Your Love has Changed My World (Part 8)

Title             : Your Love has Changed My World (Part 8)

Genre          : Romance

Rating          : G

Author         : Shinyoungie

Length         : Chaptered

Main Cast    :

–          Choi Min Ho (SHINee)

–          Park Shin Young (you)

Cast             :

–          Kwon Yuri (SNSD)

–          Park Ji Yeon (T-ARA)

–          Yoo Seung Ho (actor)

–          Cho Kyuhyun (Super Junior)

–          Kim Moon Joo / Seo Woo (actress)

NB              : FF ini spesial untuk para good readers yang mau memberikan comment. Tapi buat para silent readers juga boleh kok. Kan ga ada kata terlambat untuk betobat. Hehehe…. Kalau ada kata-kata yang kurang berkenan, mohon dimaafkan ya… Selamat membaca…

Read Previous Part    : Teaser / Part 1 / Part 2 / Part 3 / Part 4 / Part 5 / Part 6 / Part 7

“Kami hanya mengambil sample darahmu untuk menjalani beberapa pemeriksaan. Kau merasa seperti itu bukan karena donor darah… Tapi karena penyakitmu.”

“Penyakit??”

“Ne penyakit… Kami menemukan sel kanker dalam tubuhmu…!!”


­_Shin Young POV_

Dokter itu membawaku ke ruangannya. Apa yang ingin dibicarakannya?? Apakah tentang Jiyeon?? Tapi, bukankah sekarang ada Appa dan Ommanya?? Untuk apa memanggilku??

“Apa yang terjadi pada Jiyeon, uisa??”

“Bukan kedaaan Jiyeon yang ingin kuberitahu padamu. Keadaan Jiyeon sudah tak perlu dikhawatirkan lagi. Justru yang harus dikhawatirkan adalah keadaanmu.”

“Keadaanku??”

Apa maksud ucapan Cho uisa ini?? Ne, dari name tag yang dikenakannya, dapat kuketahui bahwa ia bermarga Cho. Tapi, ada apa denganku??

“Tadi sewaktu menjalani pemeriksaan, kami memang melihat banyak kecocokan antara kau dan Jiyeon.”

Aaah… Untung aku sudah tau lebih dulu kalau aku dan Jiyeon adalah saudara. Kalau tidak, mungkin ini akan menjadi pertanyaan besar untukku.

“Tapi…” Cho Uisa menghentikan perkataannya.

“Tapi apa??”

“Kami tidak mendonorkan darahmu pada Jiyeon. Jiyeon menerima donor dari persediaan darah rumah sakit yang baru saja datang.”

Aku mengerutkan keningku. Aku semakin tak mengerti dengan arah pembicaraan ini.

“Lalu, kenapa kalian mengambil darahku begitu banyak?? Sampai aku lemas seperti ini.. Bahkan kepalaku sangat pusing.”

“Kami hanya mengambil sample darahmu untuk menjalani beberapa pemeriksaan. Kau merasa seperti itu bukan karena donor darah… Tapi karena penyakitmu.”

“Penyakit??” Ya Tuhan… Apalagi ini??

“Apakah dalam keluargamu ada yang menderita penyakit kanker??” tanya Cho Uisa lagi.

Kanker?? Keluarga?? Omma meninggal karena penyakit itu. Jangan bilang…

“Uisa, penyakit apa yang anda maksud??” tanyaku dengan nada bicara sedikit meeninggi.

“Ne penyakit…Kami menemukan sel kanker dalam tubuhmu…!!”

Aku merasa seperti benar-benar tersambar petir. Penyakit kanker?? Bagaimana mungkin??

“Uisa, kukira ada kesalahan di sini. Aku merasa sehat-sehat saja. Tidak mungkin aku menderita penyakit seperti itu.” Aku berusaha untuk tidak mempercayai semua ini.

Cho Uisa mengeluarkan sebuah map berisi beberapa lembar kertas dari dalam laci mejanya.

“Ini adalah laporan hasil pemeriksaan kesehatanmu. Sebelum memberitahumu, kami sudah memeriksa semuanya. Dan kau positif menderita Leukemia kronis.”

Kini aku tak tau harus bicara apa. Kurebut map yang ada di tangan Cho Uisa, dan kubaca satu persatu isi kertas-kertas itu.

Dapat kurasakan air mata mulai mengalir saat mataku membaca dengan jelas sebaris tulisan yang mengatakan bahwa aku mengidap penyakit kanker darah stadium 3.

Kertas-kertas itu terjatuh dari tanganku.

Cho Uisa terlihat melepas kacamatanya. “Tenanglah, Shin Young~ssi, kami akan berusaha sekuat tenaga untuk membantumu.”

“Apa yang harus aku lakukan, uisa??” tanyaku di sela-sela tangisanku.

“Sejauh ini, kami memang masih belum bisa menemukan obat yang bisa menyembuhkan penyakit kanker darah. Tapi kau tenang saja. Ada beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk penanganan dan pengobatan Leukemia. Kita bisa melakukan chemotherapy, transplantasi sumsum tulang belakang, dan transfusi sel darah merah.” Cho Uisa menghentikan perkataannya sebentar dan membuka beberapa file.

“Banyak kecocokan antara kau dan Jiyeon. Kita bisa segera melakukan transplantasi sumsum tulang belakang ataupun transfusi sel darah merah. Bagaimana??”

Aku sontak terkejut. Jiyeon?? Anii…!!! Anii…!!! Tidak ada yang boleh tau tentang penyakitku ini.

“Uisa, kumohon… Jangan kasih tau siapapun tentang penyakitku ini.” Aku menghentikan tangisanku dan mencoba untuk tegar.

“Shin Young~ssi, ini masalah yang serius.”

“Ne… Aku pun serius, uisa…” ujarku dengan nada bicara memohon.

Uisa sepertinya mengerti dengan permintaanku itu.

“Baiklah… Aku tidak akan memberitahukan ini pada siapapun. Tapi kau harus bisa menjaga dirimu. Jangan biarkan tubuhmu terluka. Kalau sampai kau mengalami pendarahan, pembengkakan, atau bahkan kesulitan untuk bergerak, cepat hubungi aku. Kau mengerti, Shin Young~ssi??”

Aku mengangguk pelan. “Uisa, apa yang akan terjadi padaku nanti??”

Cho Uisa terlihat berpikir sebelum akhirnya memberitahukan kenyataan pahit yang akan terjadi pada diriku. “Leukemia berisiko mengalami kecacatan. Penderita bisa mengalami kemunduran fisik dan kesulitan melakukan aktifitas sehari-hari, seperti berjalan. Atau bahkan…” Cho uisa menghentikan perkataannya.

“Atau bahkan apa, uisa?!”

“Atau bahkan… meninggal dalam usia muda.”

Meninggal?? Aku akan meninggal?? Ya Tuhan, kenapa aku harus mengalami semua ini??

Air mata lagi-lagi membasahi wajahku. Rasanya hidupku ini sudah benar-benar berakhir.

“Kau tenanglah, Shin Young~ssi, Tim medis akan berusaha sekeras mungkin untuk membantu setiap proses terapi yang kau lakukan.”

Aku tidak mempedulikan perkataan Cho Uisa. Kini, hanya 1 yang ingin aku tau…

“Berapa lama lagi usiaku, uisa?”

————————————

“Kira-kira setengah sampai 1 tahun…”

Kata-kata Cho Uisa yang terakhir benar-benar membuatku tak percaya. Ia mengatakan bahwa hidupku mungkin hanya akan bertahan setengah sampai 1 tahun. Dan dalam waktu yang singkat itu, kemungkinan aku akan mengalami kelumpuhan.

Aku memukul-mukuli kepalaku. Hidupku sudah benar-benar berakhir. Aku bahkan sudah tak mempunyai muka untuk bertemu dengan Minho Oppa.

Ya Tuhan, kenapa kau begitu tega padaku??? Kenapa??? Bahkan di saat aku tak memiliki siapapun lagi, kau masih tega ingin merenggut hidupku.

Aku melangkahkan kakiku di lorong Rumah Sakit ini. Entah apa yang akan kulakukan saat ini.

“Hhhh…” aku menghela napas panjang. Tiba-tiba, aku merasakan rasa sakit yang begitu mendalam di bagian lututku. Ommo!! Kenapa ini??

Kuputuskan untuk duduk di kursi yang ada tak jauh dariku.

Halmoni, saat ini aku membutuhkanmu. Sangat membutuhkanmu…

Lagi-lagi, air mataku mengalir. Aissh…!! Shin Young~aa…!! Untuk apa kau menangis seperti ini?? Tak ada gunanya!!

Aku mencoba untuk tersenyum, berusaha menyemangati diriku. Tiba-tiba, pandanganku tertuju pada seorang namja. Namja yang sangat kukenal. Tapi, untuk apa dia ada di rumah sakit?? Siapa yang sakit??

Kupaksakan kakiku ini untuk berjalan. Walaupun terasa sangat sakit jika digerakkan.

Ternyata dia masuk ke dalam sebuah ruang rawat. Aku baru akan membuka pintu, saat tau bahwa ternyata orang yang ada di dalam sana adalah….

_Shin Young POV end_


_Minho POV_

Sudah kucari berkali-kali di dalam mobil, tapi handphoneku tak juga kutemukan. Aissshhh…!! Bagaimana bisa aku menghubungi Shin Young kalau begini??

Aku memutuskan untuk kembali ke ruang rawat Yuri.

Kulihat, tubuhnya terbaring lemah. Pergelangan tangannya yang terluka dibalut oleh perban.

Yuri, bagaimana mungkin kau bisa bertindak sebodoh itu??

“Minho~ssi…” Tiba-tiba ia terbangun dan memanggilku.

“Ne…” Aku duduk di samping ranjangnya.

“Kupikir kau akan meninggalkanku…”

“Sudah kubilang padamu, aku tidak akan meninggalkanmu… Tenang saja!”

Ia tersenyum sambil meraih tangan kiriku. “Saranghae, Minho~ssi…”

MWOOOO?!!!!

“Saranghae…” ulangnya lagi.

Entah mengapa, mulutku ini rasanya kelu untuk membalas ucapannya tadi. Kuputuskan untuk tersenyum. Tiba-tiba, aku merasa sangat merindukan Shin Young.

Shin Young~aa… Mianhe… Jeongmal mianhe…

_Minho POV end_

_Shin Young POV_

Ternyata dia masuk ke dalam sebuah ruang rawat. Aku baru akan membuka pintu, saat tau bahwa ternyata orang yang ada di dalam sana adalah Yuri Onni! Mantan yeojachingunya…

Aku bisa melihat ia tersenyum begitu manis pada Yuri Onni. Apakah dia masih sangat mencintai Yuri Onni??

Aaahhh… Shin Young~aa, kau lihat?? Tuhan sudah memberikan jalan yang mudah agar kau bisa melepaskan Minho Oppa. Karena memang kalian tidak ditakdirkan untuk bersama.

Aku tersenyum menyadari kemalanganku ini. Kuputuskan untuk menjauh dari ruangan itu. Aku tak ingin Minho Oppa tau bahwa aku ada di sini.

Benarkah ini harus terjadi?? Benarkah aku harus melepaskan Minho Oppa??

Sambil berjalan menyusuri lorong-lorong rumah sakit, aku kembali menangis. Mungkin saat ini kalian akan menganggapku sebagai seorang yeoja yang lemah. Tapi hanya menangis yang bisa kulakukan saat ini. Aku tak tau harus melakukan apa lagi.

Tiba-tiba, lagi-lagi langkahku terhenti. Kali ini terhenti di depan sebuah ruang rawat seseorang yang sangat kukenal. Ruang rawat jiyeon.

Ahh… Seung Ho!! Aku lupa memberitahunya.

To : _Seung Ho_

Seung Ho~ssi, Jiyeon mengalami kecelakaan

Dy brada d rmh skt skrg.

Kau tak prlu khwatir, keadaannya sdh membaik.

Kuhrap kau menemuinya bsk.


Send sucssesfully… Tak lama handphoneku bergetar…

From : _Seung Ho_

Mwoo?? Jiyeon?? Aiyooo… ini gr2 aku.

Dy hanya slh paham. Aku bnr2 mncintainya.

Ne… Shin Young~ssi… gomawo…

Aku tersenyum membaca balasan dari Seung Ho.

Aku mengintip keadaan di dalam dari belakang pintu. Dapat kulihat,  saat ini Appa dan Anaenya sedang tertidur di sofa dalam ruangan itu. Aku tau mereka sangat menyayangi Jiyeon.

Jiyeon~aa, kau sungguh beruntung. Di saat kau membutuhkan kedua orang tuamu, mereka selalu ada di sampingmu. Dan bahkan kau memiliki Seung Ho yang sangat mencintaimu.

Sementara aku?? Aku tak memiliki seorang pun dalam hidupku ini. Tidak ada Appa, Omma, ataupun cinta dari seorang namjachingu…

Sungguh, Appa, aku sangat membutuhkan pelukkanmu. Tak bisa kah kau memberikannya padaku???

Aku kembali melanjutkan langkahku. Kuputuskan untuk pulang ke rumah. Ne… Tak ada gunanya aku di sini.

_Shin Young POV end_


_Jiyeon POV_

“Annyeong, jagi…” seseorang menyapaku saat aku membuka mataku.

Yaaa…!!! Yoo Seung Ho?!!! Untuk apa namja ini menemuiku??

“Jagi, mianhe… jeongmal mianhe…” ujar Seung Ho sambil meraih tanganku.

Aku menepis tangannya. Aku tidak mau melihat wajahnya.

“Jiyeon~aa… Mianhe… Kau hanya salah paham.” Lanjutnya lagi.

“Salah paham kau bilang?? Kau berpelukan dengan yeoja itu, dan kau bilang aku hanya salah paham??” Aku benar-benar dibuat emosi olehnya.

Tiba-tiba pintu terbuka. Yaaa…!!! Untuk apa yeoja itu datang ke sini???

“Ne… Jiyeon~ssi, kau hanya salah paham.” Ujar yeoja itu sambil tersenyum ke arahku.

Aku membuang muka. Huuuh….!!! Rasanya kepalaku ini benar-benar pusing melihat 2 makhluk menyebalkan di hadapanku ini.

“Seung Ho adalah namdongsaengku. Kami hanya saudara sepupu.” Ujar yeoja itu membuatku benar-benar terkejut.

“MWOOO?!!!!”

Seung Ho tersenyum melihat reaksiku.

“Ne, Jagi, yeoja aneh ini hanyalah Noona ku.” Seung Ho mempertegas ucapan yeoja di sampingnya itu.

Aku menutup wajahku dengan kedua tangan. Aku benar-benar malu. Malu sekali…

“Malam itu, aku sedang dikejar-kejar oleh bodyguard Appa. Appa ingin sekali membawaku ke Taiwan. Nah, kukira yang datang itu adalah mereka. Ternyata kau, Jiyeon~ssi!” yeoja itu mencoba menjelaskan semuanya padaku.

“Jagi, malam itu aku tidak sengaja bertemu Noona ku. Percayalah padaku. Kumohon…”

Aku melepaskan kedua tanganku yang menutupi wajahku tadi, lalu berusaha tersenyum.

“Seung Ho~aa… Aku yang minta maaf padamu. Jeongmal mianhee, jagi…” ujarku sambil menahan rasa malu.

Seung Ho tersenyum, lalu memelukku. Rasanya aku benar-benar merindukan pelukan hangat Seung Ho.

Ia melepas pelukkannya dan betapa terkejutnya aku melihat tingakah konyolnya yang benar-benar membuatku tak bisa berhenti tertawa.

“Saranghae…” ujarnya lembut.

“Yaaa…!!! Aku masih di sini…” ujar yeoja itu sambil tersenyum memperhatikan tingkah kami.

Ahh… Kami melupakan Onni. Ehm… Siapa namanya pun aku belum tau.

“Hahaha… Mianhe, Noona.” Ujar Seung Ho. “Jagi, ini Moon Joo Noona.” Seung Ho mengenalkan aku pada Noona nya itu.

Aku tersenyum menyadari kebodohanku semalam.

“Annyeong…!! Kim Moon Joo imnida…” sapa Moon Joo Onni padaku.

“Mianhe, Onni… Jeongmal mianhe…” ujarku pada Moon Joo Onni.

“Anii… Kau tidak salah apa-apa, Jiyeon~ssi.” Ujar Moon Joo Onni sambil tersenyum.

Ahhh… Moon Joo Onni benar-benar cantik. Sangat cantik.

“Jiyeon~aa, aku harus pulang dulu. Masalahku dengan Appa belum selesai. Kapan-kapan kita bertemu lagi ya…”

“Ne… Onni… Hati-hati…” ujarku sambil tersenyum. “Seung Ho~aa, antarkan Onni pulang dulu!”

Seung Ho tersenyum dan mengangguk, “Ne… Aku antarkan dulu Noonaku ini. Nanti aku kembali lagi, Jagi…” Chu~♥ Seung Ho mencium keningku. Aigooo…!! Dia benar-benar membuatku malu.

Dan aku hanya bisa tersenyum sambil menatapnya.

“Annyeong, Jiyeon~ssi…”

“Ne… Annyeong, Onni…”

——————————-

Aiyooo…!! Kenapa sampai saat ini Shin Young belum juga menemuiku??? Ke mana yeoja itu??

Cleeekkk…. *pintu dibuka*

“Annyeong, jagi…” Aaah… Omma dan Appa datang!!

Aku tersenyum melihat kedatangan mereka. Secara bergantian mereka memelukku.

“Aku bosan di sini terus, Appa…” ujarku pada Appa. Kalian tau?? Appa adalah orang yang paling menyayangiku. Sebenarnya Omma juga menyayangiku. Sangat malah. Tapi Omma sering memarahiku kalau aku berbuat salah. Sementara Appa?? Appa tidak pernah memarahiku. Kalaupun aku berbuat suatu kesalahan, Appa akan membantuku memperbaiki semuanya. Appaku memang yang terbaik.

Appa membelai rambutku. “Besok kau sudah boleh pulang, Jiyeon~aa… dan Appa mohon, jangan buat Appa khawatir lagi!”

Aku mengangguk sambil tersenyum. “Ne, appa…”

“Jagi, kita harus memberitahu Jiyeon sekarang juga.” Omma tiba-tiba angkat bicara.

Apa maksud Omma??? Beritahukan apa??

Appa mengangguk lalu menatapku. “Jiyeon~aa, kau mengenal Park Shin Young??”

Ommo!!! Kenapa Appa bertanya tentang Shin Young padaku??

“Ne… Dia sahabatku, Appa. Waeyo??”

Appa terlihat menarik napas panjang. “Dia adalah anak kandung Appa juga.”

MWOOOO?!!!! Apa maksud semua ini??

“Appa, aku tidak mengerti apa yang sedang kita bicarakan ini…”

“Jiyeon~aa, sebenarnya….(bla…bla…bla…)*yg belum ngerti baca part 7*

Sungguh… Aku benar-benar tak percaya dengan semua yang Appa ucapkan. Aku dan Shin Young adalah saudara?? Dan sungguh!! Aku benar-benar bahagia!! Ne…!! Tidak ada alasan bagiku untuk tidak bahagia.

“Jiyeon~aa… Mianhe… jeongmal mianhe…” ujar Appa padaku.

Aku tersenyum ke arah Appa. “Gwaenchana, Appa… Aku bisa menerimanya…”

“Kau benar-benar putri kesayangan Appa… saranghae, Jiyeon~aa…”

Appa memelukku dengan erat. Begitu pula Omma. Ahhh… Aku bahagia… Sekarang aku memiliki Appa, Omma, Seung Ho, dan Onni.

_Jiyeon POV end_

_Shin Young POV_

Ahh… Pagi yang indah… Benar-benar indah…

Aku harus semangat!! Ne… Lebih baik aku sekolah dan fokus pada pelajaran.

Baru saja aku hendak melangkah ke kamar mandi, tiba-tiba saja aku merasakan perutku begitu sakit. Aiyooo…!! Ada apa ini??

Kuputuskan untuk merebahkan diriku di atas tempat tidur. Berharap rasa sakit ini bisa segera hilang. Namun harapanku ini tak terwujud. Rasa sakit ini tak kunjung membaik, malah makin menjadi-jadi.

Aku berusaha mengambil beberapa obat yang ada di di bawah bantalku. Ne… obat-obatan yang Cho Uisa berikan. 5 butir sudah kutelan tablet itu, dan kutunggu reaksinya.

10 menit… Ne… setelah 10 menit, barulah rasa sakit itu hilang. Aku berusaha mengatur nafasku. Omma, apakah seperti ini rasanya penderitaan yang kau tanggung dulu??

Aku bangkit dari tempat tidurku, dan segera mandi.

—————————-

Aku membatalkan niatku untuk pergi ke sekolah. Kuputuskan untuk menemui Cho Uisa di rumah sakit.

Namun belum sempat aku menemui Cho uisa di ruangannya, aku justru melihat pemandangan yang benar-benar membuat hatiku hancur.

Ne… Minho Oppa dan Yuri Onni. Sepertinya Yuri Onni sudah keluar dari rumah sakit. Dan dapat kulihat, ia begitu bahagia bersama Minho Oppa. Begitu pula Minho Oppa. Melihat senyumannya itu sudah cukup bagiku. Mereka terlihat saling mencintai. Bahkan Minho Oppa dengan setia memegangi tangan Yuri Onni.

“Saranghae…” suara Yuri Onni terdengar jelas di telingaku.

“Nado saranghae…” balas Minho Oppa.

Shin Young, sudahlah… Ini memang sudah jalanmu. Minho Oppa… Kuharap kau bahagia…

Aku menghela napas, kemudian bergegas masuk ke dalam Rumah Sakit.

Sebelum menuju ruangan Cho Uisa, aku melangkahkan kakiku menuju kamar Jiyeon. Ne… Aku ingin tau keadaannya. Baru saja aku akan membuka pintu saat kudengar suara namja yang kukenal. Suara Appa. Kuputuskan untuk mengintipnya dari celah kecil di pintu.

“Kau benar-benar putri kesayangan Appa… saranghae, Jiyeon~aa…”

Dapat kulihat Appa memeluk Jiyeon sambil tersenyum lembut. Begitu pula Ahjumma. Mereka bertiga terlihat begitu bahagia. Ne… Tanpa diriku.

Kini, aku tak tau… Apakah aku harus membenci mereka semua?? Ataukah aku harus ikut merasa bahagia, meskipun aku tidak akan pernah merasakannya secara langsung bersama mereka.

Kalian tau?? Entah bagaimana rasanya menggambarkan perasaanku saat ini. Di satu sisi, aku senang karena Jiyeon adalah dongsaengku. Tapi di sisi lain, aku kecewa. Sangat kecewa!! Karena kehadirannyalah Appa sama sekali tidak pernah mengaanggapku ada. Bahkan saat ia membawaku ke Seoul pun, dapat dihitung dengan jari berapa banyak aku bertemu dengannya.

Aku memegang dadaku yang terasa sesak. Kuurungkan niatku untuk masuk, dan bergegas menuju ruangan Cho Uisa.

_Shin Young POV end_


_Minho POV_

Hari ini Yuri sudah diperbolehkan untuk pulang. Ne… keadaannya memang cepat sekali pulih.

“Yuri~aa… Jangan ulangi lagi perbuatan konyolmu ini!” ujarku pada Yuri.

Yuri tersenyum sambil menatapku. “Ne, jagi…”

Jagi?? Benarkah keputusanku ini untuk kembali padanya??

“Kajja…!! Aku sudah ingin cepat-cepat kembali ke dorm…” ujarnya sambil menarik tanganku.

Kuikuti langkah Yuri yang terburu-buru itu. Yuri~aa, kalau saja kau berlaku manja seperti ini padaku sejak dulu, mungkin aku tak akan ragu untuk mencintaimu lagi. Tapi sayangnya, itu tak mungkin. Perasaanku ini sudah terisi oleh orang lain. Tapi bagaimana mungkin aku bisa mengatakannya padamu?? Kau masih begitu rapuh…

“Aaa…!!”

Aku menahan tubuh Yuri dengan tanganku.

“Hati-hati kalau jalan… Kau bisa jatuh!” Ne, karena terburu-buru, Yuri hampir saja terjatuh. Dan aku segera menahan tubuhnya dengan tanganku ini.

Ia menatap wajahku sambil tersenyum. “Aku senang kau masih sangat memperhatikanku, Minho~aa… Saranghae…”

Lagi-lagi… Apa yang harus kukatakan padanya??

“Minho~aa… Katakan kau juga mencintaiku. Cepat…!! Aku ingin mendengarnya…” ujar Yuri manja sambil merangkulkan tangannya pada pergelangan tanganku.

Shin Young~aa, mianhe… Ini kulakukan bukan karena aku tidak mencintaimu.

“Nado, saranghae…”

Dalam sekejap, sebuah senyuman telah menghiasi wajah cantik Yuri.

Aku hanya membalas senyumannya itu sambil menghela napas.

Shin Young~aa… aku benar-benar merindukanmu. Bagaimana mungkin aku bisa merasakan kehadiranmu di sini??

“Jagiya…!!” suara Yuri membuyarkan lamunanku.

Aku menoleh ke arahnya.

“Kajja…!!”

_Minho POV end_


_Author POV_

*Huaaaaa… Author kebagian cuap cuap niii… Heuheu…”

Seorang yeoja tengah duduk di hadapan seorang dokter di dalam sebuah ruangan. Mereka terlibat percakapan yang cukup serius.

“Shin Young~ssi… Bagaimana keadaanmu??” tanya dokter bermarga Cho itu.

Yeoja itu yang ternyata adalah Shin Young hanya tersenyum kecil. “Semalam aku merasa bagian lututku sakit dan sulit sekali berjalan. Sementara tadi pagi aku merasa sakit di bagian perutku, uisa…”

Cho uisa Nampak terkejut mendengar pernyataan Shin Young tadi. “Secepat itukah, Shin Young~ssi??”

“Mwoo??” Shin Young Nampak tak mengerti dengan apa yang Cho Uisa katakan.

“Siang ini juga kau harus menjalani pemeriksaan. Aku khawatir penyakitmu telah mencapai stadium akhir.”

“Uisa, kemarin kau bilang penyakitku ini baru menginjak stadium 3. Bagaimana bisa sekarang…”

“Shin Young~ssi, aku bukan Tuhan yang bisa menentukan hidup seseorang.”

Shin Young hanya bisa menundukkan kepalanya sambil menatap lemah ke arah lantai.

———————————

Pemeriksaan telah dilakukan selama hampir 2 jam. Dan kini, hasil pemeriksaan itu sudah keluar.

Cho Uisa mengamati hasil pemeriksaan yang telah berada di tangannya itu.

“Shin Young~ssi…” ujarnya tertahan.

Shin Young menatap wajah Cho Uisa dengan serius dan tegang. “Ne…?”

“Penyakitmu telah menginjak stadium akhir…”

_Author POV end_


_Shin Young POV_

“Shin Young~ssi…”

“Penyakitmu telah menginjak stadium akhir…”

Aku benar-benar terkejut mendengar Cho Uisa membacakan hasil laporan pemeriksaanku itu. Sebegitu cepatnya kah sel kanker itu menggerogoti tubuhku ini??

Aku berusaha menguasai diriku agar tetap tegar. Tidak ada gunanya lagi menangis.

“Kau harus segera menjalani chemotherapy. Ini sudah tidak bisa ditunda lagi, Shin Young~ssi…” ujar Cho Uisa tegas.

Apakah itu semua masih diperlukan?? Bukankah cepat atau lambat, aku akan segera pergi??

“Mulai hari ini, kau harus menginap di rumah sakit agar mendapatkan pengawasan dan perawatan yang intensif.”

Aku tersenyum kecil. “Kurasa tidak perlu, uisa. Gwaenchana… Usaha yang kalian lakukan akan sia-sia saja.”

“Park Shin Young!! Lembutkanlah sedikit hatimu!! Hidupmu itu bukan main-main!! Setidaknya, berjuanglah untuk orang-orang yang kau cintai!!”

Degg…!!!

Perkataan Cho Uisa yang terakhir benar-benar memukul keras pendirianku. Ne… Aku masih memiliki kesempatan.

Aku mengangguk lemah. “Baiklah… Tapi tidak untuk malam ini. Ada beberapa urusan yang harus kuselesaikan, uisa..”

———————————–

Cho Uisa akhirnya menyetujui permintaanku ini. Kini aku melangkahkan kakiku menuju ruang rawat Jiyeon. Ne…!! Aku harus menyelesaikannya malam ini juga.

Cleeeeeeek *pintu dibuka*

“Shin Young??!!” dapat kulihat wajah Jiyeon yang gembira melihat kedatanganku.

Aku terus melangkah mendekati ranjangnya tanpa mempedulikan keberadaan Appa dan Anaenya yang berada dalam ruangan itu juga.

Jiyeon~aa,, Apa yang harus kulakukan?? Aku begitu membencimu, tapi akupun begitu menyayangimu.

“Ke mana kau beberapa hari ini?? Mengapa tidak menemuiku di rumah sakit??” tanyanya seolah protes padaku.

Aku tidak menjawabnya. Ne… Aku tidak boleh menyayanginya… Aku harus membencinya… Anii…!! Setidaknya, terlihat seakan membencinya…

“Shin Young~ssi!! Kenapa kau diam saja??” Aku masih tak menggubris pertanyaannya. “ Jawab aku, Onni!!”

Ommo!! Dia sudah tau bahwa aku adalah Onni nya??

Tiba-tiba Jiyeon tersenyum. “Kau Onni ku kan??” tanyanya lalu meraih tangan kananku. “Aaaahhh…!! Aku begitu gembira saat tau bahwa aku memiliki Onni sepertimu, Shin Young~aa…”

Mwooo?!!! Dia tersenyum?? Dia menerimaku sebagai Onni nya??

“Jangan tersenyum di hadapanku…!” ujarku datar.

Jiyeon Nampak terkejut mendengar perkataanku. Ia melepas genggamannya dari tanganku.

“Shin Young~aa… Wae??”

Aku menatap wajahnya tajam. “Kau pikir, aku senang saat tau kau itu dongsaengku? Kau pikir, aku mau menerima kehadiranmu dan Omma mu itu?!! Anni, Jiyeon~ssi!! Anni!!! Aku sangat membencimu!! Sangat!! Karena kau dan Omma mu, Omma ku begitu menderita!! Menderita bahkan hingga akhir hidupnya!! Dan bagaimana mungkin sekarang dengan mudahnya aku mau menerimamu?!!!”

Semua kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku. Ya, Tuhan… Mengapa aku bisa begitu  jahat pada Jiyeon??

“Shin Young~aa…” Dapat kudengar suara Jiyeon bergetar memanggil namaku.

“Jangan sebut namaku!! Mulai saat ini, jangan anggap aku sebagai sahabatmu apalagi sebagai Onni mu!! Aku tidak sudi!! Kau mengerti?!!!!” Aku berlari meninggalkan Jiyeon. Dan aku tau, dia menangis saat mendengar bentakkanku itu. Mianhe, Jiyeon~ssi… Jeongmal mianheyo…

“PARK SHIN YOUNG…!!!!!” suara Appa. Aku tau dia akan sangat marah padaku.

Aku menoleh ke arahnya dengan tatapan menantang. “Wae??” tanyaku datar.

Dan… Plaaakkk…!!! Sebuah tamparan hangat mendarat di pipi kiriku. Aahh… Rasanya sangat sakit, dan nampaknya, suatu cairan kental akan mengalir dari hidungku ini.

Aku hanya tersenyum menyeringai. “Kamsahamnida…” ujarku, lalu benar-benar meninggalkan ruangan itu.

—————————

Setelah cukup lama berlari, akhirnya aku terjatuh di sebuah kursi taman. Ini adalah tempat pertamaku merasakan kehangatan seorang Choi Minho. Ne… Ini adalah tempat di mana aku pertama kali menangis dalam pelukannya.

Tiba-tiba saja aku merasakan cairan hangat yang sedari tadi kututupi keluar dari hidungku. Cairan berwarna merah. Aku hanya tersenyum pahit sambil mengelapnya dengan kedua tanganku ini. Tapi makin lama, darah ini keluar makin banyak dan aku tak tau apa yang harus kulakukan untuk menghentikannya.

Aku berusaha untuk menahan air mataku agar tidak jatuh, tapi sulit rasanya. Tak bisa kupungkiri… Aku takut. Benar-benar takut!!

Aku menengadahkan kepalaku ke langit, berharap darah ini akan segera berhenti. Dan harapanku terwujud. Tak lama, cairan berwarna merah itu berhenti mengalir dari hidungku. Aku sedikit merasa tenang.

Kini aku bisa mengerti mengapa Omma membiarkan Appa menikah lagi. Itu karena Omma ingin melihat Appa bahagia tanpa harus ikut menanggung penderitaan yang Omma tanggung. Appa benar! Omma hanya wanita penyakitan. Dan itu juga terjadi padaku.

Masalahku dengan Jiyeon selesai… Kuharap mereka semua akan membenciku. Ne… Dengan begitu, aku akan meninggalkan dunia ini dengan tenang tanpa beban. Kini, aku hanya tinggal memberi kepastian pada Minho Oppa. Ne, aku harus segera mencarinya.

Kuambil tissue dari dalam tasku, dan kulap semua darah menjijikan yang mengotori tanganku itu.

————————–

Aku telah berada di halaman dorm SHINee. Kalian ingat?? Ini adalah tempat terakhirku bersama dengannya. Dan bahkan itu adalah saat terakhir aku menyentuh wajahnya yang tampan.

“Yuri~aa…!! Jangan lakukan itu!! Hentikan!!”

Itu suara Minho Oppa. Kuputuskan untuk bersembunyi agar tak ada satupun yang tau bahwa aku berada di sini.

“Hahaha… Ayo kejar aku kalau bisa, Jagi!!” suara Yuri Onni terdengar begitu bahagia.

“Yuri~aa!!”

Mengapa mereka berhenti bicara??

Aku berusaha mengintip apa yang sedang terjadi. Dan Ommo…!!!

Jarak mereka benar-benar dekat. Bahkan Minho Oppa tersenyum sambil menatap lembut ke arahnya.

“Kissu…”

MWO?!!!!!! Yuri Onni bilang apa?? ‘Kissu’??? Anii!! Oppa!! Anii!!

Aku memutuskan untuk menutup mataku.

Namun….

Praaaaang….

Tanganku menyentuh pot yang terletak tak jauh dari tempatku bersembunyi, dan membuatnya hancur berkeping-keping.

“Shin Young~aa??”

_Shin Young POV end_


_Minho POV_

“Minho~aa… Aku mau menginap di sini ya nanti malam??” ujar Yuri dengan manja saat aku sedang membaca beberapa surat perusahaan yang dikirim oleh Appa.

“Andwe…!! Nanti kita bisa dimarahi perusahaan.” Aku menolak permintaannya itu sambil masih terus fokus pada kertas-kertas di hadapanku ini.

“Yaaa…!! Minho~aa… Tidak akan ada yang tau!! Bukankah hari ini 4 member SHINee yang lain sedang tidak ada?? Tidak akan ada yang mengadukannya pada perusahaan..” Yuri masih saja mendesakku.

“Yuri~aa… Tidak baik seorang yeoja dan namja tinggal dalam satu atap tanpa ada ikatan apapun!!”

Yuri mengambil surat-surat yang sedang kubaca itu. “Minho~aa… Aku hanya ingin selalu bersamamu…”

“Yuri, kembalikan kertas-kertas itu!! Aku harus segera mempelajarinya… Kalau tidak, Appa akan melarangku bersama SHINee.”

Yuri menggeleng cepat. “Tidak akan kuserahkan sampai aku boleh bermalam di sini!!”

“Anii!!”

Kini Yuri berlari menuju halaman dorm.

“Yuri~aa…!! Jangan lakukan itu!! Hentikan!!” Aku berusaha mengejarnya.

“Hahaha… Ayo kejar aku kalau bisa, Jagi!!”

Aissh…!! Benar-benar merepotkan!!

“Yuri~aa!!”

Yaaa…!! Kenapa dia tiba-tiba berhenti berlari. Dan… bruk… Tubuh kami saling membentur. Dan kini, Yuri persis berada di hadapanku.

Ia tersenyum. Aku hanya bisa membalas senyumannya. Lebih tepatnya, terpaksa membalas senyumaannya.

Aahh… Sungguh!! Aku sudah mulai muak dengan semua ini.

“Kissu…”

MWOOOO?!!!!!! Apa yang dikatakannya tadi?? ‘kissu’???

Bagaimana mungkin??? Andwe!! Aku tidak akan melakukannya! Bahkan saat Manager Hyung memaksaku melakukan adegan itu pun, aku menolaknya demi Shin Young, walaupun aku harus kehilangan semuanya. Dan kali ini pun sama!! Aku tidak akan mencium yeoja manapun selain Shin Young!! Ne…!! Yang aku cintai hanyalah Shin Young! Sementara peraasaanku pada Yuri hanyalah rasa kasihan…

Aku berusaha mendorong tubuh Yuri pelan. Yuri nampak kecewa dengan tindakanku ini.

Praaaaang….

Ommo!! Suara apa itu??

Betapa terkejutnya aku saat mendapati seorang yeoja…

Shin Young?? Ne… Itu Shin Young!!

“Shin Young~aa??”

Aku berjalan mendekatinya, dan menarik tangannya untuk pergi dari tempat ini. kutinggalkan Yuri. Aku tidak peduli!! Yang aku pikirkan hanyalah, aku tidak ingin Shin Young salah paham padaku!!

_Minho POV end_


­_Shin Young POV_

“Shin Young~aa??”

Ommo!! Minho Oppa mengetahui keberadaanku.

Ia berjalan menghampiriku dan menarik tanganku.

Kini kami telah berada dalam mobil Minho Oppa.

“Shin Young~aa… ada yang harus kukatakan padamu.” Ujarnya lembut. Aku tidak memberikan reaksi apapun saat ia menggenggam tanganku.

“Shin Young~aa, mianhe… Jeongmal mianhe… Malam itu aku mengingkari janjiku padamu. Kau tau?? Saat ini aku sangat bingung. Benar-benar bingung. Yuri memintaku kembali padanya, sementara aku?? Aku sungguh-sungguh mencintaimu, Shin Young~aa..”

Ia menghentikan perkataannya sebentar. “Shin Young, sungguh… Aku tidak tau apa yang harus kulakukan saat ini. Yuri mengancam akan mengakhiri hidupnya kalau sampai aku meninggalkannya. Dan aku tidak mungkin membiarkan itu semua terjadi.”

Sekarang aku tau apa yang sebenarnya terjadi. Ternyata Minho Oppa mencintaiku. Tapi, apa yang harus kukatakan?? Kami tidak akan mungkin bisa bersama.

Aku melepaskan genggamannya dari tanganku.

“Sudah cukup kau bicara, Minho~ssi??  Ada yang harus kukatakan juga padamu!!”

Minho Oppa terlihat terkejut mendengar cara bicaraku yang dingin padanya.

“Kau mencintaiku?? Dan jawabanku adalah aku sama sekali tidak pernah dan tidak akan pernah mencintaimu!!” Aku menghentikan perkataanku sejenak dan kulihat Minho Oppa benar-benar terbelalak.

“Kau ingat, sejak pertama kita kenal, aku sudah sangat membencimu!! Sangat membencimu!! Dan bagaimana mungkin kau pikir aku akan dengan mudahnya mencintaimu?? Aku hanya ingin membuat kau mengerti bahwa aku tidak akan mungkin kalah pada namja babbo sepertimu!!”

Minho Oppa… Mianhe… Jeongmal mianhe…

“Kedua, apa yang harus kau lakukan?? Jawabannya, kembalilah pada Yuri!! Aku tidak ingin merasa bersalah kalau sampai Yuri mati gara-gara kau mencintaiku!!” Aku tersenyum dingin, lalu keluar dari mobil itu dan meninggalkan Minho Oppa yang mematung di tempatnya duduk.

“Shin Young~ssi…” panggilnya.

Aku menghela napas panjang, dan menoleh ke arahnya.

“Wae??”

“Katakan kalau kalau kau hanya bercanda!!”

Aku kembali tersenyum dingin.

“Ne… Aku hanya bercanda  mencintaimu!!” ujarku, lalu benar-benar meninggalkan Minho Oppa dengan sejuta rasa bersalah yang menumpuk dalam hatiku.

_Shin Young POV_

_Minho POV_

Aku terbelalak tak percaya. Shin Young yang kukenal baik hati dan berhati lembut, bisa dengan mudahnya mengeluarkan kata-kata seperti itu??

“Shin Young~ssi…” aku menghentikan langkahnya.

“Wae??”

“Katakan kalau kau hanya bercanda!!”

Aku benar-benar berharap ia tak sungguh-sungguh berkata seperti itu.

“Ne… Aku hanya bercanda  mencintaimu!!” ujarnya, dan benar-benar meninggalkanku.

—————————-

Sungguh… Aku benar-benar tidak mengerti mengapa Shin Young bisa begitu tega padaku. Di saat aku sudah benar-benar sangat mencintainya, dia malah meninggalkanku dengan mudahnya.

Annii!! Kurasa ia sedang marah padaku. Ne… Aku yakin dia hanya sedang marah karena melihatku bersama Yuri tadi.

Aku berusaha untuk meyakinkan diriku bahwa Shin Young tidak sungguh-sungguh berkata seperti itu. Ne…!!

_Minho POV end_


_Shin Young POV_

Hari sudah mulai malam… Dan aku masih berada di luar rumah. Ne… Aku bingung harus pergi ke mana dan menumpahkan seluruh isi hatiku pada siapa.

Air mata yang sejak tadi kutahan, kini akhirnya dengan mudah meruntuhkan seluruh kekuatanku. Air mata yang kini bercampur dengan derasnya air hujan.

Kalian tau?? Aku sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi sekarang.

Aaah… Rasa sakit itu lagi. Kenapa selalu di saat-saat seperti ini?? Aku meremas lututku. Rasanya kakiku ini sudah tak kuat lagi untuk berjalan. Aku terjatuh di jalan. Aku sudah tak sanggup lagi untuk melanjutkan perjalananku. Bahkan kepalaku sangat sakit, dan pandanganku mulai kabur. Kurasakan lagi-lagi, cairan hangat itu mengalir dari hidungku.

Tuhan… Jangan biarkan aku mati di sini… Jangan, Tuhan…

“Shin Young~ssi?? Kau kenapa??”

Aiyooo… Itu suara seorang namja.

Antara sadar dan tidak, aku bisa sedikit melihat wajah namja itu. Sepertinya namja yang tampan. Tuhan… Ini kah malaikat yang kau kirim untuk menjemputku?? Baiklah, kumaafkan Kau karena setidaknya malaikat yang Kau kirimkan di hari kematianku ini tidak mengecewakan.

_Shin Young POV end_


_Author POV_

Seorang namja sedang bergelut dengan gamenya saat seseorang memanggilnya.

“Yaa…!! Cepat kau temui Appa mu itu!! Jangan buat dia marah lagi padamu!!”

Namja itu masih asik dengan game yang ada di hadapannya tanpa menggubris perkataan namja lain yang ada di hadapannya.

“Yaa…!!!!! Kau dengar perkataanku tidak??!!”

Masih tak ada jawaban.

“CHO KYUHYUN!!!!!”

“Aigooo…!!! Ne… Ne, Hyung…”

_Author POV end_


_Kyuhyun POV_

Ahhh…!! Untuk apa sih Appa memanggilku?? Bukankah aku sudah bilang tidak mau dijodohkan dengan yeoja manapun??

Aku melajukan mobilku dengan kecepatan tinggi. Di luar sana hujan. Hujan deras…!

Aku berusaha memperhatikan jalanan yang sulit sekali terlihat. Tapi tiba-tiba pandanganku tertuju pada seorang yeoja. Yeoja yang benar-benar membuatku tertarik.

Mengapa ia sendirian malam-malam seperti ini?? Dan tidak membawa payung pula.

Kuputuskan untuk menghentikan mobilku. Aku benar-benar penasaran pada yeoja itu.

Aku melangkah mendekatinya dan betapa terkejutnya aku saat tau bahwa dia sedang menangis.

Kenapa yeoja itu menangis?? Yaa…!! Mengapa duduk di jalanan seperti itu??

Aiggoo!!! Bayangannya nampak tak asing bagiku.

Mwooo?!!! Itu Shin Young!! Ne…!! Itu sepupu Teuki Hyung.

“Shin Young~ssi?? Kau kenapa??”

Ommo!! Mengapa hidungnya berdarah seperti itu?? Apa yang terjadi padanya???

Aku berusaha menutupi tubuhnya yang menggigil dengan jaketku. Dan saat aku berusaha membantunya untuk berdiri, ia jatuh dalam pelukkanku. Ne… Dia pingsan…

_Kyuhyun POV end_


…To Be Continue…


Annyeong…readers!! Akhirnya part 8 ini selesai. Jujur… Author benar-benar bingung apa yang akan author tulis dalam part ini. Dan part ini author kerjakan dalam waktu yang cukup singkaat. Dalam waktu 4 jam. Sebenarnya part 8 sudah tinggal publish kemarin. Tapi author merasa ada yang janggal pada part 8 yang sebelumnya. Jadilah author buat ulang semuanya. Ne… ini murni dikerjakan dari awal lagi. Hehehe… Jadi mian, kalau memang kurang pas di hati para readers…

Oo iya… sekedar pemberitahuan nii… Author belum tau ff ini akan selesai di part berapa. Dan author belum bisa menjanjikan kapan part selanjutnya di publish. Karena kemungkinan, untuk beberapa hari ini author akan sibuk mempersiapkan hari Natal. Hehe…

So, ditunggu ya kehadiran part selanjutnya… dan jangan lupa untuk COMMENT…!!!

Aiiih… Hampir ajaa ketinggalan. Udah tau kan one new cast yang dimaksud siapa?? He is Uyun…!! Hehehe… Sebenarnya sih dia udah pernah jadi cameo *cieee… gaya loo pake cameo segala…* pada part 6, tapi karena kemarin ada beberapa readers yang ngusulin si Abang Uyun yang jadi new cast nya, ya jadilan si Magnae Uyun yang author pilih. Memang sih… sebelumnya juga Uyun udah jadi kandidat dalam benak author. Hehehe…

Gomawo, chingudeul… Saranghae… chu~♥

Advertisements

56 responses to “Your Love has Changed My World (Part 8)

  1. OMO…..shin young ssi….
    kasian sx dy….;(

    yg sbr ea shin young ssi…
    badai pzti berlalu….^^

    author,,,,crtax mkn bgz thor….
    i very very very like it…..^_^

  2. Pingback: Your Love has Changed My World (Part 12/end) « FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s