timeless {1}

Author : Keychand

Cast : Choi Minho, Park Minhyo, Choi Siwon

Genre : romance, angst, little bit action

Rate : PG+15

Length : Twoshot

N.B : Scenario diambil dari mv’a timeless (junsu ft. zang li yin) maaf kalau ada yang gak sesuai. 🙂

[timeless]

 

“hh.. hh..” laki-laki itu terus mengerang, jemarinya meremas sisi selimut yang membungkus tubuhnya hingga perut. Peluh sudah membasahi dahi hingga lehernya.

Kabel berwarna-warni terpasang didadanya terhubung dengan alat pendeteksi jantung, menampakkan garis-garis berwarna hijau menyala yang menunjukkan pergerakan denyut jantungnya.

Garis-garis itu membentuk deretan seperti gunung bersudut lancip tajam secara terus menerus, semakin lama deretan itu semakin sering muncul dengan ukuran tinggi sudut yang turut bertambah.

Jantung laki-laki itu berdetak cepat, dalam kondisi tidak sadar melakukan kontraksi yang cukup hebat, tampak seperti perlawanan atau karena hal lain. Tapi laki-laki itu masih saja tak bangun dari pingsannya. Ia hanya mengerang dan meracau tak jelas dengan kepala yang menggeleng kekanan dan kekiri, dan cengkraman tangannya yang semakin kuat pada selimut putihnya.

Sinar matahari saat itu cukup terik, menambah hasil ekskresi yang semakin banyak dan hampir membasahi bantal yang menopang kepalanya. Matahari itu secara tidak langsung menyinari wajah sang laki-laki. Lekuk wajah yang sempurna, hidung yang mancung, bibir berwarna kecoklatan, laki-laki yang sempurna.

Tapi wajah sempurna itu tampak tak tenang, raut wajahnya menampakkan kegelisahan dan ketakutan yang jelas. Tak jarang keningnya berkerut seolah memikirkan sesuatu. Ya, kelebat-kelebat kejadian yang belum lama ia alami kembali berlalu lalang dalam pikirannya, membuatnya kembali mengingat segalanya lewat bagian-bagian kecil dari kejadian itu. Terlebih lagi ada satu yang membuatnya semakin gelisah, cuplikan wajah manis seorang gadis terus berkelebat dalam benaknya. Memberikan scene clue untuk membuatnya mengingat segala kejadian sebelum ia terbaring diranjangnya, diruangan dengan bau khas yang menyengat. Ruangan yang menjadi saksi bisu selamatnya ia dari maut.

“Akh! Hh.. hh..” dan akhirnya, Choi Minho, laki-laki beruntung itu terbangun dari nightmare-nya—

***

 

Langit malam Seoul nampak cerah, ditambah dengan terangnya lampu-lampu jalan dan lampu mobil yang berlalu lalang, disertai lampu yang berasal dari deretan bangunan, semakin menambah terangnya malam Seoul yang terus ramai.

Sebuah mobil Mercedes hitam melintas membelah jalanan yang selalu padat itu dengan kecepatan sedang, sang pengemudi seorang lelaki sekitaran 25-an. Wajahnya tampan, putih, dan perawakannya bagus.

Namun ada yang berbeda dengan wajahnya malam ini, Ia tampak sedikit pucat dan ada gurat bingung di wajahnya. Nampaknya ada sesuatu yang mengusik pikiran lelaki yang baru saja keluar dari rumah sakit itu. Kelebat-kelebat kejadian itu muncul lagi dalam benaknya.

Bagaimana wajah seorang gadis cantik yang tersenyum dengan manisnya, seolah menyuapkan sesuatu padanya, atau sekedar tertawa renyah dihadapannya. Potongan-potongan gambar itu terus melintas seenaknya dalam pikirannya, membuat kepalanya terasa sakit akibat terlalu memaksakan diri mengingat siapa gadis itu sebenarnya.

Ia mencoba membiarkan kelebat-kelebat gambar itu, kembali fokus pada jalanan didepannya supaya cepat sampai dirumahnya. Tapi ia kembali kebingungan, jalan yang ia lalui tampak familiar baginya. Ia menengokkan kepalanya kekanan dan kiri, melihat sekitaran jalan yang ia lalui, jalanan yang sudah mulai sepi.

Akhirnya pandangannya tertuju pada satu bangunan, sebuah café dan florist yang menyatu, bangunan itu Nampak manis dengan deretan bunga berbagai jenis dan warna, berpadu dengan lembutnya warna coklat cat dindingnya. Didalamnya, seorang gadis duduk dibalik meja resepsionis, Nampak sibuk dengan buku yang ada ditangannya.

Lelaki itu menghentikan laju mobilnya, ia turun dan menghampiri café itu. Ia berjalan perlahan, mencoba mengingat masa lalunya dengan tempat tersebut atau sekedar dengan gadisnya. Dan kelebatan gambar itu kembali muncul, gadis yang sama –antara kelebatan gambar dengan yang didepannya, mereka gadis yang sama. Ia semakin mendekat kearah café tersebut, dan membuat kelebatan diotaknya semakin sering muncul. Wajah gadis itu Nampak semakin jelas baginya, ia yakin, gadis itu gadis yang ada dalam pikirannya.

“hh—“ tiba-tiba jantung laki-laki itu terasa sakit. Ia mencengkram jantungnya keras, tubuhnya ambruk ke aspal, masih memperhatikan gadis didepannya yang mulai panic.

“tuan, anda tidak apa-apa?” gadis itu berlari kecil menghampiri sang lelaki, ia menahan lengan lelaki itu dan membantunya agar duduk disalah satu kursi. Gadis itu berlari kembali kedalam café, rambut panjangnya yang ia kuncir kuda berayun kekanan- kekiri akiobat pergerakannya.

“igeo, minumlah—“ ia kembali, menyodorkan segelas air putih pada lelaki itu dan ikut duduk disampingnya.

“apa— aku sering datang ketempat ini?” lelaki itu bertanya dengan ragu. Tak lama wajah bingung tergambar diwajah manis gadis itu, kedua alisnya bertautan karena bingung, dan akhirnya menggeleng pelan.

“aku jarang melihatmu datang kemari” jawab si gadis dengan suara yang lembut. Laki-laki itu terdiam, matanya berputar mengitari café, memandang setiap inchi bagian dari café itu. “tidak pernah? Sama sekali?”

“umm—“ ia menggeleng lagi pelan, ikut memperhatikan sekeliling café-nya merasa bingung.

“bagaimana dengan kau? Apa kita pernah bertemu? Atau punya hubungan tertentu?” tanyanya lagi, dan sama seperti sebelumnya, gadis itu mengerutkan kening dan akhirnya menggeleng pelan.

“aku rasa kita sama sekali tak pernah bertemu sebelumnya, tuan.” Gadis itu menegaskan, menatap lelaki disisinya dengan bingung dan penasaran.

“ah—“ laki-laki itu Nampak kecewa, ia masih memegangi jantungnya yang terasa agak sakit.

“minum dulu..”

“gomawo—“

“akh—“ tanpa sengaja laki-laki itu menyentuh tangan sang gadis, sontak gadis itu menarik tangannya cepat, menatap laki-laki itu agak takut dan ragu. Ia bangkit dari duduknya dan berlalu masuk kedalam cafenya, meninggalkan lelaki itu sendirian dalam kebingungan.

Minho –si lelaki kebingungan, kembali mengedarkan pandangannya. Ia memperhatikan setiap sudut café tersebut dan akhirnya terhenti pada sebuah frame photo yang berisi sebuah photo. Photo sepasang kekasih yang Nampak mesra. Lelaki berwajah tampan dan gagah dengan garis muka penuh wibawa, gadis berwajah cantik dan senyum yang manis dengan bibir kemerahan dan rambut hitam sebahu yang sedikit ikal. Mereka Nampak sempurna bagi siapa saja yang melihatnya.

Tapi minho malah Nampak terkejut, wajahnya kembali terlihat pucat dan shock. Ia memegangi pinggiran meja mencoba menopang berat tubuhnya, berbalik menuju mobil miliknya.

***

 

“hh—“ minho terus memijat dahinya, kepalanya terasa sakit akibat memikirkan segala sesuatu yang terus berkelebat dalam benaknya. Botol Whisky yang ada didepannya sudah hampir setengahnya ia habiskan. Laki-laki itu benar-benar kalut, ia merasa sakit saat mengingat kejadian yang hampir membuatnya tertangkap itu. Kejadian yang tanpa diperkirakan akan memakan korban.

*

 

{chunseok building. Sat, June 22nd 2005, 14.30 KST}

Lampu dari mobil polisi itu menyala dengan liarnya berputar melemparkan sinar yang mencolok ke segala arah, warna biru terang bersatu dengan warna merah mencolok, membuat silau siapa saja yang terkena cahayanya. Dengan sirine yang berbunyi dengan nyaring memekakkan telinga.

Satu helikopter buatan Rusia sudah mendarat dengan baling-baling yang masih berputar, bertuliskan Seoul International Police. Pria-pria gagah yang sudah siap dengan segala senjata dan amunisi mereka bersiap diposisi masing-masing, membidik sasaran yang masih berdiri didepan mereka, menyandera seorang gadis bertubuh kecil dengan rambut hitam yang agak ikal.

Sang penyandera memakai penutup wajah, ia menganakan pakaian serba hitam meski saat itu tengah musim panas. Tangan kanannya memegang handgun yang masih terisi sekitar 4 amunisi, sementara tangan kirinya mengunci leher gadis itu. Ia menjulurkan tangan kanannya dan menodongkannya pada setiap orang yang sudah mengepungnya, bisa saja ia kabur dan menembak para petugasnya, karena kawanannya ada dibelakangnya, menunggu pergerakannya.

“siapa sanderanya?” dari sudut lain, seorang laki-laki bertubuh tegap berjalan sambil melepas jas yang ia kenakan, berganti dengan rompi pelindung yang seragam dengan anggota kepolisian yang lain. Berjalan beriringan dengan anak buahnya membicarakan sang penyandera.

“seorang gadis komandan, ia sudah terkepung—“ jelas sang anak buah, sedikit berlari kecil mensejajari langkah komandannya.

Laki-laki itu mengangguk paham, ia berjalan ke tengah berhadapan dengan sang penyandera. Ia mengangkat kedua tangannya sebagai tanda penyerahan diri, dan bentuk perdamaian.

“lepaskan gadis itu, tuan penyandera. Masalah ini tak ada urusannya dengan gadis itu..” sang komandan mulai melakukan negosiasi, ia menunjuk gadis itu dengan dagunya, masih dengan tangan terangkat.

Tak ada jawaban dari laki-laki bertopeng itu, ia hanya mengacungkan senjatanya semakin tinggi, tepat mengarah pada sang komandan. Ia mengeratkan lilitan tangannya pada leher sang gadis, membuatnya tertarik, hingga menampakkan wajah manisnya pada sang komandan.

Sontak pria dengan jabatan komandan itu menarik pistolnya keluar dan mengarahkannya pada sang penyandera. Pria itu hafal betul dengan wajah sang gadis yang ada didepannya, gadis yang selama ini mengisi hatinya. Memberikan warna dan cerita tersendiri dalam kehidupannya, gadis yang ia cintai.

Sang komandan semakin memfokuskan sasarannya, rasa cemas menyeruak dalam tubuhnya. Ia takut kekasihnya jadi korban penangkapan seorang perampok ulung. Perampok yang sudah lama bertengger dalam deretan daftar pencarian orang. Perampok yang bukan sekedar merampok barang ‘murahan’, tapi barang berharga yang berkaitan dengan kenegaraan.

Gadis itu menatap penuh rasa cemas dan takut, tangannya menahan pada lengan kekar yang melingkar dilehernya, menatap kekasihnya yang sedang bertugas didepannya. Beberapa kali ia mencoba melepaskan dirinya dari sang perampok itu, tapi yang ada lilitan laki-laki itu semakin erat.

“lepaskan dia, bajingan!” komandan tampan itu mendesis, ia mengeratkan genggaman pistol ditangannya, bersiap menarik pelatuknya dan melepaskan tembakan. Tapi ia tahan, ia takut peluru itu meleset dan mengenai gadis yang ia cintai.

Sialnya, polisi yang ada disampingnya tak bisa menahan kendalinya akan pistol yang ia pegang. Diluar kendalinya ia melepaskan tembakan yang mengenai drum dipinggir laki-laki itu, membuat baku tembak tak terelakkan lagi.

Perampok itu membalas, ia melepaskan beberapa tembakan yang meleset, diikuti kawanannya yang sama-sama membawa senjata laras panjang yang menyebar disekitarnya. Bunyi hantaman-hantaman peluru itu berdesing dan menimbulkan suara rebut yang keras. Kondisinya sudah kacau, tak dapat dipisahkan lagi antara polisi dengan kawanan perampok itu. Mereka berlarian sambil melepaskan tembakan melindungi diri sekaligus menjatuhkan musuh.

Sementara ketua perampok itu –sang penyandera, melepaskan tembakan terakhirnya pada sang komandan. Ia melakukannya secara refleks, tembakannya tepat mengenai tubuh polisi tersebut. Tubuh komandan itu terhempas ketanah, pistolnya terlepas dari genggamannya.

Mata ketua perampok itu membelalak dari balik topengnya, ia sama sekali tak merencanakan untuk membunuh seseorang dalam aksinya kali ini, apalagi seorang komandan kepolisian. Begitu pula gadis yang ada dalam dekapannya, mata kecilnya membulat shock, melihat kekasihnya terhempas ketanah dengan dada yang tertembus peluru panas.

Dalam hitungan detik, gadis itu mulai meronta, ia menarik tangan yang melilit lehernya dengan kuat, berusaha melepasnya. Lelaki bertopeng itu sempat menahannya, tangannya masih berusaha menahan tubuh si gadis. Tapi percuma, gadis it uterus meronta, dan keadaan semakin kacau, baku tembak semakin intens dan membuat keributan semakin menjadi, apalagi sebentar lagi pasukan tambahan dari kepolisian akan segera datang.

Laki-laki itu memilih kabur, ia melepas tubuh gadis itu dengan kasar,mendorongnya hingga tersungkur ke aspal dan berlari kearah mobil van hitam yang melaju kearahnya. Ia sempat melepas beberapa tembakan balasan pada polisi yang menembaki van hitam itu, membuat kacanya pecah.

Secepat mungkin mobil van itu melesat pergi meninggalkan TKP. Laki-laki itu melepas dengan kasar topeng yang menutupi wajahnya sedari tadi, menghela nafas lega. Senyum licik terlukis disudut kiri bibirnya, memberi kesan angkuh pada garis wajahnya yang Nampak tegas.

Tangannya yang kekar bergerak melepas sarung tangan yang ia gunakan, dan ia baru sadar, sebuah liontin berwarna emas dengan bandul berbentuk hati melilit jemarinya. Ia memperhatikan liontin itu sesaat, dan memilih menyimpannya didalam baju.

***

 

“akh—“ keringat sudah membasahi wajah minho, kerah kemejanya turut basah karena hasil ekskresinya itu. Ia terbangun dari nightmare-nya untuk yang kesekian kali. Tertidur disofa memang bukan hal yang biasa ia lakukan, kecuali keadaan mabuk yang membuatnya sulit pindah kekamarnya.

Ia menatap sekelilingya, tak ada yang berubah. Kecuali sebotol whisky yang sudah habis dan satunya lagi tersisa sedikit diatas meja yang berserakan makanan kecil dan gelas.

“hh—“ minho menghela nafas panjang, ia menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa dan menengadahkan wajahnya menghadap langit-langit. Ia memejamkan matanya, kembali mengingat mimpinya barusan.

Gadis itu, laki-laki itu, mereka yang ada difoto itu adalah orang yang sama. Orang yang terlibat dalam aksi perampokan terakhirnya yang lalu. Ia ingat gadis yang ada dalam foto itu mirip sekali dengan gadis yang sempat ia jadikan sandera, sementara si laki-laki ia hapal karena merupakan komandan polisi saat penyergapan waktu itu. Tapi masalahnya, kenapa ia harus terus dibayang-bayangi kejadian itu? Dan kenapa ada bayangan gadis itu diantaranya? Apa hubungannya? Kenapa itu semua bisa terjadi pada seorang Choi Minho? Sang perampok ulung—

*

 

{seoul international hospital, room 135. Sun, June 23rd 2005, 10.00 KST}

Seorang gadis bermata sipit tengah duduk didepan ranjang yang ditiduri oleh kekasihnya, matanya yang bening kini tampak berkaca-kaca, bibirnya bergetar pelan menahan tangis. matanya hanya terfokus pada tubuh pria yang terkapar didepannya, tubuhnya lemah tak berdaya dengan selang infuse yang terpasang ditubuhnya.

Dada pria itu dililit perban dibagian dadanya, peluru yang waktu itu dilepaskan sang perampok bersarang didada bagian kanan pria itu. Beruntung tak sampai jantungnya, tapi sayang kondisi pria itu tetap saja sekarat.

Sampai detik itu ia belum melewati masa kritisnya, sementara alat pendeteksi jantung semakin jarang menunjukkan detakkan jantungnya, tanda bahwa denyutan jantung pria itu mulai melemah.

Gadis itu memejamkan matanya enggan, setetes cairan bening jatuh dari pelupuk matanya. Ia tak bisa dan tak kuat menerima kenyataan bahwa kekasihnya kini terkapar didepannya, ada diantara kematian dan kehidupan, berjuang melawan masa kritisnya.

Lama kelamaan semakin terdengar sesenggukan kecil dari gadis itu. Wajahnya yang mungil tertutup oleh poninya sendiri. Ia menekuk wajahnya, tangan kanannya menahan pada besi pinggiran ranjang sementara tangan kirinya menutup mulutnya. Meredam suara tangisannya yang semakin menjadi. Tubuhnya bergetar cukup kuat, gadis itu benar-benar merasakan sesak didadanya, sakit akibat melihat keadaan kekasih yang ia cintai sangat parah.

*

 

{haenggi hotel. Thurs, 27th 2005, 20.00 KST}

Lewat lima hari dari kejadian perampokkan yang terjadi didaerah pusat kota, polisi terus mencari keberadaan sang perampok ulung tersebut. Begitu halnya dengan sang perampok, ia turut sibuk, sibuk menjual hasil curiannya di pasar gelap.

Hebatnya bukan sembarang pasar gelap yang ia masuki, ia hanya menggeluti kawasan black market for the money keeper. Ia hanya akan datang pada saat tertentu kalau mereka –si pemilik uang, meminta barang baru dan barulah ia menawarkannya.

Sama halnya dengan malam ini. Bersama beberapa anak buahnya ia berjalan dengan santai dengan wajah yang Nampak cerah. Kelihatannya transaksinya kali ini berhasil, terbukti dari kopor yang dipegang oleh anak buah dibelakangnya bertambah satu –kopor berisi uang.

Mereka keluar beriringan dari lift di lobby, berjalan melewati meja resepsionis hendak keluar dari hotel. Tapi tiba-tiba pemimpin mereka –si perampok, menghentikan langkahnya dan memegangi dada bagian tengah kanan, tepat dimana jantungnya berada.

Ia mencengkram dadanya, menahan rasa sakit yang tiba-tiba menyerangnya. Tubuhnya ambruk berlutut dilantai, tangan kirinya bertumpu pada lantai sementara tangan kanannya masih memegangi jantungnya.

“tuan choi, gwenchanayo?” anak buahnya spontan mengerubungi dirinya dan memegangi bahunya.

Ia tak menjawab, rasa sakit didadanya membuatnya hanya bisa membelalakkan mata menahan sakit dan mencengkram dadanya. Makin lama rasa sakit itu semakin menjadi, seolah ada yang mengikat erat jantungnya dan menghunuskan belati tepat dijantungnya diwaktu yang bersamaan. Rasanya sangat sakit.

Laki-laki yang dipanggil Tuan Choi itu tak bisa menahannya lagi, ia semakin ambruk dan akhirnya hanya ada kegelapan yang menyelimuti dirinya. Ia pingsan tak lama setelah mendapatkan kesenangan duniawinya –sukses melakukan perdagangan black market.

 

[timeless]

 

ngaco? maaf semuanya, terutama umma. ini bikinnya dalam keadaan setengah tepar dan badan yang kurang fir, mohon maklum <– alesan :p

ceritanya mirip ama mv’a ga? engga ya? bagus deh, abisnya takut bingung, kan aslinya alurnya maju mundur. mudah2an pada suka oke! 😀

Advertisements

16 responses to “timeless {1}

  1. seru eonnie chand!mian baru ngomen pdhl udh baca dr minggu2 lalu,tp pulsa ku skarat jd gabisa komen..baru skrg deh
    FF nya bagus..ko tiap bikin ff seru2 sih?rahasianya apa?hahaha

  2. Pingback: Timeless {2-end} « FFindo·

  3. ampun… emang keychan onnie ffnya bgus ,… kata2nya itu dari dulu gx pernah gx masuk di hati .. bener2 jdi ikut merasakan .. lengkap, jelas padat .. oh iya aku msih nunggu klanjutan soulizer venice nya loh .. udah jarang dimainin di blog onnie ya .. wah jgn2 udah lupa sama aku … 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s