Strong Girl for a Weak Boy – Part 6

Strong Girl for a Weak Boy – Part 6


Author            :           Park Kyungjin

Cast                :           SHINee – Kim Kibum

Kim Jiyoung a.k.a Joanne Peterson

Other cast       :           SHINee – Lee Jinki

f(x) – Jung Krystal

Genre             :           Romance, Action

Rating             :           PG-13

Length            :           Series

Disclaimer      :           Just own the story, not the casts

Previous         :           Part 1Part 2Part 3Part 4 Part 5

+++

(Kibum P.O.V)

“Kibum, makan dulu nak…”

“Hhh, eomma, sudah berkali-kali aku bilang, aku tidak mau!” seruku kesal pada eomma. Cih, dalam keadaan seperti ini aku sudah tidak berselera makan lagi.

“Ya ampun, kau ini masih sakit…” eomma masih saja terus mencoba untuk membujukku. Aku memalingkan wajahku jauh-jauh dari sepiring makanan yang ada di tangan eomma. Beberapa saat kemudian, eomma akhirnya menyerah dan tidak lagi membujukku.

“Eomma, sudah aku katakan, Jo itu tidak salah!”

“Aish, jangan seperti itu. Keputusan hakim itu sudah tepat. Dia memang pantas untuk menerima hukuman itu…”

“Ck, aku yang tahu semuanya eomma! Aku yang salah, harusnya aku tidak datang ke tempat itu…” kataku tidak mau kalah dengan eomma.

“Tapi kan dia sudah menembakmu…”

“Tapi tetap saja…”

“Sudah tidak ada tapi-tapian… Ayo makan dulu!” kata eomma seraya kembali mencoba untuk menyuapiku.

“Shireo!” bentakku pada eomma dan bangkit dari tempat tidurku, lalu berjalan dengan langkah tertatih-tatih meninggalkan eomma yang egois itu.

+++

(Flashback)

“Tuan Kibum, Nyonya ingin bicara dengan anda” kata salah seorang pesuruhku sambil menyodorkan ponselnya ke arahku.

“Ne eomma…” aku menjawab telepon itu dengan malas.

“Kibum, bagaimana keadaanmu sekarang? Sudah agak mendingan kan?”

“Memang kenapa eomma?”

“Eomma mau kau datang ke sini! Suasana persidangan sedang ricuh. Eomma yakin kalau kau yang datang, semuanya akan cepat selesai”

“Aku tidak mau… Eomma saja yang urus semuanya” kataku pada eomma. Hhh, appa dan eomma-ku benar-benar sudah gila. Untuk apa mereka melaporkan kasus yang jelas-jelas sebuah kecelakaan ini. Bahkan kalau bisa dibilang, kesalahan lebih mengarah padaku.

“Anni anni… Pokoknya kau harus datang dan mendukung eomma”

“Tapi eomma…”

“Eomma tidak mau tahu… Sekarang juga kau berangkat ke sini. Aku sudah menyuruh sopir untuk mengantarmu. Kau hanya perlu datang dan member keterangan sebentar, dan setelah itu kau boleh langsung pulang. Arachi? Kau anak eomma kan? Pokoknya kau harus datang. Eomma dan appa menunggumu di sini”

Klik.

Dan sambungan telepon diputuskan begitu saja. Aigo… Ottokhe?

Terpaksa aku memenuhi permintaan eomma dan datang ke persidangan itu sebagai korban dan sekaligus saksi kunci.

Aku memasuki ruangan persidangan itu dengan perasaan kacau balau. Aku melihat eomma sedang menatapku penuh arti yang seakan-akan mengatakan cepat-lakukan-semuanya-dengan-baik.

Aku juga sempat melirik sedikit ke arah Jo. Ckck, kasihan sekali yeoja itu.

Aku dipersilahkan untuk memberikan keterangan. Pikiranku bergelut hebat, antara ingin membela Jo namun juga tidak bisa mengelak permintaan eomma.

Akhirnya yang keluar dari mulutku adalah pernyataan yang ku yakini sangat melukai hati Jo. Setelah aku membeberkan semuanya, aku sudah tidak tahan lagi. Aku memilih untuk langsung pergi dari tempat terkutuk itu.

Aku melirik sekali lagi ke arah Jo. Astaga, ia juga sedang melihat ke arahku. Dengan cepat aku memalingkan wajahku dan berlalu dari ruang sidang itu sebelum aku mengutuki diriku sendiri.

Hhh, aneh. Kenapa sifatku jadi seperti ini? Sejak kapan aku memiliki rasa bersalah dan peduli dengan keadaan orang lain?

(End of Flashback)

+++

“Kibum, kau mau ke mana?” tanya eomma padaku saat aku terlihat berpakaian rapi, seakan-akan ingin pergi ke suatu tempat. Aku berhenti berjalan dan menoleh sebentar ke arah eomma.

“Eomma, kalau memang eomma masih sayang padaku, biarkan aku menentukan sendiri apa yang menurutku benar…” kataku dengan nada tajam, lalu memberi instruksi kepada sopirku untuk segera mengantarku.

“Kibum! Kau masih sakit nak!” teriak eomma cemas, namun aku malah mempercepat langkahku lalu menaiki mobil yang sudah terparkir di depan pintu.

Bugh!

Aku membanting pintu mobil dengan kasar.

“Antar aku untuk menemui Jiyoung, sekarang!” perintahku pada sopir, lalu dengan segera sopir itu melajukan mobil menuju tempat yang ku maksud.

+++

(Jiyoung P.O.V)

Kehidupan yang begitu menyebalkan. Yeah, setidaknya begitulah yang ku rasakan saat ini.

“Kim Jiyoung, ada seorang tamu yang ingin bertemu dengan anda” tiba-tiba seorang penjaga mendatangiku dan berbicara di luar sel.

“Tamu?”

“Ne. Ia sudah menunggu di luar” jawabnya lagi, lalu setelah itu ia membukakan pintu sel. Penjaga itu lalu menggiringku ke tempat di mana si tamu itu menunggu. Aku sedikit melongo aat melihat siapa yang sudah datang itu.

“Kibum?”

Ia lalu berdiri dari tempat duduknya dan menatapku dengan ekspresi datar. Kibum lalu berjalan beberapa langkah untuk mendekat padaku.

“Mau apa kau datang ke sini?” tanyaku padanya. Lagi-lagi ia hanya menatapku lama hingga akhirnya ia mau membuka mulut.

“Setelah ku pikir-pikir, tidak ada salahnya kalau aku membebaskanmu…” katanya singkat dengan nada dingin.

“Tidak usah, lebih baik kau pulang saja. Lagipula aku memang salah” tolakku mentah-mentah, lalu berbalik dan meninggalkannya di tempat itu. Hhh, namja itu ternyata tidak berubah. Selalu saja ada nada kesombongan saat ia berbicara.

+++

(Kibum P.O.V)

“Tidak usah, lebih baik kau pulang saja. Lagipula aku memang salah” katanya lalu segera berlalu dari hadapanku. Aku hanya bisa menatap punggungnya yang semakin lama semakin menjauh hingga akhirnya ia benar-benar hilang dari pandanganku.

Astaga, jangan katakan kalau yeoja itu marah padaku?

“Oh, jadi ini yang namanya tuan besar Kim Kibum itu huh?” tiba-tiba aku mendengar suara dengan nada marah dari arah belakangku. Aku berbalik dan mendapati seorang pria paruh baya sedang menatapku dengan tatapan membunuh.

“Siapa kau?”

“Heh, yeoja yang sekarang kau penjarakan itu my daughter!” katanya dengan bahasa Korea dan Inggris yang dicampur-campur. Dilihat dari wajahnya, sepertinya orang ini bukan berkewarganegaraan di sini.

Ohh… Jadi dia appa-nya.

“Pokoknya kau harus bertanggung jawab atas semua ini!” katanya lagi. Aku hanya mendengus sebentar sebelum menanggapi kata-katanya.

“Tenang saja, akan ku bereskan secepatnya…” kataku singkat lalu segera berlalu meninggalkan pria yang terlihat sangat emosi itu.

+++

“Aigo Kibum-ah, sudah eomma bilang jangan ke mana-mana dulu. Lihat, wajahmu bahkan terlihat bertambah pucat” tiba-tiba eomma menghampiriku di saat aku baru saja tiba di rumah. Eomma meraba-raba wajahku sambil memperlihatkan raut wajah cemasnya. Aku menepis tangan eomma dan menjauhkannya dari wajahku.

“Eomma, dengarkan aku, aku tidak apa-apa! Tolong eomma, berhentilah terlalu mencemaskanku seperti itu”

“Astaga, eomma baru ingat, kau belum makan!”

“EOMMA! AKU BUKAN ANAK KECIL LAGI!” perbuatan eomma sudah benar-benar membuatku tidak tahan.

“Kibum!”

“Eomma, kalau memang aku ini anak eomma, kali ini saja tolong penuhi permintaanku…”

+++

(Jiyoung P.O.V)

Masih dengan kegiatan yang sama, aku hanya menghabiskan waktuku untuk menyendiri. Hari masih pagi tetapi aku sudah tidak bersemangat menjalaninya.

Hufffttthhhh…

Aku menghela napas yang terasa berat hingga akhirnya seseorang tiba-tiba muncul dan mengagetkanku. Penjaga.

“Kim Jiyoung, silahkan bereskan barang-barang anda” kata penjaga itu dari luar sel. Aku yang tadinya terduduk lesu di lantai tiba-tiba bangkit dari dudukku dan menatap penjaga ini heran.

“Maksudnya?”

“Hari ini juga anda sudah boleh meninggalkan sel ini”

“Huh?”

“Ya, anda dibebaskan. Masih belum jelas juga?”

Glekk.

Aku menelan ludahku dalam-dalam. Aku tidak salah dengar kan?

+++

“Aku permisi dulu, ahjussi…” pamitku pada salah satu polisi yang mengantar sampai ke pintu depan kantor polisi itu.

“Ne. Baik-baik ya di luar sana. Ingat, jangan ceroboh lagi” katanya dengan suara berat. Aku tersenyum sekilas lalu membungkukkan tubuhku di hadapannya, lalu sesaat kemudian aku berjalan meninggalkannya dan menyusul daddy-ku yang sudah berjalan lebih dulu. Hhm, kali ini daddy menjemputku.

Aku terus melangkahkan kakiku dengan tergesa-gesa hingga akhirnya aku bisa menjajari langkah daddy yang besar itu.

“Daddy, kira-kira apa yang membuatku dibebaskan dari penjara itu?” tanyaku padanya. Daddy menoleh padaku sebentar lalu menanggapi perkataanku.

“Keluarga Kim itu mencabut tuduhannya, maybe…” jawab daddy sekenanya. Sepertinya ia malas membahas hal ini. Sambil berjalan menuju tempat dimana daddy memarkirkan mobilnya, aku mengedarkan pandanganku ke sekitar. Hhh, ternyata begini rasanya seorang tahanan yang bebas dari jeruji besinya. Aish… Aku ini seperti pelaku kriminalitas saja.

“Jo!” tiba-tiba seseorang memanggilku dari arah belakang. Aku berhenti berjalan dan mencoba mencari tahu siapa pemilik suara itu.

“Kibum?” aku setengah terperanjat saat melihat sosoknya kini berdiri tepat di belakangku.

“Ada yang ingin ku bicarakan…” katanya dengan nada bicara yang datar. Aku mengerutkan keningku, mencoba menebak-nebak apa yang akan namja ini katakan.

“Oh My God! You, again?!” kata daddy yang emosinya sudah mulai terpancing.

Aku melirik ke arah Kibum. Ia terlihat mengerutkan dahinya saat menatap daddy-ku yang mulai berkomat-kamit tidak karuan.

“Sssthh, katakan padanya, tidak usah membuang-buang energinya untuk berbicara sebanyak itu. Lagipula bahasa yang ia gunakan aneh…” bisik Kibum padaku.

“Mwo?! Lancang sekali kau pada daddy-ku!”

“Oke oke, terserah kau saja. Ku mohon, aku ingin berbicara denganmu…”

“Ya sudah, bicarakan di tempat ini saja!”

“Tidak bisa… Aku hanya ingin bicara empat mata saja…”

“Aish, kalau begitu tidak usah!” kataku sewot. Aneh, kenapa belakangan ini justru aku yang lebih sering emosi saat berbicara dengannya. Hhh, aku masih belum bisa melupakan kejadian kemarin.

Aku lalu kembali memutar tubuhku dan menarik tangan daddy untuk segera beranjak dari tempat ini. Baru saja aku melangkahkan kakiku, Kibum menarik tanganku yang bebas hingga membuatku terpaksa berhenti kembali.

“Hey stupid boy! Apa kau tidak dengar kalau ia tidak mau!” umpat daddy-ku pada Kibum sambil mendorong pundaknya hingga ia sedikit terhuyung ke belakang. Omo… Apa ini?!

“Aaaaa sudah sudah! Hey Kibum, kau tunggu aku di sana! Daddy, kau ke tempat parkir duluan. Nanti aku akan menyusulmu…” kataku sambil member instruksi pada dua orang berjenis kelamin pria yang sama-sama keras kepala ini. Kibum langsung menuruti perintahku, namun daddy masih terlihat enggan.

“Daddy…” aku memberinya isyarat untuk segera pergi. Setelah lama membujuknya, akhirnya ia mau menuruti perintahku.

“Kalau laki-laki itu macam-macam padamu, teriak saja yang keras… Aku akan segera datang…” bisik daddy padaku yang seketika membuatku melirik tajam ke arahnya.

“Daddy, forget it huh? I’m an agent! Aku bisa menjaga diriku sendiri, bahkan namja itu lebih lembek dariku!” kataku dengan tegas pada daddy. Ia lalu mengangguk, dan tanpa basa-basi lagi aku mendorong-dorongnya untuk segera berlalu dari tempat ini.

Aku lalu berjalan menemui Kibum yang menungguku di dekat gerbang.

“Mau bicara apa huh?” tanyaku dengan nada dingin.

“Aigo… Sudahlah, lupakan semuanya… Jangan seperti itu… Harusnya kau bersyukur aku menarik kembali tuduhanku”

“Mwo?! Jadi kau mau hitung-hitungan?! Ya! Kau tidak ingat selama ini siapa yang susah payah menjaga namja lembek sepertimu! Harusnya kau malu, kau itu seorang namja!” aish… Namja ini menyulut emosiku. “Lagipula aku tidak pernah menyuruhmu untuk datang ke tempat itu! Harusnya itu salahmu! Mana aku tahu kalau kau yang tertembak! Kau membuatku susah saja!” bentakku habis-habisan padanya. Arrggh! Namja ini benar-benar tidak tahu diri.

“Oke oke, kali ini aku minta maaf. Baiklah, tidak usah diungkit-ungkit lagi ya…”

“Cihhh…” kataku sambil memalingkan wajahku, “Ya sudah cepat katakan, apa sebenarnya yang ingin kau katakan?!”

“Oh… Itu…” kata Kibum ragu. Diam-diam aku melirik ke arahnya. Ia terlihat agak ragu.

“Apa?!” kataku tidak sabaran.

“Perjanjian kita belum selesai kan?”

“Perjanjian yang mana?” tanyaku bingung.

“Hey, kau ini sedang bekerja padaku kan? Jadi setelah ini, kau masih harus bersamaku…” katanya enteng.

“Mwo?! Setelah kejadian ini kau masih memintaku untuk mengawasimu? Kau gila!”

“Aku serius” katanya dengan nada bicara yang melunak dan, eh? Namja ini tiba-tiba memegang tanganku.

“Aish, lepaskan!” kataku sambil menarik tanganku dari genggamannya.

+++

(Kibum P.O.V)

“Aish, lepaskan!” Jo berusaha menarik tangannya kembali, namun dengan sigap aku menahannya agar tidak terlepas dari genggamanku. Hhh, apa boleh buat, sudah terlanjur. Aku sudah lelah dengan semuanya.

“Dengarkan aku, Kim Jiyoung, errr, Joanne, atau siapapun namamu yang entah berapa kalipun aku sebut tidak pernah membuatmu menyahut secara tulus… Oke, kau memang sering menyebutku namja sengak lembek sinting dan sebagainya, hey, seharusnya aku marah kalau seseorang menyebutku dengan sebutan seperti itu. Hhh, bagaimana bisa seorang Kim Kibum direndahkan seperti itu…” aku menerawang kembali.

“Nah, baru saja kau mengatakannya, kau sudah kembali dengan sifat aslimu itu!” katanya sewot. Ia masih mencoba menarik-narik tangannya.

“Hey, tapi kenyataannya aku tidak pernah marah kan? Aneh memang, tapi belakangan ini semenjak kau muncul di kehidupanku, aku banyak berubah. Yeah, itu penting bagimu, tapi siapa yang tahu? Kibum yang dulunya tidak pernah peduli dengan orang lain, sekarang sudah berubah menjadi Kibum yang sedikit perhatian, errr, oke, itu salah satu contohnya…”

“Kau ini terlalu bertele-tele, maksudmu apa huh?”

Aku berpikir sejenak dan mencoba untuk memikirkan kembali kata-kata yang pas untuk yeoja seukuran Jo. Ugh, aku tidak pernah membayangkan kalau berbicara dengan anak ini cukup sulit juga.

“Hhh, aku tidak tahu kalau apa yang ku katakan ini salah atau tidak, tapi setelah ku pikir-pikir, aku sudah sangat bergantung padamu. Err, aduh, aku bingung bagaimana cara menjelaskannya, intinya, aku membutuhkanmu…”

Glekk.

Aku menelan ludah dalam-dalam, Ya Tuhan, belum pernah aku merasa segugup ini!

“Sudah ku bilang, aku tidak akan bekerja denganmu lagi. Aku mengundurkan diri, lebih baik kau mencari orang lain saja…”

“Astaga Jo, kata-kata seperti apa yang harus ku keluarkan untuk membuatmu mengerti huh? Baiklah, lupakan tentang pekerjaan itu. Sepertinya aku telah membuat pikiranmu mengarah ke sana. Ku perjelas, aku membutuhkanmu bukan sebagai penjagaku atau apapun yang sejenis dengan itu. Aku benar-benar membutuhkanmu, bukan hanya disaat aku dalam bahaya, tapi juga untuk mengisi kekosonganku”

“Hah Tuan Kim Kibum, kau benar-benar membuatku bingung! Bicaramu terlalu bertele-tele!”

“Baiklah satu kata! Aku menyukaimu!”

“Mwo?! Kau gila!”

Ia menarik tangannya dengan paksa dari genggamanku dan langsung beranjak pergi dari hadapanku. Aku mencoba untuk mencegatnya. Aku menarik pundaknya hingga ia berhenti berjalan, lalu dengan kedua tanganku aku memutar tubuhnya hingga berhadapan denganku.

Entah apa yang merasuki pikiranku sekarang. Saat ia sudah tepat menghadap ke arahku, aku mendekatkan wajahku padanya dan mencium bibirnya dengan cepat.

Memang, kejadiannya hanya sebentar. Aku hanya menciumnya sesaat, dan setelah itu aku melepaskannya kembali. Di saat itulah aku menyadari bahwa aku sudah berbuat kebodohan!

Plakkk!!

Dan tiba-tiba menampar pipi kiriku. Ya Tuhan, sesulit inikah?

+++

(Jiyoung P.O.V)

Aku mengerutkan keningku, mencoba untuk mencerna dengan baik apa maksud dari perkataan namja ini. Ck, namja ini aneh sekali!

“Baiklah satu kata! Aku menyukaimu!”

Aku langsung terkejut saat mendengar perkataannya.

“Mwo?! Kau gila!” aku menarik tanganku sekuat tenaga. Saat aku berhasil menariknya, aku segera pergi meninggalkan namja yang sepertinya sudah terlihat tidak waras ini.

Namun tiba-tiba ia menarik pundakku dan memaksaku untuk berbalik ke arahnya. Saat aku sudah menghadapnya, ia melakukan hal yang betul-betul membuatku kaget setengah mati!

Cup.

Ia mencium bibirku sekilas. Seketika itu pula merasakan seluruh saraf-saraf di otakku berhenti bekerja.

Saat aku sudah bisa menguasai diriku kembali, tanpa pikir panjang aku melayangkan sebuah tamparan di pipi kirinya.

Plakkk!!

Tamparan yang tidak terlalu keras, tapi ku rasa cukup untuk membuatnya sadar. Ia langsung memegangi pipinya yang mulai memerah. Beberapa saat kemudian, rona wajahnya yang tadinya memerah berubah menjadi pucat. Bukan hanya wajahnya, bibirnya juga perlahan-lahan memucat.

Aku terus memperhatikan Kibum yang masih terus memegangi pipinya itu. Ada yang aneh dari dirinya. Kini ia terlihat sedikit membungkukkan badannya.

“Hey, Kibum?” aku menegurnya. Melihat keadaannya yang tiba-tiba berubah seperti itu membuatku sedikit khawatir.

Bughhhh!

“YA! KIM KIBUM!” aku berteriak histeris saat melihat sosok Kibum tiba-tiba ambruk di atas tanah. Dengan cepat aku menghampirinya dan mencoba untuk membangunkannya.

Aku menepuk-nepuk kedua pipinya. Omo… Suhu badannya panas sekali!

“DADDY!” aku berteriak sekeras mungkin memanggil daddy-ku. “Aduh, lama sekali! DADDY!!”

Tak lama kemudian, daddy-ku datang dengan tergesa-gesa.

“What happen girl?” tanyanya panik.

“Dia pingsan! Cepat bawa dia ke rumah sakit!” kataku histeris pada daddy.

+++

(Kibum P.O.V)

“Tuh kan, sudah eomma bilang, kau ini masih sakit. Kau terus saja memaksakan dirimu untuk berkeliaran di luar rumah” kata eomma. Nada kekhawatiran masih setia keluar dari mulutnya yang terlalu banyak mengeluarkan kata-kata.

“Mianhae eomma…” kataku tulus.

Aku lalu mengedarkan pandanganku di sekeliling ruangan yang didominasi dengan warna hijau ini. Bau obat-obatan yang sedikit mengganggu penciuman juga menghiasi ruangan ini. Hhh, suasana khas rumah sakit.

“Eomma, siapa yang membawaku ke sini?” tanyaku pada eomma.

“Yeoja itu…” jawab eomma singkat dengan nada bicara yang tiba-tiba berubah menjadi dingin.

“Yeoja itu? Maksud eomma Jo?” tanyaku lagi. Eomma hanya menganggukkan kepalanya pelan.

“Aduh eomma, berhentilah bersikap seperti itu. Sudah aku bilang, sebenarnya dia itu orang yang baik. Ngomong-ngomong, dimana dia?”

“Sepertinya yeoja itu masih ada diluar”

“Eomma… Namanya Kim Jiyoung, Joanne… Berhenti memanggilnya dengan sebutan yeoja itu…”

“Ah ne, terserah kau saja” jawab eomma cuek.

“Eomma, tolong panggil dia ke sini. Aku ingin bicara padanya…”

“Hhhh… Ya sudah, tunggu sebentar ya…” kata eomma akhirnya lalu berdiri dari tempat duduknya yang ada di samping ranjangku. Ia keluar dari ruangan dan menutup pintunya rapat.

Deg deg deg.

Aish, lama sekali. Jantungku sudah berdetak tidak karuan. Hhh, sepertinya aku benar-benar menyukai yeoja itu.

Ceklik.

Beberapa saat kemudian, seseorang membuka pintu. Aku menolehkan kepalaku ke arah pintu dan melihat Jo berjalan mendekat.

Deg deg deg.

Omo… Aku benar-benar gugup.

“Ada apa lagi?” tanyanya lalu duduk di kursi yang ada di samping ranjangku.

“Ya! Jangan galak begitu… Aku ini sedang sakit…”

“Dasar manja…” ejeknya sambil tersenyum. Yeah, katakan kalau aku sedang gila. Baru kali ini aku menyadari kalau senyumannya sungguh manis.

“ Biarkan terus seperti ini. Aku rela jadi anak manja. Kau pasti selalu ada untuk menjaga anak manja ini kan?”

“Hahaha… Jangan bicara sembarangan…” katanya dengan nada bercanda.

“Hey, aku serius. Aku benar-benar menyukaimu…”

Seketika itu pula Jo langsung terdiam. Aku kembali melanjutkan perkataanku.

“Kau mau kan selamanya jadi penjagaku? Would you be mine?”

Aku mendengarnya menghela napas sebentar. Ia terlihat berpikir.

“Please…” kataku lagi. Hhh, sepertinya aku terlihat mengemis padanya, tapi biarlah, aku tidak peduli. Beberapa saat kemudian ia akhirnya menjawab pertanyaanku.

“Mianhae Kibum, aku tidak bisa…”

“Hey, bukan jawaban itu yang ku inginkan. Ayo katakan, kau mau kan?” jawabannya barusan membuat hatiku sedikit teriris, tapi aku masih terus berusaha.

“Sungguh, aku tidak bisa… Mianhae…”

TO BE CONTINUE


Hhhuhuhuu.. udah updatenya lama,, tbc lagi.. udah gitu part ini makin bertele2 n makin gaje pula.. mian yah.. *bow*

Oke,, waktu update untuk part selanjutnya tergantung komen reader2 sekalian.. kalo banyak silent reader,, hedehh,, g janji bakalan update cepat.. atau g usah dilanjutin aja ya?? O.o *duagghh!!*

Ayolah,, komen dong.. memangnya kenapa kalian lebih memilih jadi silent reader??

Takut dicuekin?? Emang aku pernah nyuekin komen2 kalian?? G kan?? Pasti aku bales kok!!

Takut dibilang SKSD?? Lha,, g usah gitu.. aku malah seneng kok punya banyak kenalan..

Males ngomen?? Hedehh,, kebangetan.. T-T ntar authornya juga males ngelanjutin gimana hayo?? Apalagi untuk ff ini,, idenya udah sekarat.. T-T *curcol terselubung*

95 responses to “Strong Girl for a Weak Boy – Part 6

  1. miaaannn,, bru koment,, nd bru az baca… hehehee

    aiihhh,, si konci mh kgk rmantis bgeud nmbakny,, gga kyk ma aqu dlu,, rmntis bgeudd…#plaaakk!! abaikan

    bgus bgeud critany, thor…
    lnjutin yyah, yyah, yyah??
    jgn lma2 lhooo…
    eheheehehe

  2. Woaaah Oh My God kibum i want to be ur mine kok hahaha /dijitak taemin hahahahahahaha ayolah jiyoung terima! hahahaha nice ff author! hahaha~

  3. uwaaa kibummm ….
    ehemmehemm nembak tuh ceritanya … ehem*apasih
    waaa author ceritanya kerenn , suka deh sama ff ini , bahasanya rapi .
    oiya salam kenal author , panggil aja ressy 😉
    dahdahh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s