikuti perlombaan renang antar kelas. Mungkin. Itu baginya, tapi bagi Taemin lebih dari sekedar itu. I will loving you, silently. Lagi-lagi Taemin jatuh. Jatuh pada senyum yang mengembang di bibir gadis yang disukainya itu. Tawanya rernyah, persis seperti waffle.

Kalau aku menyatakannya, apakah ia akan menerimanya? Aku tahu, itu tidak mungkin membuatnya menyukaiku, itu sebabnya aku memilih mencintainya secara diam-diam.

Sementara itu, Minho berusaha menguping pembicaraan Taemin dan Yooki dari dalam. Haish, benar-benar menggelikan. Ia tak menyangka Taemin berbicara sok puitis begitu. Taemin bodoh, jelas-jelas Yooki itu menyukainya, tapi ia tak menyadarinya sama sekali.

Aigoo.. kenapa aku jadi mencampuri urusan orang seperti ini? Pikir Minho. Tangannya gemetar hebat dan ia berusaha meremas-remas tangannya. Keringat di dahinya bercucuran.Di dalam sini pengap, belum lagi ia sedang kebelet ke kamar mandi.Matanya berusaha menangkap sosok Taemin dan Yooki yang sedang ayik pacaran melalui celah-celah pintu lemari.

Haish.Padahal aku ingin buru-buru ke kamar mandi sekarang juga! Aku tak tahan lagi! Kumohon pergilah dari sini!

Kakinya mendadak kesemutan, semua badannya terasa bergetar hebat. Minho berusaha menahannya sekuat tenaga.

Cukup. Aku sudah tak tahan lagi! Batin Minho.

BRAK!

Sontak pintu lemari terbuka lebar dan muncullah Minho dari balik pintu. Yooki yang sedang menyeruput sirupnya langsung menyemburnya kedepan. Ekspresi taemin pun tak kalah terkejutnya. Shock –tau-tau ada namja yang keluar dari lemari.

“H-Hai..” ucap Minho bodoh, sambil melambaikan tangannya kearah Taemin.

“Kau –kenapa bisa..”

“Ah, aku mau ke kamar mandi sebentar!” Minho memotong ucapan Taemin, lalu melesat cepat keluar pintu kamar. Kini sisa Taemin dan Yooki yang ada di ruangan itu. Taemin menoleh dan melihat Yooki yang menelan ludah.

Disatu sisi, Minho sudah selesai menjalankan ‘bisinis’nya. Ia berjalan perasaan lega –melewati lorong yang menuju kamar. Sayup-sayup ia bisa mendengar suara Yooki dan Taemin dari dalam ruangan itu.

“Apa yang kalian berdua lakukan? Jangan-jangan..”

“Uhm.. sebenarnya.. aku dan Minho..” namun perkataan Yooki terputus saat telapak tangan besar milik Minho mendekap mulutnya, dengan wajah yang bercucuran keringat Minho berusaha menjelaskan pada Taemin.

“Kami.. kami sedang mengerjakan tugas kelompok! Ya, benar! Tugas! Tadi aku datang duluan sebelum kau ada, aku tak tahu kalau kau akan datang. Yooki menyuruhku bersembunyi di lemari agar kau tak melihatku. Ia takut kau cemburu, ia tak ingin kau salah paham telah mengiraku ada hubungan apa-apa dengannya.”

Taemin berpikir sejenak, lalu dengan mudahnya percaya. Sementara dalam hati Minho dan Yooki mengelus dada.

Ia melirik jam tangannya, lalu membungkuk sopan. “Kalau begitu, aku pamit pulang.”

“Pulang? Kau kan baru tiba..”  ucap Yooki.

“Ada urusan yang harus kukerjakan. Lagipula aku tak ingin mengganggu waktu belajar kelompok kalian. Mian, gara-gara aku Minho harus bersembunyi di lemari. Sekali lagi mian.”

Aigoo.. pemuda ini kelewat baik atau bagaimana, sih? Batin Yooki. Sementara Minho hanya berekspresi datar seperti biasanya.

Akhirnya Yooki dan Minho mengantarkan taemin sampai di depan rumah. Taemin melewati pagar dan melambai kearah sambil tersenyum, sedangkan pasangan pengantin baru itu membalas lambaian tangan Taemin.

Bye!”

“Jaga dirimu baik-baik! Sampai ketemu besok di sekolah!” sahut Minho asal. Yooki menoleh kearah Minho dengan tatapan ‘apa-maksudmu’ sementara Minho tidak menghiraukannya.

Sementara pemuda yang bernama Lee Taemin itu tersenyum. Lebih tepatnya, tersenyum terpaksa. Entah kenapa, percaya atau tidak, ia meragukan alas an Yooki dan Minho.

Pemuda berhoodie kuning itu berjalan pelan meyusuri gang kecil yang sepi, sesekali ditendangnya kaleng-kaleng minuman yang berserakan diatas aspal.

Ia tahu. Yooki berbohong –ya tentu saja. Terlihat dari ekspresi wajahnya. Gadis itu tipikal orang yang gampang ditebak jika berbohong.

Pemuda itu duduk di bangku umum yang terletak di seberang jalan. Ia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Angin perlahan berhembus dan memainkan anak-anak rambutnya.

Apa Yooki dan Minho itu punya hubungan khusus?

Kecurigaannya itu bukan tanpa alas an. Tentu saja. Akhir-akhir ini, ia sering memperhatikan Minho dan Yooki ketemuan diam-diam. Dia takut jika kedua orang itu pacaran, padahal Taemin baru ingin mengatakan perasaan sukanya pada Yooki.

Dan satu hal yang membuatnya bingung adalah kediaman baru Yooki. Sebelum datang ke rumah baru Yooki, ia terlebih dulu mendatangi rumah Yooki terdahulu. Betapa terkejutnya ia saat umma tiri Yooki mengatakan bahwa Yooki sudah pindah ke rumah yang dan sudah… menikah. Satu kata itu yang menghantam kepala Taemin. Semulanya ia tak percaya, ia beranggapan bahwa umma Yooki itu suka membual dan lihai mengarang cerita. Ia tahu, umma Yooki tak suka dengan keberadaan Yooki dan berusaha menyingkirkan anak tirinya itu.

Siapa tahu ia hanya ingin menjelekkan nama Yooki, namja itu berusaha berfikiran positif.

Tapi, tetap saja. Entah kecurigaannya-lah yang menguasai pikirannya sekarang. Ia tak bisa menolak pikiran itu.Apalagi setelah kehadiran Minho tadi dan gelagat keduanya.Dan juga ucapan umma Yooki yang mengatakan bahwa Yooki sudah menikah dengan seseorang.

Jangan-jangan.. maksud umma Yooki..

Yooki menikah dengan Minho?

 

.:::::TBC:::::.

AAA.. mian, tambah lama kok ceritanya makin ga jelas, ya…? huhu TToTT

Part ini lama banget updetnya, soalnya aku baru selesai ujian semester.. jadi baru sempet OL sekarang. *gaadaygnanyatuh*

oh ya, kelanjutannya (kalau responnya banyak) akan di post setiap hari sabtu, jadi seminggu sekali publishnya ^^ part.4 bakal dipublish sabtu depan..

Like n comment, hohoho…

Advertisements

193 responses to “Please, Marry Me! (Part.3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s